• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ANALISIS KASUS IJIME DALAM

3.2. Analisis Kasus Ijime dalam Bentuk Cuplikan

Cuplikan 1, Jilid 2 :

Kaatsumi yang baru putus dengan Manami memberi selembar peta kepada Ayumu, alamat rumah Manami katanya. Katsumi meminta Ayumu datang ke alamat tersebut dengan alasan bahwa Manami ingin bertemu Ayumu. “Kemarin aku sudah meneleponnya”, demikian ucap Katsumi. Ketika sampai di rumah itu, Katsumi langsung menarik Ayumu ke dalam rumah, memborgolnya, dan menutup mulut Ayumu dengan plester.

Katsumi : Kali ini teman Manami, makin lama makin menggairahkan (sambil menggunting dan melepas seragam Ayumu).

Ayumu : (menangis)

Katsumi : (melihat bekas sayatan di pergelangan tangan Ayumu)

Katakan “tolong jangan bilang, Tuan”

Ayumu : tolong jangan bilang, Tuan. (menangis)

Katsumi : hadap kesini dan tertawa, satu foto lagi. Ayo kalau tidak tertawa kamu tidak bisa pulang lo.. (memfoto Ayumu yang tanpa busana dengan kamera handphonenya)

Analisis

Cuplikan di atas terjadi ketika Ayumu berusaha menyelamatkan hubungan Manami dan Katsumi. Dari cuplikan tersebut kita bisa menganalisis bahwa ditemuka n indikasi telah terjadi ijime di antara teman sekelas, dilihat melalui tindakan Katsumi kepada Ayumu dengan memaksa Ayumu berfoto telanjang dan juga memaksa Ayumu memohon padanya untuk tidak menceritakan kebisaaan buruk Ayumu yang suka menyayat tangan sendiri (Katsumi mengetahuinya ketika menyadari dan melihat bekas-bekas luka sayatan di pergelangan tangan Ayumu). Tindakan tersebut juga memberi kesan peringatan kepada korban untuk tidak berbuat macam-macam.

Cuplikan 2, Jilid 2

Manami yang sedang berbahagia karena telah kembali berpacaran dengan Katsumi mengajak Ayumu makan bertiga bersama Katsumi, Manami memperlihatkan handphone yang diberikan Katsumi kepadanya, Katsumi juga memperlihatkan handphone dengan jenis yang sama, yang digunakan Katsumi saat mengambil foto yang melecehkan Ayumu. Ayumu terkejut dan hanya bisa terdiam. Manami terharu karena diberi handphone yang sama dengan milik Katsumi.

Manami : Tadinya kukira seumur hidup gak bisa ngomong dengan Katsumi lagi.

Manami : katanya ini waterproof (terkejut ketika bercermin,Manami lari ke toilet untuk membersihkan maskaranya). Aku perbaiki sebentar.

Ayumu : jangan menangis Manami.

Katsumi : apa pertama kirim ini dulu (memperlihatkan foto pelecehan Ayumu kepada Ayumu). Fotonya bagus, kan?

Katsumi : mulai saat ini, agar kau nggak menyakiti dirimu sendiri, aku akan sering mengganggumu (menusukkan sumpit di paha Ayumu).

Analisis

Cuplikan di atas terjadi ketika Manami dan Katsumi mengajak Ayumu makan bertiga. Pada cuplikan dan dialog di atas kita dapat melihat bahwa telah terjadi ijime terhadap Ayumu yang dilakukan oleh Katsumi baik secara fisik maupun mental. Secara mental, Ayumu mendapat tekanan dalam setiap kata-kata oleh Katsumi. Katsumi selalu melakukan penekanan atas kata-kata yang keluar dari mulutnya, seperti kata-kata bahwa ia akan sering mengganggu Ayumu. Kata ‘sering’ mengindikasikan ijime karena sesuai dengan ciri ijime, bukan atau tidak dilakukan dengan beerakhir dalam satu kali seperti halnya suatu perkelahian, tetapi dalam masa yang panjang atau berulang-ulang. Dan secara fisik, Katsumi mengijime Ayumu dengan menyakiti ayumu, menusukkan sumpit di paha Ayumu. Ayumu tidak dapat melakukan apa-apa terhadap apa yang telah dilakukan Katsumi terhadapnya, karena sekalipun Ayumu melaporkan perbuatan Katsumi terhadap dirinya tentu saja tidak akan ada yang percaya pada Ayumu. Karena sebagai murid yang paling pintar di sekolah dan mendapat kepercayaan dari para

guru, Katsumi dikenal sebagai anak yang baik dan tidak pernah terlihat melakukan penyimpangan apapun. Hal ini semakin membuat Ayumu tertekan, atas tindakan ijime yang dilakaukan terhadapnya.

