Aspek Pasar
Aspek pasar dalam analisis kelayakan bisnis pada TARUMA berkaitan dengan besarnya potensi pasar yang ada terhadap daging sapi serta besarnya
market share TARUMA dalam industri penggemukan sapi potong. Aspek pasar juga berkaitan dengan strategi pemasaran yang dijalankan oleh TARUMA.
Potensi Pasar (Market Potential)
Target pasar sapi siap potong TARUMA adalah rumah potong hewan (RPH) yang berada di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Beberapa RPH yang menjadi konsumen sapi siap potong TARUMA di antaranya RPH Cilangkap, RPH Sawangan, RPH Pamulang, RPH Bubulak, RPH Cibinong, serta RPH Cianjur. Konsumen dari sapi siap potong TARUMA tidak hanya RPH. Pedagang pasar di wilayah Cariu juga membeli sapi siap potong TARUMA. Potensi pasar dari sapi potong TARUMA akan berkembang searah dengan peningkatan permintaan daging sapi terutama di wilayah Jabodetabek. Rahmanto (2004) menyebutkan bahwa pertambahan populasi penduduk dan peningkatan pendapatan akan menyebabkan permintaan terhadap produk peternakan terus meningkat. Untuk dapat melihat potensi pasar dari sapi siap potong TARUMA, data permintaan daging sapi akan didekati dengan menggunakan data konsumsi daging sapi. Pertama, peningkatan konsumsi akan bergerak searah dengan peningkatan jumlah penduduk. Tabel 5 menunjukkan peningkatan jumlah penduduk di wilayah Jabodetabek berdasarkan data sensus penduduk tahun 1990-2010.
Tabel 5 Jumlah penduduk Jabodetabek tahun 1990-2010a
Wilayah Sensus penduduk tahun
b 1990 2000 2010 DKI Jakarta 8 259 266 8 389 443 9 607 787 Kabupaten Bogor 3 736 897 5 508 826 4 763 209 Kota Bogor 271 711 750 819 950 334 Kabupaten Bekasi 2 104 459 1 668 494 2 630 401 Kota Bekasi -c 1 663 802 2 334 871 Kota Depok -c 1 143 403 1 738 570 Tangerang 2 765 000 4 594 200 5 923 299 Jabodetabek 17 137 333 23 718 987 27 948 471 a
Sumber: Badan Pusat Statistik (2013) (diolah); bSensus penduduk tahun (jiwa); cData Tidak Tersedia
Berdasarkan data jumlah penduduk pada Tabel 5, diketahui bahwa jumlah penduduk di wilayah Jabodetabek mengalami peningkatan dari tahun 1990 hingga tahun 2010. Peningkatan jumlah penduduk yang terjadi akan memberikan peluang bagi peningkatan jumlah konsumsi daging sapi. Jika laju pertumbuhan penduduk Jabodetabek per tahun berdasarkan tahun dasar 2000 adalah 1.65 persen, dengan asumsi laju pertumbuhan penduduk tetap, maka jumlah penduduk di wilayah Jabodetabek pada tahun 2015 dan tahun 2020 berturut-turut sebesar 30 338 144 jiwa dan 32 932 141 jiwa. Pada jumlah penduduk tersebut, jika diasumsikan konsumsi daging sapi masih sama dengan saat ini yaitu sebesar 2 kg/kapita/tahun, maka jumlah konsumsi daging sapi pada tahun 2015 dan tahun 2020 di wilayah Jabodetabek akan mencapai 60 676 288 kg dan 65 864 283 kg. Semakin besar jumlah penduduk dan konsumsi per kapita maka kebutuhan konsumsi daging sapi nasional akan meningkat (Harmini et al 2011). Peningkatan jumlah konsumsi daging sapi merupakan peluang yang baik bagi TARUMA untuk dapat bertahan dengan bisnis yang dijalankannya serta memperoleh keuntungan. Perusahaan
penggemukan sapi dengan target pasar di wilayah Jabodetabek memang tidak hanya TARUMA, namun apabila konsumsi di wilayah tersebut terus mengalami peningkatan dibarengi dengan peningkatan produksi yang dilakukan oleh TARUMA, maka TARUMA tidak perlu khawatir kehilangan konsumen karena pesaingnya.
