• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Kebutuhan

Langkah awal penelitian pengembangan perangkat pembelajaran inovatif yang dilakukan peneliti adalah menganalisis kebutuhan. Analisis kebutuhan dilakukan melalui observasi dan wawancara terkait perangkat pembelajaran inovatif mengacu Kurikulum 2013. Peneliti melakukan observasi dan wawancara dengan 3 (tiga) guru kelas I Sekolah Dasar di Yogyakarta yaitu ibu W guru kelas I SDN Deresan, ibu S guru kelas I SDN Ngabean, dan ibu N guru kelas I SDN Babarsari. Observasi dan wawancara dilakukan pada bulan April 2018 sesuai dengan jadwal penelitian pada bab III. Observasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui analisis kebutuhan dan penerapan pembelajaran Kurikulum 2013 di kelas I Sekolah Dasar. Peneliti melakukan wawancara untuk mengetahui sejauh mana pemahaman guru mengenai implementasi pembelajaran inovatif pada Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar dan sekaligus untuk mengetahui permasalahan perangkat pembelajaran inovatif. Wawancara ini dilakukan sebagai dasar pengembangan perangkat pembelajaran inovatif yang mengacu Kurikulum 2013.

1. Hasil Observasi Analisis Kebutuhan

Peneliti melakukan observasi kepada guru dan siswa. Observasi dilakukan berdasarkan pedoman observasi pelaksanaan pembelajaran inovatif mengacu Kurikulum 2013 untuk kelas I Sekolah Dasar. Peneliti melakukan observasi dengan 3 (tiga) guru kelas I di SDN Deresan, SDN Ngabean, dan SDN Babarsari.Ada 30 butir pernyataan pedoman observasi guru yang terdiri dari kegiatan awal atau pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Hasil dari observasi digunakan untuk menganalisis kebutuhan perangkat pembelajaran. Berikut data hasil observasi

62 pembelajaran yang dilakukan oleh guru terkait pembelajaran inovatif mengacu Kurikulum 2013 untuk kelas I SDN Deresan, SDN Ngabean, dan SDN Babarsari.

Pada kegiatan awal atau pendahuluan ada 5 butir pernyataan berisi kegiatan yang pada umumnya dilakukan oleh guru. Ketiga guru mengawali kegiatan pembelajaran dengan berdoa. Dilanjutkan kedua guru melakukan presensi pada kegiatan awal pembelajaran sedangkan satu guru yang lain tidak melakukan. Dua guru melakukan apersepsi sebagai pengantar menuju pada materi yang akan diajarkan dengan membacakan suatu cerita yang dihubungkan dengan materi pelajaran. Sedangkan guru yang lain melakukan apersepsi dengan mengingatkan siswa materi yang sudah diajarkan sebelumnya. Namun, hanya satu guru yang menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa. Guru langsung memberikan motivasi menyanyikan lagu nasional bersama.

Pada kegiatan inti, ketiga guru tidak menyampaikan cakupan materi dan menjelaskan uraian kegiatan. Selama proses pembelajaran, kedua guru tidak melibatkan siswa dalam mencari informasi yang akan dipelajari. Satu guru lainnya melibatkan siswa dengan menuliskan pengalaman pribadi siswa yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari. Kedua guru juga sudah menggunakan media dan sumber pembelajaran sesuai materi yang disampaikan. Sedangkan guru lainnya tidak menggunakan media pembelajaran. Ketiga guru belum menggunakan metode yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa. Selama pembelajaran, kedua guru hanya menggunakan metode ceramah sehingga siswa merasa bosan dan cenderung kurang aktif dalam belajar. Namun satu guru lainnya menggunakan media berupa kartu kata yang disusun menjadi suatu kalimat sederhana untuk melatih siswa menulis.

Ketiga guru belum menggunakan model yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa. Buku guru dan buku siswa masih menjadi patokan

63 guru dalam mengajar. Dari hasil observasi yang dilakukan, ketiga guru sudah menerapkan 5M (Mengamati, Menanya, Mencoba, Menalar, Mengomunikasikan) selama pembelajaran walaupun tidak urut. Ketiga guru belum menggunakan bahasa yang baku dan terkadang menggunakan bahasa daerah saat mengajar. Dalam menyampaikan materi atau penjelasan, ketiga guru sudah menggunakan artikulasi dan valume yang jelas. Ketiga guru juga sudah menggunakan pakaian rapi dan berwibawa. Saat proses pembelajaran berlangsung, ketiga guru sudah memusatkan perhatian siswa secara verbal dan non-verbal. Ketiga guru juga tidak berpaku pada satu tempat saat mengajar dan selalu memberikan contoh dalam materi yang disampaikan terkait kehidupan sehari-hari. Ketika pembelajaran, ketiga guru memberikan apresiasi secara verbal berupa tepuk tangan, bagus, sip, acungan jempol kepada siswa yang aktif maupun yang berprestasi.

