Setelah melalui tahapan pemeriksaan dalam persidangan dan berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan maka majelis hakim menjatuhkan putusan dalam perkara No: 3213/Pid.B/2007/PN.Mdn atas kasus pencurian dengan pemberatan dengan terdakwa Kohiruddin yang amar putusannya adalah sebagai berikut:
1 Menyatakan bahwa terdakwa kohiruddin tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan jaksa penuntut umum.
2 Membebaskan terdakwa tersebut di atas dari segala dakwaan.
3 Memulihkan hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan dan harkat serta martabatnya
4 Memerintahkan agar terdakwa segera dikeluarkan dari tahanan.
5 Menetapkan barang bukti berupa 2 (dua) gulung kabel kecil dikembalikan kepada saksi Tan Thun Sie (korban).
6 Membebani ongkos perkara kepada negara.
Putusan bebas ini dijatuhkan oleh majelis hakim sebab majelis hakim tidak yakin bahwa terdakwa yang melakukan tindak pidana pencurian dengan pemberatan yang diatur dalam Pasal 363 ayat (1) ke-4e KUHP sebagaimana yang didakwakan oleh jaksa penuntut umum. Terhadap putusan tersebut Jaksa Penuntut Umum mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Agung menjatuhkan
putusan yang pada intinya tetap menguatkan putusan dari Pengadilan Negeri Medan yaitu membebaskan terdakwa Kohiruddin dan menyatakan tidak dapat menerima permohonan kasasi Jaksa Penuntut Umum.
Untuk dapat melihat lebih jelas tentang kasus tersebut diatas maka dibawah ini akan diuraikan secara lengkap tentang kasus posisi dan dasar pertimbangan Majelis Hakim, sebagai berikut:
1. Kasus Posisi.
Bahwa terdakwa Kohiruddin secara bersama-sama semufakat dengan temannya bernama Andi dan Ari (yang saat itu belum tertangkap dan masuk dalam Daftar Pencararian Orang) pada bulan April 2007 bertempat di Perumahan Harjosari Indah Jalan harjosari I Kecamatan Medan Amplas telah mengambil kabel listrik sebanyak 105 gulung yang ditaksir seharga Rp.40.000.000,- (empat puluh juta rupiah) milik Tan Thun Sie (korban).
Atas perbuatannya tersebut selanjutnya terdakwa diajukan kepersidangan dan didakwa dalam dakwaan pertama melanggar Pasal 363 ayat (1) Ke-4e KUHP tentang pencurian dengan pemberatan dan dakwaan kedua melanggar Pasal 480 ke-1e KUHP.
2. Dasar Pertimbangan Majelis Hakim. a. Keterangan Saksi.
Bahwa di dalam berkas perkara terdapat 3 (tiga) orang saksi yaitu saksi korban Tan Thun Sie, Toni Kuswoyo alias Toni, dan Ruarid Kurniawan alias Ruri namun di dalam persidangan, Jaksa Penuntut Umum hanya mampu
menghadirkan 1 (satu) orang saksi (Ruarid Kurniawan alias Ruri ) ditambah 1 (satu) orang saksi verbalis (R. Hasibuan selaku penyidik pembantu). Meskipun dalam persidangan Majelis Hakim dengan penetapannya tertanggal 13 November 2007 Nomor: 3212/Pid.B/2007.PN. Mdn61
Masing-masing saksi yang hadir di persidangan menerangkan sebagai berikut: telah memerintahkan agar jaksa penuntut umum menghadapkan saksi-saksi sebagaimana tercantum dalam berkas perkara.
1. Saksi Ruarid Kurniawan alias Ruri, yang pada intinya menerangkan sebagai berikut:
a. Bahwa benar perusahaan ada kehilangan kabel listrik namun ia tidak tahu siapa yang mencurinya.
b. Saksi diberitahu oleh pihak kepolisian bahwa terdakwa telah mengaku mengambil kabel listrik tersebut.62
2. Saksi R. Hasibuan selaku penyidik pembantu (saksi verbalis), yang pada intinya menerangkan bahwa terdakwa ada menandatangani Berita Acara Pemeriksaan di kepolisian dan itu dilakukan terdakwa tanpa ada paksaan dari siapapun dan selama pemeriksaan tidak ada dipukul.63
b. Barang Bukti
Dalam persidangan, Jaksa penuntut Umum mengajukan 2 (dua) gulungan kecil kabel listrik berwarna hitam dan biru sebagai barang bukti.
