• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERWALIAN ANAK HASIL NIKAH SIRRI( Studi Kasus di Desa Banyukuning Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PERWALIAN ANAK HASIL NIKAH SIRRI( Studi Kasus di Desa Banyukuning Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang)"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

PERWALIAN ANAK HASIL NIKAH SIRRI

(Studi Kasus di Desa Banyukuning Kecamatan Bandungan

Kabupaten Semarang)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Syariah

Disusun oleh:

CHUSAENI RAFSANJANI ASSADAMI

211-10-010

FAKULTAS SYARI’AH

JURUSAN AHWAL AL-SYAKHSHIYYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

(2)

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Lamp : 4 (empat) eksemplar Hal : Pengajuan Naskah Skripsi

Kepada Yth.

Dekan Fakultas Syari‟ah IAIN Salatiga

Di Salatiga

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Disampaikan dengan hormat, Setelah dilaksanakan bimbingan, arahan dan koreksi, maka naskah skripsi mahasiswa:

Nama : Chusaeni Rafsanjani Assadami NIM : 211-10-010

Judul :PERWALIAN ANAK HASIL NIKAH SIRRI(Studi Kasus di Desa Banyukuning Kecamatan BandunganKabupaten Semarang)

dapat diajukan kepada Fakultas Syari‟ah IAIN Salatiga untuk diujikan

dalam sidang munaqasyah.

Demikian nota pebimbing ini dibuat, untuk menjadi perhatian dan digunakan sebagaimana mestinya.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salatiga, 1 Februari 2016

Pembimbing

(3)

iii

PENGESAHAN

Skripsi Berjudul:

PERWALIAN ANAK HASIL NIKAH SIRRI

(Studi Kasus di Desa Banyukuning Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang)

Oleh:

Chusaeni Rafsanjani Assadami NIM : 211-10-010

telah dipertahankan di depan Sidang Munaqasyah Skripsi Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, pada hari , tanggal dan telah dinyatakan memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana dalam Pendidikan Agama Islam.

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA FAKULTAS TARBIYAH

Jl. Tentara Pelajar No.02 Telp.(0298) 323706 Fax 323433 Salatiga 50721

(4)

iv

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Chusaeni Rafsanjani Assadami ` NIM : 211-10-010

Jurusan : Ahwal Al-Syakhshiyyah Fakultas : Syari‟ah

Judul : PERWALIAN ANAK HASIL NIKAH SIRRI (Studi Kasus di Desa Banyukuning Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang)

menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar merupakan hasil karya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip dan dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Bandungan, 3 Februari 2016 Yang menyatakan,

(5)

v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

Sesuatu yang belum dikerjakan, sering kali mustahil. Kita baru yakin

kalau kita telah berhasil melakukannya dengan baik. Berdoa dan berusaha adalah kunci dari keberhasilan.

PERSEMBAHAN

Untuk kedua orang tuaku yang selalu mendo’akanku Untuk Kakek dan Nenekku yang saya hormati

Untuk Adekku yang aku sayang

Untuk saudara-saudaraku tercinta

Untuk teman terbaikku yang memberikan semangat dan do’a

Untuk dosen-dosen IAIN Salatiga yang telah membagi ilmunya

(6)

vi

KATA PENGANTAR

ميحرلا نحمرلا للها مسب

Asslamualaikum wr. wb.

Alhamdulillahirabbil‟alamin. Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita baginda Rasulullah SAW yang selalu kami harapkan syafa‟atnya. Penulis menyadari keterbatasan pengetahuan yang dimiliki, sehingga bimbingan, pengarahan dan bantuan telah banyak penulis peroleh dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada yang terhormat:

1. Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga.

2. Dra. Siti zumrotun, M.Ag. selaku Dekan Fakultas Syari‟ah IAIN Salatiga.

3. Ilya Muhsin,S.Hi., M.Si. selaku Pembimbing Akademik yang telah membimbing penulis dalam perkuliahan.

4. Farkhani, S.H., S.Hi., M.H selaku pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiranya guna membimbing penulis hingga terselesaikannya skripsi ini.

(7)

vii

6. Orang tuaku dan adekku, Bapak Mudakir, Almarhumah Ibu Sukiyari dan

Adek Farida tersayang yang selalu membantu, mendo‟akan dan memberi

dukungan.

7. Kakek dan nenekku yang memberikan do‟a dan dukungan.

8. Teman-teman Jurusan Ahwal Al-Syakhsiyyah angkatan 2010, yang telah memberikan semangat.

9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah berperan dan membantu hingga skripsi ini dapat terselesaikan.

Akhirnya penulis menyadari atas keterbatasan yang dimiliki dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, sehingga masih banyak ditemui kekurangan dan ketidak sempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan. Namun demikian sekecil apapun karya ini, penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menjadi ilmu yang berkah.

Teriring do‟a dan harapan semoga amal baik dan jasa semua pihak

tersebut di atas akan mendapat balasan yang melimpah dari Allah SWT. Amin.

(8)

viii ABSTRAK

Assadami, Chusaeni, Rafsanjani. 2016.Perwalian Anak Hasil Nikah Sirri (Studi Kasus di Desa Banyukuning Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang). Skripsi. Fakultas Syari‟ah. Jurusan Ahwal Al-Syakhshiyyah. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pebimbing: Farkhani, S.H., S.Hi., M.H

Kata Kunci:Perwalian, Anak Hasil Nikah Sirri

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan Pegawai Pencatat Nikah membedakan wali nikah dalam akta nikah dengan wali nikah dalam akad nikah, untuk mengetahui keabsahan sebuah pernikahan jika penulisan akta nikah berbeda dengan kenyataan. Pertanyaan yang ingin dijawab adalah (1) Apa alasan Pegawai Pencatat nikah dalam membedakan pencatatan nikah dalam akta dengan yang sesungguhnya?, (2) Bagaimana keabsahan sebuah pernikahan yang berbeda dalam penulisan akta nikah dengan yang sesungguhnya?.

Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian lapangan (field research) yang dilakukan di Desa Banyukuning Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang. Pelaksanaannya menggunakan metode pendekatan kualitatif diskriptif analisis yang umumnya menggunakan strategi multi metode yaitu wawancara, pengamatan, serta penelaahan dokumen.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah: Prosedur pernikahan Mawar binti Totok dengan Kumbang yang terjadi di KUAKecamatan Bandungan Kabupaten Semarang telah sesuai dengan PMA No 11 Tahun 2007.Bahwa pernikahan antaraMawar binti Totok ialah pernikahan yang sah menurut hukum Islam maupun UU No 1 Tahun 1974. Bahwasanya dalam undang-undang perkawinan secara subtansial dikembalikan kepada ajaran agama masing-masing, atau setidak-tidaknya rumusan formalnya tidak boleh bertentangan dengan ajaran agama. Hal ini nampak jelas jika kita baca pasal 2 ayat 1 yang berbunyi:

“Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama

(9)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN KELULUSAN ... iii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Kegunaan Penelitian ... 6

E. Penegasan Istilah ... 7

F. Metode Penelitian ... 8

(10)

x

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 17

A. Pernikahan... 17

1. Pengertian Nikah ... 17

2. Syarat dan Rukun Nikah ... 18

3. Tujuan dan Hikmah Pernikahan ... 21

B. Perwalian... 24

1. Wali Dalam HukumIslam ... 24

2. Wali Menurut Undang-Undang ... 27

3. Macam-Macam Wali ... 28

C. Peran Wali Dalam Pernikahan ... 34

D. Perpindahan Hak Wali Nikah ... 37

E. Status Pernikahan Sirri ... 38

BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN ... 42

A. Gmbaran Umum Desa Banyukuning Kecamtan Bandungan Kabupaten Semarang... 42

1. Kondisi Geografis ... 42

2. Kondidi Demografi ... 43

B. Gambaran Kasus Penikahan Anak Hasil Nikah Sirri ... 47

C. Alasan PPN Kecamatan Bandungan Mencatatkan Wali Hakim... 51

BAB IV PEMBAHASAN ... 53

A. Analisis Prosedur Pernikahan... 53

B. Analisis Keabsahan Pernikahan Terkait Dengan Perbedaan Wali Nikah Dalamakta Nikah Dengan Wali Nikah Dalam Akad Nikah .. 56

(11)

xi

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin ... 43

Tabel 3.2 Jumlah penduduk Menurut Mata Pencaharian ... 43

Tabel 3.3 Sarana Pendidikan Formal ... 44

(13)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup Lampiran 2 Daftar Nilai SKK Lampiran 3 Lembar Konsultasi

(14)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara seorang laki-laki

dan seorang perempuan sehingga disebut sebagai pasangan suami isteri berdasarkan akad nikah yang diatur menurut hukum Islam dan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan tujuan untuk membentuk

keluarga sakinah, mawwaddah,warrahmahatau dengan ungkapan lain menuju rumah tangga yang bahagia sesuai hukum Islam. Islam

memandang perkawinan bukan hanya semata-mata sebagai hubungan atau kontrak perdata biasa, akan tetapi lebih dari itu disamping kontrak perdata juga mempunyai dimensi aspek “ubudiyah”. Dalam Kompilasi

Hukum Islam di Indonesia ditegaskan bahwa perkawinan merupakan akad yang sangat kuat (mitsaaqon ghalidhan) untuk mentaati perintah

Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah (Suma, 2004:375). Oleh karena itu perkawinan yang bernuansa syarat dengan nilai dan untuk mencapai rumah tangga yang sakinah, mawwaddah,dan rahmahperlu

dilaksanakan secara sempurna sejalan dengan ketentuan hukum yang berlaku agar tercapai maqashid asy-syari’ah.

