3.8 Analisis Kebutuhan Melalui Penyebaran Kuesioner, Focus Group Discussion Interview dan In-Depth Interview
3.8.1 Analisis Kebutuhan Customer Melalui Penyebaran Kuesioner
Untuk menganalisis kebutuhan customer terhadap kebutuhan E-Marketing, telah dilakukan penelitian melalui penyebaran kuesioner yang sebagian besar berisi tentang kebiasaan meminum teh oleh para responden dan juga perilaku mereka dalam menggunakan internet serta kebutuhan customer terhadap microsite E-Marketing untuk produk the dimana hasil dari kuesioner ini akan digunakan untuk mengetahui tentang karakter yang tepat dalam perancangan dan pembuatan microsite E-Marketing dan juga ide-ide untuk membuat fitur-fitur yang relevan dengan produk Lipton di dalamnya. Penyebaran kuesioner dilakukan secara manual melalui pengisian lembaran kuesioner fisik sebanyak empat lembar yang dibagikan kepada orang-orang yang karakternya sesuai dengan target audience di beberapa kawasan perkantoran dan perguruan tinggi mahasiswa S2 di daerah Jakarta . Jadi bisa disimpulkan, bahwa responden yang mengisi kuesioner ini profilnya telah disesuaikan dengan profil target audience yang dibuat untuk produk Lipton Flavoured Tea.
Fokus kuesioner adalah untuk mengumpulkan data yang akan dianilisis kemudian tentang
a. Kebiasaan minum teh pada khalayak sasaran.
b. Hubungan antara kebiasaan minum teh dengan karakteristik microsite. c. Pendapat khalayak sasaran tentang adanya peluang masuknya teh
Lipton dengan jenis Flavoured Tea yang harganya lebih mahal.
d. Mengetahui seberapa besar pengetahuan khalayak sasaran terhadap Brand Lipton.
Kuesioner fisik yang telah disebarkan kemudian dikumpulkan dan diolah datanya dibuat dengan menggunakan fitur Google Form yang terdapat dalam aplikasi GoogleDocs , dimana jawaban yang diberikan responden sebelumnya secara offline dapat langsung diolah di dalam database Google dan dibuat bentuk
summary atau ringkasan nya dalam bentuk grafik secara otomatis. Mengenai Format daftar pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner, keseluruhannya akan dicantumkan secara lengkap pada bagian Lampiran. Berikut adalah hasil dari penyebaran kuesioner yang telah didapatkan dari 52 responden:
Profil Umum Responden
Dilihat dari hasil kuesioner yang sudah diperoleh, usia yang menjadi target penelitian sudah hampir terpenuhi yaitu 24-30. Yang dimana usia dari segementasi customer produk teh celup Lipton yang akan di capai dan yang sudah berjalan saat ini.
Dari hasil yang dikumpulkan, profesi yang paling banyak ditemukan adalah pegawai swasta diikuti oleh pegawai negeri. Dari informasi tersebut dapat
disimpulkan orang-orang yang berprofesi sebagai pegawai swasta lah yang biasa berkumpul di tempat-tempat yang menjadi segmentasi dan target customer dari produk teh celup Lipton ini. Dan dari sini pula dapat disimpulkan
Dari data di atas terlihat bahwa mayoritasresponden mempunyai pengeluaran perbulan yang bisa dikategorikan masyarakat kalangan menengah ke atas, yang dimana merupakan target consumer dari produk teh Lipton ini.
Dari data tersebut dapat diketahui bahwa mayoritas responden menikmati waktu meminum teh mereka pada pagi hari, dari data tersebut dapat dibuat sebuah kesimpulan bahwa untuk tampilan design dan konten di dalam microsite dapat dibuat dengan latar belakang pagi hari untuk menyesuaikan momen minum teh pada pagi hari yang merupakan waktu tepat untuk mengawali hari dengan semangat dan kehangatan.
Dari dua data diatas waktu dan momen pengkonsumsian teh dari mayoritas koresponden adalah di waktu pagi hari dan saat bangun pagi ketika ingin memulai
aktivitas. Kedua data diatas bisa dijadikan acuan untuk membuat atau memfokuskan rancangan microsite yang bisa mengajak pengunjung microsite yang akan dibuat dengan menambahkan image bahwa teh celup Lipton ini sangat cocok untuk dinikmati saat bangun di pagi hari sebelum memulai aktivitas sehari-hari.