Kedua, peningkatan pendapatan akan menyebabkan peningkatan konsumsi produk peternakan, termasuk di dalamnya daging sapi. Sebagai contoh digunakan data untuk wilayah DKI Jakarta. Berdasarkan data produk domestik regional atas dasar harga konstan 2000 menurut provinsi tahun 2004-2011 dan data sensus penduduk yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (2013), diperoleh laju pertumbuhan pendapatan per kapita untuk wilayah DKI Jakarta pada tahun 2011 atas tahun dasar 2010 sebesar 5.27 persen. Laju pertumbuhan yang positif mengindikasikan adanya peningkatan pendapatan per kapita setiap tahunnya. Peningkatan tersebut akan berdampak pada peningkatan konsumsi daging sapi. Hal tersebut dikuatkan dengan data persentase pengeluaran rata-rata per kapita per bulan untuk daging secara nasional yang mengalami pertumbuhan beberapa tahun berturut turut pada tahun 2009, 2010, 2011, dan 2012 sebesar 1.89, 2.10, 2.19, 2.26 (BPS 2013).
Pangsa Pasar (Market Share)
Konsep pangsa pasar merupakan persentase dari penjualan perusahaan terhadap seluruh hasil penjualan dalam industri yang bersangkutan. TARUMA sebagai perusahaan penggemukan sapi potong menghasilkan output berupa sapi siap potong, yang penjualannya dihitung berdasarkan kg bobot hidup. Pada tahun 2012, TARUMA menjual 3 426 ekor sapi dengan total bobot badan 1 504 068 kg bobot hidup. Berdasarkan data yang diperoleh dari TARUMA, persentase karkas dari seekor sapi dengan bobot badan tertentu adalah 50 persen, sedangkan persentase daging dari bobot karkas tersebut sebesar 75 persen. Persentase tersebut tidak jauh berbeda dengan besarnya persentase karkas menurut penelitian yang dilakukan oleh Ngadiyono (1995), yang menyebutkan bahwa persentase karkas sebesar 54 persen dengan persentase daging 76 persen. Apabila satuan penjualan sapi TARUMA diubah dari kg bobot hidup menjadi kg daging, maka dari 1 504 068 kg bobot hidup sapi menghasilkan 752 034 kg karkas, setara dengan 564 025.5 kg daging sapi.
Untuk menghitung pangsa pasar sapi potong TARUMA, seluruh hasil penjualan dalam industri didekati dengan data konsumsi daging sapi nasional maupun wilayah Jabodetabek yang merupakan target pasar dari TARUMA. Dengan asumsi konsumsi daging sapi per kapita pada tahun 2012 sebesar 2 kg/kapita/tahun, dan jumlah penduduk Indonesia sebesar 240 juta penduduk, maka jumlah konsumsi daging sapi nasional sebesar 480 000 000 kg, sehingga pangsa pasarnya dapat dihitung menggunakan rumus:
Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa sebesar 0.12 persen dari keseluruhan konsumsi daging sapi di Indonesia dipenuhi oleh TARUMA. Apabila dilihat dari pangsa pasar di wilayah Jabodetabek, dengan total konsumsi daging sapi untuk wilayah Jabodetabek pada tahun 2012 sebesar 57 761 761.97 kg, dengan menggunakan rumus yang sama maka akan diperoleh pangsa pasar di wilayah Jabodetabek sebesar 0.98 persen, artinya dari keseluruhan konsumsi daging sapi di wilayah Jabodetabek pada tahun 2012, sebesar 0.98 persen nya dipenuhi oleh TARUMA.
Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran yang dijalankan oleh TARUMA tercermin dari bauran pemasaran yang dilakukan, meliputi produk (product), harga (price), saluran distribusi (place), dan promosi (promotion).
