• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS HUKUM ATAS PENJUALAN MEDAN NAPOLEON DI LUAR

C. Analisis Hukum Atas Penjualan di Luar Outlet

Medan Napoleon yang telah menjadi salah satu oleh-oleh kekinian khas Medan ini awalnya cukup menuai kontroversi karena antrian pembeliannya yang selalu membludak dan sering tidak masuk akal. Faktor kontroversi lainnya adalah ramainya calo yang menawarkan cake ini yang ramai bertebaran di sepanjang Jalan K.H. Wahid Hasyim, di sekitaran outlet penjualannya. Para calo ini mengambil kesempatan karena ramainya antrian dan terbatasnya stok, sehingga mereka menawarkan cake tanpa perlu antri, meski harganya lebih mahal jika dibandingkan dengan harga toko.166 Adapun yang menjadi keuntungan pembeli dan kerugian bagi pembeli dan pemilik Medan Napoleon terhadap penjualan cake di luar outlet yang dilakukan oleh para calo ialah:

a. Keuntungan bagi pembeli

1) Pembeli tidak perlu repot-repot mengantri untuk mendapatkan cake Medan Napoleon.

2) Pembeli dapat memilih varian rasa yang telah disediakan dengan mudah.

165

Makanan Halal Medan, op.cit.

166 Makanan Halal Medan, “Medan Napoleon, Lima Bulan Pasca Launching”, http://mhm.asia/medan-napoleon-5-bulan-pasca-launching/ (diakses pada tanggal 5 Agustus 2017).

3) Pembeli bebas untuk membeli sebanyak-banyaknya cake Medan Napoleon.

b. Kerugian bagi pembeli dan pemilik Medan Napoleon

1) Cake Medan Napoleon yang dibeli cenderung tidak segar dan menyebabkan pembeli akan merasa kurang puas dengan cake Medan Napoleon.

2) Rasa cake Medan Napoleon tidak sesuai dengan ekspektasi dan menurunkan peminat pembeli untuk membelinya lagi (rasa jera dari pembeli).

3) Jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan seperti sakit saat memakan cake Medan Napoleon yang dibeli dari calo, bukan tanggung jawab Pemilik Medan Napoleon.

4) Berkurangnya pembeli yang datang ke Outlet resmi Medan Napoleon.

Dari penjelasan diatas Nampak jelaslah bahwa keuntungan yang dialami pembeli dan kerugian yang dialami oleh pembeli dan pemilik Medan Napoleon. Penjualan di luar outlet yang dilakukan oleh para calo tentunya sangat meresahkan pemilik hak atas merek Medan Napoleon. Padahal dalam UU Merek Tahun 2016 sudah ada pengaturan mengenai sanksi pidana terhadap para pelaku yang menggunakan merek terdaftar dan memperdagangkannya.

Pada hakekatnya pelanggaran merek yang terjadi di Indonesia diakibatkan oleh sikap konsumtif masyarakat Indonesia yang memiliki keinginan untuk membeli oleh-oleh khas dan terkenal dari suatu daerah. Masyarakat memiliki

kecenderungan untuk memanfaatkan peluang pada produk-produk yang khas dan sangat diminati oleh konsumen. Akan tetapi karena masyarakat susah untuk mendapatkan produk tersebut dan harus berlama-lama mengantri menyebabkan mereka untuk mencari opsi lain untuk memudahkan mereka dalam membeli produk yang mereka inginkan. Untuk itu timbullah pemikiran dari pelaku untuk membuat penjualan produk tersebut di luar outlet.167

Pada umumnya pelanggaran atas merek memerlukan penanganan yang berbeda-beda. Adapun bentuk-bentuk pelanggaran itu adalah:168

a. Pendaftaran Merek Tanpa Hak

Pelanggaran ini dilakukan dengan cara mendaftarkan merek-merek yang sama baik pada pokoknya ataupun pada keseluruhannya dengan merek-merek dari luar negeri, khususnya yang terkenal atas nama mereka sendiri kemudian diperdagangkan. Ketika pemilik merek terkenal asing tersebut masuk ke Indonesia dan hendak bekerjasama dengan pengusaha Indonesia yang beritikad baik melalui perjanjian lisensi misalnya, perusahaan yang memegang hak atas merek tersebut akan mengalami kesulitan dari orang-orang yang sudah terlebih dahulu mendaftarkan merek-merek terkenal tersebut (secara tanpa hak).