Dari data diatas ini mayoritas koresponden mengkonsumsi teh saat berada dirumah. Dimana Targeting customer dari teh celup Lipton yang memperkirakan bahwa targetnya adalah tempat-tempat berkumpul para muda-mudi berada di urutan ke-2 dan ke-3 yaitu kantor dan kafe.
Data diatas menunjukkan bahwa mayoritas cara pengkonsumsian teh para koresponden adalah dalam keadaan hangat.Ini berarti bisa digunakan sebagai dasar menguatkan image teh celup Lipton untuk diminum saat pagi hari dan saat berkumpul bersama dengan teman-teman sebagai penghangat suasana.
Dari data diatas mayoritas koresponden mendapatkan dan memilih sendiri teh celup yang diinginkannya. Dan bisa diperkirakan bahwa rata-rata orang mengkonsumsi teh memperdulikan rasa dari teh yang diinginkannya. Disamping itu juga mendukung dari tujuan dari Positioning produk teh celup Lipton yaitu sebagai teh celup yang membuat suasana menjadi menyenangkan dan relax.
Untuk data tempat pembelian teh, didapatkan jawaban terbanyak sebanyak 51% dari responden memilih minimarket untuk membeli produk teh celup, hal ini dapat menjadi bahan acuan untuk memberikan data tentang minimarket, Supermarket dan pusat perbelanjaan mana saja yang menjual produk Lipton Flavoured Tea.
Dari data merek teh yang biasanya dibeli oleh konsumen, didapat data bahwa Sariwangi memimpin dengan jumlah 44 % dengan 32 responden yang memilih produk tersebut saat membeli teh celup disusul dengan Tong Tjie di posisi kedua dengan perolehan 17% dengan total 12 responden dan setelah itu Lipton di posisi ketiga dengan perolehan yang sama dengan teh botol dan the cap bendera. Dari data tersebut terlihat potensi dari Lipton yang merupakan produk yang baru masuk dalam pasar Indonesia namun dapat bersaing dengan pemain lama dengan menempati urutan ketiga. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembangunan microsite dengan fokus pada suatu produk Lipton masih memiliki peluang untuk dapat membantu meningkatkan proses pemasaran dan penjualan Lipton.
Responden paling banyak memilih perasaan Relax sebanyak 63% sebagai sesuatu hal yang diharapkan dari menikmati secangkir teh, hal ini dapat dijadikan pertimbangan untuk perancangan desain microsite agar dapat menampilkan kesan relax.
Responden memilih prioritas dalam menikmati sebuah teh adalah mengenai rasa, sebanyak 60% responden yang menyatakan setuju akan hal tersebut. Kesimpulan
dari jawaban tersebut dapat dijadikan konten di dalam microsite Lipton untuk membahas lebih detail tentang rasa yang dimiliki oleh produk Lipton.
Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa 60% responden memilih tidak suka teh celup dengan varian rasa dimana 40% lainnya memilih kebalikannya bahwa mereka suka dengan varian rasa pada teh. Hal tersebut kemungkinan terjadi karena penyampaian komunikasi pemasaran lipton tentang Flavoured Tea yang mereka punya belum maksimal sehingga lewat pembuatan microsite dapat ditentukan objektif untuk dapat mengubah pendapat orang tentang teh celup dengan varian rasa setelah mereka mencobanya.
Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden sebanyak 35 % tidak mengetahui bahwa teh celup Lipton memiliki varian rasa, hal tersebut dapat mendukung pernyataan dalam hasil riset sebelumnya mengenai jumlah responden yang tidak suka teh celup dengan varian rasa sebanyak 60% adalah kemungkinan besar karena mereka belum pernah mencoba, khususnya untuk produk Lipton itu sendiri. Sehingga lewat jawaban riset pada data ini dapat disimpulkan bahwa masih banyak orang yang belum mengetahui bahwa Lipton memilii varian rasa sehingga merupakan peluang yang sangat besar untuk Lipton dalam membuat Microsite yang di dalamnya terdapat berbagai informasi penting mengenai Lipton.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa harga yang lebih mahal yang dikeluarkan oleh seseorang untuk membeli teh celup dengan kualitas yang lebih baik dari teh yang biasanya tidak menjadi masalah bagi banyak orang pada saat ini. Hal itu sesuai dengan prediksi bahwa masyarakat kelas menengah Indonesia semakin hari semakin bertambah, sehingga proses Positioning dari produk Lipton ini akan menjadi sesuatu yang tepat untuk keputusan Unilever Indonesia agar tetap mempertahankan Lipton pada pasar teh Premium di Indonesia. Hal itu juga dapat dijadikan kesimpulan mengapa microsite untuk Lipton Flavoured Tea ini dibuat.
Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa kebanyakan pengguna internetmenggunakan Mozilla Firefox dan Google Chrome untuk melakukan browsing diinternet. Sehingga microsite E-Marketing untuk Lipton Flavoured Tea setidaknya harus bisa diakses melalui dua browser tersebut.
Disini dapat disimpulkan bahwa alasan yang paling utama orang menjadi follower perusahaan pada jejaring sosial adalah untuk mendapatkan potongan harga dan promosi disusul dengan kebutuhan orang untuk mendapatkan informasi mengenai produk untuk disebarkan kepada orang lain. Jadi, E-Marketing melalui jejaring sosial ini sangat diperlukan oleh Lipton seelain untuk menyediakan informasi terbaru secara mudah kepada para customer dan untuk membina komunikasi intensif dengan customer jejaring sosial dan microsite dapat dijadikan sebagai media untuk memberikan promosi dan juga berupa potongan harga. Dan hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah karena kebanyakan responden yang mengisi kuesioner ini adalah responden yang mempunyai account pada jejaring sosial facebook dan twitter, alangkah lebih baiknya jika Public Relations pada Lipton ini kembali mengelola jejaring sosialnya yang sudah lama tidak aktif seperti YouTube dan lebih menghidupkan lagi percakapan di Twitter dan Facebook yang sudah memiliki jumlah followers dan like yang banyak.
Tapi yang tetap harus diingat adalah, account perusahaan di jejaring sosial tidak akan banyak berguna jika di dalamnya tidak memuat cukup informasi yang dapat menarik customer untuk berkunjung ke sana. Selain itu jika pertanyaan dari customer juga tidak dilayani, dan pihak pengelola account perusahaan ini juga tidak responsif dalam melayani tanggapan dan komentar dari customer, E-Marketing lewat media jejaring sosial ini akan sia-sia belaka dan tidak akan membawa banyak hasil. Kelemahan inilah yang harus diperbaiki segera oleh pihak Lipton jika ingin usaha Marketing mereka lewat
media jejaring sosial membawa efek yang menguntungkan.
3.8.2 Analisis Kebutuhan Customer Melalui Proses Focus Group Discussion (FGD) Interview
Selain riset kuantitatif, dilakukan juga riset kualitatif, salah satunya yaitu dengan metode Focus Group Discussion (FGD) Interview yang dibuat untuk menggali insight lebih dalam mengenai brand Lipton khususnya Lipton Flavoured Tea dari responden terpilih yang berjumlah enam orang. Secara teknis, keenam orang tersebut telah dipilih dan disesuaikan dengan profil target audience Lipton. Adapun keenam orang tersebut terbagi sesuai gender yaitu tiga orang laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan keeseimbangan dan kesetaraan responden dari sisi gender. Faktor lain yang diperhatikan adalah faktor umur, dimana keenam responden ini dapat mewakili masing-masing range umur yang terdapat pada usia 24-30 tahun yaitu dengan adanya responden yang berusia 24 tahun sebagai umur yang paling muda lalu ada yang berumur 25 tahun, 26 tahun, 27 tahun dan 28 tahun, dan usia 30 tahun sebagai usia yang paling tua. Untuk detail lebih jelas mengenai hasil wawancara FGD Interview dapat melihat lembar lampiran halaman ….
Fokus FGD Interview adalah untuk mengumpulkan data yang akan dianilisis kemudian tentang :
a. Kebiasaan minum teh secara mendetail pada responden.
b. Mengetahui seberapa besar pengetahuan khalayak sasaran terhadap Brand Lipton.
c. Pendapat responden dari iklan Lipton yang saat ini sedang tayang di media (TV, Digital Media, dll)
d. Pendapat dan respon dari responden FGD terhadap packaging dan juga rasa dari 6 varian Lipton Flavoured Tea yang disediakan pada sesi blind test pada saat melakukan proses FGD.
e. Hubungan antara kebiasaan minum teh dengan karakteristik dan konten microsite.
Dari proses interview FGD tersebut analisis untuk kebutuhan customer sesuai dengan produk Lipton Flavoured Tea diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Secara keseluruhan target audience yang telah ditentukan oleh Lipton memiliki kebiasaan minum teh yang cukup rutin dimana 5 dari 6 responden masih mengkonsumsi teh dalam keseharian dan rutinitas melakukan aktivitas sehari-hari. Hal ini menunjukkan masih besarnya kebutuhan khalayak terhadap teh yang menjadi minuman pendamping setelah air putih yang paling sering dikonsumsi.
b. Sebagian besar responden sudah cukup mengetahui tentang apa itu brand Lipton. Namun yang mereka tahu adalah Lipton Ice Tea, yang merupakan teh bubuk ataupun teh RTD (Ready to Drink) yang produknya masuk lebih awal sebelum teh celup Lipton yang ada saat ini. Hal itu sesuai dengan brief yang didapatkan dari Lipton Indonesia dimana pada brief tersebut diterangkan bahwa persepsi khalayak banyak yang masih menghubungkan Lipton dengan produk Lipton Lemon Ice Tea yang pada kenyataannya sudah tidak menjadi fokus Lipton lagi untuk saat ini. Hal tersebut jelas adalah hambatan/barrier bagi kelangsungan hidup produk teh celup Lipton khususnya Lipton Flavoured Tea dalam pasar teh celup Indonesia. Dari hasil tersebut harus dibuat suatu fitur yang dapat mengubah image Lipton sesuai dengan apa yang direncanakan pada konsep pembangunan microsite pada saat ini.
c. Pendapat responden mengenai iklan Lipton yang sedang tayang pada media Televisi saat ini rata-rata memberikan pendapat bahwa iklan yang dipublikasikan tersebut kurang berkesan, beberapa juga mengatakan bahwa pernah melihat tetapi sudah lupa isinya seperti apa. Juga ada responden yang mengatakan tidak mengerti apa sebenarnya isi iklan tersebut atau dengan kata lain pesan komunikasi yang ingin disampaikan miss atau tidak tersampaikan. Dengan hasil ini dapat disimpulkan bahwa ada yang kurang tepat dalam penyampaian pesan komunikasi Lipton pada iklan-iklannya yang terdapat pada media Televisi,
sehingga membuat banyak orang yang tidak mengerti, sehingga perlu dibuat sebuah fitur di dalam microsite yang dapat mengatasi hal tersebut.
d. Beberapa responden mengatakan bentuk packaging Lipton kurang sesuai dengan konsep premium tea yang diusung oleh Lipton. Jika disesuaikan dengan karakteristik anak muda, seharusnya bisa lebih elegan lagi dengan pilihan warna yang lebih gelap dan ekslusif menurut salah seorang responden. Untuk rasa yang ditawarkan oleh Lipton Flavoured Tea sudah cukup menarik, dimana enam rasa yang ada memiliki rasa yang khas dimana semua responden yang mencobanya dapat menebak dengan benar rasa-rasa apa saja yang mereka nikmati pada saat blind test.
e. Seluruh responden belum mengetahui dan belum pernah membuka website Lipton Indonesia yang terdapat pada alamat lipton.co.id. Hal tersebut dapat dijadikan peluang untuk mengkomunikasikan strategi e-marketing kepada khalayak agar dapat membuat khalayak dapat digiring dan diarahkan lewat bentuk komunikasi yang terintergrasi sehingga pada tahap akhir dapat membuat khalayak memiliki rasa seperti engagement dan participation untuk dapat membuka microsite Lipton yang akan dibuat. Insight lainnya adalah seperti penempatan isi microsite yang simple tapi menarik dan membuat penasaran sehingga memunculkan rasa ingin tahu orang untuk membuka dan menjelajahi isi dari microsite tersebut.
3.8.3 Analisis Kebutuhan Business to Business Melalui Proses In-Depth Interview
Pengumpulan data kualitatif lainnya dilakukan dengan metode in-depth interview. In-Depth Interview dilakukan kepada dua orang yang masing-masing adalah pemilik restoran dan kafe untuk menggali insight kedua orang tersebut mengenai usulan tentang Lipton Business yang datang dari adanya hasil riset kuantitatif yang menunjukkan bahwa Restoran dan Kafe adalah tempat untuk
menikmati teh yang paling banyak selain di rumah. Usulan mengenai Lipton Business ini juga memiliki keterkaitan dari beberapa unsur 4P yaitu dengan adanya berbagai benefit bersifat win-win solution yang sama-sama saling menguntungkan pihak Lipton dan restoran atau kafe yang akan bekerjasama. Untuk detail lebih jelas mengenai hasil wawancara In-Depth Interview dapat melihat lembar lampiran halaman ….
Adapun fokus In-Depth Interview adalah untuk mengumpulkan data yang akan dianilisis kemudian tentang :
a. Informasi restoran/kafe yang berhubungan dengan penjualan pada menu teh.
b. Seberapa banyak penjualan teh pada restoran/kafe.
c. Bentuk hubungan kerjasama antara pihak restoran/kafe dengan supplier. d. Benefit apa saja yang biasanya diinginkan.
Dari proses In-Depth interview tersebut analisis untuk kebutuhan customer sesuai dengan produk Lipton Flavoured diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Restoran/kafe pada umumnya menjual menu teh sebagai minuman pendamping saat makan yang cukup banyak dipesan oleh pelanggan, dimana restoran/kafe tersebut sudah memiliki banyak varian menu teh yang disesdiakan baik untuk flavoured tea maupun black tea. Adapun restoran/kafe yang dijadikan bahan untuk melakukan riset ini adalah restoran/kafe yang memiliki segmen dan target yang sesuai dengan profil Audience dari Lipton.
b. Untuk presentase penjualan teh, pada restoran terdapat 70% pelanggan yang membeli teh dan terdapat 35% penjualan teh pada kafe dimana angka tersebut cukup tinggi untuk penjualan menu teh dan dapat menjadi peluang apabila usulan fitur Lipton Business dapat dijalankan dengan memberikan berbagai macam benefit dari segi product, price, promotion dan place yang dapatsaling menguntungkan kedua belah pihak
c. Bentuk kerjasama selama ini yang dilakukan dengan supplier sudah dilakukan oleh restoran dengan bekerjasama langsung dengan merek teh Dilmah, susu Greenfield dan kopi Morning Glory. Begitu juga dengan kafe yang memiliki bentuk kerjasama dengan suppliernya, walaupun tidak ada kontrak tapi ada hubungan khusus dengan harga khusus. Dan untuk keduanya (restoran dan kafe) biasanya proses yang dilakukan oleh pihak supplier adalah mereka yang mendatangi pihak restoran/kafe yang ingin mereka ajak kerjasama. Dari data tersebut analisis yang didapatkan adalah adanya peluang dari fitur Lipton Business untuk menawarkan kerjasama dengan berbagai benefit yang saling menguntungkan, dengan cara pendekatan /approaching yang berbeda yaitu melalui microsite.
d. Benefit yang diinginkan dari pihak restoran/kafe yang paling diutamakan adalah untuk masalah harga, dan juga promosi-promosi lainnya seperti kerjasama penyelenggaraan event yang sesuai dengan segmentasi dari restoran/kafe tersebut. Analisis dari data tersebut dapat dijadikan bahan untuk membuat program penawaran kerjasama B2B dengan memasukkan benefit-benefit yang sesuai dengan keinginan restoran/kafe sehingga dapat menjadi daya tarik tersendiri.
3.9 Analisis Bauran Pemasaran 4P