Judul lagu mencerminkan isi dari lirik lagu yang diwakilinya. Judul “Syair Nurdin Ali” menimbulkan pertanyaan, hal apa saja yang mencerminkan sehingga masyarakat menjadi membenci terhadap pemimpin organisasi di Negara ini, sehingga muncul lagu tersebut? Apa saja yang mencerminkan pelencengan terhadap sebuah kepemimpinan sebuah organisasi besar di Negara ini sehingga masyarakat membenci? Representasi lirik lagu “Syair Nurdin Ali” ini akan dilakukan peneliti dengan menggunakan penanda-petanda dalam peta Roland Barthes serta mengkategorikan kalimat dar bait ke bait ke dalam lima kode Barthes dan penjabaran makna tiap bait per bait. Pada lirik lagu “Syair Nurdin Ali” ini terdapat tujuh bait, dan diantara bait-bait tersebut terdapat kalimat-kalimat yang mengartikan kebencian, yaitu :
Isi lirik bait ke dua terdiri dari empat kalimat yaitu :
Halalkan segala secara
Pertahankan posisi demi kepentingan pribadi Tak mau disalahkan
Nurdin Ali.. Manusia macam apa kau..
1. Penanda : Halalkan segala cara 2. Petanda : Konsep tentang halal 3. Tanda Denotatif : Halal
4. Penanda Konotatif : Menyalah gunakan makna “halal” demi kepentingan pribadi
5. Petanda konotatif : Makna halal sendiri mempunyai arti diizinkan atau tidak dilarang sesuai syarat islam
6. Tanda Konotatif : pelencengan makna Halal
Kalimat ke enam dari lirik ini termasuk dalam kode Hermenuetik atau kode teka-teki, karena dalam kalimat ini terdapat kata halal yang menimbulkan pertanyaan apa arti halal disini ? kenapa menyalah gunakan makna darti kata halal? Untuk apa ? kode Proaretik, karena dalam kalimat ini mengandung cerita tentang oknum yang menghalalkan segala cara untuk demi kepentingan pribadi. Kode Gnomik atau Kultural (Budaya) karena Halal sudah menjadi budaya Islam sejak islam lahir dan harus dimengerti dan dijalankan makna dari Halal.
Dalam bait ke dua ini, kalimat ke lima yaitu Halalkan segala cara. kata
Halalkan yang mempunyai arti menyatakan atau menggangap halal, halalkan
sendiri diambil dari kata halal yang mempunyai arti diizinkan atau tidak dilarang sesuai syarat islam. Kata segala mempunyai arti semua, sekalian, tidak ada kecualinya. Kata cara mempunyai arti jalan melakukan sesuatu.
Makna konotasi dari kalimat Halalkan segala cara ialah manusia yang menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi dan individu, tidak melihat
sekitar. Dan manusia disini menyalahgunakan makna dari kata halal demi kepentingan pribadi dan merugikan orang banyak.
Bait ke 2 kalimat ke- 6 : Pertahankan posisi demi kepentingan pribadi
1. Penanda : Pertahankan posisi demi
kepentingan pribadi 2. Petanda : Konsep tentang posisi 3. Tanda Denotatif : Posisi
4. Penanda Konotatif : Kepentingan pribadi lebih penting daripada orang banyak.
5. Petanda Konotatif : Mempertahankan
kekuasaan posisi demi mempertahankan egoisme
6. Tanda Konotatif : Tingginya jabatan posisi seseoarang sangat mempengaruhi egoisme seseorang..
Kalimat ke enam dari lirik ini termasuk dalam kode Hermenuetik atau kode teka-teki, Karena dalam kalimat ini terdapat kata posisi yang menimbulkan seberapa pentingkah posisi buat seseorang ? kenapa menyalah gunakan posisi ? kode Proaretik, Karena dalam kalimat ini mengandung cerita mengenani seseorang yang mempertahankan posisi demi kepentinganya. Kode Gnomik atau
Kultural (budaya), posisi atau jabatan sudah menjadi budaya di Indonesia untuk
mengetahui tingkat posisi di sebuah organisasi. Tapi seiring berjalan nya waktu, orang mulai menyalah gunakan posisi dan tidak mempertanggung jawabkan posisinya.
