BAB V PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA MEDAN TIMUR
2. Jenis Usaha Wajib Pajak
5.2 Analisis Data
5.2.1 Analisis Evaluasi Kebijakan Melalui Penerapan Efektifitas, Efisiensi, Kecukupan, Perataan, Responsivitas, Dan Ketepatan atas Pelaksanaan Pengampunan Pajak atas UMKM
Dalam penelitian ini terlebih dahulu penulis akan menganalisis penerapan efektifitas, efisensi, kecukupan, pemerataan, responsivitas, dan ketepatan dalam pelaksanaan Undang-Undang Pengampunan pajak atas wajib pajak UMKM pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur sebagai berikut :
5.2.1.1 Indikator Efektifitas
Indikator efektivitas digunakan untuk melihat apakah hasil dari suatu kebijakan yang sudah terlaksana sesuai dengan tujuan ditetapkan atau adakah keterkaitan hasil yang ada dengan hasil yang diharapkan sesuai dengan tujuan.
Sesuai dengan UU Nomor 11 Tahun 2016 menjelaskan bahwa tujuan diberlakukannya fasilitas pengampunan pajak adalah mempercepat pertumbuhan ekonomi, mendorong reformasi perpajakan menuju sistem perpajakan yang lebih berkeadilan, meningkatkan penerimaan pajak yang digunakan untuk pembiayaan pembangunan. dan manfaat yang akan diperoleh wajib pajak apabila mengikuti program pengampunan pajak dengan
melaporkan harta yang selama ini belum dilaporkan kepada otoritas pajak adalah mendapatkan pengampunan pajak dimulai dari masalah perpajakan ditahun 1984-2015.
Selain itu manfaat yang akan diterima wajib pajak adalah mempersiapkan wajibpajak untuk menghadapi reformasi UU Perbankan dan program Automatic Evchgane Of Infromation yang akan dilaksanakan tahun 2018, dimana wajib pajak tidak dapat lagi menyembunyikan hartanya dari otoritas pajak.
Berdasarkan informasi yang didapat bahwa semua wajib pajak dapat memanfaatkan program tersebut termasuk wajib pajak UMKM. wajib pajak UMKM mempunyai peran yang cukup besar untuk mengembangkan sektor ekonomi di Indonesia begitu juga peran mereka dalam menunjang penerimaan negara dari sektor pajak. namun masih banyak wajib pajak UMKM yang juga terbelit masalah-masalah perpajakan baik karena disengaja maupun tidak disengaja. Sehingga dihrapakan mereka juga dapat memanfaatkan kesempatan yang diberi oleh pemerintah dengan program pengampunan pajak.
Suatu kebijakan publik akan berjalan efektif apabila adanya kesiapan yang matang dari institusi dan para petugasnya untuk menjalankan program tersebut dan pihak wajib pajaknya. Berdasarkan informasi yang didapat bahwa kesiapan dari institusi sudah terlaksana dengan baik karena sebelum berjalannya program pengampunan pajak tersebut semua para petugas pajak sudah diberikan pelatihan dan sudah ada SOP yang ditetapkan oleh Dirjend Pajak. SOP tersebut mulai dari sosialisasi kepada wajib pajak, pembentukan tim petugas pajak yang melayani tax amnesty, dalam menjalankan tugas para petugas pajak tidak boleh membawa alat komunikasi selama bertugas melayani wajib pajak, peraturan itu dibuat untuk
menghindari hal-hal yang tidak diingankan yang merugikan pihak Kantor Pajak, selain itu agar petugas pajak fokus dalam menjalankan kewajibannya melayani wajib pajak.
