• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KARYA

Dalam dokumen Interpretasi Mandala dalam Praktik Seni (1) (Halaman 57-73)

1. Albert Yonathan

Gambar 4.1 Karya Albert Yonathan, Cesletial Mandala,

(Sumber: dokumentasi pribadi)

Karya ini tersusun dari serangkaian objek-objek yang dirangkai sedemikian rupa dengan pola komposisi yang cenderung konsentris. Tersusun dari sebuah lingkaran besar yang ditengahnya terdapat objek menyerupai kincir bersayap enam dan berwarna putih yang tengah berputar dengan dikelilingi sebersik warna biru muda terbentuk dari komposisi potongan foto laut yang juga berbentuk segi enam. Kincir tersebut dikelilingi oleh sebuah pola fraktal yang terbentuk dari irisan-irisan lingkaran yang membentuk elips yang masing- masing ujungnya tajam, agaknya mirip dengan pola batik ….. Rangakaian

pola fraktasl tersebut kembali dibingkai dengan bentuk akhir yang membulat dengan pusat sebuah objek menyerupai kincir yang sebelumnya dijelaskan. Terdapat enam garis yang membagi lingkaran utama tepat enam bagian yang juga diikuti dengan sebuah bidang heksagonal sepeti lapisan tipis berwarna kuning dengan sudut hampir tepat mengenai ujung garis yang membagi lingkaran enam bagian, Lingkaran pusat ini dikelilingi oleh enam bunga magnolia berwarna peach yang diselingi oleh 6 lingkaran berwarna emas. Latar belakang karya diisi dengan bidang hitam pekat dengan titik-titik putih acak menyerupai gugusan bintang di langit malam. Karya berjudul Celestial Mandala.

Komposisi karya yang konsentris cenderung membuat karya ini terlihat sangat seimbang dengan titik fokus tepat di tengah karya, didukung dengan penggunaan pola segi-enam atau heksagonal yang kaku diperkuat dengan kedekatan alam bawah sadar manusia dengan pola-pola geometrikal transedental semacam ini semakin membentuk impresi keteraturan pada karya. Karya dibuat dengan media watercolour, tinta, dan kolase. Perpaduan dari tiga media ini dengan masing-masing kelebihan dan kekurangannya terlihat dapat dimaksimalkan untuk menunjukan kesan-kesan tertentu yang berbeda satu sama lainnya dan juga untuk memenuhi kebutuhan eksplorasi seniman. Penggunaan tinta hitam dapat dengan baik membentuk kesan luar angkasa yang gelap dan dingin sedangkan penggunaan watercolour dapat dimaksimalkan untuk menampilkan kesan lembut dan hangat pada bagian 6 bunga teratai. Dan kolase yang digunakan untuk membentuk pusat dari mandala yang muncul dari komposisi potongan-potongan foto laut yang disusun heksagonal.

Pemaknaan pada karya ini agaknya sulit bagi pihak-pihak yang tidak mendalami spiritualitas, terlebih karena penggunaan banyaknya bahasa simbolis yang tertuang pada karya seperti bunga magnolia (satu keluarga dengan teratai), segi enam, dan objek menyerpai kincir yang tengah berputar terbentuk dari kolase potongan foto laut, dan didukung pula oleh minimnya

objek yang dapat dikenali pada karya (hanya terlihat pada bunga magnolia) yang didominasi oleh objek-objek yang tengah kehilanagan jejak-jejak representasional-nya. Seniman pun mengamini bahwa sebisa mungkin beliau tidak menghadirkan objek-objek yang sifatnya represenatsional dan fotografis, mengingat sifat dari visualisasi representasional akan selau mengacu pada hal- hal yang sifatnya antropomorfik. Karya ini membutuhkan kontemplasi yang cukup dapat untuk dapat mendekodifikasi makna-makna simbolik yang tersembunyi dalam karya yang nampaknya menyimpan nilai-nilai spiritualitas yang tinggi.

Judul Celestial Mandala dengan amat jelas menyiratkan bahwa karya ini menghadirkan ruang-ruang selestial, yakni ruang-ruang angkasa yang surgawi. dibentuk dari pola-pola mandala heksagonal, sebuah diagram geometris yang juga representasi dari kosmos.

