Kabupaten Boalemo Hal VIII - 1
BAB VIII
ASPEK TEKNIS PER SEKTOR
Rencana pembangunan infrastruktur bidang Cipta Karya yang mencakup empat sektor
yaitu pengembangan permukiman, penataan bangunan dan lingkungan, pengembangan air
minum, serta pengembangan penyehatan lingkungan permukiman yang terdiri dari air
limbah, persampahan, dan drainase. Penjabaran perencanaan teknis untuk tiap-tiap sektor
dimulai dari pemetaan isu-isu strategis yang mempengaruhi, penjabaran kondisi eksisting
sebagai baseline awal perencanaan, serta permasalahan dan tantangan yang harus
diantisipasi. Tahapan berikutnya adalah analisis kebutuhan dan pengkajian terhadap
program-program sektoral, dengan mempertimbangkan kriteria kesiapan pelaksanaan
kegiatan. Kemudian dilanjutkan dengan merumuskan usulan program dan kegiatan yang
dibutuhkan.
8.1. Pengembangan Permukiman
Berdasarkan UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman,
permukiman didefinisikan sebagai bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari
satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta
mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau perdesaan.
Kegiatan pengembangan permukiman terdiri dari pengembangan permukiman
kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. Pengembangan permukiman kawasan
perkotaan terdiri dari pengembangan kawasan permukiman baru dan peningkatan kualitas
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 2 pengembangan kawasan permukiman perdesaan, kawasan pusat pertumbuhan, serta desa
tertinggal.
8.1.1. Arahan Kebijakan dan Lingkup Kegiatan
Arahan kebijakan pengembangan permukiman mengacu pada amanat peraturan
perundangan, antara lain:
1. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional
Arahan RPJMN Tahap 3 (2015-2019) menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan
hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukung bagi seluruh
masyarakat terus meningkat, sehingga kondisi tersebut mendorong terwujudnya kota
tanpa permukiman kumuh pada awal tahapan RPJMN berikutnya.
2. Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Pasal 4 mengamanatkan bahwa ruang lingkup penyelenggaraan perumahan dan
kawasan permukiman juga mencakup penyelenggaraan perumahan (butir c),
penyelenggaraan kawasan permukiman (butir d), pemeliharaan dan perbaikan (butir
e), serta pencegahan dan peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan
permukiman kumuh (butir f).
3. Undang-Undang No. 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun
Pasal 15 mengamanatkan bahwa pembangunan rumah susun umum, rumah susun
khusus, dan rumah susun negara merupakan tanggung jawab pemerintah.
4. Peraturan Presiden No. 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan
Kemiskinan
Peraturan ini menetapkan salah satunya terkait dengan penanggulangan kemiskinan
yang diimplementasikan dengan penanggulangan kawasan kumuh.
5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 01/PRT/M/2014 tentang Standar
Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Tata Ruang
Peraturan ini menetapkan target berkurangnya luas permukiman kumuh di kawasan
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 3 8.1.2. Isu Strategis, Kondisi Eksisting, Permasalahan, dan Tantangan
a. Isu Strategis Pengembangan Permukiman
Berbagai isu strategis nasional yang berpengaruh terhadap pengembangan
permukiman saat ini adalah:
Mengimplementasikan konsepsi pembangunan berkelanjutan serta mitigasi dan
adaptasi terhadap perubahan iklim;
Percepatan pencapaian target MDG’s 2020 yaitu penurunan proporsi rumah tangga
kumuh perkotaan;
Perlunya dukungan terhadap pelaksanaan Program-Program Direktif Presiden yang
tertuang dalam MP3EI dan MP3KI;
Percepatan pembangunan di wilayah timur Indonesia (Provinsi NTT, Provinsi Papua,
dan Provinsi Papua Barat) untuk mengatasi kesenjangan;
Meminimalisir penyebab dan dampak bencana sekecil mungkin;
Meningkatnya urbanisasi yang berimplikasi terhadap proporsi penduduk perkotaan
yang bertambah, tingginya kemiskinan penduduk perkotaan, dan bertambahnya
kawasan kumuh;
Belum optimalnya pemanfaatan Infrastruktur Permukiman yang sudah
dibangun;
Perlunya kerjasama lintas sektor untuk mendukung sinergitas dalam
pengembangan kawasan permukiman;
Belum optimalnya peran pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan
permukiman. Ditopang oleh belum optimalnya kapasitas kelembagaan dan kualitas
sumber daya manusia serta perangkat organisasi penyelenggara dalam memenuhi
standar pelayanan minimal di bidang pembangunan perumahan dan permukiman.
b. Isu Strategis Pengembangan Permukiman di Kabupaten Boalemo
Kabupaten Boalemo kawasan perkotaan Tilamuta, terutama di daerah perdesaan
pesisir, kondisi infrastrukturnya belum memadai dan belum menjangkau seluruh bagian
kota sehingga mengakibatkan kota tersebut cenderung terlihat kumuh. Selain daripada
itu, sistem persampahan, drainase, dan sanitasi juga buruk yang bisa menyebabkan
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 4 Meningkatnya jumlah penduduk dan intensitas aktivitas pada kawasan perkotaan
ini perlu untuk disikapi dan diantisipasi lebih awal oleh pemerintah daerah yang terkait.
Hal ini perlu dilakukan mengingat fenomena tersebut dapat membangkitkan banyak
persoalan perkotaan terutama yang terkait dengan ketersediaan pemukiman dan
infrastruktur perkotaan. Pengembangan pemukiman dan infrastruktur perkotaan yang
kurang atau belum mengantisipasi dan mengakomodir fenomena perkembangan
kawasan perkotaan yang ada menimbulkan persoalan seperti:
a) Tidak meratanya penyediaan infrastruktur perkotaan,
b) Ketidaktersedianya lingkungan pemukiman yang layak,
c) Perkembangan yang tidak terkendali pada daerah-daerah pengembangan
non-pemukiman, dan
d) Permukiman kumuh.
Berbagai persoalan permukiman dan infrastruktur perkotaan tersebut apabila
berbenturan dengan persoalan pembangunan kota yang pada akhirnya memperburuk
citra kota dan kawasan perkotaan.
Berbagai isu strategis di Kabupaten Boalemo yang berpengaruh terhadap
pengembangan permukiman di Kabupaten Boalemo dapat dilihat pada tabel 6.1. Isu
strategis pembangunan permukiman di Kabupaten Boalemo sebagian telah tertuang
dalam Strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kabupaten Boalemo antara Lain.
Isu-isu Strategis Pembangunan Permukiman
a. Aspek Kependudukan
Urbanisasi dari wilayah hinterland yang masuk ke kota Boalemo tumbuh cepat
sebagai tantangan bagi pemerintah untuk secara positif berupaya agar
pertumbuhan lebih merata.
b. Aspek Lingkungan
Kawasan mangrove pada daerah pesisir pantai yang telah mengalami alih fungsi
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 5 c. Aspek Kebijakan
Konflik kepentingan yang disebabkan oleh kebijakan yang memihak pada suatu
kelompok dalam pembangunan perumahan dan permukiman, seperti IMB
belum menjadi aspek penting dalam pengendalian pembangunan permukiman.
d. Aspek Tata Ruang
Permukiman kumuh dengan tingkat kepadatan bangunan tinggi terdapat pada
lingkungan permukiman Kumuh di kawasan Kawasan Petandu Timur dan
Petandu Barat;
Pada kawasan sekitar koridor utama kota yang berfungsi juga sebagai pusat kota
disekitar jalan Trans Sulawesi kepadatan bangunan permukimannya cukup
tinggi, namun mulai mengalami perubahan fungsi bangunan menjadi bangunan
dengan fungsi campuran (mix use), yang terjadi di Kecamatan Tilamuta dan
sekitarnya;
Pengembangan kawasan permukiman yang tersebar secara linear disepanjang
koridor-koridor utama di Kota Tilamuta.
e. Aspek Lahan
Kawasan-kawasan produktif (kawasan pertanian/ sawah dan perkebunan)
banyak terdapat disekitar kawasan-kawasan permukiman, sehingga
pembangunan permukiman perlu dikendalikan untuk mencegah terjadinya alih
fungsi lahan.