Dalam bait ke dua, kalimat ke enam yaitu pertahankan posisi demi kepentingan pribadi. Kata pertahankan mempunyai arti mengusahakan supaya tetap tidak berubah. Kata posisi mempunyai arti kedudukan, pangkat dalam
jabatan. Kata demi mempunyai arti serta, selekas, sebaik. Kata kepentingan mempunyai arti amat perlu amat utama. Kata pribadi mempunyai arti manusia sebagai perseorangan.
Makna konotasi dari lirik pertahankan posisi demi kepentingan pribadi mempunyai arti tentang seseorang menyalah gunakan posisi dan tidak bertanggung jawab akan kewajiban-kewajibam kedudukan posisinya, kepentingan pribadi lebih besar daripada kepentingan orang banyak.
Bait 7 kalimat ke-2 : Tak Mau Disalahkan
1. Penanda : Tak mau disalahkan 2. Tanda Denotatif : Konsep tentang salah atau kesalahan
3. Tanda Denotatif : Salah atau kesalahan 4. Penanda Konotatif : Salah satu sifat manusia
5. Petanda konotatif : Seseorang yang tidak mau disalahkan dan selalu ingin benar sampai kapanpun
6. Tanda Konotatif : Seseorang yang selalu ingin benar dan tidak ingin di salahkan untuk menutupi kesalahannya di mata orang lain.
Kalimat ke tujuh dari lirik ini termasuk dalam kode Hermeneutik atau kode teka-teki, karena dalam kalimat ini terdapat kata salah yang menimbulkan siapa yang berbuat salah ? dan kenapa ingin selalu benar ? kode Proaretik, karena dalam kalimat ini mengandung cerita tentang seseoramg yang selalu ingin benar. Kode Gnomik atau Kultural (budaya), karena sifat salah atau benar manusia sudah menjadi budaya lama manusia dan tercipta sudah lama ketika manusia mengetahui mana yang benar dan salah.
Pada kalimat ke 7 yaitu tak mau disalahkan, kata tak artinya tidak. Kata
mau mempunyai arti sungguh-sungguh suka akan sesuatu. Kata salah mempunyai
arti sifat seseoranng yang tidak sebagaimana mestinya.
Makna konotasi dari lirik tak mau disalahkan ialah mempunyai arti tentang seseorang yang selalu ingin benar, tak mau kalah, dan tak mau salah. Hal ini dilakukan agar untuk menutupi kesalah orang itu dimata orang banyak.
Bait 2 kalimat ke-8 : Nurdin Ali manusia macam apa kau
1. Penanda : Nurdin Ali manusia
macam apa kau Petanda : Konsep tentang manusia 3. Tanda Denotatif : Manusia
4. Penanda Konotatif : Macam-macam sifat manusia
5. Petanda Konotatif : Salah satu sifat manusia yang merugikan banyak orang 6. Tanda Konotatif : sifat manusia yang membuat manusia lain capek dan ingin meluapkan nya.
Kalimat ke delapan dalam lirik ini termasuk kode Hermenuetik atau kode teka-teki, karena dalam kalimat ini terdapat kata manusia yang menimbulkan pertanyaan, siapa kah yang dimaksud manusia ini ? mengapa banyak bermacam-macam sifat manusia ? kode Proaretik, karena dalam kalimat ini mengandung cerita tentang manusia yang mempunyai sifat yang tidak disukai oleh manusia lain. Kode Gnimik atau Kultural (budaya), karema manusia yng menciptakan buadaya itu sendiri sehingga muncul banyak sifat-sifat manusia itu sendiri juga.
Kode Leksia (fragmen ringkas) yaitu terdapat pada kalimat Manusia macam apa kau,kerena didalam kalimat ini sangat mengandung kebencian.
Pada kalimat ke delapan bait ke dua yaitu Nurdin Ali manusia macam apa kau, kata Nurdin Ali mengartikan sebuah nama orang. Kata manusia mempunyai arti makhluk berakal budi sebagai lawan binatang. Kata macam mempunyai arti keadaan suatu benda, jenis, atau rupa. Kata apa mempunyai kata kata tanya untuk menyatakan nama, jenis, sifat sesuatu. Kata kau mempunyai arti engkau , kamu.
Makna konotasi dari lirik Nurdin Ali manusia maca apa kau menurut peneliti ialah salah satu bentuk kebencian sesorang tentang orang sudah mempunyai banyak sifat yang sangat merugikan banyak orang dan mempunyai banyak masalah dengan orang.
