C. Permasalahan Dan Tantangan Pengembangan Air Limbah i Identifikasi Permasalahan Air Limbah
8.4.1.3. Analisis Kebutuhan Air Limbah a Tingkat Pelayananan
Tingkat pelayanan air limbah / sanitasi untuk Kabupaten Boalemo sampai tahun 2019 perencanaan diharapkan dapat mencapai angka 100 % untuk kawasan perumahan, perkantoran, pariwisata, industri, jasa, perdagangan, simpul-simpul kegiatan lain. Capaian ini dapat dikendalikan dengan mesyaratkan adanya pengelolaan limbah pada saat pengurusan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB).
b. Sistem Pelayanan
Mengingat tingkat kepadatan yang masih tergolong sedang, maka sistem pelayanan air limbah yang diterapkan adalah cara setempat (on site sanitation). Hal ini sejalan dengan program pengembangan untuk kota sedang dan kecil yang disarankan menggunakan pelayanan cara setempat berupa:
Pelayanan pribadi pada rumah tangga dengan menggunakan kakus tipe tangki septik + bidang resapan atau tanpa tanki septik (cubluk). Tingkat pelayanan 1 kakus untuk 1 KK (5 jiwa).
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 66
Fasilitas pelayanan komunal untuk beberapa keluarga diutamakan yang berkepadatan tinggi dan cenderung kumuh seperti di Boalemo, Boalemo Tmur, dan Bulili dengan menggunakan MCK Umum yang dilengkapi dengan fasilitas pembuangan air kotor berupa tangki septik + sumur resapan. Sebaiknya digunakan MCK tipe B (2 WC + 2 kamar mandi + 1 tempat cuci) untu 10 KK (50 jiwa) agar sarana dapat digunakan secara optimal dan efektif.
Fasilitas penyedotan dan pengangkutan lumpur tinja berupa truk tinja, terutama untuk penduduk yang menggunakan sarana jamban keluarga dan MCK Umum yang dilengkapi tangki septik.
Cubluk dapat berupa cubluk kembar atau cubluk tunggal yang sebenarnya sama penggunaannya. Untuk cubluk tunggal, karena pertimbangan biaya, awalnya dibangun satu cubluk, sedangkan pengbangunan cubluk yang kedua dapat ditangguhkan sampai diperlukan. Namun demikian tempat untuk cubluk kedua tersebut harus disediakan dan jangan digunakan untuk bangunan permanen.
Penggunaan cubluk sebaiknya di daerah dengan kepadatan penduduk rendah, muka air tanah rendah dan daya resap tanah tinggi. Karena persyaratan ini tidak sesuai dengan kondisi lokasi studi, maka penggunaan cubluk tidak direkomendasikan.
Pengelolaan air limbah setempat erat kaitannya dengan kelestarian air tanah dan harus memperhatikan keberadaan sumur untuk mencegah pencemaran air sumur atau air tanah. Jarak yang diperbolehkan antara lokasi pembuangan kotoran ini dengan sumber air bersih yaitu 8 – 10 meter.
c. Analisis Kebutuhan
Untuk tahun 2015 dimana jumlah penduduk sudah mencapai 155.008 jiwa, jika ratio pelayanan yang diharapkan tetap 60 %, maka layanana akan mencakup jiwa. Bila pemakai MCK Umum tetap pada angka 2 %, maka dibutuhkan MCK Umum Type B sebanyak 30 unit.
Untuk lumpur tinja, pada tahun 2015 diperkirakan akan diproduksi sebanyak 21.53 m3)
lumpur tinja. Dengan demikian, bila tingkat pengurasan mencapai 80 % maka pada tahun itu Kabupaten Boalemo masih membutuhkan sebuah truk tinja dengan kapasitas 4 m3 yang
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 67 8.4.1.4. Program dan Kriteria Kesiapan Pengembangan Air Limbah
a. Program Pembangunan Prasarana Air Limbah Sistem Setempat (on-site) dan Komunal Kriteria kegiatan infrastruktur air limbah sistem setempat dan komunal
Kriteria Lokasi
Kawasan rawan sanitasi (padat, kumuh, dan miskin) di perkotaan yang memungkinkan penerapan kegiatan Sanitasi berbasis masyarakat (Sanimas);
Kawasan rumah sederhana sehat (RSH) yang berminat.