f. Aspek Infrastruktur
Permukiman terencana di wilayah Kota Tilamuta masih sangat terbatas, berada
di kawasan Kecamatan Mananggu, Botumoito, Tilamuta, Dulupi, Wonosari,
Paguyaman dan Paguyaman Pantai, inipun dengan tingkat ketersediaan
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 6
Tabel 8. 1 Isu-Isu Strategis Sektor Pengembangan Permukiman Skala Kabupaten Boalemo
No Isu strategis
1
Aspek Kependudukan;
Urbanisasi dari wilayah hinterland yang masuk ke kota Boalemo tumbuh cepat sebagai tantangan bagi pemerintah untuk secara positif berupaya agar pertumbuhan lebih merata
2
Aspek Lingkungan
Kawasan mangrove pada daerah pesisir pantai yang telah mengalami alih fungsi lahan menjadi kawasan terbangun
3
Aspek Kebijakan
konflik kepentingan yang disebabkan oleh kebijakan yang memihak pada suatu kelompok dalam pembangunan perumahan dan permukiman, seperti IMB belum menjadi aspek penting dalam pengendalian pembangunan permukiman
4
Aspek Tata Ruang
Permukiman kumuh dengan tingkat kepadatan bangunan tinggi terdapat pada lingkungan permukiman Kumuh di kawasan Kawasan Petandu Timur dan Petandu Barat
Pada kawasan sekitar koridor utama kota yang berfungsi juga sebagai pusat kota disekitar jalan Trans Sulawesi kepadatan bangunan permukimannya cukup tinggi, namun mulai mengalami perubahan fungsi bangunan menjadi bangunan dengan fungsi campuran (mix use), yang terjadi di Kecamatan Tilamuta dan sekitarnya
5
Aspek Lahan
Kawasan-kawasan produktif (kawasan pertanian/ sawah dan perkebunan) banyak terdapat disekitar kawasan-kawasan permukiman, sehingga pembangunan permukiman perlu dikendalikan untuk mencegah terjadinya alih fungsi lahan
Sumber : Hasil Analisis 2014.
c. Kondisi Eksisting Pengembangan Permukiman Kabupaten Boalemo
Kondisi eksisting pengembangan permukiman hingga tahun 2014 di Kabupaten
Boalemo telah memiliki dokumen perencanaan perrmukiman yaitu 1 dokumen RP2KP
(proses), 1 dokume SPPIP/RKPP (proses), 1 dokumen RTBL, untuk di perkotaan meliputi
2 kawasan kumuh di perkotaan yang akan tertangani.
Kondisi eksisting pengembangan permukiman terkait dengan capaian Kabupaten
Boalemo saat ini belum dapat diukur karena beluma adaya regulasi dari pemerintah
daerah dalam menyediakan kawasan permukiman yang layak huni.
Selain itu data yang dibutuhkan untuk kondisi eksisting adalah mengenai
kawasan kumuh di Kabupaten Boalemo tersebar di 5 kawasan berdasarkan SK kumuh
no 242/07//VI/2014 Tanggal 12 JUNI 2014 bahwa lokasi permukiman kumuh dapat
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 7 Kegiatan yang telah dilaksanakan pada di sektor permukiman di Kabupaten Boalemo
yang bersumber dari anggaran APBN selama kurun waktu 5 (lima) Tahun tahun terkahir
dapat dilihat pada tabel 8.3.
Tabel 8. 3. Rekapitulasi Pelaksanaan Anggaran Pengembangan Kawasan Permukiman Gorontalo di Kabupaten Boalemo Ta 2009 S/D 2014
No Program/kegiatan Output Pagu (APBN) Tahun Ket
RPM (dlm ribuan)
1 Peningkatan Jalan Usaha Tani Ruas III (Paket III) Di
Desa Boalemo Kec. kwandang Kab. Gorontalo kws 367.187 2009
2 Penyusunan DED Pengemb. Kws. Perkotaan TA.
2010 di Kab. Boalemo kws 49.849 2009
3 Peningkatan Jalan Lingkungan (Paket III) Di
Perumnas Piloliyanga kec. Tilamuta Kab. Boalemo kws 716.724 2009
4 Pembuatan Saluran (Paket IV) Di Perumnas
Piloliyanga Kec. Tilamuta Kab. Boalemo kws 172.579 2009
5 Penyusunan DED Kawasan Agropolitan TA. 2011
Kawasan Kab. Boalemo (PAKET VIII) kws 50.000 2010
6
Supervisi Pelaksanaan Kegiatan RSH TA. 2010 Perum Lamu dan Perum Graha Maya Kec. Tilamuta Kab. Boalemo
Lap 50.000 2010
7
Pendampingan penyusunan Rencana
Pengembangan Kws. Permukiman Prioritas (RKPP) di Perkotaan dan Perdesaan
9 Pengawasan/ Supervisi Konstruksi Kabupaten
Boalemo Kws 70.000 2011
10 Peningkatan Jalan Usaha Tani (AWCES) Desa
Bongo Kec. Paguyaman Kws 612.990 2012
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 8
No Program/kegiatan Output Pagu (APBN) Tahun Ket
RPM (dlm ribuan)
11 Pengawasan Konstruksi Desa Bongo Kec.
Paguyaman Lap 84.550 2012
12 Pekerjaan Peningkatan Jalan Desa Kws. Desa
Mutiara, Kec. Paguyaman, Kab. Boalemo Kws 1.677.739 2013
13
Pengawasan / Supervisi Pekerjaan Peningkatan Jalan Desa Kws. Desa Mutiara, Kec. Paguyaman, Kab. Boalemo
Lap 82.860 2013
14 Penyusunan SPPIP Kota Tilamuta Kab. Boalemo Lap 750.000 2014
15 Peningkatan Jalan Agropolitan Kws. Desa Saritani
Kec. Wonosari Kab Boalemo Kws 1.782.791 2014
16 Peningkatan Jalan Agropolitan Kws. Desa Mustika
Kec Paguyaman Kab Boalemo Kws 1.225.244 2014
17
Supervisi/Pengawasan Peningkatan Jalan
Agropolitan Kws. Desa Saritani Kec. Wonosari Kab. Boalemo
Lap 85.000 2014
Sumber : Data Emon Santker Randal Tahun 2014.
d. Permasalahan dan Tantangan Pengembangan Permukiman
Permasalahan dan tantangan pengembangan permukiman secara antara lain:
Permasalahan pengembangan permukiman diantaranya:
1. Pada Wilayah pesisir masih terdapat kawasan kumuh sebagai permukiman tidak
layak huni sehingga dapat menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan, dan
pelayanan infrastruktur yang masih terbatas;
2. Berkembangnya titik kumuh pada wilayah cepat tumbuh ( Desa Tangkobu)
3. Layanan Infrastruktur belum merata;
4. Permukiman berada pada tepian air;
5. Permukiman Yang rawan bencana banjir;
6. Berkembangnya rumah tidak layak huni
7. Masih terbatasnya prasarana sarana dasar pada daerah tertinggal, pulau kecil,
daerah terpencil, dan kawasan perbatasan;
8. Belum berkembangnya Kawasan Perdesaan Potensial.
Tantangan pengembangan permukiman diantaranya:
1. Percepatan peningkatan pelayanan kepada masyarakat;
2. Pencapaian target/sasaran pembangunan dalam Rencana Strategis Ditjen Cipta
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 9
3. Pencapaian target MDG’s 2015, termasuk didalamnya pencapaian
Program-Program Pro Rakyat (Direktif Presiden);
4. Perhatian pemerintah daerah terhadap pembangunan bidang Cipta Karya
khususnya kegiatan Pengembangan Permukiman yang masih rendah;
5. Memberikan pemahaman kepada pemerintah daerah bahwa pembangunan
infrastruktur permukiman yang saat ini sudah menjadi tugas pemerintah
daerah provinsi dan kabupaten/kota;
6. Penguatan Sinergi RP2KP/RTBL KSK dalam Penyusunan RPI2JM bidang Cipta Karya
pada Kabupaten/Kota.
Identifikasi permasalahan dan tantangan pengembangan permukiman di Kabupaten
Boalemo serta alternatif pemecahan dan rekomendasi dari permasalahan dan
tantangan pengembangan permukiman yang ada dapat dilihat pada tabel 8.4.
Tabel 8. 4 Identifikasi Permasalahan dan Tantangan Pengembangan Permukiman Kabupaten Boalemo
Permasalahan Pengembangan Permukiman
Tantangan Pengembangan Alternatif Solusi
Peningkatan luasan lahan permukiman dapat berdampak pada kualitas lahan di Kabupaten Boalemo
Perkembangan kawasan permukiman akibat perkembangan kegiatan perkebunan di lahan konservasi/lahan yang tidak sesuai dengan peruntukkannya
Rendahnya kualitas kesehatan di lingkungan permukiman
Munculnya permukiman kumuh akibat tingginya tingkat kepadatan penduduk di Desa Pentadu Barat dan Pentadu Timur
Pembangunan perumahan baru yang tidak didukung infrastruktur dasar
Kawasan permukiman yang terletak di kawasan rawan bencana banjir, gempa dan tanah longsor
Belum merata dan optimalnya pelayanan infrastruktur permukiman dan wilayah
Berkembangnya perumahan dan permukiman di koridor Jalan Trans Sulawesi
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 10 8.1.3. Analisis Kebutuhan Pengembangan Permukiman
Analisis kebutuhan merupakan tahapan selanjutnya dari identifikasi kondisi eksisting.
