• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Karet Alam Sebagai Aditif Pada Mortar Untuk Meningkatkan Mutu Jalan Semen Beton

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pemanfaatan Karet Alam Sebagai Aditif Pada Mortar Untuk Meningkatkan Mutu Jalan Semen Beton"

Copied!
252
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN KARET ALAM SEBAGAI ADITIF PADA

MORTAR UNTUK MENINGKATKAN MUTU

JALAN SEMEN BETON

Oleh NOVI SAPUTRA

F34053444

2010

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

RINGKASAN

Pada saat ini, konsumsi karet alam di Indonesia kurang berkembang. Dengan adanya diversifikasi penggunaan karet alam sebagai bahan tambahan pada jalan semen beton diharapkan dapat meningkatkan konsumsi karet alam di Indonesia. Jalan semen beton selama ini tidak menggunakan lateks, sehingga kurang lentur dan rentan terhadap retak. Hal ini juga membuat jalan beton tidak nyaman ketika dilalui kendaraan bermotor. Oleh karena itu, dengan mencampurkan lateks yang memiliki daya elastisitas yang tinggi ke dalam semen beton tersebut diharapkan dapat meningkatkan kelenturannya.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan dosis bahan penstabil yang sesuai dengan campuran lateks dan semen, serta mengetahui pengaruh penambahan berbagai jenis lateks dan dosis karet terhadap mortar.

Penelitian ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama merupakan penelitian pendahuluan, yakni penentuan jenis bahan penstabil (Emal, Emulgen dan Kasein) dan dosis bahan penstabil (1, 3, 5 dan 7%) yang sesuai dengan campuran semen lateks. Tahap kedua adalah penelitian utama, yakni penentuan pengaruh lateks terhadap mortar yang dihasilkan. Jenis lateks yang digunakan adalah Lateks Pekat (LP), Lateks Double Centrifuge (LDS) dan Lateks Deproteinized Natural Rubber (LDPNR), sedangkan dosis karet yang digunakan adalah 1, 3, 5, 7 dan 9%, serta dibuat kontrol (0%). Metode pembuatan mortar seperti pada umumnya.

Ketika lateks dicampur dengan semen, maka akan langsung terjadi penggumpalan. Oleh karena itu, jenis dan dosis bahan penstabil yang sesuai diperlukan. Dari hasil uji lanjut didapatkan kombinasi yang terbaik adalah Kasein 7% selama 208,67 menit karena dapat mempertahankan waktu setting hampir 210 menit. Kombinasi yang didapat ini akan digunakan pada penelitian utama.

Bobot awal yang paling tinggi nilainya terdapat pada LDS sebesar 261,25 g, sedangkan bobot akhir juga sama terdapat pada LDS sebesar 266,70 g. Dosis karet 1% menghasilkan bobot awal tertinggi sebesar 268,70 g dan bobot akhir sebesar 272,83 g. Bobot akhir mortar akan lebih berat dibandingkan dengan bobot awal mortar. Semakin banyak dosis karet yang ditambahkan ke dalam campuran mortar, maka bobot yang dihasilkan akan semakin ringan. Mortar dengan penambahan lateks tersebut akan lebih ringan dibandingkan dengan kontrol.

(3)

Pada LDS memiliki nilai kuat lentur tertinggi dibandingkan dengan LP dan LDPNR yaitu sebesar 33,62 kg/cm2. Dosis karet 1% yaitu sebesar 36,77 kg/cm2 memberikan nilai kuat lentur paling tinggi dibandingkan dengan yang lainnya. Pada LDS memiliki nilai kuat lentur tertinggi terdapat pada dosis 7% tetapi pada dosis tersebut memiliki nilai kuat tekan yang rendah. Oleh karena itu, untuk mendapatkan mortar yang kuat tetapi lentur dapat menggunakan LDS dengan dosis 1%.

(4)

SUMMARY

Nowadays, natural rubber consumption in Indonesia is relatively low. By diversification of natural rubber uses as additional mixture for concrete road is expected to increase its consumption. At this time, concrete road doesn’t use latex, so it will less flexible and susceptible to crack. Also this matter can’t make concrete road comfortable to use. Therefore, with admixture of latex to the cement may be able to increase flexural strength.

The objectives of this research were to know type and dose of stabilizing agent for suitable admixture of latex and cement, and to know the effect of type of latex and rubber dose as additional mixture for mortar.

This research consisted of two steps. First step was preliminary research which used type (Emal, Emulgen and Casein) and dose (1, 3, 5 and 7%) of stabilizing agents to determine a suitable admixture of latex and cement. Second step was main research where the effects of latex on mortar was determined. Types of latex tried were Centrifuge Latex (LP), Double Centrifuge Latex (LDS) and Deproteinized Natural Rubber Latex (LDPNR). Rubber doses of 0 (control), 1, 3, 5, 7 and 9 were used.

When latex was mixed with cement, it agglomerated. Therefore, suitable type and dose of stabilizing agent was needed. The best stabilizing agent was Casein of 7% because it could maintain the setting time to almost 210 minutes. This combination was used in main research.

The highest initial weight was obtained from LDS, i.e. 261.25 g, whereas final weight, i.e. 266.70 g. Rubber dose of 1% gave the highest initial weight, i.e. 268.70 g and final weight, i.e. 272.83 g. Final weight would be heavier than initial weight. The more rubber dose used in mixture mortar, the less weight of mortar produced. Mortar added by latex showed lighter weight than its control.

LDS gave a significant effect on mortar’s compressive strength, whereas LDPNR didn’t have significant effect. LDS gave the highest compressive strength, i.e. 176.60 kg/cm2. Rubber dose of 1% gave the highest compressive strength, i.e. 200.67 kg/cm2. The more rubber dose used, the less compressive strength of mortar produced.

(5)

PERNYATAAN

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi dengan judul “Pemanfaatan Karet Alam Sebagai Aditif Pada Mortar Untuk Meningkatkan Mutu Jalan Semen Beton” adalah hasil karya saya sendiri dengan arahan dosen pembimbing, kecuali yang dengan jelas ditunjukkan rujukannya.

Bogor, Januari 2010

(6)

JALAN SEMEN BETON

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Teknologi Industri Pertanian

Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor

Oleh: Novi Saputra

F34053444

2010

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(7)

Judul Skripsi : Pemanfaatan Karet Alam Sebagai Aditif Pada Mortar Untuk Meningkatkan Mutu Jalan Semen Beton

Nama : Novi Saputra

NRP : F34053444

Menyetujui:

Pembimbing I Pembimbing II

(Dr. Ono Suparno, STP, MT) (Dr. Ir. Ary Achyar Alfa, MSi)

NIP : 19721203 199702 1 001 NIK : 110 700 308

Mengetahui: Ketua Departemen,

(Prof. Dr. Ir. Nastiti Siswi Indrasti) NIP : 19621009 198903 2 001

(8)

Novi Saputra dilahirkan di Jakarta pada tanggal 25 November 1987. Penulis merupakan putri pertama dari tiga bersaudara dari ayah Oey Kim An dan ibu Izabel Iim. Penulis memasuki taman kanak-kanak di TK Bentara Jakarta dan menyelesaikan pada tahun 1993, sedangkan pendidikan dasar diselesaikan di SD Tunas Karya, Jakarta pada tahun 1999. Setelah itu, penulis melanjutkan pendidikannya di SMPK IPEKA Sunter Jakarta dari 1999 – 2002 dan SMAK 2 Penabur Jakarta dari 2002 – 2005. Setelah menyelesaikan pendidikannya di SMA, penulis diterima di Institiut Pertanian Bogor melalui jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dan mendapatkan mayor Departemen Teknologi Industri Pertanian.