Lingkup Kegiatan:
Rekruitmen dan pembiayaan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) untuk kegiatan Sanitasi Berbasis Masyarakat;
Pelatihan TFL secara regional termasuk refreshing/coaching;
Pengadaan material dan upah kerja untuk pembangunan prasarana air limbah (septik tank komunal, MCK++, IPAL komunal);
TOT kepada Tim Pelatih Kabupaten untuk dapat melaksanakan pelatihan KSM/mandor/tukang dan pemberdayaan masyarakat;
Pembangunan jaringan pipa air limbah dan IPAL untuk kawasan RSH
Membangun/rehabilitasi unit IPLT dan peralatannya dalam rangka membantu pemulihan atau meningkatkan kinerja pelayanan;
Sosialisasi/diseminasi NSPM pengelolaan Sanitasi Berbasis Masyarakat dan pengelolaan Septik Tank;
Produk materi penyuluhan/promosi kepada masyarakat;
Penyediaan media komunikasi (brosur, pamflet, baliho, iklan layanan masyarakat, pedoman dan lain sebagainya).
Kriteria Kesiapan:
Sudah memiliki RPI2JM CK dan SSK/Memorandum Program atau sudah mengirim surat minat untuk mengikuti PPSP;
Tidak terdapat permasalahan dalam penyediaan lahan (lahan sudah dibebaskan);
Sudah terdapat dokumen perencanaan yang lengkap, termasuk dokumen lelang (non Sanitasi Berbasis Masyarakat), termasuk draft dokumen RKM untuk kegiatan Sanitasi Berbasis Masyarakat ;
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 68
Sudah ada MoU antara Pengembang dan pemerintah kab./kota (IPAL RSH);
Sudah terdapat institusi yang nantinya menerima dan mengelola prasarana yang dibangun;
Pemerintah kota bersedia menyediakan alokasi dana untuk biaya operasi dan pemeliharaan.
Skema Kebijakan Pendanaan Pengolahan Air Limbah Sistem Setempat (on-site) dan Komunal
Skema Kebijakan Pendanaan Pengolahan Air Limbah Sistem Setempat (on-site) dan Komunal dipaparkan pada gambar berikut.
b. Pembangunan Prasarana Air Limbah Terpusat (off-site)
Kriteria kegiatan infrastruktur air limbah sistem terpusat (off-site) skala kota adalah:
Kriteria Lokasi:
Kota yang telah mempunyai infrastruktur air limbah sistem terpusat (sewerage system) seperti Medan, Parapat, Batam, Cirebon, Manado, Tangerang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Denpasar, Balikpapan dan Banjarmasin;
Kota yang telah menyusun Master Plan Air Limbah serta DED untuk tahun pertama, yang terdiri dari 8 kota yaitu Bandar Lampung, Batam, Bogor, Cimahi, Palembang, Makassar, Surabaya dan Pekanbaru;
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 69
Lingkup Kegiatan:
Rehabilitasi unit IPAL dan peralatannya dalam rangka membantu pemulihan atau meningkatkan kinerja pelayanan;
pengadaan/pemasangan pipa utama (main trunk sewer) dan pipa utama sekunder (secondary main trunk sewer) yaitu pengembangan jaringan perpipaan untuk mendukung perluasan kemampuan pelayanannya dalam rangka pemanfaatan kapasitas idle;
TOT kepada Tim Pelatih Kabupaten/Kota untuk dapat melaksanakan pelatihan operator IPAL;
sosialisasi/diseminasi NSPM pengelolaan IPAL;
produk materi penyuluhan/promosi kepada masyarakat;
penyediaan media komunikasi (brosur, pamflet, baliho, iklan layanan masyarakat, pedoman dan lain sebagainya).
Kriteria Kesiapan:
Sudah memiliki RPI2JM CKdan SSK/Memorandum Program atau sudah mengirim surat minat untuk mengikuti PPSP;
Tidak terdapat permasalahan dalam penyediaan lahan (lahan sudah dibebaskan), dan disediakan oleh Pemda (±6000 m²);
Terdapat dokumen perencanaan yang lengkap, termasuk dokumen lelang;
Sudah ada institusi yang menerima dan mengelola prasarana yang dibangun;
Pemerintah kota bersedia menyediakan alokasi dana untuk pembangunan pipa lateral & sambungan rumah dan biaya operasi dan pemeliharaan.
Skema Kebijakan Pendanaan Pengembangan Air Limbah Sistem Terpusat Skema Kebijakan Pendanaan Pengembangan Air Limbah Sistem Terpusat (off- site) dipaparkan dalam gambar berikut.
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 70
Sumber: Direktorat Pengembangan PLP
Dalam pengembangan pengolahan air limbah sistem terpusat, pemerintah pusat memiliki peran melakukan pembangunan IPAL dan mengembangkan jaringan pipa sewer sampai dengan pipa lateral. Sedangkan pemerintah kabupaten/kota mempunyai peran dalam penyediaan lahan, penyediaan biaya operasi dan pemeliharaan, dan pembangunan sambungan rumah 8.4.2. Persampahan
8.4.2.1. Arahan Kebijakan dan Lingkup Kegiatan Pengelolaan Persampahan