• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.3 Analisis Data

4.3.3 Analisis Lingkungan Ekternal Dan Internal

4.3.3.2 Analisis IFAS

Analisis IFAS berfungsi untuk mengidentifikasi kekuatan serta kelemahan yang dimiliki oleh Trias Tambun dalam penerapan bauran pemasaran untuk meningkatkan penjualan kain tenun tradisional Karo.

Berdasarkan data internal usaha Trias Tambun serta wawancara dengan informan penelitian, kekuatan dan kelemahan yang ada di dalam usaha Trias Tambun, disajikan dalam tabel 4.9.

Tabel 4.9

Identifikasi Kekuatan dan Kelemahan

Kekuatan Kelemahan

1 Produk Asli Karo 1. Kurangnya SDM yang berminat dalam menenun kain tenun Karo 2. Kualitas Produk Kain Tenun

Tradisional Karo yang dihasilkan baik

2. Kapasitas kain tenun yang dihasilkan masih terbatas

3. Inovasi Produk 3. ATBM yang digunakan sering mengalami kerusakan

4. Harga yang bervariasi 4 Keterbatasan kemampuan SDM 5 Pelayanan yang diberikan oleh 5. Kurangnya promosi selain

76 Trias Tambun dinilai baik oleh pelanggan.

promosi mouth to mouth

6. Pemanfaatan promosi mouth to mouth

6. Lokasi penjualan kurang strategis dan kurangnya gerai penjualan.

Sumber : Hasil Pengumpulan Data Penelitian dan Wawancara ( 2015 )

Penentuan bobot dan rating diperoleh dari wawancara dari informan penelitian, observasi dan data yang diperoleh selama penelitian.

. Dari data pada tabel 4.9, data disajikan ke dalam Matriks IFAS pada tabel 4.10. Tabel 4.10

IFAS Faktor-Faktor

Strategi Internal

BOBOT Rating Bobot X Rating

Komentar

Kekuatan : 1. Produk Asli Karo.

2. Kualitas Produk Kain Tenun Tradisional Karo yang dihasilkan baik. 3. Inovasi Produk. 0,1 0,1 0,15 3 3 4 0,3 0,3 0,6 1. Menggunakan ornamen Karo . 2. Minimnya keluhan

pelanggan atas produk Trias Tambun.

3. Beragam produk dapat dihasilkan dengan

77 4. Harga yang bervariasi. 5. Pelayanan yang diberikan oleh Trias Tambun dinilai baik oleh pelanggan. 6. Pemanfaatan promosi mouth to mouth. 0,1 0,1 0,1 3 3 3 0,3 0,3 0,3 ATBM.

4. Penetapan harga sesuai dengan jenis dan lama pengerjaan dan pembeli dapat membeli produk sesuai kemampuan finasialnya.

5. Minimnya keluhan

produk yang dibeli

6. Pelanggan mengetahui Trias Tambun dari teman mereka. SUB TOTAL 0,65 2,1 Kelemahan : 1.Kurangnya SDM yang berminat dalam menenun kain tenun Karo. 2.Kapasitas kain tenun

yang dihasilkan 0,02 0,05 2 2 0,04 0,1 1. Minimnya SDM asli daerah Karo.

2. ATBM dapat digunakan oleh 1 pekerja dan

78 masih terbatas. 3.ATBM yang digunakan terkadang mengalami kerusakan. 4.Keterbatasan kemampuan SDM. 5.Kurangnya promosi selain promosi mouth to mouth. 6.Lokasi penjualan kurang strategis dan kurangnya gerai penjualan. 0,03 0,15 0,05 0,05 2 2 2 2 0,06 0,3 0,1 0,1

disesuaikan dengan lama pengerjaan mereka.

