• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP IJIME DAN KOMIK 13

2.1.3. Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Ijime

Ada beberapa penyebab kemunculan ijime masa kini yang akhir – akhir ini menjadi masalah besar pada masyarakat Jepang sekarang, yaitu :

1. Berita yang Dimuat di Media Massa

Munculnya berita – berita mengenai masalah ijime yang serius melalui media massa seperti berita dengan misalnya, berita dengan judul : “Ijime. Peristiwa bunuh diri” atau “Peristiwa Pembunuhan Balas Dendam Akibat di

Ijime” dan lain – lain ini memberi kesan kepada para orang tua dan masyarakat

lainnya di Jepang, bahwa pendidikan di jepang sedang mengalami kekacauan. Dengan meluasnya berita tentang ijime ini, kata ijime muncul sebagai istilah yang populer. Bukan populer terhadap kata itu saja, tetapi juga populer di dalam dunia anak – anak, karena melalui acara – acara televisi atau buku cerita bergambar anak, membuat mereka mengenal apa yang disebut ijime. Banyak acara televisi yang dianggap tidak baik dan dapat mempengaruhi dunia anak, antara lain acara yang menyangkut tentang ijime ini.

Morita Yoji dari sebuah universitas swasta di Osaka, adalah salah seorang

yang meneliti tentang ijime. Ia mengatakan bahwa berita – berita di media massa tentang ijime menyebabkan timbulnya masalah masyarakat. Pandangan mengenai baik buruknya media massa memuat berita ijime dikatakannya bahwa ijime sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu. Walaupun ijime itu bukanlah sebuah tindakan yang baik, tetapi bisa ditemui atau bisa ada di dalam segala lapisan masyarakat apa saja.

Kalau diibaratkan sebagai sebuah warna, segala perbuatan yang baik berwarna putih, perbuatan yang buruk berwarna hitam, maka ijime berwarna abu – abu. Tetapi karena semakin meluasnya dan berkembangnya konsep tentang

buruk. (Jidoshinri, Oktober, 1986, dikutip dan diterjemahkan oleh Nojuu, 1989 : 23). Walaupun ijime itu dikatakan bukan suatu perbuatan yang baik, tetapi sebenarnya di dalam dunia anak ijime merupakan proses liku – liku kehidupan anak dalam bermasyarakat. Misalnya, dengan cara berkelahi ia ingin menunjukkan apa yang ada pada dirinya. Ada kalanya ia diijime dan ada kalanya ia mengijime. Bagi anak itu sendiri, melalui ijime ia belajar menyesuaikan diri di dalam masyarakat anak.

2. Pendidikan Sekolah

Sekolah mempunyai fungsi yang amat dan sangat khusus untuk menciptakan makhluk baru yang dibentuk sesuai dengan kebutuhan masyarakat karena sekolah merupakan asosiasi yang lebih luas dari keluarga atau teman – teman. Selain itu sekolah tidak berasal dari hubungan darah, bukan juga dari pilihan bebas, tetapi dari pertemuan secara kebetulan dan tidak dapat dielakkan di antara para murid yang dikumpulkan berdasarkan umur dan berbagai kondisi sosial yang hampir sama (Nojuu, 1989 : 20).

Selain itu sekolah merupakan tempat untuk anak bertindak secara moral, yaitu bertindak dengan cara – cara tertentu yang meliputi konsistensi keteraturan tingkah laku dan wewenang. Yang disebut moral pada dasarnya adalah sesuatu yang bersifat tetap, sejauh kita tidak berbicara mengenai jangka waktu yang tidak terlalu panjang, moral itu akan tetap sama dan tidak berubah (Madubrangti, 1994 : 17).

Terdapat jarak yang besar antara moral ketika anak masih berada bersama keluarga, ketika anak menemukan dirinya dan ketika ia meninggalkan keluarga itu, sekolah dan lingkungannya merupakan sarana yang paling tepat untuk pembentukan moral anak. Ada tiga unsur dalam moral, yaitu disiplin, keterikatan pada kelompok dan otonomi si pelaku. Berarti pembentukan moral anak sekolah dapat dilihat dalam situasi di dalam kelas, karena kelas adalah suatu kelompok kecil, berarti tidak satupun dari anggota kecil ini akan bertindak sebagaimana jika mereka bertindak sendiri – sendiri setiap akan terpengaruh kelompoknya.