Saat kegiatan pembelajaran, ketiga guru tidak menggunakan sumber pembelajaran berbasis teknologi.Ketiga guru mampu dengan tegas mengondisikan siswa di dalam kelas dengan baik.Selama observasi dilakukan, ketiga guru sudah menekankan pendidikan karakter di kelas. Salah satu guru menerapkan pembiasaan melatih peserta didik mengucapkan salam dan terimakasih selama kegiatan pembelajaran. Guru yang lain menerapkan pendidikan karakter dengan cara saling berbagi buku dengan teman yang tidak membawa buku tematik. Dari hasil observasi, ketiga guru belum membuat suasana pembelajaran menjadi menarik dan menyenangkan dan menarik bagi siswa. Hal ini terlihat dari kegiatan pembelajaran oleh guru terpaku pada buku paduan guru dan siswa. Hanya satu guru yang melibatkan siswa untuk aktif dengan membaca bersama-sama suatu cerita bacaan yang ada di buku siswa. Selama proses pembelajaran hanya dua guru yang menjadi fasilitator siswa sedangkan guru yang lain masih belum menjadi fasilitator bagi siswa.

64 Pada kegiatan penutup, ketiga guru membuat ringkasan secara lisan dan tertulis. Ketiga guru membuat ringkasan lisan bersama dengan siswa, lalu menulis ringkasan di papan tulis. Ketiga guru juga tidak memberikan sumber lain untuk dipelajari siswa. Hanya satu guru yang melakukan refleksi pada akhir pembelajaran dibantu dengan pertanyaan-pertanyaan lisan yang ditanyakan kepada siswa. Sedangkan kedua guru yang lainnya tidak melakukan refleksi kepada siswa. Kedua guru memberikan motivasi kepada siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran. Salah satu guru memberikan motivasi dengan memanggil nama siswa tersebut dan meminta untuk maju ke depan kelas dan menulis suatu kata. Guru yang lain memberikan motivasi dengan membisikkan kalimat motivasi untuk selalu belajar ketika salaman dengan guru sewaktu jam pulang. Sedangkan guru yang lain cenderung tidak memberikan motivasi kepada siswa yang belum aktif. Ketiga guru tidak memberikan evaluasi dan tindak lanjut mengenai pembelajaran yang sudah disampaikan.

Peneliti juga melakukan observasi dengan peserta didik kelas I saat kegiatan pembelajaran di tiga Sekolah Dasar di Yogyakarta. Peneliti melakukan observasi kepada siswa menggunakan pedoman observasi yang sudah dibuat sebelumnya. Observasi siswa bertujuan untuk mengetahui apakah guru sudah menerapkan pembelajaran inovatif yang mengacu Kurikulum 2013 yang sesuai dengan karakteristik siswa. Ada sepuluh butir pernyataan yang digunakan peneliti untuk mengobservasi siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran.

Butir pernyataan yang pertama yaitu mengenai partisipasi aktif peserta didik selama mengikuti pembelajaran. Siswa pada dua sekolah dasar sudah berpartsipasi aktif. Hal ini terlihat dari siswa membaca bersama-sama suatu bacaan cerita pada buku siswa oleh panduan guru. Siswa di sekolah lain juga aktif ketika guru untuk menuliskan nama-nama bagian tubuh di papan

65 tulis. Namun pada sekolah lain, siswa belum aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Butir pernyataan yang kedua yaitu mengenai pemberian umpan balik apersepsi dari guru. Siswa pada dua sekolah memberikan umpan balik apersepsi dari guru dengan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru dan membagikan pengalaman siswa terkait materi yang akan disampaikan. Namun, siswa pada sekolah lain terlihat tidak memberikan umpan balik apersepsi pada guru. Butir pernyataan yang ketiga yaitu mengenai perhatian siswa ketika guru menyampaikan materi. Siswa di tiga sekolah dasar seluruhnya memperhatikan guru saat menyampaikan materi pembelajaran.

Butir pernyataan yang keempat yaitu mengenai siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru. Beberapa siswa pada dua sekolah mengajukan pertanyaan kepada guru. Sedangan siswa pada sekolah lain terlihat pasif dalam bertanya kepada guru. Butir pernyataan yang kelima yaitu mengenai mampu bekerja sama dalam kegiatan berkelompok. Dari hasil observasi, siswa di tiga sekolah dasar sudah dilatih oleh guru untuk bekerja sama dengan kelompok, walaupun hanya kelompok satu meja. Dalam kegiatan bekerja kelompok, guru selalu mendampingi setiap kelompok.

Butir pernyataan yang keenam yaitu mengenai siswa yang mampu mengomunikasikan hasil diskusi. Berdasarkan observasi, siswa pada tiga sekolah belum mampu mengomunikasikan hasil diskusi. Butir pernyataan yang ketujuh yaitu mengenai siswa yang antusias mengikuti proses pembelajaran. Siswa pada tiga sekolah terlihat antusias mengikuti proses pembelajaran. Butir pernyataan yang kedelapan yaitu mengenai pemahaman materi yang disampaikan oleh guru. Dari hasil observasi, siswa pada tiga sekolah sudah memahami materi yang disampaikan oleh

66 guru. Hal ini terlihat dari seluruh siswa mampu mengerjakan latihan yang diberikan oleh guru dan mendapat nilai yang baik.

Butir pernyataan yang kesembilan yaitu mengenai siswa dibantu guru untuk membuat rangkuman pembelajaran secara lisan. Siswa pada tiga sekolah dibimbing untuk membuat rangkuman pembelajaran secara lisan oleh guru. Butir pernyataan yang kesepuluh yaitu mengenai siswa dibantu oleh guru untuk membuat rangkuman secara tertulis. Siswa pada tiga sekolah membuat rangkuman secara tertulis di papan tulis dengan bantuan guru.

2. Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan

Selain melakukan observasi, peneliti juga melakukan wawancara. Wawancara berpedoman pada 22 butir pertanyaan yang ditanyakan pada empat guru kelas I Sekolah Dasar. Hasil wawancara tersebut kemudian digunakan sebagai analisis kebutuhan perangkat pembelajaran. Berikut ini data hasil wawancara dengan 4 (empat) guru SD yang dijabarkan sebagai berikut.

Butir pertanyaan yang pertama yaitu mengenai kapan guru menggunakan Kurikulum 2013. Satu guru mulai menggunakan Kurikulum 2013 sejak tahun pelajaran pelajaran 2014/2015 untuk kelas I dan IV saja. Dua guru lainnya sudah mulai menggunakan Kurikulum 2013 sejak tahun 2013 ketika pertama kali penerapan Kurikulum baru di beberapa SD.

Butir pertanyaan yang kedua yaitu mengenai pelatihan bagi guru dalam penggunaan Kurikulum 2013 di sekolah. Tiga guru sudah mengikuti pelatihan penggunaan Kurikulum 2013.

Butir pertanyaan yang ketiga yaitu mengenai pemahaman guru terkait Kurikulum SD 2013. Kedua guru diantaranya mengatakan bahwa dalam penerapan Kurikulum 2013 menggunakan pembelajaran tematik dan lebih menuntut siswa untuk lebih aktif serta mandiri. Guru lainnya mengatakan

67 selain menggunakan pembelajaran tematik, guru harus menguasai penilaian spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan.

Butir pertanyaan yang ke empat yaitu mengenai pengetahuan karakteristik Kurikulum 2013. Ketiga guru diwawancarai mengatakan bahwa mereka mengetahui karakteristik Kurikulum 2013, namun belum secara keseluruhan. Salah satu guru mengatakan pembelajaran menggunakan saintifik dan mengupayakan siswa mencapai panduan yang diharapkan. Walaupun guru-guru mengetahui karakteristik Kurikulum 2013, namun belum begitu memahami karakteristik Kurikulum 2013.

Butir pertanyaan yang kelima yaitu pemahaman mengenai pendekatan saintifik yang digunakan pada pembelajaran. Salah satu guru mengatakan bahwa pendekatan saintifik digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran pada Kurikulum 2013. Sedangkan dua guru yang lain, menjelaskan bahwa belum memahami pendekatan saintifik secara menyeluruh dan terkadang penggunaan 5M (mengamati, menanya,mencoba, menalar, dan mengomunikasikan) tidak dilakukan secara runtut.

Butir pertanyaan yang keenam yaitu cara perumusan indikator dan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai siswa. Ketiga guru mengatakan bahwa dalam merumuskan indikator perlu memperhatikan Kompetensi Dasar yang hendak dicapai kemudian disesuaikan dengan karakteristik siswa.

Butir pertanyaan yang ketujuh yaitu mengenai menumbuhkembangkan pendidikan karakter dalam pembelajaran. Kedua guru mengatakan dalam menumbuhkembangkan pendidikan karakter, mereka memperhatikan materi dan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Sedangkan guru yang lain menyebutkan bahwa menumbuhkembangkan pendidikan karakter perlu melihat karakter siswa dan sebisa mungkin guru hanya mengarahkan saja tanpa memaksa siswa.

68 Butir pertanyaan yang kedelapan yaitu penggunaan model pembelajaran yang berbeda-beda dalam melaksanakan RPP. Ketiga guru mengatakan bahwa dalam membuat dan melaksanakan RPP, hanya bepedoman pada buku panduan dari pemerintah sehingga jarang mengembangkan RPP menggunakan bermacam model.

Butir pertanyaan yang kesembilan yaitu pengupayaan pendidikan karakter dalam membuat tujuan pembelajaran. Ketiga guru menjelaskan dalam membuat tujuan pembelajaran sudah mengupayakan pendidikan karakter. Salah satu guru memaparkan bahwa terkadang tujuan yang sudah dibuat untuk mengembangkan pendidikan karakter tidak dilaksanakan karena terkendala oleh alokasi waktu pembelajaran.

Butir pertanyaan yang kesepuluh yaitu mengenai pengetahuan tentang karakteristik pembelajaran abad ke -21. Dua guru yang diwawancarai mengatakan bahwa belum mengetahui karakteristik pembelajaran di abad ke-21, mereka hanya mengetahui siswa dituntut untuk aktif, kreatif dan mandiri dalam proses pembelajaran. Satu guru yang lain menyebutkan mengetahui karakteristik pembelajaran abad ke-21, namun belum begitu memahami penerapannya dalam pembelajaran.

Butir pertanyaan yang ke sebelas yaitu mengenai perumusan indikator yang terkait keterampilan abad ke-21.Tiga guru mengatakan bahwa belum mengetahui dan memahami perumusan indikator yang terkait keterampilan abad ke 21.

Butir pertanyaan yang ke dua belas yaitu mengenai metode ceramah yang mendominasi proses pembelajaran di kelas. Dua guru mengatakan bahwa terkadang metode ceramah masih mendominasi di kelas. Hal ini dikarenakan masih terbatasnya pengetahuan guru tentang beberapa model pembelajaran inovatif, sehingga metode ceramah dianggap sebagai metode yang mudah dan praktis. Guru lain menjelaskan bahwa penggunaan metode ceramah di sesuaikan dengan pokok materi yang

69 diajarkan. Beliau memaparkan bahwa pada pembelajaran di kelas I, guru menggunakan metode ceramah saat membacakan cerita atau suatu bacaan kepada siswa.

Butir pertanyaan yang ke tiga belas yaitu penggunaan model pembelajaran inovatif dalam membuat dan melaksanakan RPP. Dua guru mengatakan bahwa sudah mencoba menggunakan model pembelajaran inovatif yaitu model PBL dan picture and picture, namun belum menerapkan model pembelajaran inovatif dalam setiap mengajar. Sedangkan guru yang lain menjelaskan bahwa mereka mengetahui adanya model pembelajaran inovatif, namun belum pernah mengembangkan dalam RPP. Ketika pembelajaran di kelas guru hanya menggunakan buku panduan dari pemerintah.

Butir pertanyaan yang ke empat belas yaitu mengenai pemahaman pembelajaran inovatif. Dua guru yang diwawancarai mengatakan bahwa pembelajaran inovatif bertujuan untuk membuat siswa menjadi aktif, kreatif, dan merasa senang dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Salah satu guru menjelaskan bahwa peran guru hanya mengerahkan siswa mengembangkan ide-idenya sendiri.

Butir pertanyaan yang ke lima belas adalah kesulitan membuat dan melaksanakan pembelajaran inovatif di kelas. Terdapat guru yang mengalami kesulitan dalam menyusun perangkat pembelajaran menggunakan model pembelajaran inovatif. Kesulitan ini dikarenakan masih sedikitnya contoh perangkat pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran inovatif. Satu guru lainnya mengalami kesulitan ketika memadukan materi dengan model inovatif yang sesuai karakteristik siswa. Guru lainnya mengalami kesulitan ketika merencanakan pembelajaran dalam satu hari. Guru harus mengintegrasikan beberapa materi dan menyesuaikan dengan langkah model pembelajaran inovatif. Integrasi materi dan menyesuaikan langkah

70 pada model pembelajaran inovatif inilah yang menjadi kesulitan guru karena membutuhkan waktu yang lama.

Butir pertanyaan yang ke enam belas yaitu mengenai cara mengatasi kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam membuat dan melaksanakan pembelajaran inovatif di kelas. Salah satu guru mengatakan cara mengatasi kesulitan membuat dan melaksanakan model pembelajaran inovatif adalah dengan melibatkan peran serta orang tua siswa untuk menunjang proses pembelajaran di kelas. Sedangkan dua guru yang lain memaparkan cara mengatasinya dengan membuat media pembelajaran yang inovatif sekaligus mempersiapkan RPP dengan baik.

Butir pertanyaan yang ke tujuh belas yaitu menganai contoh perangkat pembelajaran inovatif sesuai Kurikulum 2013 yang tersedia di sekolah. Salah satu guru mengatakan bahwa belum tersedia perangkat pembelajaran inovatif yang sesuai Kurikulum 2013, namun sekolah hanya mempunyai media-media inovatif seperti kartu kata yang digunakan untuk membaca, dan lain sebagainya. Sedangkan dua guru yang lain memaparkan bahwa belum mempunyai perangkat pembelajaran inovatif yang sesuai dengan Kurikulum 2013.

Butir pertanyaan yang ke delapan belas yaitu mengenai kebutuhan guru terhadap contoh perangkat pembelajaran inovatif yang sesuai Kurikulum 2013. Ketiga guru yang diwawancarai mengatakan bahwa membutuhkan contoh perangkat pembelajaran invovatif sesuai Kurikulum 2013. Guru mengatakan contoh perangkat pembelajaran inovatif sesuai Kurikulum 2013 akan membantu mereka mengembangkan rencana pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan pada abad ke-21 dan menjadikan peserta didik lebih aktif, kreatif, mandiri, peduli, jujur, dan bertanggung jawab.

Butir pertanyaan yang ke Sembilan belas yaitu mengenai siswa yang merasa bosan ketika guru menerapkan pembelajaran inovatif di kelas.

71 Ketiga guru mengatakan bahwa ketika guru menerapkan pembelajaran inovatif, siswa merasa senang, aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran.

Butir pertanyaan yang ke dua puluh yaitu mengenai rencana mengembangkan perangkat pembelajaran yang inovatif yang sesuai Kurikulum 2013. Ketiga guru ingin mengembangkan perangkat pembelajaran inovatif supaya prestasi siswa meningkat.

Butir pertanyaan yang ke dua puluh satu yaitu mengenai pentingnya penerapan pembelajaran inovatif. Ketiga guru menjelaskan bahwa penerapan pembelajaran inovatif itu penting untuk meningkatkan prestasi siswa.

Butir pertanyaan yang ke dua puluh dua yaitu mengenai pemahaman guru tentang jenis belajar menurut taksonomi bloom yang sudah direvisi. Ketiga guru memaparkan bahwa belum mengatahui jenis belajar menurut taksonomi bloom yang sudah direvisi.

3. Pembahasan Hasil Observasi, Hasil Wawancara dan Analisis Kebutuhan

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan kepada guru dan siswa, dapat disimpulkan bahwa guru belum menerapkan pembelajaran inovatif mengacu Kurikulum 2013 untuk kelas I sekolah dasar. Dalam melaksanakan pembelajaran, guru hanya berpedoman ada panduan buku guru dan buku siswa. Hal ini yang membuat siswa cenderung merasa bosan dan kurang aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Berdasarkan hasil wawancara yang telah diuraikan diatas, peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa guru belum secara lengkap dan menyeluruh memahami mengenai pembelajaran inovatif sesuai Kurikulum 2013. Selain itu, guru juga belum mengetahui secara lengkap dan utuh mengenai karakteristik pembelajaran abad ke-21 yang diterapkan pada

72 Kurikulum 2013. Guru sudah mengikuti pelatihan Kurikulum 2013, namun masih belum memahami secara penuh pembelajaran inovatif. Ketika mengembangkan pembelajaran inovatif, guru mengalami kesulitan. Guru mengalami kesulitan ketika merancang pembelajaran inovatif dan menentukan model pembelajaran yang sesuai karakteristik siswa.

