20.1. Hasil Analisis Ragam
Dependent Variable: respon (Kuat Lentur), pada α = 5%
Sumber Keragaman df Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah Nilai F Pr > F Model 14 1009.967647 72.140546 5.37 0.0013* Galat 15 201.413900 13.427593 Total 29 1211.381547
R Kuadrat CV Akar dari MSE respon Mean
0.833732 12.56441 3.664368 29.16467
Sumber
Keragaman df Tipe I SS Kuadrat Tengah Nilai F Pr > F
JL 2 299.6212467 149.8106233 11.16 0.0011*
Dosis 4 576.6859133 144.1714783 10.74 0.0003*
JL*Dosis 8 133.6604867 16.7075608 1.24 0.3401
* Berbeda Nyata
20.1.1 Hasil Uji Lanjut Duncan Jenis Lateks Terhadap Kuat Lentur
Duncan's Multiple Range Test for respon (Jenis Lateks)
Pengelompokan Duncam Rata-Rata N JL
A 33.618 10 LDS
B 27.265 10 LP
B 26.611 10 LDPNR
20.1.2 Hasil Uji Lanjut Duncan Dosis Karet Terhadap Kuat Lentur
Duncan's Multiple Range Test for respon (Dosis Karet)
Pengelompokan Duncan Rata-Rata N Dosis
A 36.767 6 1 B 29.632 6 7 B 28.223 6 3 B 28.032 6 5 C 23.170 6 9
Keterangan: Huruf yang beda menyatakan bahwa berbeda nyata, sedangkan huruf yang sama menyatakan bahwa tidak berbeda nyata.
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karet alam biasanya diperoleh dari penyadapan tanaman karet (Hevea brasiliensis). Karet alam merupakan salah satu sumber devisa negara yang penting, sehingga dapat menunjang perekonomian Indonesia. Indonesia merupakan produsen karet alam terbesar kedua setelah Thailand, tetapi penggunaan karet alam di Indonesia sendiri kurang begitu berkembang. Hal ini dapat dilihat dari BPS (2007) yang menyatakan bahwa sekitar 90% produksi karet alam di Indonesia diekspor ke mancanegara dan hanya sebagian kecil yang dikonsumsi dalam negeri. Dengan adanya diversifikasi dari karet alam yang akan digunakan sebagai bahan tambahan pada jalan beton diharapkan dapat meningkatkan konsumsi karet alam di Indonesia. Daerah di Indonesia yang memiliki luas area dan produksi karet terbesar berasal dari Sumatera Selatan dengan luas area 650.426 ha, sedangkan produksinya sebesar 531.009 ton (Tabel 1).
Tabel 1. Luas areal dan produksi karet di Indonesia tahun 2005 – 2007*)
StatusPengusahaan 2005 2006 2007*)
Luas (Ha) Perkebunan Rakyat
Perkebunan Besar Negara Perkebunan Besar Swasta
2.767.021 237.612 274.758 2.832.982 238.003 275.442 2.899.680 238.246 275.792 Jumlah/Total 3.279.391 3.346.427 3.413.718 Produksi (Ton) Perkebunan Rakyat
Perkebunan Besar Negara Perkebunan Besar Swasta
1.838.670 209.837 222.384 2.082.597 265.813 288.821 2.186.209 277.200 301.285 Jumlah/Total 2.270.891 2.637.231 2.764.694
Wujud Produksi: Karet Kering *) Angka Sementara
Akhir-akhir ini terjadi penurunan harga komoditas pertanian salah satunya adalah karet alam. Hal ini disebabkan karena terjadi krisis perekonomian dunia, sehingga berdampak pada hilangnya permintaan dari komoditas tersebut. Hal tersebut membuat para petani juga turut merasakan dampaknya. Harga karet dunia akhir-akhir ini sedang tidak stabil atau berfluktuasi, dapat naik dan juga secara tiba-tiba dapat mengalami penurunan yang cukup drastis, sehingga harga olahan karet pun ikut mengalami penurunan. Hal ini sangat merugikan para petani karet. Untuk itu, penggunaan karet di Indonesia perlu terus ditingkatkan. Apabila penggunaan karet di Indonesia meningkat, maka kesejahteraan hidup para petani juga akan meningkat. Penurunan harga karet alam dapat dilihat pada perkembangan jumlah dan nilai ekspor dari karet alam pada Tabel 2.
Tabel 2. Jumlah dan nilai ekspor karet alam
Januari – Juni 2008 Januari – Juni 2009 Perubahan (%) Berat Bersih (Ton)
6.049 5.799 0,93
Nilai FOB (Ribu US$)
10.158 7.084 -30,26
Sumber: BPS (2009)
Barang atau peralatan yang dibuat dari bahan baku karet alam sangatlah banyak, misalnya ban mobil, peralatan kendaraan, pembungkus kawat listrik dan telepon, sepatu, alat kedokteran, beberapa peralatan rumah tangga dan kantor, alat-alat olahraga, ebonit dan aspal. Dengan demikian, karet memiliki pengaruh besar terhadap bidang-bidang tersebut (Nazaruddin dan Paimin, 1998). Salah satu bidang yang menggunakan karet alam adalah bidang transportasi, baik jalan aspal maupun beton.
Kerusakan jalan selama ini di Indonesia tergolong tinggi sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 3. Hal ini menyebabkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki jalan yang rusak. Selain itu, jalan yang rusak akan menghambat lalu lintas. Maka dari itu, diperlukan jalan yang
lebih kuat daripada sebelumnya, sehingga umur pakai jalan lebih lama. Umur pakai jalan beton lebih lama dibandingkan dengan jalan aspal. Oleh karena itu, pemakaian jalan beton semakin meningkat di Indonesia karena umurnya yang panjang dapat meminimalisasi biaya akibat jalan rusak.
Tabel 3. Jumlah kerusakan jalan
Kondisi Jalan Jumlah (km)
Baik Sedang Rusak Rusak Berat 151.489 102.292 80.546 62.035 Jumlah 396.362 Sumber: BPS (2007)
Bukan hanya di Indonesia saja, pemakaian jalan beton di negara lain juga meningkat, sehingga kebutuhan material beton untuk masa yang akan datang akan selalu meningkat, seiring dengan laju pertumbuhan penduduk dunia. Material beton diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan ketersediaan infrastruktur termasuk pembangunan perumahan. Dengan meningkatnya pembangunan infrastruktur, dengan sendirinya akan mendorong kebutuhan material beton dan produktivitas industri semen (Hidayat, 2009).
Jalan semen beton di Indonesia selama ini tidak menggunakan lateks, sehingga kurang lentur yang mengakibatkan rentan terhadap retak. Hal ini juga membuat jalan beton tidak nyaman ketika dilalui oleh pengendara kendaraan bermotor dan menimbulkan suara yang lebih bising saat dilalui dibandingkan dengan suara di atas bahan yang lebih lentur. Oleh karena itu, dengan mencampurkan lateks yang memiliki daya elastisitas yang tinggi ke dalam semen beton tersebut diharapkan dapat meningkatkan kelenturannya. Selain itu, karet juga memiliki sifat keliatan, kelekatan dan kepegasan yang tinggi serta daya pantul yang baik.
Apabila produk ini ditingkatkan penggunaannya di Indonesia, maka akan memberi kontribusi positif terhadap penyerapan hasil produksi karet nasional. Selain itu, juga terdapat manfaat lainnya, yakni pemanfaatan karet alam di dalam negeri sendiri meningkat, sehingga tidak kalah dengan karet sintetis yang sedang mengalami peningkatan.
1.2 Tujuan
Tujuan umum penelitian ini adalah memanfaatkan produk agroindustri yaitu karet alam untuk semen beton, memperbaiki workability dan kelenturan pada semen beton, diperoleh tingkat kenyamanan berkendara yang lebih baik di atas perkerasan semen beton dan diperoleh perkerasan semen beton yang lebih tahan retak sehingga mengurangi biaya pemeliharaan.
Tujuan khususnya adalah untuk mengetahui jenis dan dosis bahan penstabil yang sesuai dengan campuran lateks dan semen, serta mempelajari pengaruh penambahan berbagai jenis lateks dan dosis karet terhadap mortar.
1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini adalah:
1. Penentuan jenis dan dosis bahan penstabil yang sesuai dalam campuran lateks pekat dan semen, sehingga dapat mempertahankan kestabilan lateks atau tidak menggumpal ketika dicampurkan dengan semen.
