Aspek finansial dalam analisis kelayakan bisnis penggemukan sapi pada TARUMA berkaitan dengan keseluruhan aktivitas yang dijalankan oleh TARUMA yang dilihat dari sisi finansial (keuangan). Kelayakan dari sisi finansial pada bisnis penggemukan sapi TARUMA akan dinilai menggunakan kriteria penilaian investasi, meliputi Net Benefit, Net B/C, IRR, dan Payback Period. Sebelum menghitung kelayakan bisnis menngunakan kriteria penilaian investasi, terlebih dahulu akan diproyeksikan arus kas (cashflow) dan laporan laba/rugi sesuai dengan umur bisnis dari bisnis penggemukan sapi potong TARUMA.
Arus Kas (Cashflow)
Arus Penerimaan (Inflow)
Arus penerimaan yang diperoleh TARUMA yaitu penerimaan yang berasal dari aktivitas bisnis utama dan aktivitas bisnis tambahan, penerimaan modal pinjaman, dan penerimaan yang berasal dari nilai sisa. Total penerimaan selama umur bisnis TARUMA sebesar Rp2.8 trilyun, dengan rata-rata penerimaan setiap tahunnya Rp134 milyar.
1. Penerimaan dari Akivitas Bisnis Utama
Aktivitas bisnis utama menghasilkan penerimaan dari penjualan sapi siap potong. Penerimaan pada tahun ke-1 yang berasal dari penjualan sapi siap potong sebesar Rp18 417 099 060. Karena keterbatasan data pada penelitian, penerimaan tersebut tidak dapat dirincikan. Penerimaan pada tahun ke-2 dari penjualan sapi potong sebesar Rp 15 530 757 400. Pada tahun tersebut, TARUMA hanya menjual 81 ekor sapi lokal dengan totol bobot jual sapi sebesar 31 655 kg dengan harga jual rata-rata Rp26 655/kg. Sedangkan sapi BX yang dijual sebanyak 1 175 ekor dengan total bobot jual sapi sebesar 578 766 kg dengan harga jual rata-rata Rp25 376/kg. Penjualan sapi siap potong pada tahun ke-2 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut terjadi akibat menurunnya jumlah sapi yang digemukkan oleh TARUMA karena kesulitan memperoleh sapi bakalan. Penerimaan pada tahun ke-3 dari penjualan sapi siap potong
sebesar Rp 44 612 053 400 yang merupakan hasil penjualan 2 333 ekor sapi lokal dengan total bobot jual sebesar 990 515 kg dengan harga rata-rata Rp28 863/kg dan 1 093 ekor sapi BX dengan bobot jual sebesar 513 553 kg dengan harga rata-rata Rp31 200/kg. Penjualan sapi siap potong dari tahun ke-1 hingga tahun ke-3 diperoleh berdasarkan data historis TARUMA. Proyeksi penjualan sapi siap potong dimulai pada tahun ke-4 hingga tahun ke-21, dengan jumlah sapi yang dijual sesuai dengan proyeksi panen sapi TARUMA. Proyeksi panen diperoleh berdasarkan proyeksi pembelian yang dilakukan TARUMA pada tahun ke-4 hingga tahun ke-21. Secara lebih rinci proyeksi panen sapi siap potong dijelaskan pada Tabel 7 dan Tabel 8.
Tabel 7 Proyeksi panen sapi siap potong jenis lokal tahun 2013-2030a
No. Bulan Jumlah panen sapi lokal pada tahun
b 2013 2014 2015 2016-2029 2030 1 Januari 0 200 200 200 200 2 Februari 0 200 200 200 200 3 Maret 0 200 200 200 200 4 April 347 200 200 200 200 5 Mei 0 199 199 199 199 6 Juni 199 200 200 200 200 7 Juli 200 200 200 200 200 8 Agustus 200 200 200 200 200 9 September 200 200 200 200 200 10 Oktober 200 200 200 200 200 11 November 200 200 200 200 200 12 Desember 200 200 200 200 200
Total panen sapi/tahun 1 746 2 399 2 399 2 399 2 399
a
Sumber: Data primer (diolah);bJumlah panen sapi lokal (ekor)
Proyeksi panen pada Tabel 7 dibuat berdasarkan pembelian sapi bakalan yang dilakukan setiap bulan oleh TARUMA, yaitu 200 ekor sapi lokal, dengan lama penggemukan 120 hari (4 bulan) dan kapasitas kandang 800 ekor sapi lokal serta tingkat mortalitas 0.05 persen setiap tahunnya. Panen sapi siap potong yang dilakukan pada bulan April sejumlah 347 ekor merupakan panen sapi siap potong yang dibeli pada bulan Desember tahun sebelumnya. Panen sapi siap potong yang dibeli pada tahun 2013 baru dimulai pada bulan Juni karena pada bulan Januari tidak dilakukan pembelian sapi bakalan untuk mencegah over capacity.