Analisis kebutuhan mengaitkan kondisi eksisting dengan target kebutuhan yang harus
dicapai. Terdapat arahan kebijakan yang menjadi acuan penetapan target pembangunan
bidang Cipta Karya khususnya sektor pengembangan permukiman baik di tingkat Pusat
maupun di tingkat kabupaten. Di tingkat Pusat acuan kebijakan meliputi RPJMN 2010-2014,
MDGs 2015 (pengurangan proporsi rumah tangga kumuh tahun 2020), Standar Pelayanan
Minimal (SPM) untuk pengurangan luasan kawasan kumuh tahun 2014 sebesar 10%, arahan
MP3EI dan MP3KI, arahan Direktif Presiden untuk program pro-rakyat, serta Renstra Ditjen
Cipta Karya 2010-2014. Sedangkan di Kabupaten Boalemo meliputi target RPJMD, RTRW
Kabupaten, maupun Renstra SKPD. Acuan kebijakan tersebut menjadi dasar pada tahapan
analisis kebutuhan pengembangan permukiman di Kabupaten Boalemo.
8.1.4. Program-Program Sektor Pengembangan Permukiman
Kegiatan pengembangan permukiman terdiri dari pengembangan permukiman
kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. Pengembangan permukiman kawasan
perkotaan terdiri dari:
1. Pengembangan kawasan permukiman baru dalam bentuk pembangunan
Rusunawa serta;
2. Peningkatan kualitas permukiman kumuh dan RSH.
Sedangkan untuk pengembangan kawasan perdesaan terdiri dari:
1. Pengembangan kawasan permukiman perdesaan untuk kawasan potensial
(Agropolitan dan Minapolitan), rawan bencana, serta perbatasan dan pulau kecil;
2. Pengembangan kawasan pusat pertumbuhan dengan program PISEW (RISE), desa
tertinggal dengan program PPIP dan RIS PNPM.
Selain kegiatan fisik di atas program/kegiatan pengembangan permukiman dapat
berupa kegiatan non-fisik seperti penyusunan RP2KP dan RTBL KSK ataupun review
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 11 Pengembangan Kawasan Permukiman Perkotaan
Infrastruktur kawasan permukiman kumuh
Infrastruktur permukiman RSH
Rusunawa beserta infrastruktur pendukungnya
Pengembangan Kawasan Permukiman Perdesaan
Infrastruktur kawasan permukiman perdesaan potensial (Agropolitan/Minapolitan)
Infrastruktur kawasan permukiman rawan bencana
Infrastruktur kawasan permukiman perbatasan dan pulau kecil
Infrastruktur pendukung kegiatan ekonomi dan sosial (PISEW)
Infrastruktur perdesaan PPIP
Infrastruktur perdesaan RIS PNPM
Kriteria Kesiapan (Readiness Criteria)
Dalam pengembangan permukiman terdapat kriteria yang menentukan, yang terdiri
dari kriteria umum dan khusus, sebagai berikut.
1. Umum
Ada rencana kegiatan rinci yang diuraikan secara jelas
Indikator kinerja sesuai dengan yang ditetapkan dalam Renstra
Kesiapan lahan (sudah tersedia)
Sudah tersedia DED
Tersedia Dokumen Perencanaan Berbasis Kawasan (RP2KP, RTBL KSK, Masterplan,
Agropolitan & Minapolitan, dan KSK)
Tersedia Dana Daerah untuk Urusan Bersama (DDUB) dan dana daerah untuk
pembiayaan komponen kegiatan sehingga sistem bisa berfungsi
Ada unit pelaksana kegiatan
Ada lembaga pengelola pasca konstruksi
2. Khusus
Rusunawa
Kesediaan Pemda utk penandatanganan MoA
Dalam Rangka penanganan Kws. Kumuh
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 12
Ada calon penghuni
RIS PNPM
Sudah ada kesepakatan dengan Menkokesra
Desa di kecamatan yang tidak ditangani PNPM Inti lainnya
Tingkat kemiskinan desa >25%
Bupati menyanggupi mengikuti pedoman dan menyediakan
BOP minimal 5% dari BLM
PPIP
Hasil pembahasan dengan Komisi V - DPR RI
Usulan bupati, terutama kabupaten tertinggal yang belum ditangani program Cipta
Karya lainnya
Kabupaten reguler/sebelumnya dengan kinerja baik
Tingkat kemiskinan desa >25%
PISEW
Berbasis pengembangan wilayah
Pembangunan infrastruktur dasar perdesaan yang mendukung (i) transportasi, (ii)
produksi pertanian, (iii) pemasaran pertanian, (iv) air bersih dan sanitasi, (v)
pendidikan, serta (vi) kesehatan
Mendukung komoditas unggulan kawasan
Selain kriteria kesiapan seperti di atas terdapat beberapa kriteria yang harus
diperhatikan dalam pengusulan kegiatan pengembangan permukiman seperti untuk
penanganan kawasan kumuh di perkotaan. Mengacu pada UU No. 1/2011 tentang
Perumahan dan Kawasan Permukiman, permukiman kumuh memiliki ciri (1)
ketidakteraturan dan kepadatan bangunan yang tinggi, (2) ketidaklengkapan prasarana,
sarana, dan utilitas umum, (3) penurunan kualitas rumah, perumahan, dan permukiman,
serta prasarana, sarana dan utilitas umum, serta (4) pembangunan rumah, perumahan, dan
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 13 8.1.5. Usulan Program dan Kegiatan
a. Usulan Program dan Kegiatan Pengembangan Permukiman
Setelah melalui tahapan analisis kebutuhan untuk mengisi kesenjangan antara kondisi
eksisting dengan kebutuhan maka disusun usulan program dan kegiatan.Usulan program
dan kegiatan terbatasi oleh waktu dan kemampuan pendanaan pemerintah kabupaten
Boalemo. Sehingga untuk jangka waktu perencanaan lima tahun dalam RPI2JM dibutuhkan
suatu kriteria untuk menentukan prioritasi dari tahun pertama hingga kelima. Usulan
program kegiatan pengembangan permukiman dapat dilihat pada tabel 8.5.
b. Usulan Kegiatan dan Pembiayaan Pengembangan Permukiman
Berdasarkan usulan program dan kegiatan pengembangan permukiman dalam
pengembangan permukiman, pemerintah Daerah didorong untuk terus meningkatkan
alokasinya pada sektor tersebut serta iidentifikasi kemungkinan sumber pembiayaan
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 16 8.2. Penataan Bangunan dan Lingkungan
8.2.1. Arahan Kebijakan dan Lingkup Kegiatan PBL
Penataan bangunan dan lingkungan adalah serangkaian kegiatan yang diperlukan
sebagai bagian dari upaya pengendalian pemanfaatan ruang, terutama untuk mewujudkan
lingkungan binaan, baik di perkotaan maupun di perdesaan, khususnya wujud fisik
bangunan gedung dan lingkungannya.
Kebijakan penataan bangunan dan lingkungan mengacu pada Undang-undang dan
peraturan antara lain.
a. UU No.1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman
CUU No. 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman memberikan
amanat bahwa penyelenggaraan penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman
adalah kegiatan perencanaan, pembangunan, pemanfaatan, dan pengendalian, termasuk di
dalamnya pengembangan kelembagaan, pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peran
masyarakat yang terkoordinasi dan terpadu.
Pada UU No. 1 tahun 2011 juga diamanatkan pembangunan kaveling tanah yang telah
dipersiapkan harus sesuai dengan persyaratan dalam penggunaan, penguasaan, pemilikan
yang tercantum pada rencana rinci tata ruang dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan
(RTBL).
b. UU No. 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
UU No. 28 tahun 2002 memberikan amanat bangunan gedung harus diselenggarakan
secara tertib hukum dan diwujudkan sesuai dengan fungsinya, serta dipenuhinya
persyaratan administratif dan teknis bangunan gedung,
c. PP 36/2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28 Tahun 2002 tentang
Bangunan Gedung
Secara lebih rinci UU No. 28 tahun 2002 dijelaskan dalam PP No. 36 Tahun 2005
tentang peraturan pelaksana dari UU No. 28/2002. PP ini membahas ketentuan fungsi
bangunan gedung, persyaratan bangunan gedung, penyelenggaraan bangunan gedung,
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 17 d. Permen PU No. 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan
dan Lingkungan
Sebagai panduan bagi semua pihak dalam penyusunan dan pelaksanaan dokumen
RTBL, maka telah ditetapkan Permen PU No. 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum
Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan.
e. Permen PU No. 01 /PRT/M/2014 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang
Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
Permen PU No: 01 /PRT/M/2014 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang Pekerjaan
Umum dan Penataan Ruang mengamanatkan jenis dan mutu pelayanan dasar Bidang
Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak
diperoleh setiap warga secara minimal.
