4.4 Analisis Lemahnya Baitul Maal BMT
4.4.3 Analisis Kepincangan Fungsi Maal dan Tamwil BMT
Kesenjangan antara fungsi sosial dan fungsi bisnis BMT terlihat dari kecenderungan pertumbuhan laba BMT yang menjadi indikator utama dalam
menunjukkan kinerja tamwil, dengan kecenderungan pertumbuhan dana ZIS yang dikelola BMT pada periode yang sama yang menjadi indikator kinerja baitul maal-nya.
Kesenjangan tersebut dapat dilihat dalam Tabel 4.19. berikut ini yang menunjukkan total laba dari sepuluh BMT yang menjadi objek penelitian, dengan total dana ZIS dalam periode lima tahun (2003 – 2007).
Tabel 4.19 Total Laba dan Total Dana ZIS Periode 2003 – 2007
Tahun Total Laba Total ZIS Rasio (%)
2003 122.128.996 20.910.817 17,12 2004 280.195.074 26.116.038 9,32 2005 491.513.518 46.753.500 9,51 2006 761.692.825 61.693.840 8,10 2007 1.068.047.467 120.014.567 11,24 Sumber: diolah (2008)
Dalam bentuk grafik, trend pertumbuhan laba jauh meninggalkan pertumbuhan akumulasi dana ZIS dari BMT yang menjadi objek penelitian. Kepincangan antara pertumbuhan laba dan dana ZIS mengindikasikan fungsi sosial BMT yang jauh tertinggal dari fungsi bisnisnya. Gambar 4.6. berikut ini menunjukkan ketertinggalan pertumbuhan dana ZIS dengan petumbuhan laba BMT yang menjadi objek penelitian.
Gambar 4.6. Pertumbuhan Laba dan Pertumbuhan Dana ZIS 2003-2007
0 200.000.000 400.000.000 600.000.000 800.000.000 1.000.000.000 1.200.000.000 1 2 3 4 5 Tahun R upi a h Akumulasi Laba Akumulasi Dana ZIS
Berdasarkan fungsi linier perkiraan pertumbuhan laba setiap tahunnya, yaitu Y’ = -167 + 237 X, terlihat tingkat pertumbuhan laba adalah 237 setiap tahun. Sementara proyeksi pertumbuhan dana zakat, infaq, shadaqah berdasarkan fungsi perkiraan linier Y’ = -15 + 23 X, menunjukkan tingkat pertumbuhan dana ZIS adalah sebesar 23 per tahun. Kondisi tersebut memperlihatkan pertumbuhan dana ZIS lebih lambat dibanding pertumbuhan laba BMT.
Dari uraian di atas terlihat bahwa pengaruh aset maupun laba terhadap pertumbuhan dana ZIS—yang menunjukkan fungsi sosial BMT—masih sangat lemah, yang mengindikasikan bahwa kinerja bisnis BMT secara umum belum mendorong (atau berjalan seiring dengan) kinerja baitul maal-nya.
Analisis lebih lanjut menyangkut kinerja BMT atas dasar laporan keuangan (neraca) memiliki keterbatasan, mengingat belum terstandardisasinya laporan keuangan BMT sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku saat ini, sehingga masing-masing BMT memiliki format laporan keuangan yang memiliki perbedaan satu dengan lainnya.
4.5 Pembahasan
BMT dengan dua pilar baitul maal dan tamwil idealnya dapat terbangun dengan baik, seiring dan bersinergi dalam mengembangkan lembaga serta masyarakat sekitarnya. Segmen masyarakat yang menjadi sasaran BMT tidak semua dapat terlayani dengan fungsi bisnisnya. Masyarakat miskin berpendapatan rendah, bahkan tak menentu (dhuafa), yang masih menghadapi masalah dalam pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari tidak dapat terlayani dengan pembiayaan komersial BMT. Sementara para aghnia (masyarakat yang secara ekonomi tergolong mampu) relatif memiliki “hambatan psikologis” untuk menggunakan jasa BMT, misalnya untuk simpan-pinjam, di mana mereka akan cenderung memilih menggunakan jasa perbankan untuk kebutuhan layanan keuangan.
Oleh karena itu, permasalahan kesenjangan antara kepentingan masyarakat yang belum terlayani dengan fungsi bisnis yang sekarang dijalankan perlu dijembatani dengan penguatan fungsi sosial BMT. Dengan penguatan fungsi sosial tersebut, diharapkan masyarakat miskin dapat terlayani dengan dana-dana kebajikan, atas dasar semangat untuk pemberdayaan, peningkatan taraf kehidupan, serta kemandirian ekonominya. Di samping itu, para aghnia dan juga pengusaha-pengusaha di sekitarnya dapat memanfaatkan layanan BMT dalam menyalurkan dana ZIS untuk didistribusikan secara lebih tepat dan manfaat, sehingga memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat.