Tabel 8 Proyeksi panen sapi siap potong jenis BX tahun 2013-2030a
No. Bulan Jumlah panen sapi BX pada tahun
b 2013 2014 2015 2016-2029 2030 1 Januari 0 599 599 599 599 2 Februari 602 600 600 600 600 3 Maret 0 600 600 600 600 4 April 0 599 599 599 600 5 Mei 599 600 600 600 600 6 Juni 600 600 600 600 600 7 Juli 599 600 600 600 600 8 Agustus 600 599 599 599 599 9 September 599 600 600 600 600 10 Oktober 600 600 600 600 600 11 November 599 599 599 599 600 12 Desember 600 600 600 600 600
Total panen sapi/tahun 5 398 7 196 7 196 7 196 7 198
a
Sumber: Data primer (diolah);bJumlah panen sapi BX (ekor)
Proyeksi panen pada Tabel 8 dibuat berdasarkan pembelian sapi bakalan yang dilakukan setiap bulan oleh TARUMA, yaitu 600 ekor sapi BX, dengan lama penggemukan 120 hari (4 bulan) dan kapasitas kandang sebesar 2 400 ekor sapi BX serta tingkat mortalitas sebesar 0.05 persen per tahun. Panen sapi siap potong pada bulan Februari merupakan panen sapi siap potong yang berasal dari pembelian sapi bakalan pada akhir tahun sebelumnya. Panen pertama dari pembelian sapi bakalan pada bulan Januari tahun 2013 dimulai pada bulan Mei tahun 2013.
Proyeksi penjualan sapi siap potong dapat dihitung berdasarkan proyeksi panen sapi siap potong, baik untuk sapi lokal maupun sapi BX. Proyeksi penjualan sapi siap potong diperoleh dengan menghitung perkalian antara total bobot akhir sapi siap potong (kg) dan harga jual sapi siap potong (Rp/kg). Harga jual yang digunakan adalah Rp28 863/kg untuk sapi lokal dan Rp31 200/kg untuk sapi BX. Harga tersebut merupakan rataan harga jual sapi di TARUMA sepanjang tahun 2012. Total bobot akhir sapi siap potong dihitung berdasarkan rumus yang telah dituliskan pada Bab Metode Penelitian Sub Bab Asumsi. Proyeksi penjualan secara lebih rinci dijelaskan pada Tabel 9 dan Tabel 10.
Tabel 9 Proyeksi penjualan sapi siap potong jenis lokal tahun 2013-2030a Tahun Jumlah sapib Bobot akhir sapic Total bobot
akhird Harga jual
e Penerimaan penjualanf 2013 1 746 464.60 811 192 28 863 23 413 249 085 2014 2 399 464.60 1 114 575 28 863 32 169 750 604 2015 2 399 464.60 1 114 575 28 863 32 169 750 604 2016 2 399 464.60 1 114 575 28 863 32 169 750 604 2017 2 399 464.60 1 114 575 28 863 32 169 750 604 2018 2 399 464.60 1 114 575 28 863 32 169 750 604 2019 2 399 464.60 1 114 575 28 863 32 169 750 604 2020 2 399 464.60 1 114 575 28 863 32 169 750 604 2021 2 399 464.60 1 114 575 28 863 32 169 750 604 2022 2 399 464.60 1 114 575 28 863 32 169 750 604 2023 2 399 464.60 1 114 575 28 863 32 169 750 604 2024 2 399 464.60 1 114 575 28 863 32 169 750 604 2025 2 399 464.60 1 114 575 28 863 32 169 750 604 2026 2 399 464.60 1 114 575 28 863 32 169 750 604 2027 2 399 464.60 1 114 575 28 863 32 169 750 604 2028 2 399 464.60 1 114 575 28 863 32 169 750 604 2029 2 399 464.60 1 114 575 28 863 32 169 750 604 2030 2 399 464.60 1 114 575 28 863 32 169 750 604 a
Sumber: Data primer (diolah);bJumlah sapi (ekor); cBobot akhir sapi (kg/ekor); dTotal bobot akhir (kg); eHarga jual (Rp/kg); fPenerimaan penjualan (Rp)
Penerimaan penjualan sapi siap potong jenis lokal pada tahun 2013 sebesar Rp23 413 249 085 lebih rendah dibandingkan penerimaan penjualan penjualan sapi siap potong jenis lokal pada tahun berikutnya yaitu sebesar Rp32 169 750 604 karena tahun 2013 merupakan tahun awal penggemukan sapi sesuai kapasitas maksimum produksinya sehingga jumlah panen sapi siap potongnya menjadi lebih sedikit. Penerimaan penjualan sapi siap potong jenis lokal pada tahun 2014 hingga tahun 2030 besarnya konstan sesuai dengan kapasitas produksi maksimum.