Prosesi suatu akad perkawinan haruslah memenuhi syarat dan rukun akad. Akad nikah adalah ikatan menurut cara yang sah dalam bentuk ijab yang diikrarkan oleh wali atau wakilnya dan qabul berupa

(15)

2

Agar kuatnya akaddalam perjanjian menurut hukum perdata dapat dibuktikan dengan akta autentik. Dalam akad perkawinan akta nikah

merupakan dokumen resmi yang diterbitkan atau dikeluarkan oleh Pegawai Pencatat Nikah sebagai alat bukti autentik tentang telah

terjadinya suatu peristiwa hukum.

Namun realita dan kenyataannya terkadang pasangan calon pengantin sengaja tidak mencatatkan perkawinannya berdasarkan

peraturan perundang-undangan yang berlaku bahkan sering melalaikannya, sehingga terjadilah perkawinan liar atau kawin dibawah

tangan atau yang sering dikenal dengan nikah sirri.Hal ini terjadi karena kesadaran hukum masyarakat Indonesia masih rendah. Selain itu faktor agama dan ekonomi juga ikut mempengaruhi terjadinya nikah sirri,

ketika masyarakat indonesia yang mayoritas beragama Islam, banyak yang beranggapan bahwa pernikahan cukup dilakukan secara agama

Islam saja, jadi pernikahan yang terjadi tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama (KUA).

Dengan adanya faktor-faktor tersebutlah tindakan untuk melakukan

nikah sirri makin marak dijumpai, baik dari kalangan kelas atas sampai kalangan kelas bawah. Hal tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan

(16)

3

praktek nikah sirri, mereka akan enggan untuk melakukannya. Karena akibatnya akan merepotkan diri sendiri.

Dalam pasal 2 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan bahwa perkawinan yang sah apabila dilakukan menurut

hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya, kemudian tiap tiap perkawinan dicatat menurut peraturanperundang-undangan yang berlaku (Tjittrosudibio, 2008:358). Dari bunyi undang-undang tersebut

maka jelaslah bahwasanya pernikahan harus dicatat menurut undang-undang, sebaliknya jika ada pernikahan yang tidak dicatatkan maka

pernikahan tersebut tidak sah menurut undang-undang bahkan anak yang dilahirkan dari nikah sirri tersebut dianggap tidak sah pula.

Akibat nikah sirri, salah satunyaanak akan menjadi korban, status

anak yang dilahirkan dianggap sebagai anak tidak sah, sehingga dimata hukum tidak memiliki hubungan perdata dengan ayahnya tetapi hanya

memiliki hubungan perdata dengan ibu dan keluarga dari ibunya saja (pasal 42 dan 43 UU No. 1 Tahun 1974 dan pasal 100 KHI). Di dalam akte kelahirannya status anak tersebut dianggap sebagai anak luar nikah,

sehingga hanya dicantumkan nama ibu yang melahirkannya. Keterangan berupa status sebagai anak luar nikah dan tidak tercantumkannya nama si

ayah akan berdampak sangat mendalam secara sosial dan psikologis anak dan ibunya. Hal tersebut jelas dapat mengakibatkan ketidak jelasan status anak dimata hukum. Dari pemaparan tersebut dapatlah disimpulkan

(17)

4

maka yang akan menjadi wali nikahnya di kemudian hari adalah Wali Hakim (Pasal 23 Kompilasi Hukum Islam), karena anak tersebut

dianggap oleh Undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 sebagai anak tidak sah, dan hanya memiliki hubungan perdata dengan ibu dan

keluarga dari ibunya saja.

Aturan perundang-undangan bertentangan dengan Hukum Islam. Dalam hukum Islam, pernikahan dianggap sah apabila memenuhi syarat

dan rukunnikah, antara lain syarat dan rukun tersebut ialah adanya wali nikah, adanya dua orang saksi, mahar, ijab dan qabul (Ramulyo,

1996:51-53). Apabila dari pernikahan tersebut diperoleh anak perempuan maka anak tersebut ialah anak sah dan yang akan menjadi wali nikahnya di kemudian hari adalah wali nasab.

Menurut bapak Jalil seorang yang membantu melaksanakan pernikahan (mudin) di Desa Banyukuning dikarenakan adanya perbedaan

aturan menurut undang-undang maupun menurut Hukum Islam, maka para pejabat dalam hal ini PPN (Pegawai Pencatat Nikah) mengambil kebijakan yaitu apabila ada anak perempuan yang lahir dari hasil nikah

sirri, maka wali nikah dalam praktik akad nikah yaitu wali nasab, namun penulisan dalam akta nikah yaitu wali hakim.

Dari kebijakan PPN inilah kemudian menimbulkan gap atau kesenjangan antara idealitas (seharusnya) dengan realitas (senyatanya). Yaitu apabila wali nikah mempelai wanita dalam akad tersebut ialah wali

(18)

5

bahwa wali nikah mempelai perempuan tersebut ialah wali nasab pula, namun dalam kenyataanya Pegawai Pencatat Nikah(PPN) menulis atau

mencatat dalam akta nikah bahwa pernikahan tersebut wali nikah mempelai wanita ialah wali hakim. Kemudian Berangkat dari latar

belakang masalah inilah penulis tertarik untuk meneliti masalah tersebut ke dalam sebuah skripsi yang berjudul:

Perwalian Anak Hasil Nikah Sirri(Studi Kasus Pencatatan

Wali Nikah di Desa Banyukuning, Kecamatan Bandungan,

Kabupaten Semarang)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dapat dirumuskan permasalahan penelitian ini sebagai berikut:

1. Apa alasn PPN dalam pernikahan yang mencatatkan wali nikah wali hakim namum dalam akad nikah menggunakan wali nasab?

2. Bagaimana keabsahannya sebuah pernikahan apabilawali nikah dalam kenyataan dengan wali nikah yang dicatatkan oleh PPN berbeda?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang hendak dicapai setelah penelitian ini selesai

adalah:

1. Untuk mengetahui alasn PPN dalam pernikahan yang mencatatkan wali nikah wali hakim namum dalam akad nikah menggunakan

(19)

6

2. Untuk mengetahui keabsahan sebuahpernikah apabila wali nikah yang senyatanya dan wali nikah yang tertera dalam akta nikah

berbeda.

D. Kegunaan Penelitian

Manfaat atau kegunaan dari penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu sebagai berikut:

1. Secara Teoritis

Penelitian ini sangat bermanfaat untukmemperkaya wacana

keilmuan khususnya dalam bidang Hukum Islamdan juga menambahbahan pustaka bagi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.

2. Secara Praktis

a. Untuk PPPN(Pembantu Pegawai Pencatat Nikah) dan PPN

(Pegawai Pencatat Nikah), agar dalam melaksanakan pernikahan harus melalui penelitian yang mendalam dalam memilih wali nikah.

b. Untuk Jurusan Syari‟ah, sebagai tambahan referensi dan bahan kajian serta memperkaya wawasan di bidang

(20)

7 E. Penegasan Istilah

1. Perwalian

Yang dimaksud dengan wali secara umum adalah seseorang yang karena kedudukannya berwenang untuk bertindak terhadap

dan atas nama orang lain. Sedangkan wali dalam perkawinan adalah seorang yang bertindak atas nama mempelai perempuan dalam suatu akad nikah(Syarifuddin, 2006:69).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(1989:1007), walidiartikan sebagai pengasuh pengantin perempuan ketika nikah,

yaitu orang yang melakukan janji nikah dengan laki-laki.

Pengertian lain dari wali adalah penguasaan penuh yang diberikan oleh agama kepada seseorang untuk menguasai dan

melindungi orang atau barang (Muchtar, 1974:92).

Dapat disimpulkan bahwa wali dalampernikahan adalah

seseorang yang mempunyai hak untuk menikahkan. 2. Nikah Sirri

Nikah sirri merupakan suatu istilah yang terbentuk dari dua

kata, yaitu nikah dan sirri. Kata nikah merupakan kata serapan dari bahasa arab, yaitu nakaha, yankihu, nikaahan. Menurut Kamus

Besar Bahasa Indonesia nikah atau perkawinan adalah perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami-istri. Dan kata sirri berasal dari bahasa arab yaitu sirran, dan sirriyyun. Secara

(21)

8

batin, atau di dalam hati. Sedangkan kata sirriyyun berarti secara rahasia, secara sembunyi-sembunyi, atau misterius. kata nikah sirri

sebagai kesatuan dari dua kata (nikah dan sirri) yang dalam kalangan umat Islamdi Indonesia sudah populer (Nurhaedi,

2003:5-6).

