• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DATA

V.2 Analisis Hubungan Semua Variabel Dalam Implementasi Kebijakan

Kota Pematangsiantar

Setelah memaparkan hasil analisis dari masing-masing variabel, penulis mencoba untuk menganalisis hubungan antar variable yang telah diteliti sesuai dengan model implementasi George Edwards III seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar 1.3 Analisis Data Model Implementasi Edward III

Seprti yang dinyatakan oleh Edwards III danjuga terlihat pada gambar bahwa tidak ada variabel tunggal atau yang berdiri sendiri dan tidak dipengaruhi oleh variabel lainnya dalam implementasi kebijakan. Dengan kata lain bahwa semua variabel menentukan keberhasilan dan kegagalan dari implementasi dan ketimpangan dari satu diantaranya akan memberikan dampak pada keseluruhan proses.

Keberhasilan dan kegagalan implementasi kebijakan tergantung kepada kemampuan dalam memanfaatkan setiap sumber daya yang ada untuk setiap proses kebijakan. Dalam melaksanakan SAKIP ini sangat dibutuhkan sumber daya yang memiliki kualitas dan memadai. Baik itu sumber daya yang terdiri dari manusia, fasilitas dan dana. Pegawai adalah faktor terpenting yang mampu menggerakan dan mengoperasikan setiap pemanfaatan sumber dan faktor lainnya.

Komunikasi Sumber daya Implementasi Disposisi Struktur birokrasi

Seperti halnya mengarahkan komunikasi dalam koordinasi dengan setiap bagian dan bidang, menentukan sikap dan tindakan yang harus diambil untuk menerima atau menolak suatu kebijakan. Sehingga dalam implementasinya dapat berjalan dengan baik seperti yang terjad di Dinas Kebersihan Kota Pematangsiantar.

Bila dilihat dari kondisi pegawai yang dimiliki oleh Dinas Kebersihan Kota Pematangsiantar sudah memiliki struktur yang cukup baik dan ideal. Hal tersebut dikatakan ideal karena adanya penyesuaian jumlah pegawai dengan beban kerja yang telah ditentukan. Hal tersebut dilakukan dengan adanya koordinasi yang baik dalam melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing yang dibarengi dengan suasana kerja yang baik dan kondusif. Terkhususnya dalam penyusunan LAKIP, setiap bagian dan bidang telah berkoordinasi dan berkerjasama dalam pembuatan pelaporannya masing-masing sehingga dalam seluruh laporan pertanggungjawaban tersebut dirampungkan ke dalam bentuk LAKIP. Dalam proses perampungan tersebut memang terdapat beberapa hambatan ataupun kendala seperti miskomunikasi dan keterlambatan pengerjaan laporan pertanggungjawaban di salah satu bidang. Namun dengan adanya koordinasi yang baik, pembuatan dan pengumpulan LAKIP Dinas Kebersihan yang harus diserahkan kepada Bagian Administrasi Pemerintahan Umum dalam tepat waktu diserahkan. Sejauh ini seluruh pegawai Dinas Kebersihan sudah mengetahui dan menyadari apa saja yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya dalam memberikan pertanggungjawaban atas kewenangan yang diserahkan kepadanya. Tidak lupa juga dengan fasilitas fisik yang harus memadai dalam proses implementasi kebijakan yang telah disusun oleh Dinas Kebersihan.

Sehingga dalam pencapaian atas visi dan target Dinas Kebersihan dapat maksimal memberikan pelayanan publik.

Dikaitan dengan keberadaan SOP yang seharusnya menjadi alur untuk mengefektifkan dan mengefisienkan kinerja dalam memanfaatkan setiap sumber daya baikitu pegawai, dana dan fasilitas. Ketiga sumber daya tersebut baiknya dikerjakan dengan acuan SOP sehingga mengetahui alur implementasinya yang dilaksakanan secara sistematis, jelas, tidak berbelit dan mudah dipahami oleh para implementor. SOP baiknya ada disetiap instansi dan selalu dievaluasi dari tahun ke tahun dan disesuaikan dengan perubahan yang terjadi. Bila disesuaikan dengan kondisi Dinas Kebersihan Kota Pematangsiantar saat ini telah tidak memiliki SOP SAKIP yang baku. Ketiadaan SOP tersebut membuat pegawai Dinas Kebersihan Kota Pematangsiantar bekerja dengan kondisi serta tuntutan yang ada di lingkungan instansi dan tidak memiliki keterikatan dengan suatu acuan SOP yang baku. Hingga saat ini pegawai Dinas Kebersihan hanya mengikuti dan terpaku pada format isian LAKIP dari Bagian Administrasi Pemerintahan Umum dan tidak ada upaya untuk membuat inovasi baru dalam pelaksanaanya.

Tidak lepas juga variabel disposisi atau sikap pelaksana pun sangat memepengaruhii keberhasilan ataupun kegagalan dari pelaksanaan SAKIP ini. Pegawai Dinas Kebersihan menerima baik program kebijakan SAKIP dan mengimplementasikannya dengan baik. Dalam hal ini terlihat dengan baik bagaimana SAKIP telah menjadi suatu wujud pengawasan dan pengendalian bagi Dinas Kebersihan itu sendiri untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing sehingga Dinas Kebersihan mampu mewujudkan dirinya sebagai

salah satu SKPD Kota Pematangsiantar yang akuntabel dalam mewujudkan pelayanan publik.

Dengan demikian dapat dilihat bahwa keempat faktor atau variabel moden Edwards III saling mempengaruhi dalam pelaksanaan kebiajakan SAKIP. Adanya komunikasi yang baik akan didukung oleh adanya SOP dan penyebaran tanggungjawab yang jelas dan tegas dibarengi dengan adanya kompetensi pegawai yaitu kualitas dan kuantitas pegawai Dinas Kebersihan Kota Pematangsiantar dituntut mampu menjadi lebih baik agar tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman pengimplementasian SAKIP. Begitu juga dengan proses kinerjanya yang didorong oleh sikap pegawai yang mau menerima kebijakan tersebut dapat memotivasi semngat kerja pegawai untuk lebih bertanggungjawab atas kerjanya masing- masing.

Hasil analisis atas keseluruhan implementasi kebijakan SAKIP sangat dipengaruhi oleh variabel–variabel atau faktor-faktor di atas juga menimbulkan beberapa kendala atau masalah yang menghambat implementasi kebijakan tersebut. Sejak terbentuknya kembali Dinas Kebersihan tahun 2011 Dinas Kebersihan Kota Pematangsiantar menerapkan SAKIP dengan penyusunan LAKIP sebagai laporan yang konkret dan nyata setiap tahunnya masih dikerjakan hingga saat ini dan sudah dirasakan perubahannya ke arah yang lebih baik misalnya dalam penyusunanprogram dan pertanggungjawabannya. Namun masih terasa hingga saat ini kurangnya pembekalan pendidikan dan pelatihan di Dinas Kebersihan untuk lebih mengembangkan program kerjanya selain hanya mengambil dan mengumpulkan sampah. Sehingga perlunya peningkatan kualitas

sumber daya manusia serta perencanaan komponen SAKIP yang dibutuhkan dengan adanya SOP yang baku dan fasilitas fisik yang memadai.

BAB VI

Dokumen terkait