Bila kalimat-kalimat ini digabungkan maka makna bait ke 2 secara keseluruhannya adalah tentang seseorang yang menghalalkan segala cara demi mempertahankan posisi dan kepentingan pribadi. Mencerminkan tidak bisa bertanggung jawab akan posisi yang di amanatkan. Selalu tidak mau disalahkan dan selalu ingin benar, hal ini dilakukan untuk menutupi semua kesalahannya.
Isi lirik bait ke tiga terdiri dari tiga kalimat yaitu ...
Hentikan Semuanya..
Kau tak seharusnya disana.. Hentikan secepatnya..
Bait 3 kalimat ke-9 : Hentikan Semuanya
1. Penanda :Hentikan semuanya 2. Pentanda : Konsep tentang Henti 3. Tanda Denotatif : Henti
4. Penanda konotatif : Hentikan masalah
5. Penanda Konotatif : ingin melihat orang tersebut berhenti dari jabatanya. 6. Tanda konotatif : terlalu banyak orang yang menginginkan masalah agar cepat berhenti karena merasa lelah atas masalah yang ada
Kalimat ke Sembilan termasuk dalam kode Hermeneutik atau kode teka-teki, karena dalam kalimat ini terdapat kata Henti yang menimbulkan pertanyaan, siapakah yang ingin berhenti untuk menyelsaikan semua masalah yang ada ? Kode Proaretik, karena dalam kalimat ini mengandung cerita tentang masyarakat yang lelah dengan masalah-masalah yang telah terjadi akibat seseorang. Kode leksia (fragmen ringkas) karena kalimat hentikan semuanya mengandung kebencian.
Pada kalimat ke Sembilan bait ke tiga yaitu hentikan semuanya, kata
henti mempunyai arti tidak lanjut. Kata semua mempunyai arti segalanya,
sekalian, dan banyak.
Makna konotasi dari lirik Hentikan semuanya menurut peneliti ialah dimana masyarakat seudah lelah akan masalah-masalah yang ada yang telah dibuat oleh satu orang dan masyarakat menuntut adanya sebuah perubahan untuk menjadi lebih baik.
Bait 3 kalimat ke-10 : Kau tak seharusnya disana
1. Penanda : kau Tak seharusnya disana 2. Petanda : Konsep tentang harus 3. Tanda denotatif : Harus
4. Penanda konotatif : Tak ingin melihat orang tersebut berada disana lagi
5. Penanda Konotatif : ingin melihat orang tersebut berhenti dari jabatanya. 6. Tanda Konotatif : Menyuarakan untuk tidak ingin melihat seseorang yang menjadi sumber masalah tetap berada di posisi jabatanya yang sekarang.
Kalimat ke sepuluh termasuk dalam kode Hermeneutik atau kode teka-teki, karena dalam kalimat ini terdapat kalimat kau tak seharusnya disana yang menimbulkan pertanyaan siapa yang harus pergi dari tempat, posisi, atau kedudukan tersebut ? Kode Proaretik, karena dalam kalimat mengandung cerita tentang keinginan masyarakat yang tidak ingin melihat lagi seseorang tersebut berada tetap di tempat tersebut (kedudukan, posisi, atau jabatan). Kode leksia (fragmen ringkas) karena kalimat kau tak seharusnya disana sangat menggambarkan kebencian.
Pada kalimat ke sepuluh yaitu kau tak seharusnya disana, kata tak mempunyai arti tidak. Kata seharusnya diambil dari kata harus mempunyai arti patut, wajib, tidak boleh tidak. Kata disana mempunyai arti penunjuk tempat yang jauh.
Makna konotasi dari lirik kau tak seharusnya disana ialah keinginan masyarakat yang ingin melihat seseorang untuk berhenti dari sebuah jabatan posisi, atau kedudukan.
Bait 3 kalimat ke- 11 : Hentikan Secepatnya
1. Penanda : Hentikan secepatnya 2. Petanda : Konsep tentang henti dan cepat
3. Penanda Konotatif : Ingin cepat-cepat berhenti 4. Petanda Konotatif : Hasrat keinginan
melihat seseorang berhenti dari jabatanya sangat kuat.
