• Tidak ada hasil yang ditemukan

Data yang diperoleh dalam penelitian ini antara lain: 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Lukman Hayat, 2014

2. Data interaksi antara guru dan siswa dalam lembar observasi dan catatan lapangan

3. Hasil tes evaluasi setiap siklus

Adapun analisis dan interpretasi data yang digunakan terhadap data-data yang diperoleh, adalah sebagaimana diuraikan dibawah ini.

a. Seleksi dan Reduksi Data

Seleksi data dan reduksi data ini dipergunakan untuk memilih data yang dianggap penting dan layak dalam penelitian, untuk kemudian direduksi atau dipisahkan.

b. Klasifikasi Data

Klasifikasi data ini dilakukan untuk memilih kemudian mengelompokkan data-data, seperti data perencanaan, data pelaksanaan, dan data hasil.

c. Deskripsi Data

1) RPP disusun berdasarkan kurikulum yang digunakan, yakni berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). RPP dibuat dengan mengacu pada KTSP, dengan komponen: identitas, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator capaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi pokok/ajar, model/pendekatan/metode pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, media dan sumber belajar beserta penilaian.

2) Data interaksi antara guru dan siswa tercatat dalam lembar observasi dan catatan lapangan, yang diperkuat dengan hasil wawancara pada observer untuk melengkapi data tersebut. Data interaksi antara guru dan siswa dibuat dalam bentuk lembar observasi memuat aspek-aspek yang penting

Lukman Hayat, 2014

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Permainan Scramble untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Pengerjaan Operasi Hitung Pecahan

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan peneliti untuk memperoleh gambaran yang berkenaan dengan aspek-aspek proses pembelajaran yang dilaksanakan. Lembar observasi ini terdiri dari dua objek yang diobservasi, yakni: guru dan siswa. Lembar observasi diisi oleh pengamat yang menjadi mitra peneliti pada proses pembelajaran setiap siklus.

3) Hasil tes evaluasi setiap siklus

Alat yang digunakan untuk mengukur data hasil adalah instrumen tes berupa soal tes/lembar evaluasi siswa yang diberikan pada setiap akhir pembelajaran setelah diterapkannya tindakan. Instrumen ini dipergunakan untuk mengumpulkan data yang akan mengungkap kemampuan pengerjaan operasi hitung pecahan. Untuk mengukur kemampuan pengerjaan atau penerapan (application) konsep siswa dalam materi operasi hitung pecahan dengan mengacu pada indikator yang telah ditetapkan yang dikembangkan atas dasar konstruk yang diukur, termat dalam soal lembar evaluasi. Validitas konstruk dapat menganalisis dan mempertimbangkan apakah suatu tes betul-betul dapat mengukur yang hendak diukur oleh tes yang bersangkutan (Zainal Arifin, 2013: 257). Seperti yang tertuang dalam Tabel 3.3 berikut.

Lukman Hayat, 2014

Tabel 3.3

Indikator Kemampuan Pengerjaan (Application) Operasi Hitung Pecahan

Kelas IV (Empat)

Kata Kunci Paparan

Perilaku Kegiatan Pembelajaran Aspek Operasi Hitung

Penjabaran Pengetahuan Aspek Operasi Hitung Pecahan

Indikator Penjumlahan Pengurangan Menggunakan, Menerapkan, Menemukan, Mengelola, Menjalankan, Menyelesaikan, Menghasilkan, Mengimplement asikan, Membangun, Mengubah, Menyiapkan, Menyelenggara kan, Melaksanakan, Mereaksikan, Merespon, Memerankan Menggunakan atau menerapkan pengetahuan, membuat teori menjadi praktik, menggunakan pengetahuan sebagai respon pada kenyataan 1.Mengubah teori menjadi efek praktis 2.Mendemonstras ikan 3.Memecahkan masalah 4.Mengelola aktivitas Penjumlahan Pengurangan Perkalian Pembagian 1.Penjumlahan dua pecahan biasa dengan penyebut sama 2.Penjumlahan dua pecahan biasa dengan penyebut berbeda 3.Penjumlahan dua/lebih pecahan biasa 4. Pengurangan dua pecahan biasa dengan penyebut sama 5. Pengrangan dua pecahan biasa dengan penyebut berbeda 6. Pengurangan dua/lebih pecahan biasa 1.Menyelesaikan penjumlahan (menjumlahka n) dua pecahan biasa dengan penyebut sama 2.Menyelesaikan penjumlahan (menjumlahka n) dua pecahan biasa dengan penyebut berbeda 3.Menyelesaikan penjumlahan (menjumlahka n) dua/lebih pecahan biasa 4.Menyelesaikan pengurangan (mengurangka n) dua pecahan biasa dengan penyebut sama 5.Menyelesaikan pengrangan (mengurangka n) dua pecahan biasa dengan penyebut berbeda 6.Menyelesaikan pengurangan (mengurangka n) dua/lebih pecahan biasa d. Interpretasi Data