Dengan meminjam cara membaca mandala pada bungkai tradisi, penafsiran karya kemudian beranjak pada makna-makna yang lebih dalam. Pusat dalam mandala seringkali diartikan pula sebagai pusat alam semesta, dan objek menyerupai kincir yang berputar dengan dinamis mengikuti sifat air, seolah menyiratkan ruang dan waktu yang terus berputar, berjalan dan berkembang. Lingkaran utama dengan pola fraktal bisa jadi diartikan sebagi kosmos, alam semesta yang saling berkesinambungan satu sama lain dan membentuk sebuah relasi kausalitas tanpa batas. Dan teratai, sebagi simbol dari alam yang juga memiliki jiwa dan menyatu dengan keseluruhan alam semesta. Sedangkan 6 lingkaran berwarna emas yang saling berselingan dengan tiap tangkai bunga magnolia adalah objek-objek yang dihadirkan untuk memperkuat konsep mandala yang kemudian disederhanakan namun tetap dengan konfigurasi yang sama dengan mandala acuan.

Karya Albert seolah memenuhi ajakan Suzi Gablik. dalam bukunya

Reenchancement of Art, Gablik mengajak seniman untuk kembali menghadirkan pesona-pesona seni rupa yang salah satu pijkannya adalah

spiritualitas tradisional. Albert terlihat cukup berpegang pada bingkai tradisi dalam karyanya, terlihat pada kehati-hatiannya dalam pemilihan dan peletakan kosakata visual simbolik, meskipun tetap dihiasi dengan permain dan apropiasi tanda, namun Albert tetap dengan etis memadukan spiritualitas tradisional dengan permainan tanda kontemporer.

Menurut pernuturan seniman, karya ini berisi pengalaman spiritual beliau yang sifatnya amat personal, intim, dan juga amat kontemplatif. Perwujudan pengalaman spiritual kepada karya kemudian menjembatani seniman untuk berbagi bersama apresiator mengenai pengalaman spiritualnya. Tujuan ini senada dengan pernyataan beliau yang ingin mencoba merubah dunia melalui introspeksi diri, dan tentunya beliau pun ingin apresiator mencoba merubah dirinya sendiri, sebelum mulai merespon ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di masyarakat, tentunya dengan sebuah perenungan atau kontemplasi. Pengalaman spiritual yang kemudian mendatangkan kegelisahan, mengenai reifikasi terhadap alam semesta yang hanya dipandang sebagai sebuah objek tak berjiwa, yang seyogyanya dalam bingkai tradisi adalah sebuah kesatuan kosmos, bersama manusia dan unsur lainnya.

Albert sendiri menyatakan bahwa karya ini menyinggung keikutsertaan alam dalam hubungan kosmologi. Seringkali manusia sering memaknai alam hanya sebagai objek yang tidak terlalu terikat dengannya, bahkan cenderung mengeksploitasi alam hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Tujuan akhir dari karya ini adalah mengingatkan manusia untuk lebih merenungkan kehadiran alam semesta sebagai salah satu bagian dari kosmos yang kemudian merupakan sebuah kesatuan komos yang utuh. Hal tersebut yang kemudian mengantarkan beliau untuk menghadirkan 6 tangkai bunga magnolia sebagai representasi dari alam yang ditampilkan dengan cukup representatif (mengingat sebelumnya dalam pernyataan beliau, Albert cenderung meninggalkan objek-objek representasional), sebagi sebuah kontras untuk memperkuat penyampaian makna dari karya ini.

Dapat disimpulkan bahwa karya Celestial Mandala seperti mengajak manusia untuk kembali kepada spiritualitas tradisi, menyatu dengan alam sekitar, spiritualitas dengan acuan dan makna yang jelas, yang dahulu mampu bertahan dalam jangka waktu yang amat panjang,

Banyak kajian menyebutkan bahwa manusia kontemporer hidup dalam kedangkalan, depthlessness, banal, dan selalu terjebak dengan wilayah- wilayah permukaan. Makna kebenaran dan hidup seolah telah berpindah pada kawasan-kawasan material setelah disematkannya nilai-nilai tanda (sign value) pada materi-materi tersebut sehingga menghadirkan pemenuhan hasrat para pemiliknya. Hal ini yang disinyalir semakin menjauhkan manusia dengan alam dan hanya memaknai alam sebagai asset sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan tertentu. Manusia tradisi pernah membuktikan bahwa ketenangan hidup dapat didapat jika manusianya telah menaytu dengan alam dan kosmos secara menyeluruh.