8.2.2. Isu Strategis, Kondisi Eksisting, Permasalahan, dan Tantangan
A. Isu Strategis
Isu strategis Bidang PBL, maka dapat dilihat dari Agenda Nasional dan Agenda
Internasional yang mempengaruhi sektor PBL. Untuk Agenda Nasional, salah satunya adalah
Program PNPM Mandiri, yaitu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri,
sebagai wujud kerangka kebijakan yang menjadi dasar acuan pelaksanaan program-program
penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat. Agenda nasional lainnya
adalah pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang, khususnya untuk sektor PBL yang mengamanatkan terlayaninya
masyarakat dalam pengurusan IMB di kabupaten dan tersedianya pedoman Harga Standar
Bangunan Gedung Negara (HSBGN) di kabupaten.
Isu strategis di bidang PBL antara lain :
1. Penataan Lingkungan Permukiman
a. Pengendalian pemanfaatan ruang melalui RTBL;
b. PBL mengatasi tingginya frekuensi kejadian kebakaran di perkotaan;
c. Pemenuhan kebutuhan ruang terbuka publik dan ruang terbuka hijau (RTH) di
perkotaan;
d. Revitalisasi dan pelestarian lingkungan permukiman tradisional dan bangunan
bersejarah berpotensi wisata untuk menunjang tumbuh kembangnya ekonomi
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 18 e. Peningkatan kualitas lingkungan dalam rangka pemenuhan Standar Pelayanan
Minimal;
f. Pelibatan pemerintah daerah dan swasta serta masyarakat dalam penataan
bangunan dan lingkungan.
g. Kebutuhan Peningkatan Kualitas Lingkungan Permukiman Kumuh
h. Peningkatan Kualitas Lingkungan Kawasan Tradisional/Bersejarah
2. Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara
a. Tertib pembangunan dan keandalan bangunan gedung (keselamatan, kesehatan,
kenyamanan dan kemudahan);
b. Pengendalian penyelenggaraan bangunan gedung dengan perda bangunan
gedung;
c. Tantangan untuk mewujudkan bangunan gedung yang fungsional, tertib, andal dan
mengacu pada isu lingkungan/berkelanjutan;
d. Tertib dalam penyelenggaraan dan pengelolaan aset gedung dan rumah negara;
e. Peningkatan kualitas pelayanan publik dalam pengelolaan gedung dan rumah
Negara.
f. Rehabilitasi Bangunan Gedung Negara
3. Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan
a. Realisasi DDUB tidak sesuai dengan komitmen awal;
b. Keberlanjutan dan sinergi program bersama pemerintah daerah dalam
penanggulangan kemiskinan;
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 19 Khusus di Kabupaten Boalemo isu strategis dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 8. 5 Isu Startegis Sektor PBL di Kabupaten Boalemo
No. Kegiatan Sektor PBL Isu Strategis sektor
Penataan Bangunan dan Lingkungan 1 Penataan Lingkungan
Permukiman
Pengendalian pemanfaatan ruang melalui RTBL
Pemenuhan kebutuhan ruang terbuka publik dan ruang terbuka hijau (RTH) di perkotaan
Revitalisasi dan pelestarian lingkungan permukiman tradisional dan bangunan bersejarah berpotensi wisata untuk menunjang tumbuh kembangnya ekonomi lokal
Peningkatan kualitas lingkungan dalam rangka pemenuhan Standar Pelayanan Minimal
Pelibatan pemerintah daerah dan swasta serta masyarakat dalam penataan bangunan dan lingkungan.
Kebutuhan Peningkatan Kualitas Lingkungan Permukiman Kumuh
Peningkatan Kualitas Lingkungan Kawasan Tradisional/Bersejarah
2 Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan
Tertib pembangunan dan keandalan bangunan gedung (keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan)
Pengendalian penyelenggaraan bangunan gedung dengan perda bangunan gedung
Tantangan untuk mewujudkan bangunan gedung yang fungsional, tertib, andal dan mengacu pada isu lingkungan/berkelanjutan
Tertib dalam penyelenggaraan dan pengelolaan aset gedung dan rumah negara
Peningkatan kualitas pelayanan publik dalam pengelolaan gedung dan rumah Negara
Rehabilitasi Bangunan Gedung Negara
3 Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan
Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
B. Kondisi Eksisting
Untuk tahun 2014 capaian dalam pelaksanaan program satker PBL adalah jumlah
kelurahan/desa yang telah mendapatkan fasilitasi berupa peningkatan kualitas infrastruktur
permukiman perdesaan/kumuh melalui program P2KP/PNPM adalah sejumlah 73
kelurahan/desa. Untuk jumlah Kabupaten/Kota yang telah menyusun Perda Bangunan
Gedung (BG) hingga tahun 2014 adalah Kota Gorontalo. Untuk RTBL yang sudah tersusun
berupa Peraturan Bupati/Walikota belum ada.
Khusus untuk kabupaten Boalemo kondisi capaian kegiatan di sektor PBL yang telah
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 20 1. RTBL Tilamuta;
2. Penyelengaraan bangunan gedung dan rumah negara.
Tabel 8. 6 Penataan Lingkungan Permukiman di Kabupaten Boalemo
C. Permasalahan dan Tantangan
Dalam kegiatan penataan bangunan dan lingkungan terdapat beberapa permasalahan
dan tantangan yang dihadapi, antara lain:
1. Penataan Lingkungan Permukiman
Aspek Teknis
Ruang Terbuka hijau belum sesuai standar kebutuhan
PSD RISPK terkendala belum adanya dan kelengkapan armada
Aspek Kelembagaan
Belum ditetapakan Ranperda BG menjadi Perda BG
Aspek Pembiayaan
Kecilnya alokasi anggaran daerah untuk peningkatan kualitas lingkungan
dalam rangka pemenuhan SPM
Aspek Peran serta Masyarakat/Swasta
Kurangnya kesadaran masyarakat dalam ikut serta pengendalian
pemanfaatan ruang
Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengikuti standar
bangunan yang sesuai denga SPM
Aspek Lingkungan
Menurunnya fungsi kawasan dan terjadi degradasi kawasan kegiatan
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 21 2. Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara
Pada dasanya pembangunan gedung & rumah negara di Kab. Boalemo telah
memenuhi syarat-syarat teknis bangunan gedung seperti yang disyaratkan dalam
Undang-undang No. 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung dan KEPMEN PU No
332/KPTS/2002 Tentang Pedoman Teknis Pembangunan Gedung Negara. Secara
struktur & konstruksi bangunan-bangunan pemerintah telah memenuhi
persyaratan keselamatan Akan tetapi beberapa persyaratan lain seperti
keselamatan dari bahaya kebakaran dan kenyamanan dalam penggunaan belum
terpenuhi dengan baik. Kampanye & sosialisasi tentang penyediaan aksesibilitas
bangunan gedung dan ruang publik sejak tahun 2002 telah dilakukan akan tetapi
pada realisasinya masih banyak gedung yang didirikan pasca sosialisasi masih
belum memenuhi persyaratan tersebut. Sehingga fasilitas umum di Kab. Boalemo
umumnya masih kurang nyaman.
Permasalahan dalam penyelenggaraan bangunan gedung dan rumah negara antara
lain:
Aspek Teknis
Belum adanya perda bangunan gedung ;
Lemahnya pengaturan penyelenggaraan Bangunan Gedung dan rendahnya
kualitas pelayanan publik dan perijinan;
Banyaknya Bangunan Gedung Negara yang belum memenuhi persyaratan
keselamatan, keamanan dan kenyamanan.
Aspek Kelembagaan
Pemda belum konsisten dalam penetapan HSBGN;
Masih lemahnya kelembagaan bangunan gedung yang belum berfungsi
efektif dan efisien dalam pengelolaan Bangunan Gedung dan Rumah
Negara.
Aspek Pembiayaan
Kurang dana sharing pemda
Aspek Peran Serta masyarakat
Masih lemahnya peran serta masyarakat dalam menjaga sarana bangunan
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 22
Aspek Lingkungan
Kurang ditegakkannya aturan keselamatan, keamanan dan kenyamanan
Bangunan Gedung termasuk pada daerah-daerah rawan bencana;
Meningkatnya kebutuhan NSPM terutama yang berkaitan dengan
pengelolaan dan penyelenggaraan bangunan gedung (keselamatan,
kesehatan, kenyamanan dan kemudahan);
3. Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan
Kegiatan pemberdayaan di Kabupaten Boalemo untuk skala perkotaan hingga saat
ini pada sektor PBL belum ada.