3. Rusak saat pengerjaaan penenunan kain tenun.

4. SDM yang terima dengan minim kemampuan menenun.

5. Pelanggan mengetahui Trias Tambun dari pembeli lain. 6. Berada di wilayah pemukiman penduduk sekaligus tempat penjualan . SUB TOTAL 0,35 0,7

TOTAL

1,00

2,8

Sumber : Pengolahan Data Internal ( 2015 ) Keterangan :

79 Penentuan Bobot

0,0 – 0,05 = Berpengaruh Kecil 0,06 – 0,1 = Berpengaruh sedang 0,11 – 0,15 = Berpengaruh Besar >0,15 = Berpengaruh sangat besar a. Rating dinilai dengan rincian

1 = Kelemahan Utama 2 = Kelemahan Kecil

3 = Kekuatan Kecil 4 = Kekuatan Utama Dari Matriks IFAS, strenght diperoleh 2,1 dan weakness senilai 0,7 ( 2,1 – 0,7 = 1,4). Hal ini menunjukkan kekuatan internal dari Trias Tambun dapat dipergunakan untuk meminimalkan kelemahan yang ada pada kegiatan operasional Trias Tambun dalam memproduksi dan menjualkan kain tenun tradisional Karo kepada pelanggan/masyarakat.

4.3.3.3 Matriks SWOT

Tabel 4.11

Rumusan Kombinasi Strategi Matrik SWOT IFAS EFAS Strength (2,1) Weakness (0,7) Opportunity (1,9) Strategi SO ( 4,0 ) Strategi WO ( 2,6) Threat (0,75) Strategi ST ( 2,85) Strategi WT ( 1,45) Sumber : Hasil Pengolahan Data EFAS dan IFAS (2015)

80

Dari hasil yang diperoleh, strategi SO ( strenght + opportunity ) memiliki nilai 4,0 dan memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan strategi yang lainnya. Strategi SO merupakan strategi bauran pemasaran yang dapat diterapkan untuk Trias Tambun dalam meningkatkan penjualan kain tenun tradisional Karo.

Data yang diperoleh dari matriks EFAS dan IFAS kemudian diolah ke dalam matriks SWOT pada tabel 4.12.

Tabel 4.12 SWOT

IFAS Strengths (S) Weaknesses (W) 1. Produk Asli Karo

2. Kualitas Produk Kain Tenun Tradisional Karo yang dihasilkan baik

3. Inovasi Produk 4. Harga yang bervariasi

5. Pelayanan yang

diberikan oleh Trias Tambun dinilai baik oleh pelanggan.

6. Pemanfaatan promosi mouth to mouth

1. Kurangnya SDM yang

berminat dalam menenun kain tenun Karo

2. Kapasitas kain tenun yang dihasilkan masih terbatas

3. ATBM yang digunakan sering mengalami kerusakan

4. Keterbatasan kemampuan SDM

5. Kurangnya promosi selain promosi mouth to mouth

81 EFAS

6. Lokasi penjualan

kurang strategis dan

kurangnya gerai penjualan. Opportunities (O) 1. Membuka jaringan di luar Kabanjahe 2. Tingginya minat masyarakat terhadap kain tenun khas Karo yang berkualitas.

3. Penggunaan Media Sosial untuk menjual kain tenun Tradisional Karo

4. Kain tenun tradisional karo dapat dijadikan fashion

5. Bantuan Dana dari pihak Luar

6. Adanya Bantuan

Pelatihan dan peralatan dari pihak

Pemerintah

Strategi SO

1. Meningkatkan kualitas produk kain tenun tradisional Karo

2. Pemanfaatan media sosial sebagai sarana pendukung untuk menjualkan produk kain tenun tradisional Karo

3. Melakukan inovasi terhadap kain tenun tradisional Karo dengan melakukan inovasi berupa fashion.

4. Membuka gerai penjualan di luar Kabanjahe. Strategi WO 1. Penggunaan media sosial untuk mempromosikan kain tenun tradisional Karo kepada masyarakat . 2. Inovasi fashion dapat

digunakan untuk memperluas ruang lingkup pemasaran kain tenun.