Albert terlihat cukup berpegang pada bingkai tradisi dalam karyanya, terlihat pada kehati-hatiannya dalam pemilihan dan peletakan kosakata visual simbolik, meskipun tetap dihiasi dengan permain dan apropiasi tanda, namun Albert tetap dengan etis memadukan spiritualitas tradisional dengan permainan tanda kontemporer.

Hal menarik lainnya yang tersemat pada karya ini adalah tajuk pameran dimana karya ini dipamerkan. Karya dipamerkan di Lawangwangi Art and Science Center pada pameran Contemporary Landscape. Asmudjo J. Irianto dengan amat ringkas menanggapi karya ini dalam kuratorial pamerannya: “Berangkat dari kesumpekan seperti itu, Albert Yonathan mengajak kita untuk berimajinasi dalam ruang-ruang selestial dalam karyanya Celestial Mandala”.

Komentar ringkas yang boleh jadi menandakan kesuksesan karya dalam menuturkan spiritualitas dengan visual imajiner. Lansekap kontemporer yang telah tergerus dominasi kapital yang cenderung menodai alam kemudian menjadi tajuk utama dalam pameran ini. Namun Albert seolah enggan

menunjukan hal-hal yang jelas terlihat, beliau lebih memilih untuk melakukan proses kreasi karya yang cenderung lebih kontemplatif dan sarat akan spiritualitas. Menunjukan korelasi antara manusia, alam, dan kosmos dalam sebuah mandala sebagai sebuah lansekap.

2. Anggara Tua Sitompul

Gambar 4.2 Karya Anggara Tua Sitompul, Ada Kalanya IV (Sumber: dokumentasi pribadi)

Karya Anggara Tua Sitompul diatas terbentuk dari komposisi garis tebal tipis yang tersusun dengan amat rapi satu sama lainnya dan dengan baik sehingga dapat memperlihatkan ruang-ruang ilusi. Komposisi karya ini terbilang sangat formalis. Hampir tidak ada bentuk representasional, karya disusun akan serangkaian bidang-bidang geomterik ilusif yang terususn dari sernagkaian garis tebal-tipis. Bidang utama karya adalah lingkaran yang terbagi tepat 8 bagian, dan dalam tiap bagian tersebut terdapat beberapa bidang segitiga yang disusun dengan amat rapi, bidang segitiga utama (hampir menyerupai segitiga sama kaki dengan alas berupa potongan keliling lingakran) yang juga paling besar terletak hampir tepat di tengah seperdelapan lingkaran, yang tertimpa oleh bidang segitiga lainnya sehingga objek keseluruhan menyerupai outline

cenderung berupa kurva terdapat dua segitiga siku-siku dengan tinggi yang saling berhadapan satu sama lain terlihat seperti menusuk bidang segitiga utama, pada garis yang membagi lingkaran 8 bagian terdapat tumpukan- tumpukan bidang geometris, seperti laying-layang yang terbentuk dari dua segitiga yang alasnya berhimpitan, segitiga, dan dua buah trapezium dengan panjang alas yang berbeda dan salah satunya alasnya mengikuti bentuk kurva lingkaran. Karya ini berjudul Ada Kalanya, dibuat oleh Anggara Tua Sitompul pada tahun 2009 dengan ukuran kanvas 135 x 135 cm.

Komposisi karya ini cenderung konsentris, memusat, mengingatkan apresiator pada visualisasi mandala, namun lebih mengacu pada mandala dalam konstruksi budaya Celtic. Warna-warna yang terlihat pada karya adalah warna merah, hitam, dan putih (mekipun putih terbentuk dair warna asli kanvas sebagai alas karya). Karya yang tersusun dari komposisi garis-garis yang tersusun rapi dengan kerapatan dan ketebalan yang berbeda menghasilkan ilusi warna-warna tertentu seperti abu-abu dan merah muda. Karya diselesaikan dengan media cukil kayu atau harboard cut yang dicetak dengan tinta hitam dan dengan alas kanvas putih, karya kemudian diselsesaikan dengan sentuhan kuas dengan cat minyak warna merah yang lazim dikenal dengan teknik handcoloring. Diduga bahwa pada proses kresasinya, proses pencukilan matriks dikerjakan dengan sangat hati-hati atau boleh jadi dengan bantuan mesin sehingga mampu menghasilkan sekumpulan garis-garis dengan pola lingkaran dan dengan ketebalan berbeda pada beberapa bagian sehingga menghasilkan ilusi-ilusi bidang yang dibentuk dari garis. Proses cetak yang dilakukan diatas kanvas pun dilakukan dengan amat rapi sehingga menghasilkan ketebalan garis yang konsisten dan sesuai dengan kebutuhan untuk membentuk ilusi. Proses handcoloring pun diselesaikan dengan baik dan amat hati-hati sehingga terbentuk potongan-potongan garis berwarna merah dengan ketebalan yang konsisten dan memnuhi beberapa bidang karya untuk mendukung pengayaan ilusi. Dapat disimpulkan bahwa karya sukses dengan amat baik ini memnuhi kaidah-kaidah teknis pada teknik seni grafis.