Cuplikan 3, Jilid 2

Semua teman Manami menuduh kalau Ayumu menyukai Katsumi. Manami pun mulai tidak menyukai ayumu. Pada saat makan malam,ketika study tour sekolah, Manami dan teman-temannya menyuruh Ayumu memakan semua sisa wortel dan bawang dari piring mereka. Setelah makan mereka meninggalkan Ayumu sendirian untuk mencuci semua piring kotor dengan berbagai alasan. Sedangkan mereka bermain kembang api.

Analisis

Cuplikan di atas terjadi ketika liburan musim panas. Pada cuplikan ini mengandung indikasi adanya ijime kelompok atau shudan ijime, seperti yang dilakukan oleh Manami dan teman-temanya terhadap Ayumu. Walaupun dari cuplikan di atas Manami dan teman-temannya belum secara terang-terangan melakukan ijime terhadap Ayumu. Ketika Manami dan teman-temannya meletakkan sisa makanan mereka semua ke piring Ayumu dan menyuruh Ayumu untuk memakannya, ketika teman-temannya meninggalkan Ayumu untuk mencuci piring kotor sendirian yang seharusnya menjadi tugas mereka bersama, ini merupakan tanda terjadinya shudan ijime. Karena dalam shudan ijime, para pelaku tidak menyukai atau tidak ingin melakukan segala sesuatu berupa

kewajiban di luar apa yang menjadi kewajiban kelompoknya, baik dalam kelompok resmi seperti sekolah, kelas, dan lain sebagainya, maupun kelompok tidak resmi seperti kelompok bermain. Disini, teman-teman Manami menganggap Ayumu bukan bagian dari kelompok mereka.

Cuplikan 4, jilid 3

Salah seorang teman Manami berlari masuk kelas dan bercerita jika dia menapat kabar bahwa Hatori adalah cewek nakal, Hatori juga kerja part time dan dia juga seorang host. Manami dan teman-temannya membenci Hatori karena Hatori membela Ayumu saat mereka meninggalkan Ayumu mencuci semua piring makan malam, Hatori juga menyiram mereka saat mereka bermain kembang api.

Teman Manami 1 : aku yang rajin datang ke sekolah saja cuma punya uang jajan sedikit kayak orang bego. Kamu mau ambil uang Hatori?

Teman Manami 2 : kita ambil saja (membongkar tas Hatori). Dompetnya ketemu! Dengan uang ini kita bisa senang-senang.

Ayumu : kalian salah, dia gak sejahat itu. Kenapa harus Hatori?

Analisis

Cuplikan di atas terjadi ketika baru masuk sekolah setelah libur musim panas. Teman-teman Manami yang masih marah kepada Hatori karena kejadian malam liburan itu, mengejek Hatori karena pekerjaannya sebagai host di klub malam. Dapat kita analisis dari dialog di atas bahwa Manami dan teman-temannya membenci Hatori. Tindakan mereka yang membongkar tas dan mengambil dompet Hatori, adalah merupakan salah satu tindak ijime. Ijime yang disebabkan oleh kekecewaan mereka terhadap Hatori yang tidak sependapat dengan apa yang dilakukan oleh kelompok Manami. Sebagai pihak yang merasa lebih besar kuasanya, Manami dan kawan-kawannya melakukan tindakan yang dapat memuaskan mereka atas kekecewaannya terhadap Hatori yang dianggap lebih lemah. Dalam hal ini Hatori juga sebagai korban ijime atas kelompok Manami.

Cuplikan 5, Jilid 3

Manami dan teman-temannya kembali mengisengi Hatori. Mereka menyembunyikan sepatu Hatori sekaligus untuk menguji kesetiaan Ayumu kepada Manami.

Manami : Hatori nyebelin, kita buat dia lebih menderita!!

Ayumu : (baru masuk kelas dan melihat isi lacinya. Di lacinya ada surat dari Manami dan juga sepatu Hatori yang disembunyikan Manami. Isi suratnya, Manami meminta Ayumu menyimpan sepatu Hatori hari ini)

Hatori masuk kelas tanpa sepatu. Manami dan teman-temannya tertawa.