3. Memanfatkan bantuan pelatihan dan peralatan dari pihak pemerintah Kabupaten Karo untuk mengoptimalkan

kinerja operasional. 4. Penambahan ATBM

82 Kabupaten Karo

Threats (T) 1. Produk kain tenun Karo

dari Samosir/luar daerah

2. Persaingan dengan harga kain tenun asal Samosir

3. Harga bahan baku benang tergantung terhadap nilai impor benang dari India

4. Keadaan ekonomi yang tidak stabil.

5. Minimnya pengetahuan masyarakat terutama generasi muda terhadap produk kain tenun yang diproduksi oleh Trias Tambun.

6. Meningkatnya

persaingan antar usaha penenunan yang telah

Strategi ST

1. Memperkuat image produk yang dihasilkan sebagai produk asli buatan putra Karo

2. Memberikan potongan harga untuk pembelian kain tenun tradisional untuk pelanggan tetap. 3. Meningkatkan pelayanan kepada pelanggan. Strategi WT 1. Melakukan pemeliharaan serta pemeriksaan rutin ATBM 2. Menggunakan alternatif tambahan untuk promosi kain tenun tradisional Karo

3. Mempertimbangkan

penambahan gerai penjualan kain tenun tradisional Karo buatan Trias Tambun.

4. Melakukan pelatihan yang menyeluruh kepada SDM yang bertugas untuk menenun kain tenun

83 menggunakan ATBM

Sumber : Hasil Pengolahan Data Penelitian ( 2015 )

Berdasarkan matriks SWOT diperoleh strategi- strategi berdasarkan faktor strength, weakness, opportunity, dan threat, yaitu :

I. Strategi SO

1. Kualitas produk kain tenun tradisional Karo yang dihasilkan oleh Trias Tambun dapat dipertahankan dengan meningkatkan kemampuan SDM baik langsung dari pihak Trias Tambun atau dengan menggunakan sarana pelatihan dari pihak pemerintah Kabupaten Karo

2. Promosi mouth to mouth memiliki ruang lingkup yang cukup kecil dibandingkan melakukan promosi menggunakan media sosial yang dapat mencakup wilayah yang lebih luas. Promosi mouth to mouth yang dilakukan oleh Trias Tambun cukup efektif dilakukan namun dapat lebih efektif lagi jika Trias Tambun lebih aktif mempromosikan kain tenun tradisional Karo ini melalui media sosial, terutama untuk mengenalkan kain tenun tradisional Karo ini di kalangan anak muda.

3. Fashion dapat dilakukan sebagai salah satu inovasi dalam meningkatkan minat beli serta penjualan kain tradisional. Kain tenun tradisional Karo memiliki daya tarik yang cukup kuat untuk dijadikan produk fashion yang menarik, bernilai budaya tinggi, serta memiliki harga yang bersaing.

4. Kain tenun tradisional Karo merupakan ciri khas yang tidak dapat dilepaskan dari nilai budaya suku Karo. Dengan memanfaatkan bantuan dari pihak luar, Trias Tambun dapat meningkatkan volume penjualannya melalui gerai penjualan serta penambahan ATBM yang akan ditawarkan oleh pihak luar.

84

Dengan adanya gerai penjualan di luar wilayah Kabanjahe, masyarakat suku Karo yang berada di luar daerah Kabanjahe dapat membeli kain tenun tradisional Karo buatan Trias Tambun .

II. Strategi ST

1. Dengan memberikan ciri khas asli Karo, Trias Tambun dapat memperkuat image nya sebagai penenun asli dari Karo yang tetap mempertahankan nilai budaya asli Karo sekaligus melestarikan kebudayaan asli tersebut. Penggunaan ornamen asli yang dapat ditenun langsung ke kain tenun yang diproduksi diharapkan dapat meningkatkan minat beli masyarakat terhadap kain tenun buatan Trias Tambun dibandingkan dengan produk dari luar wilayah yang jelas tidak memberikan kesan ornamen asli Karo di dalam produk yang mereka hasilkan.

2. Memberikan potongan harga kepada pelanggan, selain sebagai promosi juga dapat menjadikan pelanggan yang telah sering membeli kain tenun tradisional Karo pada Trias Tambun menjadi loyal karena adanya keuntungan lain yang mereka dapatkan saat membeli kain tenun di Trias Tambun. Hal ini dapat mengurangi peluang pelanggan tersebut membeli kain tenun tradisional Karo di tempat lain ( pesaing Trias Tambun).

