• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terdapat banyak bentuk kelembagaan yang terlibat dalam struktur masyarakat tani desa Citapen, ada yang bersifat formal mau pun informal. Adapun Gabungan Kelompok Tani Rukun Tani adalah salah satu kelembagaan formal yang sengaja dibentuk oleh para petani, diinisiasi pada tahun 2001 dan diresmikan pada tahun 2007. Bab ini akan memaparkan secara deskriptif mengenai struktur, peraturan dan peran kelembagaan Gapoktan Rukun Tani dalam mendukung kegiatan usaha sale pisang yang dijalankan Kelompok Tani Silih Asih dan KWT Berkarya.

Struktur Organisasi Gapoktan Rukun Tani

Struktur organisasi Gapoktan Rukun Tani dari ketua, sekretaris, bendahara, dan ketua unit usaha. Posisi ketua gapoktan, sekretaris, dan bendahara diisi masing-masing satu orang, sedangkan setiap unit usaha memiliki dua orang yang menjabat sebagai ketua. Sedangkan pada masing-masing kelompok tani, struktur kepengurusannya lebih sederhana yakni meliputi ketua, sekretaris dan bendahara. Pada praktiknya terdapat pengurus gapoktan yang juga merangkap sebagai ketua kelompok tani. Adanya kerangkapan ini karena pengurus tersebut dinilai yang paling mampu melaksanakan tugas pada kedua posisi tersebut. Selain itu, program unit usaha yang pengurusnya mempunyai jabatan rangkap sangat berkaitan dengan kegiatan usaha kelompok tani tersebut. Alasan lainnya adalah adanya kesulitan untuk mencari personel lain yang dinilai mumpuni untuk menjalankan posisi tersebut. Adapun susunan kepengurusan Gapoktan Rukun Tani dapat dilihat pada Gambar 4.

30

Adapun tugas dan fungsi dari tiap-tiap perangkat organisasi Gapoktan Rukun Tani berdasarkan hasil wawancara kepada pengurus adalah sebagai berikut:

1. Pengarah bertugas untuk memberikan pengarahan secara umum tentang program-program gapoktan selama kepengurusan. Pengarah memberikan saran dan masukan yang sifatnya bukan sebagai pertimbangan untuk pengambilan keputusan mengenai hal-hal yang terkait program dan permasalahan gapoktan. 2. Ketua bertugas untuk memimpin seluruh anggota, bertanggung jawab atas

seluruh program kerja gapoktan dan menjadi pemimpin dalam setiap musyawarah untuk pengambilan keputusan yang terkait gapoktan. Ketua juga menjadi penyalur utama informasi dan aspirasi dari dan ke dalam dan luar gapoktan.

3. Sekretaris bertugas untuk mencatat dan mendokumentasikan seluruh kegiatan, keperluan dan administrasi gabungankelompok tani, mulai AD/ART kelompok tani hingga notulensi rapat.

4. Bendahara bertugas membuat pencatatan dan pengaturan segala hal yang berkaitan dengan keuangan operasional.

5. Unit Usaha Produksi bertugas untuk menangani hal-hal yang berkaitan dengan usahatani gapoktan.

6. Unit Usaha Saprodi bertugas untuk menangani pengadaan faktor produksi pertanian. Termasuk didalamnya adalah pengadaan input untuk kegiatan usahatani yang akan disalurkan kepada petani seperti benih dan pupuk. Unit ini juga bertugas untuk mencatat, menyimpan, dan mengelola sarana dan prasarana selain untuk keperluan usahatani yang dimiliki gapoktan.

7. Unit Usaha Pengolahan pada awalnya diarahkan untuk pembentukan unit usaha pengolahan milih gapoktan, namun pada akhirnya unit pengolahan dikerjakan oleh Kelompok Tani Silih Asih dan KWT Berkarya.

8. Unit Usaha Permodalan bertugas megelola Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis milik gapoktan. LKMA berfungsi sebagai penyalur dana bantuan pinjaman kepada para petani anggota untuk melaksanakan kegiatan usahanya. Bidang Sarana dan Prasarana bertugas untuk mencatat, menyimpan, dan mengelola sarana dan prasarana yang dimiliki kelompok.

9. Unit Usaha Pemasaran bertugas untuk membantu anggota gapoktan dalam kegiatan pemasaran, menjalin kerja sama dengan pihak ketiga dalam kaitan pemasaran hasil produksi anggota kelompok, serta melakukan pemasaran hasil produksi anggota gapoktan.