2. Penentuan jenis lateks dan dosis karet yang sesuai terhadap mortar sehingga didapatkan yang terbaik.
3. Pengujian terhadap lateks dan mortar untuk mendapatkan kemampuan produk yang baik. Untuk uji lateks yang akan dilakukan adalah penetapan total alkalinitas (NH3), Kadar Karet Kering (KKK), Kadar
Jumlah Padatan (KJP), waktu kemantapan mekanik, bilangan asam lemak esteris, bilangan KOH dan pH, kadar nitrogen serta viskositas, sedangkan untuk pengujian mortar yang akan dilakukan adalah bobot, uji kuat tekan dan kuat lentur. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Karet
Tanaman karet (Hevea brasiliensis) termasuk dalam divisi
Spermatophyta, subdivisi Angiospermae, kelas Dycotyledonae, ordo
Euphorbiales, famili Euphorbiaceae, genus Hevea dan spesies Hevea brasiliensis. Tanaman tersebut tumbuh baik di daerah yang berada pada iklim tropis dengan rentang astronomis 15oLU – 10oLS, suhu harian 25 – 30oC, ketinggian 1 – 600 m dpl, curah hujan 2.000 – 2.500 mm/tahun, intensitas matahari 5 – 7 jam/hari, dan pH tanah 5 – 6 (Nazaruddin dan Paimin, 1998). Tanaman karet dapat ditanam pada tanah yang kurang subur untuk menanam tanaman perkebunan yang lain. Pada tanah yang subur, karet dapat mulai disadap setelah umur 4 – 5 tahun, sedangkan pada tanah yang kurang subur, tanaman karet baru bisa disadap pada umur 7 tahun (Goutara et al., 1985).
Pada saat ini, karet alam yang dikenal dalam perdagangan berasal dari pohon karet Hevea brasiliensis. Menurut Goutara et al. (1985), sumber penghasil lateks juga dapat dihasilkan oleh tanaman lain yaitu Castilloa elastica, Ficus elastica, Funtumia elastica, Landolphia, getah perca,
Manihot glaziovii, Achras Zapota. Penggunaan lateks dari tanaman tersebut kurang berkembang dan tidak menguntungkan, disamping sifatnya yang kurang baik dibandingkan dengan lateks dari tanaman Hevea brasiliensis.
2.2 Lateks
Hevea brasiliensis menghasilkan karet alam dalam bentuk lateks, yaitu partikel karet yang terdispersi dalam cairan. Lateks berada dalam pembuluh lateks dengan tekanan turgor 10 – 14 atm. Lateks diperoleh melalui penyadapan, yaitu membuat sayatan miring dari kiri atas ke kanan bawah dengan sudut 30o pada kulit pohon. Sayatan tidak boleh mencapai kambium yang apabila terpotong, maka jaringan baru tidak dapat terbentuk kembali (Suparto, 2002).
Lateks dari pohon Hevea brasiliensis mengandung 25 – 40 % hidrokarbon karet serta distabilkan oleh sejumlah kecil protein dan asam lemak. Diameter partikel karet antara 0,1 – 3,0 mikron dan berat molekul antara 103 – 106. Ukuran partikel lateks karet alam adalah antara 190 – 234 nm. Lateks karet alam (Hevea brasiliensis) adalah dispersi butir-butir yang didalamnya terkandung beberapa macam senyawa kimia, yaitu protein, fosfolipid, loko-trienol, sterol dan esternya, karotenoid, plastokromanol, lipid, karbohidrat, glutation, asam amino bebas, asam askorbat, basa nitrogen, asam nukleotida, plastokuinon trigonelein dan argotichin. Bahan- bahan tersebut berkadar antara 0,02 dan 1,5 berat lateks (Utama, 2007).
Berat jenis lateks 0,945 (pada 70oF), serum 1,02 dan karet 0,91 g/cm3. Dengan adanya perbedaan berat jenis tersebut, maka menyebabkan timbulnya cream pada permukaan lateks. Komposisi kimia lateks Hevea brasiliensis menurut Goutara et al. (1985) dapat dilihat pada Tabel 4, sedangkan komposisi menurut Suparto (2002) dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 4. Komposisi kimia lateks Hevea brasiliensis
Jenis Komponen Komposisi (%)
1. Bahan karet mentah (crude rubber) a. Karet murni
b. Protein c. Asam lemak d. Gula
e. Garam dari Na, K, Mg, P, Ca, Cu, Mn, dan Fe
2. Serum (air dan zat yang larut)
25 – 40 90 – 95 2 – 3 1 – 2 0,2 0,5 60 – 75 Sumber: Goutara et al. (1985)
Tabel 5. Komposisi kimia lateks Hevea brasiliensis
Jenis Komponen Komposisi (%)
Karet Resin Protein Abu Gula Air 30-35 0,5-1,5 1,5-2,0 0,3-0,7 0,3-0,5 55-60 Sumber: Suparto (2002)
Utama (2007) menyatakan bahwa kemantapan lateks disebabkan partikel karet dikelilingi oleh lapisan pelindung yang terdiri dari protein dan fosfolipid. Kedua lapisan ini bersifat hidrofilik, karena mempunyai selubung air. Dengan adanya selubung air tersebut, maka partikel-partikel karet tersebut di dalam lateks menjadi stabil. Partikel karet tersebut ditunjukkan pada Gambar 1 dan 2.
1 = Partikel Karet; 2 = Lapisan protein dan fosfolipid (bermuatan positif); 3 = Lapisan air (bermuatan positif)
Gambar 1. Partikel karet alam yang dilapisi protein dan lemak (Utama, 2007)
Partikel karet yang dilapisi lapisan protein dan lipida ini merupakan koloid hidrofilik yang artinya dilindungi (diselaputi) oleh muatan listrik (Gambar 3). Larutan koloid akan stabil bila terdapat bahan yang dapat mempertahankan muatan listrik partikel yaitu dengan adanya protein.
Gambar 3. Koloid hidrofilik bermuatan negatif (Goutara et al., 1985)
Kestabilan lateks disebabkan adanya gaya tolak-menolak antara partikel karet yang bermuatan listrik sejenis (listrik negatif), berasal dari selubung protein. Protein terdiri dari rangkaian asam amino tergantung dari pH lingkungannya. Di atas pH isoelektrik, asam amino bermuatan negatif. Sebaliknya bila pH lingkungannya di bawah pH isoelektrik, maka asam amino bermuatan listrik positif. Pada pH isoelektrik muatan listrik neto asam amino menjadi nol. Protein pembentuk selubung partikel karet mempunyai pH isoelektrik pada pH 4,5 – 4,7. Lateks kebun segar mempunyai pH 6,5 – 6,9, sehingga partikel karet lateks kebun segar dilapisi selubung protein yang bermuatan listrik negatif (Suparto, 2002). Syarat kestabilan lateks dipengaruhi muatan listrik dari lateks. Pengaruh pH terhadap elektrokinetis potensial pada lateks ditunjukkan pada Gambar 4 (Goutara et al., 1985).
Elektrokinetis Potensial Daerah tidak stabil Daerah Daerah stabil (+) stabil (-) (cair II) (cair I)
Titik Isoelektrik (0) 0 1 2 3 4 5 6 7 8
pH Lateks
Gambar 4. Pengaruh pH terhadap elektrokinetis potensial pada lateks (Goutara et al., 1985)
Lateks dapat dipertahankan kestabilannya dengan menambahkan bahan pengawet. Bahan pengawet yang umum digunakan adalah amonia yang berfungsi sebagai bakterisida, peningkat pH dan pengikat logam. Bakterisida berfungsi menurunkan total mikroorganisme, sehingga penurunan pH akibat jumlah asam organik yang meningkat dapat ditekan (Suparto, 2002).
Dengan menambahkan bahan pengawet primer yaitu amonia, maka fosfolipid akan terhidrasi menghasilkan asam lemak dan bereaksi dengan amonia membentuk sabun amonia. Sabun tersebut diserap oleh partikel karet, sehingga lateks bertambah mantap selama penyimpanan. Di samping itu, protein juga terhidrolisasis membentuk polipeptida dan asam amino yang larut dalam air. Akan tetapi, jalannya reaksi jauh lebih lambat bila dibandingkan dengan reaksi pertama (Utama, 2007).
Menurut Goutara et al. (1985), bahan pengawet yang sering digunakan pada lateks kebun adalah amonia. Amonia berfungsi sebagai bakterisida dan menaikkan pH lateks, sehingga mempertinggi kemantapan lateks. Amonia dalam lateks akan menaikkan muatan negatif pada setiap
permukaan karet di dalam lateks, menimbulkan gaya tolak-menolak antara partikel dengan demikian sistem koloid akan menjadi mantap.
2.3 Karet Alam
Karet alam adalah hidrokarbon yang merupakan makromolekul poliisoprena (C5H8)n yang bergabung secara ikatan kepala ke ekor. Rantai
poliisoprena tersebut membentuk konfigurasi cis dengan susunan ruang yang teratur, sehingga rumus kimianya adalah 1,4-cis-poliisoprena dengan monomer isoprena dalam bentuk 2-metil-1,3-butadiena. Struktur monomer lateks dapat dilihat pada Gambar 5 dan struktur molekulnya dapat dilihat pada Gambar 6. Karet yang mempunyai susunan ruang tersebut akan mempunyai sifat kenyal (elastis). Sifat kenyal tersebut berhubungan dengan viskositas atau plastisitas karet. Partikel karet tersuspensi (tersebar secara merata) dalam serum lateks dengan ukuran 0,04 – 3 mikron atau 0,2 milyar partikel karet per mililiter lateks. Bentuk partikel ini lonjong sampai bulat (Goutara et al., 1985).
CH3
CH2 = C CH = CH2
Gambar 5. Monomer isoprena (Cowd, 1991)
CH3 H CH3 H
C = C C = C
CH2 CH2 CH2 CH2
Gambar 6. Struktur molekul 1,4-cis-poliisoprena (Cowd, 1991)
Karet alam merupakan partikel yang berukuran pada kisaran antara 0,005μm sampai 3μm serta dilapisi oleh dua buah lapisan yang terdiri dari protein dan fosfolipid. Lapisan protein dan fosfolipid membentuk sistem kestabilan pada karet. Lapisan dalam merupakan lapisan hidrofobik,
sedangkan lapisan luar merupakan lapisan hidrofilik. Lapisan hidrofilik terdiri atas protein dan sabun. Rantai polipeptida protein memiliki konfigurasi memanjang dengan sisi non polar yang menghadap ke partikel karet dan sisi polarnya menghadap ke fase cair (Tangpakdee, 1998).
Menurut Goutara et al. (1985), berat molekul karet alam berkisar antara 250.000 sampai 300.000. Partikel karet tersebut ditutupi oleh selaput tipis bahan yang terdiri dari protein dan fosfolipida. Jumlah protein berkisar 0,2 persen dan dengan adanya protein karet akan terdispersi. Partikel karet tersebut memperlihatkan gerakan brown dan akan terhenti bila diberi larutan CaCl2. Di samping bahan-bahan tersebut, terdapat pula bahan yang disebut
fraksi kuning (yellow fraction). Komposisi partikel karet alam dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Komposisi partikel karet alam
Jenis Komponen Komposisi (%)
Hidrokarbon karet Lemak Glikolipida, fosfolipida Protein Karbohidrat Bahan Anorganik Lain-lain 93,7 2,4 1,0 2,2 0,4 0,2 0,1 Sumber: Tanaka (1998)
Karet alam digolongkan ke dalam elastomer untuk penggunaan umum karena dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai jenis dan tipe barang jadi karet. Penggunaannya sebagai bahan baku barang jadi karet sangat disukai, karena keunggulan sifat-sifatnya, seperti daya pantul, elastisitas, daya lengket dan daya cengkeram yang baik serta mudah untuk digiling. Selain itu, karet alam juga mempunyai beberapa sifat mekanik yang baik, antara lain memiliki tegangan putus, ketahanan sobek, dan kikis yang baik, sehingga karet alam merupakan elastomer pilihan.
2.4 Lateks Pekat (LP)
Lateks pekat diperoleh dengan memekatkan lateks kebun. Pembuatan lateks pekat bertujuan untuk meningkatkan kadar karet kering (KKK). Lateks kebun pekat dengan KKK 60% akan lebih seragam mutunya dan lebih sesuai untuk pengolahan barang jadi karet. Pembuatan lateks pekat dapat dilakukan dengan empat metode, yaitu sentrifuse (pemusingan), pendadihan, penguapan, dan elektrodekantasi. Metode yang paling sering digunakan adalah metode sentrifuse (pemusingan), karena menghasilkan kapasitas produksi yang besar, viskositas lateks lebih rendah (tidak kental) dan hasil lateks lebih murni (tidak tercampur endapan dan kotoran) (Solichin, 1991).
Untuk mendapatkan lateks pekat, di samping cara pemusingan, masih ada cara lain yang sering digunakan yaitu cara pendadihan. Dengan menggunakan cara ini dapat diperoleh lateks dadih dengan kadar padatan sekitar 68%. Secara umum pendadihan lebih mudah daripada cara pemusingan, tetapi lateks pekat yang dihasilkan masih banyak mengandung bahan-bahan bukan karet, misalnya protein dan lemak yang dapat mengganggu proses berikutnya (Utama, 2007).
Bila lateks disentrifugasi dengan alat “ultra sentrifuge” (dengan jumlah putaran atau rpm yang sangat tinggi), maka akan terpisah menjadi tiga bagian (Goutara et al., 1985), yaitu:
1. Fraksi putih (White fraction)
Jumlah fraksi putih adalah 70 – 80% dari isi lateks. Fraksi ini sangat stabil dan tidak akan menggumpal dalam beberapa hari. Pada fraksi ini terdapat juga fotofenol, asterol, asam lemak, fesiolipida, dan resin (damar).
2. Serum C (ambiantcerum)
Serum C mengandung zat yang terlarut seperti asam amino, karbohidrat, inositol, dan asam organik seperti asam nukleat, pirofosfat dan askorbat. Karbohidrat terdiri dari glukosa, galaktosa dan fruktosa. Asam amino bebas terdiri dari alanin, virosin, glutamat,
glisin, isoleusin, cistin, fenilalanin, valin dan sistein. Alfa globulin memegang peranan penting dalam stabilisasi butir karet.
3. Fraksi kuning (Yellow fraction)
Fraksi kuning terdapat pada bagian terbawah dari hasil sentrifugasi yang terdiri dari lutoid dan serum B (bottom fraction cerum). Jumlah fraksi tersebut adalah 20% dari seluruh lateks. Fraksi kuning tersebut tidak stabil dan dalam waktu singkat (1 – 2 jam) dapat menggumpal. Ketidakstabilan tersebut disebabkan adanya partikel lutoida, ion Cu++, Mg++, Na+, dan K+ yang akan menurunkan elektrokinetis potensial lateks.
Pada umumnya, pengolahan lateks pekat di Indonesia menggunakan cara pemusingan (centrifuse), karena kapasitasnya tinggi dan pemeliharannya lebih mudah. Lateks kebun dengan KKK 28 – 35% dipusingkan pada kecepatan 5000 – 7000 rpm, sehingga pada bagian atas alat akan diperoleh lateks pekat dengan KKK 60% dan berat jenis 0,94, sedangkan di bagian bawah akan dihasilkan skim yang masih mengandung 4 – 8% karet dengan berat jenis 1,02 (Goutara et al., 1985).
Centrifuged latex tersebut dibuat dengan cara memasukkan lateks ke dalam alat pemusing atau centrifugal machine setelah dibiarkan selama 24 jam. Mesin pemusing harus dijalankan dengan kecepatan yang sesuai dan suara mesin harus halus. Kadar karet kering yang diinginkan untuk hasil lateks pusingan adalah 60%, tetapi kadarnya bisa turun 1 – 2% pada proses produksi. Penambahan amonia dan penyimpanan sering juga mengakibatkan terjadinya penurunan kadar karet kering (Nazaruddin dan Paimin, 1998).
