6.1. Pengembangan Permukiman
Berdasarkan UU No. 1 Tahun 2011, permukiman didefinisikan sebagai bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau perdesaan. Kegiatan pengembangan permukiman terdiri dari pengembangan permukiman kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. Pengembangan permukiman kawasan perkotaan terdiri dari pengembangan kawasan permukiman baru dan peningkatan kualitas permukiman kumuh, sedangkan untuk pengembangan kawasan perdesaan terdiri dari pengembangan kawasan permukiman perdesaan, kawasan pusat pertumbuhan, serta desa tertinggal.
6.1.1. Arahan Kebijakan dan Lingkup Kegiatan
Arahan kebijakan pengembangan permukiman mengacu pada amanat peraturan perundangan, antara lain:
1. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional.
Arahan RPJMN Tahap 3 (2015-2019) menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukung bagi seluruh masyarakat terus meningkat, sehingga kondisi tersebut mendorong terwujudnya kota tanpa permukiman kumuh pada awal tahapan RPJMN berikutnya.
2. Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Pasal 4 mengamanatkan bahwa ruang lingkup penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman juga mencakup penyelenggaraan perumahan (butir c), penyelenggaraan kawasan permukiman (butir d), pemeliharaan dan perbaikan (butir e), serta pencegahan dan peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh (butir f).
3. Undang-Undang No. 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun.
Pasal 15 mengamanatkan bahwa pembangunan rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara merupakan tanggung jawab pemerintah.
4. Peraturan Presiden No. 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.
Peraturan ini menetapkan salah satunya terkait dengan penanggulangan kemiskinan yang diimplementasikan dengan penanggulangan kawasan kumuh.
5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Tata Ruang.
Peraturan ini menetapkan target berkurangnya luas permukiman kumuh di kawasan perkotaan sebesar 10% pada tahun 2014.
6.1.2. Isu Strategis, Kondisi Eksisting, Permasalahan dan Tantangan Berikut diuraikan isu strategis, kondisi eksisting, permasalahan dan tantangan pada sektor pengembangan permukiman di Kabupaten Karimun
A. Isu Strategis Pengembangan Permukiman
Isu Strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan daerah karena dampaknya yang signifikan bagi daerah dengan karakteristik bersifat penting, mendasar, mendesak, dan menentukan tujuan penyelenggaraan pemerintahan Isu Strategis pengembangan permukiman Nasional. Berbagai isu strategis nasional yang berpengaruh terhadap pengembangan permukiman saat ini adalah :
Mengimplementasikan konsepsi pembangunan berkelanjutan serta mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Percepatan pencapaian target MDGS 2020 yaitu penurunan proporsi rumah tangga kumuh perkotaan.
Perlunya dukungan terhadap pelaksanaan program-program direktif presiden yang tertuang dalam MP3EI dan MP3KI.
Percepatan pembangunan di wilayah timur Indinesia (Provinsi NTT, Provinsi Papua fan Provinsi Papua Barat) untuk mengatasi kesenjangan.
Meminimalisir penyebab dan dampak bencana sekecil mungkin.
Meningkatnya urbanisasi yang berimplikasi tehadap proporsi penfufuk perkotaan dan bertambahnya kawasan kumuh.
Belum optimalnya pemanfaatan infrastruktur permukiman yang sudah dibangun.
Perlunya kerjasama lintas sektor untuk mendukung sinergitas dalam pengembangan kawasan permukiman.
Belum optimalnya peran pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan permukiman ditopang oleh belum optimalnya kapasitas kelembagaan dan kualitas sumber daya manusia serta perangkat organisasi penyelenggara dalam memenuhi standar pelayanan minimal di bidang pembangunan perumahan dan permukiman.
Isu strategis pengembangan permukimam Kabupaten Karimun adalah isu stategis dari beberapa aspek yang dilihat dalam pengembangan permukiman, untuk lebih jelasnya mengenai pengembangan permukiman di Kabupaten Karimun dapat dilihat Pada Tabel 6.1
Tabel 6.1. : Isu-Isu Strategis Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan Kabupaten Karimun
No Isu Strategis Keterangan
1 Aspek Kawasan Permukiman
Berkembangya Kawasan Permukiman kumuh dipusat perkotaan, tepian laut dan kolong
Kondisi sarana prasarana lingkungan perumahan permukiman yang kurang memadai
Berkembangnya kawasan tidak sesuai rencana/terdapat Rumah liar (RULI) khususnya di are tepi kolong/danau dipusat perkotaan
Masih terdapat kondisi hunian kurang layak huni Tingkat kepadatan bangunan tinggi di pusat perkotaan Masyarakat MBR sulit untuk mengakses rumah layak huni
2 Aspek Air Bersih
Masih rendahnya cakupan dan kualitas pelayanan air bersih sehingga masih banyak rumah dan permukiman di kabupaten karimun yang beluk terlayani
Ketersediaan air tanah dan air baku terbatas
Rendahnya kualitas dan terbatasnya kapasitas pengolahan air bersih Terbatasnya kapasitas distribusi air bersih
Pembanguan sistem baru untuk daerah yang belum terlayani Konservasi sumberdaya air
3 Aspek Sanitasi air limbah
Belum optimalnya penanganan air limbah Belum optimalnya manajemen air limbah
Tercemarnya badan air khususnya air baku oleh limbah sumber air baku dijadikan saluran pembuangan air limbah
4 Aspek Drainase
Terdapat banyak titik area rawan banjir genangan akibat jaringan buruk Kondisi jaringan yang buruk yang menyebabkan belum berfungsinya sistem frainase yang ada sehingga tidak bekerja secara efektif dalam mengendalikan banjir
Aliran drainase mengalir secara alamai kedalam kolong/danau padahal kolong-kolong tersebut banyak dimanfaatkan sebagai sumber air baku Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan masih kurang masih ada masyarakat yang membuang sampah dan limbah di saluran drainase
5 Aspek Persampahan
Terbatasnya pelayanan persampahan (Tingkat Pelayanan sampah yang ada baru mencapai 11%)
Masih terbatasnya pengelolaan persampahan oleh masyarakat berupa minimnya sarana persampahan secara swadaya oleh masyarakat Kemampuan pengelolaan dan sistem pengolahan masih terbatas yaitu dengan cara open dumping
Masih terbatasnya SDM terkait
B. Kondisi Eksisting Pengembangan Permukiman
Dari 251 pulau di Kabupaten Karimun jumlah pulau yang telah berpenghuni mencapai 55 buah dan prosentase penggunan lahan permukiman mencapai 9% dari total luasan lahan keseluruhan, perkembangan permukiman dilatar belakangi oleh kebutuhan terhadap akses, kedekatan dengan simpul aktivitas ataupun kemudahan dalam kaitannya dengan mata pencaharian hal tersebut mengakibatkan perkembangan pola permukiman cenderung bersifat sporadis dan tidak terstruktur.
Kawasan permukiman merupakan kawasan dengan peruntukan perumahan beserta segala guna lahan pendukungnya seperti perkantoran, fasilitas sosial, perdagangan, dan segala aktifitas komersial dan jasa. Berdasarkan karakteristiknya sebagai wilayah kepulauan, lahan yang memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai permukiman tersebar di pulau-pulau sehingga luasannya relatif lebih terbatas jika dibandingkan dengan wilayah daratan. Dari 251 pulau di Kabupaten Karimun, jumlah pulau yang telah berpenghuni mencapai 55 buah. Prosentase penggunaan lahan permukiman mencapai 9% dari total luasan lahan keseluruhan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat hunian pada Kabupaten Karimun relatif rendah.
Perkembangan permukiman pada 55 pulau yang telah dihuni lebih banyak berorientasi pada wilayah pesisir pantai atau berdasarkan mata pencaharian. Distribusi penduduk cenderung memusat di daerah perkotaan dengan adanya pusat-pusat pelayanan yaitu Kawasan Kota Lama Kecamatan Karimun dan Kawasan Kota Baru Kecamatan Meral. Untuk kawasan permukiman beberapa permasalahan terkait tata ruang adalah :
a. Kondisi sarana prasarana lingkungan perumahan permukiman yang kurang memadai.
b. Masih adanya kesenjangan penyediaan perumahan yang layak dan sehat, termasuk juga pembangunan sarana dan prasarana permukiman.
c. Permukiman yang dibangun banyak pula yang berlokasi tidak sesuai dengan peruntukannya serta banyaknya pembangunan perumahan oleh masyarakat yang tidak teratut (swuatter)
d. Keberadaan dan tumbuhnya permukiman liar/kumuh pada kawasan-kawasan tertentu di wilayah Kabupaten Karimun
e. Masih adanya sekitar 19 hektar permukiman kumuh yang tersebar di berbagai kota (di tiga lokasi) terutama kota Karimun dan kundur yang dihuni oleh sekitar 6.750 jiwa
Lebih jelasnya mengenai Perkembangan Guna Lahan Permukiman Kabupaten Karimun, dapat dilihat pada table berikut ini.