Dalam rangka penguatan fungsi sosial tersebut, khususnya bagi BMT yang ada di Lampung, maka pertama perlu dilakukan pembenahan manajemen lembaga. Kehadiran BMT secara kelembagaan perlu dipersiapkan untuk menjalankan dua peran dalam masyarakat, yaitu peran untuk mengembangkan sektor produktif dan kebutuhan konsumtif melalui fungsi tamwil, serta peran untuk memberdayakan kaum dhuafa untuk lebih terjamin pemenuhan kebutuhan pokoknya dan lebih berdaya melalui fungsi maal.
Pembenahan manajemen yang dapat dilakukan adalah, menyusun dan menyepakati antara anggota, pengurus, serta pengelola tentang indikator-indikator keberhasilan pengelolaan BMT, yang tidak hanya terfokus pada ukuran komersial (laba), melainkan juga indikator dalam pelaksanaan fungsi-fungsi sosial, seperti pemberdayaan kaum dhuafa melalui berbagai bentuk pemanfaatan dana ZIS.
Oleh karena itu perlu dipersiapkan infrastruktur pendukungnya, mulai dari rekrutmen tenaga yang akan khusus menangani fungsi sosial tersebut, sarana administrasi, evaluasi dan penyusunan struktur organisasi yang mengakomodasi baitul maal sebagai unit atau bagian khusus untuk menangani masalah tersebut, dan menjamin struktur organisasi tersebut dapat berjalan dengan baik dengan dukungan sarana-prasarana yang dibutuhkan.
Di samping itu, kebijakan-kebijakan pengurus dan pengelola hendaknya mulai menyentuh sektor maal, baik pada tataran target atau proyeksi ke depan, maupun penyediaan petunjuk pelaksanaan fungsi sosial tersebut. Motivasi para pengurus dan pengelola BMT perlu ditingkatkan dengan mengkaji kembali pentingnya fungsi tersebut dalam memberdayakan masyarakat serta menggerakkan ekonomi rakyat di sekitarnya, yang pada gilirannya akan dapat mendorong pertumbuhan bisnis BMT itu sendiri. Termasuk juga mengkaji kembali filosofi BMT sebagai sebuah lembaga yang membawa misi muamalah dalam Islam adalah untuk mewujudkan keadilan dalam masyarakat.
Aspek kedua yang perlu dibenahi untuk mendorong penguatan fungsi sosial BMT adalah peningkatan kapasitas staf atau karyawannya, termasuk juga personil pengurus. Melalui pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan secara internal atau mengikuti pelatihan eksternal, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran pentingnya fungsi sosial BMT sekaligus meningkatkan kapasitas personilnya untuk melaksanakan fungsi tersebut. Lembaga pendamping BMT juga perlu melakukan asistensi terhadap fungsi sosial BMT. Dalam hal ini BMT dapat pula bersinergi dengan lembaga pengelola zakat yang ada dan telah berkembang lebih dahulu.
Jika dalam hal jumlah karyawan BMT masih kekurangan untuk menjalankan fungsi sosialnya, seyogianya dipertimbangkan untuk merekrut tenaga (staf) baru yang memiliki kemauan serta kompetensi untuk menggalang, mengelola, hingga mendistribusikan dana zakat, infaq, shadaqah dari masyarakat perseorangan maupun pengusaha di wilayah kerja BMT bersangkutan, sesuai dengan kaidah-kaidah syariah.
Terkait kualifikasi insan BMT ini, penting diperhatikan penanaman kesadaran akan fungsi dan keberadaan BMT bagi mayoritas masyarakat yang masih menghadapi problem kemiskinan dan keterbelakangan ekonomi, sehingga insan BMT tidak ”terindoktrinasi” dengan pola pikir kapitalisme yang semata bertujuan mengejar keuntungan. Metode training bagi insan BMT dapat dikembangkan
dalam rangka memupuk kesadaran bahwa aktivitas ekonomi dalam Islam tidak boleh lepas dari konteks beramal dan beribadah kepada Allah SWT.
Pentingnya kesadaran dan keterampilan tersebut telah dibuktikan lembaga keuangan mikro Grameen Bank di Bangladesh yang dibangun Muhammad Yunus. Pekerjaan di bank kaum miskin adalah pekerjaan yang sangat spesial. Kami latih staf kami untuk menjadikan mereka sebagai brigade elite pejuang antikemiskinan. Pelatihan untuk pegawai bank dilaksanakan saat pertemuan kajian mingguan informal bersama para staf (Yunus, 2007, Hal.102).
