• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODE PENELITIAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1. Analisis Hasil Penelitian Perkejadian Cuaca Ekstrim

4.1.1.5 Analisis Kejadian Tanggal 5 November 2011

Pada tanggal 5 November 2011 terjadi kejadian banjir di wilayah Tebingtinggi Sumatera Utara, yang mengakibatkan ribuan rumah, sekolah, tempat ibadah dan area pertanian terendam banjir, 12876 KK menjadi korban.

Berikut merupakan tabel nilai-nilai variabel-variabel yang mempengaruhi terjadinya kejadian Banjir tanggal 5 November 2011.

Tabel 4.5 Data nilai Variabel-variabel yang mempegaruhi cuaca ekstrim tanggal 5 November 2011

Gambar 4.9 Gambar Anomaly SPL,SLP,OLR, U&V Wind 31 Oktober – 10 November 2011.

4.1.1.5.1 Analisis Anomali OLR

Radiasi balik gelombang panjang atau OLR (Outgoing Longwave Radiation) dapat diinterpretasikan sebagai radiasi gelombang panjang yang dipancarkan oleh bumi ke atmosfer. Jika di atmosfer tidak banyak terdapat hambatan (misalnya awan yang tebal), maka OLR yang ditangkap oleh satelit akan bernilai tinggi, begitu pula sebaliknya. Dalam menganalisis OLR, terdapat beberapa prinsip sederhana yang perlu kita ingat kembali, diantaranya sebagai berikut.

Nilai OLR tinggisedikit awansedikit hujan

Nilai OLR rendahbanyak awanbanyak hujan

Anomali OLR positif lebih sedikit awan dibanding rata-rata klimatologi lebih sedikit hujan dibanding rata-rata klimatologi

Anomali OLR negatiflebih banyak awan dibanding rata-rata klimatologi  lebih banyak hujan dibanding rata-rata klimatologi

Bardasarkan hasil tabel 4.5 diatas dapat dapat dilihat bahwa sejak 5 hari sebelum kejadian nilai anomali OLR menunjukkan nilai negatif puncaknya pada

tanggal 3 November 2011 mencapai nilai -48.67 yang merupakan nilai minimum terendah. Sehinggga dapat disimpulkan bahwa di sekitar lokasi kejadian banjir terdapat anomali OLR negatif yang artinya terdapat lebih banyak awan dibanding rata-ratanya. Hal ini sejalan dengan kenaikan nilai curah hujan harian di pos Hujan DIPERTA Tebing, yang mewakili wilayah Tebing Tinggi.

4.1.1.5.2 Analisis Anomali Sea Surface Temperature (SST)

Variabel selanjutnya yang perlu dianalisis adalah kondisi anomali Sea Surface Temperature (SST) di wilayah Indonesia, terutama di sekitar lokasi kejadian. Hal ini dilakukan dengan asumsi (anggapan) bahwa jika SST di sekitar lokasi kejadian tinggi, maka penguapan tinggi sehingga tersedia supplay uap air yang cukup untuk dapat tumbuh awan yang berpotensi hujan. Dalam penelitian ini di ambil 3 titik secara acak yang mewakili wilayah perairan di wilayah sumatra utara yaitu: 8 – 10 ˚ LU dan 108 – 112 ˚ BT ( wilayah laut cina selatan), 2 – 4 ˚

LU dan 99 – 102 ˚BT ( wilayah selat malaka ) dan 2 – 4˚ LU dan 93 – 96 ˚BT

(wilayah pantai barat sumatera ).

Berdasarkan hasil tabel 4.5 diatas dapat kita lihat untuk wilayah laut cina selatan dan wilayah selat malaka anomali suhu permukaan laut menunjukkan nilai anomali suhu permukaan laut yang negatif sehingga anomali suhu permukaan laut lebih dingin dari pada klimatologisnya,sedang kan di wilayah pantai barat Sumatera dapat kita lihat nilai anomali dari suhu permukaan laut menunjukkan nilai positif yang sehingga anomali suhu permukaan laut di wilayah pantai barat Sumatera Utara lebih hangat dari klomatologisnya hal ini berarti wilayah pembentukan awan terdapat di wilayah barat Sumatera dibandingkan dengan wilayah Timur Sumatera.

4.1.1.5.3 Analisis Anomali Sea Level Preasure (SLP)

Variabel selanjutnya yang perlu dianalisis adalah kondisi anomali Sea Level Preasure laut di wilayah Sumatera Utara, terutama di sekitar lokasi kejadian. Hal ini dilakukan dengan asumsi (anggapan) bahwa jika anomali Tekanan Permukaan Lautdi sekitar lokasi kejadian negatif , sehingga sehingga

tekanan udaranya lebih rendah dari klimatoligisnya. Hal ini berdampak pada penambahan peluang terbentuk awan di sekitar wilayah Sumatera Utara. Dalam penelitian ini di ambil 3 titik secara acak yang mewakili wilayah perairan di wilayah sumatra utara yaitu: 8 – 10 ˚ LU dan 108 –112 ˚ BT ( wilayah laut cina

selatan, 2 – 4 ˚ LU dan 99 –102 ˚BT ( wilayah selat malaka ) dan 2 –4˚ LU dan

93 –96 ˚BT (wilayah pantai barat sumatera ).