Terkait sosialasi yang diberikan oleh KPP kepada petugas pajak memang benar sudah dilaksanakan. Informasi tersebut didapat dari petugas dan wajib pajak sendiri. Wajib pajak mengakui bahwa undangan sosialisasi tax amnesty sudah mereka dapatkan baik dari Kanwil Sumut I maupun KPP Pratama tempat wajib pajak terdaftar. Berdasarkan pengakuan wajib pajak UMKM sebelum adanya sosialisasi bahwa mereka sudah tahu dan pernah mendengar tentang tax amnesty dari berbagai media baik media cetak maupun media elektronik. Setelah mendapatkan undangan sosialisasi maka respon selanjutnya apakah undangan sosialisasi tersebut juga ditanggapi wajib pajak dengan cara menghadiri undangan sosialisasi yang diberikan. Dan ternyata berdasarkan hasil wawancara dan kuisioner yang disebar bahwa para wajib pajak UMKM bersedia untuk menghadiri undangan sosialisasi tersebut. Karena para wajib pajak UMKM ini juga merasa takut jika bermasalah dengan perpajakan mereka karena nanti akan berdampak dengan usaha yang mereka jalankan.
Sosialisasi bertujuan agar wajib pajak tahu apa itu tax amnesty, manfaat apa dan bagaimana menjalankannya. Dengan adanya sosialisasi dan wajib pajak juga bersedia untuk mengahadiri sosialisasi tersebut efeknya adalah wajib pajak tersebut lebih memahami bagaimana manfaat dengan mengikuti program tax amnesty, Selain dari sosialisasi para wajib pajak UMKM ini juga dapat berkonsultasi lebih lanjut kepada petugas pajak lainnya contohnya Account Representative terkait program tax amnesty dan ini sangat membantu wajib pajak
UMKM. Tetapi menurut keterangan salah satu wajib pajak UMKM bahwa pada saat mereka melakukan konsultasi terkait harta yang dilaporkan/diamnestikan kepada petugas pajak yang berbeda dan dihari yang berbeda menghasilkan jawaban yang berbeda, kejadian tersebut membuat wajib pajak bingung mana yang benar dan mana yang salah. Perbedaan persepsi yang dimaksud di sini contohnya sejumlah emas perhiasan, mobil yang diproduksi tahun 80 atau 90-an.
Lalu peneliti mencoba bertanya kepada petugas pajak terkait perbedaan persepsi antar petugas pajak terkait harta yang seharusnya diamnestikan, menurut petugas pajak yang peneliti wawancarai sebenarnya semua harta wajib dilaporkan, tetapi ada sebagian petugas pajak berpendapat harta yang nominalnya kecil kemungkinan besar tidak akan dipermasalahkan dikemudian hari, makanya harta tersebut tidak perlu ikut diamnestikan walau sebenarnya persepsi tersebut salah tidak sesuai SOP. Berdasarkan keterangan wajib pajak tersebut dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang berkaitan dengan persepsi petugas pajak dalam memandang masalah perpajakan dapat membingungkan wajib pajak. selain membingungkan wajib pajak perbedaan persepsi tersebut akan berdampak tidak baik untuk wajib pajak sendiri dan pihak institusi pajak dikemudian hari.
Pelaksanaan sosialisasi bukan hanya sekedar agar wajib pajak tahu dan memahami program tersebut, tetapi dari sosialisasi diharapakan dapat membujuk wajib pajak mau ikut melaksanakan program tersebut. Salah satunya program tax amnesty, dengan adanya sosialisasi wajib pajak UMKM mau ikut memanfaatkan program tersebut.Setelah mendapatkan sosialisasi Kemudian peneliti bertanya kepada petugas pajak terkait antusiasme wajib pajak UMKM untuk memanfaatkan program tersebut setelah mendapatkan sosialisasi dan hasil
wawancara dengan petugas pajak setelah dilakukannya sosialisasi tax amnesty untuk UMKM, antusias UMKM belum terlalu kelihatan untuk memanfaatkan program tersebut di periode pertama pengampunan pajak. Antusiasme wajib pajak UMKM untuk mamanfaatkan pengampunan pajak terjadi pada saat periode kedua dan ketiga, paling tinggi periode ketiga detik-detik akhir menjelang berakhirnya program pengampunan pajak.