Tabel 10 Proyeksi penjualan sapi siap potong jenis BX tahun 2013-2030a Tahun Jumlah sapib Bobot akhir sapic Total bobot
akhird Harga jual
e Penerimaan penjualanf 2013 5 398 470.50 2 539 759 31 200 79 241 360 598 2014 7 196 470.50 3 385 718 31 200 105 635 574 447 2015 7 196 470.50 3 385 718 31 200 105 635 574 447 2016 7 196 470.50 3 385 718 31 200 105 635 574 447 2017 7 196 470.50 3 385 718 31 200 105 635 574 447 2018 7 196 470.50 3 385 718 31 200 105 635 574 447 2019 7 196 470.50 3 385 718 31 200 105 635 574 447 2020 7 196 470.50 3 385 718 31 200 105 635 574 447 2021 7 196 470.50 3 385 718 31 200 105 635 574 447 2022 7 196 470.50 3 385 718 31 200 105 635 574 447 2023 7 196 470.50 3 385 718 31 200 105 635 574 447 2024 7 196 470.50 3 385 718 31 200 105 635 574 447 2025 7 196 470.50 3 385 718 31 200 105 635 574 447 2026 7 196 470.50 3 385 718 31 200 105 635 574 447 2027 7 196 470.50 3 385 718 31 200 105 635 574 447 2028 7 196 470.50 3 385 718 31 200 105 635 574 447 2029 7 196 470.50 3 385 718 31 200 105 635 574 447 2030 7 198 470.50 3 386 659 31 200 105 664 933 973 a
Sumber: Data primer (diolah);bJumlah sapi (ekor); cBobot akhir sapi (kg/ekor); dTotal bobot akhir (kg); eHarga jual (Rp/kg); fPenerimaan penjualan (Rp)
Penerimaan penjualan sapi siap potong jenis BX pada tahun 2013 sebesar Rp79 241 360 598 lebih rendah dibandingkan penerimaan penjualan sapi siap potong pada tahun 2014 yaitu sebesar Rp105 635 574 447 karena tahun 2013 merupakan tahun awal penggemukan sapi sesuai kapasitas maksimum produksinya sehingga jumlah panen sapi siap potongnya menjadi lebih sedikit. Penerimaan penjualan sapi siap potong jenis BX pada tahun 2014 hingga tahun 2030 besarnya konstan sesuai dengan kapasitas produksi maksimum setiap tahunnya.
2. Penerimaan dari Aktivitas Bisnis Tambahan
Aktivitas bisnis tambahan menghasilkan penerimaan dari penjualan pakan konsentrat, penjualan karung bekas bahan baku pakan, dan penjualan kotoran sapi. Besarnya penerimaan dari masing-masing penjualan tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan penerimaan dari aktivitas bisnis utama. Aktivitas bisnis tambahan yang dilakukan TARUMA belum dikelola secara intensif sebagai suatu bentuk aktivitas bisnis yang mampu menghasilkan penerimaan tambahan bagi perusahaan. Aktivitas bisnis tambahan tersebut dapat dikatakan belum dikomersialisasikan secara utuh, tercermin dari keterbatasan data yang diperoleh dalam penelitian terkait dengan aktivitas bisnis tambahan.
Penerimaan dari aktivitas bisnis tambahan pada tahun 2010 sebesar Rp100 960 000. Penerimaan tersebut meliputi penerimaan dari penjualan pakan konsentrat, karung bekas bahan baku pakan, dan kotoran sapi. Namun, karena keterbatasan data pada penelitian, penerimaan tersebut tidak dapat dirincikan. Penerimaan dari aktivitas bisnis tambahan pada tahun 2011 sebesar Rp47 763 600, yang merupakan penerimaan dari penjualan pakan konsentrat sebesar Rp22 553 700, penerimaan dari penjualan karung
bekas bahan baku pakan sebesar Rp12 157 500, dan penerimaan dari penjualan kotoran sapi sebesar Rp13 052 400. Penerimaan dari aktivitas bisnis tambahan pada tahun 2012 sebesar Rp43 815 200. Jumlah tersebut merupakan penerimaan penjualan pakan konsentrat sebesar Rp24 678 400, penerimaan penjualan karung bekas bahan baku pakan sebesar Rp8 034 000, dan penerimaan penjualan kotoran sapi sebesar Rp11 102 800. Penjualan pakan konsentrat hanya dilakukan jika ada pembeli sapi siap potong yang ingin sekaligus membeli pakan bagi sapi yang dibelinya, dengan harga jual Rp3 000/kg. Jumlah penjualan pakan konsentrat tidak dapat ditentukan, tergantung banyaknya pembeli sapi siap potong yang juga sekaligus membeli pakan konsentrat. Demikian halnya dengan penjualan karung bekas bahan baku pakan dan kotoran sapi, jumlah penjualan masing-masing tidak dapat ditentukan, tergantung ada pembeli atau tidak. Harga jual karung bekas bahan baku pakan Rp1 000/lembar untuk karung dengan kualitas baik dan Rp 500/lembar untuk karung dengan kualitas kurang baik, sedangkan harga jual kotoran sapi Rp80/kg.
