Pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan putusan pada perkara ini telah menggunakan pertimbangan yuridis yang didasarkan pada fakta – fakta yuridis yang telah terungkap dalam persidangan dan oleh Undang – Undang ditetapkan sebagai hal yang harus dimuat dalam putusan misalnya dakwaan JPU, keterangan terdakwa, keterangan saksi, barang – barang bukti, dan pasal – pasal dalam hukum pidana. Berdasarkan putusan nomor : 45/PID/TPK/2014/PT.DKI terdakwa Ir.Heru Sulastyono., selaku Pegawai Negeri Sipil pada Direktorat jenderal Bea dan Cukai berdasarkan SK Nomor KM-33/SJ.2/ UP.2/1993., tanggal 21 Januari 1993, pada kurun waktu antara bulan Nopember2005s.d.Oktober 2011.
Dakwaa PertamaPerbuatan Terdakwadiaturdandiancampidanadalam Pasal12B ayat (1) Undang-undang Nomor20Tahun 2001 TentangPerubahan atas Undang-undang Nomor31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak PidanaKorupsi Jo..Pasal65 ayat(1) KUHP. Perbuatan Terdakwa tersebut diatur dan diancam pidana dalam Pasal 12hurufaUUNo.20tahun2001tentangPerubahan AtasUndang-UndangNomor 31Tahun1999TentangPemberantasan TindakPidana
Korupsi Jo..Pasal65 ayat(1) KUHP. PerbuatanTerdakwatersebutdiaturdandiancampidanadalamPasal
12hurufbUUNo.20tahun2001tentangPerubahan AtasUndang-Undang Nomor31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tentang Perubahan AtasUndang-Undang Nomor31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo.. Pasal 65 ayat (1) KUHP Perbuatan Terdakwa tersebut diatur dan diancam pidana dalam Pasal 11UUNo.20tahun2001tentangPerubahan AtasUndang-Undang Nomor31Tahun1999TentangPemberantasan TindakPidana KorupsiJo.. Pasal65 ayat(1) KUHP. Dakwaan Kedua, Perbuatan Terdakwa
tersebut diatur dan diancam pidana dalam Pasal
11UUNo.20tahun2001tentangPerubahan AtasUndang-Undang Nomor31Tahun1999TentangPemberantasan TindakPidana KorupsiJo.. Pasal65 ayat(1) KUHP.
Dakwaan Ketiga, Perbuatan Terdakwa tersebut diatur dan diancam pidana dalam Pasal 3 ayat (1)hurufa UUNo.25 tahun 2003 tentang TindakPidana PencegahandanPemberantasanTindakPidanaPencucianUang. Perbuatan Terdakwa
tersebut diatur dan diancam pidana dalam Pasal 4 UU No.8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TindakPidanaPencucianUang.
Berdasarkan penerapan pasal mengenai gratifikasi tersebut berarti menegaskan bahwa kasus Ir. Heru Sulastyono als Heru binKuncono merupakan kasus mengenai Gratifikasi. TerdakwaIr.Heru Sulastyono., selaku Pegawai Negeri Sipil pada Direktorat jenderal Bea dan Cukai berdasarkan SK Nomor KM-33/SJ.2/ UP.2/1993., tanggal 21 Januari 1993, pada kurun waktu antara bulan Nopember2005s.d.Oktober 2011atausetidak-tidaknyapadasuatuwaktu antara tahun2005 s.d. tahun2011, bertempat di Puri Kemayoran Jakarta Pusat,diPT.Commonwealth LifeJakartaSelatan,diSerpongTangerang, Banten,dan Kantor Bea dan Cukai Tanjung Priok II Jakarta Utara atau setidak-tidaknyapadasuatu tempat dalam daerah hukum Pengadilan Tindak PidanaKorupsipadaPengadilan NegeriJakartaPusatyang berwenang memeriksadanmengadiliperkaranya,telahmelakukanperbarenganbeberapa
perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-
sendirisehinggamerupakanbeberapakejahatan, telahmenerimagratifikasi berupauang sejumlah Rp.1.902.706.792,-(satu milyar sembilan ratus duajuta tujuh
ratus enamribu tujuh ratus sembilan puluh duaRupiah)atau setidak-
tidaknyasekitarjumlahtersebutdan1(satu) unitmobilGrandisB8328JH warnaSilverMetaliktahunpembuatan2005, sebagaipegawainegeriatau penyelenggara negara dianggap pemberian suap,apabila berhubungan dengan
Hakim dalam membuat suatu keputusan akan menggunakan kontruksi hukum yang tepat dan memenuhi unsur-unsur pembagian pembuktian yang adil dimana terdakwa bukan begitu saja diadili untuk dipojokkan sehingga hak-haknya tidak diperdulikan lagi, hakim dengan pembagian pembuktian ini telah memberi kesempatan pada terdakwa untuk melakukan pembelaan yang logis sebagai bentuk pertimbangan terbalik sehingga nantinya putusan yang dibuat hakim sesuai dengan tuntutan serta pertimbangan yang disusun oleh hakim sebagai bentuki kontruksi hukum yang didukung oleh berbagai fakta dan keadaan serta alat pembuktian yang diperoleh dari pemeriksaan di sidanglah yang akan menentukan kesalahan terdakwa dan hakim dapat dengan tepat memutuskan atas kesalahan yang dilakukan oleh terdakwa.