Selama masa kuliah, penulis pernah menjadi asisten praktikum Kimia Tingkat Persiapan Bersama pada tahun 2006 dan asisten praktikum Bioproses pada tahun ajaran 2007 – 2008. Penulis juga aktif dalam beberapa organisasi seperti Pengurus Himalogin (Himpunan Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian) FATETA IPB pada Departemen Kewirausahaan periode 2006 – 2007 dan Pengurus Komisi Pelayanan Anak UKM PMK IPB 2007 – 2008. Selain itu, penulis aktif dalam beberapa kepanitiaan baik dalam bidang kemahasiswaan maupun kerohanian dan juga penulis sering mengikuti berbagai kegiatan seminar.

(9)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas semua limpahan kasih dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini dibuat berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dari bulan Februari sampai September 2009 di Balai Penelitian Teknologi Karet (BPTK), Bogor dan Lab Struktur dan Bahan, Teknik Sipil, ITB, Bandung. Skripsi dengan judul “Pemanfaatan Karet Alam Sebagai Aditif Pada Mortar Untuk Meningkatkan Mutu Jalan Semen Beton” ini disusun sebagai salah satu syarat utnuk memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pertanian.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat diharapkan demi perbaikan pada kesempatan yang akan datang. Akhirnya, Penulis berharap semoga karya yang kecil ini bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya.

Bogor, Januari 2010

(10)

Penulis panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas cinta kasih-Nya yang sungguh sangat besar sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Melalui lembar ini, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:

1. Papa, mama dan adik-adikku (Stevanus dan Stevani) yang sangat saya cintai serta keluargaku lainnya yang telah memberikan dorongan semangat, materi, doa dan perhatian yang sangat besar selama ini.

2. Dr. Ono Suparno, STP, MT selaku dosen pembimbing pertama yang telah banyak memberikan arahan, bimbingan, dan dukungan kepada penulis, serta nasihat-nasihat yang sangat bermanfaat.

3. Dr. Ary Achyar Alfa, MSi selaku pembimbing kedua yang telah banyak memberikan bantuan, bimbingan dan saran selama penelitian berlangsung. 4. Bapak Arief Ramadhan, STP yang telah memberikan bantuan selama penulis

penelitian di BPTK.

5. Bapak Iv Indra Pane, dosen ITB, yang telah membantu dan mengijinkan penulis untuk melakukan penelitian di lab Struktur dan Bahan.

6. Mbak Woro selaku teknisi di BPTK Bogor yang telah banyak memberikan bantuan, saran, nasehat dan cerita selama penulis melakukan penelitian. 7. Teh Yati, Mbak Trie, Mbak Desi, Pak Aos, Mas Syarief, Pak Yusuf yang

telah membantu penulis selama penelitian.

8. Kiki, Linda, Heni, Ika, Azah yang telah memberikan cerita-cerita selama penulis melakukan penelitian.

9. Pak Ujang yang telah membantu perijinan penulis melakukan penelitian di BPTK Bogor.

10. Pak Dedi dan Pak Totong selaku teknisi di ITB Bandung yang telah memberikan banyak bantuan dan cerita selama penulis melakukan penelitian disana.

(11)

12. Teman-teman seperjuangan di BPTK: Adit, Alfian dan Ami yang telah memberikan cerita dan bantuan.

13. Teman satu bimbingan Kartika dan Dego yang telah banyak memberikan semangat dan bantuannya selama ini.

14. Wenny, Adex, Eri, Eka yang telah banyak memberikan nasihat, dorongan, pengalaman yang seru, cerita dan doa selama ini.

15. Seluruh teman-teman TIN 42 yang telah memberikan semangat dan pengalaman yang sangat-sangat berharga selama di TIN.

16. Mei Yu, Gebol, Kodel, Wiwi, Nanda, Icha, Lenny, Dewi yang banyak memberikan bantuan, cerita, nasehat, doa dan pengalaman yang tak terlupakan selama penulis kuliah di IPB dari awal sampai akhir.

17. Yuli, Sasa, Devi, Tata, Lele, Jane, Tere, Dessy, Caroline, Lulu terima kasih atas SMS yang selalu memberikan semangat dan dukungannya. I miss u all. 18. Komisi Pelayanan Anak (KPA) yang telah memberikan banyak cerita dan

pengalaman yang sangat-sangat berharga sehingga penulis banyak belajar. Tetap KPA YES^^.

19. Adik-adikku di Panti Asuhan Bina Harapan (Binhar) dan Candranaya (CN) yang telah memberikan warna dalam hidupku.

20. Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) IPB yang telah membuat penulis lebih bertumbuh dalam Tuhan.

(12)

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

UCAPAN TERIMA KASIH ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

I. PENDAHULUAN ...1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan ... 4

1.3 Ruang Lingkup ... 4

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Tanaman Karet ... 5

2.2 Lateks ... 5

2.3 Karet Alam ... 10

2.4 Lateks Pekat (LP) ... 12

2.5 Lateks Double Centrifuge (LP-DS atau LP-KR) ... 16

2.6 Lateks DPNR (Deproteinized Natural Rubber) ... 17

2.7 Protein dalam Lateks ... 18

2.8 Karbohidrat dalam Lateks ... 20

2.9 Semen ... 20

2.10 Beton Karet ... 30

2.11 Bahan Penstabil ... 33

III. METODOLOGI ... 38

3.1 Bahan dan Alat ... 38

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 38

3.3 Metode Penelitian ... 38

3.3.1 Penelitian Pendahuluan ... 39

(13)

3.4 Rancangan Percobaan ... 47

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 48

4.1 Penelitian Pendahuluan ... 48

4.2 Analisis Lateks ... 54

4.2.1 Lateks Pekat ... 55

4.2.2 Lateks Double Centrifuge (Lateks DS) ... 57

4.2.3 Lateks DPNR (Deproteinized Natural Rubber) ... 60

4.3 Analisis Semen ... 62

4.4 Penelitian Utama ... 65

4.4.1 Pengaruh Lateks Terhadap Bobot Mortar ... 66

4.4.2 Pengaruh Lateks Terhadap Kuat Tekan ... 72

4.4.3 Pengaruh Lateks Terhadap Kuat Lentur ... 76

V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 82

5.1 Kesimpulan ... 82

5.2 Saran ... 82

DAFTAR PUSTAKA ... 84

(14)

Halaman

Tabel 1. Luas areal dan produksi karet di Indonesia tahun 2005 – 2007 ... 1

Tabel 2. Jumlah dan nilai ekspor karet alam ... 2

Tabel 3. Jumlah kerusakan jalan ... 3

Tabel 4. Komposisi kimia lateks Hevea brasiliensis (Goutara et al., 1985) ... 6

Tabel 5. Komposisi kimia lateks Hevea brasiliensis (Suparto, 2002) ... 7

Tabel 6. Komposisi partikel karet alam ... 11

Tabel 7. Fraksi penyusun lateks segar ... 14

Tabel 8. Syarat mutu lateks pekat ... 15

Tabel 9. Kadar senyawa golongan karbohidrat dalam lateks ... 17

Tabel 10. Karakteristik lateks alam berprotein rendah ... 18

Tabel 11. Komposisi kasein dari susu sapi ... 36

Tabel 12. Komposisi kasein komersial ... 37

Tabel 13. Komposisi dan sifat-sifat komponen kasein ... 37

Tabel 14. Hasil analisis lateks pekat ... 55

Tabel 15. Hasil analisis lateks DS ... 58

Tabel 16. Hasil analisis lateks DPNR ... 60

Tabel 17. Nilai FAS dan workability pada mortar segar yang dihasilkan ... 64

(15)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Partikel karet alam yang dilapisi protein dan lemak ... 7