Berdasarkan hasil tabel 4.5 diatas dapat kita lihat untuk wilayah laut cina selatan,wilayah selat malaka dan wilayah pantai barat Sumatera Utara, anomali Tekanan Permukaan Laut5 hari sebelum kejadian menunjukkan nilai negatif sehingga anomali Tekanan Permukaan Laut lebih rendah dari pada klimatologisnya, Hal ini berdampak pada penambahan peluang terbentuk awan di sekitar wilayah Sumatera Utara.

4.1.1.5.4 Analisis Pola Angin

Variabel selanjutnya yang perlu dianalisis perbandingan pola angin terhadap kondisi normal (rata-rata klimatologisnya). Pola angin ini dapat kita buat plot anomali komponen zonal u (timur – barat) dan komponen meridional v (utara

– selatan). Dalam menganalisis komponen angin ini, terdapat beberapa prinsip sederhana yang perlu kita ingat kembali, diantaranya sebagai berikut.

Nilai komponen u negatif  angin dari timur

Nilai komponen u positif  angin dari barat Nilai komponen v negatif  angin dari utaraNilai komponen v positif  angin dari selatan

Berdasarkan gambar 4.9 dan hasil tabel 4.5 diatas dapat dilihat bahwa di sekitar lokasi kejadian, komponen Meridional (Utara – Selatan) menunjukkan anomali yang lebih dominan daripada komponen Zonalnya (Timur – Barat) . Nilai Positif yang ditunjukkan pada gambar atas dapat di interpretasikan sebagai angin dari Selatan lebih kuat dari klimatologinya.

4.1.1.5.5 Analisis Curah Hujan

Berdasarkan data Curah hujan yang di peroleh dari pos hujan DIPERTA Tebing dapat di lihat curah hujan pada saat kejadian banjir tercatat 26.0 mm, hujan juga terjadi pada 5 hari sebelum kejadian pada tanggal 30 oktober tercatat curah hujan sebesar 10 mm, tanggal 2 dan 3 November curah hujan tercatat 28mm dan 30mm, dari data pos hujan yang di peroleh dapat disimpulkan bahwa kejadian banjir yang terjadi disebabkan terjadi penumpukan jumlah curah hujan dari hari-hari sebelumnya.

Berdasarkan analisis dinamika atmosfer yang dilakukan terhadap beberapa variabel baik komponen atmosfer maupun komponen laut dan analisis curah hujan dapat dibuat kesimpulan faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya curah hujan ekstrim diwilayah Sumatera Utara khususnya wilayah kec Tebing Tinggi dan sekitarnya , dari tabel 1.5 dapat dilihat nilai anomali OLR pada 5 hari sebelum kejadian banjir, nilai anomali OLR cendrung menurun hingga puncaknya pada tanggal 3 November 2011 mencapai nilai -48.67 dan pada tanggal $ november 2011 dengan anomali -45,38. Dilihat dari analisis suhu permukaan laut nilai anomali suhu permukaan laut menunjukkan nilai negatif diwilayah selat malaka dan laut cina selatan , hal ini berarti anomaly suhu permukaan laut lebih dingin dibandingkan dengan klimatologisnya.

Diwilayah pantai barat Sumatera Utara anomali suhu permukaan laut menunjukkan nilai positif hal ini berarti anomali suhu permukaan laut lebih hangat dari klimatologisnya, sehingga kandungan uap air di atmosfer lebih banyak, hal ini didukung dengan analisis dari tekanan permukaan laut, Tekanan Permukaan Lautmenunjukkan anomaly negatif yang berarti Tekanan Permukaan Lautlebih rendah dari klimatologisnya yang bererti peluang pembentukan awan lebih besar. Dari analisis pola angin 5 November 2011 dapat dilihat komponen Meridional (Utara – Selatan) lebih dominan dibandingkan dengan komponen Zonal (Timur – Barat) dengan nilai anomaly komponen V negatif, ini berarti pola angin pada saat kejadian di dominasi oleh angin dari Selatan.

Dilihat dari anomali Tekanan Permukaan Lautdi laut cina selatan negatif, ini berarti terdapat sel tekanan rendah di wilayah laut cina selatan hal ini dapat

membawa massa udara dari selatan ke utara. Curah hujan yang terjadi pada kejadian ini banyak di pengaruhi oleh variabel-variabel cuaca di pantai barat Sumatera, hal ini dapat dilihat dari anomali suhu permukaan laut positif, anomali Tekanan Permukaan Lautnegatif dan pola angin yang dominan dari selatan dengan sel tekanan rendah di wilayah laut cina selatan, sehingga pola angin membawa massa udara dari wilayah pantai barat ke wilayah Sumatera Utara.

Dokumen terkait