Tindak pidana Korupsi menurut penulis merupakan Kejahatan Kemanusiaan dan merupakan kejahatan luar biasa untuk itu sewajarnya hukuman yang diberikan kepada koruptor itu adalah hukuman luar biasa juga. Dengan memperhatikan fakta yang terungkap dipersidangan, bahwa Negara dalam hal ini telah dirugikan sebesar Rp.1.902.706.792,-(satu milyar sembilan ratus duajuta tujuh ratus enamribu tujuh ratus sembilan puluh duaRupiah). tidak adil dengan hukuman yang diterima oleh terdakwa, dikarenakan terdakwa secara sadar telah menyalahgunakan wewenang yang dimilikinya, tindak pidana grativikasi yang dilakukan terdakwa terpenuhi yaitu Pasal Pasal 12B UU No. 20 Tahun 2001 adalah:Pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya.
Sesuai dengan Undang Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, adanya unsur kesalahan dari sipelaku dengan meminta serta menerima sejumlah pembayaran yang patut diketahui dan diduga merupakan tindak pidana Gratifikasi, selain itu juga tidak adanya alasan pemaaf. Dasar pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan pidana pada kasus Tindak Pidana Gratifikasi. Hakim mempertimbangkan fakta-fakta yang ditemukan dari keterangan saksi baik saksi ahli dan alat bukti berupa dokumen serta kuitansi, unsur-unsur dari pasal-pasal yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum, serta keyakinan Hakim. Selain dari itu tidak adanya unsur paksaan dalam kasus tersebut sehingga tidak terbukti dan sah hakim membebaskan terdakwa dari tuntutan primair Jaksa Penuntut Umum. Dengan terpenuhinya seluruh unsur - unsur pasal 9 undang-undang RI nomor 31 tahun 1999 Jo. undang-undang RI nomor 20 tahun 2001 tersebut maka dengan dasar hukum itu hakim menatuhkan putusan pidana terhadap pelaku tindak pidana korupsi.
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun saran yang diharapkan sesuai dengan permasalahan tersebut di atas, maka dalam penelitian ini:
1. Pengaturan hukum pidana terhadap tindak pidana korupsi oleh penyelenggara Negara, yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana korupsi beserta revisinya melalui Undang- Undang Nomor 20 tahun 2001, Undang- Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK).
2. Penerepan sanksi pidana terhadap pelaku gratifikasi, sanksi pidana yang
tepat dapat diberikan kepada TerdakwaIr.HeruSulastyonobinKuncono.,terbuktibersalah melakukan
Tindak PidanaKorupsi dan Tindak PidanaPencucian Uang sebagaimanadiaturdandiancampidanadalamPasal 11UUNo.20tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 TentangPemberantasanTindakPidanaKorupsiJo..Pasal65 ayat(1)KUHP sebagaimanaDakwaanPertamaLebihSubsidairLagi,Pasal3ayat(1)huruf aUUNo.25tahun 2003tentangTindakPidanaPencegahandan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana Dakwaan Kedua danPasal3UUNo.8tahun 2010tentangPencegahandanPemberantasan
Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana Dakwaan Ketiga Primair; MenjatuhkanpidanaterhadapTerdakwaIr.HeruSulastyonobinKuncono.,
berupaPidanaPenjaraselama6(enam) tahundengandikurangiselama Terdakwaberadadalam Tahanan Sementara dengan perintah Terdakwa
tetap ditahandiRutan, ditambahdenganDendasebesarRp. 50.000.000,-(lima puluh juta rupiah) Subsidair selama2 (dua) bulan kurungan.
B. Saran
Sehubungan dengan hasil-hasil penelitian yang dikemukakan penulis, maka beberapa rekomendasi yang dapat dikemukakan adalah:
1. Di dalam pengaturan Undang-Undang tindak pidana korupsi sudah banyak mengalami revisi sampai membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Akan tetapi, pengunaan peraturan hukumnya perlu ditingkatkan fungsionalnya dalam memberantas tindak pidana korupsi di Indonesia, sehingga masyarakat dapat mendapatkan hukuman seadil-adilnya.
2. Hakim hendaknya agar selalu cermat dalam melihat suatu kasus korupsi yang dikategorikan kasus besar dan menjadi musuh utama Negara Republik Indonesia, sehingga perlu adanya kecermatan mengingat Pasal 11 dan 12 e Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi memiliki banyak unsur yang berkaitan sehingga diharapkan putusan Hakim dapat memenuhi kepastian hukum, keadilan dan kemanfaatan.