Dalam pembahasan penulis hanya membahas konsep nikah sirri yang paling banyak dikenal yaitu suatu pernikahan yang

dilakukan berdasarkan cara-cara agama Islam, tetapi tidak dicatat oleh petugas resmi pemerintah, baik oleh Petugas Pencatat Nikah

(PPN) atau di Kantor Urusan Agama (KUA) dan tidak dipublikasikan. Jadi,yang membedakan nikah sirri dengan nikah umum lainya, terletak pada dua hal, yaitu tidak tercatat secara

resmi oleh petugas pemerintah, dan tidak adanya publikasi.

F. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah

penelitian field research (penelitian lapangan) yaitu peneliti terjun langsung ke lapangan guna mengadakan penelitian apa objek

(22)

9

secara menyeluruhmelalui pengumpulan data di lapangan dan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci.

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek

penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivsi, tindakan, dan lain-lain. secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiyah dan

dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiyah (Moleong, 2009:6). Sedangkan dalam penelitian ini penulis menggunakan

pendekatan sosiologis yang digunakan untuk mengetahui bagaimana proses pernikahan anakhasil nikah sirri di Desa Banyukuning, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.

Yang dimaksud denganpendekatan sosiologis adalah melakukan penyelidikan dengan cara melihat fennomena masyarakat

atau peristiwa sosial, politik dan budaya untuk memahami hukum yang berlaku di masyarakat (Soekanto, 1986:4-5).

a. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian ini kehadiran peneliti merupakan hal yang utama dan peting karenaseorang peneliti secara

(23)

10

b. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di wilayah Desa

Banyukuning, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Karena wilayah ini mayoritas penduduknya

beragama Islambahkan dapat dikatakan bahwa hampir 100% penduduk bergama Islamdan masih ada warga yang berstatus nikah sirri.

2. Sumber Data

Data merupakan suatu fakta atau keterangan dari objek yang

diteliti. menurut Lofland dalam Moleong(2007:157), sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen lain (sumberdata

tertulis, foto, dan statistik).Data yang penulis gunakan dalam penulisan skripsi ini meliputi:

a. Data Primer

Sumber dan data jenis penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan subjek serta gambaran expresi, sikap dan pemahaman

dari subjek yang diteliti sebagai dasar utama melakukan interpretasi data. data atau informasi tersebut diperoleh secara

langsung dari orang-orang yang dipandang mengetahui masalah yang akan dikaji, dan bersedia memberi data atau informasi yang diperlukan. Sedangkan untuk pengambilan data dilakukan

(24)

11

memungkinkan dengan bantuan rekaman suara handphone. Sementara itu observasi dilakukan dengan melakukan

pengamatan secara langsung di Desa Banyukuning, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.

1) Data Sekunder

Data sekunder adalah data atau informasi yang diperoleh dari sumber-sumber lain selain data primer.

Datanya buku-buku literatur, internet, majalah atau jurnal ilmiah, arsip, dokumen pribadi, dan dokumen resmi

lembaga-lembaga yang terkait dengan penelitian ini. Data tersebut diantaranya buku-buku referensi. Menurut Mestika Zed (2004:10) buku-buku referensi ialah koleksi buku yang

memuat informasi yang spesifik, paling umum serta paling banyak dirujuk untuk keperluan cepat.

2) Prosedur Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data yang diperlukan, digunakam metode-metode sebagai berikut:

a. Metode Wawancara Mendalam (depth interview)

Dalam metode ini penulis menggunakan teknik

(25)

12

yang langsung pula dari responden (Koentjaraningrat, 1986:138).

Dalam penelitian ini wawancara dikakukan secara mendalam yang diarahkan pada masalah tertentu

dengan cara informan yang sudah dipilih untuk mendapatkan data yang diperlukan. Teknik wawancara yang digunakan ini dilakukan secara tidak terstruktur,

dimana peneliti tidak melakukan wawancara dengan struktur yang ketat kepada informan agar informasi

yang diperoleh memiliki kapasitas yang cukup tentang berbagai asperk dalam penelitian ini.

b. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi adalahmetode pengumpulan data dengan cara membaca dan mengtip

dokumen-dokumen yang ada dan dipandang relevan. Dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku,

peraturan rapat,catatan harian, dan sebagainya (Arikunto, 1989:13).

c. Metode Observasi atau Pengamatan

Metode observasi adalah teknik pengumpulan data dengan pengamatan langsung kepada objek

(26)

13

digunakan untuk mengetahui situasi dan kondisi lingkungan di Desa Banyukuning, Kecamatan

Bandungan, Kabupaten Semarang. Pengamatan ini termasuk juga di dalamnya peneliti mencatat peristiwa

dalam situasi yang berkaitan dengan pengetahuan proporsional maupun langsung diperoleh dari data (Moleong, 2007:174).

d. Metode Analisis Data

Metode analisis data adalah suatu cara

penanganan terhadap objek ilmiah tertentu dengan jalan memilah-milah antara pengertian yang satu dengan yag lain untuk mendapatkan pengertian yang baru. Data

yang berhasil dihimpun akan dianalisis secara kualitatif dengan menerapkan metode berfikir induktif, yaitu

suatu metode metode berfikir yang bertolak dari fenomena yang khusus dankemudian menarik kesimpulan yang bersifat umum (Daymon, 2008:369).

3) Pengecekan Keabsahan Data

Untuk mengetahui apakah data yang telah

dikumpulkan dalam penelitian memiliki tingkat kebenaran atau tidak, maka dilakukan pengecekan data yang disebut dengan validitas data. Untuk menjamin

(27)

14

pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data tersebut untuk keperluan pengecekan atau

sebagai pembanding terhadap data tersebut (Moleong, 2007:330). Validitas data akan membuktikan apakah

data yang diperoleh sesuai dengan apa yang ada di lapangan atau tidak.

a. Tahap-Tahap Penelitian

1) Penelitian pendahuluan

Penulis mengkaji buku-buku yang

berkaitan dengan nikah dan buku lain yang berhubungan dengan pencatatan nikah. 2) Pengambangan Desain

Setalah penulis mengetahuiberbagai hal tentang hukum nikah, kemudian penulis

melakukan observasi ke objek penelitian untuk melihat secara langsung praktek nikah yang mana calon pengantin perempuan ialah

anak hasil nikah sirri di Desa Banyukuning, Kecamatan Bandungan, Kabupaten

Semarang.

b. Penelitian Sebenarnya

Penulis melakukan penelitian dengan cara

(28)

15

secara lebih mendalam tentang kasus yang sebenarnya terjadi mengenaipraktek nikah anak

hasil nikah sirri di Desa Banyukuning, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.

G. Sistematika Penulisan

Dalam menyusun skripsi ini penulis membagi ke dalam beberapa bab dan masing-masing bab mencakup beberapa sub bab yang berisi

sebagai berikut:

a. BAB Imerupakan pendahuluan yang menjelaskan: Latar

belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah, dan metode penelitian yang terdiri dari;pendekatan dan jenis penelitian, waktu

penelitian/kehadiran peneliti, tempat/lokasi penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, metode analisis

data, pengecekan keabsahan data, tahap-tahap penelitian. Dan yang terakhir sistematika penulisan.

b. BAB II kajian puataka menjelaskan pernikahan atau

perkawinan yang meliputi:pengertian perkawinan, tujuan dan hikmah perkawinan, rukun dan syarat perkawinan.Selain itu

dalam bab ini menerangkan mengenai wali dan ruang lingkupnya yang meliputi;dasar Hukum Islam, wali menurut KHI, wali menurut Undang-Undang perkawinan.Kemudian

(29)

16

perkawinan, syarat perkawinan dengan wali hakim, prosedur perkawinan dengan wali hakim.

c. BAB III Hasil penelitian yang terdiri dari gambaran umum objek penelitian, gambaran kasus dan alasan KUA dalam

pernikahan anak hasil nikah sirri yang terjadi di DesaBanyukuning Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang.

d. BAB IV Pembahasan pokok permasalahan dari data hasil temuan-temuan mengenai: Analisis terhadap alasan KUA

Kecamatan Bandungandalam dalam melaksanakan pernikahan anak hasil nikah sirri, analisis terhadap keabsahan nikahdi KUA Kecamatan Bandungan.

e. BAB V Bab ini merupakan bab penutup atau bab akhir dari penyusunan skripsi yang penulis susun. Dalam bab ini

penulis mengemukakan kesimpulan dari seluruh hasil penelitian, saran-saran ataupun rekomendasi dalam rangka meningkatkan pengetahuan tentang hukum-hukum

(30)

17 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pernikahan

1. Pengertian Nikah

Pernikahan merupakan Sunatullah yang umum dan berlaku pada semua makhluk-Nya, sebagai suatu cara yang dipilih oleh

Allah Swt sebagai jalan bagi makhluk-Nya untuk berkembang biak, dan melestarikan hidupnya (Abidin, 1999:9).