Gambar 2. Skema selubung air di permukaan partikel karet alam ... 7

Gambar 3. Koloid hidrofilik bermuatan negatif ... 8

Gambar 4. Pengaruh pH terhadap elektrokinetis potensial pada lateks ... 9

Gambar 5. Monomer isoprena ... 10

Gambar 6. Struktur molekul 1,4-cis-poliisoprena ... 10

Gambar 7. Struktur asam α amino ... 19

Gambar 8. Rantai polipeptida atau protein ... 19

Gambar 9. Hubungan antara kekuatan tekan beton umur 7 hari dengan faktor air semen menggunakan semen yang cepat mengeras ... 26

Gambar 10. Hubungan antara faktor air semen dengan kekuatan tekan beton selama masa perkembangannya ... 26

Gambar 11. Pengaruh rongga udara terhadap kekuatan tekan beton ... 29

Gambar 12. Proses terjadinya pengikatan pada beton ... 30

Gambar 13. Tiga dimensi dari beton semen polimer ... 32

Gambar 14. Model sederhana dari pembentukan semen polimer co-matriks .. 33

Gambar 15. Struktur Sodium Dodecyl Sulfate ... 35

Gambar 16. Diagram alir penentuan jenis dan dosis bahan penstabil terhadap kestabilan campuran lateks pekat dan semen ... 40

Gambar 17. Diagram alir penentuan kandungan air dalam mortar terhadap bahan penstabil yang sesuai ... 41

Gambar 18. Diagram alir proses pembuatan lateks pekat ... 44

Gambar 19. Diagram alir proses pembuatan lateks double centrifuge ... 44

Gambar 20. Diagram alir proses pembuatan lateks DPNR ... 45

Gambar 21. Diagram alir penelitian utama ... 46

Gambar 22. Histogram hubungan dosis dan jenis bahan penstabil terhadap waktu setting ... 52

(16)

Gambar 25. Grafik antara bobot awal mortar (g) dan dosis karet yang

ditambahkan (%) ... 71 Gambar 26. Grafik antara bobot akhir mortar (g) dan dosis karet yang

ditambahkan (%)... 71 Gambar 27. Histogram hubungan dosis karet dan jenis lateks terhadap

uji kuat tekan ... 74 Gambar 28. Grafik antara kuat tekan (kg/cm2) dan dosis karet yang

ditambahkan (%) ... 75 Gambar 29. Histogram hubungan dosis karet dan jenis lateks terhadap

uji kuat lentur ... 77 Gambar 30. Grafik antara kuat lentur (kg/cm2) dan dosis karet yang

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Metode Analisis Lateks ... 88

Lampiran 2. Metode Analisis Semen ... 94

Lampiran 3. Metode Analisis Mortar ... 96

Lampiran 4. Gambar Prosedur Pembuatan dan Pengujian Mortar ... 98

Lampiran 5. Gambar Hasil Pencampuran Semen Lateks Tanpa Bahan Penstabil ... 99

Lampiran 6. Data Pengamatan Penelitian Pendahuluan ... 100

Lampiran 7. Gambar Hasil Pencampuran Semen Lateks Dengan Emal ... 101

Lampiran 8. Gambar Hasil Pencampuran Semen Lateks Dengan Emulgen ... 102

Lampiran 9. Gambar Hasil Pencampuran Semen Lateks Dengan Kasein ... 103

Lampiran 10. Analisis Keragaman dan Uji Lanjut Waktu Setting... 104

Lampiran 11. Data Pengaruh Lateks Pekat Terhadap Bobot dan Kuat Tekan beserta Nilai FAS ... 105

Lampiran 12. Data Pengaruh Lateks DS Terhadap Bobot dan Kuat Tekan beserta Nilai FAS ... 106

Lampiran 13. Data Pengaruh Lateks DPNR Terhadap Bobot dan Kuat Tekan beserta Nilai FAS ... 107

Lampiran 14. Analisis Keragaman dan Uji Lanjut Bobot Awal... 108

Lampiran 15. Analisis Keragaman dan Uji Lanjut Bobot Akhir... 110

Lampiran 16. Analisis Keragaman dan Uji Lanjut Kuat Tekan... 112

Lampiran 17. Data Pengaruh Lateks Pekat Terhadap Bobot dan Kuat Lentur beserta Nilai FAS ... 113

Lampiran 18. Data Pengaruh Lateks DS Terhadap Bobot dan KuatLentur beserta Nilai FAS ... 114

Lampiran 19. Data Pengaruh Lateks DPNR Terhadap Bobot dan Kuat Lentur beserta Nilai FAS ... 115

(18)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karet alam biasanya diperoleh dari penyadapan tanaman karet (Hevea

brasiliensis). Karet alam merupakan salah satu sumber devisa negara yang

penting, sehingga dapat menunjang perekonomian Indonesia. Indonesia

merupakan produsen karet alam terbesar kedua setelah Thailand, tetapi

penggunaan karet alam di Indonesia sendiri kurang begitu berkembang. Hal

ini dapat dilihat dari BPS (2007) yang menyatakan bahwa sekitar 90%

produksi karet alam di Indonesia diekspor ke mancanegara dan hanya

sebagian kecil yang dikonsumsi dalam negeri. Dengan adanya diversifikasi

dari karet alam yang akan digunakan sebagai bahan tambahan pada jalan

beton diharapkan dapat meningkatkan konsumsi karet alam di Indonesia.

Daerah di Indonesia yang memiliki luas area dan produksi karet terbesar

berasal dari Sumatera Selatan dengan luas area 650.426 ha, sedangkan

produksinya sebesar 531.009 ton (Tabel 1).

Tabel 1. Luas areal dan produksi karet di Indonesia tahun 2005 – 2007*)

StatusPengusahaan 2005 2006 2007*)

Luas (Ha)

Jumlah/Total 3.279.391 3.346.427 3.413.718 Produksi (Ton)

Jumlah/Total 2.270.891 2.637.231 2.764.694

Wujud Produksi: Karet Kering *) Angka Sementara

(19)

   

Akhir-akhir ini terjadi penurunan harga komoditas pertanian salah

satunya adalah karet alam. Hal ini disebabkan karena terjadi krisis

perekonomian dunia, sehingga berdampak pada hilangnya permintaan dari

komoditas tersebut. Hal tersebut membuat para petani juga turut merasakan

dampaknya. Harga karet dunia akhir-akhir ini sedang tidak stabil atau

berfluktuasi, dapat naik dan juga secara tiba-tiba dapat mengalami

penurunan yang cukup drastis, sehingga harga olahan karet pun ikut

mengalami penurunan. Hal ini sangat merugikan para petani karet. Untuk

itu, penggunaan karet di Indonesia perlu terus ditingkatkan. Apabila

penggunaan karet di Indonesia meningkat, maka kesejahteraan hidup para

petani juga akan meningkat. Penurunan harga karet alam dapat dilihat pada

perkembangan jumlah dan nilai ekspor dari karet alam pada Tabel 2.