Lukman Hayat, 2014

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Permainan Scramble untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Pengerjaan Operasi Hitung Pecahan

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Interpretasi data yang dimaksud adalah interpretasi terhadap data-data yang telah didapatkan selama penelitian setelah melalui tahapan seleksi, reduksi, klasifikasi dan deskripsi.

Pertama data perencanaan yang termuat dalam RPP ini dipersiapkan dan sangat dibutuhkan untuk kepentingan penelitian, yang dibuat tidak sekaligus sempurna. Namun secara bertahap perlahan membaik. Kedua Data pelaksanaan pembelajaran, data yang tertuang dalam observasi ini untuk mengetahui apakah pembelajaran setelah diberikannya tindakan lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran sebelum diberikannya tindakan. Tetapi untuk data yang ketiga, yakni data hasil evaluasi setiap siklus diolah menggunakan perhitungan rumus, yang dijabarkan sebagai berikut:

a) Memberi skor tes evaluasi pada tiap siklus

Sebelum dilakukan pengolahan data, semua jawaban UTS dan tes evaluasi pembelajaran setiap siklus diperiksa dan diberi skor. Tes berbentuk uraian, oleh karena itu peneliti menyesuaikan skor ideal maksimum untuk setiap soal.

b) Menghitung nilai rata-rata kelas dengan rumus: R =

Purwanto (Mashudi, 2012: 52) Keterangan:

R : Nilai rata-rata kelas

∑ N : Total nilai yang diperoleh siswa : Jumlah siswa

Lukman Hayat, 2014

c) Menghitung presentase ketuntasan belajar 1. Ketuntasan belajar berdasarkan KKM

Indikator keberhasilan penelitian ini adalah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan sekolah, untuk kelas IV SDN 2 Cibodas Lembang, yaitu 62. Siswa dikatakan mencapai ketuntasan belajar bila sudah mencapai nilai KKM.

2. Ketutasan belajar klasikal

Presentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal menggunakan rumus:

TB =

Purwanto (Mashudi, 2012: 52) Keterangan:

TB : Ketuntasan Belajar

∑ : Jumlah siswa yang mendapat nilai lebih besar dari atau sama dengan 65

: Jumlah siswa 100% : Bilangan tetap

Muslich, Mansur (2009: 36) menjelaskan tentang kriteria dan mekanisme penetapan ketuntasan minimal Per Mata Pelajaran yang ditetapkan oleh sekolah dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai

Lukman Hayat, 2014

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Permainan Scramble untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Pengerjaan Operasi Hitung Pecahan

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

berikut: 1) Ketuntasan belajar ideal untuk setiap indikator adalah 0-100, dengan batas kriteria ideal minimum 75%; 2) Sekolah harus menetapkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) per mata pelajaran dengan mempertimbangkan kemampuan rata-rata siswa, kompleksitas, SD pendukung; dan 3) Sekolah dapat menetapkan KKM dibawah batas kriteria ideal, tetapi secara bertahap harus dapat mencapai kriteria ketuntasan ideal.

Kriteria ketuntasan yang ditetapkan pada KTSP Susilawati (Mashudi, 2012: 53) menjelaskan:

Siswa dikatakan telah belajar tuntas jika sekurang-kurangnya dapat menyelesaikan soal dengan benar sebesar 65% dari skor total. Sedangkan belajar klasikal dikatakan baik apabila sekurang-kurangnya 85% siswa telah mencapai ketuntasan belajar. Apabila siswa yang tuntas belajarnya hanya mencapai 75% maka secara klasikal dikatakan cukup.