Di kelas ada cukup banyak hal – hal yang dapat dipelihara bersama dalam kehidupan kolektif kelas, hal ini untuk membangkitkan rasa solidaritas anak seperti memiliki ide – ide bersama, perasaan bersama dan tanggung jawab bersama.

Sikap anak sekolah di Jepang akhir – akhir ini cenderung untuk tidak menyukai segala sesuatu bentuk – bentuk aturan yang bersifat keharusan, seperti misalnya disiplin atau aturan – aturan yang diwajibkan oleh guru kelas atau kelompok resmi di sekolah. Sehingga anak – anak sekolah di Jepang sekarang dengan adanya semacam tuntutan masyarakat sebagai Gakurekishakai ‘masyarakat beriwayat pendidikan’ (yaitu masyarakat yang menuntut adanya riwayat pendidikan, di mana anak – anak sekolah dituntut untuk mengejar kemampuan ilmu pengetahuannya melalui persaingan belajar). Untuk itu berbagai usaha yang dilakukan oleh guru maupun orang tua antara lain dengan memberikan pelajaran tambahan atau menyuruh anaknya mengambil pelajaran tambahan untuk menghadapi ujian masuk Sekolah Menengah Atas atau Perguruan Tinggi favorit

dalam bentuk persaingan belajar dalam usaha mencapai hensachi (peringkat prestasi belajar).

Kemudian karena sangat banyak peraturan serta tuntutan sekolah yang diberikan oleh sekolah kepada murid, sehingga apabila murid tidak melakukannya sesuai dengan peraturan dan tuntutan tersebut maka ia akan menerima hukuman fisik yang dilakukan oleh gurunya di sekolah maupun oleh orang tuanya di rumah (Madubrangti, 1994 : 18).

Masalah anak sekolah yang sedang hangat dibicarakan orang pada waktu itu yaitu masalah Konaiboryoku (kebrutalan anak di sekolah), yang pada saat itu sedang menjadi pembicaraan hangat di Jepang menjadi tidak begitu menonjol. Tetapi sebenarnya dengan meredanya masalah konaiboryoku di mata masyarakat bukan berarti masalah anak sekolah dapat diatasi sepenuhnya. Konaiboryoku dilakukan oleh anak sekolah sebagai salah satu wujud protes anak terhadap aturan – aturan sekolah yang begitu banyak. Walaupun demikian kebrutalan anak – anak sekolah di Jepang yang akhir – akhir ini kelihatannya sudah semakin berkurang bukan berarti mereka sudah sadar untuk tidak melakukan kebrutalan lagi. Tetapi sebenarnya berkurangnya jumlah kebrutalan anak di sekolah itu karena anak cemas akan semakin bertambah banyak dan kerasnya peraturan – peraturan sekolah apabila ia melakukan kebrutalan di sekolah. Selain itu peraturan – peraturan kecil tentang kehidupan anakpun sudah ditekankan pada anak – anak dengan memberikan hukuman fisik jika aturan itu tidak dipatuhi.

Akibatnya, cara lain yang dilakukan oleh anak untuk menghindari hukuman fisik yang diberikan oleh guru maupun orang tuanya ini, muncul tindakan lain yang dilakukan oleh anak sebagai ungkapan protes di dalam dirinya,

yaitu dengan melakukan tindakan tokokyohi (tidak mau pergi ke sekolah). Selain itu mereka cenderung membentuk semacam kelompok yang bersifat protes dengan cara mengijime seorang teman dari kelompoknya yang dianggap memiliki dikelasnya, oleh karena itu anak yang dijadikan sasaran ijime itu mempunyai kelebihan atau kelainan yang tidak dimiliki oleh mayoritas teman – teman sekelasnya atau anak itu adalah anak yang lemah fisiknya. Ijime semacam ini dilakukan oleh kelompok mayoritas anak – anak sekolah di sekolah yang sama.

3. Lingkungan Keluarga

Cara pendidikan anak tradisional di Jepang dimana ibu secara langsung memeluk dan mengasuh anaknya semakin tidak terlihat akibat adanya perkembangan sarana mendidik anak yang tidak menunjukkan kehadiran ibu untuk turun tangan secara langsung. Hal ini merupakan salah satu hambatan yang mengakibatkan hilangnya hubungan ibu dan anak secara langsung. (Nojuu, 1989 : 69-70).