Tidak seperti pegawai bank konvensional lain, menurut Yunus (2007:105), anggota staf Grameen Bank tumbuh dengan menganggap diri mereka guru. Mereka adalah guru dalam pengertian bahwa mereka membantu para peminjam untuk menggali sepenuhnya potensi diri mereka, untuk menemukan kekuatan mereka, untuk lebih meningkatkan kapabilitas diri mereka melampaui yang sudah-sudah.
Hal lain yang perlu dibenahi adalah perlu adanya panduan atau standar operasi bagi BMT dalam menjalankan fungsi sosialnya. Standardisasi operasi fungsi sosial BMT ini dapat dibuat secara internal untuk masing-masing BMT, atau dapat difasilitasi oleh lembaga pendamping, yang nantinya akan menjadi acuan bagi BMT-BMT binaannya dalam menggerakkan baitul maal-nya. Panduan tersebut, paling tidak dapat menjadi acuan staf dalam mengelola dana ZIS, baik aspek syariah maupun operasional penghimpunan dan penyalurannya kepada yang berhak sesuai syariah dan amanah.
Fungsi sosial BMT tentu hanya akan berjalan dengan tersedianya dana yang memang diperuntukkan bagi fungsi tersebut. Pertama tentu sumber dana dari internal BMT yang bersumber dari keuangan lembaga setiap tahun serta zakat dari anggota, pengurus, serta karyawan BMT atau infaq dan shadaqah. Potensi lain yang perlu digali adalah dari lingkungan sekitar, baik perseorangan para donatur maupun organisasi dan badan usaha. Untuk itu diperlukan upaya yang terencana
dan tersistematis dalam menggalang potensi ZIS dari masyarakat dalam wilayah kerja BMT yang bersangkutan.
Satu hal penting dalam rangka menggerakkan baitul maal ini adalah faktor kesadaran masyarakat dalam menunaikan kewajiban zakat dan menyalurkannya melalui lembaga pengelola khususnya BMT. Berdasarkan pendapat responden dalam penelitian ini, kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan lembaga pengelola ZIS ini dinilai masih rendah. Masyarakat cenderung menyalurkan dana ZIS secara perseorangan kepada kerabat atau orang-orang yang ditentukannya sendiri, atau bahkan kesadaran untuk berzakat secara umum belum cukup baik.
Terkait hal tersebut, peran yang dapat dilakukan pengurus dan pengelola BMT adalah melakukan sosialisasi tentang kewajiban berzakat serta nilai strategis pengelolaan ZIS untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Hal ini perlu menjadi perhatian bersama, khususnya insan BMT dengan melibatkan para ulama maupun tokoh agama dalam rangka mensyiarkan kewajiban dan keutamaan mengeluarkan hak orang lain yang ada dalam harta kita dalam bentuk ZIS kepada mereka yang membutuhkan, seperti dinyatakan dalam Al Quran surat Adz Dzaariyaat ayat 19:
;$µ4ÉoÙ5ß4®#³{{ µQ
`Ü1´Nµ Þ% t´8 °¸®
Wa Fī 'Amwālihim Ĥaqqun Lilssā'ili Wa Al-Maĥrūmi Artinya:
Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian[*]. (QS 51:19)
[*] Orang miskin yang tidak mendapat bagian maksudnya ialah orang miskin yang tidak meminta-minta.
Sabda Nabi Muhammad Saw: “Wahai manusia, tunaikanlah zakat hartamu. Ketahuilah, barang siapa yang tidak menunaikan zakat, tidak sempurna agamanya, tidak sempurna pula puasanya, tidak sempurna jihadnya” (Al Hadits).
Hal lain, yang di luar kendali atau wewenang pengelola BMT, adalah lingkungan peraturan pemerintah terkait kewenangan (legalitas) BMT untuk mengelola dana ZIS maupun lembaga pengelola zakat yang tumbuh dari masyarakat secara umum. Hal ini dirasakan sebagian pengelola BMT berpengaruh terhadap upaya lembaga dalam melakukan penggalangan dan pendistribusian dana ZIS dari masyarakat khususunya kalangan pengusaha.
Regulasi dalam hal ini adalah Undang-Undang tentang Zakat yang sedang dibahas oleh pemerintah. Hal ini perlu dibahas oleh para pengelola BMT bersama dengan pihak-pihak yang berkompeten dalam masalah pengelolaan zakat di tanah air. Juga tidak menutup kemungkinan pembahasan mengenai bentuk badan hukum yang tepat bagi BMT, yang lebih menjamin terselenggaranya dua pilar BMT secara optimal dibanding dengan badan hukum koperasi seperti sekarang ini.