B. Kondisi Eksisting Pengembangan Persampahan a. Aspek Teknis
3. Bidang Kebersihan Mempunyai Tugas :
6.4.2.3. Analisis Kebutuhan Pengembangan Persampahan
Sampah pada dasarnya dihasilkan oleh atau merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia, Hukum termodinamika kedua menyatakan bahwa hakikatnya proses perubahan materi atau produksi apapun tidak ada yang berjalan effisien 100 persen, Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah yang jumlah dan volumenya sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang atau material yang kita gunakan sehari-hari.Berdasarkan hasil perhitungan sebagaimana tercantun dalam buku infrastruktur Indonasi (Bappenas 2011), pada tahun 1995 perkiraan timbulan sampah di Indonesia mencapai 22,5 Juta ton / Hari dan meningkat lebih dua kali lipat pada 2020 menjadi 53,7 juta Ton / Hari,
Maka oleh karena itu pengembangan persampahan di Kabupaten Karimun harus di rencanakan dan di kelola sebaik mungkin,Untuk mengetahui Timbulan, kebutuhan sarana dan prasarana pengolahan sampah pada masa mendatang digunakan analisa dengan standard dan asumsi sebagai berikut:
Peluang timbulan sampah 2 liter/ hari/ jiwa Kapasitas tong sampah 40 liter / unit
Kapasitas gerobak sampah mencapai 800 liter Kapasitas transfer depo/ TPS 10.000 liter.
Tabel 6.42. : Analisis Kebutuhan Sarana dan Prasarana Persampahahan Kabupaten Karimun
No Uraian Satuan Kebutuhan
2015 2016 2017 2018 2019
A Teknis Operasional
1 Jumlah penduduk Jiwa 298.143 304.105 310.187 316.398 322.725 2 Jumlah Timbulan Sampah /Hari Liter 596.286 608.212 620.374 632.796 645.450 3 Pewadahan Tong Sampah Unit 35.060 39.342 43.625 47.906 52.188 4 Pengumpulan Gerobak Sampah Becak Sampah Unit 1.753 1.967 2.181 2.395 2.609
5 Jumlah Transfer Depo Unit 56 58 61 64 66
Sumber : Hasil Analisa
Tabel 6.43. : Analisis Kebutuhan dan Target Pencapaian Daerah
No Uraian Eksisting Kondisi Kebutuhan
Tahun
2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019 A. Kelembagaan
- Bentuk Organisasi Belum Ada - Tata Laksana (Tupoksi,
SOP, dll) Belum Ada
- Kualitas dan Kuantitas
SDM kuantitas SDM Kurangnya B. Peraturan Persampahan Terkait
- Ketersediaan Peraturan bidang persampahan
(perda, pergub) Belum Ada C. Pembiayaan : - Sumber-sumber pembiayaan APBD Prov, APBD Kab, APBN, Retribusi - Tarif Retribusi - Realisasi Penarikan Retribusi (% Terhadap target)
D. Peran serta Masyarakat dan swasta (sudah ada atau
No Uraian Eksisting Kondisi Kebutuhan Tahun
2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019 E Teknis Operasional
1. Perencanaan (MP,FS,DED) Belum Ada
2. Jumlah Penduduk (Jiwa) 78.434 80.003 81.603 83.235 84.900
3. Volume Sampah (M3/hari) 156,8 160 163 166 169,8
4. Pewadahan
Tong sampah (Unit) 3.920 4.000 4.075 4.150 4.245
Container (Unit) 390 400 408 415 424
5. Pengumpulan /
Pengangkutan
Dump Truk / Arm Roll
Truck (Unit) 19 20 21 21 22
6. TPA
Volume Sampah (M3/hari) 156,8 160 163 166 169,8
Volume Sampah Setelah
Pemadatan (M3/hari) 94 96 98 100 102
Volume tanah Penutup
(M3/tahun) 4,070 4,210 4,429 4,598 4,759
Luas Lahan TPA yang
Dibutuhkan (m2) 33.120 34.671 35.269 37.127 38.687
Buffer zone dan utilitas
(20%) (m2) 6.624 6.934 7053 7.425 7.737
Total Kebutuhan Lahan
TPA (Ha) 4 4 4 4,5 4,5
Sumber : Hasil Analisa
Rencana prasarana dan sarana pengelolaan persampahan di Kabupaten Karimun dibedakan menjadi 2 yaitu:
1. Sistem Penanganan Sampah Pada Lingkungan Permukiman Perkotaan
Pengelolaan sampah di lingkungan perkotaan khususnya di Kabupaten Karimun di kembangkan dengan sistem penanganan sampah terpadu yang meliputi sistem pengumpulan, sistem pengangkutan sementara, pengolahan akhir dan pengolahan untuk sampah tertentu. Rencana sistem penanganan sampah di permukiman perkotaan di Kabupaten Karimun adalah sebagai berikut :
a. Pengelolaan sampah permukiman perkotaan di Kabupaten Natuna dilakukan melalui proses pewadahan, pemilahan, pengumpulan, pemindahan, pengangkutan, dan pengolahan.
