Internal Eksternal Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weaknesses) • Kualitas SDM
• Kerjasama Tim yang Solid
• Integritas Pelayanan Publik diakui secara nasional
• Networking yang kuat
dengan pemerintah daerah • Pedoman pengawasan yang jelas • Komitmen pimpinan • Sertifikasi ISO
• Jumlah SDM yang belum mencukupi
• Kompetensi SDM yang rendah dalam
melakukan pemeriksaan sarana, penyidikan dan pengujian
• Komitmen kerja
karyawan yang rendah. • Peralatan laboratorium,
baku pembanding yangmasih kurang. • Sistem Informasi
9001:2008 ISO 17025:2008 • Reformasi birokrasi • Sharing resourses dengan BB/BPOM seluruh Indonesia. • Memiliki Bangunan dan Laboratorium sesuai standar
Manajemen yang belum memadai
• Esselonisasi masih III
Peluang (Opportunity) STRATEGI SO STRATEGI WO • Adanya Program Nasional (JKN dan SKN) • Perkembangan
teknologi yang sangat cepat
• Jumlah industri obat dan makanan yang berkembang pesat • Terjalinnya kerjasama dengan instansi terkait • Desentralisasi dan Otonomi Daerah • Ekspektasi masyarakat • Adanya perjanjian perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 1. Meningkatkan kerjasama dengan lintas sektor terhadap keamanan mutu produk obat dan makanan (PJAS) serta peredaran produk obat dan makanan import
2. Meningkatkan peranan Badan POM dalam melakukan
pemeriksaaan sarana, penyidikan dan
pengujian laboratorium 3. Meningkatkan peran
BPOM dalam membina industri UMKM
menerapkan GMP agar dapat bersaing dengan pasar Internasional 4. Mempercepat
kemampuan Balai POM dalam menyesuaikan berbagai parmeter uji dan peralatan
laboratorium yang baru dan canggih
1. Meningkatkan jumlah SDM 2. Meningkatkan kompetensi SDM dalam melakukan pemeriksanaan sarana, penyidikan dan pengujian laboratorium. 3. Menambah peralatan
dan baku pembanding yang mendukung tugas Balai POM 4. Melakukan digitalisasi sistem informasi manajemen yang berorientasi mutu 5. Restrukturisasi dan Penataan Kelembagaan
Ancaman (Threats) STRATEGI ST STRATEGI WT 1. Lemahnya penegakan hukum 2. Adanya standar
mutu produk tingkat ASEAN
3. Belum
terdapatnya Perda tentang pengawasan bahan berbahaya yang disalahgunakan 4. Perubahan pola hidup masyarakat 5. Kesadaran masyarakat untuk tidak menggunakan produk obat dan makanan yang mengandung Bahan Berbahaya masih kurang 6. Lemahnya regulasi pembinaan pangan siap saji
1. Meningkatkan koordinasi dengan Penegak Hukum, Korwas PPNS
2. Mempelajari standar mutu produk obat dan makanan pada tingkat ASEAN
3. Mengupayakan terbentuknya Perda tentang pengawasan bahan berbahaya yang disalahgunakan
4. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang keamanan mutu produk obat dan makanan 5. Pembinaan berkelanjutan dan kerjasama lintas sektor 1. Meningkatkan kompetensi SDM dalam hal standar mutu obat dan makanan.
2. Meningkatkan kemampuan SDM dalam memahami dampak negatif dari bahan-bahan kimia yang terdapat pada makanan dan obat-obatan.
3. Meningkatkan sarana prasarana sosialisasi /KIE tentang bahan-bahan yang terkandung pada produk obat dan makanan
4. Penguatan regulasi dari Pemda terhadap
pembinaan pangan siap saji
1. KEKUATAN (STRENGTHS)
Balai POM di Jambi memiliki bangunan dan laboratorium serta kualitas SDM yang sangat memadai khususnya tenaga-tenaga yang kompeten dalam melakukan pengujian/penilaian dan pengawasan produk Obat dan Makanan yang ada. Didukung dengan Pedoman Pengawasan yang jelas, sertifikat ISO 9001:2008, serta ISO 17025:2008 untuk acuan penilaian/pengujian dalam pengawasan atas Obat dan Makanan sehingga seluruh penilaian/pengujian tersebut telah memiliki standar baku baik untuk obat dan makanan juga faktor-faktor mutu lainnya seperti standar distribusi dan standar produk pangan lainnya.
Balai POM di Jambi memiliki jaringan (networking) yang kuat dengan pemerintah daerah sebagai pijakan dalam mendorong tugas-tugas sebagai
Pengawasan Obat dan Makanan sehingga dapat menjadi lancar.Dukungan Pemerintah Jambi selama ini telah terlaksana dengan baik, dimana ditunjukkan dengan adanya MoU dengan beberapa SKPD baik di tingkat Propinsi maupun Kabupaten/Kota yang bersinergis dengan program Pengawasan Obat dan Makanan. Selain itu, Komitmen pimpinan dan seluruh jajaran Balai POM di Jambi menjadi mutlak sebagai landasan untuk mewujudkan visi dan misi serta tujuan dari peran BPOM dalam memberikan kontribusi pembangunan kesehatan masyarakat.
2. KELEMAHAN (WEAKNESSES)
Saat ini SDM Balai POM di Jambi sudah memiliki kualitas yang memadai namun dari sisi kuantitas SDM belum mencukupi kebutuhan untuk menjalankan tugas dan fungsi Balai POM di Jambi dengan cakupan kerja di seluruh Kabupaten/Kota Provinsi Jambi.