Tabel 2. Jumlah dan nilai ekspor karet alam

Januari – Juni 2008 Januari – Juni 2009 Perubahan (%) Berat Bersih (Ton)

6.049 5.799 0,93

Nilai FOB (Ribu US$)

10.158 7.084 -30,26

Sumber: BPS (2009)

Barang atau peralatan yang dibuat dari bahan baku karet alam

sangatlah banyak, misalnya ban mobil, peralatan kendaraan, pembungkus

kawat listrik dan telepon, sepatu, alat kedokteran, beberapa peralatan rumah

tangga dan kantor, alat-alat olahraga, ebonit dan aspal. Dengan demikian,

karet memiliki pengaruh besar terhadap bidang-bidang tersebut (Nazaruddin

dan Paimin, 1998). Salah satu bidang yang menggunakan karet alam adalah

bidang transportasi, baik jalan aspal maupun beton.

Kerusakan jalan selama ini di Indonesia tergolong tinggi sebagaimana

dapat dilihat pada Tabel 3. Hal ini menyebabkan besarnya biaya yang harus

dikeluarkan untuk memperbaiki jalan yang rusak. Selain itu, jalan yang

(20)

lebih kuat daripada sebelumnya, sehingga umur pakai jalan lebih lama.

Umur pakai jalan beton lebih lama dibandingkan dengan jalan aspal. Oleh

karena itu, pemakaian jalan beton semakin meningkat di Indonesia karena

umurnya yang panjang dapat meminimalisasi biaya akibat jalan rusak.

Tabel 3. Jumlah kerusakan jalan

Kondisi Jalan Jumlah (km)

Baik

Sedang

Rusak

Rusak Berat

151.489

102.292

80.546

62.035

Jumlah 396.362

Sumber: BPS (2007)

Bukan hanya di Indonesia saja, pemakaian jalan beton di negara lain

juga meningkat, sehingga kebutuhan material beton untuk masa yang akan

datang akan selalu meningkat, seiring dengan laju pertumbuhan penduduk

dunia. Material beton diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan

ketersediaan infrastruktur termasuk pembangunan perumahan. Dengan

meningkatnya pembangunan infrastruktur, dengan sendirinya akan

mendorong kebutuhan material beton dan produktivitas industri semen

(Hidayat, 2009).

Jalan semen beton di Indonesia selama ini tidak menggunakan lateks,

sehingga kurang lentur yang mengakibatkan rentan terhadap retak. Hal ini

juga membuat jalan beton tidak nyaman ketika dilalui oleh pengendara

kendaraan bermotor dan menimbulkan suara yang lebih bising saat dilalui

dibandingkan dengan suara di atas bahan yang lebih lentur. Oleh karena itu,

dengan mencampurkan lateks yang memiliki daya elastisitas yang tinggi ke

dalam semen beton tersebut diharapkan dapat meningkatkan kelenturannya.

Selain itu, karet juga memiliki sifat keliatan, kelekatan dan kepegasan yang

(21)

   

Apabila produk ini ditingkatkan penggunaannya di Indonesia, maka

akan memberi kontribusi positif terhadap penyerapan hasil produksi karet

nasional. Selain itu, juga terdapat manfaat lainnya, yakni pemanfaatan karet

alam di dalam negeri sendiri meningkat, sehingga tidak kalah dengan karet

sintetis yang sedang mengalami peningkatan.

1.2 Tujuan

Tujuan umum penelitian ini adalah memanfaatkan produk agroindustri

yaitu karet alam untuk semen beton, memperbaiki workability dan

kelenturan pada semen beton, diperoleh tingkat kenyamanan berkendara

yang lebih baik di atas perkerasan semen beton dan diperoleh perkerasan

semen beton yang lebih tahan retak sehingga mengurangi biaya

pemeliharaan.

Tujuan khususnya adalah untuk mengetahui jenis dan dosis bahan

penstabil yang sesuai dengan campuran lateks dan semen, serta mempelajari

pengaruh penambahan berbagai jenis lateks dan dosis karet terhadap mortar.

1.3 Ruang Lingkup

Ruang lingkup penelitian ini adalah:

1. Penentuan jenis dan dosis bahan penstabil yang sesuai dalam campuran

lateks pekat dan semen, sehingga dapat mempertahankan kestabilan

lateks atau tidak menggumpal ketika dicampurkan dengan semen.

2. Penentuan jenis lateks dan dosis karet yang sesuai terhadap mortar

sehingga didapatkan yang terbaik.

3. Pengujian terhadap lateks dan mortar untuk mendapatkan kemampuan

produk yang baik. Untuk uji lateks yang akan dilakukan adalah

penetapan total alkalinitas (NH3), Kadar Karet Kering (KKK), Kadar

Jumlah Padatan (KJP), waktu kemantapan mekanik, bilangan asam

lemak esteris, bilangan KOH dan pH, kadar nitrogen serta viskositas,

sedangkan untuk pengujian mortar yang akan dilakukan adalah bobot,

uji kuat tekan dan kuat lentur. Data yang diperoleh dianalisis secara

(22)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Karet

Tanaman karet (Hevea brasiliensis) termasuk dalam divisi

Spermatophyta, subdivisi Angiospermae, kelas Dycotyledonae, ordo

Euphorbiales, famili Euphorbiaceae, genus Hevea dan spesies Hevea

brasiliensis. Tanaman tersebut tumbuh baik di daerah yang berada pada

iklim tropis dengan rentang astronomis 15oLU – 10oLS, suhu harian 25 –

30oC, ketinggian 1 – 600 m dpl, curah hujan 2.000 – 2.500 mm/tahun,

intensitas matahari 5 – 7 jam/hari, dan pH tanah 5 – 6 (Nazaruddin dan

Paimin, 1998). Tanaman karet dapat ditanam pada tanah yang kurang subur

untuk menanam tanaman perkebunan yang lain. Pada tanah yang subur,

karet dapat mulai disadap setelah umur 4 – 5 tahun, sedangkan pada tanah

yang kurang subur, tanaman karet baru bisa disadap pada umur 7 tahun

(Goutara et al., 1985).

Pada saat ini, karet alam yang dikenal dalam perdagangan berasal dari

pohon karet Hevea brasiliensis. Menurut Goutara et al. (1985), sumber

penghasil lateks juga dapat dihasilkan oleh tanaman lain yaitu Castilloa

elastica, Ficus elastica, Funtumia elastica, Landolphia, getah perca,

Manihot glaziovii, Achras Zapota. Penggunaan lateks dari tanaman tersebut

kurang berkembang dan tidak menguntungkan, disamping sifatnya yang

kurang baik dibandingkan dengan lateks dari tanaman Hevea brasiliensis.

2.2 Lateks

Hevea brasiliensis menghasilkan karet alam dalam bentuk lateks,

yaitu partikel karet yang terdispersi dalam cairan. Lateks berada dalam

pembuluh lateks dengan tekanan turgor 10 – 14 atm. Lateks diperoleh

melalui penyadapan, yaitu membuat sayatan miring dari kiri atas ke kanan

bawah dengan sudut 30o pada kulit pohon. Sayatan tidak boleh mencapai

kambium yang apabila terpotong, maka jaringan baru tidak dapat terbentuk

(23)

   

Lateks dari pohon Hevea brasiliensis mengandung 25 – 40 %

hidrokarbon karet serta distabilkan oleh sejumlah kecil protein dan asam

lemak. Diameter partikel karet antara 0,1 – 3,0 mikron dan berat molekul

antara 103 – 106. Ukuran partikel lateks karet alam adalah antara 190 – 234

nm. Lateks karet alam (Hevea brasiliensis) adalah dispersi butir-butir yang

didalamnya terkandung beberapa macam senyawa kimia, yaitu protein,

fosfolipid, loko-trienol, sterol dan esternya, karotenoid, plastokromanol,

lipid, karbohidrat, glutation, asam amino bebas, asam askorbat, basa

nitrogen, asam nukleotida, plastokuinon trigonelein dan argotichin.

