• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kelayakan Industri Pengolahan Nanas

VI. ANALISIS KELAYAKAN AGRIBISNIS NANAS

2. Kelayakan Investasi Usahatani Nanas

6.4. Analisis Kelayakan Industri Pengolahan Nanas

Analisis kelayakan industri pengolahan nanas dalam penelitian ini akan dikaji dengan menggunakan analisis Finansial dan Ekonomi. Selain itu juga perlu mengkaji aspek lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu aspek teknis, aspek institusi, organisasi dan manajerial, aspek sosial dan aspek komersial.

6.4.1. Analisis Aspek – Aspek Kelayakan Industri Pengolahan Nanas

Analisa secara teknis berhubungan dengan input proyek (penyediaan) dan output (produksi) berupa barang-barang nyata dan jasa-jasa, dalam hal ini adalah industri pengolahan nanas. Syarat – syarat dalam proyek pengembangan industri pengolahan nanas ini adalah antara lain yaitu : (1). Kegiatan usahatani nanas, dan (2). Kegiatan pengolahan hasil panen nanas. Syarat – syarat kegiatan usahatani nanas telah terpenuhi sebagaimana yang telah dibahas di awal bab ini. Sedangkan

syarat – syarat kegiatan pengolahan hasil panen nanas yang harus dipenuhi adalah lahan untuk pendirian pabrik, kantor dan sarana penunjang lainnya, penyediaan mesin – mesin, alat – alat dan perlengkapan produksi, serta penyediaan bahan baku nanas untuk produksi. Industri Pengolahan nanas ini dibangun pada lahan seluas 22 Ha yang terdiri dari kantor, pabrik, asrama, dan sarana penunjang lainnya. Untuk penyediaan alat – alat dan perlengkapan pabrik dapat dipenuhi, karena alat dan mesin yang dibutuhkan merupakan rancangan sendiri dan dibuat sendiri. Industri Pengolahan Nanas yang didirikan direncanakan dapat mengolah nanas dengan kapasitas 16 – 32 ton buah nanas per hari. Penyediaan bahan baku dapat dipenuhi secara kontinu dari petani plasma dengan luas 500 hektar dan pekebunan inti seluas 100 ha.

Aspek institusi, organisasi dan manajerial merupakan hal – hal yang berhubungan dengan berbagai pertimbangan mengenai sesuai tidaknya proyek dengan pola sosial budaya masyarakat setempat, susunan organisasi proyek agar sesuai dengan prosedur organisasi setempat, kesanggupan dari staf yang ada untuk menangani proyek. Berdasarkan dengan data yang diperoleh dari Kabupaten Tapanuli Utara, menyebutkan bahwa perencanaan proyek agribisnis nanas layak dilaksanakan. Hal ini tidak bertentangan dengan pola sosial budaya masyarakat, ditunjukkan dengan adanya sebagian besar petani telah lama membudidayakan nanas di Tapanuli Utara.

Dan pelaksanaan usahatani nanas, petani membutuhkan adanya suatu organisasi dan tenaga ahli untuk menunjang pelaksanaan usahataninya. Karena sebagian besar petani nanas menyadari akan keterbatasan manajerial mereka dalam melaksanakan usahataninya. Susunan proyek Agribisnis yang direncanakan

dengan menggunakan pola PIR (Perkebunan Inti Rakyat) dalam bentuk Perusahaan Perseroan Terbatas (PT). Dimana pengelolaannya dilaksanakan dengan sistem manajemen yang baik dan profesional.

Secara komersial nanas merupakan salah satu komoditi hortikultura yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Sampai saat ini nanas dari Kecamatan Sipahutar masih mempunyai peluang pasar yang besar baik nanas dalam bentuk buah segar maupun olahan. Nanas setelah mengalami pengolahan menjadi bentuk lain mempunyai nilai tambah dan harga jual yang lebih tinggi. Nanas dari Kecamatan Sipahutar bisa diolah menjadi nanas dalam kaleng, dan jus nanas.

Dalam penelitian ini perusahaan hanya menggunakan nanas jenis smooth

cayenne untuk bahan baku pineapple juice concentrate dan canned pineapple.

Nanas jenis smooth cayenne ini mempunyai prospek yang baik dipasaran baik sebagai nanas segar maupun olahan. Dan untuk pemasaranan nanas hasil olahan ini hanya ditujukan untuk konsumen di luar negeri, antara lain yaitu Australia, Amerika Seikat dan Hongkong.