Prinsip pembuatan lateks pekat dengan sentrifugasi adalah berdasarkan perbedaan berat jenis antara partikel karet dan serum. Serum mempunyai berat jenis lebih besar daripada partikel karet, sehingga partikel karet cenderung naik ke permukaan, sedangkan serum di bawahnya. Partikel karet dalam lateks mengalami gerak brown, karena terjadi tolak menolak antar partikel karet yang bermuatan. Lateks yang dimasukkan ke dalam alat sentrifugasi akan mengalami gaya sentripetal dan sentrifugal yang mengarah
ke luar. Gaya sentrifugal tersebut jauh lebih besar daripada percepatan gaya berat dan gerak brown, sehingga akan terjadi pemisahan partikel karet dengan serum. Bagian serum yang mempunyai berat jenis lebih besar akan terlempar ke bagian luar dan partikel karet akan terkumpul pada bagian pusat dari poros alat sentrifugasi dan selanjutnya lateks pekat (cream) akan keluar dari bagian atas dan lateks skim keluar dari bagian bawah (Goutara et al., 1985).
Selain partikel karet, didalam lateks terdapat bahan-bahan bukan karet yang berperan penting mengendalikan sifat lateks dan karetnya meskipun dalam jumlah yang relatif kecil. Lateks segar yang disentrifuse dengan alat pemusing ultra dengan kecepatan 18000 rpm akan menyebabkan lateks terpisah menjadi empat fraksi dengan urutan dari atas ke bawah dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Fraksi penyusun lateks segar
Lateks Kebun Segar Fraksi Karet (35%) Karet Protein Lipid IonLogam Fraksi Frey Wyssling (5%) Karotenoida
Lipid
Serum (50%)
Air
Karbohidrat dan inositol Protein dan turunannya Asam nukleat dan nukleosida Ion anorganik
Ion logam
Fraksi Dasar (10%) Lutoid (vakuolisosom) Sumber: Suparto (2002)
Pemekatan lateks menyebabkan sebagian bahan bukan karet terlarut bersama serum, sehingga lateks pekat bersifat lebih stabil dan memiliki komposisi yang lebih baik daripada komposisi lateks kebun. Menurut SNI 06-3139-1992, syarat mutu lateks pekat dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Syarat mutu lateks pekat
No Jenis Uji Sentrifugasi Metode
Amonia Tinggi
Metode Sentrifugasi Amonia Rendah
1. Kadar jumlah padatan min, % 61,5 61,5 2. Kadar karet kering min, % 60,0 60,0
3.
Selisih kadar jumlah padatan dengan kadar karet kering maks, %
2,0 2,0
4.
Total alkalinitas dihitung sebagai amonia (NH3)
sebagai % lateks
Min 0,60 Max 0,29 5. Bilangan KOH, maks 0,80 0,80 6. Waktu Kematapan Mekanik
min, detik 650 650
7. Bilangan asam lemak, maks 0,2 g KOH/100 g TS
0,2 g KOH/100 g TS 8. Warna secara inspeksi visual Tidak berwarna biru atau abu-abu 9. Warna setelah dinetralisasi
dengan asam borat Tidak berbau busuk Sumber: SNI 06-3139-1992
Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu lateks pusingan adalah pengawetan lateks kebun, KKK lateks kebun, pengendapan lateks kebun, penambahan sabun ammonium laurat sebelum ataupun sesudah pemusingan, alat dan cara pemusingan, penyimpanan, pengangkutan, dan cara pengambilan sampel lateks pekat. Lateks pekat bermutu tinggi diperoleh dengan melakukan pengontrolan dan perlakuan yang baik sejak dari lateks kebun sampai pada pengambilan sampel lateks pekat (Solichin, 1991).
Menurut Goutara et al. (1985), penentuan mutu lateks pekat dibagi dalam dua golongan, yaitu sifat yang tidak berubah selama penyimpanan dan sifat yang dipengaruhi cara penyimpanan serta ion dalam lateks. Sifat lateks pekat yang tidak dipengaruhi selama penyimpanan adalah kadar karet kering, alkalinitas, dan kadar jumlah padatan (KJP), sedangkan sifat lateks yang dipengaruhi oleh cara penyimpanan dan ion dalam lateks adalah asam lemak menguap (VFA), bilangan KOH, dan waktu kemantapan mekanik
(WKM). Kandungan protein total lateks pekat lebih rendah dibandingkan lateks kebun dan serum skim. Hal ini dikarenakan dalam proses pemekatan dari lateks kebun menjadi lateks pekat, fraksi-fraksi non karet terpisahkan dan terbuang sebagai limbah berupa serum dan skim.
2.5 Lateks Double Centrifuge (LP-DS atau LP-KR)
Berkurangnya sifat ketika semen portland digunakan dalam campuran