Proyeksi penjualan pakan konsentrat, karung bekas bahan baku pakan, dan kotoran sapi diasumsikan sama dengan penjualan pada tahun 2012, yaitu sebesar Rp43 815 200, konstan hingga tahun 2030. Asumsi tersebut diambil karena adanya keterbatasan data terkait dengan penjualan-penjualan tersebut.
3. Penerimaan Modal Pinjaman
Modal pinjaman yang diterima oleh TARUMA berasal dari dua pihak, yaitu komisaris TARUMA dan pihak bank. Komisaris pada TARUMA memberikan pinjaman untuk tambahan modal kegiatan investasi, sedangkan pinjaman dari pihak bank diperuntukkan bagi tambahan modal kerja yaitu untuk aktivitas pembelian sapi bakalan. Modal pinjaman dari komisaris TARUMA hanya diterima pada tahun 2010 sebesar Rp4 102 944 033 dan tahun 2011 sebesar Rp8 996 294 868. Modal pinjaman tersebut tidak dikenai bunga dan tidak ada ketentuan jangka waktu pengembaliannya. Modal pinjaman dari pihak bank diberikan oleh Victoria Bank sebesar Rp14 100 000 000 pada tahun 2012. Pinjaman tersebut merupakan pinjaman jangka pendek sehingga harus dibayar dalam jangka waktu 1 tahun, dengan bunga pinjaman sebesar 13%. Modal pinjaman pada tahun 2013 hingga tahun 2029 diasumsikan konstan sebesar Rp15 000 000 000 setiap tahunnya, sesuai dengan plafon pinjaman yang diberikan oleh Victoria Bank. Pada tahun 2030 diasumsikan tidak melakukan peminjaman pada Victoria Bank karena tahun 2030 merupakan tahun berakhirnya kegiatan bisnis TARUMA sesuai dengan umur bisnisnya.
4. Penerimaan dari Nilai Sisa
Nilai sisa merupakan nilai dari barang-barang investasi yang belum habis umur ekonomisnya pada akhir umur bisnis, termasuk di dalamnya nilai dari pembelian tanah yang dilakukan di awal bisnis. Jumlah nilai sisa TARUMA pada tahun 2025 sebesar Rp8 847 342 650. Rincian nilai sisa disajikan pada Lampiran 1.
Arus Pengeluaran (Outflow)
Arus pengeluaran dapat bersumber dari dua kegiatan, yaitu kegiatan investasi dan kegiatan operasional. Kegiatan investasi menghasilkan biaya investasi, sedangkan kegiatan operasional (kegiatan produksi) menghasilkan biaya operasional.
1. Biaya Investasi
Biaya investasi dikeluarkan TARUMA pada tahun-tahun awal berjalannya bisnis penggemukan sapi potong, yaitu pada tahun 2010, tahun 2011, dan tahun 2012. Biaya re-investasi juga dikeluarkan untuk barang- barang yang memiliki umur ekonomis kurang dari 20 tahun. Total biaya investasi yang dikeluarkan oleh TARUMA sebesar Rp30 647 926 746, meliputi biaya sarana dan prasarana Rp8 261 059 879, biaya bangunan Rp18 934 183 720, biaya mesin dan peralatan Rp2 265 004 005, biaya perlengkapan kantor Rp246 034 042, dan biaya kendaraan Rp941 645 100. Biaya investasi terbesar yang dikeluarkan oleh TARUMA adalah biaya untuk pendirian bangunan kandang, termasuk di dalamnya bangunan kantor administrasi, wisma pegawai, dan pabrik serta gudang pakan. Rincian biaya investasi dan biaya re-investasi disajikan pada Lampiran 2 dan Lampiran 3. 2. Biaya Operasional
Biaya operasional merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan selama kegiatan produksi dijalankan dalam satu periode, terbagi menjadi dua komponen yaitu biaya variabel dan biaya tetap.