Menurut observasi dan wawancara yang dilakukan dengan 3 (tiga) guru kelas I, guru membutuhkan contoh perangkat pembelajaran inovatif yang sesuai Kurikulum 2013. Melalui contoh perangkat pembelajaran inovatif yang sesuai dengan Kurikulum 2013, guru dapat mengembangkan rancangan perangkat pembelajaran yang membuat siswa senang, aktif dan antusias, sehingga meningkatkan prestasi.

B. Deskripsi produk awal

Dalam mengembangkan perangkat pembelajaran inovatif, peneliti menggunakan beberapa langkah. Langkah awal yang dilakukan yaitu membuat program tahunan. Sebelum tahun ajaran baru dimulai, rancangan program tahunan ini perlu dipersiapkan dan dikembangkan.Program tahunan ini merupakan pedoman bagi pengembang program-program pembelajaran berikutnya seperti program semester. Peneliti membuat program tahunan dengan melihat tema, subtema, alokasi waktu yang digunakan melalui panduan buku guru dan siswa. Pada program tahunan berisi tema dan sub tema dalam satu tahun pembelajaran atau dalam dua semester. Point penting pada program tahunan adalah minggu belajar efektif dalam setiap sub tema yang dilakukan dalam satu tahun.

Setelah program tahunan selesai dibuat, peneliti melanjutkan langkah kedua yakni membuat program semester. Program semester ini merupakan penjabaran dari program tahunan. Program semester berisikan mengenai rancangan pembelajaran yang akan dicapai dalam satu semester. Pada program semester memuat tentang tema, subtema, pembelajaran ke-, alokasi waktu, dan bulan. Pengembangan program semester disesuaikan dengan jam

73 belajar efektif mengacu pada kalender akademik Sekolah Dasar. Program semester bertujuan untuk mengetahui rancangan pada minggu keberapa dimulainya pembelajaran.

Langkah ketiga adalah membuat silabus. Peneliti membuat silabus untuk satu tema yakni tema Kegiatanku. Langkah awal yang dilakukan untuk membuat silabus yaitu menentukan Kompetensi Dasar pada tema dan sub tema yang sudah ditentukan. Kemudian menyusun materi pokok dan kegiatan pembelajaran yang akan diajarkan. Dalam satu silabus yang dikembangkan terdapat rincian mengenai Kompetensi Dasar, materi pokok pembelajaran, kegiatan pembelajaran, alokasi waktu, sumber belajar dan penilaian pada setiap subtema. Pengembangan silabus hanya dilakukan pada setiap tema.

Langkah keempat adalah mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menggunakan model yang sudah ditentukan sebelumnya. Sebelum mengembangkan RPP, tahapan awal yang dilakukan yaitu menganalisis Kompetensi Dasar (KD) untuk satu semester yaitu semester gasal. Setelah menganalisis Kompetensi Dasar (KD) selesai dilakukan, tahapan selanjutnya peneliti melakukan pemetakan Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD) dan indikator sesuai dengan tema yang ada dalam Kurikulum 2013. Peneliti melakukan pemetakan Kompetensi Dasar (KD) pada satu sub tema yaitu subtema kegiatan sore hari untuk kelas I Sekolah Dasar. Peneliti memilih subtema tersebut dikarenakan Kompetensi Dasar (KD) dan materi pokok yang dikembangkan sesuai dengan model pembelajaran PPR serta Quantum Learning. Pada subtema kegiatan sore hari untuk kelas I sekolah dasar belum ada perangkat pembelajaran inovatif yang dikembangkan. Berdasarkan KD yang sudah dipetakan kemudian diturunkan menjadi indikator. Dalam menyusun indikator pembelajaran, peneliti menggunakan kata kerja operasional Taksonomi Bloom edisi revisi. Indikator yang disusun menggunakan kata kerja operasional berpikir tingkat tinggi yang sesuai dengan Taksonomi Bloom.

74 Sesuai dengan indikator pembelajaran yang sudah dikembangkan, peneliti kemudian menentukan langkah-langkah dari model pembelajaran inovatif yang akan digunakan. Langkah selanjutnya, peneliti mulai menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) selama satu hari penuh atau 5JP (5 X 35 menit). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) disusun secara lengkap dengan lampiran penilaian, rangkuman materi, LKPD (Lembar Kerja

Dokumen terkait