Tabel 6.2. : Perkembangan Guna Lahan Permukiman Kabupaten Karimun
No Lokasi Kecenderungan Perkembangan
1 Pulau Karimun Besar (Kecamatan Tebing dan Meral)
Permukiman berkembang di tepian pantai di bagian Selatan pulau dan mengikuti ruas jalan utama 2 Pulau Kundur (Kecamatan
Kundur, Kundur Barat, dan Kundur Utara)
Permukiman berkembang secara sporadis dengan orientasi khusus pada ruas- ruas jalan utama dan mendekat pada lokasi sumber mata pencaharian ( Perkebunan dan perdagangan antar pulau)
3 Pulau Sugi dan Pulau Sugi Bawah ( Kecamatan Moro)
Permukiman cenderung berkembang mendekati pesisir pantai mencerminkan pilihan tempat tinggal berorientasi pada mata pencaharian yaitu berdagang dan perikanan
4 Pulau Gunung Papan Permukiman berkembang dengan berorientasi pada pesisir namun cenderung tersebar secara parsial pada kelompok-kelompok kecil
5 Pulau Parit Permukiman berkembang dengan berorientasi pada pesisir untuk menyesuaikan dengan aktivitas perikanan ( tambak)
6 Pulau Buru Permukiman berkembang secara sporadis dengan orientasi khusus pada ruas-ruas jalan utama dan cenerung mengelilingi garis pantai
Adapun karakteristik permukiman prioritas terdiri dari beberapa tipologi kawasan permukiman yaitu tipologi kawasan permukiman padat perkotaan, kawasan permukiman kumuh dan liar tepian kolong, kawasan permukiman liar tepian kolong, kawasan permukiman perkotaan kepadatan sedang, kawasan pengembangan permukiman
Tipologi Permukiman
Tipologi permukiman di Kabupaten Karimun mempunyai karakteristik utama yang dipengaruhi oleh kondisi alam serta kemampuan ekonomi untuk memperoleh berbagai pelayanan dan fasilitas kota.
1. Tipologi kawasan permukiman padat perkotaan
Tipologi kawasan permukiman padat perkotaan tersebar di seluruh kawasan permukiman prioritas di seluruh kelurahan untuk tipologi kawasan permukiman padat perkotaan Kabupaten Karimun dapat di lihat pada gambar berikut
Kawasan Permukiman padat perkotaan di Kabupaten Karimun merupakan perumahan swadaya yang berkembang secara alami dan tidak tertata
Kondisi bangunan permukiman padat perkotaan di Kabupaten Karimun memiliki kerapatan yang tinggi dan cukup padat
Kontruksi bangunan permukiman padat perkotaan di Kabupaten Karimun memiliki kontruksi bangunan permanen dan semi permanen
Gambar 6.1
2. Tipologi kawasan permukiman kumuh dan liar tepian kolong
Permukiman kumuh dan liar tepian kolong sungai tersebar di 2 kelurahan yaitu di kelurahan sungai lakam barat dan kelurahan sungai lakam timur, Kawasan permukiman ini menempati lahan bekas pertambangan timah, sehingga tersapat permasalahan lahan di kawasan ini, Untuk lebih jelasnya mengenai kawasan permukiman kumuh dan liar tepian kolong di Kabupaten Karimun dapat di lihat pada gambar berikut
Merupakan Permukiman swadaya berupa hunian liar yang menempati lahan milik pemerintah
Fungsi kawasan adalah sebagai kawasn konservasi (Ruang hijau) sehingga keberadaan hunian tidak sesuai dengan tata ruang
Kontruksi bangunan adalah permanen
Belokasi ditepian kolong sungai lakam yang tehubung dengan jalan utama kota Tanjung Balai Karimun
Mengalami degradasi longkungan yang berdampak terhadap visual kawasan
Kondisi bangunan non permanen yang menempati lahan pemerintah dan terdapat hunian yang berdiri diatas kolong
Merupakan permukiman yang tidak sesuai rencana tata ruang
Gambar 6.2
Kondisi Permukiman Kumuh dan Liar Kabupaten Karimun 3. Tipologi Kawasan Permukiman tepi laut
Kawasan tepian laut ini tersebar di empat kelurahan di kawasan permukiman prioritas, karena secara geografis kawasan berbatasan langsung dengan laut.
Merupakan permukiman swadaya yang berkembang secara alami dan tidak tertata
Kontruksi hunian berupa bangunan permanen dan semi permanen Terdapat bangunan kondisi kurang layak huni
Bangunan rapat dan padat Kawasan Kumuh
Secara umum daerah kumuh (slum area) diartikan sebagai suatu kawasan permukiman atau pun bukan kawasan permukiman yang dijadikan sebagai tempat tinggal yang bangunan-bangunannya berkondisi substandar atau tidak layak yang dihuni oleh penduduk miskin yang padat, Kawasan yang sesungguhnya tidak diperuntukan sebagai daerah permukiman, akan tetapi di jadikan sebagai tempat tinggal oleh penduduk miskin yang berpenghasilan rendah dan tidak tetap diokupasi untuk dijadikan tempat tinggal, di Kabupaten Karimun kawasan yang peruntukannya bukan sebagai kawasan permukiman akan tetapi dijadikan permukiman diantaranya adalah, daerah tepi laut, tepian kolong/danau, Di Kabupaten Karimun kawasan Kumuh telah ditetapkan dalam SK Bupati Karimun tentang penetapan Kawasan Kumuh di Kabupaten Karimun yang disajikan dalam tabel berikut
Tabel 6.3. : Kawasan Kumuh di Kabupaten Karimun Tahun 2014
No Lokasi Kawasan Kumuh Kawasan Luas (KM2) Jumlah RW (Rukun Warga) Jumlah RT (Rukun Tetangga) Jumlah Penduduk
1 Sungai Lakam barat 1,51 2 9 13.623
2 Sungai Lakam Timur 2,39 5 19 12.536
3 Baran barat 1,31 7 27 7.115
4 Baran Timur 2,71 4 14 7.727
Sumber : SK Bupati Karimun Perihal Penetapan Kawasan Kumuh di Kabupaten Karimun
Sementara penataan ruang kawasan perdesaan di Kabupaten Karimun terwujud dalam program-program pembangunan pedesaan pada tahun 2014, seperti yang dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 6.4. : Data Program Perdesaan di Kabupaten Karimun, 2014
No Program / Kegiatan Lokasi Volume / Satuan Status Infrastruktur Kondisi
1 Pembangunan PSD Permukiman perdesaan Kawasan Agropolitan Kecamatan
Kundur barat 1 / kabupaten Siap
Memenuhi Standar Redines Criteria 2 Pembangunan PSD Permukiman Perdesaan Kawasan Agropolitan Pulau Kundur (tahap) 1 Kabupaten
Karimun 1 / kabupaten Siap
Memenuhi Standar Redines Criteria
3 Pembangunan Industri Agropolitan Tanjung batu 1 / Kabupaten Siap Kondisi infrastruktur belum memadai
Sumber : Bappeda Kabupaten Karimun, Tahun 2014
C. Permasalahan dan Tantangan pengembangan Permukiman
Permasalahan yang terkait dengan pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan juga dipengaruhi oleh berbagai aspek, seperti aspek hunian, lahan, sosial ekonomi, sosial budaya, regulasi dan infrastruktur. Secara faktual, permasalahan pengembangan permukiman dan infrastruktur perkotaan di Kabupaten Karimun adalah sebagai berikut : Tabel 6.5. : Identifikasi Permasalahan dan Tantangan Permukiman
Kabupaten Karimun, Tahun 2014
Permasalahan Pengembangan Permukiman Tantangan Pengembangan Alternatif Solusi Aspek Teknis Berkembangnya permukiman kumuh dan liar di tepian kolong sungai lakam, kawasan berpotensi menjadi kumuh di areal baran, perkembangan kawasan secara sporadis dan tidak tertata
Konsep baru untuk Kabupaten
Karimun dalam hal
pengembangan program baik secara fisik maupun non fisik
untuk mengatasi
permasalahan yang terkait
dengan permukiman
perkotaan khususnya di kawasan prioritas kabupaten Karimun
Penataan permukiman kumuh di tepi laut/sungai berikut kelengkapan infrastrukturnya agar tercipta kondisi lingkungan yang sehat dan teratur
Aspek Kelembagaan
Terjadi tumpang tindih pelaksanaan fungsi dalam
Kurangnya kerjasama dan koordinasi dalam pelaksanaan
Penguatan fungsi pada ciptakarya dan perlu peningkatan kapasitas
Permasalahan Pengembangan Permukiman Tantangan Pengembangan Alternatif Solusi
penyelenggaraan tugas dan kewenangan terutama pada bidang penyehatan lingkungan (sub sector air limbah, sub sector persampahan, sub sector air limbah, sub sector air minum) dan bidang Permukiman.
kegiatan masing-masing bidang/unit baik dalam suatu dinasi maupun antar dinas kurang kerjasama
SDM resrukturisasi organisasi dimana seksi peruntukan dan
pengendalian bangunan
dipindahkan pada bidang cipta karya, sedangkan seksi bangunan dipindahkan pada bidang tata kota dan pengembangan wilayah Pada Dinas Pekerjaan umum
saat ini ada 2 bidang yang memiliki fungsi pengembangan permukiman yaitu pada bidang ciptakarya dan bidang tata kota & pengembangan permukiman.