Mengenai pengertian pernikahan terdapat beragam pendapat dari para ahli yang menjelaskan tentang pengertian pernikahan. Menurut Al-Mufarraj (2003:5) nikah menurut bahasa ialah

Al-Jam’u dan Al- Dhamu yang artinya kumpul. Makna nikah (zawaj)

bisa diartikan dengan aqdual-tazwij yang artinya akad nikah, juga

bisa diartikan (wath’ual-zaujah) bermakna menyetubuhi istri. Definisi yang hampir sama dengan di atas juga dikemukakan oleh Rahmad Hakim (2000:11), bahwa kata nikah berasal dari bahasa

Arab „nikahun’ yang merupakan masdar atau asal kata dari kata

kerja (fi’ilmadhi) „nakaha’, sinonimnya „tazawaja’ kemudian

(31)

18

Sedangkan menurut imam Syafi‟i, pengertian nikah ialah

suatu akad yang denganya menjadi halal hubungan seksual antara

pria dengan wanita sedangkan menurut arti majazi nikah ialah hubungan seksual (Ibrahim, 1971:65).

Adapun menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 pasal 1, “Nikah ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk

keluarga (rumah tangga), yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” (Tjitrosudibio, 2008:357).

Sedangkan menurut Kompilasi Hukum Islam pernikahan ialah akad yang sangat kuat mitsaaqonghaliizhan untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah (Suma,

2004:375).

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, penulis mencoba

membatasi pengertian pernikahan sebagai ikatan yang bersifat kontrol sosial antara pria dan wanita yang didalamnya diatur mengenai hak dan kewajiban, bersamaan emosional juga aktivitas

seksual, ekonomi dengan tujuan untuk membentuk keluarga serta mendapatkan kebahagiaan dan kasih berdasarkan ketuhanan Yang

Maha Esa.

2. Syarat dan Rukun Pernikahan

Rukun dan syarat menentukan suatu perbuatan hukum,

(32)

19

tersebut dari segi hukum. kedua kata tersebut mengandung arti yang sama dalam hal bahwa keduanya merupakan sesuatu yang

harus diadakan (Syarifuddin, 2006:59). Dalam suatu acara pernikahan rukun dan syaratnya tidak boleh tertinggal, dalam arti

pernikahan tidak sah apabila keduanya tidak ada atau tidak lengkap. Keduanya mengandung arti yang berbeda bahwa rukun adalah sesuatu yang mesti ada yang menentukan sah atu tidaknya

suatu pekerjaan (ibadah) dan sesuatu itu termasuk dalam rangkaian pekerjaan tersebut sedangkan syarat yaitu sesuatu yang mesti ada

yang menentukan sah atu tidaknya suatu pekerjaan (ibadah) tetapi sesuatu itu tidak termasukdalam rankaian dalam pekerjaan tersebut (Hakim, 2000:9).

Dalam hal menempatkan mana yang rukun dan mana yang syarat terdapat perbedan dikalangan ulama yang berbedaan ini

tidak bersifat substansial. Perbedaan diantara pendapat tersebut disebabkan oleh karena berbeda dalam melihat fokus pernikahan tersebut. Semua ulama sependapat dalam hal-hal yang terlibat dan

yang harus ada dalam suatu perkawinan adalah akad perkawinan, calon mempelai laki-laki dan perempuan, wali, saksi, dan mahar

atau mas kawin (Abidin, 1999:68).

Ulama Hanafiyah melihat perkawinan itu dari segi ikatan yang berlaku antara pihak-pihak yang melangsungkan perkawinan

(33)

20

golongan ini hanyalah akad nikah yang dilakukan oleh dua pihak yang melangsungkan perkawinan, sedangkan yang lainya seperti

kehadiran saksi dan mahar dikelompokkan kepada syarat perkawinan (Syarifuddin, 2006:59).

Sedangkan menurut ulama Syafi‟iyah yang dimaksud dengan

perkawinan ialah keseluruhan yang secara langsung berkaitan dengan perkawinan dengan segala unsurnya, bukan hanya akad

nikah itu saja. Dengan begitu rukun perkawinan iu ialah segala hal yang harus terwujud dalam suatu perkawinan yang di dalamnya

terdapat kedua calon mempelai, akad nikah, wali, dua orang saksi. Sedangkan Mahar yang harus ada dalam setiap pernikahan tidak termasuk ke dalam rukun, karena mahar tersebut tidak mesti

disebut dalam akad perkawinan dan tidak mesti diserahkan pada waktu akad itu berlangsung. Dengan demikian mahar termasuk ke

dalam syarat perkawinan (Syarifuddin, 2006:60).

Undang-undang perkawinan dalam hal ini UU No 1 Tahun 1974 sama sekali tidak mencantumkan tentang rukun perkawinan.

Undang-undang perkawinan hanya membicarakan syarat-syarat perkawinan, yang mana syarat-syarat tersebut lebih banyak

(34)

21

1) Harus ada persetujuan dari kedua belah pihak calon mempelai.

2) Usia calon mempelai pria sekurang-kurangnya harus sudah mencapai 19 tahun dan pihak calon mempelai

wanita harus sudah berumur 16 tahun. Tidak terikat tali perkawinan dengan orang lain.

3) Tidak melanggar larangan perkawinan yang diatur

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 pasal 8, pasal 9 dan pasal 10, yaitu larangan perkawinan. yaitu

hubungan sedarah dalam garis keturunan lurus ke bawah, ke atas, ke samping, semenda, dan susunan. 4) Izin dari kedua orang tua bagi calon mempelai yang

belum berumur 21 tahun b. Syarat-syarat Formil yaitu:

1) Pemberitahuan kehendak akan melangsungkan perkawinan kepada pegawai pencatat perkawinan. 2) Pengumuman oleh pegawai pencatat perkawinan.

3) Pelaksanaan perkawinan menurut hukum agama dan kepercayaan masingmasing.

4) Pencatatan perkawinan oleh pegawai pencatat perkawinan.

(35)

22

Perkawinan merupakan syari‟at yang dibawa oleh Rasulullah

Saw yaitu penataan hal ihwal manusia dalam kehidupan duniawi

dan ukhrowi. Nikah disyariatkan oleh Allah bukan tanpa tujuan dan hikmah. Nikah mempunyai beberapa tujuan dan hikmah

yang bermanfaat bagi kehidupan manusia sebagai perwujudan ajaran IslamRahmatanLilAlamin. Ajaran ini tentu akan berimplikasi pada kemaslahatan bagi kehidupan manusia

sepanjang masa dan di manapun tempatnya (Mashalih Li Al-Nas Fi Kulli Al-Zaman Wa Al-Makan).

Adapun tujuan perkawinan sebagaimana disebutkan pasal 3 Kompilasi Hukum Islam, adalah : “Perkawinan Bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang Sakinah, Mawaddah

dan Rahmah”.

Sementara Zakiyah Darajat (1985:64) mengemukakan

bahwa tujuan pernikahan anara lain yaitu mendapatkan keturunan, menyalurkan syahwat dan menumpahkan kasih sayang, memelihara diri dari kejahatan dan kerusakan, dan membangun

rumah tangga untuk membenuk masyarakat yang tentram atas daasar cinta dan kasih sayang.

Adapun hikmah nikah sangatlah banyak. Hikmah-hikmah tersebut sangat besar arti dan manfaatnya bagi kehidupan manusia yang diciptakan Allah secara fitrah terdiri dari

(36)

23

dapat disatukan dalam bahtera rumah tangga. Manusia juga makhluk sosial sehingga dengan mahligai rumah tangga

kehidupan bermasyarakat akan terbangun dengan rapi dan teratur secara damai. Dalam hal ini menarik ungkapan Sayyid

Sabiq dalam Fiqhuss Sunnah (1990:18-21) mengenai hikmah nikah yakni:

a. Sesungguhnya naluri sex merupakan naluri yang

paling kuat dan keras yang selamanya menuntut adanya jalan keluar. Apabila jalan keluar tidak dapat

memuaskannya, maka akan terjadi kegoncangan dan kekacauan yang mengakibatkan kejahatan. Pernikahan merupakan jalan yang terbaik dalam manyalurkan hasrat

seksual. Dengan pernikahan tubuh menjadi lebih segar, jiwa jadi tenang, mata terpelihara dari melihat

yang haram dan perasaan tenang menikmati barang yang halal.

b. Meneruskan keturunan dan memeliharan nasab, karena

dengan pernikahan akan diperoleh nasab secara halal dan terhormat. Ini merupakan kebanggaan bagi individu

(37)

24

c. Meningkatkan rasa tanggung jawab, karena dengan pernikahan berarti masing-masing pihak dibebani

tanggung jawab sesuai dengan fungsi masing-masing. Suami sebagai kepala rumah tangga bertanggung jawab

atas nafkah keluarganya, sedangkan istri bertanggung jawab atas pemeliharaan anak dan pengkondisian rumah tangga menjadi lebih nyaman dan tentram.

d. Membuahkan tali kekeluargaan, memperteguh kelanggengan rasa cinta antar keluarga dan

memperkuat hubungan kemasyarakatan, masyarakat yang saling mencintai dan saling menunjang merupakan masyarakat yang kuat dan bahagia.