Pendaftar (yang sebenarnya tidak berhak) umumnya tidak pernah menggunakan merek yang mereka daftarkan tersebut. Hal ini berakibat tidak adanya sumbangan dalam pembangunan ekonomi nasional bahkan pada kenyataannya dapat menghambat pembangunan ekonomi karena menghalangi kegiatan investasi dan produksi yang dilakukan oleh orang atau pihak yang lebih

167

Ismael Saleh, op.cit., hlm. 78.

168

Lindsey, dkk, Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar, (Bandung: PT. Alumni, 2002), hlm. 81.

berhak memakai merek. Mereka inilah yang dinamakan Trademark Trafficker. Keberadaan para trademark trafficker ini hanya perlu menjual merek yang telah didaftarkannya tersebut kepada pihak yang kemudian hendak mendaftarkan merek yang sama. Apabila pemilik merek asli bersikeras hendak mendaftarkan merek tersebut atas namanya, ia harus mengajukan gugatan pembatalan terlebih dahulu setelah mengajukan permohonan pendaftaran merek dan pelanggaran ini sangat merugikan pemilik merek.

b. Pendaftaran Merek Tanpa Hak disertai Pemakaian.

Pada pelanggaran ini, si pelanggar tidak saja melanggar hak orang lain tetapi juga melakukan penyesatan dan pengelabuhan atas sumber dan kualitas dari barang yang dibubuhi merek tersebut. Yang dirugikan tidak hanya pemegang hak atas merek karena telah terjadi perusakan citra atas merek milik mereka, tetapi juga masyarakat sebagai konsumen.

Di samping mendaftarkan merek yang bukan haknya, mereka juga memakai merek terkenal yang bukan haknya untuk dicantumkan dalam produk yang mereka hasilkan. Barang-barang yang dihasilkan itu dibuat dengan kualitas dibawah kualifikasi dan mutu pemilik merek dan produsen yang berhak atas merek terkenal yang asli. Disini benar benar telah terjadi penyesatan atau pengelabuhan atas sumber dan kualitas barang yang dibubuhi merek tersebut. Produk-produk yang dihasilkan oleh pelanggar merek ini juga dipakai untuk kelas barang yang berbeda dengan produk yang dihasilkan oleh pemilik merek dan produsen barang sehingga sangat menyesatkan konsumen.

c. Pemakaian Merek Tanpa Hak

Pelanggaran jenis ini sebetulnya sama dengan kedua bentuk pelanggaran yang tersebut di atas. Perbedaannya dalam pemakaian tanpa hak, produk yang dipalsukan benar-benar diusahakan sama dengan yang aslinya. Dalam pelanggaran ini yang dirugikan adalah pemilik merek dan konsumen.169

Perlindungan atas Merek atau Hak atas Merek adalah hak eksklusif yang diberikan negara kepada pemilik merek terdaftar dalam Daftar Umum Merek. Untuk jangka waktu tertentu pemegang hak atas merek dapat menggunakan sendiri merek tersebut ataupun memberi izin kepada seseorang, beberapa orang secara bersama-sama atau Badan Hukum untuk menggunakannya. Perlindungan atas merek terdaftar yaitu adanya kepastian hukum atas merek terdaftar, baik untuk digunakan diperpanjang maupun sebagai alat bukti bila terjadi sengketa pelaksanaan atas merek terdaftar. Seperti adanya calo yang menjual dengan produk yang sama persis dari penjual tetapi tanpa mengantongi izin dari pemilik

Hak Atas Merek.