Kemudian peneliti penasaran dengan kondisi wajib pajak UMKM di wilayah kerja KPP Pratama Medan Timur dan peneliti bertanya kepada salah satu petugas tax amnesty dan juga merupakan salah satu Account Representative yang tugas pokoknya memantau wajib pajak. Berdasarkan informasi yang didapat bahwa wajib pajak UMKM yang berada di wilayah kerja KPP Medan Timur tergolong cukup sedikit yang menjalankan kewajiban perpajakan tetapi tidak semuanya. Ada juga wajib pajak yang laopran pajaknya tertib terlepas dari masalah jujur atau tidaknya dalam melaporkan harta dan penghasilan mereka.
Berdasarkan infromasi yang didapat bahwa wajib pajak UMKM yang berada di wilayah kerja KPP Pratama Medan Timur tergolong kurang tertib dalam menjalankan administrasi perpajakan begitu juga wajib pajak UMKM yang berniat untuk memanfaatkan program pengampunan pajak masih sedikit pada saat periode pertama pengampunan pajak. Informasi yang didapat dari petugas pajak sejalan dengan informasi yang didapat dari kedua wajib pajak UMKM sendiri, ketika peneliti bertanya tentang kewajiban mereka dalam perpajakan ternyata wajib pajak UMKM selama ini tidak terlalu tertib dalam menjalankan kewajiban perpajakan mereka. Penghindaran pajak juga dilakukan mereka, sebenarnya omset masih dibawah 4,8 M tetapi karena keberatan membayar pajak dengan tarif 1%
dari omset, mereka membuat laporan keuangan palsu dengan menaikkan omset di atas 4,8 M. Jadi para wajib pajak UMKM bisa menggunakan tarif pasal 31(E) dengan memperbesar biaya sehingga labanya kecil dan membayar pajak kecil bahkan tidak bayar pajak sama sekali. Inilah salah satu contoh kecil dilapangan praktik penghindaran pajak yang dilakukan para UMKM. Praktik ini sah-sah saja sepanjang tidak diketahui oleh petugas pajak.
Berkaitan dengan antusiasme meningkat menjelang periode ketiga bahwa meningkatnya anstusiasme wajib pajak tidak serta merta terjadi begitu saja, oleh karena itu peneliti bertanya kepada salah satu petugas apa strategi yang dijalankan petugas pajak tersebut. Hasil wawancara bahwa strategi dalam menghadapi wajib pajak adalah sabar dan tegas. Tergantung petugas pajak dalam membujuk wajib pajak untuk dapat memanfaatkan program tersebut dan menjelaskan apa manfaat dengan mengikuti pengampunan pajak. Kemudian sikap kita juga menentukan, dalam melayani wajib pajak juga harus senyum, ceria dan welcome, jadi wajib pajak juga tidak sungkan-sungkan untuk bertanya dan merasa nyaman saat berkonsultasi untuk mengikuti program pengampunan pajak.
Lalu peneliti bertanya kepada wajib pajak UMKM mengenai kesulitan yang dihadapi dalam mengikuti program pengampunan pajak, kesulitan dalam pelaksanaannya tidak ada sepanjang berkas yang dimintak lengkap dan sebelumnya wajib pajak tersebut sudah berkonsultasi dengan AR mereka masing-masing. Paling kesulitan karena mengantri saja, atau jaringan DJP yang sedikit terganggu.
Kemudian peneliti bertanya kepada wajib pajak UMKM, apakah mereka menggunakan jasa konsultan pajak, dari dua wajib pajak UMKM yang peneliti
wawancarai salah satunya menggunakan konsultan pajak alasannya karena tidak ada waktu. Pelaksanaan pengampunan pajak dapat dikuasakan oleh pihak lain dari wajib pajak jadi tidak bermasalah pakai jasa konsultan resmi ataupun tidak, bisa juga dikuasakan dengan terdeka, namun tetap yang menandatangani SPH adalah wajib pajak. Pada saat penyampaian SPH jika dikuasakan, maka harus melampirkan surat kuasa.