1. Produk (Product)
Produk yang dihasilkan dari aktivitas bisnis utama yang dijalankan TARUMA yaitu sapi siap potong. Sapi siap potong merupakan produk yang menguntungkan untuk diperdagangkan karena pasar dari produk tersebut cukup jelas serta keuntungan yang diperoleh dapat dihasilkan dari pertambahan bobot yang dihasilkan selama proses penggemukan sapi. Kualitas dari sapi siap potong dipengaruhi oleh manajemen penggemukan yang dijalankan oleh TARUMA. Salah satu hal yang mempengaruhi kualitas sapi siap potong TARUMA adalah kualitas bahan pakan yang diberikan serta proses pemeliharaan yang dilakukan. Bahan pakan yang diberikan merupakan bahan pakan yang mampu memenuhi kebutuhan gizi dan serat bagi sapi, yaitu pakan konsentrat dan pakan hijauan. Pakan konsentrat sengaja diproduksi sendiri agar mampu menghasilkan pakan dengan komposisi bahan yang terbaik sesuai dengan kebutuhan sapi sehingga mampu menghasilkan pertambahan bobot badan sapi yang tinggi. Proses pemeliharaan yang dilakukan TARUMA sangat memperhatikan kesehatan sapi. Kotoran sapi yang ada di kandang setiap hari dibersihkan agar kebersihan kandang terjaga serta kesehatan sapi tidak terganggu. Tenaga Dokter Hewan juga disediakan untuk mengawasi kesehatan hewan setiap harinya sehingga meminimalisir kasus sapi mati karena penanganan sapi sakit yang terlambat.
Kegiatan penggemukan sapi juga menghasilkan produk sampingan lainnya, seperti kotoran sapi yang dapat dijual dan dimanfaatkan sebagai pupuk kandang. Kotoran-kotoran sapi tersebut selanjutnya melalui proses penjemuran dan pengemasan sederhana menggunakan karung untuk dijual sebagai sumber penerimaan tambahan. Sumber penerimaan tambahan lainnya juga dihasilkan oleh penjualan pakan konsentrat yang diproduksi oleh pabrik pakan yang ada di TARUMA serta penjualan karung bekas bahan baku pakan.
2. Harga (Price)
Harga produk sapi siap potong yang dihasilkan TARUMA ditentukan berdasarkan harga yang terbentuk di pasar berdasarkan penawaran dan permintaan yang terjadi. Penetapan harga untuk produk sampingan berupa kotoran sapi dan karung bekas bahan pakan ditentukan berdasarkan harga
pasaran secara umum. Sedangkan untuk penetapan harga pada produk pakan konsentrat, ditentukan berdasarkan strategi cost based pricing, yaitu besarnya harga ditentukan berdasarkan harga pokok produksi dari pakan konsentrat ditambah dengan margin atau keuntungan yang diinginkan oleh perusahaan. Adapun daftar harga produk produk yang dihasilkan TARUMA pada saat penelitian dilakukan dijelaskan pada Tabel 6.
Tabel 6 Harga produk yang dihasilkan TARUMA Februari 2013a
Produk Satuan Harga/Satuanb
Sapi impor kg bobot hidup 33 000
Sapi lokal kg bobot hidup 35 000
Pakan konsentrat Kg 3 000
Karung bekas bahan baku pakan
Lembar 500 s.d. 1 000
Kotoran sapi Kg 80
a
Sumber: Data primer (2013); bHarga/Satuan (Rp)
3. Saluran Distribusi (Place)
Produk yang dihasilkan dari aktivitas penggemukan sapi harus dipasarkan agar menghasilkan penerimaan bagi TARUMA. Lokasi bisnis yang terletak di Desa Cariu, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor dipilih TARUMA salah satunya berdasarkan alasan kedekatan lokasi dengan konsumen, yaitu RPH di wilayah Jabodetabek dan pedagang pasar yang ada di sekitar lokasi bisnis. Sistem pendistribusian produknya adalah konsumen datang langsung ke lokasi bisnis untuk melakukan transaksi pembelian. TARUMA tidak menyediakan jasa pengangkutan atau pengiriman sapi yang akan dibeli oleh konsumen. Demikian halnya untuk pembelian pakan konsentrat, karung bekas bahan baku pakan, dan kotoran hewan, konsumen langsung datang ke lokasi kandang penggemukan TARUMA.