169

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut:

1. Hingga pada saat sekarang ini lahir Undang-undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 252, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5953) yang telah disahkan pada tanggal 25 November Tahun 2016. Dalam sejarah, pengaturan hukum atas merek di Indonesia telah melalui berbagai dinamika sejak pertama kali dikeluarkannya Undang-Undang Hak Milik Perindustrian pada masa sebelum

kemerdekaan yaitu dalam “Reglement Industrieele Eigendom Kolonien”,

Stb 545 Tahun 1912, sampai dengan diberlakukannya UU Merek Nomor 15 Tahun 2001.

2. Berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, pemohon merek sebagai pendaftar pertama dilindungi berdasarkan hak adminstratif oleh kantor merek dari pihak lain yang mengajukan permohonan pendaftaran merek yang sama dengan yang telah diajukan terlebih dahulu oleh pemohon. Perlindungan itu berupa penolakan permohonan pendaftaran merek yang diberikan oleh Direktorat Jenderal

HKI saat pemeriksaan substantif berdasarkan Nomor Agenda dengan dasar penolakan Pasal 21 ayat (1) huruf a UU Merek Tahun 2016.

3. Penjualan produk Medan Napoleon diluar outlet yang dilakukan oleh para calo tentunya sangat meresahkan Pemilik Hak Atas Merek Medan Napoleon. Dimana berdampak pada mengurangi pembeli yang datang pada outlet resmi Medan Napoleon, menyebebkan pembeli merasa kurang puas terhadap rasa cake Medan Napoleon, dan menurunkan peminat pembeli untuk membelinya lagi (rasa jera dari pembeli). Penjualan yang dilakukan calo diluar outlet juga tidak mengantongi izin dari pemilik atas hak merek Medan Napoleon. Penjualan yang dilakukan calo diluar outlet dengan harga yang di jual lebih mahal daripada beli langsung. Rata-rata cake yang dijual lebih mahal 15 ribu dari harga aslinya jika dibeli langsung ke outlet resmi Medan Napoleon.

B. Saran

Adapun beberapa saran yang menyangkut permasalahan dalam skripsi ini antara lain:

1. Dalam rangka perlindungan hukum merek di Indonesia, khususnya untuk melindungi produk yang dihasilkan, maka diperlukan suatu forum/sosialisasi untuk menyebarluaskan informasi mengenai pentingnya menggunakan merek sebagai salah satu upaya perlindungan hukum, serta sebagai sarana peningkatan nilai tambah produk, daya saing, dan daya jual. 2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis Perlindungan hukum atas merek saat ini diatur di dalam Pasal 1

angka 5 menyebutkan suatu merek mendapat perlindungan hukum hak ekslusif sejak terdaftar untuk jangka waktu tertentu. Kemudian Pasal 35 menyebutkan bahwa suatu merek mendapatkan perlindungan hukum untuk jangka waktu 10 Tahun sejak tanggal penerimaan. Namun, perlindungan tersebut tidak menjelaskan Perlindungan pada saat proses pendaftaran merek. Maka disarankan agar diberikan penjelasan melalui sosialisasi dan workshop secara berkala ke daerah-daerah tertentu, serta diperlukan suatu program bantuan khusus/insentif dari pemerintah/instansi terkait dalam hal penanganan perlindungan merek yang sedang dalam proses pendaftaran. 3. Perlunya koordinasi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah

dalam rangka penerapan perlindungan merek dengan mendaftaran merek pada Dirjen HKI. Bisa melalui Pelatihan-pelatihan yang dilakukan kepada masyarakat, dimana dengan diadakannya pelatihan tersebut akan membuat masyarakat lebih menguasai tentang usahanya. Dengan demikian, maka perlindungan hukum atas merek lebih efektif.

Dokumen terkait