Kemudian peneliti bertanya tentang kendala yang di alami petugas pajak, menurut petugas pajak selama menjalankan program pengampunan pajak kendalanya tidak terlalu banyak. Biasanya jaringan dari DJP yang sistemnya pernah rusak itu pun tidak lama dan kendala dalam menghadapi wajib pajak yang biasanya terlalu banyak pertanyaan, jadi dalam mengatasinya cukup dengan sabar.
Pertanyaan berikutnya berhubungan dengan informasi diatas, yaitu terkait pelayanan yang diberikan oleh petugas pajak dan hasil wawancara bahwa pelayanan yang dirasakan wajib pajak cukup bagus dengan kesabaran dan senyum ramah dari petugas pajak. berdasarkan hasil wawancara diatas bahwa kebijakan ini sudah terlaksana secara efektif, karena berjalan sesuai dengan prosedur dan wajib pajak UMKM juga bersedia mengikuti program tersebut walaupun terlihatnya pada saat menjelang akhir periode. Pendapat ini juga didukung dengan analisa statistik deskriptif dari kuisioner yang disebarkan oleh peneliti, berikut tabelnya.
Tabel 5.24 Indikator Efektifitas
No Indikator Skor Makna (Efektivitas) 1. Pengetahuan wajib
Pajak tentang Tax Amnesty 4,22 Sangat Setuju 2. Adanya Undangan
Sosialisasi 4,51 Sangat Setuju
3. Kesediaan WP menghadiri
Undangan sosialisasi 3,92 Setuju 4. Pemahaman yang baik
Setelah mendapatkan
Sosialisasi 3,72 Setuju
5. Kesediaan WP Mengikuti
pengampunan pajak 3,7 Setuju
6. Kepatuhan WP yang Baik 3,1 Netral 7. Kemudahan dalam
Mengikuti tax amnesty 3,46 Setuju 8. Profesionalisme petugas
Dalam melayani tax amnesty 3,10 Netral
Rata – rata 3.72 Setuju
Berdasarkan tabel diatas sudah terlihat jelas wajib pajak setuju bahwa kebijakan pengampunan pajak telah berjalan secara efektif. selama kurang lebih sembilan bulan berjalan. Baik dari sisi sosialisasi yang gencar dilakukan oleh petugas pajak, pelayanan yang diberikan kepada wajib pajak, dan dirasa wajib pajak bahwa pengampunan pajak ini cukup bermanfaat untuk kedepannya, baik manfaat yang diterima oleh negara maupun wajib pajak.
5.2.1.2 Indikator Efisiensi
Efektivitas dan efisiensi sangatlah berhubungan. Apabila kita berbicara tentang efisiensi bilamana kita membayangkan hal penggunaan sumber daya (resources) kita secara optimum untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Efisiensi
akan terjadi jika penggunaan sumber daya diberdayakan secara optimum sehingga suatu tujuan akan tercapai.
Program pengampunan pajak sebelumnya sudah pernak dilakukan di Indonesia yaitu sebanyak dua kali. Dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 ini merupakan program pengampunan pajak yang ketiga. Program pengampunan pajak kali ini berlangsung selama sembilan bulan dimulai dari 1 Juni 2016 sampai 31 Maret 2017. Terdiri dari tiga periode, priode pertama yaitu 1 Juni 2016-30 September 2017, periode kedua 1 Oktober 2016-31 Desember 2016 dan periode ketiga 1 Januari 2017-31 Maret 2017.
Menurut wajib pajak UMKM yang menjadi narasumber bahwa jangka waktunya cukup panjang kurang lebih sembilan bulan, dengan jangka waktu tersebut wajib pajak UMKM masih bisa sedikit santai. Dan periode berapapun tidak masalah karena tarif untuk wajib pajak UMKM hanya 0,5% dan 2% sampai akhir periode. Dan kebanyakan wajib pajak setuju dengan jangka waktu yang diberikan oleh pemerintah untuk memanfaatkan pengampunan pajak.
Terkait target yang diberikan kepada KPP Pratama Medan Timur atas pelaksanaan pengampunan pajak, menurut petugas pajak bahwa setiap KPP Pratama tidak diberi target. Target diberikan untuk setiap Kantor Wilayah saja, jadi karena KPP Pratama Medan Timur berada di wilayah Kanwil DJP Sumut 1 maka target yang harus dicapai adalah Rp 4,4 T. Dan yang wilayah Kanwil Sumut I sendiri hingga akhir periode pengampunan pajak realisasi yang tercapai melampaui target yaitu sebesar 5 T. Selain itu berdasarkan keterangan dari petugas pajak bahwa tidak ada target khusus untuk wajib pajak UMKM dan jenis wajib pajak apapun tidak ada target tersendiri, jadi targetnya hanya kumulatif saja.
Tetapi petugas pajak berharap bahwa UMKM juga harus memanfaatkan program tersebut. Karena UMKM biasanya masalah pajaknya cukup banyak karena mereka sedikit yang tertib dalam menjalankan kewajiban perpajakannya.
Berbicara mengenai efisiensi pelaksanaan kebijakan publik juga dapat dilihat dari SDM yang tersedia untuk menjalankan kebijakan tersebut. Dalam pelakasanaan pengampunan pajak, SDM yang dimiliki juga menjadi salah satu penentu untuk kesuksesan sebuah pelakasanaan dalam suatu program. Baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Dari informasi yang didapat bahwa di KPP Pratama Medan Timur sendiri tidak ada masalah yang berhubungan dengan SDM.
Kualitas maupun kuantitas cukup tersedia di KPP Medan Timur. Khusus untuk petugas tax amnesty setiap KPP maksimal dua orang yang bertugas di ruangan tax amnesty, dan di akhir periode baru ditambah petugasnya maksimal empat orang.
Penambahan petugas diakhir periode dikarenakan setiap akhir periode pasti jumlah wajib pajak yang ingin mengikuti tax amnesty bertambah tidak seperti hari biasa. Meskipun petugas tax amnesty hanya dua atau empat yang ditugaskan untuk melayani tax amnesty di ruangan khusus tax amnesty tetapi wajib pajak UMKM tidak perlu khawatir petugas pajak yang tidak bertugas di ruangan tax amnesty juga bisa melayani wajib pajak yang ingin berkonsultasi contoh AR (Account Rpresentative) di Waskion I, II dan III, petugas di PDI (Pusat Data Informasi), dll. Menurut keterangan wajib pajak UMKM yang mengikuti program pengampunan pajak bahwa dengan jumlah petugas pajak yang melayani wajib pajak untuk mengikuti tax amnesty 2-4 orang tidak ada masalah karena situasi disana sangat kondusif
Faktor penentu lainnya selain SDM adalah fasilitas ruangan yang diberikan dalam melayani wajib pajak. Suasana dan kenyamanan kantor sangat berpengaruh untuk produktivitas pegawai. Khusu untuk program pengampunan pajak diberi ruang tersendiri, agar lebih fokus dan suasana yang didpat juga rasa nyaman karena program pengampunan pajak ini sangat rahasia, data wajib pajak dijamin kerahasiaanya. Hasil wawancara dengan petugas pajak dan observasi yang dilakukan oleh peneliti, bahwa ada ruangan khusus utk melayani tax amnesty ruangannya nyaman dan tidak panas. Begitu juga informasi yang didapat dari wajib pajak terakait kondisi rungan yang disediakan untuk melayani tax amnesty sangat bagus dan nyaman sehingga wajib pajak merasa nyaman saat mengantri panjang di KPP Pratama Medan Timur.