a) Biaya Variabel
Merupakan biaya yang jumlahnya dipengaruhi oleh
perkembangan jumlah produksi atau jumlah penjualan dalam satu periode. Adapun rincian biaya variabel yang dikeluarkan oleh TARUMA adalah sebagai berikut:
1) Biaya Pembelian Sapi Bakalan
Besarnya biaya pembelian sapi bakalan sangat ditentukan oleh jumlah sapi bakalan yang dibeli dan harga beli sapi. Berdasarkan data historis TARUMA, pada tahun 2010 biaya pembelian sapi bakalan yang dikeluarkan TARUMA sebesar Rp22 170 843 231. Namun, karena keterbatasan data, pembelian tersebut tidak dapat dirincikan. TARUMA mengeluarkan biaya sebesar Rp3 345 127 500 untuk pembelian 507 ekor sapi lokal dengan total bobot badan sapi sebesar 138 227 kg dan rata-rata harga beli Rp24 200/kg bobot hidup pada tahun 2011, serta mengeluarkan biaya sebesar Rp2 615 112 745 untuk pembelian 305 ekor sapi BX dengan total bobot 96 856.03 kg dan rata-rata harga beli Rp27 000/kg bobot hidup. Pembelian sapi bakalan pada tahun 2011 lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya karena terdapat kesulitan memperoleh sapi bakalan untuk digemukkan. Pada tahun 2012 TARUMA mengeluarkan biaya pembelian sapi bakalan sebesar Rp22 427 444 250 untuk pembelian 2 680 ekor sapi lokal dengan total bobot 917 945 kg dan rata-rata harga Rp28 790/kg bobot hidup, serta biaya sebesar Rp15 431 951 124 untuk pembelian 1 695 ekor sapi BX
dengan total bobot 505 743 kg dan rata-rata harga Rp30 513/kg bobot hidup.
Pembelian sapi bakalan juga memperhatikan kapasitas kandang yang dimiliki oleh TARUMA, yaitu 800 ekor untuk sapi lokal dan 2 400 ekor untuk sapi BX dan lama pengemukan (120 hari). Proyeksi pembelian sapi bakalan memperhatikan dua unsur tersebut sehingga dapat ditentukan jumlah pembelian yang dapat dilakukan setiap bulannya dan mencegah terjadinya
over capacity, sebagaimana disajikan pada Lampiran 4 dan Lampiran 5. Proyeksi pembelian sapi bakalan secara lebih rinci disajikan pada Tabel 11 dan Tabel 12.
Tabel 11 Proyeksi pembelian sapi bakalan jenis lokal oleh
TARUMAa
No. Bulan Jumlah pembelian sapi lokal pada tahun
b 2013 2014 2015 2016-2029 2030 1 Januari 0 200 200 200 200 2 Februari 200 200 200 200 200 3 Maret 200 200 200 200 200 4 April 200 200 200 200 200 5 Mei 200 200 200 200 200 6 Juni 200 200 200 200 200 7 Juli 200 200 200 200 200 8 Agustus 200 200 200 200 200 9 September 200 200 200 200 0 10 Oktober 200 200 200 200 0 11 November 200 200 200 200 0 12 Desember 200 200 200 200 0 Total pembelian sapi/tahun 2 200 2 400 2 400 2 400 1 600 a
Sumber: Data primer (diolah);bJumlah pembelian sapi lokal (ekor)
Pembelian sapi bakalan jenis lokal setiap bulannya diproyeksikan sebesar 200 ekor dan dimulai pada bulan Februari tahun 2013 hingga bulan Agustus tahun 2030. Pembelian tidak dilakukan pada bulan Januari tahun 2013 untuk menghindari
over capacity karena pada bulan tersebut masih terdapat sapi persediaan dari tahun sebelumnya (Lampiran 4). Pada akhir umur bisnis yaitu tahun 2030 pembelian hanya dibatasi sampai bulan Agustus, sehingga sapi-sapi tersebut dapat terjual pada bulan Desember tahun 2030. Demikian halnya dengan pembelian sapi bakalan jenis BX, pembelian pada tahun 2030 dibatasi hingga pada bulan Agustus (Tabel 12). Pembelian sapi BX setiap bulannya diproyeksikan 600 ekor, dimulai pada bulan
Januari tahun 2013. Proyeksi siklus pembelian sapi bakalan BX dalam satu tahun dapat dilihat pada Lampiran 5.
Tabel 12 Proyeksi pembelian sapi bakalan jenis BX oleh
TARUMAa
No. Bulan
Jumlah pembelian sapi BX pada tahunb
2013 2014 2015 2016- 2029 2030 1 Januari 600 600 600 600 600 2 Februari 600 600 600 600 600 3 Maret 600 600 600 600 600 4 April 600 600 600 600 600 5 Mei 600 600 600 600 600 6 Juni 600 600 600 600 600 7 Juli 600 600 600 600 600 8 Agustus 600 600 600 600 600 9 September 600 600 600 600 0 10 Oktober 600 600 600 600 0 11 November 600 600 600 600 0 12 Desember 600 600 600 600 0 Total pembelian sapi/tahun 7 200 7 200 7 200 7 200 4 800 a
Sumber: Data primer (diolah);bJumlah pembelian sapi BX (ekor)
Berdasarkan proyeksi jumlah pembelian sapi bakalan pada Tabel 11 dan Tabel 12 maka besarnya biaya yang dikeluarkan untuk pembelian tersebut dapat diketahui. Apabila rata-rata bobot awal sapi bakalan jenis lokal dan BX sebesar 331.4 kg dan 301.3 kg, dengan rata-rata harga beli Rp28 790/kg bobot hidup untuk sapi bakalan jenis lokal dan Rp30 513/kg bobot hidup untuk sapi bakalan jenis BX, maka besarnya biaya pembelian sapi bakalan dapat ditunjukkan pada Tabel 13 dan Tabel 14.
