• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Keabsahan Pernikahan Terkait Dengan Perbedaan Wali

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

B. Analisis Keabsahan Pernikahan Terkait Dengan Perbedaan Wali

Nikah Dalam Akta Nikah Dengan Wali Nikah Dalam Akad Nikah

Mengenai keabsahan suatu pernikahan telah diatur dalam Pasal 2 ayat 1 UU No 1 Tahun 1974yang berbunyi: “Perkawinan adalah sah,

apabila dilakukan menurut hukum masing-masing dan kepercayaannya

itu”. Pada penjelasan pasal tersebut dinyatakan: “Dengan perumusan pasal

2 ayat 1 ini, tidak ada perkawinan diluar hukum masing-masing agamanyadan kepercayaannya itu, sesuai dengan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun1945”.“Yang dimaksud dengan hukum

masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu termasuk ketentuan perundang-undangan yang berlaku bagi golongan agamanya dan kepercayaannya itu sepanjang tidak bertentangan atau tidak ditentukan lain dalam undang-undangini”.

Pasal 4 Kompilasi Hukum Islamyang berbunyi: “Perkawinan

adalahsah,apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai dengan pasal 2 ayat 1 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentangPerkawinan”.

57

Berdasarkan ketentuan dalam undang-undang perkawinan secara subtansial dikembalikan kepada ajaran agama masing-masing, atau setidak-tidaknya rumusan formalnya tidak boleh bertentangan dengan ajaran agama. maka dapat ditarik kaidah hukumbahwa sah tidaknya perkawinan ditentukan oleh ajaran agama, bukan oleh undang-undang. Yang memiliki otoritas menentukan sah tidaknya perkawinan adalah Syari’ (pembuat syari‟at), bukan manusia atau kelompok manusia melalui

legislasi ataupun yurisprudensi. Dengan demikian perkawinan yang sah menurut agama maka sah menurut peraturan perundang-undangan.

Namun demikian perkawinan yang belum tercatat tersebut belum memenuhi hukum formil perkawinan karena belum dicatat pada Pegawai Pencatat yang berwenang/belum memiliki bukti Akta Nikah. Oleh sebab itu, meskipun secara materiil perkawinan itu sah tetapi secara formil belum sah, sehingga selamanya dianggap tidak pernah ada perkawinan kecuali jika dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dikeluarkan oleh PegawaiPencatatNikah.

Sebagaimana yang telah dipaparkan penulis dalam bab 2 nikah sirri dipahami sebagai nikah yang sah yang telah terpenuhi syarat rukun nikah sesui hukum Islam, maka bahwasanya kedudukan wali dalam pernikahan anak perempuan hasil nikah sirri mempunyai urutan yang harus dipatuhi oleh semua pihak dan tidak boleh dilanggar tanpa ada persetujuan dari wali sebelumnya yang lebih berhak. Dan dalam pelaksanaan pernikahan anak hasil nikah sirri yang menjadi objek penelitian oleh penulis didapati

58

bahwasanya wali nikah anak hasil nikah sirri ini sesuai dengan perwalian nikah menurut hukum Islam.

Dalam pernikahan yang dilakukan antara Mawardengan Kumbang telah diketahui bahwa pernikahan tersebut telah sesuai dengan hukum Islam, telah terpenuhinya semua syarat dan rukun nikah.Maka pernikahan antara Mawardengan Kumbangtersebut adalah sebuah pernikahan yang sah.

Mengenai Pencatatan Perkawinan diatur dalamPasal 2 ayat 2 UUNo. 1 Tahun 1974yang berbunyi:“Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yangberlaku”.

Pada penjelasan umum UU No 1 Tahun 1974 angka 4 huruf b, dinyatakan bahwa: “Tiap-tiap perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pencatatan tiap-tiap perkawinan adalah sama halnya dengan pencatatan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang misalnya kelahiran, kematian, yang dinyatakan dalam surat-surat keterangan, suatu akta resmi yang juga dimuat dalam daftarpencatatan”.

Pasal 1 ayat 1UU No. 22 Tahun 1946menyatakan: “Nikah yang

dilakukan menurut agama Islam, selanjutnya disebut nikah, diawasi oleh Pegawai Pencatat Nikah yang diangkat oleh Menteri Agama atau pegawai yang ditunjuk olehnya. Talak dan rujuk yang dilakukan menurut agama Islam, selanjutnya disebut talak dan rujuk, diberitahukan kepada Pegawai

59

pasal ini ialah supaya nikah, talak dan rujuk menurut agama Islam supaya dicatat agar mendapat kepastianhukum”.

Pasal 5 ayat 1 Kompilasi Hukum Islam (KHI): “Agar terjamin

ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan

harusdicatat”.Pasal 5 ayat 2 Kompilasi Hukum Islam (KHI): “Pencatatan

perkawinan tersebut pada ayat 1, dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikah sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1946 jo. Undang-Undang No.32/1954”.Pasal 7 ayat 1 Kompilasi Hukum Islam (KHI): “Perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dibuat oleh Pegawai PencatatNikah”.

Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975Pasal 2 ayat 1: “Pencatatan

perkawinan dari mereka yang melangsungkan perkawinannya menurut agama Islam, dilakukan oleh Pegawai Pencatat sebagaimana dimaksudkan dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 1954 tentang Pencatatan Nikah, Talak danRujuk”.

Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975Pasal 11 ayat3: “Dengan

penandatanganan akta perkawinan, maka perkawinan telah tercatat secararesmi”.

Dalam suatu negara yang teratur, segala hal bersangkut paut dengan penduduk harus dicatat, seperti kelahiran, kematian, pernikahan dan sebagainya. sehingga perkawinan perlu dicatat untuk menjaga jangan sampai adakekacauan.

60

Atas dasar pemikiran ini maka kita dapat melihat betapa urgensinya percatatan perkawinan itu. Pencatatatn perkawinan bertujuan agar terwujud adanya kepastian hukum, ketertiban hukum dan perlindungan hukum atas perkawinan itu sendiri. Dengan demikian maka pencatatan perkawinan merupakan persyaratan formil sahnya perkawinan. Persyaratan formil ini bersifat prosedural danadministratif.

Menurut hukum perkawinan di Indonesia, Akta Nikah ini mempunyai 2 (dua) fungsi, yaitu fungsi formil dan fungsi materiil. Fungsi formil (Formalitas Causa), artinya untuk lengkapnya atau sempurnanya (dan bukan untuk sahnya) suatu perkawinan, haruslah dibuat Akta Otentik, yaitu Akta Nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah (pasal 2 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974, pasal 2 ayat (2) UU No. 22 Tahun 1946 dan pasal 7 ayat (1) KHI). Disini Akta Nikah merupakan syarat formil untuk adanya perkawinan yang sah. Fungsi materiil (probationis causa) artinya, Akta Nikah mempunyai fungsi sebagai alat bukti bahwasanya telah terjadi sebuah peristiwa hukum yaitu sebuh pernikahan tersebut.Dengan demikian maka suatu perkawinan yang sah tidak akan sempurna jika tidak dicatat pada Pegawai Pencatat Nikah yang berwenang (Zainuddin, 2006:28)

Pegawai Pencatat Nikah mempunyai tugas dan wewenang untuk mengawasi, membantu dan mencatat perkawinan. Mengawasi artinya menjaga jangan sampai perkawinan itu melanggar ketentuan hukum Islam dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, sehingga perkawinan yang terjadi merupakan perkawinan yang sah baik menurut hukum

61

materiil maupun hukum formil perkawinan. Dengan kata lain memenuhi ketentuan pasal 2 ayat 1 dan ayat 2UU No. 1 Tahun 1974. Untuk itu maka Pegawai Pencatat Nikah diberikan wewenang untuk Memeriksa apakah syarat-syarat perkawinan telah dipenuhi, Mencegah terjadinya perkawinan jika syarat-syarat belum terpenuhi, Menolak dilangsungkannya perkawinan apabila perkawinan itu melanggar ketentuan hukum Islam maupun peraturan perundang-undangan yang berlaku. Membantu artinya memberikan kemudahan dan hal-hal yang diperlukan demi lancarnya pelaksanaan perkawinan. Termasuk disini menjadi wali hakim, mewakili wali dalam akad nikah dansebagainya (Mardjono. 1995:33).

Dengan adanya pencatatan perkawinan maka eksistensi perkawinan secara yuridis formil diakui. Dengan demikian maka suatu perkawinan dianggap sah apabia telah memenuhi dua syarat, yaitu:

1. Telah memenuhi hukum materiil, yaitu dilakukanmemenuhisyarat dan rukun menurut hukum Islam. 2. Telah memenuhi ketentuan hukum formil, yaitu telah

dicatatkan pada Pegawai Pencatat Nikah yangberwenang. Perkawinan yang hanya memenuhi ketentuan hukum materiil tetapi tidak memenuhi ketentuan hukum formil dianggap tidak pernah ada perkawinan atau wujuduhu ka’adamihi. Sedang perkawinan yang telah memenuhi hukum formil tetapi ternyata tidak memenuhi ketentuan secara hukum materiil dapatdibatalkan.

62

Diketahui bahwa wali nikah yang tercatat dalam buku kutipan akta nikah saudari Mawardengan Kumbang adalah tidak sesuai dengan fakta riil yang sebenarnya. Padahal yang bertindak sebagai wali nikah atas saudari Mawar adalah bapak Totok selaku bapak kandung. Namun dalam hal ini KUA mempunyai kewenangan untuk mengadakan pemeriksaan persyaratan, pengawasan dan pencatatan peristiwa nikah yang diatur dalam pasal 2 PMA Nomor 11 Tahun 2007: “Pegawai Pencatat Nikah yang

selanjutnya disebut PPN adalah pejabat yang melakukan pemeriksaan persyaratan, pengawasan dan pencatatan peristiwa nikah/rujuk, pendaftaran cerai talak, cerai gugat, dan melakukan bimbingan

perkawinan”.