5. Petanda Konotatif : kurang peka nya seseorang akan kritikan.
6. Tanda konotatif : kurang sadar dan memiliki kepekaan yang sangat rendah akan kritikan banyak orang sampai banyak orang yang membenci.
Kalimat ke sebelas dari lirik ini termasuk kode Hermenuetik atau kode teka-teki, katrena dalam kalimat ini terdapat kata henti dan cepat yang menimbulkan pertanyaan siapa yang mempunyai hasrat untuk melihat orang tersebut berhenti dari jabatanya ? mengapa ingin melihat orang tersebut berhenti dari jabatanya. Kode Proaretik, karena dalam kalimat ini mengandung tentang masyarakat yang tidak ingin melihat lagi orang tersebut tetap berada di jabatanya. Kode leksia (fragmen ringkas) karena kalimat hentikan secepatnya mengandung kebencian.
Pada kalimat ke sebelas yaitu hentikan secepatnya, kata hentikan diambil dari kata henti yang mempunyai arti berdiam diri sesudah bergerak. Kata
secepatnya di ambil dari kata cepat yang mempunyai arti perjalanan yang dalam
waktu singkat dapat mencapai jarak yang panjang.
Makna konotasi dari lirik hentikan secepatnya yaitu keinginan masyarakat banyak uang tidak ingin melihat lagi orang yang menjadi sumber masalah selama ini masih tetap berada di jabatanya.
Apabila digabungkan secara kesuluruhan, makna bait ke tiga ini adalah seruan masyarakat tidak ingin melihat seseorang yang menjadi sumber masalah selama ini tetap berkuasa dan ingin melihat pemimpin tersebut turun dari jabatanya. Karena masyarakat ingin melihat adanya perubahan untuk menjadi yang lebih baik.
Isi dari bait ke empat terdapat empat kalimat yaitu :
Tak sadar diri semakin banyak orang yang membenci Bagaikan manusia tak punya harga diri
Hati nurani, kau tak peduli
Dan bikin sakit hati kau ucapkan sembarang janji..
Bait 4 kalimat ke- 12 : Tak sadar diri semakin banyak orang yang membenci
1. Penanda : Tak sadar diri semakin
banyak orang yang membenci 2. Petanda : konsep tentang benci 3. Penanda : benci
4. Penanda Konotatif : Tingkat kesadaran yang rendah
5. Petanda Konotatif : kurang peka nya seseorang akan kritikan.
6. Tanda konotatif : kurang sadar dan memiliki kepekaan yang sangat rendah akan kritikan banyak orang sampai banyak orang yang membenci.
Kalimat ke dua belas termasuk dalam kode Hermenuetik atau kode teka teki-teki, karena dalam kalimat ini terdapat kata membenci yang menimbulkan pertanyaan siapa yang membenci ? dan siapa yang dibenci ? kode Proaretik, karena dalam cerita ini menceritakan tentang seorang penguasa yang tak sadar banyak yang membenci. Kode Gnomik atau Kultural (Budaya), karena hal benci mebenci sudah sering terjadi di Negara ini. Kode Simbolik, karena dalam kalimat ini terdapat kata membenci yang diambil dari kata benci yang menjadi tema dari lirik ini.
Pada kalimat ke dua belas yaitu tak sadar diri semakin banyak orang membenci, kata tak mempunyai arti tidak. Kata sadar mempunyai arti merasa tau dan sadar akan keadaan yang sebenernya. Kata diri mempunyai arti orang seorang. Kata semakin mempunyai arti makin, kian. Kata banyak mempunyai arti sesuatu yang lebih dari satu. Kata orang mempunyai arti makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Kata membenci diambil dari kata benci mempunyai arti perasaan yang tidak suka.
Makna konotasi dari lirik tak sadar diri semakin banyak orang membenci menurut peneliti ialah tentang kurang sadar nya seseorang dan mempunyai rasa kepekaan yang kurang sampai banyak orang yang membenci. Orang membenci
pun mempunyai alas an karena penguasa tersebut tidak bisa bertanggung jawab akan amanat yang dipegang selama ini.
