KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN
ANALISIS KERAGAAN “PETANI KECIL” UBI JALAR
Analisis keragaan aktivitas usahatani dilakukan secara deskriptif. Analisis tersebut meliputi ketersediaan sumberdaya lahan, sumberdaya tenaga kerja dalam keluarga dan luar keluarga (sewa) di Desa Cikarawang, ketersediaan berbagai produk antara di lokasi penelitian, tingkat produksi per unit aktivitas produksi, kebutuhan input per unit aktivitas produksi dan harga setiap aktivitas yang dilakukan. Analisis keragaan usaha di lokasi penelitian sangat penting untuk menggambarkan kondisi aktual penyelenggaraan aktivitas usahatani kecil pada untuk memproduksi produk primer pertanian yaitu ubi jalar. Hasil analisis ini selanjutnya akan digunakan sebagai acuan dalam implikasi kebijakan pada.
Penggunaan Lahan dan Pola Tanam Ubi Jalar
Petani Ubi Jalar pada lahan kecil melakukan aktivitas bertani sepanjang tahun. Pemberaan (aktivitas mengistirahatkan lahan) lahan sangat jarang dilakukan karena untuk memberikan keuntungan yang lebih besar maka intensifikasi lahan untuk mengoptimalkan sumberdaya yang dimiliki. Setiap akhir panen petani melakukan pemberaan lahan yakni paling lama satu minggu sejak pemanenan kemudian dilanjut dengan peneberan pupuk kandang kemudian dilakukan pendangiran. Tujuan pemberaan adalah selain untuk pembalikan dan
penggemburan tanah juga sebagai upaya mereduksi bahan anorganik yang masih tersisa di lahan garapan. Rotasi tanaman tidak dilakukan petani lahan sempit, karena lahan tersebut sudah menjadi rutinitas bagi petani kecil dilokasi penelitian untuk ditanami ubi jalar. Lama periode produksi ubi jalar di lokasi penelitian yaitu 3,5 bulan sampai 4 bulan. Banyak dari petani mempersingkat waktu produksi pada 3,5 bulan karena kebutuhan yang mendesak. Sehingga periode tanam ubi jalar di Desa Cikarawang sebanyak 2 kali produksi dengan waktu produksi 3,5 bulan.
Keterangan:
= Musim Hujan bulan Nov-Feb
= Musim Kering I bulan Mart-Jun
= Musim Kering II bulan Jul-Okt
Gambar 3 Diagram periode tanaman Ubi Jalar di Desa Cikarawang
Lahan yang dimiliki petani ubi jalar rata-rata dipergunakan untuk lahan garapan, pembuatan saung-saung untuk tempat beristirahat dan menaruh pupuk. Tidak semua lahan garapan memiliki saung, tetapi menurut pengamatan di lapangan, rata-rata luasan saung tersebut adalah sekitar 2.5 m2.
Kepemilikan luas lahan garapan setiap petani berbeda-beda. Rata-rata kepemilikan lahan garapan setiap petani ubi jalar adalah seluas 0.21 ha. Penggunaan lahan secara intensif yang dilakukan petani kecil memungkinkan untuk dilakukan karena luas area kerja rata-rata yang digarap hanya seluas 0,21 ha. Petani kecil ubi jalar yang ada di Desa Cikarawang dalam setahun menanam sebanyak dua kali musim tanam di lahan garapan.
Kebutuhan Input Produksi Ubi Jalar
Kebutuhan input produksi dalam aktivitas usahatani ubi jalar antara lain benih atau bibit, pupuk, pestisida, dan tenagakerja. Bibit yang digunakan berupa stek yang merupakan bantuan dari pemerintah melalui kelompok tani sehingga para petani memperoleh bibit secara gratis. Tetapi rata-rata petani menghargai harga bibit Rp 25 000/ per luasper musimnya atau Rp 75 000/luasan per tahun.
Tabel 13 Rata-rata penggunaan input bahan produksi untuk 0.21 hektar tanaman ubi jalar pada uasahatani petani kecil di Desa Cikarawang per musim tanam.
Nama Input Satuan Penggunaan
Bibit stek 2 0836.00 Pupuk Kandang kg 1 472.67 Pupuk Urea kg 34.86 Pupuk cair ml 20.21 Pupuk Phonska kg 41.99 Pupuk NPK kg 3.17 Pestisida liter 36.40
Sumber: Data Sekunder dan Primer yang di olah
Pada penggunaan input bahan yang relatif besar biaya penggunaannya adalah pupuk kandang, hal ini disebabkan karena pada bahasan pola tanam yang
di lakukan oleh petani kecil yang tidak memiliki masa “bera” (istirahat lahan) maka untuk menjaga kestabilan unsur nutrisi dan fisik pada lahan maka penggunaan pupuk lahan menjadi sangat penting peran penggunaannya bagi aktifitas usahatani kecil pada desa Cikarawang. Sedangkan komponen biaya yang relatif penting adalah bibit, bibit tidak digunakan hanya pada masa penanaman tetapi pada saat penyulaman kebutuhan akan komponen input bibit ini diperlukan.