Dengan berbagai hikmah di atas jelaslah nikah disyariatkan oleh Allah membawa banyak faidah yang tiada

terhingga. Karena hanya dengan menikahlah manusia dapat terhindar dari kerusakan nafsu kebinatangan dan dapat membangun budaya dan peradaban yang maju penuh dengan cinta

dan kasih sayang.

B. Perwalian

1. Wali Dalam Hukum Islam

(38)

25

(Ma‟luf, 1975:919). Atau kata Al-Wilayah dan Al-Nasrah

(pertolongan) artinya tempat berlindung sesuatu dan perlindungan

terhadap sesuatu (Hudri, 1968:3). Dalam Bahasa Indonesia, perwalian adalah segala sesuatu yang menjadi urusan wali

(Poerwadarminta, 1976:1147).

Sedangkan menurut istilah dalam Kamus Beasar Bahasa Indonesia (1989:1007) "wali" mengandung pengertian orang yang

diserahi mengurus kewajiban anak yatim, sebelum anak itu dewasa secara hukum agama, adat atau pihak yang mewakilkan

pengantin perempuan pada waktu menikah yaitu yang melakukan janji nikah (akad) dengan pengantin pria

Abdurrahman Al-Jaziri (1992:54) mengatakan tentang wali

dalam Al-Fiqh 'Ala Madhabi Al-Arba'ah bahwa Wali dalam nikah adalah yang menentukan sahnya akad nikah, dan tidak sah

nikah tanpa adanya (wali). Oleh karena itu dapat difahami, perwalian adalah kekuasaan melakukan akad dan transaksi, baik akad nikah maupun akad lainnya, tanpa ketergantungan kepada

orang lain.

Subekti (1992:52) mengemukakan perwalian adalah

pengawasan terhadap anak di bawah umur, yang tidak di bawah kekuasaan orang tua, serta pengawasan benda atau kekayaan anak yang diatur oleh undang-undang. Dengan demikian, perwalian

(39)

26

berasal dari Shara‟, untuk melakukan suatu tindakan atau akad

pada orang yang dikuasai dan mempunyai akibat-akibat hukum

(Mughniyah, 2000:345).

Sayyid Sabiq (2004:10) mengatakan, "wali ialah suatu

ketentuan hukum yang dapat dipaksakan kepada orang lain sesuai dengan bidang hukumnya". Al-Kahlani (1976:11) dalam kitab Subulu Al-Salam mengatakan, "wali ialah kerabat terdekat dari

Asabah si calon mempelai perempuan, bukan keluarga Dhawil Arham (keluarga yang mendapat warisan atas nama keluarga).

Para fuqaha membagi perwalian itu menjadi perwalian atas diri pribadi dan atas harta (kekayaan). Perwalian atas diri pribadi dimaksud adalah kekuasaan melakukan akad (perkawinan), tanpa

ketergantungan kepada orang lain. Perwalian atas harta kekayaan ialah kekuasaan atau kewenangan mengurusi akad, berkaitan

dengan harta atau kekayaan, yang dimiliki oleh seseorang di bawah perwaliannya, tanpa ketergantungan kepada orang lain.

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat diambil suatu

pengertian; bahwa wali dalam pernikahan adalah orang yang melakukan akad nikah mewakili pihak mempelai wanita. Karena

wali merupakan syarat sah nikah

Sayyid Sabiq (2004:10) dalam bukunya Fikih Sunnah mengemukakan beberapa persyaratan wali nikah sebagai berikut:

(40)

27

b. Berakal sehat c. Dewasa

d. Beragama Islam

2. Wali Menurut Undang Undang

Masalah wali nikah di Indonesia yang terdapat dalam UU

No.1/1974 tentang perkawinan dan PP No.9/1975 tentang pelaksanaan UU tersebut, ternyata belum didefinisikan secara

eksplisit sebagai syarat dan rukun nikah. Akan tetapi hanya mengisyaratkan bahwa pernikahan yang tidak dihadiri wali atau tidak disetujui oleh wali, maka sebuah akad nikah akan menjadi

gugur (Tjitrosudibio, 2008:545). Pernikahan bisa dicegah oleh wali nasab atau wali pernikahan atau orang yang memberikan

pengasuhan baik kepada perempuan ataupun laki-laki. Jika salah satu pasangan berada di bawah perwalian umum dan perkawinan bisa menyebabkan akibat negatif baginya, maka wali bisa

mencegah terjadinya perkawinan (Tjitrosudibio, 2008:542).

Dalam kedua peraturan tersebut juga disinggung batas

minimal usia nikah 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan, dan harus ada ijin dari orang tua bagi yang belum mencapai umur21 tahun (Tjitrosudibio, 2008:539). Istilah

(41)

28

melainkan lebih pada hubungan antara orang tua atau wali dengan anak ampuannya dalam urusan harta benda (Tjitrosudibio,

2008:551, 553).

Adapun KHI dengan tegas memasukkan wali nikah sebagai

salah satu rukun nikah yang dijelaskan dalam pasal 14:

“Untuk melaksanakan perkawinan harus ada:

a. Calon suami

b. Calon istri c. Wali nikah

d. Dua orang saksi e. Ijab dan qabul.

Selanjutnya, dalam pasal 19 disebutkan: “Wali nikah dalam

perkawinan merupakan rukun yang harus dipenuhi bagi calon

mempelai wanita yang bertindak untuk menikahkannya” (

Al-jazzili, 1992:116-119). Dalam masalah penentuan rukun nikah ini KHI masih terlihat sangat Syafi‟iyyah Oriented. Karenanya bentuk Eklektisme mazhab yang menjadi salah satu tujuan KHI belum

nampak dalam pasal tersebut. 3. Macam Macam Wali

(42)

29

dalam akad nikah). Dibawah ini akan diuraikan lebih lanjut mengenai ketiga macam wali tersebut.

a. Wali Nasab

Yunus (1996:55) menguraikan wali nasab adalah

orang-orang yang terdiri dari keluarga calon mempelai wanita dan berhak menjadi wali. Wali nasab urutannya adalah:

1) Bapak, kakek (bapak dari bapak) dan seterusnya ke atas.

2) Saudara laki-laki kandung (seibu sebapak). 3) Saudara laki-laki sebapak.

4) Anak laki-laki dari saudara laki-laki kandung .

5) Anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak an seterusnya ke bawah.

6) Paman (saudara dari bapak) kandung. 7) Paman (saudara dari bapak) sebapak. 8) Anak laki-laki paman kandung.

9) Anak laki-laki paman sebapak dan seterusnya ke bawah.

Urutan di atas harus dilaksanakan secara tertib, artinya yang berhak menjadi wali adalah bapak, apabila bapak telah meninggal atau tidak memenuhi

(43)

30

bila kakek telah meninggal atau kurang memenuhi syarat yang telah ditentukan, maka wali jatuh kepada

bapaknya kakek dan seterusnya ke atas. Begitulah seterusnya sampai urutan yang terakhir.

Ada beberapa hal yang menjadikan perwalian yang lebih dekat itu dapat digantikan oleh wali yang lebih jauh. Yaitu apabila: Wali yang lebih berhak tidak

ada, wali yang lebih berhak belum baligh, yang berhak menderita sakit gila, wali yang lebih berhak pikun

karena tua, wali yang lebih berhak bisu tidak bisa diterima isyaratnya, wali yang lebih berhak tidak beragama Islam sedangkan wanita itu beragama Islam

(Depag, 1987:1022).Jika wali yang lebih berhak tidak ada, maka yang menggantikannya adalah wali yang

lebih jauh dengan memperhatikan urutan, seperti yang tercantudalam kutipan tersebut. Bila terjadi di luar ketentuan tersebut, maka wali nikah akan jatuh kepada

wali yang lain, yaitu wali sulthan atau hakim.

Talib (1986:65) membagi wali nasab menjandi

dua. Pertama, wali nasab yang berhak memaksa menentukan perkawinan dan dengan siapa seorang perempuan itu mesti kawin. Wali nasab yang berhak

(44)

31

mempunyai hak untuk mengawinkan anak perempuannya, dengan tidak harus meminta izin

terlebih dahulu kepada anak perempuannya, harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu:

1) Tidak ada permusuhan antara wali mujbi dengan anak gadis tersebut.

2) Sekufu' antara perempuan dengan laki-laki

calon suaminya.

3) Calon suami itu mampu membayar

maskawin.

4) Calon suami tidak bercacat yang membahayakan pergaulan dengan dia,

seperti orang buta.

