• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS TERHADAP MEKANISME PEMBIAYAAN UANG MUKA

B. Analisis Hukum Islam Terhadap uang muka KPR dengan akad waka>lah

Dalam permasalahan ini dijelaskan dalam KHES bahwa :

1. Sesuatu yang dikuasakan kepada penerima kuasa harus diketahui dengan jelas agar bisa dilaksanakan.

2. Pemberi kuasa harus menyatakan jenis barang yang harus dibeli .

3. Jika jenis barang itu sangat bervariasi, maka pemberi kuasa harus menyebutkan variannya.

4. Jika syarat yang terdapat dalam ayat (1), (2), dan (3) tidak terpenuhi, maka transaksi pemberian kuasa tidak sah.3

Jadi dalam KPR harus dijelaskan rumah yang ingin dibeli agar tidak terjadi kesalahan variasi dalam pembeliannya sebab jika nanti terjadi kesalahan tentu yang menanggungnya adalah pihak BMT tetapi jika pihak nasabah sudah memberikan variasi sesuai dengan keinginannya dan pihak BMT sudah memenuhi syarat yang dinnginkan nasabah maka jika terjadi

kesalahan yang menanggung adalah nasabah. Maka dalam akad ini perlu sangat diperhatikan variasi yang diingikan agar tidak terjadi kesalahan dalam perjanjian.

Dalam fatwa DSN No. 13/DSN-MUI/IX/2000 Tentang uang muka dalam akad Waka>lah. pertama ketentuan umum uang muka :

1. Dalam akad pembiayaan mura>bah}ah, lembaga keuangan syari’ah dibolehkan untuk meminta uang muka apabila kedua belah pihak bersepakat.

2. besar jumlah uang muka ditentukan berdasarkan kesepakatan.

3. akad wakalah harus dibuatkan secara terpisah dengan akad murabahah. yang dimaksud dengan secara prinsip barang milik bank dalam waka>lah

pada akad murabahah adalah aliran dana yang ditunjukan kepada nasabah. 4. Bank dapat meminta nasbah untuk membayar uang muka atau Urbunsaat

menandatangani kesepakatan awal pemesanan barang oleh nasabah. 5. Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan agunan tambahan

selain barang yang dibiayai bank.4

Jadi dari penjelasan diatas pada nomer 4 dijelaskan bahwa bank boleh saja meminta agar nasabah membayar uang mukanya terlebih dahulu jika nasabah menyetujui dengan permintaan BMT Maka puhak BMT Boleh melanjutkan perjanjian tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa kasus yang terjadi di BMT MUDA diperbolehkan menurut hukum Islam sebab pembiayaan KPR Yang dilakukan oleh BMT MUDA yaitu nasabah harus

membayar uang muka terlebih dahulu baru kemudian untuk selanjutnya BMT MUDA menjadi kuasa atau yang menerima kuasa dari nasabah atas pembelian rumah yang dilakukan nasabah, jadi kesepakatan tersebuat harus ada diawal akad agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan dan terbebani.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah melakukan penelitian pengenai analisis terhadap pemberian uang muka KPR oleh nasabah dengan akad wakalah di BMT MANDIRI UKHWAH PERSADA (MUDA) JATIM) sebagaimana yang telah ada di BAB I sampai dengan BAB IV skripsi ini. Dalam BAB V penulis akan memaparkan beberapa kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mekanisme pemberian uang muka KPR oleh nasabah di BMT MANDIRI

Ukhwah Persada (MUDA) Jatim jika di tinjau dari syarat sahnya akad wakalah maka akad dalam masalah ini tentu memenuhi syarat sebab bentuk yang diwakilkan adalah akad jual beli rumah yang diwakilkan kepada BMT MUDA oleh seorang nasabah Karena nasabah tersebut tidak mampu untuk membeli langsung rumah tersebut sehingga dia menggunakan KPR terhadap BMT MUDA. Bmt muda hanya boleh bertindak sesuai dengan yang dikuasakan oleh nasabah tersebut maka perjanjian ini hendaknya dalam bentuk tertulis sebab dalam surat kuasa akan dikemukakan apa yang menjadi hak dan wewenang yang memberi kuasa maka dari itu orang yang diberi kuasa hanya melakukan apa yang tertulis dalam surat perjanjian tersebut. Apabila orang yang diberi kuasa

melakukan tindakan diluar yang disepkati maka orang yang member kuasa boleh menuntut lewat jalur hukum atau diselesaikan secara damai