4. Promosi (Promotion)
Promosi dilakukan untuk memperluas pasar dan memperoleh
konsumen bagi produk yang dihasilkan TARUMA. TARUMA
menggunakan strategi promosi dari mulut ke mulut dan menjalin komunikasi dengan relasi bisnis sehingga memungkinkan terbukanya link
baru untuk dapat memasarkan produknya. Strategi lainnya adalah promosi menggunakan media internet berupa website. Namun, hingga saat ini kegiatan promosi menggunakan media internet tersebut belum dioptimalkan karena website yang digunakan masih dalam tahap penyempurnaan.
Hasil Analisis Aspek Pasar
Berdasarkan analisis aspek pasar, bisnis penggemukan sapi potong pada TARUMA layak untuk dijalankan, karena telah memenuhi kriteria kelayakan bisnis yang ada yaitu potensi dan pangsa pasar yang jelas, bauran pemasaran yang dijalankan dengan baik serta produk yang dihasilkan dapat diterima oleh pasar dan menguntungkan. TARUMA telah memiliki target pasar dan pangsa pasar yang jelas dalam memasarkan sapi siap potong yang dihasilkan TARUMA. Selain
itu, potensi pasar pada masa yang akan datang yang masih terbuka lebar seiring dengan peningkatan konsumsi yang dipengaruhi oleh peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan pendapatan. Strategi pemasaran melalui bauran pemasaran juga telah diupayakan dengan baik. Produk yang dihasilkan TARUMA merupakan produk yang diinginkan konsumen dengan kualitas yang baik serta harga sesuai dengan harga yang berlaku di pasaran. Konsumen langsung memilih sapi mana yang akan dibeli dengan datang langsung ke lokasi penggemukan TARUMA sehingga konsumen dapat memastikan sendiri kondisi sapi yang akan dibeli. Selain produknya dapat diterima pasar, produk yang dihasilkan TARUMA merupakan produk yang menguntungkan untuk dijual. Keuntungan tersebut diperoleh dari pertambahan bobot sapi selama kegiatan penggemukan dijalankan.
Aspek Teknis Penentuan Lokasi Bisnis
Penentuan lokasi bisnis yang tepat dapat menunjang kegiatan produksi berjalan dengan baik. TARUMA memiliki dua lokasi bisnis yang letaknya berjauhan, yaitu lokasi kandang penggemukan di Desa Cariu, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor dan lokasi kantor di Jakarta Selatan. Perbedaan dua lokasi tersebut terletak pada kegiatan bisnis yang dilakukan. Lokasi kandang penggemukan di Desa Cariu digunakan sebagai lokasi untuk kegiatan yang berkaitan secara langsung dengan proses produksi, yaitu penggemukan sapi. Sedangkan lokasi kantor pusat di Jakarta Selatan digunakan sebagai lokasi untuk kegiatan yang secara langsung tidak berkaitan dengan proses produksi, seperti administrasi umum dan keuangan.
Desa Cariu dipilih sebagai lokasi kandang penggemukan TARUMA karena Desa Cariu memiliki lahan terbuka yang luas sehingga dapat dimanfaatkan sebagai kandang penggemukan. Lahan terbuka yang luas juga dapat dimanfaatkan sebagai lahan rumput gajah yang merupakan salah satu bahan pakan yang dibutuhkan oleh sapi. Selain itu, Desa Cariu merupakan salah satu desa peruntukan pertanian dan peternakan berdasarkan ketentuan dari Pemerintah Kabupaten Bogor. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 19 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor 2005-2025, Desa Cariu termasuk dalam dominasi peruntukan ruang Permukiman Perkotaan Kepadatan Rendah dan berdasarkan Peraturan Bupati Bogor Nomor 83 Tahun 2009 tentang Pedoman Operasional Pemanfaatan Ruang bahwa pada dominasi peruntukan ruang Permukiman Perkotaan Kepadatan Rendah dimungkinkan untuk kegiatan peternakan (penggemukan sapi dan pembangunan fasilitasnya).