3. Pelayanan yang baik merupakan cara yang dapat diberikan oleh suatu usaha untuk menjaga agar pelanggannya tetap memilih membeli produk ke tempat usaha tersebut dibanding tempat pesaing. Dengan memberikan pelayanaan terbaik, misalnya ketepatan dalam hal penyelesaian pesanaan pelanggan atau tetap menjaga kualitas produk yang mereka hasilkan, diharapkan Trias Tambun

85

dapat menambah potensi pelanggan yang lebih loyal membeli kain tenun di tempat mereka.

III. Strategi WO

1. Penggunaan media sosial sebagai sarana promosi selain menjadi alternatif promosi yang bisa dilakukan oleh Trias Tambun, juga dapat memperluas wilayah pemasaran yang semakin luas dibandingkan sebelumnya.

2. Fashion sebagai salah satu inovasi yang dapat dilakukan oleh Trias Tambun juga dapat menciptakan suatu lowongan SDM di Trias Tambun yang akan khusus untuk kegiatan perancanaan fashion . Kapasitas kain tenun yang terbatas oleh Trias Tambun ( dikarenakan keterbatasan skill SDM dan jumlah ATBM ) dapat menjadikan fashion sebagai salah satu alternatif produk yang dapat dijual.

3. Pelatihan SDM pada dasarnya dilakukan oleh Trias Tambun saat pegawai telah menempuh beberapa bulan kerja. Adanya pelatihan yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Karo dapat menjadi alternatif untuk meminimalkan waktu yang harus diberikan oleh pihak Trias Tambun untuk melatih pegawai tersebut. Hal ini juga dapat menjadi daya tarik bagi calon SDM yang berkeinginan untuk bekerja di Trias Tambun walaupun tidak memiliki keahlian menenun sebelumnya.

4. ATBM yang dimiliki Trias Tambun adalah 15 buah. ATBM ini digunakan secara bergantian oleh 15 orang penenun yang bekerja di Trias Tambun. Melihat potensi yang ada pada Trias Tambun, penambahan ATBM dapat menunjang hasil kain tenun yang dapat dihasilkan dan kemudian akan dijualkan kepada pelanggan. Modal untuk membeli ATBM ini dapat

86

memanfaatkan altenatif bantuan dana dari pihak luar yang ingin membantu pengembangan usaha pada Trias Tambun.

IV. Strategi WT

1. Pemeliharaan serta pemeriksaan ATBM merupakan hal yang harus diperhatikan. ATBM sebagai sarana utama untuk memproduksi kain tenun tradisional Karo. Apabila kendala berhubungan dengan ATBM dapat diatasi, kegiatan operasional akan berjalan lebih optimal. Hal ini sangat mempengaruhi terhadap jumlah kain yang dapat ditenun yang nantinya akan dijual ke pelanggan ataupun yang telah dipesan oleh pelanggan.

2. Meningkatnya persaingan di usaha penenunan baik dari pihak luar maupun dalam wilayah Kabanjahe menyebabkan promosi harus dilakukan lebih berinovasi lagi. Dengan adanya promosi yang dapat menarik perhatian calon pelanggan, dapat meningkatkan penjualan kain tenun oleh Trias Tambun sekaligus dapat memenangkan persaingan dengan usaha sejenis. Contoh promosi yang dilakukan adalah adanya harga promosi untuk kain tenun yang akan dijual.

3. Lokasi usaha penenunan Trias Tambun berada pada lingkungan perumahan penduduk. Hal ini menyebabkan beberapa pelanggan merasa kesulitan untuk mengakses tempat penjualan kain tenun di Trias Tambun. Lokasi penjualan yang berada di pasar Kabanjahe juga cenderung ramai dengan aktifitas pedagang dan menyebabkan sulitnya mendapat tempat parkir untuk membeli kain tenun buatan Trias Tambun. Alternatif yang dapat dipilih adalah mencari wilayah di kawasan Kabanjahe lainnya untuk membuka gerai baru dengan

87

akses yang mudah dijangkau dan mempertimbangkan pembukaan gerai penjualan di luar Kabanjahe.