Hal menarik yang muncul dalam memaknai karya ini adalah korelasi antara visualisasi karya dengan sifat naratif dari judul karya, Ada Kalanya, Visualisasi karya yang amat formalis dengan segala kaidah bentuknya yang amat mengikat dengan baik mampu menghadirkan sebuah keseimbangan visual, namun kehadiran judul Ada Kalanya boleh jadi menimbulkan sebuah pertanyaan. Bagiaman mungkin sebuah karya formalis dengan segala kaidah bentuknya mampu menarasikan sebuah cerita? Lahirnya pertanyaan tersebut bisa saja dipicu oleh kecenderungan kesadaran konteks dan konsep yang sekiranya harus ada dalam karya seni kontemporer, ketika karya seni dewasa ini dipahami seperti sebuah pernyataan yang boleh jadi menjurus pada

intellectual statement, membutuhkan sebuah pertanggungjawaban dalam setiap proses kreasinya.

Konstruksi sejarah menyatakan bahwa karya seni yang diikat dengan kaidah formalisme selalu berkutat dengan bentuk-bentuk atau form, tidak berpretensi untuk membawa makna-makna yang lebih jauh, dengan tujuan utama untuk menghadirkan pengalaman estetik tertentu yang biasanya baru. Dan karya- karya yang amat naratif biasanya dihadirkan dengan visualisasi realitstis, seperti pada karya-karya realisme sosialis Marxist di negera-negara komunis. Namun, anomaly terbersitnya judul yang amat naratif yang dicoba disampaikan dengan visualisasi formal pada karya ini agaknya memunculkan sebuah paradoks yang unik dan menarik untuk dimaknai lebih dalam.

Pertanyaan tersebut boleh jadi dapat dijwab dengan menjejaki proses kreasi seniman, A. T. Sitompul yang mendapat ilmu seni rupa di ISI Jogjakarta, cenderung bergerak dari sebuah dorongan intuitif yang sifatnya naluriah. Dalam sebuah Artist Talk pameran tunggal beliau di Selasar Sunaryo

ArtSpace dengan tajuk pameran “Dalam Atas”, terungkap bahwa proses kreasi beliau lebih disandarkan pada dorongan-dorongan intuitif yang spontan dan naluriah, pemilihan judul pun seringkali lebih dilatarbelakangi oleh interaksi antara visualisasi karya dengan benak seniman sendiri, yang biasanya dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman pribadi seniman, atau

boleh jadi, karya ini secara objektif agak sulit bercerita kepada apresiator, namun dapat dengan baik dipahami dan dimaknai oleh senimannya sendiri, lebih dikategorikan karya yang subjektif dan personal. Sementara visualisasi karya terlahir dari intensi seniman pada ilusi-ilusi visual yang pada karya ini dibentuk dari sederetan komposisi garis yang amat rapi, dan dan hadirnya pola-pola geometris mandala boleh jadi dipicu berdasarkan proses eksplorasi seniman yang sering berinteraksi dengan kaidah-kaidah geometris yang konsentris, mirip dengan struktur geometris mandala, sehingga diduga adanya kemiripan diantara keduanya, yakni karya diagram geometris ilusif yang dibut oleh A. T. Sitompul dengna struktur geometris mandala dalam konstruksi kebudayaan Buddha. Didukung dengan pernyataan Jung mengenai alam bawah sadar, agaknya cukup lumrah jika karya ini diduga mengacu pada mandala sebagai referensinya, terlebih ketika Jung menyatakan bahwa ada kedekatan alam bawah sadar manusia dengan visualisasi mandala sebagai representasi kosmos.