Pak guru : kakimu apa gak kotor? Apa-apaan penampilan begitu?? Sampai Hatori memakai sepatunya, pelajaran ini takkan Bapak mulai!!!

Teman Manami: cepat pakai, Hatori!!

Tidak lama kemudian Ayumu berdiri dan memberikan sepatu Hatori. Manami dan teman-temannya melihat Ayumu dengan kesal. Selepas pelajaran selesai, Manami menampar Ayumu dan menyebut Ayumu sebagai pengkhianat.

Analisis

Cuplikan di atas terjadi di dalam kelas sewaktu para siswa dan guru hendak memulai pelajaran, dan saat itu Hatori masuk tanpa mengenakan alas kaki. Pada cuplikan di atas kita dapat melihat terjadinya ijime, terbukti dari perlakuan Manami dan temannya terhadap Hatori, karena ini bukan pertama kalinya mereka mempermainkan Hatori. Pada cuplikan di atas juga ditemukan ijime dalam bentuk kekerasan fisik. Berawal dari niat Manami yang ingin menguji kesetiaan Ayumu terhadap Manami dan teman-temannya. Namun karena Ayumu tidak berpihak dengan Manami, bahkan menolong Hatori, Manami pun melakukan kekerasan dengan menampar Ayumu.

Cuplikan 6, Jilid 4

Manami yang mulai curiga karena teman-temannya mengatakan bahwa Ayumu berniat merebut Katsumi darinya, akhirnya membuntuti Katsumi. Dia melihat Katsumi pergi ke rumah Ayumu membawa sebuket bunga. Ternyata ibu Ayumu yang meminta Katsumi untuk menjadi guru privat Ayumu. Katsumi masuk ke kamar Ayumu karena di izinkan oleh ibu Ayumu.

Katsumi : akan kuajarkan macam-macam, juga hal lain selain pelajaran.

Ayumu : aku akan cerita semuanya ke ibu dan orang tuamu, juga ke Manami, semua tentang dirimu!!

Katsumi : nggak akan ada yang percaya ceritamu!! Gimana kalau kita

lakukan sampai selesai??

Katsumi berusaha memperkosa Ayumu, untung saja ibu Ayumu tiba-tiba terbangun karena suara air mendidih. Katsumi akhirnya gagal melakukan niat buruknya.

Analisis

Cuplikan di atas terjadi di rumah Ayumu ketika ibunya mengundang Katsumi untuk menjadi guru privat Ayumu dan memperbolehkan Katsumi masuk ke kamar Ayumu. Katsumi mempergunakan kesempatan ini untuk kembali mengganggu Ayumu, dan ini yang ketiga kalinya Katsumi melakukan pelecehan terhadap Ayumu, bahkan mencoba memperkosa Ayumu di rumah Ayumu sendiri. Katsumi sangat yakin terhadap dirinya. Dia merasa dirinyalah yang lebih kuat dan

berkuasa dan Ayumu hanya seorang gadis yang lemah, yang dapat dipermainkannya sesuka hatinya. Ayumu semakin merasa tertekan bahkan di rumahnya sendiri. Sebenarnya dia juga sudah tidak tahan terhadap perlakuan ijime Katsumi terhadap dirinya. Namun dia tidak percaya diri bahkan terlalu takut untuk menceritakan yang sebenarnya tentang Katsumi karena merasa nantinya dirinyalah yang akan dianggap mengada-ada.

Cuplikan 7, jilid 4

Manami menelepon Ayumu dan memintanya datang ke ruang fisika. Sesampainya di ruang fisika, Manami dan teman-temannya mengunci pintu. Manami yang salah paham terhadap Ayumu menagih janji jari kelingking. “kalau bohong minum seribu jarum”, demikian perjanjian persahabatan mereka kala itu. Ayumu berusaha menceritakan dan menjelaskan ssemua tentang Katsumi, tetapi Manami tetap tidak percaya. Saat Manami tengah berusaha memasukkan jarum ke mulut Ayumu, murid lain sedang menuju ke ruang fisika, lalu Manami dan teman-temannya segera keluar ruangan lewat ruang persiapan.