Pemilihan Desa Cariu sebagai lokasi bisnis juga didasarkan pada aspek kedekatan dengan konsumen, yaitu konsumen di wilayah Jabodetabek. Keadaan sarana dan prasarana yang ada di Desa Cariu juga cukup memadai seperti adanya jalan aspal yang menunjang aktivitas bisnis yang dilakukan. Faktor ketersediaan tenaga kerja juga turut menentukan pemilihan lokasi bisnis di Desa Cariu. Tenaga kerja harian yang ada pada TARUMA keseluruhannya berasal dari masyarakat Desa Cariu. Penentuan lokasi kantor pusat di Jakarta Selatan memperhatikan faktor akses menuju lokasi dan ketersediaan tenaga kerja. Lokasi kantor pusat TARUMA berada di jalan utama sehingga akses untuk dapat mencapai kantor
cukup mudah. Akses yang mudah menuju lokasi kantor memberikan kemudahan bagi karyawan untuk dapat mencapai kantor, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun menggunakan kendaraan umum.
Infrastruktur dan Fasilitas Perusahaan
Infrastuktur yang baik akan sangat mendukung berjalannya suatu bisnis. Demikian halnya dengan TARUMA yang berupaya mempersiapkan infrasturktur dan fasilitas yang lengkap guna menunjang aktivitas bisnisnya.
1. Lahan
TARUMA memiliki lahan dengan luas 25 hektar yang berada di Desa
Cariu, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor. Lahan tersebut diperuntukkan bagi kegiatan penggemukan sapi, meliputi bangunan kandang, loading dan
unloading facilities, cattle yard, cattle scale dan cattle crush, jembatan timbang, gudang dan pabrik pakan, kantor administrasi, wisma pegawai, instalasi air, intalasi listrik, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), jalan, lapangan penjemuran kotoran sapi, dan lahan rumput gajah.
2. Kandang
Bentuk bangunan kandang di TARUMA merupakan kandang semi
tertutup, yaitu kandang yang memiliki atap sebagai naungan bagi sapi tetapi tidak memiliki dinding di sekelilingnya, dengan total luasan ± 3 hektar. Kandang yang ada di TARUMA dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kandang koloni dengan kapasitas 2 400 ekor sapi yang terbagi menjadi tujuh bagian kandang (kandang A, kandang B, kandang C, kandang D, kandang E, kandang F, dan kandang G) dan kandang individu dengan kapasitas 800 ekor sapi yang juga terbagi menjadi tujuh bagian kandang (kandang H, kandang I, kandang J, kandang K, kandang L, kandang M, dan kandang N). Berdasarkan luasan dan kapasitas kandang tersebut, maka diperoleh tingkat kepadatan sapi pada kandang TARUMA sebesar 0.11 ekor/m2 atau 1 ekor/9.09 m2, yang artinya setiap 9.09 m2 terdapat 1 ekor sapi. Tingkat kepadatan tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan tingkat kepadatan pada umumnya, yaitu 1 ekor/3 m2 (Kementan 2010).
Kandang koloni diperuntukkan bagi sapi yang terbiasa hidup
berkoloni yaitu sapi Brahman Cross (BX) sedangkan kandang individu diperuntukkan bagi sapi lokal yang biasa dipelihara dengan cara diikat.
Masing-masing kandang dilengkapi dengan feed bunk (tempat pakan) dan
water bunk (tempat air minum). Perbedaan mendasar dari kedua jenis kandang tersebut terletak pada bentuk dan penempatan feed bunk serta water bunknya. Pada kandang koloni, feed bunk terletak di sisi kandang dengan bentuk tanpa sekat sedangkan water bunk terletak pada sisi yang lainnya. Pada kandang individu, feed bunk terletak di sepanjang kandang berselang dengan water bunk sehingga setiap satu ekor sapi memiliki feed bunk dan
water bunk masing-masing.