Bahan-bahan tersebut berkadar antara 0,02 dan 1,5 berat lateks (Utama, 2007).

Berat jenis lateks 0,945 (pada 70oF), serum 1,02 dan karet 0,91 g/cm3.

Dengan adanya perbedaan berat jenis tersebut, maka menyebabkan

timbulnya cream pada permukaan lateks. Komposisi kimia lateks Hevea

brasiliensis menurut Goutara et al. (1985) dapat dilihat pada Tabel 4,

sedangkan komposisi menurut Suparto (2002) dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 4. Komposisi kimia lateks Hevea brasiliensis

Jenis Komponen Komposisi (%)

1. Bahan karet mentah (crude rubber)

a. Karet murni

b. Protein

c. Asam lemak

d. Gula

e. Garam dari Na, K, Mg, P, Ca, Cu, Mn, dan Fe

2. Serum (air dan zat yang larut)

(24)

Tabel 5. Komposisi kimia lateks Hevea brasiliensis

Jenis Komponen Komposisi (%)

Karet

Resin

Protein

Abu

Gula

Air

30-35

0,5-1,5

1,5-2,0

0,3-0,7

0,3-0,5

55-60

Sumber: Suparto (2002)

Utama (2007) menyatakan bahwa kemantapan lateks disebabkan

partikel karet dikelilingi oleh lapisan pelindung yang terdiri dari protein dan

fosfolipid. Kedua lapisan ini bersifat hidrofilik, karena mempunyai selubung

air. Dengan adanya selubung air tersebut, maka partikel-partikel karet

tersebut di dalam lateks menjadi stabil. Partikel karet tersebut ditunjukkan

pada Gambar 1 dan 2.

1 = Partikel Karet; 2 = Lapisan protein dan fosfolipid (bermuatan positif);

3 = Lapisan air (bermuatan positif)

Gambar 1. Partikel karet alam yang dilapisi protein dan lemak (Utama, 2007)

(25)

   

Partikel karet yang dilapisi lapisan protein dan lipida ini merupakan

koloid hidrofilik yang artinya dilindungi (diselaputi) oleh muatan listrik

(Gambar 3). Larutan koloid akan stabil bila terdapat bahan yang dapat

mempertahankan muatan listrik partikel yaitu dengan adanya protein.

Gambar 3. Koloid hidrofilik bermuatan negatif (Goutara et al., 1985)

Kestabilan lateks disebabkan adanya gaya tolak-menolak antara

partikel karet yang bermuatan listrik sejenis (listrik negatif), berasal dari

selubung protein. Protein terdiri dari rangkaian asam amino tergantung dari

pH lingkungannya. Di atas pH isoelektrik, asam amino bermuatan negatif.

Sebaliknya bila pH lingkungannya di bawah pH isoelektrik, maka asam

amino bermuatan listrik positif. Pada pH isoelektrik muatan listrik neto

asam amino menjadi nol. Protein pembentuk selubung partikel karet

mempunyai pH isoelektrik pada pH 4,5 – 4,7. Lateks kebun segar

mempunyai pH 6,5 – 6,9, sehingga partikel karet lateks kebun segar dilapisi

selubung protein yang bermuatan listrik negatif (Suparto, 2002). Syarat

kestabilan lateks dipengaruhi muatan listrik dari lateks. Pengaruh pH

terhadap elektrokinetis potensial pada lateks ditunjukkan pada Gambar 4

(26)

Elektrokinetis Potensial

Daerah

tidak

stabil

Daerah Daerah

stabil (+) stabil (-)

(cair II) (cair I)

Titik Isoelektrik (0)

0 1 2 3 4 5 6 7 8

pH Lateks

Gambar 4. Pengaruh pH terhadap elektrokinetis potensial pada lateks

(Goutara et al., 1985)

Lateks dapat dipertahankan kestabilannya dengan menambahkan

bahan pengawet. Bahan pengawet yang umum digunakan adalah amonia

yang berfungsi sebagai bakterisida, peningkat pH dan pengikat logam.

Bakterisida berfungsi menurunkan total mikroorganisme, sehingga

penurunan pH akibat jumlah asam organik yang meningkat dapat ditekan

(Suparto, 2002).

Dengan menambahkan bahan pengawet primer yaitu amonia, maka

fosfolipid akan terhidrasi menghasilkan asam lemak dan bereaksi dengan

amonia membentuk sabun amonia. Sabun tersebut diserap oleh partikel

karet, sehingga lateks bertambah mantap selama penyimpanan. Di samping

itu, protein juga terhidrolisasis membentuk polipeptida dan asam amino

yang larut dalam air. Akan tetapi, jalannya reaksi jauh lebih lambat bila

dibandingkan dengan reaksi pertama (Utama, 2007).

Menurut Goutara et al. (1985), bahan pengawet yang sering

digunakan pada lateks kebun adalah amonia. Amonia berfungsi sebagai

bakterisida dan menaikkan pH lateks, sehingga mempertinggi kemantapan

(27)

   

permukaan karet di dalam lateks, menimbulkan gaya tolak-menolak antara

partikel dengan demikian sistem koloid akan menjadi mantap.

2.3 Karet Alam

Karet alam adalah hidrokarbon yang merupakan makromolekul

poliisoprena (C5H8)n yang bergabung secara ikatan kepala ke ekor. Rantai

poliisoprena tersebut membentuk konfigurasi cis dengan susunan ruang

yang teratur, sehingga rumus kimianya adalah 1,4-cis-poliisoprena dengan

monomer isoprena dalam bentuk 2-metil-1,3-butadiena. Struktur monomer

lateks dapat dilihat pada Gambar 5 dan struktur molekulnya dapat dilihat

pada Gambar 6. Karet yang mempunyai susunan ruang tersebut akan

mempunyai sifat kenyal (elastis). Sifat kenyal tersebut berhubungan dengan

viskositas atau plastisitas karet. Partikel karet tersuspensi (tersebar secara

merata) dalam serum lateks dengan ukuran 0,04 – 3 mikron atau 0,2 milyar

partikel karet per mililiter lateks. Bentuk partikel ini lonjong sampai bulat

(Goutara et al., 1985).

CH3

CH2 = C CH = CH2

Gambar 5. Monomer isoprena (Cowd, 1991)

CH3 H CH3 H

C = C C = C

CH2 CH2 CH2 CH2

Gambar 6. Struktur molekul 1,4-cis-poliisoprena (Cowd, 1991)

Karet alam merupakan partikel yang berukuran pada kisaran antara

0,005μm sampai 3μm serta dilapisi oleh dua buah lapisan yang terdiri dari

protein dan fosfolipid. Lapisan protein dan fosfolipid membentuk sistem

(28)

sedangkan lapisan luar merupakan lapisan hidrofilik. Lapisan hidrofilik

terdiri atas protein dan sabun. Rantai polipeptida protein memiliki

konfigurasi memanjang dengan sisi non polar yang menghadap ke partikel

karet dan sisi polarnya menghadap ke fase cair (Tangpakdee, 1998).

Menurut Goutara et al. (1985), berat molekul karet alam berkisar

antara 250.000 sampai 300.000. Partikel karet tersebut ditutupi oleh selaput

tipis bahan yang terdiri dari protein dan fosfolipida. Jumlah protein berkisar

0,2 persen dan dengan adanya protein karet akan terdispersi. Partikel karet

tersebut memperlihatkan gerakan brown dan akan terhenti bila diberi larutan

CaCl2. Di samping bahan-bahan tersebut, terdapat pula bahan yang disebut

fraksi kuning (yellow fraction). Komposisi partikel karet alam dapat dilihat

pada Tabel 6.