Dalam pelaksanaan tugas pengawasan obat dan makanan diperlukan sarana dan prasarana dan sistem manajemen kerja yang sangat memadai. Hal ini juga untuk mengimbangi peredaran Obat dan Makanan yang semakin canggih. Disamping itu, untuk mendukung pelaku usaha dalam melakukan pendaftaran (registrasi) dan penyebarluasan informasi mengenai Obat dan Makanan perlu didukung teknologi Informasi yang memadai.
Peran dan kewenangan Balai POM di Jambi juga harus didukung oleh struktur organisasi dan tata kerja yang tepat. Saat ini pembagian kewenangan atau beban kerja masih belum menunjukkan ukuran yang sesuai. Diharapkan penataan sesuai dengan prinsip structur follow function follow strategy sehingga struktur organisasi dan tata kerja (fungsi) harus dapat mewujudkan tujuan organisasi.
3. PELUANG (OPPORTUNITIES)
SKN dan JKN merupakan bagian dari sistem kemasyarakatan yang dipergunakan sebagai acuan utama dalam mengembangkan perilaku dan lingkungan sehat serta berperan aktif masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan. Untuk itu, SKN dan JKN merupakan tantangan atau peluang bagi Balai POM di Jambi dalam mendorong upaya kesehatan masyarakat yang lebih baik lagi dalam menghadapi pola perilaku dan lingkungan sehat khususnya Obat dan Makanan.
Semakin bertambahnya penduduk dan berkembangnya varian penyakit maka akan mengakibatkan kebutuhan Obat dan Makanan semakin meningkat. Didukung dengan kemajuan teknologi maka industri Obat dan Makanan akan semakin bertambah jumlahnya dan juga akan semakin berkembang pesat. Hal ini menjadi peluang dan tantangan Balai POM di Jambi dalam mengawasi Obat dan Makanan yang semakin banyak variannya.
Di tengah ekspektasi masyarakat terhadap kinerja Balai POM di Jambi yang tinggi, kerjasama dengan Instansi terkait merupakan hal yang sangat mutlak agar upaya pembangunan kesehatan dapat tercapai. Otonomi dan Desentralisasi bidang kesehatan dan komitmen pemerintah belum dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Kerjasama lintas sektor dan dukungan peraturan perundangan merupakan tantangan yang sangat penting.
4. ANCAMAN (THREATS)
Dengan semakin tumbuhnya perekonomian Indonesia dan perkembangan jumlah penduduk yang pesat akan mempengaruhi perubahan pola perilaku hidup sosial, salah satunya dalam mengkonsumsi obat dan makanan. Kecenderungan penggunaan bahan berbahaya sebagai bahan tambahan dalam proses produksi pangan, penjulan obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat dan kosmetika yang mengandung bahan berbahaya masih ditemukan, diperedaran.
Fenomena penjualan produk obat dan makanan via online, baik itu melalui situs internet dan jejaring sosial (facebook, instagram,blackberry messenger) yang merebak belakangan ini juga merupakan salah satu tantangan besar yang harus dihadapi Balai POM di Jambi dalam mengawal produk obat dan makanan yang aman di wilayah Jambi. Sejauh ini masih belum didapatkan profil yang tepat mengenai kondisi peredaran produk-produk ilegal yang dijual melalui media online, namun telah diupayakan pengawasan dengan melakukan investigasi awal terhadap situs-situs tersebut dengan melakukan pemesanan produk, juga dibantu dengan informasi dari masyarakat yang disampaikan langsung pada Balai POM di Jambi .
Berdasarkan hasil Analisa SWOT tersebut di atas, maka BPOM perlu melakukan penguatan organisasi dan kelembagaan, agar faktor-faktor lingkungan strategis yang mempengaruhi baik dari internal maupun eskternal tidak akan
menghambat pencapaian tujuan dan sasaran organisasi BPOM periode 2015-2019. Dilihat dari keseimbangan pengaruh lingkungan internal antara kekuatan dan kelemahan serta pengaruh lingkungan eskternal antara peluang dan ancaman, posisi organisasi BPOM harusnya melakukan pengembangan dan perluasan organisasi agar dapat mewujudkan visi, misi dan tujuan organisasi BPOM periode 2015-2019.
Gambar 36 Peta Bisnis Proses Utama BPOM sesuai Peran dan Kewenangan
Untuk itu, dalam melaksanakan peran dan kewenangan yang optimal sesuai dengan peran dan kewenangan BPOM di Jambi yang mengawasi Obat dan Makanan, maka diusulkan penguatan peran dan kewenangan BPOM sesuai dengan bisnis proses BPOM untuk periode 2015-2019 sebagaimana pada Tabel 6 dibawah ini :
Tabel 6 Penguatan Peran BPOM Tahun 2015-2019
Penguatan Sistem Pengawasan
Obat dan Makanan
• Penyusunan Kebijakan Teknis Pengawasan Obat dan Makanan (NSPK)
• Riset terhadap pelaksanaan kebijakan pengawasan Obat dan Makanan
• Pengawasan (penilaian) Obat dan Makanan sesuai standar
• Pengawasan sarana produksi Obat dan Makanan sesuai standar
• Pengawasan sarana distribusi Obat dan Makanan sesuai standar
• Sampling dan pengujian laboratorium Obat dan Makanan
• Penyidikan dan penegakan hokum
Kerjasama, Komunikasi, Informasi dan Edukasi Publik
• Mendorong kemitraan dan kemandirian pelaku usaha
• melalui Komunikasi, Informasi dan Edukasi publik termasuk peringatan publik
• Pengelolaan data dan informasi Obat dan Makanan • Menentukan peta zona rawan peredaran Obat dan
Makanan yang tidak sesuai dengan standar
• Penyebaran informasi bahaya obat dan makanan yang tidak memenuhi standard