Beberapa kandang yang terdapat di TARUMA difungsikan sebagai kandang karantina dan kandang percobaan. Kandang karantina merupakan kandang yang diperuntukkan bagi sapi-sapi yang baru dibeli. Sapi-sapi tersebut ditempatkan di kandang karantina dalam waktu 1x24 jam dengan tetap diberi perlakuan yang sama dengan sapi lainnya yang ada di TARUMA, yaitu diberi pakan dan minum. Kandang percobaan diperuntukkan bagi kegiatan penelitian yang akan dilakukan, baik penelitian yang dilakukan oleh penliti dari universitas maupun penelitian yang dilakukan oleh pihak TARUMA, seperti penelitian terkait pemberian pakan dengan komposisi atau treatment baru. Kandang di TARUMA didesain khusus memiliki gangway atau lorong pemisah antar bagian kandang yang satu dengan yang lainnya berukuran lebar sehingga dapat dilalui oleh mobil
pick-up yang mengangkut bahan pakan serta mengangkut kotoran sapi saat kandang dibersihkan.
3. Loading dan Unloading Facilities
Loading dan unloading facilities merupakan fasilitas yang berfungsi sebagai pintu masuk sapi saat sapi baru dibeli dan akan diturunkan dari truk pengangkut dan sebagai pintu keluar sapi saat sapi dijual dan akan dinaikkan ke truk pengangkut.
4. Cattle Yard
Cattle yard merupakan area setelah loading dan unloading facilities
sebelum memasuki kandang yang memiliki jalur khusus dengan lebar yang hanya cukup dilalui oleh satu sapi sehingga proses penggiringan sapi menjadi lebih mudah. Fungsi dari cattle yard adalah sebagai kandang penanganan sapi sebelum sapi dimasukkan ke kandang pemeliharaan. Cattle
scale dan cattle crush terdapat pada cattle yard, berfungsi sebagai timbangan sapi dan tempat pemasangan eartag sebagai identitas sapi.
5. Jembatan Timbang
Jembatan timbang berfungsi untuk menimbang truk yang mengangkut sapi yang baru dibeli. Penimbangan dilakukan pada saat truk pengangkut sapi tersebut baru tiba di lokasi kandang penggemukan TARUMA, sebelum sapi diturunkan dari truk untuk memasuki kandang karantina.
6. Gudang dan Pabrik Pakan
Gudang sekaligus pabrik pakan dibangun TARUMA untuk menjamin ketersediaan bahan pakan yang diperlukan bagi sapi sesuai dengan kebutuhan nutrisi yang diinginkan. Beberapa mesin yang terdapat dalam pabrik pakan tersebut antara lain mesin chopper (untuk mencacah rumput gajah), mesin hammer mill (untuk menghaluskan bahan baku pakan konsentrat), mesin mixer besar (untuk mencampur bahan baku pakan konsentrat), mesin mixer kecil (untuk mencampur vitamin), dan timbangan (untuk menimbang bahan baku pakan dan pakan) serta trolly dorong untuk mempermudah distribusi karung pakan di dalam pabrik.
Gambar 5 Cattle yard (kiri) dan cattle scale dan cattle crush (kanan)
7. Kantor Administrasi dan Wisma Pegawai
Kantor administrasi yang terdapat di lokasi kandang penggemukan TARUMA di Desa Cariu difungsikan sebagai tempat untuk melakukan pencatatan administrasi dari keseluruhan kegiatan produksi di lokasi kandang seperti pencatatan jumlah sapi yang baru dibeli, pencatatan jumlah sapi yang terjual, pencatatan keuangan, dan kegiatan administrasi lainnya. Beberapa fasilitas penunjang yang disediakan di kantor administrasi adalah komputer, laptop, printer, runag kerja, ruang pertemuan, meja dan kursi kantor, dapur, dan kamar mandi. Wisma pegawai diperuntukkan bagi pegawai yang pekerjaannya berhubungan langsung dengan proses produksi dan kegiatan lainnya di lokasi kandang penggemukan seperti bagian nutrisi, pemeliharaan hewan, administrasi dan umum, pemeliharaan fasilitas, kesehatan hewan, dan penanganan sapi.