Yamamura Takeaki dari Universitas Rikkyo menjelaskan bahwa anak lahir

dari sebuah keluarga yang merupakan kelompok paling inti di dalam masyarakat manusia. Di dalam kelompok itulah ia dibesarkan sesuai dengan keberadaan kelompok itu di dalam masyarakat sebagai satu unit kelompok yang lebih besar lagi. Ditekankannya bahwa perkembangan anak di dalam keluarga sudah menunjukkan sifat bermasyarakat dan sifat bermasyarakat yang ada pada anak itu bukan dimulai dari adanya tahap – tahap perkembangan setelah anak itu lahir,

tetapi perkembangan itu sudah ada dengan sendirinya sejak begitu anak dilahirkan oleh ibunya.

Ciri ideal kehidupan keluarga adalah sebuah kehidupan yang dipenuhi kehangatan, kasih sayang, dan sikap saling menghormati. Tetapi kenyataan memperlihatkan bahwa berbagai macam bentuk kekerasan serius terjadi dalam konteks keluarga. Seperti dikemukakan Gelles dalam Anisa (2005 : 34) pada kalimat pembukaan bukunya, “orang – orang di masyarakat lebih mungkin dibunuh, diserang secara fisik, dipukul, dihajar, ditampar, atau ditempeleng oleh anggota keluarganya sendiri, daripada oleh orang lain, di tempat lain”.

Anak – anak yang dianiaya oleh anggota keluarganya mungkin tidak mengungkapkan pengalamannya pada orang lain karena tidak ingin dianggap sebagai pendusta atau pembuat masalah. Karena statusnya sebagai anggota yang relative tak berdaya dalam sistem keluarga, anak paling beresiko menjadi sasaran perilaku agresif orang tua atau anggota keluarga lain yang lebih tua. Seperti dikemukakan Tedeschi, dkk dalam Anisa (2005 : 34) “orang – orang yang amat jarang menggunakan paksaan terhadap orang lain menganggap anak – anaknya sebagai pengecualian.

Orang tua tunggal dan ibu – ibu remaja juga lebih berkemungkinan menganiaya anak – anaknya secara fisik. Begitu juga orang tua yang memiliki masalah penggunaan alkohol dan obat terlarang (Wiehe dalam Anisa, 2005 : 35). Selain itu juga ditemukan bahwa orang tua yang menganiaya anak – anak secara fisik memiliki harapan tidak realistis terhadap kemampuan kontrol diri dan kemandirian anaknya. Kekurangan sumber keuangan dan dukungan sosial juga menjadi pemicu dari kekerasan terhadap anak.

Akibat menderita kekerasan fisik, yang jelas, menderita sakit badaniah akibat tindakan yang dilakukan orang tua merupakan pengalaman yang sangat negatif bagi anak. Dengan demikian tidak mengejutkan bila banyak diantara anak – anak itu mengalami gangguan serius dan berlangsung dalam jangka panjang pada kesehatan psikologis, fungsi dalam hubungan sosial, dan perilaku sosial mereka secara umum. Penilaian diri yang rendah, kecemasan, perilaku merusak diri, ketidak mampuan menjalin hubungan yang saling mempercayai dengan orang lain adalah efek – efek penganiayaan fisik pada masa anak – anak yang lazim dilaporkan (Miller, dkk, 1999 : 65). Pengalaman penganiayaan fisik ini berhubungan dengan lebih tingginya kemungkinan perilaku menyimpang pada anak yang bersangkutan dan meningkat sampai beranjak dewasa, terutama pada remaja laki – laki (Englander, 1997 : 27). Karena tekanan dari orang tua remaja tersebut meluapkannya kepada teman – temannya yang secara fisik berbeda dari yang lain. Ia akan terus melakoni tindak ijime secara terus – menerus.

Sejumlah anak yang diabaikan diperkirakan akan tumbuh menjadi pelaku

ijime yang agresif. Ketiadaan akan perhatian dan kehangatan terhadap anak,

bersamaan dengan contoh perilaku menyimpang di rumah dan pengawasan yang kurang terhadap anak, menyediakan kesempatan yang sempurna akan terjadinya perilaku ijime (Loeber, dkk, 1998 : 53). Contoh perilaku penyimpangan seperti kekerasan fisik dan kekerasan secara lisan orang tua terhadap anak, atau menggunakan kekerasan fisik dan kekerasan, lisan terhadap satu sama lain. Karena anak sering melihat kekerasan yang dilakukan oleh orang tuanya dapat dipastikan bahwa perilaku penyimpangan oleh anak ketika ia beranjak remaja,

maka sebagian ditirunya dari kekerasan yang dilakukan oleh orang tuanya (Jaffe, dkk dalam Anisa, 2005 : 36).