Bait 4 kalimat ke-13 : Bagaikan manusia tak punya harga diri
1. Penanda : Bagaikan manusia tak
punya harga diri 2. Petanda : konsep tentang harga diri 3. Tanda Denotatif : Harga diri
4. Penanda Konotatif : Manusia yang tak punya harga diri
5. Petanda Konotatif : Manusia yang tidak punya perasaan
6. Tanda Konotatif : Manusia yang tidak lelah melakukan kesalahan dan merugikan banyak orang sehingga dianggap manusia yang tidak punya harga diri dan perasaan
Kalimat ke tiga belas termasuk dalam kode Hermenuetik atau kode teka-teki, karena dalam kalimat ini terdapat kata harga diri yang menimbulkan pertanyaan, siapa yang tidak punya harga diri ? mengapa tidak punya harga diri ? Kode Proaretik, karena dalam kalimat ini mengandung cerita manusia yang tidak punya harga diri. Kode Gnimik atau Kultural (budaya), karena harga diri sudah ada sejak manusia mulai mempunyai sikap.
Pada kalimat ke tiga belas bait ke empat yaitu bagaikan manusia yang tak punya harga diri, kata bagaikan diambil dari kata bagai mempunyai arti jenis, macam, bandingan, dan kata bagaikan mempunyai arti kata depan untuk perbandingan. Kata manusia mempunyai arti mahkluk Tuhan yang paling sempurna. Kata yang mempunyai arti kata untuk menyatakan bahwa kata atau kalimat yang berikut diutamakan atau dibedakan yang lain. Kata tak mempunyai
arti tidak. Kata punya mempunyai arti sesuatu yang dimiliki. Kata harga diri mempunyai arti kehormatan seseorang.
Makna konotasi dari lirik bagaikan manusia yang tak punya harga diri ialah menurut peniliti ialah seseorang yang tidak capek melakukan kesalahan sampai di mata orang banyak, orang tersebut sudah tidak punya kehormatan lagi atau harga diri.
Bait 4 kalimat ke-14 : Hati nurani, kau tak peduli
1. Penanda : Hati nurani, kau tak peduli 2. Petanda : Konsep tentang hati nurani 3. Tanda Denotatif : Hati Nurani
4. Penanda Konotatif : Manusia yang tidak punya hati nurani
5. Petanda Konotatif : Manusia yang tidak punya hati nurani, sehingga tidak peduli dengan hati nurani banyak orang.
6. Tanda Konotatif : Seseorang yang sudah tidak punya hati nurani sehingga mempunyai kepedulian yang sangat rendah untuk orang banyak
Kalimat ke empat belas termasuk dalam kode Hermenuetik atau kode teka-teki, karena dalam kalimat ini terdapat kata Hati nurani yang menimbulkan pertanyaan, siapakah yang tidak punya hati nurani ? dan mengapa tidak punya hati nurani ? kode Proaretik, karena dalam kalimat ini menceritakan seseorang yang tidak punya hati nurani, sehingga tidak peduli dengan perasaan orang banyak. Kode Gnimik atau Kulutural (budaya) karena Hati Nurani sudah dimiliki oleh manusia sejak manusia tau mana yang benar maupun salah. Kode leksia (fragmen ringkas) karena kalimat hati nurani, kau tak peduli mengandung kebencian.
Pada kalimat ke empat belas bait ke empat yaitu hati nurani, kau tak peduli kata Hati mempunyai arti salah satu organ tubuh manusia. Kata nurani mempunyai arti terang bercahaya. Kata kau mempunyai arti kamu. Kata tak mempunyai arti kata tidak. Kata peduli mempunyai arti memperhatikan.
Makna konotasi dari lirik hati nurani, kau tak peduli ialah tentang seseorang yang tidak punya hati nurani sehingga tidak peduli dengan perasaan orang banyak. Bahkan kepekaan tersebut tentang makna peduli sudah tidak ada lagi.
Bait 4 kalimat ke-15 : Dan bikin sakit hati kau ucapkan sembarang janji.