Analisis

Pada cuplikan di atas terlihat indikasi terjadinya ijime diantara Manami dan Ayumu. Manami melakukan pemaksaan kepada Ayumu untuk menelan seribu jarum hanya karena alasan kecurigaan Manami yang tidak beralasan jelas. Dalam melakukan tindakannya (tindakan yang mengandung unsur ijime), Manami

dibantu oleh teman-temannya. Hal ini tergolong pada shudan ijime atau ijime kelompok (seperti yang ditulis oleh Nojuu Shinsaku).

Cuplikan 8, Jilid 4

Manami yang sudah salah paham terhadap Ayumu akhirnya semakin membenci Ayumu. Manami membuat Ayumu semakin dijauhi dan ditindas oleh ia dan teman-temannya. Ayumu mulai berani secara terang-terangan untuk mengganggu dan mempermainkan Ayumu, bukan Hatori lagi. Manami menulis di sobekan kertas kecil yang berisi pesan singkat “BERIKUTNYA AYUMU” dan membagikan ke teman-temannya. Esok harinya Manami dan teman-temannya meletakkan lem super di bangku dan meja Ayumu sehingga ketika duduk dan akan berdiri kembali menyebabkan rok Ayumu robek. Manami juga membuang buku pelajaran dan kamus Ayumu ke tempat sampah.

Analisis

Dalam cuplikan ini sangat jelas tergambar adanya ijime yang terjadi dengan sangat terencana oleh si pelaku. Selain karena merasa memiliki kekuatan dan kekuasaan, Manami yang kini juga memiliki rasa kebencian yang dalam terhadap Ayumu, mulai benar-benar melakukan tindakan-tindakan yang akan menyakiti Ayumu sebagai korban agar Ayumu merasa tertindas. Ijime yang dilakukan disini bukan sekedar karena ingin mengisengi korban, tapi dengan tujuan ingin korban benar-benar merasa tersakiti dan tertekan atas perbuatannya. Dalam hal ini korban yang bisaa menerima perlakuan ijime tetap dalam keadaan

diam menerimanya tanpa ada perlawanan, menanggapi apa yang dilakukan terhadapnya hanya dengan menangis sendiri bahkan menyakiti dirinya sendiri seperti menyayat-nyayat pergelangan tangannya atau bagian tubuhnya yang lain. Hal ini kerap terjadi pada korban-korban ijime yang sebelum terjadi perlakuan

ijime terhadapnya telah lebih dulu memiliki suatu permasalahan atau tekanan

hidup.

Cuplikan 9, Jilid 4

Manami semakin salah paham dan bertambah kebenciannya terhadap Ayumu ketika mendapati Ayumu sedang berusaha merebut handphone Katsumi dan berusaha membuangnya. Ketika menyadari Manami tengah memperhatikannya, ayumu berusaha menghindar dan sempat menyayat kembali pergelangan tangannya, ia berlari ke ruang kesehatan. Manami dan teman-temannya mengejarnya.

Manami : kemana kamu, Ayumu??

Teman Manami : mungkin dia sembunyi di sekitar situ! Apa dia piker dia bisa kabur?? Aku gak akan puas sebelum menghancurkannya!!

Manami : AKAN KUKEJAR SAMPAI MATI!!!

Ayumu : (keluar dari persembunyiannya dan berlari ke jalan)

Analisis

Cuplikan di atas terjadi ketika Katsumi mengganggu Ayumu dengan mengancam Ayumu bahwa ia akan menunjukkan foto-foto atas pelecehan terhadap dirinya. Dan Ayumu pun takut hal itu terjadi sehingga ia berusaha merebut handphone Katsumi untuk membuangnya. Secara tidak sengaja hal ini dilihat olen Manami dan kelompoknya, Manami pun mencurigai Ayumu sedang berusaha menggoda Katsumi, maka Manami pun bertambah marah. Hal ini membuat Manami semakin ingin menyakiti ayumu, bahkan tidak hanya Manami, teman-teman Manami pun ingin menghancurkan Ayumu, demikian kata mereka. Kalimat Manami berupa “akan kukejar sampai mati”, menggambarkan luapan emosi yang sangat dalam dan mengindikasikan bahwa selanjutnya tindakan ijime yang akan diterima Ayumu akan bertambah parah. Ayumu sebagai korban, yang merasa bahwa ia hanya sebagai pihak yang lemah hanya selalu berusaha menghindar, lari dan menyalahkan dirinya sendiri. Ayumu semakin depresi, hal ini terlihat dari kata-katanya “aku tak bisa jadi kuat”.