Tabel 8. 7 Identifikasi Permasalahan dan Tantangan Penataan Bangunan dan Lingkungan
No Aspek PBL Permasalahan Tantangan Alternatif
A Penataan Ling. Permukiman
1 Aspek Fisik
Ruang Terbuka hijau belum sesuai standar kebutuhan;
PSD RISPK terkendala belum adanya dan kelengkapan armada
Belum ditetapakan Ranperda BG menjadi Perda BG
Belum adamya lembaga khusus yang menangani perjininan dan
Kecilnya alokasi anggaran daerah untuk peningkatan kualitas
Menurunnya fungsi kawasan dan terjadi degradasi kawasan kegiatan ekonomi utama kota, kawasan tradisional bersejarah serta heritage
B Kegiatan Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara
1 Aspek Fisik
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 23
No Aspek PBL Permasalahan Tantangan Alternatif
2 Aspek Kelembagaan
Pemda belum konsisten dalam penetapan HSBGN;
Masih lemahnya kelembagaan bangunan gedung yang belum berfungsi efektif dan efisien dalam pengelolaan Bangunan Gedung dan
Kurang dana sharing pemda Dana Swasta /CSR Pelibatan masyarakat dan pengusaha dalam pembiayaan
4 Aspek Peran Serta Masyarakat
Masih lemahnya peran serta masyarakat dalam menjaga sarana
C Kegiatan Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan
Sumber : Satker PBL PU Prov. Gorontalo 2014.
8.2.3. Analisis Kebutuhan Penataan Bangunan dan Lingkungan
Analisis kebutuhan Program dan Kegiatan untuk sektor PBL di Kabupaten Boalemo,
mengacu pada Lingkup Tugas DJCK untuk sektor PBL yang dinyatakan pada Permen PU
No. 8 Tahun 2010.
Pada Permen PU No.8 tahun 2010, dijabarkan kegiatan dari sektor PBL meliputi:
a. Kegiatan penataan lingkungan permukiman
Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL); Penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH);
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 24 Pembangunan Prasarana dan Sarana peningkatan lingkunganPemukiman
kumuh dan nelayan;
Pembangunan prasarana dan sarana penataan lingkungan pemukiman
tradisional.
b. Kegiatan pembinaan teknis bangunan dan gedung
Diseminasi peraturan dan perundangan tentang penataan bangunan dan
lingkungan;
Peningkatan dan pemantapan kelembagaan bangunan dan gedung; Pengembangan sistem informasi bangunan gedung dan arsitektur; Pelatihan teknis.
c. Kegiatan pemberdayaan masyarakat di perkotaan
RP2KP;
PLPBK.
Identifikasi kebutuhan sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan untuk jangka waktu
5 tahun di Kabupaten Boalemo depan dengan mengacu pada program dan capaian
Renstra Nasional dan RPJMD.
Tabel 8. 8 Kebutuhan sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan
No Uraian Satuan Tahun Ket
I II III IV V
A Penataan Ling. Permukiman
1 Ruang Terbuka Hijau
(RTH)
B Kegiatan Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara
Bintek
Pembangunan Gedung Negara
Laporan 1 1 1 1 1
C Kegiatan Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan
1. P2KP
2. PLPBK Kws 2 2 2 2 2
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 25 8.2.4. Program-Program dan Kriteria Kesiapan Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan
Program-Program Penataan Bangunan dan Lingkungan, terdiri dari:
1. Kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman;
2. Kegiatan Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara;
3. Kegiatan Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan.
Untuk penyelenggaraan program-program pada sektor Penataan Bangunan dan
Lingkungan (PBL) maka dibutuhkan Kriteria Kesiapan (Readiness Criteria) yang
mencakup antara lain:
Rencana kegiatan rinci; Indikator kinerja;
Komitmen Pemda dalam mendukung pelaksanaan kegiatan melalui penyiapan
dana pendamping, pengadaan lahan jika diperlukan, serta;
Pembentukan kelembagaan yang akan menangani pelaksanaan proyek serta
mengelola aset proyek setelah infrastruktur dibangun.
Kriteria Kesiapan untuk sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan adalah:
Fasilitasi RanPerda Bangunan Gedung
Kriteria Khusus:
Kabupaten/kota yang belum difasilitasi penyusunan ranperda Bangunan
Gedung;
Komitmen Pemda untuk menindaklanjuti hasil fasilitasi Ranperda BG.
Penyusunan Rencana Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas
(PLPBK)
Kriteria Khusus :
Kawasan di perkotaan yang memiliki lokasi PNPM-Mandiri Perkotaan;
Pembulatan penanganan infrastruktur di lokasi-lokasi yang sudah ada PJM
Pronangkis-nya;
Bagian dari rencana pembangunan wilayah/kota;
Ada rencana pengembangan dan investasi Pemda, swasta, dan
masyarakat;
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 26 Penyusunan Rencana Tata Bangunan Dan Lingkungan (RTBL)
Kriteria Lokasi :
Sesuai dengan kriteria dalam Permen PU No.6 Tahun 2006;
Kawasan terbangun yang memerlukan penataan;
Kawasan yang dilestarikan/heritage;
Kawasan rawan bencana;
Kawasan gabungan atau campuran (fungsi hunian, fungsi usaha, fungsi
sosial/ budaya dan/atau keagamaan serta fungsi khusus, kawasan sentra
niaga (central business district);
Kawasan strategis menurut RTRW Kabupaten;
Komitmen Pemda dalam rencana pengembangan dan investasi
Pemerintah daerah, swasta, masyarakat yang terintegrasi dengan rencana
tata ruang dan/atau pengembangan wilayahnya;
Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat;
Pekerjaan dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat.
Penyusunan Rencana Tindak Revitalisasi Kawasan, Ruang Terbuka Hijau
(RTH) dan Permukiman Tradisional/Bersejarah
Rencana Tindak berisikan program bangunan dan lingkungan termasuk elemen
kawasan, program/rencana investasi, arahan pengendalian rencana dan
pelaksanaan serta DAED/DED.
Kriteria Umum:
Sudah memiliki RTBL atau merupakan turunan dari lokasi perencanaan
RTBL (jika luas kws perencanaan > 5 Ha) atau;
Turunan dari Tata Ruang atau masuk dlm skenario pengembangan wilayah
(jika luas perencanaan < 5 Ha);
Komitmen pemda dalam rencana pengembangan dan investasi
Pemerintah daerah, swasta, masyarakat yang terintegrasi dengan Rencana
Tata Ruang dan/atau pengembangan wilayahnya;
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 27 Penyusunan Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan
Kriteria Khusus:
Kawasan diperkotaan yang memiliki potensi dan nilai strategis;
Terjadi penurunan fungsi, ekonomi dan/atau penurunan kualitas;
Bagian dari rencana pengembangan wilayah/kota;
Ada rencana pengembangan dan investasi pemda, swasta, dan
masyarakat;
Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat
Penyusunan Rencana Tindak Ruang Terbuka Hijau
Kriteria Khusus:
Ruang publik tempat terjadi interaksi langsung antara manusia dengan
taman (RTH Publik);
Area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya
bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman baik alamiah maupun ditanam
(UU No. 26/2007 tentang Tata ruang);
Dalam rangka membantu Pemda mewujudkan RTH publik minimal 20%
dari luas wilayah kota;
Ada rencana pengembangan dan investasi Pemda, swasta, masyarakat;
Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat
Penyusunan Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran (RISPK)
Kriteria Fasilitasi:
Ada Perda Bangunan Gedung;
Kota/Kabupaten dengan jumlah penduduk > 500.000 orang;
Tingginya intensitas kebakaran per tahun dengan potensi resiko tinggi
Kawasan perkotaan nasional PKN, PKW, PKSN, sesuai PP No.26/2008 ttg
Tata Ruang;
Ada rencana pengembangan dan investasi Pemda, swasta, dan
masyarakat;
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 28 Kriteria dukungan PSD Untuk Revitalisasi Kawasan, RTH Dan Permukiman
Tradisional/Ged Bersejarah
Mempunyai dokumen Rencana Tindak PRK/RTH/Permukiman
Tradisional-Bersejarah;
Prioritas pembangunan berdasarkan program investasinya;
Ada DDUB;
Dukungan Pemerintah Pusat maksimum selama 3 tahun anggaran;
Khusus dukungan Sarana dan Prasarana untuk permukiman tradisional,
diutamakan pada fasilitas umum/sosial, ruang-ruang publik yang menjadi
prioritas masyarakat yang menyentuh unsur tradisionalnya;
Ada rencana pengembangan dan investasi Pemda, swasta, dan
masyarakat;
Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat.