Ulasan diatas ternyata senada dengan pendapat Sitompul ketika mengutarakan konsep karyanya. Menurutnya, karya ini berisi himbauan kepada masyarakat bahwa seyogyanya segala sesuatu bisa dan akan berubah. Maka dari itu, manusia tidak sepantasnya sombong dengan kemapanan yang didapatkan sekarang, ataupun sebaliknya, jangan kecil hati ketika duka dan lara kian menjelma. Renungan ini kemudian ditampilkan dengan visualisasi yang amat simbolik. Beliau menjelaskan bahwa pada proses kreasinya, beliau memilihih bentukan lingkaran mewakilkan konsep siklus. Dan ketika memasuki prose handcoloring, seniman menggaplikasikan komposisi memutar yang berselingan, kembali untuk mencapai bentukan-bentukan siklus. Sementara kontras antara bidang berwarna merah dan yang dibirakan berwarna putih kanvas adalah metafora bagi perjalanan hidup yang kerap berubah-ubah namun tetap berada dalam sebuah siklus.

Sitompul menyatakan bahwa karyanya tidak merepresentasikan konsep mandala, namun beliau memang tertarik dengan konsep lingakaran yang

menurutnya merupakan bahasa simbolik dari siklus. Karya seni yang dihasilkan Sitompul selama ini selalu lahir dari perenungan yang beliau lakukan atau perasaan-perasaan tertentu yang sedang beliau dapati. Visualiasi yang mirip dengan mandala bisa saja berasal dari ketidaksadaran kolektif yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun beliau memang mengakui bahwa kaidah karya abstrak formalis-nya memang mirip dengan mandala, namun beliau mengakui bahwa konsep mandala masih terlalu luas untuk beliau gunakan sehingga penggunaan konsep simbolik lingakran yang diinterpretasi oleh dirinya sendiri yang kemudian beliau gunakan, yakni konsep lingkaran yang mewakili siklus.

Nilai spiritualitas yang terkandung dalam karya ini lahir dari kontemplasi Sitompul dalam memaknai hidup yang sering menghadirkan kegelisahan- kegelisahan di dalam dirinya. Mirip dengan karya Albert, karya ini berisi himbauan kepada masyarkat yang didahului oleh perenungan-perenungan yang menghasilkan pengalaman spiritual yang personal. Namun berbeda dengan karya sebelumnya, karya ini tidak secara objektif mengacu pada referensi mandala dalam bingkai tradisi, namun lebih terhadap konsep lingkaran yang kemudian diinterpretasi secara bebas oleh Sitompul sendiri. Kemiripan visualisasi karya dengan diagram mandala diduga dikarenakan oleh kedekatan alam bawah sadar manusia dengan mandala, seperti dalam pernyataan Jung sebelumnya.

Dapat disimpulkan bahwa karya ini secara visual mengacu pada struktur mandala, namun secara konsep karya ini tidak menjadikan mandala sebagai referensi. Karya masih terlahir dari kontemplasi, yakni perenungan- perenungan terhadap kehidupan dan keseharian. Konsep mandala yang diadopsi adalah visualisasi dan strukturnya yang berkaitan dengan intensi dan ketertarikan seniman dengan struttur geometris dan ilusi yang terbentuk dari garis.

3.Deden Hendan Durahman

Gambar 4.3 Karya Deden Hendan Durahman, An Introduction to an Ordinary

(Sumber: dokumentasi pribadi)

Mandala diatas terbentuk dari komposisi serangkaian alat-alat kerja yang sering diujmpai dalam keseharian seperti gunting, kancing, gulungan kabel, dan beberapa objek lainnya. Dan seperti acuannya, mandala, karya ini menggunakan pola pengulangan yang khas. Pola yang dipilih adalah pola repetisi 12, dengan bernagkat dari bentuk dasar heksagon (segi enam, dan tiap seginya terdiri dari refleksi dua buah modul). Modul mandala terbentuk dari potongan-potongan (cropping) objek ATK yang sebelumnya saya sebutkan. Karya diberi judul ‘An Introduction to An Ordinary’ , oleh Deden Hendan Durahman.

Karya yang berukuran 120 x 120 cm ini dicetak melalui media digital print,

diatas kertas Hahnemuhle dengan teknik digital imaging, objek mentah karya diperoleh melalui medium fotografi. Warna dominan yang muncul pada karya ini adalah merah, kuning, hitam dan putih, namun juga terdapat sedikit warna biru dan hijau, keseluruhan warna berasal dari warna asli objek stationery, kecuali background yang berwana coklat muda. Struktur mandala pada karya ini memiliki kemiripan dengan struktur cortex (penampang melintang batang pohon) pada tumbuhan berkambium.