Kebutuhan Tenaga Kerja Ubi Jalar
Kegiatan produksi ubi jalar dilakukan sendiri oleh pemilik lahan ataupun tenaga kerja dalam keluarga serta luar keluarga (sewa). Tenaga kerja luar keluarga yang digunakan umumnya merupakan buruh tani di Desa Cikarawang. Pekerja bekerja mulai pukul 07.00-12.00 dengan upah yang diterima bergantung jenis kelamin dan pembagian kerjanya. Pekerja pria di pembuatan guludan dibayar dengan sistem tumbak dimana per tumbaknya (4 m) dihargai Rp 1 200-1 500 sedangkan untuk pekerjaan lainnya dibayar Rp. 100 000, Selain diberi bayaran berupa uang tunai, pekerja pria pun menerima natura berupa makanan ringan dan kopi. Pekerja wanita biasanya dipekerjakan dalam proses pembibitan dan penanaman dengan upah Rp 50 000 tanpa natura. Kegiatan bertani (proses budidaya) ubi jalar diawali dengan persiapan lahan berupa pembersihan lahan, penggemburan tanah, memupuk, pembibitan, menyiram, menyiangi gulma, menyulam, memanen umbi, dan membersihkan umbi yang di panen. Aktivitas usahatani ubi jalar memerlukan tenaga kerja yang berbeda-beda berdasarkan aktivitasnya. Aktivitas persiapan lahan dan penanaman memerlukan curahan tenaga kerja paling banyak disebabkan aktivitas pengolahan lahan dan pembuatan guludan memiliki proporsi serapan lebih besar. Dibawah ini disajikan curahan tenaga kerja pada usahatani ubi jalar.
Tabel 14 Kebutuhan tenaga kerja untuk 0.2 hektar tanaman ubi jalar pada usahatani petani kecil di Desa Cikarawang
Kegiatan Kebutuhan Tenaga Kerja (HOK)
Persiapan +Tanam
Pembibitan 1.40
Pengolahan Lahan dan Pembuatan
Guludan 4.00
Penanaman 1.75
Penyulaman 1.05
Pemeliharaan
Pembongkaran Sementara dan
Pemupukan 3.36
Penyiangan 1.11
Pengendalian Hama dan Penyakit 0.25
Pemanenan
Memanen Umbi 1.09
Total Kebutuhan tenaga kerja 14.01
Sumber: Data Sk under dan Primer yang di olah
Dalam aktivitas budidaya ubi jalar, petani-petani seringkali membutuhkan bantuan tenaga kerja dari luar keluarga. Sebagian besar tenaga kerja yang disewa digunakan untuk membantu kegiatan pengolahan lahan, penanaman, dan pemanenan.
Produksi Ubi Jalar
Saat ini beberapa ubi yang dihasilkan petani di jual kepada Poktan setempat. Berdasarkan keterangan dari ketua Poktan Tani Hurip, cukup banyak perusahaan yang menawarkan kerjasama dengan para petani melalui Poktan di Desa Cikarawang. Bahkan ada salah satu pihak yang menawarkan kerjasama ekspor ubi jalar ke Singapura. Namun hal tersebut terkendala hasil produk yang sesuai kriteria yang ditentukan pihak pengekspor. Petani ubi jalur sangat memerlukan penyuluhan dan bantuan dalam hal distribusi produk turunan ubi.
Kegiatan produksi ubi jalar di Desa Cikarawang dilakukan sesuai dengan permintaan Poktan, baik dalam waktu tanam, dan waktu panen tetapi dalam jumlah pengusahaan per luasan yang di usahakan petani memiliki kendala dalam mengaturnya hal ini karena semakin kecilnya penguasaan lahan per luasaan. Produksi ubi tiap panennya dapat dipanen pada umur 3.5-4 bulan oleh responden petani cukup besar yakni rata-rata dalam sekali panen memproduksi sebanyak 2 653.00 kg pada musim tanam pertama, dan pada musim tanam ke dua sebanyak 2 387.70 kg. Data penjualan tersebut dapat menggambarkan permintaan aktual pada ubi jalar per musimnya. Tabel dibawah ini akan menyajikan penjualan ubi jalar oleh responden petani kecil di Desa Cikarawang.
Tabel 15 Produksi satu tahun untuk 0.21 hektar tanaman ubi jalar pada uasahatani petani kecil di Desa Cikarawang
Musim Satuan Produksi Ubi
Jalar Tiap Hektar Musim Tanam pertama Kg 2 653.00 12 795.82 Musim Tanam kedua Kg 2 387.70 11 516.24
Total 5 040.70 24 312.06
Sumber: Data Sekunder dan Primer yang di olah
Setiap ubi yang disetorkan kepada Poktan ataupun dijual ke tengkulak akan mengalami proses sortir sehingga terdapat limbah ubi. Selama ini limbah ubi sortasi tersebut sudah termanfaatkan yang di olah menjadi tepung ubi jalar.