4. SDM merupakan kunci dalam menghasilkan kain tenun tradisional Karo buatan Trias Tambun. Dengan menambah pengetahuan dan skill SDM yang akan menenun kain tenun ini, diharapkan kualitas kain tenun yang selama ini dinilai baik oleh pelanggan Trias Tambun dapat dijaga bahkan lebih ditingkatkan sehingga pelanggan tidak merasa kecewa dan tetap loyal dengan kain tenun buatan Trias Tambun dibandingkan usaha penenunan lainnya.

4.3.4 Peranan Bauran Pemasaran Dalam Meningkatkan Penjualan Kain Tenun Tradisional Karo Pada Trias Tambun.

Berdasarkan analisis SWOT, strategi SO merupakan penerapan bauran pemasaran yang sesuai dalam meningkatkan penjualan kain tenun tradisional Karo pada Trias Tambun. Adapun strategi SO yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut :

1. Kualitas produk kain tenun tradisional Karo yang dihasilkan oleh Trias Tambun dapat dipertahankan dengan meningkatkan kemampuan SDM baik langsung dari pihak Trias Tambun atau dengan menggunakan sarana pelatihan dari pihak pemerintah Kabupaten Karo.

2. Promosi mouth to mouth memiliki ruang lingkup yang cukup kecil dibandingkan melakukan promosi menggunakan media sosial yang dapat mencakup wilayah yang lebih luas. Promosi mouth to mouth yang dilakukan oleh Trias Tambun cukup efektif dilakukan namun dapat lebih efektif lagi jika Trias Tambun lebih aktif mempromosikan kain tenun tradisional Karo ini

88

melalui media sosial, terutama untuk mengenalkan kain tenun tradisional Karo ini di kalangan anak muda.

3. Fashion dapat dilakukan sebagai salah satu inovasi dalam meningkatkan minat beli serta penjualan kain tradisional. Kain tenun tradisional Karo memiliki daya tarik yang cukup kuat untuk dijadikan produk fashion yang menarik, bernilai budaya tinggi, serta memiliki harga yang bersaing.

4. Kain tenun tradisional Karo merupakan ciri khas yang tidak dapat dilepaskan dari nilai budaya suku Karo. Dengan memanfaatkan bantuan dari pihak luar, Trias Tambun dapat meningkatkan volume penjualannya melalui gerai penjualan serta penambahan ATBM yang akan ditawarkan oleh pihak luar. Dengan adanya gerai penjualan di luar wilayah Kabanjahe, masyarakat suku Karo yang berada di luar daerah Kabanjahe dapat membeli kain tenun tradisional Karo buatan Trias Tambun .

Potensi penjualan yang dimiliki oleh Trias Tambun yang tidak optimal memiliki nilai rata-rata 2,75 % dalam kurun waktu 2011 – 2014. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kenaikan penjualan yang dimiliki oleh Trias Tambun sebesar 1-1,5% ini dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan estimasi penjualan yang tidak optimal yang dimiliki oleh Trias Tambun untuk setiap tahunnya.

Pemanfaatan estimasi penjualan yang tidak optimal ini dapat menggunakan peranan bauran pemasaran. Peranan bauran pemasaran dalam Trias Tambun juga dapat dijadikan alternatif bagi pemilik usaha dalam menjalankan kegiatan operasional serta meningkatkan cakupan pemasarannya. Peranan bauran pemasaran dalam kegiatan Trias Tambun dapat memperkuat faktor produk, harga,

89

distribusi dan promosi yang merupakan elemen bauran pemasaran yang utama sehingga usaha tidak mengalami permasalahan yang sangat besar (yang dapat menggangu kegiatan operasional maupun pemasaran) di kemudian hari. Bauran pemasaran merupakan salah satu strategi pemasaran yang dapat diterapkan oleh Trias Tambun dengan melihat segala potensi ( baik potensi kelemahan dan kekuatan serta peluang dan ancaman yang akan mempengaruhi produk, harga, distribusi maupun promosi kain tenun tradisional Karo) untuk meningkatkan penjualan produk mereka.

Kain tenun tradisional Karo yang akan dijual oleh Trias Tambun bergantung kepada kualitas produk yang dihasilkan oleh pegawai . Hal ini menunjukkan bahwa produk yang dihasilkan bergantung pada kemampuan SDM sebagai penenun kain tenun tradisional Karo. Dengan adanya alternatif produk seperti fashion, pembeli untuk lebih memilih produk-produk yang inovatif dihasilkan oleh Trias Tambun dibandingkan produk yang dihasilkan oleh pesaing.

Faktor harga merupakan salah satu pertimbangan pembeli dalam memilih suatu produk. Penerapan harga yang berada di atas pasar merupakan salah satu strategi yang diterapkan oleh Trias Tambun.

Promosi merupakan sarana pemasaran yang dapat mempengaruhi tingkat penjualan kain tenun tradisional Karo pada Trias Tambun. Promosi mouth to mouth yang diterapkan oleh Trias Tambun bergantung kepada pelanggan sehingga tingkat kenaikan penjualan yang terjadi tidak dapat ditargetkan dengan sempurna. Media sosial merupakan sarana promosi yang memiliki jangkauan yang luas, tanpa memerlukan biaya yang cukup banyak dan dapat mencakup berbagai kalangan, terutama kalangan anak muda. Kalangan muda dapat menjadi

90

segementasi yang dapat diambil oleh Trias Tambun melihat adanya produk fashion yang dapat dikembangkan untuk dijualkan kepada kalangan ini sehingga kedepannya dapat meningkatkan penjualan Trias Tambun.

Distribusi pemasaran secara langsung, dimana pembeli Trias Tambun langsung mendatangi usaha penenunan Trias Tambun, menyebabkan penjualan lebih berpusat pada tempat ini saja. Padahal melihat potensi peluang yang dimiliki oleh Trias Tambun, usaha ini sudah layak untuk menambahkan gerai penjualan tambahan untuk kain tenun tradisional Karo. Adanya tawaran dana dari pihak luar dapat dimanfaatkan oleh Trias Tambun sebagai modal pembukaan gerai penjualan yang baru. Oleh sebab itu, penambahan SDM serta pelatihan pegawai yang menjadi kunci dalam menenun kain tenun ini haruslah diperhatikan sehingga jika Trias Tambun membuka gerai penjualan yang baru, pegawai dapat dipekerjakan di gerai penjualan tersebut ( gerai penjualan dapat dibentuk sebagai tempat penenunan sekaligus tempat penjualan kain tenun yang dihasilkan ). Secara tidak langsung, penambahan gerai ini akan menambah penjualan kain tenun tradisional Karo buatan Trias Tambun dengan memasarkan kelebihan produksi kain tenun yang dimilki.Penambahan gerai penjualan dapat menambah cakupan wilayah pemasaran, bukan hanya di wilayah Kabanjahe namun mencakup wilayah-wilayah yang memiliki potensi kuat untuk membeli kain tenun tradisional Karo buatan Trias Tambun ini.

91 BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Strategi bauran pemasaran yang diterapkan pada Trias Tambun mencakup: a) Produk

Penggunakan ATBM menjadikan produk yang dihasilkan Trias Tambun memiliki ciri khas dan kerapatan benang yang tinggi, pinggiran kain yang rata, serta penggunaan bahan baku benang yang cenderung halus dan di warnai oleh Trias Tambun sesuai dengan kebutuhan benang yang akan digunakan untuk menenun.

b) Harga

Menetapkan harga kain tenun di atas harga pasar. c) Promosi

Penerapan promosi secara mouth to mouth . d) Distribusi

Distribusi pemasaran kain tenun tradisional Karo lebih dipusatkan pada usaha penenunan Trias Tambun, Jalan Sudirman No 65 Kabanjahe ( distribusi langsung ).

2. Penjualan kain tenun tradisional Karo pada Trias Tambun mengalami kenaikan sebesar 1 – 1,5 % untuk setiap tahunnya. Potensi penjualan yang tidak optimal pada Trias Tambun memiliki nilai rata-rata 2,75 % dalam kurun waktu 2011 – 2014. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kenaikan penjualan yang dimiliki oleh Trias Tambun sebesar 1-1,5% ini dapat ditingkatkan dengan

92

memanfaatkan estimasi penjualan yang tidak optimal yang dimiliki oleh Trias Tambun untuk setiap tahunnya.

3. Pemanfaatan potensi penjualan yang tidak optimal dapat dilakukan dengan penerapan bauran pemasaran. Peranan bauran pemasaran dalam kegiatan Trias Tambun dapat memperkuat faktor produk, harga, distribusi dan promosi yang merupakan elemen bauran pemasaran yang utama. Peranan bauran pemasaran yang dapat dilakukan oleh Trias Tambun untuk meningkatkan penjualannya adalah :

a) Meningkatkan kualitas produk kain tenun tradisional Karo dengan meningkatkan kemampuan SDM.

b) Pemanfaatan media sosial sebagai sarana pendukung untuk menjualkan produk kain tenun tradisional Karo.

c) Inovasi terhadap kain tenun tradisional Karo dengan melakukan inovasi berupa fashion.

d) Membuka gerai penjualan untuk distribusi pemasaran kain tenun tradisional Karo di luar Kabanjahe.

5.2 Saran

1. Penambahan gerai penjualan di luar wilayah Kabanjahe dapat menambah potensi penjualan kain tenun tradisional Karo buatan Trias Tambun.

2. Promosi melalui media sosial dapat diterapkan untuk memperluas promosi dan penjualan di luar wilayah Kabanjahe.

93

3. Inovasi fashion sebagai alternatif penjualan dapat diterapkan oleh Trias Tambun dengan mempertahankan motif dan ornamen daerah terutama untuk meningkatkan minat generasi muda untuk membeli produk Trias Tambun. 4. Penetapan harga di atas pasar sebaiknya di ikuti dengan standar kualitas yang

baik sehingga pelanggan tidak merasa kecewa mengeluarkan dana besar untuk memperoleh kain tenun tradisional Karo buatan Trias Tambun.

5. SDM yang dimiliki sebaiknya dibekali dengan kemampuan dan pengetahuan yang kuat untuk produk kain tenun tradisional Karo sehingga dapat memaksimalkan hasil kain tenun yang dapat diperoleh setiap tahunnya oleh Trias Tambun dan dapat mendukung munculnya gerai baru sekaligus usaha penenunan Trias Tambun di luar daerah.

94

DAFTAR PUSTAKA

Assauri,Sofjan. 2007. Manajemen Pemasaran. PT Raja Grafindo Persada : Jakarta.

Ferdinand, Augusty. 2000. Manajemen Pemasaran: Sebuah Pendekatan Strategik. Research Paper Series, BP. UNDIP.

Fuad,dkk. 2000. Pengantar Bisnis. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta..

Kotler, P. 1997. Manajemen Pemasaran, Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol. Jilid Dua, Edisi Kesembilan. PT Prenhallindo : Jakarta. Kusantati, dkk. 2007. Keterampilan. Grafindo Media Pertama : Bandung.

Laksana, Fajar . 2008. Manajemen Pemasaran : Pendekatan Praktis .Graha Ilmu : Yogyakarta.

Marimin. 2004. Teknik dan Aplikasi Keputusan Kriteria Majemuk. Grasindo : Jakarta.

Moleong, J Lexy. 2009 . Metode Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakaya : Bandung.

Prastowo, Andi. 2011. Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian. Ar-Ruzz Media : Depok .

Rangkuti, Freddy. 1997. Analisis SWOT :Teknik Membedah Kasus Bisnis. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta

. .2004. Flexible Marketing. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta.

95

. 2009. Strategi Promosi yang Kreatif dan Analisa Kasus Integrated Marketing Communication. PT Gramedia Pusataka Utama : Jakarta.

Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1995. Metode Penelitian Survey. LP3ES : Jakarta .

Swastha, Basu dan Irawan .1990. Manajemen Pemasaran Modern. Liberty : Yogyakarta

Swasta, Basu. 1994. Manajemen Penjualan.Yogyakarta : Liberty

Dokumen terkait