61
Putusan pengadilan Negeri Medan Nomor: 3212/Pid.B/2007/PN. Mdn,, hlm. 6
62
Putusan pengadilan Negeri Medan Nomor: 3212/Pid.B/2007/PN. Mdn, hlm. 5
63
c. Keterangan Terdakwa.
Pada intinya, dipersidangan terdakwa menerangkan sebagai berikut:
1. Terdakwa tidak pernah mengambil ataupun ikut mengambil/mencuri kabel sebagaimana yang didakwakan jaksa penuntut umum.
2. Apa yang terurai didalam berita acara penyidikan di kepolisian adalah tidak benar dan terdakwa terpaksa menandatangani berita acara tersebut karena takut pada polisi sebab saat ia ditangkap, ia dipukuli dan dipaksa untuk mengaku.
3. Terdakwa memang ada diberi uang oleh Andi (salah satu tersangka lainnya yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang) sebesar Rp. 12.000,- (dua belas ribu rupiah) tapi terdakwa tidak tahu apakah uang itu hasil penjualan kabel curian atau tidak karena antara terdakwa dan Andi sudah biasa saling memberi dan menerima uang.64
d. Unsur-unsur Tindak Pidana.
1. Dakwaan pertama melanggar Pasal 363 ayat (1) Ke-4e KUHP mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
a. Barang siapa
b. Mengambil sesuatu barang, yang sama sekali atau sebagian termasuk kepunyaan orang lain.
c. Dengan maksud akan memiliki barang itu dengan melawan hak. d. Yang dilakukan oleh dua orang atau lebih secara bersama-sama.
64
1. Tentang Unsur Barang Siapa.
Bahwa yang dimaksud dengan barang siapa ialah setiap subjek hukum baik perorangan maupun korporasi yang didakwa telah melakukan tindak pidana atau dengan kata lain setiap orang yang harus bertanggungjawan atas peristiwa sebagai akibat perbuatannya atau mengenai siapa yang harus dijadikan sebagai terdakwa dalam suatu peristiwa pidana.65
Dari keterangan saksi Ruarid Kurniawan alias Ruri yang menerangkan bahwa ketika ia diperiksa polisi (penyidik), ia diberitahu penyidik bahwa yang mengambil kabel tersebut adalah terdakwa Kohiruddin, dihubungkan dengan keterangan R. hasibuan yang mengatakan bahwa saksi dalam kedudukannya sebagai penyidik pembantu, ada memeriksa terdakwa pada bagian akhir pemeriksaan dihubungkan pula dengan keterangan terdakwa yang mengakui bahwa benar identitas yang tercantum dalam dakwaan jaksa penuntut umum tersebut adalah terdakwa dan secara lahiriah Majelis melihat bahwa terdakwa berada dalam keadaan cukup sehat baik jasmani maupun rohaninya, Majelis berpendapat bahwa unsur barang siapa telah terbukti secara hukum.
65
2. Mengambil sesuatu barang, yang sama sekali atau sebagian termasuk kepunyaan orang lain.
Untuk membuktikan unsur ini, jaksa penuntut umum telah menghadirkan saksi-saksi sebagaimana yang telah disebutkan diatas yaitu saksi Ruarid Kurniawan alias Ruri dan Saksi R. Hasibuan yang pada dasarnya para saksi menerangkan tidak tahu siapa pelaku dari pencurian tersebut.
Untuk barang bukti yang diajukan dipersidangan yaitu dua gulungan kecil kabel warna hitam dan biru setelah diteliti oleh Majelis Hakim ternyata penyitaan barang bukti tersebut tanpa izin dari Pengadilan Negeri Medan, tentu saja hal ini bertentangan dengan Pasal 38 ayat (1) dan (2) KUHAP.
Ditemukan fakta lain dalam berita acara pemeriksaan saksi korban (Tan Thun Sie) di kepolisian yang pada angka 10 atas pertanyaan penyidik saksi korban menyatakan bahwa:
“adapun sebabnya Kamal (pagawai saksi korban) memohon kepada saya (saksi) untuk menyelesaikannya dan oleh istrinya (istri Kamal) mengatakan kepada saya bahwa yang mengambil dan membakar kabel tersebut adalah Iful namun saya (saksi korban) mengatakan tidak mau tau siapa yang ambil itu, itu tanggung jawab Kamal” hal itu dikatakan kepada saya (saksi korban) pada hari jum’at tanggal 5 Juni 2007.66
Berdasarkan fakta tersebut maka Majielis Hakim berpendapat bahwa unsur ini tidak terbukti apa lagi penyidik tidak memeriksa
66
Kamal dan istrinya atau seseorang yang bernama iful tersebut dan dengan demikian maka unsur selanjutnya juga tidak perlu dipertimbangkan lagi.