Kriteria dukungan Prasarana dan Sarana Sistem Proteksi Kebakaran
Memiliki dokumen RISPK yang telah disahkan oleh Kepala Daerah (minimal
SK/peraturan bupati/walikota);
Memiliki Perda BG (minimal Raperda BG dalam tahap pembahasan dengan
DPRD);
Memiliki DED untuk komponen fisik yang akan dibangun;
Ada lahan yg disediakan Pemda;
Ada rencana pengembangan dan investasi Pemda, swasta, dan
masyarakat;
Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat.
Kriteria Dukungan Aksesibilitas Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan
Bangunan gedung negara/kantor pemerintahan;
Bangunan gedung pelayanan umum (puskesmas, hotel, tempat
peribadatan, terminal, stasiun, bandara);
Ruang publik atau ruang terbuka tempat bertemunya aktivitas sosial
masyarakat (taman, alun-alun);
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 29 8.2.5. Usulan Program dan Kegiatan PBL
Pada bagian ini usulan program dan kegiatan Penataan Bangunan dan Lingkungan
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 32 8.3. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)
8.3.1. Arahan Kebijakan dan Lingkup Kegiatan
Penyelenggaraan pengembangan SPAM adalah kegiatan merencanakan,melaksanakan
konstruksi, mengelola, memelihara, merehabilitasi, memantau, dan/atau mengevaluasi
sistem fisik (teknik) dan non fisik penyediaan air minum. Penyelenggara pengembangan
SPAM adalah badan usaha milik negara (BUMN)/ badan usaha milik daerah (BUMD),
koperasi, badan usaha swasta, dan/atau kelompok masyarakat yang melakukan
penyelenggaraan pengembangan sistem penyediaan air minum. Penyelenggaraan SPAM
dapat melibatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan SPAM berupa
pemeliharaan, perlindungan sumber air baku, penertiban sambungan liar, dan sosialisasi
dalam penyelenggaraan SPAM.
Beberapa peraturan perundangan yang menjadi dasar dalam pengembangan sistem
penyediaan air minum (SPAM) antara lain:
1) Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
Pada pasal 40 mengamanatan bahwa pemenuhan kebutuhan air baku untuk air minum
rumah tangga dilakukan dengan pengembangan sistem penyediaan air minum (SPAM).
Untuk pengembangan sistem penyediaan air minum menjadi tanggung jawab
Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
2) Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Program Jangka Panjang (RPJP)
Tahun 2005-2025
Perundangan ini mengamanatkan bahwa kondisi sarana dan prasarana masih rendah
aksesibilitas, kualitas, maupun cakupan pelayanan.
3) Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem
Penyediaan Air Minum
Bahwa Pengembangan SPAM adalah kegiatan yang bertujuan membangun,
memperluas dan/atau meningkatkan sistem fisik (teknik) dan non fisik (kelembagaan,
manajemen, keuangan, peran masyarakat, dan hukum) dalam kesatuan yang utuh
untuk melaksanakan penyediaan air minum kepada masyarakat menuju keadaan yang
lebih baik. Peraturan tersebut juga menyebutkan asas penyelenggaraan pengembangan
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 33 keserasian, keberlanjutan, keadilan, kemandirian, serta transparansi dan
akuntabilitas.
4) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 20/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan
Strategi Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
Peraturan ini mengamanatkan bahwa dalam rangka peningkatan pelayanan/
penyediaan air minum perlu dilakukan pengembangan SPAM yang bertujuan untuk
membangun, memperluas, dan/atau meningkatkan sistem fisik dan non fisik daam
kesatuan yang utuh untuk melaksanakan penyediaan air minum kepada masyarakat
menuju keadaan yang lebih baik dan sejahtera.
5) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 01/PRT/M/2014 tentang Standar
Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Tata Ruang
Peraturan ini menjelaskan bahwa tersedianya akses air minum yang aman melalui
Sistem Penyediaan Air Minum dengan jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan
terlindungi dengan kebutuhan pokok minimal 60 liter/orang/hari.
SPAM dapat dilakukan melalui sistem jaringan perpipaan dan/atau bukan jaringan
perpipaan. SPAM dengan jaringan perpipaan dapat meliputi unit air baku, unit produksi, unit
distribusi, unit pelayanan, dan unit pengelolaan. Sedangkan SPAM bukan jaringan perpipaan
dapat meliputi sumur dangkal, sumur pompa tangan, bak penampungan air hujan, terminal
air, mobil tangki air, instalasi air kemasan, atau bangunan perlindungan mata air.
Pengembangan SPAM menjadi kewenangan/tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah
Daerah untuk menjamin hak setiap orang dalam mendapatkan air minum bagi kebutuhan
pokok minimal sehari-hari guna memenuhi kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif
sesuai dengan peraturan perundang- undangan, seperti yang diamanatkan dalam PP No. 16
Tahun 2005.
Pemerintah dalam hal ini adalah Direktorat Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta
Karya, Kementerian Pekerjaan Umum yang mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas
pokok Direktorat Jenderal Cipta Karya di bidang perumusan dan pelaksanaan kebijakan,
penyusunan produk pengaturan, pembinaan dan pengawasan serta fasilitasi di bidang
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 34
Menyusun kebijakan teknis dan strategi pengembangan sistem penyediaan air
minum;
Pembinaan teknik, pengawasan teknik dan fasilitasi pengembangan sistem
penyediaan air minum termasuk penanggulangan bencana alam dan kerusuhan sosial;
Pengembangan investasi untuk sistem penyediaan air minum;
Penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria serta pembinaan
kelembagaan dan peran serta masyarakat di bidang air minum.
8.3.2. Isu Strategis, Kondisi Eksisting, Permasalahan danTantangan
A. Isu Strategis Pengembangan SPAM
Terdapat isu-isu strategis yang diperkirakan akan mempengaruhi upaya Indonesia
untuk mencapai target pembangunan di bidang air minum. Isu-isu strategis tersebut adalah:
1. Peningkatan Akses Aman Air Minum;
2. Pengembangan Pendanaan;
3. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan;
4. Pengembangan dan Penerapan Peraturan Perundang-undangan;
5. Pemenuhan Kebutuhan Air Baku untuk Air Minum;
6. Rencana Pengamanan Air Minum;
7. Peningkatan Peran dan Kemitraan Badan Usaha dan Masyarakat; Dan
8. Penyelenggaraan Pengembangan SPAM yang Sesuai dengan Kaidah Teknis dan
Penerapan Inovasi Teknologi.
B. Kondisi Eksisting Pengembangan SPAM Kabupaten Boalemo
Kondisi Eksisting Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum di kabupaten
Boalemo adalah:
1. Aspek Teknis
Aspek teknis berkaitan dengan kondisi SPAM eksisting mencakup aspek yang
berpengaruh terhadap operasional SPAM eksisting. Kajian tergadap aspek tenis
mencakup ketersediaan sumber air baku eksisting, unit air baku, unit produksi, unit
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 35 a) SPAM PDAM Kabupaten Boalemo
SPAM PDAM Kabupaten Boalemo terdiri dari SPAM Kabupaten dan SPAM Ibukota
Kecamatan. dengan rincian sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 8.9.
b) SPAM Kabupaten Boalemo (SPAM Kota Tilamuta)
SPAM Ibu Kota Kabupaten Boalemo (Tilamuta) sebelum terpisah dari Kabupaten
Gorontalo adalah unit IKK Tilamuta yang menggunakan sistem sumur dalam dengan
kapasitas pompa 5 L/det, namun dengan adanya intrusi air laut, maka sumur dalam
tersebut sudah tidak digunakan lagi, dan untuk pelayanan berikutnya menggunakan IPA
Paket Baja dengan kapasitas 10 L/det yang dibangun pada tahun 1995.
Pada akhir Tahun 2000, instalasi tersebut tidak dapat digunakan karena adanya
perubahan aliran sungai dan hanyutnya bendung intake, sehingga sistem penyediaan
air minum menggunakan Instalasi Pengolahan Air Ayuhulalo dengan sistem pengolahan
saringan pasir cepat kapasitas terpasang 20 L/det, pada tahun 2001.
Sumber air baku termanfaatkan adalah Sungai Ayuhulalo dengan debit minimum 40
L/det. Ditinjau dari aspek kuantitas dan kontinyuitas, sumber ini tidak dapat menjamin
ketersediaan air sepanjang tahun, karena pada musim kemarau panjang (4-6 bulan),
debit sungai menurun drastis karena perubahan fungsi hutan yang rusak akibat
pembalakan liar. Secara kualitas pada musim hujan sumber ini tidak dapat digunakan
sebagai sumber air baku untuk air minum, karena nilai kekeruhannya di atas ambang
batas.