Tabel 6. Komposisi partikel karet alam

Jenis Komponen Komposisi (%)

Hidrokarbon karet

Karet alam digolongkan ke dalam elastomer untuk penggunaan umum

karena dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai jenis dan tipe barang

jadi karet. Penggunaannya sebagai bahan baku barang jadi karet sangat

disukai, karena keunggulan sifat-sifatnya, seperti daya pantul, elastisitas,

daya lengket dan daya cengkeram yang baik serta mudah untuk digiling.

Selain itu, karet alam juga mempunyai beberapa sifat mekanik yang baik,

antara lain memiliki tegangan putus, ketahanan sobek, dan kikis yang baik,

(29)

   

2.4 Lateks Pekat (LP)

Lateks pekat diperoleh dengan memekatkan lateks kebun. Pembuatan

lateks pekat bertujuan untuk meningkatkan kadar karet kering (KKK).

Lateks kebun pekat dengan KKK 60% akan lebih seragam mutunya dan

lebih sesuai untuk pengolahan barang jadi karet. Pembuatan lateks pekat

dapat dilakukan dengan empat metode, yaitu sentrifuse (pemusingan),

pendadihan, penguapan, dan elektrodekantasi. Metode yang paling sering

digunakan adalah metode sentrifuse (pemusingan), karena menghasilkan

kapasitas produksi yang besar, viskositas lateks lebih rendah (tidak kental)

dan hasil lateks lebih murni (tidak tercampur endapan dan kotoran)

(Solichin, 1991).

Untuk mendapatkan lateks pekat, di samping cara pemusingan, masih

ada cara lain yang sering digunakan yaitu cara pendadihan. Dengan

menggunakan cara ini dapat diperoleh lateks dadih dengan kadar padatan

sekitar 68%. Secara umum pendadihan lebih mudah daripada cara

pemusingan, tetapi lateks pekat yang dihasilkan masih banyak mengandung

bahan-bahan bukan karet, misalnya protein dan lemak yang dapat

mengganggu proses berikutnya (Utama, 2007).

Bila lateks disentrifugasi dengan alat “ultra sentrifuge” (dengan

jumlah putaran atau rpm yang sangat tinggi), maka akan terpisah menjadi

tiga bagian (Goutara et al., 1985), yaitu:

1. Fraksi putih (White fraction)

Jumlah fraksi putih adalah 70 – 80% dari isi lateks. Fraksi ini

sangat stabil dan tidak akan menggumpal dalam beberapa hari. Pada

fraksi ini terdapat juga fotofenol, asterol, asam lemak, fesiolipida, dan

resin (damar).

2. Serum C (ambiantcerum)

Serum C mengandung zat yang terlarut seperti asam amino,

karbohidrat, inositol, dan asam organik seperti asam nukleat,

pirofosfat dan askorbat. Karbohidrat terdiri dari glukosa, galaktosa

(30)

glisin, isoleusin, cistin, fenilalanin, valin dan sistein. Alfa globulin

memegang peranan penting dalam stabilisasi butir karet.

3. Fraksi kuning (Yellow fraction)

Fraksi kuning terdapat pada bagian terbawah dari hasil sentrifugasi

yang terdiri dari lutoid dan serum B (bottom fraction cerum). Jumlah

fraksi tersebut adalah 20% dari seluruh lateks. Fraksi kuning tersebut

tidak stabil dan dalam waktu singkat (1 – 2 jam) dapat menggumpal.

Ketidakstabilan tersebut disebabkan adanya partikel lutoida, ion Cu++,

Mg++, Na+, dan K+ yang akan menurunkan elektrokinetis potensial

lateks.

Pada umumnya, pengolahan lateks pekat di Indonesia menggunakan

cara pemusingan (centrifuse), karena kapasitasnya tinggi dan

pemeliharannya lebih mudah. Lateks kebun dengan KKK 28 – 35%

dipusingkan pada kecepatan 5000 – 7000 rpm, sehingga pada bagian atas

alat akan diperoleh lateks pekat dengan KKK 60% dan berat jenis 0,94,

sedangkan di bagian bawah akan dihasilkan skim yang masih mengandung

4 – 8% karet dengan berat jenis 1,02 (Goutara et al., 1985).

Centrifuged latex tersebut dibuat dengan cara memasukkan lateks ke

dalam alat pemusing atau centrifugal machine setelah dibiarkan selama 24

jam. Mesin pemusing harus dijalankan dengan kecepatan yang sesuai dan

suara mesin harus halus. Kadar karet kering yang diinginkan untuk hasil

lateks pusingan adalah 60%, tetapi kadarnya bisa turun 1 – 2% pada proses

produksi. Penambahan amonia dan penyimpanan sering juga mengakibatkan

terjadinya penurunan kadar karet kering (Nazaruddin dan Paimin, 1998).

Prinsip pembuatan lateks pekat dengan sentrifugasi adalah

berdasarkan perbedaan berat jenis antara partikel karet dan serum. Serum

mempunyai berat jenis lebih besar daripada partikel karet, sehingga partikel

karet cenderung naik ke permukaan, sedangkan serum di bawahnya. Partikel

karet dalam lateks mengalami gerak brown, karena terjadi tolak menolak

antar partikel karet yang bermuatan. Lateks yang dimasukkan ke dalam alat

(31)

   

ke luar. Gaya sentrifugal tersebut jauh lebih besar daripada percepatan gaya

berat dan gerak brown, sehingga akan terjadi pemisahan partikel karet

dengan serum. Bagian serum yang mempunyai berat jenis lebih besar akan

terlempar ke bagian luar dan partikel karet akan terkumpul pada bagian

pusat dari poros alat sentrifugasi dan selanjutnya lateks pekat (cream) akan

keluar dari bagian atas dan lateks skim keluar dari bagian bawah (Goutara et

al., 1985).

Selain partikel karet, didalam lateks terdapat bahan-bahan bukan karet

yang berperan penting mengendalikan sifat lateks dan karetnya meskipun

dalam jumlah yang relatif kecil. Lateks segar yang disentrifuse dengan alat

pemusing ultra dengan kecepatan 18000 rpm akan menyebabkan lateks

terpisah menjadi empat fraksi dengan urutan dari atas ke bawah dapat dilihat

pada Tabel 7.

Tabel 7. Fraksi penyusun lateks segar

Lateks

Fraksi Frey Wyssling (5%) Karotenoida Lipid

Serum (50%)

Air

Karbohidrat dan inositol Protein dan turunannya Asam nukleat dan nukleosida Ion anorganik

Ion logam

Fraksi Dasar (10%) Lutoid (vakuolisosom) Sumber: Suparto (2002)

Pemekatan lateks menyebabkan sebagian bahan bukan karet terlarut

bersama serum, sehingga lateks pekat bersifat lebih stabil dan memiliki

komposisi yang lebih baik daripada komposisi lateks kebun. Menurut SNI

(32)

Tabel 8. Syarat mutu lateks pekat

No Jenis Uji Sentrifugasi Metode Amonia Tinggi

Selisih kadar jumlah padatan dengan kadar karet kering maks, %

6. Waktu Kematapan Mekanik

min, detik 650 650

7. Bilangan asam lemak, maks 0,2 g KOH/100 g TS

0,2 g KOH/100 g TS 8. Warna secara inspeksi visual Tidak berwarna biru atau abu-abu

9. Warna setelah dinetralisasi

dengan asam borat Tidak berbau busuk Sumber: SNI 06-3139-1992

Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu lateks pusingan adalah

pengawetan lateks kebun, KKK lateks kebun, pengendapan lateks kebun,

penambahan sabun ammonium laurat sebelum ataupun sesudah

pemusingan, alat dan cara pemusingan, penyimpanan, pengangkutan, dan

cara pengambilan sampel lateks pekat. Lateks pekat bermutu tinggi

diperoleh dengan melakukan pengontrolan dan perlakuan yang baik sejak

dari lateks kebun sampai pada pengambilan sampel lateks pekat (Solichin,

1991).