2. Dakwaan kedua melanggar Pasal 480 ke 1e KUHP dengan unsur-unsur sebagai berikut:
a. Karena sebagai sekongkol.
b. Barang siapa membeli, menyewa, menerima tukar, menerima gadai, menerima sebagai hadiah, atau karena hendak mendapat untung, menjual, menukarkan, menggadaikan, membawa, menyimpan atau menyembunyikan sesuatu barang, yang diketahuinya atau patut disangkanya diperoleh karena kejahatan.
Berdasarkan keterangan terdakwa bahwa ia ada menerima uang dari Andi (Daftar pencarian Orang) sejumlah Rp. 12.000,- (dua belas ribu rupiah) namun ia tidak mengetahui apakah uang itu hasil penjualan kabel curian atau tidak karena memang diantara mereka terbiasa saling memberi dan menerima uang.
Dengan demikian maka unsur ini juga tidak terpenuhi apa lagi dari fakta lain juga ditemukan nama Iful yang disebut istri Kamal sabagai pelaku pencurian namun nama-nama tersebut tidak diperiksa pada tingkat penyidikan padahal untuk mencari kebenaran, seharusnya ketiga orang tersebut (Iful, Kamal dan Istrinya) harus didengar keterangannya.
Berdasarkan pertimbangan tersebut diatas maka Majelis Hakim menyatakan terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan jaksa penuntut umum dalam dakwaan pertama dan kedua, karena itu terdakwa dibebaskan dari dakwaan.
3. Analisis Penulis Terhadap Dasar Pertimbangan Majelis Hakim. a. Terhadap Keterangan Para Saksi.
1. Keterangan saksi Ruarid Kurniawan alias Ruri
Dari keterangan saksi Ruarid Kurniawan alias Ruri dapat diketahui bahwa pada dasarnya ia tidak tahu siapa pelaku pencurian kabel listrik tersebut hanya saja ia diberitahu oleh pihak kepolisian bahwa terdakwa Kohiruddin telah mengaku sebagai pelakunya.
Di dalam Pasal 185 ayat (1) KUHAP disebutkah bahwa keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan. Kemudian dalam penjelasan Pasal 185 ayat (1) KUHAP dinyatakan bahwa dalam keterangan saksi tidak termasuk keterangan yang diperoleh dari orang lain atau testimonium de auditu. Maksudnya adalah bahwa keterangan saksi yang diperoleh dari orang lain bukanlah alat bukti yang sah.67
Dengan demikian, berdasarkan Pasal 185 ayat (1) KUHAP maka keterangan saksi Ruarid Kurniawan alias Ruri ini tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti untuk menyatakan terdakwa sebagai pelaku tindak pidana
67
sebab ia hanya diberitahu oleh pihak kepolisian bahwa terdakwa yang telah mengaku sebagai pelaku yang telah mengambil kabel listrik itu.
2. Keterangan Saksi R. Hasibuan (Verbalisan).
Saksi R. Hasibuan merupakan penyidik pembantu yang juga ikut memeriksa terdakwa di kepolisian. Saksi menerangkan bahwa terdakwa (Kohiruddin) ada menandatangani Berita Acara Pemeriksaan di kepolisian dan itu dilakukan terdakwa (Kohiruddin) tanpa ada paksaan dari siapapun dan selama pemeriksaan tidak ada dipukul. Pada dasarnya keterangan yang disampaikan saksi R. Hasibuan ini tidak perlu di pertimbangkan oleh majelis hakim sebab keterangan yang disampaikan oleh saksi R. Hasibuan ini tidak bernilai pembuktian.
Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri (Pasal 1 butir 26 KUHAP).
Selanjutnya Pasal 1 butir 27 KUHAP menyebutkan bahwa keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu.
Keterangan saksi yang memiliki nilai pembuktian adalah keterangan saksi mengenai peristiwa pidana yang dilihat sendiri, didengar sendiri dan dialami sendiri serta menyebutkan alasan dari pengetahuannya.
Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa keterangan yang disampaikan R. Hasibuan di persidangan sama sekali tidak mengandung nilai pembuktian karena keterangan itu ia berikan tidak berdasarkan atas apa yang ia lihat, ia dengar maupun ia alami sendiri bahkan seharusnya R. Hasibuan tidak dapat dijadikan sebagai seorang saksi karena ia tidak memenuhi kapasitas sebagai seorang saksi sebab ia tidak melihat, tidak mendengar dan tidak mengalami sendiri peristiwa pidana sebagaimana dakwaan jaksa penuntut umum.
Dengan demikian maka hanya ada satu keterangan saksi yaitu keterangan saksi yang dikemukakan oleh saksi Ruarid Kurniawan alias Ruri, bahwa perusahaan ada kehilangan kabel listrik namun ia tidak tahu siapa yang mencurinya. Meskipun keterangan yang disampaikan oleh saksi Ruarid Kurniawan alias Ruri ini pun pada dasarnya tidak memenuhi ketentuan batas minimum pembuktian.
Hal ini sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Pasal 185 ayat (2) KUHAP yang menyatakan bahwa keterangan seorang saksi saja belum dapat dianggap
sebagai alat bukti yang cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa, atau yang dalam istilah hukum di sebut dengan unus testis nullus testis.68
Sementara untuk saksi lainnya yaitu saksi korban Tan Thun Sie dan Toni Kuswoyo alias Toni, Jaksa Penuntut Umum tidak mampu menghadirkannya ke persidangan meskipun Majelis Hakim yang memeriksa dan memutus perkara dengan terdakwa Kohiruddin telah mengeluarkan penetapan tertanggal 13 November 2007, Nomor: 3212/Pid.B/2007/PN.Mdn yang memerintahkan agar Jaksa Penuntut Umum menghadirkan saksi-saksi sebagaimana tercantum dalam berkas perkara. Namun walaupun demikian ternyata Jaksa Penuntut Umum tetap tidak mampu menghadirkan saksi-saksi yang dimaksud terutama saksi korban.
Padahal menurut Irma Hasibuan menyatakan bahwa Jaksa Penunut Umum wajib menghadirkan seluruh saksi-saksi yang terdapat dalam Berita Acara Pemeriksaan ke sidang pengadilan kecuali bagi saksi-saksi sebagaimana yang diatur dalam Pasal 162 ayat (1) KUHAP. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa apabila ada saksi yang tidak mau hadir ke persidangan meskipun telah di panggil secara sah maka Jaksa Penuntut Umum dapat meminta kepada majelis hakim
68
Ini berarti jika alat bukti yang dikemukakan jaksa penuntut umum hanya terdiri dari seorang saksi saja tanpa ditambah dengan keterangan saksi yang lain atau alat bukti lain, “kesaksian tunggal” yang seperti ini tidak dapat dinilai sebagai alat bukti yang cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa sehubungan dengan tindak pidana yang didakwakan kepadanya. Perhatikan M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP, Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi Dan Peninjauan Kembali,Op.Cit, hlm. 288.
untuk mengeluarkan penetapan sebagai upaya paksa terhadap saksi agar hadir kepersidangan.69
Undang-undang juga mengatur bahwa dalam hal saksi tidak hadir meskipun telah dipanggil dengan sah dan hakim ketua sidang mempunyai cukup alasan untuk menyangka bahwa saksi itu tidak akan mau hadir, maka hakim ketua sidang dapat memerintahkan supaya saksi tersebut dihadapkan kepersidangan (Pasal 159 ayat (2) KUHAP).
Terhadap kewajiban saksi harus hadir kepersidangan, undang-undang juga memberi pengecualian sebagaimana yang diatur dalam Pasal 162 ayat (1) KUHAP yang menyatakan jika saksi sesudah memberi keterangan dalam penyidikan meninggal dunia atau karena halangan yang sah tidak dapat hadir di sidang atau tidak dipanggil karena jauh tempat kediaman atau tempat tinggalnya atau karena sebab lain yang berhubungan dengan kepentingan Negara maka keterangan yang telah diberikannya itu dibacakan.