b. Sistem pengolahan sampah direncanakan sistem pengolahan sampah secara terpadu.
c. Penggunaan teknologi tepat guna untuk meningkatkan efisiensi dan mengoptimalkan prasarana persampahan
d. Pengembangan prasarana sampah bahan berbahaya dan beracun serta pengelolaannya dilakukan dengan teknologi yang tepat serta berwawasan lingkungan
e. Pemanfaatan kembali sampah non organik pada sumber produksi sampah; Skenario ini diharapkan dapat mereduksi sampah sebesar 20% pada TPST dan 10% di TPA sehingga total reduksi sampah adalah 30%.
f. Komposter sampah organik pada sumber domestik; di TPST dan TPA
g. Pengembangan sumber energi alternafif (gas metan) pada Tempat Pengelolaan Sampah Akhir.
h. Pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir dilakuan dengan sistem sanitari lanfill.
i. Peningkatan daerah pelayanan pengelolaan sampah.
2. Sistem penanganan sampah pada lingkungan permukiman pedesaan, pesisir dan pulau-pulau kecil
Sistem penanganan sampah di pedesaan, pesisir dan pulau - pulau kecil di rencanakan untuk dilakukan secara swadaya oleh masyarakat dengan sistem komposting. Rencana sistem penanganan sampah di permukiman pedesaan di Kabupaten Natuna adalah sebagai berikut : a. Pemanfaatan kembali sampah non organik pada sumber produksi
sampah.
b. Komposter sampah organik secara on site oleh masyarakat.
Sistem persampahan di perkotaan di rencanakan dengan pengembangan sistem yang disesuaikan dengan rencana peruntukan tata guna lahan. Hal - hal teknis yang perlu dipertimbangkan dan dikoordinasikan untuk merencanakan pengelolaan sampah yang meliputi: laju pertumbuhan sampah, tempat penyimpanan, pengumpulan, pemindahan dan pengangkutan, pemrosesan dan pembuangan. Sementara hal - hal non teknis yang juga sangat penting untuk dipertimbangkan yaitu perihal
keuangan, operasionalisasi sistem, peralatan, tenaga ahli, biaya pengeluaran dan pemasukan, administrasi, peraturan dan petunjuk pelaksanaan, serta komunikasi dengan masyarakat sekitar. Komponen-komponen sistem pengelolaan persampahan ini diantaranya adalah: a. Sub Sistem Pengumpulan (Collecting System)
Yang dimaksud dengan sistem pengumpulan sampah adalah cara atau proses pengambilan sampah mulai dari tempat pewadahan/penampungan dari sumber timbulan sampah sampai ke tempat pengumpulan sementara/stasiun pemindahan atau sekaligus ke tempat pembuangan akhir. Pengumpulan umumnya dilaksanakan oleh petugas kebersihan kota atau swadaya masyarakat.
Aktivitas yang termasuk dalam pengumpulan limbah padat terbagi menjadi empat kategori, yaitu pengambilan, pengangkutan, pembuangan, dan istirahat (off route).