Belum optimalnya
penyelenggaraan berbagai fungsi secara sinergi
Penetapan aturan pembangunan perumahan dan permukiman yang efisien
Aspek Pembiayaan
Daya beli (affordability) yang rendah dari MBR.
Dibutuhkan strategi untuk mensejahterakan MBR agar daya beli masyarakat MBR meningkat
Peningkatan kesejahteraan MBR agar meningkatkan daya beli masyarakat itu sendiri
Tingginya biaya konstruksi akibat pengaruh biaya transportasi yang mahal
Dibutuhkan strategi khusus untuk menekan biaya transportasi yang mahal untuk pengangkutan bahan material
Subsidi terhadap transportasi yang khusus membawa bahan material untuk menekan harga material Aspek Peran Serta Masyarakat/Swasta
Mayoritas penduduk yang tinggal dilokasi kumuh memiliki keterbatasan pengetahuan
mengenai lingkungan
permukiman yang sehat
Diperlukan sosialisasi mengenai lingkungan permukiman yang sehat
Pelatihan ataupun sosialisasi untuk masyarakat mengenai lingkungan permukiman yang sehat
Kurangnya kesadaran
masyarakat untuk turut serta menjaga lingkungan permukiman
Dibutuhkan cara untuk menimbulkan kesadaran masyarakat akan pentingnya
menjaga lingkungan
permukiman
Sosialisasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan permukiman Aspek Lingkungan Permukiman
Sirkulasi pergerakan pengguna jalan buruk karenan tidak ditunjang dengan prasarana jalan lingkungan yang terintegrasi, terpola, dan terpadu;
Dibutuhkan penataan prasarana jalan lingkungan yang terintegrasi, terpola dan terpadu
Optimalisasi prasarana jalan lingkungan permukiman agar tercipta jalan lingkungan yang terintegrasi, terpola dan terpadu Kontruksi jalan lokal masih
berupa jalan tanah belum dilapisi perkerasan lapis aus
Perlu adanya pengerasan
jalan lokal Pengerasan jalan lokal
Kontruksi bangunan darainase masih berupa saluran tanah
Dibutuhkan pembangunan drainase dengan konstruksi permanen
Pembangunan drainase dengan konstruksi permanen
Permasalahan Pengembangan Permukiman Tantangan Pengembangan Alternatif Solusi
Prilaku masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan tepi pantai masih membuang limbah cair domestic (rumah tangga)/black water di jamban-jamban darurat pada tepi sungai dan panta
Diperlukan sosialisasi dan arahan kepada masyarakat mengenai pembuangan air limbah yang baik dan benar
Sosialisasi serta pembangunan infrastruktur air limbah di lingkungan permukiman
Rumah/hunian yang berada relative jauh dari tepi jalan lokal/jalan kecamatan atau jalur pipa sekunder belum terlayani oleh jaringan perpipaan PDAM
Diperlukan penambahan pipa sambungan
rumah/sambungan langsung yang dapat menjangkau rumah yang berada jauh dari tepi jalan lokal
Penyediaan pipa sambungan rumah yang dapat menjangkau rumah yang berada jauh dari tepi jalan lokal
Sumber : Bappeda Kabupaten Karimun, Tahun 2014
6.1.3. Analisis Kebutuhan Pengembangan Permukiman
Analisis kebutuhan merupakan tahapan selanjutnya dari identifikasi kondisi eksisting, Analisis kebutuhan mengaitkan kondisi eksisting dengan target kebutuhan yang harus dicapai terdapat arahan kebijakan yang menjadi acuan penetapan target pembangunan bidang Cipta Karya khususnya sektor pengembangan permukiman baik di tingkat pusat maupun tingkat Kabupaten/Kota di tingkat pusat acuan kebijakan meliputi RPJMN 2010-2014, MDG‟s 2015 (Pengurangan proporsi rumah tangga kumuh tahun 2020) Standar pelayanan Minimal (SPM) untuk pengurangan luasan kawasan kumuh tahun 2014 sebesar 10%, arahan MP3EI.
Kabupaten Karimun khususnya di kawasan perkotaannya (Daik dan Dabo) akan mengalami perkembangan terus menerus. Lambat laun dengan banyaknya migrasi masuk, maka permintaan akan rumah akan bertambah. Harga rumah tanpa subsidi apabila diserahkan pada mekanisme pasar akan terus mengalami kenaikan. Hal ini didorong oleh ketidakmampuan pasokan dalam memenuhi permintaan. Apalagi 20 tahun ke depan proyeksi penduduk diprediksikan mengalami peningkatan. Pemerintah dan developer swasta diharapkan dapat memberikan supply rumah di pasar formal yang mampu dijangkau oleh MBR. Perkiraan kebutuhan program pengembangan permukiman di perkotaan untuk Kabupaten Karimun adalah sebagai berikut :
Tabel 6.6. : Perkiraan Kebutuhan Program Pengembangan Permukiman Di Perkotaan Untuk 5 Tahun
No Uraian Unit Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019
1 Jumlah penduduk Jiwa 298.143 304.105 310.187 316.398 322.725
2 Kepadatan Penduduk Jiwa/Km2 195 199 203 207 211
3 Proyeksi Persebaran Penduduk Jiwa/Km2 195 199 203 207 211 4 Proyeksi Persebaran Penduduk Miskin Jiwa/Km2 18.991 19.371 19.758 20.154 20.557 5 Sarana Prasarana Kawasan Kumuh Ha 16.71 18.75 20.79 22.83 24.87 6 Kebutuhan RSH Unit 3438 1192 1216 1242 1265 7 Kebutuhan Pengembangan Permukiman Baru Kws Kawasan Keluraha n Baran Kecamat an Meral Kawasan Keluraha n Kapling Kecamat an Tebing Kawasan Keluraha n Sungai Lakam Kawasan Keluraha n Meral Kota Kecamat an meral Sumber : RTRW Kabupaten Karimun, Tahun 2014
Sementara itu untuk perkiraan kebutuhan program pengembangan permukiman di perdesaan yang membutuhkan penanganan untuk 5 tahun kedepan ialah sebagai berikut :
Tabel 6.7. : Perkiraan Kebutuhan Program Pengembangan Permukiman Di Perdesaan Untuk 5 Tahun
No Uraian Unit Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019 1 Jumlah penduduk Jiwa 298.143 304.105 310.187 316.398 322.725
2 Kepadatan Penduduk Jiwa/Km2 195 199 203 207 211
3 Proyeksi Persebaran Penduduk Jiwa/Km 2 195 199 203 207 211 4 Proyeksi Persebaran
Penduduk Miskin Jiwa/Km
2 18.991 19.371 19.758 20.154 20.557
5 Desa Potensial untuk Minapolitan Desa Sungai ungar utara
Teluk
Radan Perayun Kundur
Sawang Laut 6 Desa Potensial untuk Agropolitan Desa Gemuruh Desa Kundur Desa Sawang Desa Desa Batu
Limau
Desa Lubuk 7 Kawasan Rawan Bencana Kws
No Uraian Unit Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019 8 Kawasan Perbatasan Kws Kawasan tokong iyu Kecil Kawasan Tokong iyu Besar 9 Kawasan Permukiman
pulau-pulau kecil
Kws
10 Desa Kategori Miskin Desa Sungai Lakam Barat
Sungai Lakan Timur
Baran
Barat Baran Timur Sungai Raya 11 Kawasan Dengan komoditas
unggulan Kws
Sumber : RTRW dan SPPIP Kabupaten Karimun, Tahun 2014
6.1.4. Program-Program Sektor Pengembangan Permukiman
Kegiatan pengembangan permukiman terdiri dari pengembangan permukiman dan kawaasan perdesaan, Pengembangan permukiman kawasan perkotaan. Pengembangan kawasan permukiman perkotaan, terdiri dari :
1. Pengembangan kawasan permukiman baru dalam bentuk pembangunan Rusunawa serta
2. Peningkatan kualitas permukiman kumuh dan RSH
Sedangkan untuk pengembangan kawasan perdesaan terdiri dari :
1. Pengembangan kawasan permukiman perdesaan untuk kawasan potensial (Agropolitan dan minapolitan) rawan bencana. Serta perbatasan dan pulau kecil
2. Pengembangan kawasan pusat pertumbuhan dengan program PISEW (RISE)
3. Desa tertinggal dengan program PPIP dan RIS PNPM
Adapun kriteria kesiapan (Readiness Criteria) pelaksanaan kegiatan : Dalam pengembangan permukiman terdapat kriteria uang menentukan, yang terdiri dari kriteria umum dan khusus sebagai berikut.
1. Umum
Ada rencana kegiatan rinci yang diuraikan secara jelas
Indikator kinerja sesuai dengan yang ditetapkan dalam Renstra Kesiapan lahan (Sudah tersedia)
Tersedia dokumen perencanaan berbasis kawasan (RP2KP, RTBL KSK, Masterplan Agropolitan & Minapolitan dan KSK)
Tersedia dana daerah untuk urusan bersama (DDUB) dan dana daerah pembiayaan komponen kegiatan sehingga sistem bisa bisa berfungsi
Ada unit pelaksana kegiatan
Ada lembaga pengelola pasca kontruksi 2. Khusus
Rusunawa
Kesediaan Pemda untuk penandatanganan MoA Dalam Rangka penanganan kawasan kumuh
Kesanggupan Pemda menyediakan sambungan listrik, Air munum dan PSD lainnya
Ada Calon penghuni RIS PNPM
Sudah ada kesepakatan dengan menkokesr
Desa di kecamatan yang tidak ditangani PNPM inti lainnya Tingkat kemiskinan desa >25%
Bupati menyanggupi mengikuti pedoman dan menyediakan BOP minimal 5% dari BLM
PPIP
Hasil pembahasan dengan komisi V- DPR RI
Usulan Bupati tertutama yang belum ditangani program cipta karya lainnya
Kabupaten Reguler/sebelumnya dengan kinerja baik PISEW
Berbasis Pengembangan wilayah
Pembangunan infrastruktur dasar perdesaan yang mendukung (i) transportasi (ii) Produksi pertanian (iii) Pemasaran pertanian (iv) serta kesehatan
Mendukung komoditas unggulan kawasan
Selain kriteria kesiapan seperti diatas terdapat beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam pengusulan kegiatan pengembangan permukiman seperti untuk penanganan kawasan kumuh di perkotaan Mengacu pada UU No. 1/2011 tentang perumahan dan kawasan
permukiman, permukiman kumuh memiliki ciri (1) ketidakteraturan dan kepadatan bangunan yang tinggi (2) ketidaklengkapan prasarana sarana dan utilitas umum (3) penurunan kualitas rumah, perumahan dan permukiman serta prasarana sarana dan utilitas umum (4) pembangunan rumah perumahan dan permukiman yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah, Lebih lanjut kriteria tersebut diturunkan ke dalam kriteria yang selama ini diacu oleh Ditjen Cipta karya meliputi sebagai berikut :
1. Vitalitas Non Ekonomi
a. Kesesuaian pemanfaatan ruang kawasan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota atau RDTK, dipandang perlu sebagai legalitas
kawasan dalam ruang kota.
b. Fisik bangunan perumahan permukiman dalam kawasan kumuh memiliki indikasi terhadap penanganan kawasan permukiman kumuh dalam hal kelayakan suatu hunian berdasarkan intensitas bangunan yang terdapat didalamnya.
c. Kondisi Kependudukan dalam kawasan permukiman kumuh yang dinilai, mempunyai indikasi terhadap penanganan kawasan permukiman kumuh berdasarkan kerapatan dan kepadatan penduduk.
2. Vitalitas Ekonomi Kawasan
a. Tingkat kepentingan kawasan dalam letak kedudukannya pada wilayah kota, apakah kawasan itu strategis atau kurang strategis b. Fungsi kawasan dalam peruntukan ruang kota. Dimana keterkaitan
dengan faktor ekonomi memberikan keterkaitan pada investor untuk dapat menangani kawasan kumuh yang ada, Kawasan yang termasuk dalam kelompok ini adalah pusat-pusat aktivitas bisnis dan perdagangan seperti pasar, terminal/stasiun pertokoan, atau fungsi lainnya
c. Jarak jangkau kawasan terhadap tempat mata pencaharian penduduk kawasan permukiman kumuh
3. Status kepemilikan Tanah
a. Status pemilikan lahan kawasan perumuhan permukiman b. Status sertifikat tanah yang ada
4. Keadaan prasarana dan sarana kondisi jalan drainase, Air bersih dan Air limbah
5. Komitmen pemerintah Kabupaten/Kota
a. Keinginan pemerintah untuk penyelenggaraaan penanganan kawasan kumuh dengan indikasi penyediaan dana dan mekanisme kelembagaan penanganannya
b. Ketersediaan perangkat dalam penanganan seperti halnya rencana penanganan (grand Scenario) kawasan, rencana induk (Master Plan) kawasan dan lainnya
6.1.5. Usulan Program dan Pembiayaan
Setelah melalui analisis kebutuhan untuk mengisi kesenjangan antara kondisi eksisting dengan kebutuhan maka perlu disusun usulan program dan pembiayaan kegiatan. Namun usulan program dan kegiatan terbatasi oleh waktu dan kemampuan pendanaan pemerintah kabupaten/kota sehingga untuk jangka waktu perencanaan lima tahun dalam RPI2JM dibutuhkan suatu kriteria untuk menentukan prioritasi dari tahun pertama hingga kelima. Lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut ini.
6.2. Penataan Bangunan dan Lingkungan
6.2.1. Arahan Kebijakan dan Lingkup Kegiatan PBL
Penataan bangunan dan lingkungan adalah serangkaian kegiatan yang diperlukan sebagai bagian dari upaya pengendalian pemanfaatan ruang, terutama untuk mewujudkan lingkungan binaan, baik di perkotaan maupun di perdesaan, khususnya wujud fisik bangunan gedung dan lingkungannya Kebijakan penataan bangunan dan lingkungan mengacu pada undang-undang dan peraturan antara lain :
1) UU No 1 Tahun 2011 tentang perumahan dan kawasan permukiman
UU No. 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan kawasan permukiman memberikan amanat bahwa penyelenggaraan perumahan dan
kawasan permukiman adalah kegiatan perencanaan, pembangunan, pemanfaatan dan pengendalian termasuk didalamnya pengembangan pendanaan dan sistem pembiayaan serta peran masyarakat yang terkoordinasi dan terpadu
Pada UU No 1 Tahun 2011 juga diamanatkan pembangunan kaveling tanah yang telah dipersiapkan harus sesuai dengan persyaratan dalam penggunaan, pemilikan yang tercantum pada rencana rinci tata ruang dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)
2) UU No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
UU No. 28 Tahun 2002 memberikan amanat bangunan gedung harus dielenggarakan secara tertib hukum dan diwujudkan sesuai fungsinya, serta dipenuhinya persyaratan administratif dan teknis bangunan gedung Persyaratan administratif yang harus dipenuhi adalah :
a. Status hak atas tanah, dan atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah
b. Status kepemilikan bangunan gedung dan c. Izin mendirikan bangunan gedung
Persyaratan teknis bangunan gedung mellingkupi persyaratan tata bangunan dan persyaratan keandalan bangunan, Persyaratan tata bangunan ditentukan pada RTBL yang ditetapkan oleh pemda mencakup peruntukan dan intensitas bangunan gedung arsitektur bangunan gedung dan pengendalian dampak lingkunagan sedangkan persyaratan keandalan bangunan gedung mencakup keselamtan, kesehatan, keamanan dan kemudahan UU No. 28 tahun 2002 juga mengamatkan bahwa dalam penyelenggaraan bangunan gedung yang meliputi kegiatan pembangunan, pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran juga diperlukan peran masyarakat dan pembinaan oleh pemerintah
3) PP 36/2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
Secara lebih rinci UU No. 28 tahun 2002 dijelaskan dalam PP No. 36 Tahun 2005 tentang peraturan pelaksanaan dari UU No. 28/2002 PP ini membahas ketentuan fungsi bangunan gedung, persyaratan
bangunan gedung, penyelenggaraan bangunan gedung, peran masyarakat dan pembinaan dalam penyelenggaraan bangunan gedung dalam peraturan ini ditekankan pentingnya bagi pemerintah daerah untuk menyusun Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) sebagai acuan rancang bangun serta alat pengendalian pengembangan bangunan gedung dan lingkungan.
4) Permen PU No. 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan
Sebagai panduan bagi semua pihak dalam penyusunan dan pelaksanaan dokumen RTBL maka telah ditetapkan Permen PU No. 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata bangunan dan lingkungan, Dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa RTBL disusun pada skala kawasan baik di perkotaan maupun perdesaan yang meliputi kawasan baru berkembang cepat, kawasan terbangun, kawasan dilestarikan, kawasan rawan bencana serta kawasan gabungan dari jenis-jenis kawasan tersebut, Dokumen RTBL yang disusun kemudian ditetapkan melalui peraturan walikota/bupati.
5) Permen PU No. 14/PRT/M/2010 tentang Standar pelayanan Minimal bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
Permen PU No: 14/PRT/M/2010 tentang Standar pelayanan Minimal bidang Pekerjaan Umum dan penataan Ruang mengamanatkan jenis dan mutu pelayanan dasar bidang Pekerjaan Umum dan penataan Ruang yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal, Pada Permen tersebut dilampirkan indikator pencapaian SPM pada setiap Direktorat Jenderal di lingkungan Kementrian PU beserta sektor-sektornya.
Lingkup Kegiatan untuk dapat mewujudkan lingkungan binaan yang baik sehingga terjadi peningkatan kualitaas permukiman dan lingkungan meliputi :
a. Kegiatan penataan lingkungan permukiman
Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Bantuan Teknis pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Pembangunan Prasarana dan sarana peningkatan lingkungan permukiman kumuh dan nelayan
Pembangungan prasarana dan sarana penataan lingkungan permukiman tradisional
b. Kegiatan pembinaan teknis bangunan dan gedung
Diseminasi peraturan dan perundangan tentang penataan bangunan dan lingkungan
Peningkatan dan pemantapan kelembagaan bangunan dan gedung arsitektur
Pelatihan teknis
c. Kegiatan pemberdayaan masyarakat di perkotaan
Bantuan teknis penanggulangan kemiskinan di perkotaan Paket Replikasi
6.2.2. Isu Strategis, Kondisi Eksisting, Permasalahan dan Tantangan A. Isu Strategis
Untuk dapat merumuskan isu strategis bidang PBL maka dapat dilihat dari agenda internasional yang mempengaruhi sektor PBL untuk agenda Nasional, salah satunya adalah program PNPM Mandiri, yaitu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, sebagai wujud kerangka kebijakan yang menjadi dasar acuan pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat. Agenda nasional lainnya adalah pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, khususnya untk sektor PBL yang mengamanatkan terlayaninya masyarakat dalam pengurusan IMB di Kabupaten / Kota dan tersedianya pedoman Harga Standar Bangunan Gedung Negara (HSBGN) di kabupaten/Kota. Agenda internasional yang terkait diantaranya adalah pencapain MDG‟s 2015 khususnya tujuan 7 yaitu memastikan kelestarian lingkungan hidup, Target MDGs yang terkait bidang cipta karya adalah target 7c, yaitu menurunkan hingga separuhnya proporsi penduduk tanpa akses terhadap air minum layak dan sanitasi layak pada 2015 serta target 7D, yaitu
mencapai peningkatan yang signifikan dalam kehidupan penduduk miskin di permukiman kumuh pada tahun 2020.
Agenda Habitat juga merupakan salah satu agenda internasional yang juga mempengaruhi isu strategis sektor PBL. Konferensi Habitat 1 yang diselenggarakan di Vancouver, Canada pada 31 Mei- 11 Juni 1976 sebagai dasar terbentuknya UN Habitat pada tahun 1978 yaitu sebagai lembaga PBB yang mengurusi permasalahan perumahan dan permukiman serta pembangunan perkotaan, Konferensi habitat II yang dilaksanakan di Istanbl Turki, pada 3 – 1 Juni 1996 dengan dua tema pokok yaitu “Adequate Shelter For All” dan „Suistainable Human Settlements Development in an Urbanizing word” sebagau keraangka dalam penyediaan perumahan dan permukiman yang layak bagi masyarakat.
Dari agenda-agenda tersebut maka isu strategis tingkat nasional unruk bidang PBL dapat dirumuskan adalah sebagai berikut :
1. Penataan Lingkungan Permukiman
a. Pengendalian pemanfaatan ruang melalui RTBL
b. PBL mengatasi tingginya frekuensi kejadian kebakaran di perkotaan
c. Pemenuhan Kebutuhan ruang terbuka publik dan ruang terbuka hijau (RTH) di perkotaan
d. Revitalisasi dan pelestarian lingkungan permukiman tradisional dan bangunan bersejarah berpotensi wisata untuk menunjang tumbuh kembangnya ekonomi lokal
e. Peningkatan kualitas lingkungan dalam rangka pemenurahan standar pelayanan minimal
f. Perlibatan pemerintah daerah dan swasta serta masyarakat dalam penataan bangunan dan lingkungan
2. Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara
a. Tertib pembangunan dan keandalan bangungan gedung (Keselamatan, Kesehatan, Kenyamanan dan kemudahan)
b. Pengendalian penyelenggaraan bangunan gedung dengan perda bangunan gedung di kab/kota
c. Tantangan untuk mewujudkan bangunan gedung yang fungsional tertib andal dan mengacu pada isu lingkungan/berkelanjutan
d. Tertib dalam penyelenggaraan dan pengelolaan aset gedung dan rumah negara
e. Peningkatan kualitas pelayanan publik dalam pengelolaan gedung dan rumah negara
3. Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan a. Jumlah masyarakaat miskin pada tahun 2012 sebesa 29,13 juta
orang atau sekitar 11,96% dari total penduduk indonesia
b. Realisasi DDUB tidak sesuai dengan komitmen awal termasuk sharing in-cash sesuai MoU Paket
c. Keberlanjutan dan sinergi program bersama pemerintah daerah dalam penanggulangan kemiskinan.
Isu strategis PBL ini terkait dengan dokumen-dokumen seperti RTR skenario pembangunan daerah, RTBL yang disusun berdasar skala prioritas dan manfaat dari rencana tindak yang meliputi a) Revitalisasi b) RTH c) Bangunan Tradisional/bersejarah dan d) Penanggulangan kebakaran bagi pencapaian terwujudnya pembangunan lingkungan permukiman yang layak huni, berjati diri, produktif dan berkelanjutan
Tabel 6.9. : Isu Strategis Sektor PBL di Kabupaten Karimun
No Kegiatan Sektor PBL Isu Strategis Sektor PBL di Kab. Karimun 1 Penyelenggaraan Bangunan
Gedung dan Rumah Negara
Belum Memiliki Peraturan daerah tentang bangunan, sesuai UU No 28 Tahun 2002
Belum memiliki perangkat/sistem yang khusus mengelola bangunan gedung serta kegiatan pengelolaan bangunan gedung dan rumah negara yang ada belum optimal
2 Penataan Lingkungan Permukiman
Terdapat Perkampungan nelayan yang memiliki kualitas lingkungan rendah
Masih terdapat lingkungan kumuh terutama sepanjang pesisir pantai yang belum ditangani secara terpadu
Belum memiliki Ruang Terbuka Hijau aktif yang memadai untuk skala kabupaten
3 Potensi Lokasi kawasan strategis merupakan kawasan pusat kota Kabupaten Karimun sehingga keberadaan kawasan ini memiliki pengaruh kuat terhadap citra kota Karimun
Berkembangnya permukiman perumahan Sumber : Bappeda Kabupaten Karimun, Tahun 2014
B. Kondisi Eksisting
Kabupaten Karimun dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 53 Tahun 1999, sebelumnya wilayah Kabupaten Karimun merupakan wilayah Kecamatan yang berada dibawah Kabupaten Kepulauan Riau dengan pusat ibu kota kecamatan di Tanjungbalai Karimun. Seperti halnya kabupaten yang relatif baru dibentuk, maka saat ini Kabupaten Karimun sedang giatnya melaksanakan pembangunan gedung baik gedung negara maupun gedung milik swasta atau perorangan. Berikut uraian kondisi bangunan di Kabupaten Karimun :
Tabel 6.10. : Uraiaan Kondisi Bangunan Gedung dan Lingkungan di Kabupaten Karimun
No Parameter Keterangan Lokasi
1 Tata Letak
Pulau Karimun Besar Secara umum meliputi bangunan yang berada di Kawasan Kota Lama, Kawasan Kota Baru dan Kota Meral serta bangunan ex PT. Timah
Kawasan kota lama, kawasan kota baru, Kawasan PN sekitarnya.
Pulau Kundur Konsentrasi bangunan pada
pusat Kota Tanjungbatu
Kota Tanjungbatu
2 Umur Bangunan tua Kawasan kota lama
Kawasan Pecinan-Meral
3 Historis Mesjid Meral Meral
Mesjid Buru Buru
Kubur Badang
4 Fasilitas umum Rumah sakit Karimun Tebing
Rumah sakit PN Tebing
Stadion Tebing Tebing
Gor Mini Kundur Kundur
Gor Mini Moro Moro
Secara umum kondisi penataan bangunan dan lingkungan di Kabupaten Karimun berdasarkan aspek/lingkup PBL dapat disimpulkan masih belum memadai. Berikut uraian kondisi PBL berdasarkan aspek-aspek PBL.
Tabel 6.11. : Kondisi Eksisting Penataan Bangunan Gedung dan Lingkungan di Kabupaten Karimun
No Aspek Keterangan
A BANGUNAN GEDUNG
1 Diseminasi peraturan/perundang-undangan penataan bangunan dan lingkungan
Belum diselenggaran
(ikut sebagai peserta dan narasumber kegiatan yang sama yang diselenggarakan oleh Satker PBL Provinsi Kepri)
2 Pengembangan sistem informasi Belum memiliki PIPPB
3 Perda/Raperda Belum memiliki perda khusus tentang bangunan
gedung. Saat ini perda yang digunakan untuk kegiatan bangunan gedung adalah :
Perda Kabupaten Karimun Nomor 14 Tahun 2007, Tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah
Perda Kabupaten Karimun Nomor 21 Tahun 2002, Tentang Retribusi Perizinan Tertentu (cth : IMB)
4 Pendataan bangunan gedung Belum dilakukan secara terpadu dan tersistem. Kondisi yang ada pencatatan melalui pengurusan IMB
5 Penyusunan Rencana Induk Sistem
Proteksi Kebakaran (RISPK) Belum memiliki RISPK B GEDUNG DAN RUMAH NEGARA
6 Pelatihan teknis pendata HSBGN dan
keselamatan bangunan Sebagai peserta
7 Pemeriksaan keandalan bangunan Kurang memadai/belum tersistem 8 Pembinaan teknis pembangunan gedung
negara belum
9 Percontohan aksesbilitas gedung Belum memiliki dasar hukum dan belum melaksanakan kegiatan percontohan. Tapi pada kegiatan pembangunan bangunan public ditetapkan memiliki aksesbilitas
C PENATAAN LINGKUNGAN
10 Kawasan kumuh (skala komunitas) Terdapat beberapa titik kawasan kumuh terutama disepanjang pantai/kawasan pesisir, tapi belum ada upaya penataan secara terpadu.
11 Kawasan Nelayan Terdapat kawasan permukiman nelayan, seperti di Sungai ayam dan lei ho, belum ada upaya penataan 12 Lingkungan permukiman tradsional dan
bersejarah Permukiman suku asli seberas, sudah ditata sebagai program percontohan oleh pemkab karimun. 13 Penataan dan revitalisasi kawasan Terdapat di Kawasan kota lama karimun (sudah ditata dan direvitalisasi) dan kawasan sekitar pasar puangka serta kawasan pecinan meral
14 Ruang terbuka hijau Ada, tapi belum memadai, sehingga perlu penambahan.
15 Rencana Tata Bangunan dan
Lingkungan Belum
D PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PERKOTAAN
C. Permasalahan dan Tantangan
Kabupaten Karimun merupakan kabupaten yang mengalami perkembangan cukup pesat seiring dengan ditetapkannya Kabupaten Karimun sebagai wilayah Special Ekonomic Zone dengan status FTZ (Free Trade Zone) dimana Kabupaten Karimun merupakan daerah perdagangan bebas dan pelabuhan bebas yang letaknya sangat strategis sebagai dampak dari pertumbuhan ekonomi yang terus berkembang adakah banyaknya pendatang-pendatang baru dari berbagai daerah dan kemudian bermunculannya bangunan-bangunan baru yang digunakan untuk usaha maupun sebagai tempat tinggal, Perkembangan ini akan dapat menimbulkan dampak negatif sehingga akan merugikan masyarakat dan pemerintah kabupaten Karimun sendiri apabila tidak ditangani dengan baik,
Bangunan yang bermunculan tanpa kendali akan berdampak negatif apabila dibiarkan selain dapat merusak tata ruang dan wilayah juga berdampak pada ketidaktaatan masyarakat pada peraturan daerah yang berlaku karena masyarakat menangkap peluang yang mereka lihat Sehingga tanah – tanah kosong yang merupakan aset daerah yang tidak dijaga dan dikelola dengan baik akan disalahgunakan oleh penduduk – penduduk pendatang yang mencoba mencari peluang di Karimun dan apabila dibiarkan semakin lama akan sulit bagi pemerintah untuk menanganinya
Perwujudan tugas pemerintah dapat dilihat dari perbuatan atau tindakan pemerintah seperti dalam hal penegakan kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah salah satunya adalah pengawasan dan penertiban terhadap bangunan – bangunan liar yang berdiri tanpa memperoleh izin dari pihak terkait, Disamping itu peran indtansi terkait juga sangat diperlukan dalam pelaksanaan serta pengawasan terhadap bangunan – bangunan yang didirikan
Dalam kegiatan penataan bangunan dan lingkungan terdapat beberapa peramasalahan dan tantangan yang dihadapi, Di Kabupaten Karimun sendiri terdapat beberapa permasalahan dan tantangan utama dan kegiatan penataan bangunan dan lingkungan, Oleh karena itu
permasalahan dan tantangan terkait kegiatan penataan bangunan dan lingkungan di Kabupaten Karimun telah terangkum kedalam poin-poin berikut :
1. Belum memiliki peraturan daerah tentang bangunan gedung, sesuai UU No 28 Tahun 2002.
2. Belum memiliki perangkat/sistem yang khusus mengelola bangunan gedung serta kegiatan pengelolaan bangunan gedung dan rumah negara yang ada belum optimal.
3. Kurang memadainya prasarana dan sarana penanggulangan kebakaran
4. Masih terdapat lingkungan kumuh terutama sepanjang pesisir/pantai yang belum ditangani secara terpadu
5. Terdapat perkampungan nelayan yang memiliki kualitas lingkungan rendah
6. Terdapat lingkungan permukiman tradisional dan bersejarah yang memiliki potensi wisata, tetapi belum ditata secara optimal
7. Terdapat kawasan tua yang belum ditata yaitu kawasan pecinan meral 8. Belum memiliki Ruang Terbuka Hijau aktif yang memadai untuk skala
kabupaten
9. Ibu Kota Kecamatan (IKK) di Kabupaten Karimun belum memiliki RTBL.
Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara
Masih adanya kelembagaan bangunan gedung yang belum berfungsi efektif dan efisien dalam pengelolaan Bangunan Gedung dan Rumah Negara
Masih kurangnya perda bangunan gedung untuk kota metropolitan besar, sedang, kecil di seluruh Indonesia
Meningkatnya kebutuhan NSPM terutama yang berkaitan dengan pengelolaan dan penyelenggaraan bangunan gedung (keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan )
Kurang ditegakannya aturan keselamatan, keamanan dan kenyamanan Bangunan Gedung termasuk pada daerah-daerah rawan bencana
Prasarana dan sarana hidran kebakaran banyak yang yang tidak berfungsi dan kurang mendapat perhatian
Lemahnya pengaturan penyelenggaraan Bangunan Gedung di daerah serta rendahnya kualitas pelayanan publik dan perijinan
Banyaknya Bangunan Gedung Negara yang belum memenuhi persyaratan keselamatan, keamanan dan kenyamanan
Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara kurang tertib dan efisien
Masih banyaknya aset negara yang tidak teradministrasikan dengan baik
Penyelenggaraan Sistem Terpadu Ruang Terbuka Hijau
Masih kurang diperhatikannya kebutuhan sarana dan lingkungan Hijau/terbuka, sarana olahraga
Kapasitas Kelembagaan Daerah
Masih terbatasnya kesadaran aparatur dan SDM pelaksana dalam pembinaan penyelenggaraan bangunan gedung termasuk pengawasan Masih adanya tuntunan reformasi peraturan perundang-undangan dan
peningkatan pelaksanaan otonomi dan desentralisasi
Masih perlunya peningkatan dan pemantapan kelembagaan bangunan gedung di daerah dalam fasilitasi penyediaan perangkat pengaturan Tabel 6.12. : Identifikasi Permasalahan dan Tantangan Penataan
Bangunan dan Lingkungan Kabupaten Karimun
No Aspek PBL Permasalahan yang Dihadapi
Tantangan
Pengembangan Alternatif Solusi
1 Aspek
Kelembagaan
Belum adanya instansi pelaksana yang fokus kepada penataan bangunan dan lingkungan Belum Memiliki peraturan daerah tentang bangunan gedung, sesuai UU No 28 tahun 2002 Peningkatan/pemantapan kelembagaan bangunan gedung
2 Aspek Teknis Kurang memadainya sarana dan prasarana penanggulangan kebakaran
Penyusunan RISPK (Rencana Induk Sistem
Proteksi Kebakaran) 3 Aspek Teknis Masih terdapat
lingkungan kumuh terutama sepanjang pesisir/pantai yang belum ditangani secara terpadu Perencanaan Penanganan kawasan
Kumuh dan nelayan (Sungai Ayam dan Lei ho)
No Aspek PBL Permasalahan yang Dihadapi
Tantangan
Pengembangan Alternatif Solusi 4 Aspek Teknis Terdapat kawasan tua
yang belum ditata yaitu kawasan pecinan meral
Penyusunan DED Revitalisasi Kawasan (Pasar Puangka Karimun dan Sekitarnya, Kawasan
Pecinan-Meral 5 Aspek Teknis Belum memiliki Ruang
Terbuka Hijau aktif yang memadai untuk
skala Kabupaten
Penyusunan DED RTH IKK Tanjung Batu, IKK
Moro Sumber : Hasil Analisa
6.2.3. Analisis Kebutuhan Penataan Bangunan dan Lingkungan
Analisis kebutuhan Program dan Kegiatan untuk sektor PBL mengacu pada Lingkup Tugas DJCK untuk sektor PBL yang dinyatakan pada Permen PU No. 8 Tahun 2010, meliputi:
a. Kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman
Dengan kegiatan yang terkait adalah penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL), Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran (RISPK), pembangunan prasarana dan sarana lingkungan permukiman tradisional dan bersejarah, pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM), dan pemenuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di perkotaan.
RTBL (Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan)
RTBL berdasarkan Permen PU No. 6 Tahun 2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan didefinisikan sebagai panduan rancang bangun suatu lingkungan/kawasan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan.
Materi pokok dalam RTBL meliputi: Program Bangunan dan Lingkungan;
Rencana Umum dan Panduan Rancangan; Rencana Investasi;
Ketentuan Pengendalian Rencana; Pedoman Pengendalian Pelaksanaan.
RISPK atau Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran
RISPK atau Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran seperti yang dinyatakan dalam Permen PU No. 26 tahun 2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan, bahwa Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan adalah sistem yang terdiri atas peralatan, kelengkapan dan sarana, baik yang terpasang maupun terbangun pada bangunan yang digunakan baik untuk tujuan sistem proteksi aktif, sistem proteksi pasif maupun cara-cara pengelolaan dalam rangka melindungi bangunan dan lingkungannya terhadap bahaya kebakaran. Penyelenggaraan sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan meliputi proses perencanaan teknis dan pelaksanaan konstruksi, serta kegiatan pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungannya.
RISPK terdiri dari Rencana Sistem Pencegahan Kebakaran dan Rencana Sistem Penanggulangan Kebakaran di Kabupaten/Kota untuk kurun waktu 10 tahun. RISPK memuat rencana kegiatan pencegahan kebakaran yang terdiri dari kegiatan inspeksi terhadap ancaman bahaya kebakaran pada kota, lingkungan bangunan dan bangunan gedung, serta kegiatan edukasi pencegahan kebakaran kepada masyarakat dan kegiatan penegakan Norma, Standar, Pedoman dan Manual (NSPM). RISPK juga memuat rencana tentang penanggulangan kebakaran yang terdiri dari rencana kegiatan pemadaman kebakaran serta penyelamatan jiwa dan harta benda. Penataan Lingkungan Permukiman Tradisional/Bersejarah
Pendekatan yang dilakukan dalam melaksanakan Penataan Lingkungan Permukiman Tradisional adalah:
1. Koordinasi dan sinkronisasi dengan Pemerintah Daerah;
2. Pendekatan Tridaya sebagai upaya pemberdayaan terhadap aspek manusia, lingkungan dan kegiatan ekonomi masyarakat setempat; 3. Azas "berkelanjutan" sebagai salah satu pertimbangan penting
untuk menjamin kelangsungan kegiatan;
4. Rembug warga dalam upaya menggali sebanyak mungkin aspirasi masyarakat, selain itu juga melakukan pelatihan keterampilan teknis dalam upaya pemberdayaan masyarakat.
Standar Pelayanan Minimal (SPM)
Analisa kebutuhan Program dan Kegiatan juga mengacu pada Permen PU No.01 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Khusus untuk sektor PBL, SPM juga terkait dengan SPM Penataan Ruang dikarenakan kegiatan penataan lingkungan permukiman yang salah satunya melakukan pengelolaan kebutuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di perkotaan.
Tabel 6.13. : SPM Standar Pelayanan Minimal Penataan Bangunan dan Lingkungan Berdasarkan Permen PU No. 01/PRT/M/2014
Jenis Pelayanan Dasar Standar Pelayanan Minimal Pencapaian Waktu Ket Indikator Nilai Penataan Bangunan dan Lingkungan Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
Jumlah IMB yang
diterbitkan adalah 60 % 100% 2019
Dinas yang membidangi perizinan (IMB) Sumber : Permen PU No.1 Tahun 2014
b. Kegiatan Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara Kegiatan penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara meliputi:
1. Menguraikan kondisi bangunan gedung negara yang belum memenuhi persyaratan keandalan yang mencakup (keselamatan, keamanan, kenyamanan dan kemudahan);
2. Menguraikan kondisi Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara;
Untuk dapat melakukan pendataan terhadap kondisi bangunan gedung dan rumah negara perlu dilakukan pelatihan teknis terhadap tenaga pendata HSBGN, sehingga perlu dilakukan pendataan kegiatan pembinaan teknis penataan bangunan gedung.
Tabel 6.14. : Kebutuhan Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan
No Uraian Satuan Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019
1 Ruang Terbuka Hijau (dalam juta) M2 304 304 304 304 304
2 Ruang Terbuka (dalam juta)M2 152 152 152 152 152
3 PSD Unit 60 65 66 69 71
4 PS Lingkungan Unit 42 47 51 58 62
Sumber : Hasil Analisa
6.2.4. Program-Program dan Kriteria Kesiapan Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan
Program-Program Penataan Bangunan dan Lingkungan, terdiri dari: a. Kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman;
b. Kegiatan Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara; c. Kegiatan Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan
Kemiskinan.
Untuk penyelenggaraan program-program pada sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan (PBL) maka dibutuhkan Kriteria Kesiapan (Readiness Criteria) yang mencakup antara lain rencana kegiatan rinci, indikator kinerja, komitmen Pemda dalam mendukung pelaksanaan kegiatan melalui penyiapan dana pendamping, pengadaan lahan jika diperlukan, serta pembentukan kelembagaan yang akan menangani pelaksanaan proyek serta mengelola aset proyek setelah infrastruktur dibangun. Kriteria Kesiapan untuk sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan adalah:
Fasilitasi RanPerda Bangunan Gedung Kriteria Khusus:
• Kabupaten/kota yang belum difasilitasi penyusunan ranperda Bangunan Gedung;
Penyusunan Rencana Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas
Kriteria Khusus:
• Kawasan di perkotaan yang memiliki lokasi PNPM-Mandiri Perkotaan;
• Pembulatan penanganan infrastruktur di lokasi-lokasi yang sudah ada PJM Pronangkis-nya;
• Bagian dari rencana pembangunan wilayah/kota;
• Ada rencana pengembangan dan investasi Pemda, swasta, dan masyarakat;
• Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat.
Penyusunan Rencana Tata Bangunan Dan Lingkungan (RTBL) Kriteria Lokasi :
• Sesuai dengan kriteria dalam Permen PU No.6 Tahun 2006; • Kawasan terbangun yang memerlukan penataan;
• Kawasan yang dilestarikan/heritage; • Kawasan rawan bencana;
• Kawasan strategis menurut RTRW Kab/Kota; • Pekerjaan dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat.
• Kawasan gabungan atau campuran (fungsi hunian, fungsi usaha, fungsi sosial/ budaya dan/atau keagamaan serta fungsi khusus, kawasan sentra niaga (central business district);
• Komitmen Pemda dalam rencana pengembangan dan investasi Pemerintah daerah, swasta, masyarakat yang terintegrasi dengan rencana tata ruang dan/atau pengembangan wilayahnya;
• Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat;
Penyusunan Rencana Tindak Revitalisasi Kawasan, Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Permukiman Tradisional/Bersejarah Rencana Tindak berisikan program bangunan dan lingkungan termasuk elemen kawasan, program/rencana investasi, arahan pengendalian rencana dan pelaksanaan serta DAED/DED.
Kriteria Umum:
• Sudah memiliki RTBL atau merupakan turunan dari lokasi perencanaan RTBL (jika luas kws perencanaan > 5 Ha) atau;
• Turunan dari Tata Ruang atau masuk dlm skenario pengembangan wilayah (jika luas perencanaan < 5 Ha);
• Komitmen pemda dalam rencana pengembangan dan investasi Pemerintah daerah, swasta, masyarakat yang terintegrasi dengan Rencana Tata Ruang dan/atau pengembangan wilayahnya;
• Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat. Kriteria Khusus Fasilitasi Penyusunan Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan:
• Kawasan diperkotaan yang memiliki potensi dan nilai strategis; • Terjadi penurunan fungsi, ekonomi dan/atau penurunan kualitas; • Bagian dari rencana pengembangan wilayah/kota;
• Ada rencana pengembangan dan investasi pemda, swasta, dan masyarakat;
• Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat. Kriteria Khusus:
• Ruang publik tempat terjadi interaksi langsung antara manusia dengan taman (RTH Publik);
• Area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman baik alamiah maupun ditanam (UU No. 26/2007 tentang Tata ruang);
• Dalam rangka membantu Pemda mewujudkan RTH publik minimal 20% dari luas wilayah kota;
• Ada rencana pengembangan dan investasi Pemda, swasta, masyarakat;
• Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat. Kriteria Khusus Fasilitasi Penyusunan Rencana Tindak Permukiman Tradisional Bersejarah:
• Lokasi terjangkau dan dikenal oleh masyarakat setempat (kota/kabupaten);
• Memiliki nilai ketradisionalan dengan ciri arsitektur bangunan yang khas dan estetis;
• Kondisi sarana dan prasarana dasar yang tidak memadai;
• Ada rencana pengembangan dan investasi Pemda, swasta, dan masyarakat;
• Fasilitasi Penyusunan Rencana Tindak Ruang Terbuka Hijau: • Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat.
Kriteria Fasilitasi Penyusunan Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran (RISPK):
• Ada Perda Bangunan Gedung;
• Kota/Kabupaten dengan jumlah penduduk > 500.000 orang;
• Tingginya intensitas kebakaran per tahun dengan potensi resiko tinggi
• Kawasan perkotaan nasional PKN, PKW, PKSN, sesuai PP No.26/2008 ttg Tata Ruang;
• Ada rencana pengembangan dan investasi Pemda, swasta, dan masyarakat;
• Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat.
Kriteria dukungan PSD Untuk Revitalisasi Kawasan, RTH Dan Permukiman Tradisional/Ged Bersejarah:
• Mempunyai dokumen Rencana Tindak PRK/RTH/Permukiman Tradisional-Bersejarah;
• Prioritas pembangunan berdasarkan program investasinya; • Ada DDUB;
• Dukungan Pemerintah Pusat maksimum selama 3 tahun anggaran; • Khusus dukungan Sarana dan Prasarana untuk permukiman
tradisional, diutamakan pada fasilitas umum/sosial, ruang-ruang publik yang menjadi prioritas masyarakat yang menyentuh unsur tradisionalnya;
• Ada rencana pengembangan dan investasi Pemda, swasta, dan masyarakat;
• Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat.
Kriteria dukungan Prasarana dan Sarana Sistem Proteksi Kebakaran:
• Memiliki dokumen RISPK yang telah disahkan oleh Kepala Daerah (minimal SK/peraturan bupati/walikota);
• Memiliki Perda BG (minimal Raperda BG dalam tahap pembahasan dengan DPRD);
• Memiliki DED untuk komponen fisik yang akan dibangun; • Ada lahan yg disediakan Pemda;
• Ada rencana pengembangan dan investasi Pemda, swasta, dan masyarakat;
• Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat.
Kriteria Dukungan Aksesibilitas Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan:
• Bangunan gedung negara/kantor pemerintahan;
• Bangunan gedung pelayanan umum (puskesmas, hotel, tempat peribadatan, terminal, stasiun, bandara);
• Ruang publik atau ruang terbuka tempat bertemunya aktifitas sosial masyarakat (taman, alun-alun);
• Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat. 6.2.5. Usulan Program dan Pembiayaan
Setelah melalui analisis kebutuhan untuk mengisi kesenjangan antara kondisi eksisting dengan kebutuhan maka perlu disusun usulan program dan pembiayaan kegiatan. Namun usulan program dan kegiatan terbatasi oleh waktu dan kemampuan pendanaan pemerintah kabupaten/kota sehingga untuk jangka waktu perencanaan lima tahun dalam RPI2JM dibutuhkan suatu kriteria untuk menentukan prioritasi dari tahun pertama hingga kelima. Lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut ini.
6.3. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)
6.3.1. Arahan Kebijakan dan Lingkup Kegiatan
Penyelenggaraan pengembangan SPAM adalah kegiatan merencanakan, melaksanakan konstruksi, mengelola, memelihara, merehabilitasi, memantau, dan/atau mengevaluasi sistem fisik (teknik) dan non fisik penyediaan air minum. Penyelenggara pengembangan SPAM adalah badan usaha milik negara (BUMN)/ badan usaha milik daerah (BUMD), koperasi, badan usaha swasta, dan/atau kelompok masyarakat yang melakukan penyelenggaraan pengembangan sistem penyediaan air minum.
Penyelenggaraan SPAM dapat melibatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan SPAM berupa pemeliharaan, perlindungan sumber air baku,
penertiban sambungan liar, dan sosialisasi dalam penyelenggaraan SPAM. Beberapa peraturan perundangan yang menjadi dasar dalam pengembangan sistem penyediaan air minum (SPAM) antara lain:
1. Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
Pada pasal 40 mengamanatan bahwa pemenuhan kebutuhan air baku untuk air minum rumah tangga dilakukan dengan pengembangan sistem penyediaan air minum (SPAM). Untuk pengembangan sistem penyediaan air minum menjadi tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
2. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Program Jangka Panjang (RPJP) Tahun 2005-2025
Perundangan ini mengamanatkan bahwa kondisi sarana dan prasarana masih rendah aksesibilitas, kualitas, maupun cakupan pelayanan.
3. Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
Bahwa Pengembangan SPAM adalah kegiatan yang bertujuan membangun, memperluas dan/atau meningkatkan sistem fisik (teknik) dan non fisik (kelembagaan, manajemen, keuangan, peran masyarakat, dan hukum) dalam kesatuan yang utuh untuk melaksanakan penyediaan air minum kepada masyarakat menuju keadaan yang lebih baik. Peraturan tersebut juga menyebutkan asas penyelenggaraan pengembangan SPAM, yaitu asas kelestarian, keseimbangan, kemanfaatan umum, keterpaduan dan keserasian, keberlanjutan, keadilan, kemandirian, serta transparansi dan akuntabilitas.
4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 20/PRT/M/2006tentang Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
Peraturan ini mengamanatkan bahwa dalam rangka peningkatan pelayanan/ penyediaan air minum perlu dilakukan pengembangan SPAM yang bertujuan untuk membangun, memperluas, dan/atau meningkatkan sistem fisik dan non fisik daam kesatuan yang utuh untuk melaksanakan penyediaan air minum kepada masyarakat menuju keadaan yang lebih baik dan sejahtera.
5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Tata Ruang
Peraturan ini menjelaskan bahwa tersedianya akses air minum yang aman melalui Sistem Penyediaan Air Minum dengan jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan terlindungi dengan kebutuhan pokok minimal 60 liter/orang/hari.
SPAM dapat dilakukan melalui sistem jaringan perpipaan dan/atau bukan jaringan perpipaan. SPAM dengan jaringan perpipaan dapat meliputi unit air baku, unit produksi, unit distribusi, unit pelayanan, dan unit pengelolaan. Sedangkan SPAM bukan jaringan perpipaan dapat meliputi sumur dangkal, sumur pompa tangan, bak penampungan air hujan, terminal air, mobil tangki air, instalasi air kemasan, atau bangunan perlindungan mata air.
Pengembangan SPAM menjadi kewenangan/ tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk menjamin hak setiap orang dalam mendapatkan air minum bagi kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna memenuhi kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif sesuai dengan peraturan perundangundangan, seperti yang diamanatkan dalam PP No. 16 Tahun 2005.
SPAM dapat dilakukan melalui sistem jaringan perpipaan dan/atau bukan jaringan perpipaan. SPAM dengan jaringan perpipaan dapat meliputi unit air baku, unit produksi, unit distribusi, unit pelayanan, dan unit pengelolaan. Sedangkan SPAM bukan jaringan perpipaan dapat meliputi sumur dangkal, sumur pompa tangan, bak penampungan air hujan, terminal air, mobil tangki air, instalasi air kemasan, atau bangunan perlindungan mata air. Pengembangan SPAM menjadi kewenangan/ tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk menjamin hak setiap orang dalam mendapatkan air minum bagi kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna memenuhi kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif sesuai dengan peraturan perundangundangan, seperti yang diamanatkan dalam PP No. 16 Tahun 2005.
Pemerintah dalam hal ini adalah Direktorat Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya,Kementerian Pekerjaan Umum yang mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas pokok Direktorat Jenderal Cipta Karya di