Pada karya ini, Deden mencoba untuk menampilkan sebuah paradoks antara sekularitas dan spiritualitas. Mandala, yang berarti lingkaran dalam bahasa Sansekerta, sebagai representasi atas kosmos yang menggambarkan keseimbangan, kesatuan, kontinyuitas, ke-Esa-an, ketidakberakhiran, dll, memiliki nilai spiritualitas yang tinggi. Merupakan sebuah simbol yang diyakini mampu memberikan penafsiran atas alam semesta dalam skala makro maupun mikro secara keseluruhan. Nilai spiritualitas yang tinggi tersebut kemudian dibentuk dari objek-objek profan yang mudah dijumpai dalam sekularitas. Hal ini disinyalir merupakan penekanan Deden akan pemaknaan spiritualitas yang juga dapat dihadirkan mellaui pengalaman-pengalaman keseharian. Objek stationery yang dipilh pun seakan menyiratkan akan pengalaman-pengalaman manusia yang berada dalam lingkup professional yang terinstitusi, dalam sebuah birokrasi, yang bisa ditarik lebih jauh ke dalam ranah kapitalisme yang diwakilkan melalui objek-objek mentahnya. Penggunaan image mentah karya yang berasal dari alat tulis kantor pun seakan-akan berasal dari pengamatannya atas peradaban kontemporer, postmodern, yang lekat dengan banalitas, permukaan, dan kedangkalan makna keidupan, karena masyarakatnya terlanjur dijejali berbagi tontonan sehingga menghilangkan pemaknaan yang mendalam akan realitas, juga semakin menjauhkan diri dari nilai-nilai spiritualitas.

Hal menarik yang dapat ditafsirkan dari karya ini adalah ajakan bagi manusia untuk memaknai keseharian dengan lebih mendalam dengan menggunakan seni bersamaan dengan proses kreasinya. Hal ini semakin ditekankan dengan fenomena seni kontemporer yang meskipun amat plural, membutuhkan sebuah kesadaran, baik secara konteks maupun konsep. Merenungkan melalui riset, dibuktikan dalam kepekaan beliau dalam mengagkat spiritualitas yang kehilanagan kesakralannya, kemudian mengamati sekitar dengan penggunaan referensi, yakni mandala sebagai representasi kosmos, dan pemaknaan yang mendalam melalui pengejewantahan karya, namun disesuaikan dengan semangat zaman yang sedang berkobar pada masanya. Penyesuaian penyamapaian ide nampak pula dari penggunaan media, digital print, selain objek-objek yang dimunculkan. Didahului oleh proses fotografi untuk image

mentah karya, yang kemudian diproses lebih lanjut melalui photo-montage.

Kemudian dicetak diatas kertas Hahnemuhle, untuk memaksimalkan hasil cetak. Kepiawaian beliau peun terlihat dalam mengolah image mentah menjadi mandala sebagai konteksnya.

Karya ini boleh jadi merupakan respon akan absennya nilai spiritual dalam substansi kehidupan yang banal. Meskipun dominasi rasionalitas modernism telah diruntuhkan oleh postmodernisme, manusia tetap dibuat bingung akan ketiadaan institusi yang jelas sebagai acuan hidup yang nyata, semua berhak menentukan, agama pun kehilangan nilai sakralnya dan disetarakan kedudukannya dengan pengetahuan, politik, budaya, dll.

Pernyataan diatas kemudian diamini oleh sang seniman. Beliau mengutarakan bahwa selama ini ketertearikan memang lebih kepada permainan tanda yang memang telah menjadi ciri dari seni rupa postmodern. Permainan tanda seperti ini pernah diutarakan oleh beberapa pemikir filsafat kontemporer seperti Fredric Jameson dan Julia Kristeva. Permainan tanda yang selama ini menjadi ketertarikan beliau kemudian melahirkan sebuah permainan persepsi dan persperktif manusia. Dalam penuturannya, beberapa karya terakhirnya, seperti

pada seri karya corpus, berkutat di walayah antara yang nyata dan yang tidak nyata (real dan unreal), menghadirkan sebuah karya yang bicara mengenai badan tapi sebenarnya bukan badan tapi asosiasinya tetap badan. Pun pada seri

Dalam dokumen Interpretasi Mandala dalam Praktik Seni (1) (Halaman 57-73)

Dokumen terkait