Menurut Irma Hasibuan, keterangan saksi adalah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan sebagaimana yang diatur dalam KUHAP sehingga kekuatan hukum atas keterangan yang disampaikan di persidangan dengan keterangan saksi yang terdapat dalam berita acara pemeriksaan yang dibacakan dipersidangan itu tidak sama namun terhadap keterangan saksi yang terdapat dalam berita acara pemeriksaan yang dibacakan dipersidangan tersebut, hakim
69
Hasil Wawancara Dengan Jaksa Irma Hasibuan di Kejaksaan Negeri Medan Pada Tanggal 21 Januari 2011.
dapat memberikan penilaian apakah ada persesuaian dengan alat bukti lain yang dihadirkan dipersidangan atau dengan kata lain keterangan tersebut dapat diketegorikan sebagai alat bukti petunjuk.70
Namun terhadap saksi korban Tan Thun Sie dan Toni Kuswoyo alias Toni yang tidak dapat dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum kepersidangan, menurut majelis hakim pengecualian yang terdapat dalam Pasal 162 ayat (1) KUHAP tidak berlaku sehingga tidak ada alasan bagi para saksi untuk tidak hadir di persidangan sebagaimana yang tertuang dalam salah satu pertimbangan hakim yang menyebutkan:
Menimbang bahwa majelis dipersidangan telah mengingatkan jaksa penuntut umum tentang belum cukupnya bukti untuk menuntut terdakwa di persidangan dengan memerintahkan agar jaksa memanggil saksi-saksi lainnya terutama saksi korban sebagaimana yang tercantum dalam Berita Acara Pemeriksaan namun Jaksa Penuntut Umum menyatakan ia tidak akan memanggil lagi saksi-saksi tersebut, meskipun syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam pasal 162 ayat (1) KUHAP tidak terpenuhi.71
Dengan demikian, seharusnya Jaksa Penuntut Umum berdasarkan penetapan yang telah dikeluarkan oleh majelis hakim sebelumnya tertanggal 13 November 2007, Nomor: 3212/Pid.B/2007/PN.Mdn, dapat meminta bantuan pihak kepolisian untuk menghadirkan para saksi tersebut dan bila para saksi yang dimaksud tetap tidak mau hadir maka terhadap mereka dapat dituntut secara
70
Hasil Wawancara Dengan Jaksa Irma Hasibuan di Kejasaan Negeri Medan Pada Tanggal 21 Januari 2011.
71
pidana berdasarkan Pasal 224 KUHP dengan ancaman pidana salama-lamanya sembilan bulan.
b. Terhadap Barang Bukti.
Selain menghadirkan saksi-saksi, jaksa penuntut umum juga mengajukan barang bukti ke persidangan yaitu berupa 2 (dua) gulungan kabel listrik warna hitam dan biru, namun setelah diteliti oleh majelis hakim ternyata proses penyitaan barang bukti tanpa izin dari Pengadilan Negeri Medan.
Pasal 38 ayat (1) KUHAP menentukan bahwa penyitaan hanya dapat dilakukan oleh penyidik dengan surat izin ketua pengadilan Negeri setempat. Selanjutnya Pasal 38 ayat (2) KUHAP menyatakan dalam keadaan yang sangat perlu dan mendesak bilamana penyidik harus segera bertindak dan tidak mungkin untuk mendapatkan surat izin terlebih dahulu, tanpa mengurangi ketentuan ayat (1), penyidik dapat melakukan penyitaan hanya atas benda bergerak dan untuk itu wajib segera melaporkan kepada ketua Pengadilan Negeri setempat guna memperoleh persetujuannya.
Menurut M. Yahya Harahap, sebelum penyidik melakukan penyitaan, lebih dulu meminta izin ke Ketua Pengadilan Negeri setempat. Dalam permintaan tersebut, penyidik memberi penjelasan dan alasan-alasan pentingnya dilakukan
penyitaan, guna dapat memperoleh barang bukti baik sebagai barang bukti untuk penyidikan, penuntutan dan untuk barang bukti dalam persidangan pengadilan.72
Berdasarkan Pasal 38 KUHAP dan doktrin yang dikemukakan oleh M. Yahya Harahap tersebut maka jelas bahwa Jaksa Penuntut Umum tidak teliti didalam menerima limpahan berkas dari penyidik kepolisian terutama mengenai barang bukti yang mengakibatkan barang bukti tersebut tidak dapat dijadikan sebagai barang bukti di persidangan.
c. Terhadap Keterangan Terdakwa.