Hasil wawancara tersebut juga didukung oleh hasil kuiosioner yang disebar oleh penulis, berikut hasil yang didapat terkait efesiensi dalam pelaknsaan program pengampunan pajak.
Tabel 5.25 Indikator Efisiensi
No Indikator Skor Makna (Efisiensi) 1. Jangka waktu pemanfaatan
Tax amnesty dari pemerintah 3,24 Netral 2. Keramahan petugas pajak
Dalam melayani wajib pajak 3,06 Netral 3. Jumlah Petugas pajak yang
Melayani tax amnesty 3,12 Netral 4. Kondisi ruangan yang
Disediakan sangat nyaman 4,28 Sangat Setuju
Rata – rata 3.43 Setuju
Dapat disimpulkan hasil wawancara dengan hasil kuisioner sinkron artinya, program pengampunan pajak sudah berjalan secara efisien. Dari sisi
jangka waktu yang diberikan pemerintah, keramahan petugas pajak dalam melayani wajib pajak, jumlah petugas pajak yang bertugas setiap harinya dan kondisi ruangan yang disediakan sudah maksimal diberikan oleh pihak KPP dan wajib pajak setuju dengan hal itu.
5.2.1.3 Indikator Perataan
Pemerataan dalam kebijakan publik dapat dikatakan mempunyai arti dengan keadilan yang diberikan dan diperoleh sasaran kebijakan publik.
Kebijakan yang berorientasi pada perataan adalah kebijakan yang akibatnya atau usaha secara adil di distribusikan. Suatu program tertentu mungkin dapat efektif, efesiensi dan mencukupi apabila biaya-manfaat merata. Kunci dari perataan adalah keadilan dan kewajaran.
Jika bicara mengenai kunci dari pemerataan yaitu keadilan dan kewajaran mengenai kebijakan fiskal di Indonesia harus dilihat dari berbagai sudut pandang.
Karena menyangkut asas daya pikul dan asas keadilan dari masyarakatnya dan menyangkut masalah sumber penerimaan negara. Terkait keadilan dalam kebijakan publik, pertama kita bisa lihat dari sisi pelayanan yang diberikan dari petugas pajak kepada wajib pajak, terutama pelayanan yang diberikan antara wajib pajak UMKM dan non UMKM . Kedua dari dasar tarif uang tebusan antara yang UMKM dan Non UMKM, dan UMKM yang bagaimana yang dapat memanfaatkan program pengampunan pajak. Ketiga apakah wajib pajak setuju dengan adanya uang tebusan yang diberlakukan oleh pemerintah karena wajib pajak telah mendapatkan pengampunan pajak.
Berdasarkan informasi yang didapat dari informan yaitu petugas pajak dan wajib pajak bahwa pelaksaan tax amnesty jika dilihat dari sisi pelayanan, tidak
ada perbedaan perlakuan artinya semua wajib pajak dilayani sama. Karena wajib pajak yang mau ikut pengampunan pajak berarti sudah memiliki kepedulian untuk ikut berkontribusi dibidang perpajakan, dan memiliki niat baik untuk melaporkan hartanya mungkin yang selama ini masih ada yang belum dilaporkan kepada otoritas pajak. Jadi siapapun wajib pajaknya yang datang akan diperlakukan sama.
Mungkin yang membedakannya adalah tairf uang tebusan saja, untuk UMKM tarif uang tebusannya lebih rendah dibandingkan non UMKM.
Semua proses pelaksanaan akan berjalan lancar sepanjang berkas lengkap dan wajar maka segala urusan akan dipermudah. Setiap pelaksanaan kebijakan publik pasti ada kendala dan permasalahan yang terjadi dilapangan baik disengaja maupun tidak disengaja, baik dari petugas pajak maupun wajib pajaknya. Menurut salah satu wajib pajak bahwa pelayanan yang ia dapat tidak nyaman .Petugas pajak yang melayaninya sikapnya kurang ramah dan mempertanyakan terkait jumlah dan nilai harta yang wajib pajak tersebut laporkan. Menurut wajib pajak tersebut ini tidak etis karena sesuai dengan SOP yang wajib pajak ketahui petugas pajak tidak boleh mempertanyakan jumlah harta yang diamnestikan. Petugas pajak hanya memberikan pelayanan sebatas konsultasi saja dan memberikan arahan.