Dengan demikian dapatlah diambil suatu

pengertian bahwa perkawinan dinyatakan sah bila wali mempelai perempuan adalah wali mujbir, dengan ketentuan harus dapat memenuhi persyaratan yang telah

ditentukan. Akan tetapi bila salah satu persyaratan di atas tidak terpenuhi, maka anak perempuan itu dimintai

izin terlebih dahulu sebelum dinikahkan.

Kedua, wali nasab yang tidak mempunyai hak kekuasaan memaksa atau wali nasab biasa, yaitu

(45)

32

saudara laki-laki kandung atau sebapak dari bapak dan seterusnya anggota keluarga laki-laki menurut garis

keturunan patrilineal (garis keturunan ayah).

b. Wali hakim

Wali hakim adalah orang yang diangkat oleh pemerintah untuk bertindak sebagai wali dalam suatu

pernikahan. Wali hakim dapat menggantikan wali nasab apabila:

1. Calon mempelai wanita tidak mempunyai walinasab sama sekali.

2. Walinya mafqud, artinya tidak tentu

keberadaannya.

3. Wali sendiri yang akan menjadi mempelai pria,

sedang wali yang sederajat dengan dia tidak ada. 4. Wali berada di tempat yang jaraknya sejauh

masafah al-Qasri‟ (sejauh perjalanan yang

membolehkan shalat qashar) yaitu 92,5 km.

5. Wali berada dalam penjara atau tahanan yang tidak

boleh dijumpai.

6. Walinya adhal (membangkang, tidak mau menjadi wali)

(46)

33

8. Anak zina atau di luar nikah (dia hanya bernasab dengan ibunya).

9. Walinya gila atau fasiq (Depag. 1998:35)

Apabila terjadi hal-hal seperti diatas, maka wali

hakim berhak untuk menggantikan wali nasab, kecuali apabila wali nasabnya telah mewakilkan kepada orang lain untuk bertindak sebagai wali sehingga orang lain

yang diberikan kekuasaan untuk mewakilkan wali nasabnya berhak menjadi wali. Sesuai dengan

Peraturan Menteri Agama Nomor 30 tahun 2005, yang ditunjuk oleh Menteri Agama sebagai wali hakim adalah kepala KUA Kecamatan.

c. Wali Muhakkam

Wali muhakkam adalah seseorang yang diangkat

oleh kedua calon suami-istri untuk bertindak sebagai wali dalam akad nikah mereka. Orang yang bisa diangkat sebagai wali muhakkam adalah orang lain

yang terpandang, disegani, luas ilmu fikihnya terutama tentang munakahat, berpandangan luas, adil, Islam dan

laki-laki (Ramulyo, 1999:25).

Apabila suatu pernikahan yang seharusnya dilaksanakan dengan wali hakim, padahal di tempat itu

(47)

34

dilangsungkan dengan wali muhakkam. Caranya ialah kedua calon suami-istri mengangkat seorang yang

mempunyai pengertian tentang hukum-hukum untuk menjadi wali dalam pernikahan mereka.

C. Peran Wali Dalam Pernikahan

Terlepas dari perdebatan di kalangan ahli fiqh klasik dan

kontemporer serta perundang undangan. Persoalan wali harus dikembalikan pada tujuan adanya wali dalam pernikahan (peran wali) itu

sendiri. Tentang pentingnya peran wali, dengan merujuk pada Imam

Malik dan Syafi‟i, Quraish menyatakan ”sekiranya wali tidak mempunyai

hak kewalian, maka larangan al-Baqarah (2): 232 tidak ada artinya”.

Terhadap para wali ditujukan al-Baqarah (2): 221, sedang kepada kaum laki-laki juga dinyatakan dalam al-Baqarah (2): 221 (Shihab, 2003:

202-203). Menurut Quraish Shihab, adanya larangan bagi wali atau bekas suami menghalang-halangi wanita yang berada di bawah perwaliannya untuk menikah dengan laki-laki pilihannya bertujuan untuk menunjukkan

pentingnya peran wali dalam sebuah perkawinan (Nasution, 2002:121-122)

Di samping itu, Quraish shihab juga berpandangan bahwa sangat bijaksana untuk tetap menghadirkan wali, baik bagi gadis maupun janda.

Hal tersebut merupakan sesuatu yang amat penting karena “seandainya

(48)

35

dijadikan rujukan. Hal ini sejalan dengan jiwa perintah al-Qur‟an dalam surat an-Nisa‟ (4): 25 yang menyatakan “Nikahilah mereka atas izin

keluarga (wali) mereka”. Walaupun ayat ini turun berkaitan dengan

budak-budak wanita yang boleh dinikahi (Shihab, 2003:203).

Tujuan dan pentingnya peran wali dalam pernikahan Islam harus dikaitkan dengan tujuan dan prinsip pernikahan itu sendiri yaitu terwujudnya keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Sebelum

mencapai tersebut maka tidak seharusnya perkawinan itu dipaksakan seorang wali kepada anaknya. Karena dengan adanya paksaan dan tanpa

disertai musyawarah dalam menentukan calon pasangan anaknya, dikhawatirkan akan tumbuh benih-benih kebencian dan permusuhan antara anak dan orang tuanya yang bisa berimbas pada kandasnya bahtera

rumah tangga. Sehingga tujuan pernikahan dalam mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah akan gagal.

Oleh sebab itu, musyawarah di antara anak dan wali dalam menentukan calon pasangan adalah jalan terbaik. Wali mempunyai pengalaman sangat dibutuhkan untuk memberikan saran-saran

danpemikiran sesuai dengan pengalaman. Sementara perempuan yang akan menjalani kehidupan rumah tangga juga diberikan kebebasan

dengan berdasarkan pada saran-saran dan pertimbangan wali (Nasution, 2002:126).

Adapun nilai-nilai filosofis yang terkandung dari peran wali nikah,

(49)

36

a. Nilai Kemaslahatan, memelihara kemaslahatan dan menjaga hak-hak yang dimiliki oleh orang yang berada di bawah

perwalian.

b. Nilai Persamaan, tidak ada diskriminasi atas dasar jenis

kelamin. Laki laki dan perempuan berhak menjadi wali, begitu juga dengan laki-laki atau perempuan yang akan menikah mempunyai kesempatan yang sama untuk memilih

dan menentukan calon pasangan hidupnya.

c. Nilai Musyawarah. Wali tidak berhak memaksakan

kehendaknya untuk menentukan pasangan hidup bagi sang anak. Keduanya harus bermusyawarah untuk memilih yang terbaik bagi sang anak.

d. Nilai Kebijaksanaan. Untuk menentukan pasangan hidup, amat bijaksana jika sang anak tetap menghadirkan walinya

untuk dimintai pertimbangan. Karena perkawinan itu juga menyatukan dua keluarga.

e. Nilai Kebebasan. Dengan memberi kebebasan pada anak

untuk menentukan calon pasangan hidupnya. Sehingga anak tersebut bisa lebih menghargai dan menghormati walinya

karena diberi kepercayaan untuk menentukan calon pasangannya.

f. Nilai Keadilan. Dengan tidak adanya diskriminasi atas dasar

(50)

37

hidup serta memandang bahwa wali dan anak punya hak dan kewajiban yang berimbang, maka keadilan akan tercapai.

g. Nilai Kesejahteraan. Indonesia merupakan Negara hukum, segala sesuatu yang ada dalam masyarakat diatur dalam

perundang-undangan. Dengan adanya aturan yang terkait dengan wali nikah diharapkan bisa melindungi hak-hak perempuan dan menjamin kesejahteraan masyarakat. Dengan

terpenuhinya nilai-nilai di atas dari peran wali, maka tujuan daripada perkawinan akan mudah terwujud yaitu keluarga

sakinah, mawaddah wa rahmah.

D. Perpindahan Hak Wali Nikah

HakmenjadiWaliNikahterhadap perempuan adalah sedemikianberurutan,sehinggajika masihterdapatWaliNikahyang lebih

dekat maka tidak dibenarkan Wali Nikah yang lebih jauh itu menikahkannya, jika masih terdapat Wali Nasab maka Wali Hakim tidakberhakmenjadiWaliNikah.Dalam urutanWaliNasab,Wali Nikah

yang lebih dekat disebut Wali Aqrab, sedang yang lebih jauh disebutWaliAb'ad,misalnyaayah dankakek,ayahdisebutWali Aqrab

(51)

38

(Junaedi, 2003:111). Hak Wali Nikah dari Wali Aqrab berpindah kepada Wali Ab'ad apabila:

1. Wali Aqrab tidak beragama Islamsedang calon mempelai perempuan beragama Islam.

2. Wali Aqrab orang yang fasiq. 3. Wali Aqrab belumbaligh.

4. Wali Aqrab tidak berakal (gila atau majnun).

5. Wali Aqrab rusak ingatannya sebab terlalu tua atau sebab lain.

E. Status Pernikahan Sirri

Nikah sirri secara etimologi berarti rahasia (Munawir, 1984:667)

atau perbuatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Nikah sirri juga disebut dengan nikah bawah tangan. Istilah pernikahan di bawah

tangan ini lahir setelah UU Perkawinan berlaku, secara efektif tanggal 1 Oktober 1975. Pernikahan dibawah tangan pada dasarnya adalah kebalikan dari pernikahan yang dilakukan secara Undang-undang, dan

pernikaha menurut Undang-undang. Dengan demikian, makna normatifnya adalah setiap pernikahan yang dilakukan tidak menurut

hukum positif, berarti terkatagori pernikahan di bawah tangan (Gani, 1995:47).Sekalipun pernikahan di bawah tangan adalah wujud aplikatif dari ajaran Islam, harus dikaitkan secara langsung dengan kehidupan

(52)

39

Dalam rumusan ulama fikih, nikah sirri ada dua ;

1. Akad pernikahan yang dilakukan tanpa saksi, tanpa publikasi dan

tanpa pencatatan. Para ulama fikih sepakat melarang nikah sirri semacam ini.