Tabel 13 Proyeksi biaya pembelian sapi bakalan jenis lokal TARUMAa Tahun Jumlah sapib Bobot awal sapic Total bobot awald Harga
belie Biaya pembelian
f 2013 2 200 331.40 729 080 28 790 20 990 060 465 2014 2 400 331.40 795 360 28 790 22 898 247 780 2015 2 400 331.40 795 360 28 790 22 898 247 780 2016 2 400 331.40 795 360 28 790 22 898 247 780 2017 2 400 331.40 795 360 28 790 22 898 247 780 2018 2 400 331.40 795 360 28 790 22 898 247 780 2019 2 400 331.40 795 360 28 790 22 898 247 780 2020 2 400 331.40 795 360 28 790 22 898 247 780 2021 2 400 331.40 795 360 28 790 22 898 247 780 2022 2 400 331.40 795 360 28 790 22 898 247 780 2023 2 400 331.40 795 360 28 790 22 898 247 780 2024 2 400 331.40 795 360 28 790 22 898 247 780 2025 2 400 331.40 795 360 28 790 22 898 247 780 2026 2 400 331.40 795 360 28 790 22 898 247 780 2027 2 400 331.40 795 360 28 790 22 898 247 780 2028 2 400 331.40 795 360 28 790 22 898 247 780 2029 2 400 331.40 795 360 28 790 22 898 247 780 2030 1 600 331.40 530 240 28 790 15 265 498 520 a
Sumber: Data primer (diolah);bJumlah sapi (ekor); cBobot awal sapi (kg/ekor); dTotal bobot awal (kg); eHarga beli (Rp/kg); fBiaya pembelian (Rp)
Tabel 13 menunjukkan besarnya biaya pembelian sapi bakalan jenis lokal pada harga konstan dan bobot awal yang seragam akan sangat dipengaruhi oleh jumlah sapi bakalan yang dibeli. Biaya pembelian pada akhir umur bisnis TARUMA menjadi lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena jumlah sapi bakalan yang dibeli juga lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya. Demikian halnya dengan besarnya biaya pembelian sapi bakalan jenis BX yang akan sangat dipengaruhi oleh jumlah sapi yang dibeli, pada harga konstan dan bobot awal yang seragam (Tabel 14).
Tabel 14 Proyeksi biaya pembelian sapi bakalan jenis BX TARUMAa Tahun Jumlah sapib Bobot awal sapic Total bobot awald Harga belie Biaya pembelianf 2013 7 200 301.30 2 169 360 30 513 66 194 603 762 2014 7 200 301.30 2 169 360 30 513 66 194 603 762 2015 7 200 301.30 2 169 360 30 513 66 194 603 762 2016 7 200 301.30 2 169 360 30 513 66 194 603 762 2017 7 200 301.30 2 169 360 30 513 66 194 603 762 2018 7 200 301.30 2 169 360 30 513 66 194 603 762 2019 7 200 301.30 2 169 360 30 513 66 194 603 762 2020 7 200 301.30 2 169 360 30 513 66 194 603 762 2021 7 200 301.30 2 169 360 30 513 66 194 603 762 2022 7 200 301.30 2 169 360 30 513 66 194 603 762 2023 7 200 301.30 2 169 360 30 513 66 194 603 762 2024 7 200 301.30 2 169 360 30 513 66 194 603 762 2025 7 200 301.30 2 169 360 30 513 66 194 603 762 2026 7 200 301.30 2 169 360 30 513 66 194 603 762 2027 7 200 301.30 2 169 360 30 513 66 194 603 762 2028 7 200 301.30 2 169 360 30 513 66 194 603 762 2029 7 200 301.30 2 169 360 30 513 66 194 603 762 2030 4 800 301.30 1 446 240 30 513 44 129 735 841 a
Sumber: Data primer (diolah);bJumlah sapi (ekor); cBobot awal sapi (kg/ekor); dTotal bobot awal (kg); eHarga beli (Rp/kg); fBiaya pembelian (Rp)
2) Biaya Pengangkutan Sapi Bakalan
Biaya pengangkutan sapi bakalan merupakan biaya yang dikeluarkan untuk mengangkut sapi bakalan dari lokasi pembelian hingga sampai di lokasi kandang penggemukan TARUMA. Namun, tidak semua pembelian sapi bakalan mengeluarkan biaya pengangkutan, hanya pembelian sapi bakalan jenis lokal yang mengeluarkan biaya pengangkutan dan tidak semua pembelian sapi lokal tersebut mengeluarkan biaya pengangkutan, karena ada biaya pengangkutan yang ditanggung oleh penjual sapi bakalan, atau biaya pengangkutannya telah dimasukkan ke dalam biaya pembelian sapi bakalan. Besarnya biaya pengangkutan yang dikeluarkan akan berbeda-beda tergantung jarak antara lokasi pembelian dengan kandang penggemukan TARUMA.