1. Penanda : Dan bikin sakit hati kau
ucapkan sembarang janji 2. Petanda : Konsep tentang sakit hati 3. Tanda Denotatif : Sakit Hati
4. Penanda Konotatif : Janji kosong membuat sakit hati
5. Petanda konotatif : Seseorang yang terlalu membuat janji yang tak berwujud sehingga membuat sakit hati banyak orang.
6. Tanda konotatif : Janji-janji palsu seseorang membuat sakit hati banyak orang
Kalimat ke lima belas termasuk dalam kode Hermenuetik atau kode teka-teki karena dalam kalimat ini terdapat kata sakit hati yang menimbulkan pertanyaan siapakah yang sakit hati ? mengapa sakit hati ? Kode Proaretik, karena dalam kalimat ini menceritakan tentang seseorang yang mempermainkan sebuah janji sehingga membuat sakit hati orang banyak. Kode Gnimik atau Kultutral
(budaya) karena sakit hati sudah pernah di rasakan oleh setiap manusia sejak mereka pertama kali tersakiti. Kode leksia (fragmen ringkas) karena kalimat dan
bikin sakit hati kau ucapkan sembarang janji mengandung kebencian.
Pada kalimat ke lima belas bait ke empat yaitu dan bikin sakit hati kau ucapkan sembarang janji, kata dan mempunyai arti kata penghubung. Kata bikin mempunyai arti membuat. Kata sakit mempunyai arti berasa tidak nyaman di tubuh. Kata hati mempunyai arti salah satu organ tubuh. Kata kau mempunyai arti kamu. Kata ucapkan diambil dari kata ucap mempunyai arti suara kata. Kata
sembarang mempunyai arti asal saja, tidak dengan pandang memandang. Kata janji mempunyai arti sesuatu yang harus ditepati.
Makna konotasi dari lirik dan bikin sakit hari kau ucapkan sembarang janji yaitu tentang seseorang yang terlalu banyak membikin janji-janji yang tidak berwujud yang hanya terucap lewat kata tetapi tak terbukti lewat sikap sehingga membuat orang banyak sakit hati.
Sehingga makna bait dari kesuluruhan ialah seseorang yang tak akan pernah sadar diri akan kesalahan-kesalahanya yang tidak bertanggung jawab sehingga pantas untuk disebut manusia yang tak punya harga diri karena tidak punya hati nurani sehingga banyak orang membenci dan yang disebut orang banyak disini ialah rakyat. Rakyat yang tidak butuh janji-janji kosong tetapi perlu bukti.
Isi dari bait ke lima terdapat empat kalimat
Lebih dari sekedar benalu.. Indonesia berseru..
Tinggalkan jabatanmu..
Bait ke 5 kalimat ke-16 : Tak tau malu
1. Penanda : Tak tau malu 2. Petanda : Konsep tentang malu 3. Tanda Denotatif : Malu
4. Penanda Konotatif : Seseorang yang tak tau malu
5. Petanda Konotatif : Seseorang yang sudah tidak mempunyai rasa malu dan akan terus bertindak semaunya sendiri 6. Tanda Konotatif : Seseorang yang habis akan rasa malu
Kalimat ke enam belas termasuk dalam kode Hermeneutik atau kode
teka-teki, karena dalam kalimat ini terdapat kata malu yang menimbulkan pertanyaan
yaitu siapa yang tak tau malu ? mengapa sudah habis rasa malu orang tersebut ? Kode Proaretik karena dalam kalimat ini mengandung cerita tentang seseorang yang sudah tidak memounyai rasa malu dan akan terus bertindak semaunya sendiri. Kode Gnimik atau Kultural (budaya) karena rasa malu sudah ada sejak dahulu dan dimiliki oleh seseorang ketika mau bertindak. Kode leksia (fragmen ringkas) karena kalimat tak tau malu mengandung kebencian.
Pada kalimat ke enam belas bait ke lima yaitu tak tau malu, kata tak mempunyai arti tidak. Kata tau mempunyai arti mengerti. Kata malu mempunyai arti merasa tidak senang.
Makna konotasi dari lirik tak tau malu menurut peneliti ialah tentang seseorang yang sudah tidak mempunyai rasa malu dan semakin ingin berbuat semaunya sendiri demi kepentingan pribadi dan tidak melihat rakyat.
Bait ke 5 kalimat ke-17 : Lebih dari sekedar benalu
1. Penanda : Lebih dari sekedar benalu 2. Petanda : konsep tentang benalu 3. Tanda Denotatif : Benalu
4. Penanda konotatif : Melebihi Benalu 5. Petanda Konotatif : seseorang yang dianggap menjadi benalu buat rakyat 6. Tanda Konotatif : seseorang yang tidak tau malu dan menjadi benalu buat masyarakat
Kalimat ke tujuh belas termasuk dalam kode Hermeneutik atau kode