2. Akad nikah yang dihadiri oleh para saksi, tetapi mereka diharuskan untuk merahasiakan pernikahan tersebut. Para ahli fikih berbeda pendapat tentang keabsahan nikah sirri semacam ini. Sebagian

ulama, seperti Hanafiyah dan Shafi‟iyah, berpendapat bahwa pesan

agar saksi merahasiakan terjadinya pernikahan tidak berpengaruh

terhadap sahnya akad nikah, sebab adanya saksi telah menjadikan nikah tersebut tidak sirri lagi. Sebagian ulama yang lain, seperti Imam Malik dan ulama yang sepakat dengannya, berpendapat;

bahwa adanya pesan untuk merahasiakan pernikahan telah

mencabut kesaksian dari ruh dan tujuan dishari‟atkannya

pernikahan, yaitu publikasi. Oleh karena itu, maka pernikahan tersebut tidak sah. Sedangkan menurut Hanabilah hukum nikah sirri semacam ini adalah makruh (Zuhaili, 1997:69)

Adapun fakta pernikahan sirri, adalah pernikahan yang sah menurut

ketentuan shari‟at, namun tidak dicatatkan pada Kantor Urusan Agama

(53)

40

Dari aspek pernikahannya, nikah sirri tetap sah menurut ketentuan

shari‟at, dan pelakunya tidak boleh dianggap melakukan tindak

kemaksiyatan, sehingga berhak dijatuhi sanksi hukum, sebab suatu perbuatan baru dianggap kemaksiyatan dan berhak dijatuhi sanksi di

dunia dan di akhirat, ketika perbuatan tersebut terkategori ”mengerjakan

yang haram” dan ”meninggalkan yang wajib”. Seseorang dinyatakan

melakukan kemaksiyatan ketika ia telah mengerjakan perbuatan yang

haram, atau meninggalkan kewajiban yang telah ditetapkan oleh shari‟at. Begitu pula orang yang meninggalkan atau mengerjakan

perbuatan-perbuatan yang berhukum sunnah, mubah, dan makruh, maka orang tersebut tidak boleh dinyatakan telah melakukan kemaksiyatan; sehingga berhak mendapatkan sanksi di dunia maupun di akhirat. Untuk itu,

seorang qadi (hakim) tidak boleh menjatuhkan sanksi kepada orang-orang yang meninggalkan perbuatan sunnah, dan mubah, atau

mengerjakan perbuatan mubah ataupun makruh.

Seseorang baru berhak dijatuhi sanksi hukum di dunia ketika orang tersebut; pertama, meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan

shalat, jihad, dan lain sebagainya; kedua, mengerjakan perbuatan haram, seperti minum khamer dan mencaci Rasul saw, dan lain sebagainya;

(54)

41

Berdasarkan keterangan tersebut, dapat disimpulkan; pernikahan yang tidak dicatatkan di lembaga pencatatan Negara, tidak boleh

dianggap sebagai tindakan kriminal. sehingga pelakunya berhak mendapatkan dosa dan sanksi di dunia, karena pernikahan yang ia

lakukan telah memenuhi rukun-rukun pernikahan yang digariskan oleh Allah swt. Adapun rukun-rukun pernikahan adalah wali, mempelai dua orang saksi dan ijab dan qabul. Jika tiga hal ini telah dipenuhi, maka

(55)

42 BABIII

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

A. Gambaran Umum Desa Banyukuning Kecamatan Bandungan

Kabupaten Semarang

1. Kodisi Geografis

Desa Banyukuning ini letaknya di sebelah barat daya dari

desa-desa yang ada di

KecamatanBandunganKabupatenSemarang.Daridesa-desayangada di wilayah Kecamatan Bandungan, desa tersebut termasuk desa

yang terbesar di Kecamatan Bandungan hal ini terjadikarena Desa Banyukuning mempunyai sebelas dusun dimana antara satu dusun

dengan dusun yang lainya mempunyai jarak antara satu sampai satu setengah kilometer, di samping itu Desa Banyukuning juga mempunyai potensi lahan pertanian yang sangat luas. Letak Desa

Banyukuning Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang adalah dengan batas-batas sebagai berikut:

Sebelah Barat : Desa Sumowono Sebelah Utara : Desa Candi Sebelah Timur : Desa Kenteng

(56)

43

2. Kondisi Demografi

Desa Banyukuningmemiliki wilayah yang cukup luas kira-kira mencapai 754 Ha, sedangkan jumlah penduduknya 2.701 orang dengan perincian sebagai berikut:

a. Menurut Jenis Kelamin Tabel 3.1

Laki laki Perempuan

1.507 1.191

(Sumber: Statistik Desa Banyukuning tahun 2012)

b. Menurut Mata Pencaharian (Bagi Umur 10 Tahun ke Atas)

Tabel 3.2

Mata pencaharian Jumlah

Petani 421

Buruh tani 693

Pengusaha 12

Buruh industri/bangunan 432

(57)

44

PNS 89

Pensiun 50

Lain lain 325

(Sumber: Statistik Desa Banyukuning tahun 2012) c. Keadaan atau Kondisi Pendidikan

DesaBanyukuningdalam pemerintahannyadidukungoleh berbagai sarana dan prasarana pendidikan yang dapat menunjang

kegiatanbelajarmengajardidesa tersebut.Adapunsarana pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut:

Sarana pendidikan formal Tabel 3.3

No Lembaga pendidikan Jumlah

1 TK/RA 7

2 SD/MI 7

3 SMP/MTs 1

(Sumber: Statistik Desa Banyukuning tahun 2012)

Sarana pendidikan non formal Tabel 3.4

(58)

45

1 Majlis Ta‟lim 3

2 TPQ 5

3 Madrasah Diniyah 2

(Sumber: Statistik Desa Banyukuning tahun 2012) d. Keadaan Sosial Keagamaan

Penduduk Desa Banyukuning yang mayoritas beragama Islam setelah melakukan aktifitas sehari-hari dalam rangka

untuk memenuhi kebutuhan hidup untuk keluarga, juga ternyata mereka aktif melakukan kegiatan keagamaan, ini

terbukti dengan banyaknya berdirinya Jam‟iyah atau

pengajian baik itu pengajian ibu-ibu maupun bapak-bapak. Dalam rangka ikut menyemarakkan kegiatan keagamaan para

pemuda juga berperan aktif dengan mendirikan kumpulan pengajian khusus remaja.

Kegiatan seperti ini ditujukan untuk menyeimbangkan antara kebutuhan jasmaniyah dengan rohaniyah karena pada

kegiatan tersebut selalu diiringi dengan ceramah keagamaan oleh para tokoh agama yang sedikitbanyakkegiatansemacamitu

(59)

46

jasmaniyahdenganrohaniyahdiharapkanketenangandalam hidup dapat tercapai.

Berdasarkanobservasiyangpenulis lakukan, terdapat berbagai macam kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh

masyarakat Desa Banyukuning Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarangdan biasanya setiap orang hanya mengikuti satu kelompok pengajian. Berikut bentuk kegiatan

keagamaan yang ada: 1. Barzanji

Kegiatan ini dilakukan oleh para bapak dan ibu serta kelompok remaja yang masing-masing kelompok berasal dari berbagijenismajlista‟lim.Kegiatan ini rutin

dilakukan seminggu sekali sesuai dengan hari yang telah ditentukan. Kegiatan ini di lakukan di rumah

anggota masing-masing sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

2. Tahlil

Pembacaantahliliniumumnyadilakukan

setiapmalam Jum‟at, kemudian ketika ada

syukuran, hajatan pernikahan, khitanan dan kematian.

3. IstighotsahdanpembacaanManaqibSyaikhAbdulQodiral

(60)

47

IstighotsahdanpembacaanManaqibSyaikhAbdulQ odir al-Jaelani ini dilakukan setiap Jum‟at Kliwon,

kegiatan ini merupakanprogram rutinmasyarakatDesaBanyukuningKecamatan

Bandungan KabupatenSemarang dalam rangkapengembangan Dakwah Islamiyah. Kegiatan ini dilakukan secara bergiliran pada

setiapMasjidyangadadiDesa Banyukuning,kegiatannyaberupa

istightosahdanpengajianumum yangdiisiolehulamasetempat,

setelahistighotsahdanpembacaanManaqibSyaikhAbdul

Qodir al-Jilani selesai maka dilanjutkan dengan pengajian yang diisi oleh ulama setempat.