Berdasarkan data historis TARUMA, pada biaya pengangkutan yang dikeluarkan pada tahun 2010, 2011, dan 2012 berturut-turut sebesar Rp22 506 000, Rp17 000 000, dan Rp39 000 000. Proyeksi pengeluaran biaya pengangkutan pada tahun 2013 hingga tahun 2030 dihitung berdasarkan persentase
jumlah pembelian sapi bakalan yang dikenai biaya pengangkutan pada tahun 2012, yaitu 7 persen dari total pembelian sapi bakalan pada tahun 2012 mengeluarkan rata-rata biaya pengangkutan sebesar Rp561.728/kg. Perhitungan tersebut dilakukan karena tidak semua pembelian sapi bakalan dikenai biaya pengangkutan dan tidak ada kepastian jumlah penjual
yang mengharuskan TARUMA mengeluarkan biaya
pengangkutan sendiri.
Pada tahun 2013, dari jumlah keseluruhan pembelian sapi sebanyak 2 200 ekor, hanya sebesar 154 ekor sapi bakalan yang dikenai biaya pengangkutan. Total biaya yang dikeluarkan jika bobot awal sapi bakalan sebesar 331.4 kg/ekor dan biaya pengangkutan Rp561.728/kg adalah Rp28 668 125.52. Total biaya pengangkutan sapi bakalan yang dikeluarkan pada tahun 2014 hingga tahun 2029 besarnya sama setiap tahunnya yaitu Rp31 274 318.75, yang berasal dari pembelian 168 ekor sapi bakalan (7 persen dari 2 400 ekor) dengan bobot awal sapi bakalan sebesar 331.4 kg/ekor dan biaya pengangkutan Rp561.728/kg. Dari keseluruhan pembelian 1 600 ekor sapi bakalan pada tahun 2030, sebanyak 112 ekor sapi bakalan yang dikenai biaya pengangkutan sebesar Rp561.728/kg dengan bobot awal 331.4 kg/ekor, sehingga total biaya pengangkutan yang dikeluarkan sebesar Rp20 849 545.83.
3) Biaya Pakan
Pakan merupakan salah satu unsur penting yang harus diperhatikan dalam bisnis penggemukan sapi potong karena pakan yang tepat dan berkualitas mampu menghasilkan pertambahan bobot badan sapi yang optimal. Biaya yang dikeluarkan selama proses penggemukan sapi yang terkait dengan pakan disebut sebagai biaya pakan. TARUMA memproduksi pakan konsentrat dari pabrik pakan yang dimilikinya serta memperoleh pakan hijauan dari lahan yang dimilikinya namun diserahkan kepada petani sekitar lokasi kandang penggemukan untuk ditanami rumput gajah (hijauan). Besarnya biaya yang dikeluarkan untuk pakan selama proses penggemukan akan dipengaruhi oleh harga pakan (biaya untuk memproduksi pakan), kebutuhan pakan bagi setiap sapi setiap harinya, dan lama penggemukan. Biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi pakan konsentrat (harga pakan konsentrat) sebesar Rp2 200/kg. Pakan konsentrat tersebut dijual kepada pembeli dengan harga Rp3 000/kg. Pakan hijauan dibeli dari petani yang mengerjakan lahan milik TARUMA dengan harga Rp150/kg. Kebutuhan pakan konsentrat per ekor per hari sebesar 10 kg sedangkan kebutuhan pakan hijauan per ekor per hari sebesar 5 kg, dengan lama penggemukan 120 hari. Besarnya kebutuhan pakan antar perusahaan penggemukan sapi akan berbeda-beda sesuai dengan ketentuan yang diambil oleh masing-masing perusahaan.
Besarnya biaya pakan yang dikeluarkan TARUMA terdiri atas dua komponen, yaitu biaya pakan konsentrat dan hijauan untuk sapi yang digemukkan dan biaya produksi pakan konsentrat untuk dijual. Pada tahun 2010, biaya pakan yang dikeluarkan sebesar Rp3 059 292 917. Biaya tersebut sudah termasuk biaya produksi pakan untuk dijual, namun besarnya tidak dapat dirincikan karena keterbatasan data saat penelitian. Rincian biaya pakan untuk sapi yang digemukkan pada tahun 2011 dan tahun-tahun berikutnya disajikan pada Tabel 15.
