• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengenal “agen ekonomi” dalam batas kelas tertentu merupakan sikap

objektif dari pemerintah, untuk memberikan kesempatan “petani kecil” tersebut dapat tumbuh dan berkembang pada kelas usahannya.

Pemerintah mengeluarkan ketetapannya berupa Undang-undang untuk ukuran usaha yang ada di Negara Republik Indonesia diantaranya adalah usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam UU No 20 Tahun 2008. Dalam undang- undang tersebut pada bab IV pasal 6 diterangkan mengenai kriteria dalam pengelompokan masing-masing kelas usaha, dimana kriteria tersebut ditetapkan pada dua hal yaitu kekayaan bersih dan hasil penjualan tahunan atau omzet.

Analisis Hasil Penjualan Tahunan berdasarkan UU No 20 Tahun 2008 Berdasarkan penjelasan UU No 20 tahun 2008 yang dimaksud dengan ”hasil penjualan tahunan/Omzet” adalah hasil penjualan bersih (netto) yang berasal dari penjualan barang dan jasa usahanya dalam satu tahun buku. Maka dapat dilihat

pada tabel dibawah ini dengan kriteria ukuran usaha berdasarkan omset “petani kecil” yang mengusahakan ubi jalar di lokasi penelitian memiliki hasil penjualan

tahunan sebesar Rp 9 300 090/tahun dimana hasil tersebut merupakan penerimaan dari dua musim tanam.

Tabel 19 Penjualan bersih untuk 0.21 hektar tanaman ubi jalar per tahun pada usahatani petani kecil di Desa Cikarawang

Omzet Satuan Produksi Harga Satuan Total

(x Rp 000,-) (x Rp 000,-)

Penjualan Umbi dalam setahun

a) Musim Tanam pertama kg 2 653.00 Rp 1.85 Rp 4 894.79 b) Musim Tanam kedua kg 2 387.70 Rp 1.85 Rp 4 405.31

Total penjualan Umbi Rp 9 300.09

Sumber: Data Sk under dan Primer yang di olah

Harga satuan yang diperoleh petani merupakan rata-rata dari harga yang diperoleh petani di lokasi penelitian dari menjual produk diantaranya ke tengkulak, gapoktan dan ke pasar. Petani sebagai produsen tidak memiliki banyak alternatif saluran pemasaran dalam menjual produknya yaitu berupa ubi segar. Dari beberapa saluran yang memiliki proporsi harga yang tinggi adalah dari gapoktan, namun pembayarannya tidak selalu tepat pada hari penyetoran umbi. Sebagain kecil petani yang memerlukan penerimaan lebih cepat memilih menjual kepada tengkulak, yang biasanya memiliki kesepakatan dagang karena petani memiliki pinjaman modal atau pinjaman pribadi.

Maka berdasarkan kriteria berdasarkan UU No 20 Tahun 2008 seperti yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini maka usahatani ubi jalar yang diusahakan oleh petani kecil dilokasi penelitain masuk dalam ukuran usaha mikro.

Tabel 20 Kriteria Penerimaan bersih berdasarkan UU No. 20 Tahun 2008

Kriteria Mikro Kecil Menegah Ket

Penerimaan bersih Max 300 jt >Rp 300jt – Rp 2.5 M >Rp 2.5 M – Rp 50 M uu no. 20 thn 2008 Sumber: UU No. 20 Tahun 2008

Tetapi, dengan total penerimaan dari penjualan tahunan usahatani ubi jalar

yang dioprasionalkan oleh “petani kecil” maka batas pendapatan bersih yang

diperoleh kurang dari 10 juta rupiah per tahun (yaitu 9.3 juta rupiah/tahun), atau hanya memperoleh penerimaan bulanan kurang dari 1 juta per rupiah (yaitu 775 ribu rupiah/bulan) atau penerimaan harian kurang dari 50 ribu rupiah (yaitu 25 ribu rupiah/hari) yang artinya agen ekonomi dari sektor pertanian tersebut tidak termasuk golongan masyarat miskin karena pendapatannya diatas garis kemiskinan yang sebesar 312 ribu rupiah/kapita/bulan (BPS, September 2014).

Analisis Kekayaan Bersih berdasarkan UU No 20 Tahun 2008

Pada kriteri kekayaan bersih dapat di dekati dengan Persamaan Akuntansi. Persamaan akuntansi (accounting equation) adalah alat dasar akuntasi. Persamaan

ini menggunakan sumber daya perusahaan dan klaim atas sumberdaya tersebut. Aktiva (assets) merupakan sumber daya ekonomi yang diharapkan memberikan manfaat kepada perusahaan di masa depan, dimana yang termasuk aktiva adalah kas, persediaan barang dagang, perabotan, dan tanah. Dalam kriteria kekayaan bersih dalam UU No.20 Tahun 2008 memberikan pengecualian untuk tanah dan bangunan tempat usaha agar tidak dimasukkan dalam kekayaan bersih, maka nantinya dalam penelitan ini perhitungan aktiva tanah dan bangunan tempat usaha akan di keluarkan.

Klaim terhadap aktiva tersebut berasal dari dua sumber. Kewajiban (liabilities) adalah utang yang harus dibayar kepada pihak luar, yang disebut

kreditor. Dan Klaim pemilik terhadap aktiva perusahaan disebut ekuitas pemilik (owner’s equity), atau modal (capital). Klaim pihak internal ini sudah ada sejak pemilik menginvestasikan aktiva dalam perusahaan. Dengan persamaan akuntansi dapat menunjukkan bagaimana aktiva, kewajiban, dan ekuitas pemilik saling berhubungan.

Berdasarkan penjelasan UU No 20 tahun 2008 pada bab IV Pasa 6 yang

dimaksud dengan “kekayaan bersih” adalah hasil pengurangan total nilai

kekayaan usaha (aset) dengan total nilai kewajiban, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Yang artinya Kekayaan bersih yang dimaksud dalam kriteria merupakan ekuitas pemilik (owner’s equity), atau juga disebut modal (capital). Sehingga pada tabel dibawah ini dapat dilihat besarnya nilai Aktiva (asset) total adalah Rp 9 636 729.50 yang artinya sumberdaya yang dapat di klaim oleh petani kecil untuk usaha budidaya ubi jalar sebagai modal sendiri, laba dan modal dari luar (meminjam), sehingga besarnya kekayaan bersih yang disebut juga ekuitas pemilik atau modal ditambah dengan laba pertahun maka nilai kekayaan bersihnya adalah sebesar Rp. 8 243 729.50.

Tabel 21 Kekayaan bersih untuk 0.21 hektar per tahun tanaman ubi jalar pada uasahatani petani Kecil di Desa Cikarawang

Jenis Total

(Rp 000.-)

Aktiva

A. Aktiva Lancar

Kas Rp 8 270.21

Total Aktiva Lancar (a) Rp 8 270.21 B. Aktiva Tidak Lancar

Peralatan Budidaya Rp 507.71 peny. Peralatan Produksi Rp (55.42) Total Aktiva tidak lancar (b) Rp 452.28 Total Aktiva (c)=(a)+(b) Rp 8 722.49 Pasiva

Kewajiban (Liabilitas)

Hutang Usaha Rp 1 393.00

Total Kewajiban (d) Rp 1 393.00

Kekayaan Bersih (f)=(c)-(d) Rp 7 329.49

Sehingga berdasarkan batas kriteria dengan kekayaan bersih yang ditentukan pemerintah dalam UU No.20 tahun 2008 yang dapat dilihat pada tabel 22 dibawah ini, Maka usahatani ubi jalar yang oprasikan oleh petani kecil masuk dalam skala usaha mikro.

Tabel 22 Kriteria Kekayaan Bersih berdasarkan UU No. 20 Tahun 2008

Sumber: UU No. 20 Tahun 2008

Jadi berdasarkan prespektif pertumbuhan dua batasan kriteria yaitu Kekayaan bersih dan Hasil Penjualan Tahunan yang ditetapkan pemerintah maka usahatani ubi jalar yang di oprasikan petani kecil di Desa Cikarawang masuk

dalam skala usaha mikro dengan nilai kekayaan bersih sebesar Rp 7 329 489.52/tahun dan Hasil penjualan tahunan sebesar Rp 9 300 091.50

/tahun dengan luas pengusahaan lahan rata-rata sebesar 0.21 Ha.

Dokumen terkait