Terdakwa Kohiruddin menyangkal atau mencabut semua keterangannya dalam Berita Acara Pemeriksaan di kepolisian dengan alasan bahwa apa yang terurai di dalam Berita Acara Pemeriksaan tidak benar karena ia tidak pernah mencuri kabel di Perumahan Harjosari Indah di Jalan Harjosari I, Kecamatan Medan Amplas. Ia memang ada menandatangani Berita Acara Pemeriksaan tapi itu ia lakukan karena takut pada polisi sebab saat ditangkap, terdakwa dipukuli dan disuruh untuk mengaku.
Pasal 189 ayat (1) KUHAP menyatakan bahwa keterangan terdakwa adalah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri. Ayat (2) menyatakan bahwa keterangan terdakwa yang diberikan diluar sidang dapat digunakan untuk membantu
72
M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP Penyidikan Dan Penuntutan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hlm. 266.
menemukan bukti di sidang asalkan keterangan itu didukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya.
Terhadap bunyi Pasal 189 ayat (2) KUHAP, M. Yahya Harahap mengatakan, bentuk keterangan yang dapat diklasifikasikan sebagai keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang ialah:
1. keterangan yang diberikannya dalam pemeriksaan penyidikan, 2. dan keterangan itu dicatat dalam berita acara penyidikan,
3. serta berita acara penyidikan itu ditandatangani oleh penyidik dan terdakwa.73
Berdasarkan Pasal tersebut dan ditinjau dari segi yuridis, terdakwa dibenarkan untuk mencabut keterangan pengakuan yang diberikan dalam pemeriksaan penyidikan. Pencabutan dilakukan selama pemeriksaan persidangan pengadilan berlangsung. Undang-undang tidak membatasi hak terdakwa untuk mencabut kembali keterangannya asal pencabutan itu mempunyai landasan alasan yang berdasar dan logis.
74
Hal itu dapat dilihat dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia (MARI) No. 1651K/Pid/1989 tanggal 16 September 1992 menyatakan bahwa keterangan terdakwa dalam Berita Acara Pemeriksaan kepolisian yang kemudian ditarik kembali dalam suatu persidangan dengan alasan terdakwa telah
73
Mohammmad Taufik Makarao dan Suhasril, Hukum Acara pidana Dalam Teori Dan Praktek, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2004), hlm. 131.
74
M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi Dan Peninjauan Kembali, Op.c it, hlm. 325
dipaksa dan dipukuli oleh penyidik dan alasan ini dibenarkan pula oleh saksi dan bukti baju yang bercak darah maka penarikan keterangan yang demikian itu adalah syah karena didasari alasan yang logis sehingga keterangan terdakwa dalam Berita Acara Pemeriksaan tidak mempunyai nilai pembuktian menurut KUHAP.75
Namun hakim tidak boleh sembarangan menolak atau menerima begitu saja alasan pencabutan Berita Acara Pemeriksaan oleh terdakwa. Hakim dituntut untuk mampu menguasai hukum pembuktian dan kemampuan memberikan penilaian kekuatan pembuktian sebagaimana yang diatur dalam KUHAP yang dipadukan dengan keyakinan hakim, dengan demikian ia mampu menilai dan mempertimbangkan alasan pencabutan berdasarkan peraturan penundang- undangan.
76
Apabila hakim dapat menerima alasan pencabutan, berarti keterangan yang terdapat dalam Berita Acara Pemeriksaan dianggap tidak benar dan keterangan itu tidak dapat digunakan sebagai landasan untuk membantu menemukan bukti di sidang pengadilan. Sebaliknya apabila alasan pencabutan tidak dapat dibenarkan, karena alasan pencabutan yang dikemukakan terdakwa tidak mempunyai alasan yang mendasar dan logis maka keterangan pengakuan yang tercantum dalam berita acara penyidikan tetap dianggap benar. Hakim dapat mempergunakannya sebagai alat untuk membantu menemukan bukti di sidang pengadilan.77
75
Syafruddin Kalo, Op. Cit, hlm. 24
76
M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi Dan Peninjauan Kembali, Op. Cit, hlm. 326
77 Ibid,
d. Terhadap Unsur-unsur Tindak Pidana.
1. Dakwaan pertama melanggar Pasal 363 ayat (1) Ke-4e KUHP mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
a. Terhadap unsur barang siapa.
Barang siapa ialah orang subjek hukum yang melakukan perbuatan.78 Perbuatan yang dimaksud adalah perbuatan pidana. Menurut Moeljatno79
Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan maka unsur