2. Setelah melakukan penelitian tentang pemberian uang muka KPR penulis

menganalisis menurut hukum Islam dan dapat ditarik kesimpulan bahwa kasus yang terjadi di BMT MUDA diperbolehkan menurut hukum islam sebab pembiayaan KPR Yang dilakukan oleh BMT MUDA yaitu nasabah harus membayar uang muka KPR terlebih dahulu baru kemudian untuk selanjutnya BMT MUDA menjadi kuasa atau yang menerima kuasa dari nasabah atas pembelian rumah yang dilakukan nasabah, jadi kesepakatan tersebuat harus ada diawal akad agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan dan terbebani.

B. SARAN

1. Pemberian Uang muka KPR yang terjadi di BMT MUDA harus sesuai

dengan ketentuan hukum Islam agar tidak keluar dari ketentuan syariah.

2. Bagi BMT MANDIRI UKHWAH PERSADA Surabaya khususnya pihak

pemberi pinjaman agar lebih amanah dalam menjalankan kuasa dari nasabah.

3. Kepada para pihak nasabah supaya bisa bertanggung jawab atas dana yang dipinjam.

4. Kesepakatan perjanjian sebaiknya harus dilakukan diawal akad agar tidak

Gema Insani Press. 2001.

Afandi, M. Yazid. Fiqih Muamalah dan Implementasinya dalam lembaga keuangan. Jogjakarta: Logung Pustaka. 2009.

Amalia, Euis dkk. Prinsip-prinsip Hukum Islam (Fiqih) Dalam Transaksi

Ekonomi Islam Pada Perbankan Syariah”Summary Report”. UIN Dan

Direktorat Hukum BI 2003.

Antonio, Muhammad Syafi’I. Bank Syariah Wacana Ulama Dan Cendikiawan. Jakarta: Tazkia Instisute. 1999.

Ascarya. Akad dan Produk Bank Syariah . Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. 2007.

Az-Zuhaili, Wahbah. Fiqih Islam Wa Adillatuhu. Jakarta: Gema Insani. 2011. Dewi, Gemala Wirdyaningsih dan Yeni Salma Bariliati. Hukum Perikatan Islam

di Indonesia. Jakarta: Kencana. 2005

Ghazaly, Abdul Rahman, Ghufron Ihsan dan Sapiudin Shidiq. Fiqh Muamalat. Jakarta: Kencana Prenada Media. 2010.

Hadi, Sutrisno. Metode Research. Yogyakarta : Penerbitan Fak. Psikologi UGM. 1984.

Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo. Metodologi Penelitian Bisnis Untuk

Akuntansi dan Manajemen. Yogyakarta : Penerbit BPFE. 2002.

Subagyo, Joko. Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek. Jakarta : PT Rineka Cipta. 2004.

Karim, Helmi. Fiqih Muamalah. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. 1997. Lubis, Suhrawardi K. Hukum Ekonomi Islam. Jakarta : Sinar Grafika. 2000. Majieb, M. Abdul. Kamus Istilah Fiqih. Jakarta:PT. Pustaka Firdaus. 1994. Martono. Bank & Lembaga Keuangan Lain. Yogyakarta: Ekonisia. 2002.

Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. 2006.

Muhammad, Ridwan. Managemen Baitul MaalWaTanwil(BMT). Yogyakarta: UII Press. 2004.

Nawawi, Ismail. fikih muamalah. Bogor : penerbit Ghalia Indonesia. 2012. Rusyd, Ibnu. Terjemah Bidayatul Mujtahid. Semarang: As-Syifa. 1990.

Sjahdeni,Sutan Remi. Perbankan Syariah Produk-produk Dan Aspek-aspek Hukumnya. Jakarta: Kencana. 2014.

Suhendi, Hendi. Fiqih Muamalah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2005. Wiroso. Jual Beli Murabahah. Yogyakarta: UII Pers, 2005.

Yasin,M.Nur. Hukum ekonomi Islam. Malang:UIN Malang Press. 2009. Yunus, Mahmud. Kamus Arab Indonesia. Jakarta: Hida Karya Agung. 1990. http.bmtmuda.com/2012/04/VisiMisi-bmt.html.

http//bmtmuda.com.

http://Imannumberone.Wordpress.Com/2013/04/16/Kedudukan-Bmt-Baitul- Maal-Wat-Tamwil-Dalam-Lembaga-Keuangan-Di-Indonesia/.

Dokumen terkait