10.Unit Usaha Alsintan mempunyai fungsi yang berbeda dengan unit usaha saprodi. Unit ini lebih fokus mengurusi peralatan berat yang dimiliki oleh gapoktan dan dapat dipergunakan oleh petani anggota secara kolektif.

Peraturan dalam Gapoktan

Salah satu poin penting dalam kelembagaan adalah adanya aturan yang mengikat setiap anggota yang tergabung didalamnya. Aturan dalam gabungan kelompok tani ini terdiri dari aturan formal dan aturan informal, aturan tersebut berlaku untuk setiap anggota gapoktan termasuk yang tergabung dalam Kelompok Tani Silih Asih dan KWT Berkarya. Aturan formal terdiri atas aturan internal

31 berupa Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, dan aturan eksternal yakni Undang-Undang Republik Indonesia, Peraturan Menteri Pertanian, dan Peraturan Daerah Kabupaten Bogor. Sedangkan aturan informal adalah berupa kesepakatan dari musyawarah anggota terkait penyelesaian konflik, jadwal rapat, sanksi serta aturan lain yang tidak tertuang dalam AD/ART.

Peraturan formal yang mengatur gapoktan yang berasal dari pihak luar meliputi peraturan perundang-undangan, dan peraturan pemerintah. Peraturan- peraturan berlaku umum untuk setiap organisasi yang serupa dengan Gapoktan Rukun Tani. Peraturan tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan.

2. Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 273/Kpts/OT.160/4/2007 tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani.

3. SK Menteri Pertanian Nomor 496/Kpts/OT.160/9/2006 tentang Instrumen Pelaksanaan Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan.

4. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 14 Tahun 2012 tentang

Pembentukan Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BKP5K) Kabupaten Bogor.

Selain peraturan formal yang dikeluarkan pemerintah, gapoktan juga memiliki peraturan formal yang disepakati anggota dan dituangkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gapoktan. AD/ART ini disusun dan diresmikan pada saat Rapat Pengukuhan yang meresmikan lembaga Gapoktan Rukun Tani secara formal. ADRT berisi garis-garis besar aturan yang terkait keanggotaan, fungsi, dan tugas-tugas gapoktan serta setiap perangkatdi dalamnya. Selain ADART aturan formal internal lain yang dimiliki Gapoktan Rukun Tani adalah kesepakatan mengenai persyaratan untuk pinjaman BLM PUAP. Adapun kesepakatan dibuat dengan tujuan agar kedua belah pihak, dalam hal ini gapoktan dan petani anggota, sama-sama memahami hak dan kewajibannya masing-masing serta mampu memenuhinya dnegan penuh tanggung jawab. Berikut adalah kontrak atau kesepakatan anggota Gapoktan Rukun Tani terkait persyaratan menjadi nasabah BLM PUAP

1. Membayar Simpanan Pokok sebesar Rp 50.000,- sesuai dengan AD/ART dan anggota berhak mendapatkan kartu anggota Gapoktan.

2. Membayar Simpanan Wajib sebesar Rp 5.000,- per bulan

3. Petani terdaftar dalam keanggotaan kelompok tani yang tergabung dalam Gapoktan Rukun Tani.

4. Membuat Rencana Usaha Anggota (RUA) komoditi yang akan diusahakan. 5. Mengisi formulir pengajuan pinjaman BLM PUAP dilampiri fotokopi KTP dan

Kartu Keluarga.

6. Sanggup membayar jasa sebesar 1,8% per bulan.

7. Sanggup membayar cicilan pinjaman disesuaikan dengan jenis usaha yang dibiayai berdasarkan kesepakatan anggota dengan pemberi pinjaman (konvensional/syariah).

8. Waktu pengembalian pinjaman maksimal 10 bulan.

9. Pemberian pinjaman modal BLM-PUAP kepada petani padi sawah, sayuran/hortikultura, dan peternak kelinci atau domba/kambing, diberikan dalam bentuk uang tunai atau dalam bentuk natura saprodi dan bakalan induk ternak yang nominalnya sesuai dengan paket pinjaman yang telah disepakati.

32

10.Bagi anggota yang mendapatkan musibah (bencana alam, wabah serangan hama dan penyakit, atau gagal panen) pinjaman tetap menjadi tanggung jawab nasabah/anggota dan tidak dikenakan jasa.