6.4.2. Analisis Kelayakan Investasi Industri Pengolahan Nanas 1. Biaya dan Manfaat Industri Pengolahan Nanas

Biaya – biaya yang dikeluarkan dalam proyek industri pengolahan nanas ini dibedakan atas biaya investasi dan biaya operasional. Untuk analisis finansial, biaya investasi terdiri dari biaya persiapan proyek, pembelian lahan (perkebunan nanas), pembelian alat-alat dan perlengkapan usahatani nanas ( bibit, cangkul, rambas, babat, sprayer, sarung tangan, sepatu bot, beko dan keranjang). Total biaya investasi industri pengolahan nanas adalah sebesar Rp. 2.997.000.000,-

untuk tahun pertama. Biaya operasional terdiri dari biaya perawatan mesin-mesin, alat-alat dan perlengkapan, biaya produksi pineapple juice concentrate, biaya produksi canned pineapple tidbit, tenaga kerja, pembelian bahan baku dari plasma, bahan bakar, rekening telepon, rekening listrik, untuk pembayaran PPN (10%), PBB dan biaya pengiriman. Besarnya biaya operasional untuk tahun pertama adalah sebesar Rp. 22.428.530.000. Untuk rincian biaya yang dikeluarkan dari tahun pertama dan seterusnya pada analisis finansial dapat dilihat pada Tabel lampiran 9, dan untuk pembuatan pineapple juice concentrate dan canned

pineapple dengan bahan baku 16 ton dapat dilihat pada Tabel lampiran 12.

Biaya-biaya yang dikeluarkan pada analisis ekonomi juga dibedakan atas biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi yang dikeluarkan juga sama halnya pada analisis finansial. Total biaya investasi industri pengolahan nanas adalah sebesar Rp. 2.997.000.000,- untuk tahun pertama. Sedangkan biaya operasional pada analisis ekonomi yang dikeluarkan sebesar Rp. 27.013.003.700,- untuk tahun pertama. Biaya operasional pada analisis ekonomi lebih besar daripada biaya operasional pada analisis finansial, karena dalam analisis ekonomi pajak tidak diperhitungkan sebagai biaya. Untuk rincian biaya yang dikeluarkan dari tahun pertama dan seterusnya pada analisis ekonomi dapat dilihat pada Tabel lampiran 10.

Manfaat yang diperoleh dari industri pengolahan nanas ini adalah berupa penerimaan yang didapat dari hasil penjualan pineapple juice concentrate dikalikan dengan harga jualnya dan canned pineapple tidbit dikalikan dengan harga jualnya. Penerimaan industri pengolahan nanas ini diperoleh mulai tahun pertama, karena pada saat penelitian dilakukan industri pengolahan sudah berjalan

selama 6 tahun. Pendapatan bersih yang diperoleh merupakan selisih antara penerimaan dengan pengeluaran. Dari cash flow analisis finansial dan ekonomi industri pengolahan nanas (Tabel lampiran 9 dan 10) terlihat bahwa pendapatan

bersih yang diterima pada tahun ke – 1 bernilai negatif, yaitu sebesar Rp. -2.628.770.000,- untuk analisis finansial sedangkan untuk analisis ekonomi

adalah sebesar Rp. -1.160.063.272,-. Hal ini terjadi karena pada tahun ke - 1 industri pengolahan nanas mulai mengembangkan usahanya dengan membuka lahan pekebunan nanas inti seluas 100 ha yang meningkatkan biaya investasinya dan adanya penambahan jumlah tenaga kerja untuk bagian perkebunanannya yang mengakibatkan biaya operasionalnya juga ikut meningkat. Pendapatan mulai positif pada tahun ke-2.

Dalam proyek industri pengolahan nanas ini petani inti tidak mengeluarkan biaya. Biaya-biaya usahatani pada perkebunan inti dikeluarkan oleh industri pengolahannya karena lahan perkebunan dimiliki oleh industri pengolahan. Namun untuk petani plasma mengeluarkan biaya-biaya seperti pada sub bab sebelumnya pada analisis kelayakan usahatani nanas, sedangkan manfaat yang diperoleh petani plasma besarnya sama dengan pada biaya pembelian bahan baku industri pengolahan.

Dokumen terkait