B. Gambaran Kasus PernikahanWanita Hasil Nikah Sirri

Penelitian ini dilakukan terhadap pasangan pelaku nikah sirri yang

mempunyai anak perempuan dan telah menikah yang terdapat di beberapa wilayah di Desa Banyukuning Kecamatan Bandungan Kabupaten

Semarang. Beberapa responden yang ditemui tidak semuanya bersedia memberikan informasi. Responden yang bersedia memberikan informasi tidak semuanya memberi keterangan secara lengkap. Penjelasan yang

(61)

48

pernikahannya adalah pernikahan sirri. Dari beberapa responden hanya ada 1 responden yang penulis anggap cukup memberikan data bagi penelitian

ini. Untuk mendukung akurasi data, peneliti juga melakukan wawancara kepada sejumlah masyarakat, tokoh agama, hakim maupun akademisi.

Kasuspernikahan sirri yang penulis teliti dilakukan oleh Totok (nama samaran) dengan Tatik (nama samaran) warga Desa Banyukuning Rt 03 Rw 01 Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang. Pernikahan

antara keduanya terjadi akibat perjodohan kedua orang tuanya, totok dan tatik menikah ketika mereka masih menimba ilmu agama di pondok

pesantren dan pernikahanya tidak dicatatkan di KUA, setelah mereka menikah Totokdan Tatikkembali ke pondok pesantren selama 3 tahun, kemudian mereka mukim atau pulang ke desanya, keduanya membangun

rumah tangga yang harmonis sebagaimana keluarga pada umumnya. Namun sebelum Totok mencatatkan pernikahanya ternyata telah lahir

seorang anak perempuan yang bernama Mawar (nama disamarkan), setelah beberapa waktu barulah totok mencatatkan pernikahanya di KUA setempat.

Pada usia 24 tahunMawarmenikah dengan laki-laki bernamaKumbang (nama disamarkan)warga Pundung Putih Rt 02 Rw 03.

Adapunakad nikah antara Mawar dengan Kumbangdilaksanakan dengan wali nasab namun dalam akta perkawinan ditulis wali hakim.

Setelah penulis telusuri mendapat keterangan dari bapak Abdul Jalil,

(62)

49

adalah anak hasil nikah sirri yang menurut kedudukanya dianggap sebagai anak luar nikah oleh pihak KUA, yang mana seharusnya anak tersebut

dinikahkan oleh wali hakim. Di sisi lain dari pihak keluarga berpendapat bahwa Mawar adalah anak sah atau dalam kata lain anak yang dihasilkan

dari pernikahan sah menurut Agama Islam yang telah memenuhi syarat rukun nikah menurut Agama Islam, hanya saja pernikahan antara kedua orang tua Mawarsaat itu tidak tercatat di KUA setempat, maka dari itu

anggapan keluarga Mawar seharusnyadinikahkan oleh wali nasab yaitu bapak Totok (hasil wawancara dengan Abdul Jalil tanggal 15 September

2015).

Berdasarkan keterangan yang didapat oleh penulis mengenai proses pendaftaran nikah antara saudara Mawardengan Kumbangdi KUA

Kecamatan Bandungan, dapat diketahui bahwa proses pendaftaran nikah meliputi pemberitahuan kehendak nikah, pemeriksaan nikah, pengumuman

kehendak nikah, akad nikah dan penandatangan akta nikah serta pembuatan kutipan akta nikah sesuai pendaftaran nikah pada umumnya(hasil wawancara dengan Abdul Jalil tanggal 15 September

2015).

Dalam pemeriksaan nikah dalam hal ini memeriksa mengenai wali

nikah, KUA Kecamatan Bandunganmencocokan data keterangan dari KTP Mawar dengan buku nikah orang tua Mawar, diketahui dari keterangan tersebut bahwasanya kelahiran anak tersebut kurang dari 6 bulan terhitung

(63)

50

tuanya, di sinilah pegawaiKUA menyimpulkan bahwasanyaMawar anak hasil luar nikah, kemudian wali nikah saudari Mawar tersebut ialah wali

hakim.

Kemudian dalam prosesi akad nikah penghulu atau PPN memeriksa

ulang persyaratan nikah dan administrasi bagi kedua calon pengantin, wali, dan saksi. namun ketika PPN membacakan mengenai wali nikah saudari Mawar tersebut ialah wali hakim, ternyata salah seorang kerabat

dari Mawar memprotes PPN mengenai wali nikah. Menurut kerabat Mawar seharusnya wali nikah Mawar ialah wali nasab yaitu bapak Totok

yang mana pernikahan antara bapak Totokdengan istrinya ialah sebuah pernikahan yang sah menurut Agama Islam, maka seharusnya nasab dari anak yang dilahirkan ialah orang tua kandung yaitu bapak Totok, namun

kerabat Mawarmengakui bahwa pernikahan Totok saat itu tidak dicatatkan di KUA atau dalam kata lain nikah sirri. Di sisi lain menurut pemeriksaan

dari pihan PPN menyimpulkan bahwa wali nikah Mawar ialah wali hakim hal ini mengacu pada bukti outentik dari pencocokan atara KTP Mawar dengan buku nikah orang tuanya. Di sinilah kemudian timbul sedikit

ketegangan dalam prosesi pernikahan Mawar.

Dalam proses penyelesaian permasalahan di atas PPN meminta agar

dihadirkan saksi-saksi yang menguatkan terhadap pernikahan orang tua Mawar. Setelah saksi-saksi dan orang yang menikahkan Totok dihadirkan oleh kerabat, kemudian PPN menyumpah para saksi dan menanyakan

(64)

51

diketahui memang pernikahan yang dilakuakan orang tua Mawar ialah pernikahan sirri maka seharusnya wali nikah saudari Mawarialah wali

nasab.

Dari keterangan-keterangan yang didapat oleh PPN, kemudian PPN

mengeluarkan kebijakan bahwasanya akad nikah Mawar secara riil atau senyatanya ialah wali nasab, namun dalam akta nikah wali nikah Mawar ialah wali hakim sesuai bukti outentik yang dikumpul di KUA dalam

proses pendaftaran nikah antara Mawar dengan Kumbang.

C. AlasanPPN Kecamatan Bandungan Mencatatkan Wali Hakim

Ketentuan mengenai pencatatan perkawinan menurut syariat Islam

mengikat kepada setiap muslim, dan setiap muslim perlu menyadari bahwa di dalam perkawinan terkandung nilai-nilai ubudiyah, maka

memperhatikan keabsahannya menjadi hal yang sangat prinsipil.

Pernikahan yang disyariatkan oleh Islam mempunyai tujuan yang mulia baik untuk kehidupan umat muslim di dunia maupun di akhirat

nanti, dan demi terwujudnya cita-cita mulia yang diharapkan dapat diraih umat muslim melalui pernikahan tidaklah luput dari aspek pemenuhan

syarat-syarat dan rukun yang berdampak pada keabsahan pernikahan tersebut. Demikian pula halnya dengan pernikahan yang terjadi antara saudari Mawar dengan saudara Kumbangpada tanggal 22 Mei 2012

Gambar

Tabel 3.2 Mata pencaharian  Jumlah
Tabel 3.3 No  Lembaga pendidikan  Jumlah

Referensi

Dokumen terkait

Pendapat Imam Syafi’i dalam persoalan nikah tah}li>l, menyamakan hukum nikah tah}li>l dengan nikah mut’ah hukumnya tidak sah, Menurut pendapat Madzhab Hambali bahwa

Nikah Sirri Yang Dikenakan Denda Jika Melewati 3 adalah: Dalam praktiknya yang terjadi di Desa Ragang Kecamatan Waru Kabupaten Pamekasan dimana mayoritas

Faktor penyebab nikah sirri pada masyarakat Kelurahan Bukit Nenas Kecamatan Bukit Kapur Kotamadya Dumai adalah karena masyarakat memandang bahwa nikah sirri

Hasil penelitian ini adalah (1) Penentuan wali nikah bagi anak perempuan dari hasil luar nikah oleh Kepala KUA Kecamatan Susukan diawali meneliti berkas- berkas atau data

Pernikahan yang seperti ini di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) disebut dengan istilah kawin hamil. Penentuan wali nikah bagi anak perempuan yang dilahirkan

terhadap anak luar nikah tersebut, sama halnya dengan status hukum semua anak yang lahir di luar pernikahan yang sah sebagaimana disebutkan di atas. Wali hakim adalah

Dasar hukum Majlis Hakim dalam mengesahkan status anak hasil nikah sirri dalam perkara ijin poligami No.0030/Pdt.G/2012/PA Amb adalah karena perkawinan adalah

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pandangan hakim terhadap status keperdataan anak di luar nikah dari nikah sirri melalui penetapan asal usul anak di