11.Apabila nasabah/anggota mengalami keterlambatan dalam pembayaran angsuran yang sudah jatuh tempo selama 3 bulan berturut-turut, maka ketua kelompok sebagai penjamin berkewajiban melakukan penagihan secara langsung kepada anggota yang bersangkutan, dan apabila yang bersangkutan masih tidak membayar, maka untuk selanjutnya tidak akan diberi pinjaman lagi. 12.Bagi anggota yang melakukan pembayaran sangat lancar, Gapoktan melalui

LKM akan memberikan penghargaan berupa meningkatkan jumlah pinjaman dan atau hadiah.

13.Pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) akan dilakukan pada saat Rapat Anggota Tahunan (RAT) dengan ketentuan sebagai berikut:

a. 50% akan dibagikan ke anggota

b. 30% untuk pengembangan modal Gapoktan c. 20% untuk pengurus Gapoktan dan LKM

Analisis Peran Kelembagaan Gapoktan

Meski Gapoktan Rukun Tani telah memiliki perangkat organisasi yang cukup kompleks namun dalam tataran praktisnya masih terdapat kekosongan pos- pos peran yang seharusnya dapat terisi dengan kinerja yang baik dari kelembagaan gapoktan. Aspek kelembagaan yang harus ada untuk dapat menciptakan kemandirian dan meningkatkan kesejahteraan petani serta dapat mewujudkan pertanian yang berkelanjutan menurut Mosher (1974) dalam Soekartawi (2002) meliputi aspek pasar, penyuluhan dan permodalan atau perkreditan. Pada kasus usaha ini peran penyuluhan belum berjalan sama sekali. Penyuluhan untuk petani anggota gapoktan hanya meliputi kegiatan usaha tani dan peternakan, belum sampai pada kegiatan pengolahan. Oleh sebab itu, pembahasan akan lebih difokuskan pada kelembagaan pasar dan kelembagaan perkreditan/permodalan.

Kelembagaan Pemasaran

Masalah mendasar yang sering dihadapi oleh petani, termasuk yang melakukan non budidaya adalah ketidakberdayaan dalam melakukan negosiasi harga hasil produksi dan bahan baku yang berimplikasi pada posisi tawar petani yang lemah. Ada beberapa hal yang menyebabkan posisi tawar petani lemah, yaitu petani kurang memiliki akses terhadap pasar, informasi pasar yang minim, serta permodalan yang terbatas. Pada pasar bahan baku maupun pasar hasil produksi petani seringkali hanya menjadi price taker karena daya tawarnya yang lemah.

Sistem kolektivitas yang didapat petani melalui gapoktan membantu petani dalam memperkuat daya tawarnya. Keberadaan Gapoktan Rukun Tani telah banyak menunjang usaha sale pisang Kelompok tani Silih Asih dan KWT Berkarya pada pasar input mau pun hasil output. Pada pasar input Gapoktan memudahkan para petani untuk dapat mengakses bahan baku dengan harga lebih murah karena dilakukan secara kolektif. Gapoktan juga mengembangkan pasar

33 bahan baku dengan tidak hanya mendatangkan bahan baku dari daerah Bogor tapi juga dari Lampung.

Dalam kaitannya dengan harga bahan baku gapoktan juga berperan sebagai negosiator dalam penentuan harga agar harga bahan baku yang diterima petani bisa serendah mungkin. Secara umum harga bahan baku yang didapat dari pembelian secara kolektif melalui gapoktan adalah harga cukup mengutungkan, apalagi dibandingkan jika masing-masing kelompok tani atau masing-masing petani anggota harus mendatangkan bahan baku sendiri-sendiri.

Pada pasar output, Gapoktan berperan sebagai pedagang pengumpul yakni menampung seluruh hasil produksi sale pisang, kemudian menyalurkannya ke pedagang-pedagang penyalur yang menjadi pelanggan. Gapoktan telah memiliki kesepakatan non formal dengan 12 pedagang yang menjadi langganan sejak tahun 2011 terkait jumlah produk dan harga. Harga yang disepakati berupa kisaran untuk tiap kemasan sale pisang yang dihasilkan. Penentuan nilai pastinya dilakukan berdasarkan pertimbangan kondisi-kondisi terkait seperti kenaikan harga bahan baku atau BBM. Meski kesepakatan tersebut tidak berupa kontrak perjanjian formal, sejauh ini, Gapoktan tidak mengalami kesulitan yang berarti untuk sale pisang yang dihasilkan. Hal ini karena para pedagang yang menjadi pelanggan berada posisi yang lebih bergantung pada pasokan sale pisang yang dihasilkan kedua kelompok tani, karena jumlah produksi yang masih belum memenuhi jumlah permintaan, sedangkan mereka juga mengalami kesulitan jika harus mencari pemasok baru. Selain itu, hubungan baik yang dijalin H. Agus selaku pihak pemasaran dengan para pedagang tersebut juga mempengaruhi kelancaran kerja sama penjualan yang telah dilakukan selama beberapa tahun tersebut.