Menurut Goutara et al. (1985), penentuan mutu lateks pekat dibagi

dalam dua golongan, yaitu sifat yang tidak berubah selama penyimpanan

dan sifat yang dipengaruhi cara penyimpanan serta ion dalam lateks. Sifat

lateks pekat yang tidak dipengaruhi selama penyimpanan adalah kadar karet

kering, alkalinitas, dan kadar jumlah padatan (KJP), sedangkan sifat lateks

yang dipengaruhi oleh cara penyimpanan dan ion dalam lateks adalah asam

(33)

   

(WKM). Kandungan protein total lateks pekat lebih rendah dibandingkan

lateks kebun dan serum skim. Hal ini dikarenakan dalam proses pemekatan

dari lateks kebun menjadi lateks pekat, fraksi-fraksi non karet terpisahkan

dan terbuang sebagai limbah berupa serum dan skim.

2.5 Lateks Double Centrifuge (LP-DS atau LP-KR)

Berkurangnya sifat ketika semen portland digunakan dalam campuran

dengan lateks karet alam dikarenakan oleh bahan non karet dan khususnya

gula yang berada di dalam serum lateks. Bahan non karet tersebut dapat

dikurangi dengan cara sentrifugasi dan lebih lanjut dengan pengenceran

menggunakan air dan sentrifugasi ulang (Nadarajah dan Fernando, 1978).

Cara pembuatan lateks Double Centrifuge sama seperti lateks pekat

tetapi dengan ganda sentrifugasi. Sentrifugasi berulang juga mampu

mengurangi protein yang terdapat dalam lateks sampai 30% (Subramaniam,

1992). Menurut Alfa (2008), lateks pekat yang disentrifugasi berulang akan

menurunkan kandungan karbohidratnya. Lateks tersebut biasanya disebut

lateks DS atau lateks KR. Kadar glukosa atau karbohidrat yang cukup tinggi

dalam lateks akan berpengaruh pada setting semen.

Lateks kebun segar mengandung sekitar 0,4% senyawa golongan

karbohidrat dan penurunan kadarnya dapat dilakukan dengan cara

pemusingan lateks dengan alat sentrifugasi lateks. Selama pemusingan

dengan kecepatan tinggi sekitar 5000 – 7000 rpm, lateks memisah menjadi

bagian serum dan bagian partikel karet yang disebut lateks pekat (Alfa,

2008).

Sebagian besar bahan-bahan non karet ikut terpisah bersama bagian

serum, sehingga jumlahnya dalam lateks pekat menurun. Pemekatan lateks

dengan cara pemusingan menggunakan alat sentrifugasi lateks mampu

menurunkan kadar bahan-bahan non karet menjadi kurang dari setengah

jumlah semula. Penurunan lebih lanjut bahan-bahan non karet dalam lateks

termasuk karbohidrat dapat dilakukan dengan cara sentrifugasi ulang lateks

pekat yang telah diencerkan kembali hingga KKK lateks menjadi 30%. Pada

(34)

lateks pekat dan lateks pekat sentrifugasi berulang. Dengan kadar

karbohidrat yang rendah, sebesar 0,07%, lateks LP-KR hasil sentrifugasi

ganda relatif tidak menghambat setting semen, sehingga teknologi

pemekatan berulang (double centrifuge) ditetapkan sebagai proses produksi

untuk memperoleh lateks berkarbohidrat rendah (lateks LP-KR) yang akan

diaplikasikan sebagai aditif semen atau beton (Alfa, 2008).

Tabel 9. Kadar senyawa golongan karbohidrat dalam lateks

Jenis Lateks Kadar Karbohidrat Dalam Lateks (%)

Lateks kebun

Lateks pekat

Lateks pekat sentrifugasi ganda

0,36

0,16

0,07

Sumber: Alfa (2008)

2.6 Lateks DPNR (Deproteinized Natural Rubber)

Lateks alam berprotein rendah adalah lateks alam yang kadar

nitrogennya telah diturunkan semaksimal mungkin melalui proses

deproteinasi. Lateks alam dengan kadar nitrogen rendah ini dikenal dengan

nama lateks DPNR (Deproteinized Natural Rubber). Kadar protein dihitung

sebagai kadar nitrogen yang diperoleh dengan menggunakan metode

Kjeldhal. Untuk menghitung kadar protein, kandungan nitrogen dikalikan

dengan faktor 6,25.

Pada penelitian Alfa (2003), pembuatan lateks DPNR menggunakan

enzim papain. Papain ini berfungsi sebagai enzim proteolitik untuk

menghidrolisis protein lateks. Dalam pembuatan lateks tersebut tidak

menggunakan amonia, karena aktivitas proteolitik papain berlangsung pada

pH netral. Lateks berpengawet amonia mempunyai pH lebih dari 10,

sehingga aktivitas proteolitik papain tidak sempurna.

Hingga saat ini, belum ada kesamaan persepsi mengenai batasan kadar

nitrogen yang dapat menggolongkan karet sebagai karet DPNR. Batasan

(35)

   

Mengacu pada hasil penelitian Alfa (2003) yang dapat dilihat pada Tabel 10,

yaitu lateks DPNR diklasifikasikan sebagai jenis lateks dengan kandungan

nitrogen maksimal 0,08%.

Tabel 10. Karakteristik lateks alam berprotein rendah

Parameter Lateks DPNR

Kadar Nitrogen (%)

Viskositas Mooney, unit

KKK (%)

KJP (%)

Warna

0,08

47,0

59,5

60,5

Putih susu

Sumber: Alfa (2003)

Bersama-sama dengan fosfolipida, protein merupakan pelindung dari

partikel karet, yang menentukan kestabilan dari larutan koloidal lateks

tersebut. Protein bersama dengan lipida akan menyelubungi partikel karet,

sehingga terbentuk lapisan bermuatan negatif, yang kemudian berikatan

dengan air, membentuk lapisan molekul air sebagai lapisan sekunder

(Barney, 1973). Pada proses sentrifugasi, senyawa nitrogen hasil hidrolisis

protein yang larut dalam air akan terbuang bersama serum dan berkurangnya

senyawa nitrogen tersebut semakin besar jika dilakukan sentrifugasi

berulang.

2.7 Protein dalam Lateks

Protein merupakan polimer alami yang tersusun dari asam-asam

amino. Sebuah asam amino terdiri dari sebuah gugusan amino, sebuah

gugusan karboksil, sebuah atom gugus atom H dan gugusan R yang terikat

pada sebuah atom C yang dikenal sebagai α karbon (Gambar 7). Gugus R

(36)

R

H2N CH COOH

Gambar 7. Struktur asam α amino (Cowd, 1991)

Menurut Winarno (1980), gugus amino –NH2 bersifat basa, sedangkan

gugus karboksil –COOH bersifat asam. Kondisi tersebut memungkinkan

asam amino dapat bereaksi baik dengan asam maupun basa serta

pereaksi-pereaksi lainnya. Asam amino dalam larutan pH netral dalam bentuk ion

dipolar atau ion zwitter. Pada asam amino yang dipolar, gugusan amino

mendapat tambahan sebuah proton dengan gugusan karboksilnya

terdisosiasi. Dua molekul asam amino bergabung membentuk dipeptida, tiga

asam amino membentuk tripeptida dan seterusnya sampai menghasilkan

polipeptida berpolimer (Gambar 8).