8. Instalasi Air dan Listrik
Instalasi air dan listrik dipasang untuk menunjang aktivitas yang dilakukan di lokasi kandang penggemukan TARUMA. Pasokan air bersih diperoleh dari sumur yang dibangun. Selain itu, dibangun pula Pasokan
Gambar 7 Gudang dan pabrik pakan TARUMA
listrik dari PT PLN sebesar 110 kVA dihubungkan untuk dapat memenuhi kebutuhan listrik TARUMA. Mesin Diesel (genset) dengan kapasitas 125 kVA juga disediakan untuk memberikan pasokan listrik saat pasokan listrik dari PT PLN padam.
9. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
IPAL berfungsi untuk mengolah air limbah dari aktivitas
penggemukan sapi seperti limbah dari pembersihan kandang. Limbah cair akan dialirkan dari kandang melalui saluran air yang bermuara pada kolam pengolahan limbah yang berada di belakang kandang. Limbah cair yang terkumpul dalam kolam akan melaui proses pengendapan sehingga terpisah antara kotoran dan air. Kotoran akan mengendap sehingga air dapat digunakan kembali. Air yang telah melalui proses pengendapan dapat digunakan kembali untuk menunjang kegiatan di lokasi kandang
penggemukan TARUMA seperti untuk menyiram tanaman dan
membersihkan kandang. IPAL yang ada telah berfungsi dengan baik dan dipergunakan untuk untuk kegiatan menyiram tanaman dan membersihkan kandang setiap harinya.
10.Jalan
Jalan merupakan infrastruktur penunjang yang sangat penting bagi aktivitas bisnis yang dijalankan TARUMA. Jalan yang ada di lokasi kandang penggemukan TARUMA berupa jalan tidak beraspal yang menghubungkan mulai dari gerbang TARUMA hingga kandang-kandang yang ada di TARUMA.
11.Lahan Rumput Gajah
Lahan rumput gajah terletak di bagian depan TARUMA sebelum memasuki wilayah kandang dan juga di bagian belakang kandang dengan luasan mencapai 10 hektar.
12.Kendaraan
Kendaraan diperlukan sebagai sarana transportasi dan pengangkutan, mulai dari pengangkutan sapi bakalan, pengangkutan pakan untuk didistribusikan ke kandang-kandang, pengangkutan kotoran sapi ke lapangan penjemuran, dan kegiatan-kegiatan administrasi yang dilakukan
TARUMA. Beberapa kendaraan yang dimiliki TARUMA antara lain 1 unit motor, 1 unit truk, 1 unit mobil kantor, dan 3 unit mobil pick-up.
13.Lapangan Penjemuran
Lapangan penjemuran difungsikan sebagai area untuk melakukan penjemuran kotoran sapi yang telah diangkut dari kandang. Kotoran sapi tersebut dijemur menggunakan sinar matahari untuk selanjutnya dikemas dalam karung-karung untuk dijual kepada petani sekitar lokasi kandang penggemukan Desa Cariu.
Proses Produksi
1. Aktivitas Bisnis Utama
Aktivitas bisnis utama yang dijalankan TARUMA adalah penggemukan sapi. Proses penggemukan sapi di TARUMA dilakukan dengan sistem dry lot fattening. Sistem dry lot fattening merupakan sistem penggemukan dengan menempatkan sapi pada kandang, tidak digembalakan di padang rumput, dan diberi dua jenis pakan yaitu pakan konsentrat dan pakan hijauan. Pakan konsentrat diberikan dalam komposisi yang lebih