Kelembagaan Permodalan

Gapoktan Rukun Tani telah memiliki Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) yang berfungsi sebagai lembaga permodalan bagi petani anggota. Lembaga ini telah banyak memudahkan para petani anggota untuk mendapatkan bantuan modal yang sebelumnya susah untuk diakses para petani dari lembaga perbankan. LKMA tidak hanya mendukung petani untuk modal usaha, namun juga pinjaman untuk keperluan lain yang sifatnya mendesak bagi petani anggota. Akan tetapi hal ini juga kerap disalah gunakan oleh petani sehingga menyebabkan banyaknya pinjaman macet di petani anggota. Laporan penggunaan dana PUAP oleh LKMA Gapoktan Rukun Tani tahun 2011 dapat dilihat pada Tabel 7.

34

Dana Rp 14.000.000 yang dikeluarkan sebagai bantuan untuk industri rumah tangga terbagi untuk usaha pengolahan sale pisang dan pengolahan besek bambu. Usaha Sale Pisang KWT Berkarya menerima Rp 2.000.000,00 dan Kelompok Tani Silih Asih menerima Rp 10.000.000. Kelompok Tani Silih Asih menerima lebih banyak dana karena pada saat dana bantuan diturunkan usaha sale pisang Kelompok Tani Silih Asih telah lebih lama berjalan sehingga lebih dipercaya. Dana bantuan itu dibelikan mesin oven pengering seharga Rp 7.000.000,00 dan sisanya dibelikan peralatan untuk keperluan usaha. Pengadaan mesin ini dilatarbelakangi produktivitas usaha Kelompok Tani Silih Asih yang tidak lagi mampu memenuhi permintaan akan sale pisang yang datang dari pedagang penyalur dari kota-kota di Jabodetabek dan sekitarnya.

Dana bantuan tersebut bersifat pinjaman dan masing-masing kelompok tani harus mengembalikan cicilan setiap bulannya. Berdasarkan keterangan dari pengurus, cukup banyak petani yang masih belum mengembalikan pinjaman usaha dari LKMA, hal ini menyebabkan kurang bisa berputarnya keuangan di LKMA, padahal masih cukup banyak juga petani lain yang membutuhkan bantuan permodalan. Sebagaimana terlihat pada tabel diatas, kelompok industri rumah tangga termasuk yang tingkat pengembaliannya paling sedikit pada saat itu dikarenakan dana dipergunakan sebagai investasi awal. Dengan mengangsur Rp 300.000,00 setiap bulan ditambah dengan insentif jasa senilai 2% dari keuntungan bulan tersebut kepada LKMA, pada saat penelitian ini dilaksanakan Kelompok Tani Silih Asih sudah tidak mempunyai hutang di LKMA.

Selain permodalan dari LKMA, pembiayaan juga dilakukan gapoktan dalam pengadaan bahan baku. Atas jasa pengadaan bahan baku dan pemasaran, gapoktan membebankan biaya jasa sebesar 1% dari total penjualan kedua unit usaha. Biaya bahan baku dan biaya jasa pemasaran biasa dilunasi setelah penjualan dilakukan secara keseluruhan. Penjelasan lebih lanjut tentang bagaimana peran kelembagaan gapoktan mempengaruhi komponen-kompoen kriteria kinerja usaha pengolahan sale pisang dijelaskan pada bab analisis kinerja usaha pengolahan sale pisang.

Tabel 7 Laporan penggunaan dana PUAP Gapoktan rukun tani 2011h

Usaha Nilai Pokok

(Rp) Jumlah Petani Penerima Jumlah Petani yang Mengembalikan Total Pengembalian (Rp) Tanaman Pangan 124 750 000 90 81 111 429 000 Hortikultura 90 000 000 44 40 42 000 000 Peternakan 26 000 000 18 16 23 922 000 Industri RumahTangga Pertanian 14 000 000 14 13 3 127 000 Pemasaran Hasil Pertanian 22 500 000 22 20 11 701 000 Usaha lain berbasis Pertanian 20 000 000 16 14 17 000 000 Total 297 250 000 204 184 209 179 000 h Sumber: LKMA (2012)

Dokumen terkait