Dalam pelaksanaan tax amnesty ini , tarif uang tebusan yang harus dibayar wajib pajak sangat mempengaruhi keinginan dan keikhlasan wajib pajak untuk ikut berpatisipasi mengikuti program tersebut. Pemberlakuan tarif yang dibuat pemerintah juga harus mengutamakan aspek keadilan artinya tidak ada pihak yang merasa dirugikan dan tidak memberatkan wajib pajak. Adapun tarif uang tebusan bagi wajib pajak yang peredaran usahanya sampai dengan Rp 4.800.000.000,00
(emapt miliar delapan ratus juta rupiah) atau biasanya disebut dengan wajib pajak UMKM pada tahun pajak terakhir adalah sebesar :
1. 0.5% bagi wajib pajak yang mengungkapkan harta sampai dengan Rp 10.000.000.000,00 ; atau
2. 2% bagi wajib pajak yang mengungkapkan harta lebih dari 10.000.000.000,00 dalam surat pernyataan,
Menurut UU perpajakan yang dikatakan UMKM adalah pengusaha yang omsetnya sampai 4,8 M dalam satu tahun. Tetapi tidak semua jenis UMKM yang omsetnya dibawah 4,8 M menggunakan tarif uang tebusan seperti yang diatas.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 yang dikecualikan dari objek PP 46 adalah :
1. Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai dan aktuaris.
2. Pemain musik, pembawa acara, penyanyi,pelawak,bintang film, bintang sinetron, bintang iklan, sutradara, kru film, foto model, peragawati, pemain drama, dan penari.
3. Olahragawan
4. Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh dan moderator 5. Pengarang, peneliti dan penerjemah
6. Agen iklan
7. Pengawas atau pengelola proyek 8. Perantara
Dengan tarif tersebut kemudian peneliti bertanya kepada wajib pajak UMKM, apakah dengan tarif yang berlaku memberatkan wajib pajak. Menurut
Ibu Dina dan Bapak Norman tarif bagi pengusaha kecil seperti mereka cukup rendah. Jika dibandingkan utang pajak mereka atas ketidaktertiban administrasi pelaporan pajak setiap bulannya. Jika datang STP (surat tagihan pajak) bisa jadi bukan hanya utang pajak saja tetapi ditambah denda lainnya.
Menurut penulis berdasarkan hasil wawancara diatas bahwa wajib pajak perlu bijak dalam menjalankan kewajiban perpajakannya, artinya jangan mudah terpengaruh oleh isu-isu yang belum terpercaya sumbernya dan wajib pajak juga harus cerdas jangan mudah terbuai atau takut atas hal-hal yang diucapkan petugas pajak. Sebelum memutuskan untuk memanfaatkan program pengampunan pajak maka wajib pajak harus melakukan perencanan yang baik. Wajib pajak harus mempertimbangkan ikut pembetulan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) atau program pengampunan pajak. Langkah pertama yang harus dilakukan wajib pajak
Menurut penulis berdasarkan hasil wawancara diatas bahwa wajib pajak perlu bijak dalam menjalankan kewajiban perpajakannya, artinya jangan mudah terpengaruh oleh isu-isu yang belum terpercaya sumbernya dan wajib pajak juga harus cerdas jangan mudah terbuai atau takut atas hal-hal yang diucapkan petugas pajak. Sebelum memutuskan untuk memanfaatkan program pengampunan pajak maka wajib pajak harus melakukan perencanan yang baik. Wajib pajak harus mempertimbangkan ikut pembetulan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) atau program pengampunan pajak. Langkah pertama yang harus dilakukan wajib pajak