Unit air baku SPAM Kota Tilamuta terdiri dari bangunan intake, bak pengumpul, dan
pipa air baku.
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 36 Pengambilan air baku dilakukan dengan membendung sungai untuk meninggikan
muka air dan dengan menggunakan pipa sadap berdiameter 150 mm.
Pengaliran air baku dari intake ke instalasi pengolahan air minum dilakukan secara
gravitasi, dengan jarak dari intake ke Instalasi adalah 2.100 meter
Unit produksi menggunakan IPA beton dengan kapasitas terpasang 20 L/det.
dengan waktu operasional unit produksi saat ini adalah 24 jam perhari.
Unit produksi dilengkapi dengan reservoir produksi berkapasitas 2 x 250 m3,
dimana bangunan penunjang unit produksi terdiri dari :
Rumah operasional ; Rumah pompa ; Gudang Bahan Kimia; Bak Prasedimentasi; Bak Sedimentasi;
Bak Saringan Pasir Cepat (SPC); Bak Reservoir 2 x 250 m3.
Unit distribusi utama SPAM Kota Tilamuta menggunakan pipa dengan diameter 50
mm s/d 200 mm, seperti ditunjukkan pada Tabel 8.10.
Daerah pelayanan SPAM Kota Tilamuta mencakup 10 desa dari 12 desa yang berada
di wilayah administratif Kota Tilamuta, sementara desa yang telah terlayani SPAM dan
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 37 Pelayanan air minum terdiri dari pelayanan jaringan perpipaan menggunakan
Sambungan Rumah (SR) dan bukan jaringan perpipaan menggunakan Hidran Umum
(HU) / Kran Umum (KU) / Terminal Air (TA). Jumlah sambungan terpasang SPAM
Tilamuta Kabupaten Boalemo berdasarkan kelompok pelanggan ditunjukkan pada Tabel
Cakupan pelayanan saat ini mencapai 48,8 % dengan penduduk terlayani 10.700
Jiwa dari jumlah penduduk daerah pelayanan sebanyak 21.928 jiwa. Kapasitas
termanfaatkan SPAM eksisting sebesar 20 L/det dengan demikian SPAM Tilamuta
Kabupaten Boalemo tidak memiliki idle capacity.
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 38 c) SPAM Ibu Kota Kecamatan
SPAM IKK Paguyaman
Sumber air baku SPAM IKK Paguyaman berasal dari sumur dalam / sumur bor
dengan Q terpasang = 5 L/det dan Q operasi pompa = 3 L/det. Ditinjau dari aspek
kuantitas dan kontinuitas, air dari sumur tersebut tidak dapat menjamin ketersediaan
air sepanjang tahun karena Q sumur.
Secara kualitas, air tidak dapat digunakan sebagai sumber air baku untuk air minum
karena telah terjadinya korosi pipa penghisap serta adanya Intrusi dari luar casing
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 39 Unit air baku SPAM IKK Paguyaman terdiri dari bangunan sumur dalam/sumur bor,
dengan pipa casing diameter 150 mm dan pipa penghisap berdiameter 75 mm dengan
kedalaman sumur 95 meter. Pengambilan air baku dilakukan menggunakan sistem
pemompaan dengan kedalaman Pompa 36 meter.
Pompa yang digunakan adalah pompa submersible (Q = 5 L/det, H = 50 m, operasi <
24 jam) dengan sistem distribusi langsung ke pipa distribusi. SPAM IKK Paguyaman
dibangun pada tahun 1996 .
Unit distribusi utama SPAM IKK Paguyaman menggunakan pipa dengan diameter 50
mm, 75 mm dan 100 mm, dimana rincian pipa distribusi utama ditunjukkan pada Tabel
8.13.
Tabel 8. 13 Panjang Pipa Distribusi Utama
Distribusi air minum SPAM IKK Paguyaman dilakukan dengan pemompaan secara
langsung dari pompa sumur bor. (Pompa submersible Q = 5 L/det, H = 50 m, 2 unit (1
unit untuk operasi dan 1 unit cadangan)).
Daerah pelayanan SPAM IKK Paguyaman mencakup 5 kelurahan /desa dari 22
kelurahan / desa yang berada di wilayah administratif Kecamatan Paguyaman, seperti
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 40
Tabel 8. 14 Kelurahan Terlayani SPAM IKK Paguyaman
Pelayanan air minum terdiri dari pelayanan jaringan perpipaan menggunakan
Sambungan Rumah (SR) dan pelayanan bukan jaringan perpipaan menggunakan Hidran
Umum (HU) / Kran Umum (KU) /Terminal Air (TA). Jumlah sambungan terpasang SPAM
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 41 Cakupan pelayanan IKK Paguyaman saat ini mencapai 18,13 % dengan penduduk
terlayani 1.700 Jiwa dari jumlah penduduk daerah pelayanan sebanyak 9.378 jiwa.
Kapasitas termanfaatkan SPAM eksisting sebesar 3 L/det.
SPAM IKK BOTUMOITO
SPAM Ibu Kota Kecamatan (IKK) Botumoito sebelumnya menggunakan Sistem
perpompaan dengan menggunakan saringan pasir lambat yang dibangun pada tahun
1990. Dengan adanya proyek APBN Tahun Anggaran 2010 melalui SATKER PK PAM
Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Gorontalo dibangun instalasi pengolahan air lengkap
(konstruksi IPA paket baja), dengan kapasitas terpasang 10 L/det. Sistem pengaliran
dengan perpompaan, sehingga tidak memungkinkan untuk dioperasikan selama 24 jam,
karena tingginya biaya operasional (khususnya biaya listrik) tidak seimbang dengan
pendapatan penjualan air.
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 42 Sumber air baku bersumber dari Sungai Botumoito (Q min = 400 L/det. Ditinjau dari
aspek kuantitas dan kontinyuitas sumber ini dapat menjamin ketersediaan air
sepanjang tahun, sementara secara kualitas sumber ini memenuhi syarat baku mutu
untuk digunakan sebagai sumber air baku untuk air minum.
Unit air baku SPAM IKK Botumoito, terdiri dari bangunan bendung intake, bak
pengumpul, dan pipa air baku. Pengambilan air baku dilakukan dengan membendung
sungai untuk meninggikan muka air dan untuk dialirkan ke sumur intake dan dengan
menggunakan pipa sadap Φ 100 mm.
Pengaliran air baku dari intake ke instalasi pengolahan air minum dilakukan dengan
cara pemompaan (Q = 10 L/det, H = 50 m), dengan jarak dari intake ke Instalasi adalah
15 meter.
Unit produksi menggunakan IPA Paket Baja dengan kapasitas terpasang 10 L/det.
Waktu Operasional unit produksi saat ini adalah 6 jam perhari mengingat biaya
operasionalnya (biaya listrik PLN & bahan kimia), belum berimbang dengan pendapatan
penjualan air di unit IKK Botumoito, karena kapasitas termanfaatkan SPAM eksisting
adalah 5,5 L/det.
Unit produksi dilengkapi dengan reservoir produksi berkapasitas 2 x 100 m3.
Bangunan penunjang unit produksi terdiri dari :
Rumah operasional ; Rumah pompa ; Gudang bahan kimia
1 Unit IPA paket baja kap 10 L/det Bak Sludge Drying Bed
Rumah Genset Reservoir 2 x 100 m3
Unit distribusi utama SPAM IKK Botumoito menggunakan pipa diameter 75 mm,
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 43
Tabel 8. 16 Panjang Pipa Distribusi Utama
Distribusi air minum dilakukan dengan pemompaan (Q = 5 L/det, H = 50 m, 3 unit
bergantian).
Daerah pelayanan SPAM IKK Botumoito mencakup 4 kelurahan /desa dari 9 desa
yang berada di wilayah administratif Kecamatan Botumoito. Daerah pelayanan SPAM
IKK Botumoito ditunjukkan pada Tabel 8.17.
Tabel 8. 17 Kelurahan terlayani SPAM Botumoito
Pelayanan air minum terdiri dari pelayanan jaringan perpipaan menggunakan
Sambungan Rumah (SR) dan pelayanan bukan jaringan perpipaan menggunakan Hidran
Umum (HU) / Kran Umum (KU) / Terminal Air (TA).