Hal tersebut sejalan dengan yang diutarakan oleh Aqib, Zainal (2009: 41) dalam bukunya, “ … jika siswa mampu menyelesaikan paragraf dan memenuhi ketuntasan belajar yaitu minimal 75%”.

3. Menghitung skor gain ternormalisasi

Untuk melihat peningkatan kemampuan siswa dalam pengerjaan operasi hitung pecahan dengan menggunakan model pembelajaran berbasis permainan scramble dilakukan melalui analisis terhadap skor gain ternormalisasi <g> untuk kemudian dibandingkan dengan kategori yang dikemukakan Hake (1998) “skor gain ternormalisasi yaitu perbandingan skor gain aktual dengan skor gain maksimum”. Skor gain aktual yaitu skor

Lukman Hayat, 2014

gain tertinggi yang mungkin diperoleh siswa. Dengan demikian skor gain ternormalisasi dapat dinyatakan oleh rumus sebagai berikut:

<g> =

Hake (1998) Keterangan:

<g> : Skor Gain Ternormalisasi

: Skor postes dalam penelitian ini data skor terakhir (Siklus 2) : Skor pretes dalam penelitian ini data skor sebelum data skor

terakhir (Siklus 1)

: Skor maksimum

Menurut Hake (1998) hasil skor gain ternormalisasi dibagi ke dalam tiga kategori yang dapat dilihat pada Tabel 3.2.

Tabel 3.4

Interpretasi Gain yang Ternormalisasi Nilai <g> Interpretasi

0.00 - 0.30 Rendah

0.31 - 0.70 Sedang

0.71 - 1.00 Tinggi

77

Lukman Hayat, 2014

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Permainan Scramble untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Pengerjaan Operasi Hitung Pecahan

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pelaksanaan pembelajaran operasi hitung pecahan dengan Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Permainan Scramble yang telah dilaksanakn di SDN 2 Cibodas Lembang, Kabupaten Bandung, maka dapat ditemukan beberapa simpulan berikut ini.

1. Pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran berbasis permainan scramble dapat direncanakan dengan membuat RPP yang disusun berdasarkan KTSP, yang tidak sekaligus sempurna namun secara perlahan membaik. Secara umum kegiatan pembelajaran pada siklus I dan siklus II sama, namun untuk mendapatkan hasil yang lebih baik maka kelemahan yang ditemukan pada siklus I, dijadikan rekomendasi untuk diperbaiki pada siklus II.

2. Pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran berbasis permainan scramble dapat dilakukan dengan melaksanakan rencana pembelajaran yang telah disusun dalam RPP. Model pembelajaran berbasis permainan scramble dilaksanakan dengan: 1) guru membuat kartu soal sesuai materi ajar; 2) guru membuat soal sesuai dengan materi ajar yang akan

Lukman Hayat, 2014

disajikan; 3) guru membuat kartu jawaban; 4) guru membuat pilihan jawaban yang susunanya diacak sesuai jawaban soal-soal pada kartu soal; 5) guru menyajikan materi; 6) guru membagi siswa kedalam beberapa kelompo secara heterogen; 7) guru membagikan kartu soal pada kelompok, sementara seluruh kartu jawaban guru letakkan dalam satu wadah sehingga seluruh kartu jawaban tersimpan secara acak; 8) siswa secara berkelompok mengerjakannnya; 9) siswa mencari jawaban untuk setiap soal-soal dalam kartu soal; 10) siswa mencari jawaban yang cocok untuk setiap soal yang siswa kerjakan dan memasangkannya pada kartu soal; 11) guru dan siswa secara bersama-sama memeriksa hasil kerja siswa dan mengkoreksinya; 12) setelah selesai guru melakukan evaluasi; dan 13) guru memberikan penguatan terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan. Langkah-langah pembelajaran tersebut telah dilakasanakan dalam dua siklus. Secara keseluruhan telah dilaksanakan dengan baik walaupun ada beberapa kendala, namun telah dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam pengerjaan operasi hitung pecahan. Peningkatan tersebut terlihat dari hasil belajar siswa yang mengalami peningkatan selama dua siklus berlangsung.

3. Terdapat peningkatan kemampuan siswa dalam pengerjaan (application) konsep pada ranah kognitif setelah mengikuti pembelajaran matematika yang menerapkan model pembelajaran berbasis permainan scramble. Hasil skor rata-rata kelas pada UTS sebesar 37.28, skor rata-rata kelas pada Tes Evaluasi Siklus I sebesar 62.5, dan skor rata-rata kelas pada Tes Evaluasi Siklus II sebesar 71.04. Hal ini menunjukkan bahwa secara bertahap peningkatan

Lukman Hayat, 2014

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Permainan Scramble untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Pengerjaan Operasi Hitung Pecahan

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

kemampuan siswa dalam pengerjaan (application) konseppada ranah kognitif mengalami peningkatan setelah diterapkannya menerapkan model pembelajaran berbasis permainan scramble.

B. Saran

Berdasarkan hasil temuan pada pelaksanaan PTK ini, maka penerapan model pembelajaran berbasis permainan scramble sekurang-kurangnya telah mengubah sikap siswa menjadi lebih tertarik terhadap matematika dan aktivitas belajar yang semakin baik.

Oleh karena itu, agar proses dan hasil pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran berbasis permainan scramble dapat berjalan dengan baik, maka peneliti mengajukan rekomendasi bagi sesama guru yang akan menggunakan model pembelajaran dan bagi peneliti selanjutnya, yakni sebagai berikut:

1. Penerapan model pembelajaran berbasis permainan scramble sangat dibutuhkan analisis dan perhitungan yang baik dalam menentukan materi ajar, kuasai kajian teori indikator yang kehendak dicapai serta memperhatikan kurikulum dalam pembuatan RPP.

2. Pembelajaran dengan menerapkan model scramble ini akan terlaksana dengan sangat baik dan menarik jika diterapkan pada kelas yang siswanya memiliki tingkat pengetahuan tinggi.

Lukman Hayat, 2014

3. Model pembelajaran permainan scramble ini akan membuat suasana kelas ramai, untuk itu pendidik harus mampu menguasai kondisi kelas dengan sangat baik, dikarenakan sifat dari permainan itu sendiri yakni riang gembira.

80

Lukman Hayat, 2014

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Permainan Scramble untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Pengerjaan Operasi Hitung Pecahan

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

A.Karim, Muchtar, dkk. (1996). Buku Pendidikan Matematika I. Malang : Depdikbud.

Aqib, Zainal. dkk. (2009). Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru SD, SLB dan TK. Bandung: CV YRAMA WIDYA.

Arifin, Zainal. (2013). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.

Azizah, Azizah. (2010). Implementasi Cooperative Learning dengan Metode Scramble Sebagai Usaha untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran Matematika. (Skripsi). Solo: Pendidikan Matematika FKIP, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Carter, Philip dan Ken Russell. (2011). 250 Permainan, Tes Dan Teka-Teki Matematika Yang Meningkatkan Percaya Diri. Jakarta: PT Indeks.

Coleman, James S. (2008: 83). Simulation Games in Learning. Beverly Hills: SAGE PUBLICATIONS INC.

Dalyono, M. (2005). Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.

Dimyati dan Mudjiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.

Djumhana, Nana dan Sukirman. (2008). Perencanaan Pembelajaran. Bandung: UPI PRESS.

Faizi, Mastur. (2013). Ragam Metode Mengajarkan Eksakta Pada Murid. Yogyakarta: DIVA Press.

Lukman Hayat, 2014

Ginnis Paul. (2008). Trik dan Taktik Mengajar Strategi Meningkatkan Pencapaian Pengajaran di Kelas. Jakarta: PT Indeks.

Hake, R. (1998). Interactive engagement Versus Traditional Methods: A Six Thousand Student Survey of Mechanics test Data for Inductory Physics Course. American Journal of Phisics: 66(1): 64-74.

Hake, R. (1998). Interactive-Engagement Methods In Introductory Mechanis Courses. [Online]. Tersedia: http://www.physics.indiana.edu/~sdi/IEM-2b.pdf [18 Mei 2014]

Hastuti, N. P. (2004). Hubungan Antara Persepsi terhadap Metode Mengajar Guru dengan Minat Belajar Matematika Siswa SMP. (Skripsi). Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Herawati. (2011). Implementasi Pembelajaran Matematika Realistik Dalam Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep Dasar Pecahan Dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar. [Online]. Tersedia: http://a-research.upi.edu/tesisview.php?no_tesis=656 [17 Maret 2014]

Hughes, A. G dan Hughes, E. H. (2012). Learning & Teaching. Bandung: Nuansa.

IMSTEP-JICA. (1999). Permasalahan Pembelajaran Matematika SD, SLTP, dan SMU di Kota Bandung. Bandung: FPMIPA IKIP Bandung.

Iriawan, Sandi Budi. (2008). Pengaruh Pembelajaran Berbalik (Reciprocal Teaching) Terhadap Ketuntasan Belajar Siswa Dalam Pemahaman dan Aplikasi Konsep Matematik. (Thesis). Pendidikan Matematika SPS Universitas Pendidikan Indonesia: Tidak Diterbitkan.

Ismail, Andang. (2009). Education Games. Yogyakarta: Pro U Media.

Lukman Hayat, 2014

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Permainan Scramble untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Pengerjaan Operasi Hitung Pecahan

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Kasri, Khafid dan Gunanto. (2008). Matematika Aktif Untuk Sekolah Dasar Kelas II. Jakarta : Erlangga.

Kaufeldt, Martha. (2008). Wahai Para Guru, Ubahlah Cara Mengajarmu!. Jakarta: PT Indeks.

Kusumah, Wijaya dan Dedi Dwitagama. (2010). Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT Indeks.

Lie, Anita. (2008). Cooperative Learning. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana.

Mashudi. (2012). Penerapan Pendekatan Realistik Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas V Pada Mata Pelajaran Matematika Pokok Bahasan Sifat-Sifat Bangun Ruang. (Skripsi). PGSD FIP, Universitas Pendidikan Indonesia: Tidak Diterbitkan.

Mohammad, Herman. (2014). Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan. [Online]. Tersedia: http://www.cpps.or.id/content/survei-kualitas-pendidikan-anak-memasuki-tahap-endline#sthash.nxOWnCCF.dpuf [11 Maret 2014]

Muijs, Daniel dan David Reynolds. ( 2008). Effective Teaching. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Muslich, Mansur. (2009: 36). KTSP. Jakarta: Bumi Aksara.

Romberg, T (1995). Reform in School Mathematics and Authentic Assement.

USA: New York Press.

Purwanti, Sri Nasution. (2013). Penerapan Aktivitas Scrambled Groups Dalam Model Pembelajaran Kooperatif untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman dan Matematis Siswa MTS. (Thesis). Universitas Pendidikan Indonesia: Tidak Diterbitkan.

Sagala, Syaiful. (2007). Konsep Dan Makna Pembelajaran. Bandung : CV Alfabeta.

Lukman Hayat, 2014

Salim, Peter dan Yenny Salim. (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta: Modern English Press.

Sanjaya, Wina. (2010). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : PRENADA MEDIA.

Sugiharti, Piping. 2011. Penggunaan Metode Scramble pada Pembelajaran Fisika untuk Meningkatkan Motivasi Siswa. Jurnal Pendidikan Penabur –

No.16/Tahun ke 10/ Juni 2011. Cimahi.

Saputro, Bagus Ardi. (2012). Penggunaan Permainan Dalam Pembelajaran Operasi Pada Pecahan Terkait Dengan Kemampuan Penalaran Dan Komunikasi Matematis Siswa Sekolah Dasar. [Online]. Tersedia: http://a-research.upi.edu/tesisview.php?no_tesis=1903 [17 Maret 2014]

Sekolah, Pustaka. (1990). Pengertian Matematika. [Online]. Tersedia: http:/ http://www.pustakasekolah.com/pengertian-matematika.html/ [12 Mei 2014]

Sulistyowati, Endah (2010). Peningkatan Motivasi Siswa dalam Pembelajaran Matematika Melalui Metode Scramble Pada Pokok Bahasan Bilangan Bulat. (Skripsi). Solo: Pendidikan Matematika FKIP, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Suwangsih, Erna dan Tiurlina. (2006). Model Pembelajaran Matematika. Bandung: UPI PRESS.

Suyono dan Hariyanto. (2012). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.

Syukri, Amal. (2013). Menuju Sistem Belajar Digital. [Online]. Tersedia: http://www.koran-sindo.com/node/346729 [20 Mei 2014]

Wahyudin. (1999). Kemampuan Guru Matematika, Calon Guru Matematika dan Siswa dalam Mata Pelajaran Matematika. (Disertasi). Universitas Pendidikan Indonesia: Tidak Diterbitkan.

Dokumen terkait