1. Daerah Perumahan
Jenis sampah yang dihasilkan dari daerah perumahan berupa limbah makanan, sampah kering, abu dan limbah khusus. Sistem pengumpulan sampah pada daerah ini menggunakan sistem ‟door to door‟. Pada aerah yang tidak dapat dijangkau oleh kendaraan pengumpul, disediakan tempat - tempat sampah sehingga penduduk dapat membawa sendiri sampahnya ke tempat sampah. Lokasi tempat sampah diusahakan terletak pada rute kendaraan pengumpul. Kendaraan pengumpul yang digunakan berupa traktor tarik dengan kontainer gandeng dengan kapasistas 2m3 dan untuk menampung sampah di tiap sumber digunakan kantong plastik. Sistem pengumpulan sampah pada daerah yang di jangkau oleh kendaraan pengumpul dengan kendaraan angkut compactor truck berkapasitas 2 ton (8m3) dan penampungan sampah dengan kantong plastik.
2. Daerah Pasar
Pada daerah ini sistem yang diterapkan menggunakan sistem kontainer yang ditempatkan di setiap pasar. Kontainer ini akan menampung seluruh sampah pasar. Kontainer secara periodik diangkut dengan truk kontainer. Kapasitas kontainer 8 m3.
3. Daerah Komersial (pertokoan, perdagangan, perkantoran, hotel dan fasum)
Jenis limbah yang dihasilkan dari daerah komersial berupa limbah makanan, sampah kering, abu, pembongkaran dan konstruksi, limbah khusus, limbah berbahaya.Pada daerah ini sistem yang dterapkan menggunakan sistem door to door dengan penampungan awal menggunakan kantong plastik dan pada daerah dengan jumlah sampah besar disediakan pewadahan dengan bin container 1 m3. Kendaraan pengumpul yang digunakan berupa compactor truck dengan kapasitas 8 m3.
4. Daerah Industri
Pada daerah industri dimana limbah yang dihasilkan jenisnya termasuk sampah kering, limbah pembongkaran, limbah konstruksi, limbah khusus dan limbah berbahaya pengumpulan sampah dilaksanakan dengan loader yang selanjutnya dipindahkan ke dump truck untuk diangkut ke Tempat Pemprosesan Akhir (TPA).
b. Sub Sistem Pengangkutan (Transportation System)
Sistem transportasi dalam sistem Pengelolaan persampahan merupakan bagian yang mengatur segi pemindahan atau pengangkutan sampah mulai dari titik pengumpulan awal sumber generasi sampah menuju ke station transfer atau ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST). Kemudian dari TPST diangkut ke Tempat Pemprosesan Akhir (TPA). Beberapa aspek penting yang harus dijadikan pertimbangan dalam upaya pengelolaan persampahan perkotaan dikaitkan dengan sistem transportasi sampah ini diantaranya adalah aspek manajemen waktu pengangkutan (termasuk tahap pengumpulan dan pembuangan), kelengkapan sarana transportasi, sistem rute kendaraan (routing system) dan kelengkapan serta kemampuan personil.
Sistem pengangkutan merupakan kelanjutan dari sistem pemindahan, yaitusistem pengangkutan kontainer yang telah terisi menuju tempat pembuangan akhir dengan trailler.
c. Sistem Pemindahan (Transfer Station System)
Sistem pemindahan menggunakan kontainer dengan kapasitas 20 ton (kapasitas 100m3 padat) dengan sistem pemadatan. Sistem pemindahan dilaksanakan dengan memindahkan sampah dari kendaraan pengumpul ke kontainer yang tersedia.
d. Sistem Pengolahan dan Pembuangan Akhir
Sistem pengolahan dan pembuangan akhir merupakan sistem yang digunakan untuk mengelola sampah pada akhir sistem. Pengolahan sampah bertujuan untuk :
Mengurangi (reduksi) sampah dengan pembakaran (incenerator) Mengurangi volume sampah denagn pemadatan (balling)
Memanfaatkan kembali (recycling) sisa limbah padat Memanfaatkan sampah untuk kompos
Menghasilkan energi untuk proses pemusanahan sampah tersebut. Pembuangan akhir dilakukan untuk menangani limbah dalam waktu yang cukup lama, yaitu :
Limbah yang tidak memiliki kegunaan lagi. Material sisa limbah padat setelah diproses.
Material sisa setelah proses daur ulang dan energi yang ada sudah tidak tersisa.
6.4.2.4. Program dan Kriteria Kesiapan Pengembangan Sistem