Tabel 15 Rincian biaya pakan untuk sapi yang digemukkan
TARUMAa
Tahun Jumlah
sapib
Kebutuhan
pakanc Harga pakan
d
Lama
penggemukane Biaya pakanf
Konsentrat/
Hijauan Konsentrat Hijauan
2011 812 10/5 2 200 150 120 2 216 760 000 2012 4 375 10/5 2 200 150 120 11 943 750 000 2013 9 400 10/5 2 200 150 120 25 662 000 000 2014 9 600 10/5 2 200 150 120 26 208 000 000 2015 9 600 10/5 2 200 150 120 26 208 000 000 2016 9 600 10/5 2 200 150 120 26 208 000 000 2017 9 600 10/5 2 200 150 120 26 208 000 000 2018 9 600 10/5 2 200 150 120 26 208 000 000 2019 9 600 10/5 2 200 150 120 26 208 000 000 2020 9 600 10/5 2 200 150 120 26 208 000 000 2021 9 600 10/5 2 200 150 120 26 208 000 000 2022 9 600 10/5 2 200 150 120 26 208 000 000 2023 9 600 10/5 2 200 150 120 26 208 000 000 2024 9 600 10/5 2 200 150 120 26 208 000 000 2025 9 600 10/5 2 200 150 120 26 208 000 000 2026 9 600 10/5 2 200 150 120 26 208 000 000 2027 9 600 10/5 2 200 150 120 26 208 000 000 2028 9 600 10/5 2 200 150 120 26 208 000 000 2029 9 600 10/5 2 200 150 120 26 208 000 000 2030 6 400 10/5 2 200 150 120 17 472 000 000 a
Sumber: Data primer (diolah);bJumlah sapi (ekor); cKebutuhan pakan (kg/ekor/hari); dHarga pakan (Rp/kg); eLama penggemukan (hari);
f
Biaya pakan (Rp)
Besarnya biaya pakan meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah sapi yang digemukkan dengan kondisi kebutuhan pakan, tingkat harga, dan lama penggemukan konstan. Perubahan pada harga pakan yang menjadi lebih tinggi akan menyebabkan biaya pakan yang dikeluarkan semakin meningkat, cateris paribus. Lain halnya dengan biaya pakan yang digunakan dalam penggemukan sapi, total biaya produksi pakan konsentrat yang dijual kepada pembeli besarnya dipengaruhi oleh jumlah pakan konsentrat yang terjual. Semakin
tinggi jumlah pakan konsentrat yang terjual maka biaya untuk memproduksi pakan konsentrat tersebut juga akan semakin tinggi. (Tabel 16).
Tabel 16 Rincian biaya pakan konsentrat untuk dijual oleh
TARUMAa
Tahun Jumlah pakan
yang dijualb Biaya produksi
c
Total biaya produksi
pakand 2011 7 517.90 2 200 16 539 380.00 2012 8 226.13 2 200 18 097 493.33 2013 8 226.13 2 200 18 097 493.33 2014 8 226.13 2 200 18 097 493.33 2015 8 226.13 2 200 18 097 493.33 2016 8 226.13 2 200 18 097 493.33 2017 8 226.13 2 200 18 097 493.33 2018 8 226.13 2 200 18 097 493.33 2019 8 226.13 2 200 18 097 493.33 2020 8 226.13 2 200 18 097 493.33 2021 8 226.13 2 200 18 097 493.33 2022 8 226.13 2 200 18 097 493.33 2023 8 226.13 2 200 18 097 493.33 2024 8 226.13 2 200 18 097 493.33 2025 8 226.13 2 200 18 097 493.33 2026 8 226.13 2 200 18 097 493.33 2027 8 226.13 2 200 18 097 493.33 2028 8 226.13 2 200 18 097 493.33 2029 8 226.13 2 200 18 097 493.33 2030 8 226.13 2 200 18 097 493.33 a
Sumber: Data primer (diolah);bJumlah pakan yang dijual (kg); cBiaya produksi (Rp/kg); dTotal biaya produksi pakan (Rp)
4) Biaya Obat dan Vitamin
Pemberian obat dan vitamin merupakan komponen penting lainnya dalam proses penggemukan yang sangat diperhatikan oleh TARUMA. Biaya obat dan vitamin merupakan biaya yang dikeluarkan dalam pembelian obat dan vitamin yang diperuntukkan bagi sapi yang digemukkan di TARUMA. Berdasarkan data historis TARUMA, tidak ada biaya obat dan vitamin yang dikeluarkan pada tahun 2010. Biaya obat dan vitamin mulai dikeluarkan pada tahun 2011 dengan total biaya keseluruhan sebesar Rp18 828 000, untuk 812 ekor sapi, sehingga rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk obat dan vitamin untuk setiap sapi sebesar Rp23 187.19. Biaya obat dan vitamin yang dikeluarkan pada tahun 2012 untuk
masing-masing sapi sebesar Rp36 524.20, dengan total sapi sebanyak 4 375 ekor maka keseluruhan biaya obat dan vitamin yang dikeluarkan pada tahun tersebut sebesar Rp159 793 390. Biaya tersebut mengalami peningkatan selain karena adanya peningkatan jumlah sapi, juga karena adanya penambahan jenis obat yang digunakan.
Dengan asumsi biaya obat dan vitamin untuk setiap sapi