Jumlah sambungan terpasang SPAM IKK Botumoito berdasarkan kelompok
pelanggan ditunjukkan pada Tabel 3.10 Cakupan pelayanan saat ini adalah 17,66 %
(penduduk terlayani = 1.380 jiwa dari jumlah penduduk daerah pelayanan sebanyak
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 44 SPAM IKK DULUPI
SPAM Ibu Kota Kecamatan (IKK) Dulupi dibangun pada tahun 2008 melalui proyek
APBN (Satker PK PAM Dinas Pekerjaan Umun Provinsi Gorontalo) dengan instalasi
pengolahan air lengkap paket baja dengan kapasitas terpasang 5 L/dtk. Sistem
Pengaliran dengan perpompaan (jam operasi < 24 jam).
Sumber air baku adalah Sungai Dulupi dengan debit minimum = 300 L/det. Ditinjau
dari aspek kuantitas dan kontinyuitas sumber ini dapat menjamin ketersediaan air
sepanjang tahun, Secara kualitas, sumber ini memerlukan pengolahan yang cukup
lengkap karena pada musim hujan air baku ini sangat keruh.
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 45 Unit air baku SPAM IKK Dulupi. terdiri dari bangunan bendung intake, bak
pengumpul, dan pipa air baku. Pengambilan air baku dilakukan dengan membendung
sungai untuk meninggikan muka air dan untuk dialirkan ke sumur intake dan dengan
menggunakan pipa sadap berdiameter 100 mm. Pengaliran air baku dari intake ke
instalasi pengolahan air minum dilakukan dengan cara pemompaan dengan spesifikasi
pompa (Q = 10 L/det, H = 50 m) dengan jarak dari intake ke Instalasi adalah 30 meter.
Namun pada saat ini bendung yang dibangun dengan Kontruksi Bronjong telah hanyut
di terjang banjir pada saat usia IPA baru berumur 2 Bulan, sehingga debit air yang
masuk lewat kanal sudah berkurang.
Unit produksi menggunakan IPA Paket Baja dengan kapasitas terpasang 5l/det.
Waktu Operasional unit produksi saat ini adalah 5 jam perhari mengingat biaya
operasionalnya (biaya listrik PLN & bahan kimia), belum berimbang dengan pendapatan
penjualan air di unit IKK Dulupi. Unit produksi dilengkapi dengan reservoir produksi
berkapasitas 100 m3. Bangunan penunjang unit produksi terdiri dari :
Rumah operasional/Bahan Kimia ; 1 Unit IPA Paket Baja Kap 5 l/dtk
Rumah Genset/Pompa
Bak Reservoir 100 M3
Unit distribusi utama SPAM IKK Dulupi menggunakan pipa dengan kisaran diameter
75 mm s/d 100 mm. Rincian panjang dan jenis pipa distribusi utama ditunjukkan pada
Tabel 8.19
Tabel 8. 19 Panjang Pipa Distribusi Utama
Distribusi air minum dilakukan dengan pemompaan (Pompa yang digunakan adalah
pompa Vertikal merk Grunfos berkapasitas 5 l/det dengan head pompa 50 m). Daerah
pelayanan SPAM IKK Dulupi mencakup 2 desa dari 8 desa yang berada di wilayah
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 46
Tabel 8. 20 Kelurahan Terlayani SPAM Dulupi
Pelayanan air minum terdiri dari pelayanan jaringan perpipaan menggunakan
Sambungan Rumah (SR) dan pelayanan bukan jaringan perpipaan menggunakan Hidran
Umum (HU) / Kran Umum (KU) / Terminal Air (TA). Jumlah sambungan terpasang SPAM
IKK Dulupi berdasarkan kelompok pelanggan ditunjukkan pada Tabel berikut.
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 47 Cakupan pelayanan saat ini mencapai 15,1 % dengan penduduk terlayani 929 Jiwa
dari jumlah penduduk daerah pelayanan sebanyak 6.154 jiwa. Kapasitas termanfaatkan
SPAM eksisting sebesar 3 L/det.
2. Aspek Pendanaan
Struktur tarif PDAM Kabupaten Boalemo mengacu pada Surat Keputusan Bupati
Boalemo Nomor 3 Tahun 2006 mengenai penetapan tarif air minum pada Perusahaan
Daerah Air Minum (PDAM) tentang Penetepan Tarif Air Minum Kabupaten Boalemo
Penentuan besarnya tarif berdasarkan pada jenis pelanggan dan besarnya pemakaian
(Liter), yang dibagi kedalam tiga Blok konsumsi pemakaian dan empat kelompok
pelanggan yaitu :
≤ 10.000 Liter 11.000 – 20.000 Liter
≥ 20.000 Liter
PDAM Kabupaten Boalemo hingga saat ini menggunakan batas mininum pemakaian
air sampai dengan 10 m3/SR/bulan, sama dengan Permendagri No 23 tahun 2006
tentang penetapan batas tarif air minum pemakaian air sebesar 10 m3/SR/Bln
3. Kelembagaan
Secara kelembagaan PDAM Kabupaten Boalemo merupakan Badan Usaha Milik
Daerah (BUMD) Kabupaten Boalemo, yang memiliki tugas dan fungsi utama yaitu
layanan masyarakat (public service orientation), dengan memberikan layanan air
minum kepada masyarakat secara tepat kualitas, kuantitas dan kontinuitas kebutuhan
air minum bagi masyarakat.
Tugas pokok dari Perusahaan Daerah Air Minum adalah mengusahakan dan
menyelenggarakan pengelolaan air minum bagi penduduk di wilayah Kabupaten
Boalemo, dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat mencakup aspek
sosial, kesehatan dan pelayanan umum.
a. Perencanaan meliputi segala usaha dan kegiatan merencanakan, mempersiapkan,
mengolah, menelaah/membahas dan menyusun rumusan kebijaksanaan baik teknis
maupun non teknis.
b. Pelaksanaan meliputi segala usaha dan kegiatan menyelenggarakan kegiatan bidang
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 48 c. Koordinasi yang meliputi segala usaha dan kegiatan menciptakan kesatuan dan
keserasian langkah dalam mewujudkan peningkatan/perkembangan dibidang air
minum.
d. Pengawasan meliputi segala kegiatan pelaksanaan pengamanan, dan pengawasan
terhadap segala tugas baik dibidang teknis maupun non teknis sesuai kebijakan yang
ditetapkan oleh Kepala Daerah serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Saat ini PDAM Kabupaten Boalemo mempunyai 46 pegawai, yang terdiri dari
pegawai tetap dan pegawai honorer. Perbandingan jumlah tenaga kerja per 1000
sambungan sekitar 15 tenaga kerja, hal ini belum memenuhi ketentuan standar
nasional yaitu 6 tenaga kerja per 1000 unit sambungan langganan.
Struktur organisasi PDAM Kabupaten Boalemo ditunjukkan pada Gambar berikut.
Secara umum PDAM Kabupaten belum menerapkan prosedur pelaporan standar
yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. Sistem pelaporan saat ini belum ada, kalaupun
ada itu sifatnya sementara dan berdasarkan permintaan, belum mencakup semua aspek
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 49 4. Peran Serta Masyarakat
Peran serta masyarakat dalam menjaga kualitas air bersih masih terasa kurangkat,
adanya beberapa masyarakat yang melakukan pembuangan limbah di sungai, mandi
Kabupaten Boalemo Hal VIII - 51 C. Permasalahan dan Tantangan Pengembangan SPAM
1. Permasalahan Pengembangan SPAM
Permasalahan pengembangan SPAM di Kabupaten Boalemo antara lain:
1) Aspek Teknis
Sistem penyediaan air minum PDAM Kabupaten Boalemo untuk pelayanan air
minum Kabupaten Boalemo terdiri dari 4 unit kerja dengan kapasitas terpasang 42.5
L/det dan kapasitas termanfaatkan = 31.5 L/det, sebagaimana ditunjukkan pada Tabel
8.23.
Tabel 8. 23 Unit Kerja, Kapasitas Termanfaatkan PDAM Kab. Bolaemo
PDAM Kabupaten Boalemo hingga saat ini baru BNA Tilamuta yang memberikan
pelayanan 24 jam karena sistim pengalirannya gravitasi penuh, sementara ke tiga unit
lainnya belum dapat memberikan pelayanan secara kontinyu selama 24 jam sehari
Kondisi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya :
Sebagian pompa intake air baku yang beroperasi hanya 1 unit sehingga apabila
terjadi kerusakan maka tidak ada cadangan pompa;
Sistem pengaliran dengan perpompaan; Biaya operasi > pendapatan;
Sumber daya listrik sering mengalami gangguan sementara genset yang ada
kondisinya rusak dan tidak dapat dioperasikan;
Jaringan pipa distribusi yang usianya sudah tua banyak mengalami kebocoran.
2) Aspek Non Teknis
Permasalahan non teknis yang dihadapi oleh PDAM Kabupaten Boalemo saat ini adalah: