• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.3. Pemrosesan Data Seismik

2.3.7. Analisis kecepatan

Kecepatan didefinisikan sebagai penjalaran gelombang seismik pada

medium. Berdasarkan nilai kecepatan dapat ditentukan kedalaman, kemiringan

horizon dan lain-lain. Beberapa kecepatan menurut Priyono (2006) yang terdapat

pada pengolahan data seismik yaitu :

1). Kecepatan Root Mean Square (RMS)

Kecepatan RMS diturunkan dari perhitungan rms pada kecepatan interval.

Kecepatan ini menggambarkan kecepatan dari seluruh lapisan.

2). Kecepatan Interval

kecepatan dari suatu interval atau strata pengendapan. Kecepatan ini

menggambarkan kecepatan lapisan batuan. Kecepatan interval digunakan

untuk estimasi litologi, estimasi porositas dan estimasi kandungan fluida.

3). Kecepatan Stacking

Kecepatan yang diperoleh dari proses stacking (hasil dari analisa kecepatan).

4). Kecepatan rata-rata

Kecepatan yang menggambarkan rata-rata dari lapisan permukaan hingga

pada reflektor ke-n.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, NMO adalah dasar untuk

menentukan kecepatan dari data seismik. Menghitung kecepatan pada dasarnya

19

diselaraskan dari kumpulan CMP sebelum di stacking. Analisis kecepatan t2 - x 2

adalah cara yang baik untuk memperkirakan kecepatan stacking. keakuratan

metode yang berdasarkan pada rasio sinyal terhadap noise ini bergantung pada

kualitas hasil picking. Gambar 12 merupakan analisis kecepatan t2 - x 2pada sintetik gather yang diturunkan dari fungsi kecepatan. Bagian tengah

menunjukkan spektrum kecepatan. Analisis kecepatan t2 - x 2 diperoleh melalui segitiga yang terdapat pada spektrum velositas.

Sumber : Yilmaz (2001)

Gambar 12. Analisis Kecepatan t2 - x 2 pada Sintetik Gather

2.3.8. Dekonvolusi

Dekonvolusi adalah proses yang meningkatkan resolusi temporal dari data

seismik dengan memperkecil wavelet dasar seismik. Dalam eksplorasi

seismologi, wavelet seismik dihasilkan saat suara merambat dari source hingga ke

receiver yang disebabkan karena melewati strata geologi yang berbeda. Tujuan

dari proses dekonvolusi adalah untuk mempersingkat refleksi wavelet dan

melemahkan ghost, pengaruh dari instrument, dengungan dan refleksi multiple.

20

panjang gelombang, frekuensi dan fasa, sedangkan multiple adalah pengulangan

refleksi akibat terperangkapnya gelombang seismic dalam air laut atau adalam

batuan yang lunak (Abdullah, 2007). Menurut Yadav (2011), dekonvolusi terdiri

dari dua jenis yaitu :

1). Dekonvolusi Deterministik

Merupakan dekonvolusi yang yang menggunakan operator filter yang telah

didisain untuk menampilkan suatu bentuk tertentu.

2). Dekonvolusi Statistik

Dekonvolusi statistik memiliki disain filter yang tidak dikatahui, sehingga

informasi tentang wavelet berasal dari data itu sendiri. Menurut Talagapu

(2005), terdapat dua jenis deonvolusi statistik, yaitu:

a. Dekonvolusi Spiking

Dekonvolusi spiking adalah proses pengubahan wavelet seismik menjadi

spike. Spike memiliki spektrum yang flat untuk seluruh frekuensi sehinga

secara teorotis tidak boleh ada komponen frekuensi yang amplitudonya

sangat kecil atau nol, karena dapat menyebabkan hasil disain operator

tidak stabil.

b. Dekonvolusi Predictive / Dekonvolusi Gap

Dekonvolusi ini dapat meramalkan bentuk dari wavelet setelah waktu gap,

dan mengurangi amplitudo data dengan amplitudo hasil ramalan (Victor,

2010). Predictive dilakukan dengan cara mencari bagian-bagian yang bisa

diprediksi dari trace seismik untuk kemudian dihilangkan.

Menurut Victor (2010), selain jenis dekonvolusi spiking dan predictive, terdapat

21

a. Wave Shaping (Wiener) Filter

Dekonvolusi ini akan menyaring data untuk menghasilkan output

sebagaimana yang dikehendaki pemakai. Metode ini menggunakan cara

dengan memperkecil beda kesalahan antara output seismik wavelet

sebenarnya dengan yang diharapkan.

b. Dekonvolusi FX

Selain memperbaiki wavelet dalam ruang frekuensi juga memperbaiki

koherensi dalam ruang x ke arah lateral. Dekonvolusi jenis ini lebih

berfungsi untuk mengurangi random noise.

c. Spectral Balancing

Proses ini disebut juga sebagai zero phase deconvolution dan sebenarnya

bukan proses dekonvolusi murni karena disini operator tidak didisain

berdasarkan datanya. Hasilnya adalah spektrum yang flat untuk band

frekuensi yang terbatas. Prinsipnya adalah pemakaian sederetan band pass

filter dengan band yang sempit secara berurutan.

d. Dekonvolusi Fase

Dalam penjalarannya ke dalam bumi, setiap komponen frekuensi akan

mengalami dispesi (penguraian), karena setiap komponen mempunyai

kecepatan yang berbeda. Wavelet terpecah atas beberapa komponen

frekuensi dan setiap komponen menjalar sendiri - sendiri. Akibanya fase

pun akan bergeser dengan nilai yang berbeda beda. Apabila pergeseran ini

linier dan dengan mengabaikan adanya penyerapan, pada waktu tiba di

22 2.3.9. Stacking

Stacking adalah penggabungan dua atau lebih trace menjadi satu trace atau

disebut dengan gather data (Gambar 13). Penggabungan ini dapat terjadi dengan

beberapa cara. Dalam pengolahan data digital, amplitudo dari trace dinyatakan

sebagai angka, sehingga stacking dapat dilakukan dengan menambahkan angka-

angka tersebut.

Sumber : Tristiyoherni (2010)

Gambar 13. Diagram Proses Stack. Masing-masing receiver menerima satu

trace, setelah di-stacktrace-trace tersebut bergabung menjadi satu trace.

Prinsip CMP stacking ini dapat dilihat pada Gambar 14. Keterangan

nomor (1) merupakan penggabungan dua trace (puncak gelombang) yang muncul

pada waktu yang sama menghasilkan puncakyang tinggi sebagai hasil dari

penambahan dua buah puncak. Nomor (2) merupakan penggabungan puncak dan

lembah yang bertemu pada waktu dan amplitudo yang sama sehingga akan

meniadakan satu sama lain. Nomor (3) menunjukkan puncak dan lembah yang

bertemu pada waktu dan amplitudo yang berbeda sehingga gelombang yang

terbentuk adalah setengah dari lebar puncak dan lembah aslinya. Nomor (4)

menunjukkan dua puncak yang berada dalam waktu yang berbeda, kombinasi dari

trace akan memiliki dua puncak yang terpisah dengan ukuran yang sama seperti

23

Sumber : Gadallah dan Fisher (2009)

Gambar 14. Prinsip CMP Stacking. (1) Dua puncak yang bertemu pada waktu yang sama, (2) puncak dan lembah yang bertemu pada waktu dan amplitudo yang sama, (3) puncak dan lembah bertemu pada waktu dan amplitudo yang berbeda, (4) dua puncak bertemu pada waktu yang berbeda.

Dengan meningkatkan rasio S / N, maka dapat meningkatkan kualitas

sinyal, namun tetap memiliki noise. Mempertimbangkan semua noise yang ada,

perbaikan rasio S / N dengan stacking akan menjadi √n waktu, dimana n adalah kelipatan waktu. Tujuan utama dalam merekam data multi kelipatan adalah untuk

stacking semua trace secara bersama-sama. Stacking tidak efektif dalam menekan

multiple dan difraksi. Sebelum akhir stacking semua koreksi NMO, DMO, statik

dan sebagainya harus dilakukan. Umumnya sebelum dekonvolusi dan analisa

kecepatan, gather di-stack agar memiliki gambaran kasar tentang perbedaan

horizontal, noise yang besar dan sebagainya. Stack ini disebut juga Brute Stack

(Talagapu, 2005).

2.3.10.Migrasi

Migrasi adalah proses perpindahan energi refleksi dari posisi yang terlihat

kepada posisi yang sebenarnya. Distribusi kecepatan spasial digunakan dalam

migrasi untuk identifikasi posisi titik yang sebenarnya di sub permukaan. Migrasi

memperbaiki susunan dari lapisan – lapisan reflektor sehingga dapat memberikan gambaran geologi sub permukaan yang mendekati kondisi aslinya.

24

Bagian zero offsetstack memberikan gambaran yang salah dari pemantul

dibidang miring seperti peristiwa yang ditunjukkan oleh Gambar 15, dimana titik

A dan B diplot berdasarkan posisi trace yang tepat. Bidang miring yang terlihat

merupakan peristiwa zero offsetstack yang berbeda dari bidang kemiringan yang

sebenarnya.

Sumber : Talagapu, 2005

Gambar 15. Representasi Geometri dari Migrasi. Garis putus-putus (apparent dip) merupakan reflektor yang terlihat (semu), sedangkan true dip merupakan posisi reflektor yang sebenarnya.

Berdasarkan Gambar 16 dapat dilihat bahwa migrasi memiliki beberapa

prinsip yaitu sudut kemiringan dari reflektor dalam true dip lebih baik daripada

dalam penampang waktu, sehingga menambahkan jumlah migrasi reflektor.

Selain itu, panjang reflektor, seperti yang terlihat dalam true dip lebih pendek

daripada penampang apparent dip, sehingga memperpendek migrasi reflektor.

Migrasi memindahkan reflektor kearah kemiringan yang lebih tinggi.

Sumber : Talagapu, 2005 Gambar 16. Prinsip Migrasi

Berbagai kondisi permukaan yang beragam menyebabkan jenis migrasi

yang digunakan berbeda – beda. Hal ini disebut dengan strategi migrasi seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 1.

25

Tabel 1. Strategi Migrasi

Kondisi Permukaan Jenis Migrasi

Peristiwa kemiringan reflektor Time Migration

Kemiringan yang kompleks dengan stacking kecepatan yang berbeda

Prestack Migration

Sifat 3D dari Fault Planes dan Salt Flanks 3D Migration

Kekuatan lateral dari variasi velositas diasosiasikan dengan struktur permukaan yang kompleks

Depth Migration

Kompleks dengan Moveout yang tidak hiperbolik Prestack Migration

Struktur 3D 3D Migration

Struktur dan velositas yang sederhana Post Stack Time Migration

Struktur yang sederhana dan velositas yang kompleks Post Stack Depth Migration

Struktur yang kompleks dan velositas yang sederhana Pre Stack Time Migration

Struktur yang kompleks dan velositas yang kompels Pre Stack Depth Migration

Permukaan yang cekung dapat menyebabkan terbentuknya bow tie. Bow

tie merupakan peristiwa refleksi seismik pada permukaan yang cekung yang telah

mengabaikan fokus tetapi dapat dikoreksi menggunakan migrasi. Fokus

gelombang seismik menghasilkan tiga refleksi pada tiap lokasi permukaan. Istilah

bow tie diciptakan untuk menampilkan peristiwa dari data seismik yang tidak

dimigrasi. Synclines atau cekungan umumnya menghasilkan efek bow tie.

gambar 17 menunjukkan syncline yang muncul sebagai bow tie pada daerah yang

di-stack dan dapat dikoreksi dengan migrasi data seismik yang tepat.

Sumber : Yadav, 2011

Dokumen terkait