Orang tua yang berpura – pura tidak melihat tabiat buruk anaknya mungkin memanjakan anak dengan cara lain, orang tua memberikan terlalu banyak kasih sayang yang salah. Anak – anak menjadi terhambat perkembangannya. Anak seperti ini lalu terlalu banyak bergantung pada “pengabdian” yang diterimanya di rumah, anak tidak memiliki kepercayaan pada dirinya. Agar diterima dan mendapatkan kasih sayang, anak lalu tidak berbuat apa – apa. Anak setuju saja terhadap apapun yang dikatakan kepadanya. Tetapi dia tidak pernah yakin apakah berbuat benar atau salah, akibatnya lalu menjadi cemas, yaitu selalu merasa takut dan tegang. Baginya dunia merupakan tempat yang menakutkan dan manusia merupakan makhluk hidup yang tidak dapat dipercaya.

Keluarga Jepang saat ini, yang popular di kalangan pekerja kota, biasanya mereka hidup dan tinggal di flat kecil terdiri dari dua kamar tidur dan satu dapur. Tetapi meskipun demikian, perabotan rumah tangganya lengkap dan berupa perabotan listrik. Pada tahun 1960-an mereka hanya menginginkan kulkas, mesin cuci dan alat penyedot debu. Tetapai lama – kelamaan, keinginannya itu meningkat seperti AC, mobil dan TV berwarna. Untuk memenuhi keinginannya ini, biasanya suami istri bekerja. Dalam bahasa Jepang, suami istri yang bekerja disebut Tomokasegi.

Dilain pihak karena terlalu banyaknya menggunakan perabotan elektronik di dalam rumah tangga membuat jam kerja berkurang (terutama untuk istri). Dengan berkurangnya jam kerja, banyak istri yang menganggur. Biasanya para

istri yang menganggur itu menghabiskan waktu senggangnya dengan memusatkan perhatian kepada pendidikan anak. Hal ini dikenal dengan istilah Kyooiku Mama.

Dalam Kyooiku Mama ini, ibu mempunyai peranan yang sangat penting terhadap pendidikan anak. Anak – anak dididik dengan keras dan disiplin yang kuat. Tentu saja hal ini dilakukan demi kebahagiaan anak di masa mendatang, tetapi di lain pihak tanpa disadari mempunyai dampak negatif yang timbul dalam diri si anak yang bersangkutan.

Karena disiplin dan ketatnya jam pelajaran, membuat waktu bermain hampir tidak ada, sehingga anak – anak merasa ditekan. Mereka belajar seakan – akan hanya untuk menyenangkan hati orang tuanya atau juga karena ia merasa takut dimarahi orang tuanya. Perasaan tertekan ini tertimbun dalam diri sianak, meskipun ia melakukan tugas – tugasnya dengan baik. Di dalam rumah anak – anak memang patuh terhadap orang tua tetapi jika ia berada di luar rumah, mereka berontak dan melampiaskan ketegangan mereka dengan melakukan tindakan kekerasan di sekolah (booryoku).

Dampak lain dari Kyooiku Mama adalah timbulnya rasa bersaing dalam diri anak, karena selama ia dididik ibunya selalu menekankna agar anaknya masuk perguruan tinggi no. 1. Perasaan bersaing ini akan terbawa terus, sampai – sampai orang Jepang dijuluki sebagai masyarakat yang tidak bisa lepas dari rasa bersaing (Kyoosho Shakai). Karena memang orang Jepang selalu menerima status orang lain melalui pendidikannya, yang dalam istilah bahasa Jepangnya disebut

Gakureki Shakai.

Banyak suami istri yang bekerja di luar yang berarti meninggalkan anak – anaknya di rumah. Maka timbul masalah yang disebut Kagikko (anak pembawa

kunci). Maksudnya ialah anak diberi tugas membawa kunci rumah dan membukakan pintu jika orang tuanya pulang dari bekerja. Setelah sekolah seorang anak pulang dengan perasaan hampa karena tidak tiada seorang pun yang akan menyambut kedatangannya. Ia hanya ditemani oleh acara - acara TV saja seningga tidak ada pengawasan dari orang tua khususnya ibu karena acara TV terkadang membawa pengaruh negatif terhadap anak. Hal ini juga dapat dianggap sebagai hal – hal yang berkaitan dengan tindakan penyimpangan perilaku remaja Jepang yang dikenal dengan Ijime.

Dokumen terkait