Kemudian dalam hal pencatatan perkawinan anak yang terjadi dalam pernikahan Mawardalam buku kutipan akta nikah inipun berdasarkan bukti autentik sebagaimana yang tertulis dalam N-1 (Surat keterangan untuk nikah), N-2 (Surat keterangan tentang asal-usul calon pengantin), N-3 (Surat persetujuan mempelai), dan N-4 (Surat keterangan tentang orang tua) yang didapatkan dari Kantor Kelurahan berdasarkan Kartu Keluarga, KTP, dan buku nikah orang tuanya. Namun KUA memiliki kewenangan sendiri dalam pelaksanaan pernikahan dan pencatatannya agar pernikahan tersebut sesuai dengan Hukum Islam dan pencatatannya sesuai dengan ketentuan Undang-Undang yang berlaku.

Dalam pernikahan yang terjadi antara Mawardengan Kumbang, PPN berusaha agar pernikahan tersebut dapat sejalan dengan Hukum Islam dan

63

undang-undang pernikahan dapat terlaksana.Akibatnya PPN memposisikan pencatatan nikah sebagai syarat administrasi yang dalam pencatatan nikah sesuai dengan undang-undang yang berlaku sesuai pada bukti outentik, namun pernikahan tersebut juga sesuai dengan Hukum Islam.Maka dari situlah mengakibatkan perbedaan wali nikah dalam akta nikah dengan wali nikah dalam akad nikah.

Mengenai perbedaan wali nikah yang tercatat dengan wali nikah dalam akad yang tejadi dalam pernikahan Mawardengan Kumbang terjadi tanpa adanya indikasi kelalaian atau faktor kesengajaan untuk meremehkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, namun dikarenakan faktor-faktor yang disebabkan oleh keterbatasan PPN, menghindari anggapan negatif terhadap KUA yang dianggap mempersulit pencatatan nikah, dan juga karena faktor orang tua Mawar yang menginginkan sebagai wali nikah dalam pernikahan anaknya.

Dengan melihat bahwasanya pelaksanaan perkawinan atas saudari Mawar dengan saudara Kumbang Telah memenuhi hukum materiil, yaitu dilakukan dengan memenuhi syarat dan rukun menurut hukum Islam,dan Telah memenuhi ketentuan hukum formil, yaitu telah dicatatkan pada Pegawai Pencatat Nikah yangberwenang maka pernikahan antara Mawardan Kumbang tersebut ialah pernikahan yang sah.

64 BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada pembahasan sebelumnya, maka pada bab ini penulis memberikan kesimpulan sebagai berikut:

1. Pegawai Pencatat Nikah KUA Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang mencatatkan pernikahan tersebut wali yang digunakan berbeda dengan bukti riil yakni akta-akta autentik yang mempunyai kekuatan hukum. Antara lain alasan-alasan PPN dalam menuliskan akta perkawinan dalam pernikahan Mawar:

a. Bahwa pernikahan yang dilakukan oleh saudari Mawar telah didaftarkan sesuai dengan prosedur yang berlaku dan telah memenuhi syarat- syarat dan rukun pernikahan.

65

b. Tidak di dapati adanya halangan atau larangan untuk kedua calon mempelai melanjutkan niat baik mereka untuk pemenuhan Sunnah Nabi Muhammad SAW melalui pernikahan.

c. KUA adalah pelayan masyarakat yang mengurusi bidang pernikahan, talak, rujuk. KUA tidak bisa memaksakan masyarakat untuk melaksanakan Peraturan-Peraturan yang diatur oleh pemerintah melainkan dibutuhkan proses dan sosialisasi yang cukup waktu dan tempat agar Peraturan tersebut dapat diterima oleh masyarakat.

d. Menghindari munculnya anggapan bahwa pejabat KUA Kecamatan Bandungan hanya ingin mempersulit pencatatan pernikahan.

2. Bahwa pernikahan antaraMawar binti Totok ialah pernikahan yang sah menurut hukum Islam maupun UU No 1 Tahun 1974. Bahwasanya dalam undang-undang perkawinan secara subtansial dikembalikan kepada ajaran agama masing-masing, atau setidak-tidaknya rumusan formalnya tidak boleh bertentangan dengan ajaran agama. Hal ini nampak jelas jika kita baca pasal 2 ayat 1

yang berbunyi: “Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu”. Mengenai perbedaan fakta dan tulisan dalam akad nikah Mawar terjadi karena PPN menghindarimunculnya anggapan bahwa pejabat KUA

66

kecamatan bandungan hanya ingin mempersulit pencatatan perkawinan.

B. Saran-saran

Dengan terselesainya skripsi ini, ada beberapa hal yang menjadi harapan penulis, antara lain :

1. Perlu adanya penyuluhan hukum terhadap masyarakat tentang perkawinan (munakahat), sehingga masyarakat paham betul tentang seluk-beluk perkawinan.

2. Merekomendasikan kepada Kementerian Agama atau Kantor Urusan Agama (KUA) untuk melakukan fungsi pengawasan dengan menggerakkan tokoh agama maupun modin di desa-desa, menganjurkan mengurus buku nikah dan menempuh prosedur sesuai perundang-undangan yang berlaku.

3. Menganjurkan Kementerian Agama (KUA) untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak guna mencegah atau memperkecil terjadinya nikah sirri.

Dokumen terkait