Cuplikan 10, Jilid 5

Manami dan teman-temannya melempar meja dan bangku ayumu keluar dari jendela kelas, mereka juga membuang tas Ayumu yang terjatuh di lorong.

Analisis

Pada cuplikan ini, Manami dan teman-temannya masih terus menyakiti Ayumu.

Ijime yang diterimanya di sekolah oleh Manami dan teman-temannya membuat

Ayumu sangat tertekan dan sebenarnya sudah malas bersekolah. Namun karena tidak punya alasan yang bisa dikatakan pada ibunya, ia pun tetap berangkat ke sekolah. Dalam cuplikan ini, Manami kembali melakukan ijime kepada Ayumu dari segi mental. Para pelaku ijime kerap kali melakukan penekanan pada kata-katanya terhadap korban yang mengandung arti bahwa semua ini akan terus berlanjut. Jika tidak mendapat perlawanan dari korban, pelaku akan semakin merasa berkuasa dan akan terus melanjutkan tindakan-tindakan yang tergolong pada tindakan atau perilaku ijime terhadap si korban.

Cuplikan 11, Jilid 6

Manami dan teman-temannya membongkar tas Ayumu dan membuang sebagian isinya. Mereka memeriksa handphonenya dan menghina Ayumu.

Manami : Lihat! Memori hapenya sama sekali tidak ada isinya! Nggak punya teman, ya!! Apa hidupnya senang ya!!!

Ayumu : Kalu orang-orang kayak kalian yang disebut teman, aku gak mau yang begitu. Mending gak punya!!

Ketika terjadi perkelahian, wali kelas mereka datang. Semua teman-teman Manami menuduh Ayumu yang memulai perkelahian. Teman-teman sekelas Ayumu yang lain tidak ada yang membantahnya karena mereka juga tidak ingin berurusan dengan Manami dan kelompoknya. Akhirnya Ayumu dipanggil ke ruang guru.

Analisis

Pada bagian cuplikan ini, Manami sudah melakukan ijime secara fisik, yaitu dengan melemparkan handphone Ayumu ke wajah Ayumu. Ayumu mulai dapat perlakuan ijime baik secara mental juga secara fisik. Dari cuplikan di atas dapat kita lihat bahwa Ayumu sudah mulai melakukan perlawanan, ditandai dengan adanya perkelahian yang terjadi. Hal ini mengindikasikan adanya respon perlawanan dari korban yang merasa tersakiti dan tidak menerima perlakuan buruk yang dilakukan terhadapnya. Hal ini biasanya membuat pelaku ijime menjadi semakin marah dan akan melakukan kembali penindasan secepat mungkin.

Cuplikan 12, Jilid 6

Di depan wali kelas, ibu Toda, Manami dan teman-temannya berpura-pura sudah berbaikan dan kembali akrab dengan Ayumu.

Ibu Toda : berteman memang baik, tetapi sekarang kembali ke bangku kalian masing-masing!

Manami dan teman-temannya kembali ke bangku masing-masing sambil mengembalikan buku Ayumu yang telah mereka tulis “MATI SANA! SIALAN! BODOH!”.

Analisis

Kejadian pada cuplikan di atas terjadi di dalam kelas ketika wali kelas mereka mengajar. Manami dan teman-temannya bersandiwara di depan guru mereka agar mereka terlihat kembali berhubungan baik dengan Ayumu. Ijime terlihat pada kejadian di atas saat Manami meneror Ayumu melalui tulisan dalam buku berupa kata – kata kasar yang mengindikasikan suatu ancaman yang bertujuan agar si korban mengetahui bahwa dengan cara apapun pelaku tidak akan berhenti mengganggu korban. Hal ini adalah yang ke sekian kalinya di terima oleh Ayumu, salah satu ciri ijime, yaitu dilakukan berulang-ulang.

Cuplikan 13, Jilid 6

Manami dan teman-temannya menarik dan setengah menyeret Ayumu yang sedang berjalan ke pojok gedung. Mereka menekan kepala Ayumu dengan pengepel lantai, memaksanya untuk berlutut, dan menyuruh Ayumu meminta maaf. Ayumu yang mencoba melawan dengan pengepel lantai itu terlihat gemetaran. Manami dan teman-temannya melihat kalau Ayumu ketakutan.

Mereka menertawakan Ayumu dan menggulung Ayumu dengan kain besar dan menggelindingkannya di lantai.

Analisis

Kejadian pada cuplikan di atas terjadi ketika Ayumu hendak berjalan ke kamar mandi. Ayumu lagi-lagi menerima perlakuan ijime oleh Manami dan teman-temannya. Kali ini lagi-lagi penyiksaan fisik. Perlakuan kasar Manami tidak hanya menyakiti Ayumu secara fisik, namun kerap kali penyiksaan fisik juga berakibat buruk terhadap mental korban. Ayumu yang sampai gemetaran karena takut menunjukkan hal ini. Namun Ayumu telah mencoba untuk melakukan perlawanan. Selain karena ketakutan, Ayumu juga tidak mampu melawan mereka karena Manami bersama teman-temannya, tentulah tidak seimbang. Di Jepang, ijime memang lebih sering di lakukan dalm bentuk shudan

ijime karena kekuatan pelaku akan lebih besar. Para pelaku memang mencari

korban yang mereka rasa adalah orang yang lemah.

Cuplikan 14 jilid 7 dan 8

Manami yang mulai dinilai jelek di kelasnya, mengajukan permintaan ketika sedang berhubungan intim dengan Akira, seorang temannya yang adalah berandalan. Manami meminta Akira menculik Ayumu dan Hatori. (Ayumu dan Hatori akhirnya berteman baik).

Beberapa hari kemudian, Ayumu yang sedang berjalan menuju ke tempat kerja Hatori tiba-tiba dibius seseorang, saat tersadar ternyata Ayumu sudah disekap

Akira dan teman-temannya di sebuah bangunan bekas rumah sakit. Ayumu diborgol di tempat tidur bekas lalu akira meninggalkannya untuk menculik Hatori. Setelah berhasil menculik Hatori dan mengikatnya di samping Ayumu, Akira dan teman-temannya meninggalkan Ayumu dan Hatori disana.

Beberapa waktu kemudian, Akira dan teman-temannya kembali, Akira memisahkan Ayumu dan Hatori. Akira dan beberapa temannya memperkosa Ayumu dan merekamnya untuk diberikan kepada Manami. Untung saja Hatori berhasil meloloskan diri, lalu Hatori melepaskan Ayumu dan lari meninggalkan Akira. Ayumu dan Hatori meloloskan diri dengan bantuan Yuki.

Analisis

Kejadian pada cuplikan di atas terjadi di sebuah bangunan tua bekas rumah sakit. Berawal dari permintaan Manami kepada Akira, temannya yang berandalan, untuk menculik dan memperkosa Ayumu dan Hatori. Manami juga meminta Akira untuk merekam peristiwa tersebut. Tindak ijime disini semakin tak terkendali. Pelaku sampai melibatkan orang lain untuk menyakiti dan menindas korban atau sasarannya, bahkan sampai berusaha memperkosanya. Hal ini terjadi karena tidak hanya keinginan untuk menindas yang ada pada pelaku, tetapi juga adanya dendam akan masalah pribadi antara pelaku terhadap korban.

Cuplikan 15 jilid 9

Setelah kejadian di gedung tua itu, Ayumu yang sudah masuk sekolah lagi menyadari kalau Manamilah dalang di balik peristiwa yang menimpanya ini. Hal

ini disadari Ayumu dari kata-kata Manami. Namun karena tidak ada bukti nyata dan jelas, maka tidak ada yang percaya padanya. Ketika Ayumu menanyakannya pada Manami, Manami berakting seolah-olah Ayumu memukulnya dengan menabrakkan sendiri dirinya ke jendela kaca. Akibat tipu daya Manami tersebut, sekali lagi Ayumu menjadi sasaran oleh teman Manami bahkan teman-teman sekelas yang lain menjadi berpikiran buruk terhadap Ayumu.

Analisis

Pada cuplikan ini, ijime yang dilakukan adalah dalam bentuk lain, yaitu penipuan dan sandiwara. Dengan liciknya Manami melakukannya. Manami sampai rela melukai dirinya sendiri demi menimbulkan kessan jika Ayumu telah melukainya. Manami bermaksud mengambil simpati orang lain agar orang lain melihat bahwa dialah yang menjadi korban kekerasan oleh Ayumu, Manami berusaha agar orang lain juga membenci Ayumu. Jika dalam melakukan tindak

ijime, ketika pelaku mulai tidak disukai beberapa orang, ia akan membuat apapun

agar orang-orang tersebut berbalik menjadi berpandangan buruk terhaap

Dokumen terkait