H O H O

H R N C H R N C

C C C C

C H R N C H R N

O H O H

Gambar 8. Rantai polipeptida atau protein (Cowd, 1991)

Lipid dan protein dalam lateks berfungsi sebagai jembatan

penghubung antara rantai-rantai polimer. Lipid dari suatu rantai molekul

karet akan saling berikatan dengan protein maupun lipid dari rantai karet

lainnya, sehingga terbentuk jalinan molekul karet yang mempunyai berat

molekul tinggi. Protein dalam karet sangat berpengaruh terhadap sifat fisik

terutama penggumpalan lateks. Sistem emulsi pada lateks bermuatan negatif

yang distabilkan oleh protein dan sabun alami yang terkonsentrasi pada

lapisan antarmuka antara partikel karet dengan air (Cook, 1992), sehingga

(37)

   

2.8 Karbohidrat dalam Lateks

Lateks karet alam mengandung protein, asam amino dan karbohidrat

terutama polyhydric alcohols, quebrachitol, myo-inositol dan sukrosa.

Jumlah karbohidratnya adalah 1% quebrachitol, 0,5% 1-inositol, dan 0,4%

sukrosa yang terdapat dalam lateks kebun. Meskipun jumlah secara aktual

sekarang ini mungkin bervariasi, total kandungan karbohidrat minimum

0,5% yang diharapkan dalam lateks kebun (Nadarajah dan Fernando, 1978).

Gugus HO – C – H pada karbohidrat akan menghambat proses setting

semen, yaitu perubahan dari bentuk pasta menjadi material rigid/kaku.

Quebrachitol, 1-inositol, dan sukrosa mengandung paling sedikit lima gugus

per molekul. Larutan gula dan karbohidrat turunannya sebesar 1% hampir

semuanya menghalangi secara nyata setting dan hardening atau dapat

dikatakan terhambat secara sempurna (Nadarajah dan Fernando, 1978).

Penambahan 0,05% gula memberikan akibat yang kecil terhadap laju

hidrasi, tetapi apabila jumlahnya ditingkatkan menjadi 0,2%, maka hidrasi

dapat menjadi terlambat, seperti final setting tidak mungkin selesai dalam

waktu 72 jam atau lebih.

Penambahan quebrachitol tidak mempengaruhi setting semen tetapi

kekuatan semen mortar menjadi rendah dan dapat diremukkan ketika

ditekan dengan tangan. Hasilnya mengindikasikan bahwa setting dari semen

dipengaruhi kurang baik oleh sukrosa yang terdapat dalam lateks karet alam

dan kekuatannya oleh quebrachitol yang terdapat di dalamnya (Nadarajah

dan Fernando, 1978).

2.9 Semen

Menurut Hidayat (2009), semen merupakan material perekat untuk

kerikil (agregrat kasar), pasir, batubara, dan material sejenis lainnya. Bahan

baku utama untuk memproduksi semen adalah bahan-bahan yang

mengandung mineral kapur (CaO), silika (SiO2), alumina (Al2O3), dan besi

oksida (Fe2O3). Standar Nasional Indonesia (SNI) berlaku untuk semen

yang dipasarkan di seluruh wilayah Indonesia. Beberapa jenis semen yang

(38)

1. Semen Portland Putih (SNI 15-0129-2004)

2. Semen Portland (SNI 15-2049-2004)

3. Semen Portland Komposit (SNI 15-7064-2004)

4. Semen Portland Pozolan (SNI 15-0302-2004)

Semen merk Holcim termasuk ke dalam semen portland komposit.

Semen tersebut dapat digunakan untuk konstruksi umum, seperti pekerjaan

beton, pasangan bata, selokan, jalan, pagar dinding, dan pembuatan elemen

bangunan khusus (seperti beton pracetak, beton pratekan, panel beton, dan

bata beton/paving block). Untuk memenuhi standar SNI 15-7064-2004, ke

dalam semen portland komposit telah ditambahkan bahan anorganik

material tertentu atau kombinasinya guna mendapatkan karakteristik semen

seperti yang diinginkan. Berikut pengaruh yang diberikan mineral aditif

terhadap karakteristik semen (Hidayat, 2009):

• Kalsium karbonat, memberikan dampak pada penurunan bleeding pada sifat campuran segar dan meningkatkan workability, sehingga mudah

dikerjakan, mengurangi kebutuhan air dan pengaruh pada beton keras

(yakni mengurangi retak, memperbaiki homogenitas campuran akibat

turunnya segregasi).

• Abu terbang (fly ash), memberikan pengaruh pada penambahan kuat

tekan akhir (setelah 28 hari) meskipun akan menurunkan laju

perkembangan kuat tekan pada umur awal, memperlambat waktu ikat,

dan memperbaiki ketahanan terhadap sulfat.

Silica fume, memberikan pengaruh pada penurunan bleeding,

meningkatkan cohessiveness dan relatif tidak berpengaruh terhadap

perkembangan kuat tekan.

Reaksi kimia terjadi antara dua materi yang berwujud padat dan cair

yang dimulai dari permukaan materi yang berwujud padat. Reaksi akan

terus berlanjut dan masuk ke dalam partikel materi. Demikian juga dalam

konteks reaksi hidrasi antara partikel-partikel semen dengan molekul air.

(39)

   

(Hidayat, 2009). Fungsi utama semen adalah merekatkan atau mengikat

butir-butir agregat agar membentuk suatu massa padat, dan juga untuk

mengisi rongga-rongga udara di antara butir-butir agregat (Mulyono, 2003).

Senyawa kimia utama yang ada di dalam semen portland adalah

Trikalsium Silikat (3CaO.SiO2; disingkat C3S), Dikalsium Silikat

(2CaO.SiO2; disingkat C2S), Trikalsium Aluminat (3CaO.Al2O3; disingkat

C3A), dan Tetrakalsium Aluminoferrit (4CaO.Al2O3.Fe2O3; disingkat

C4AF). C3S dan C2S adalah bagian yang paling menentukan sifat dari semen

dan menyusun 70 – 80% dari bobot total semen (Mulyono, 2003).

Semen dan air saling bereaksi; persenyawaan tersebut dinamakan

proses hidrasi, sedangkan hasilnya dinamakan hidrasi semen. Senyawa C3S

jika terkena air akan cepat bereaksi dan menghasilkan panas, yang

mempengaruhi kecepatan mengeras sebelum 14 hari. Senyawa C2S bereaksi

dengan air lebih lambat dan hanya berpengaruh terhadap semen setelah

umur 7 hari. Unsur C2S memberikan ketahanan terhadap serangan kimia.

Kedua unsur tadi membutuhkan air 21 – 24 % beratnya untuk terjadi reaksi.

Senyawa C3A bereaksi secara eksotermik dan sangat cepat memberikan

kekuatan awal pada 24 jam pertama. Kebutuhan air untuk senyawa C3A

adalah empat puluh persen dari bobotnya. Senyawa C4AF tidak memiliki

pengaruh yang besar terhadap kekerasan semen atau beton, sehingga

kontribusinya dalam peningkatan kekuatan amat kecil (Mulyono, 2003).

Reaksi hidrasi antara semen dengan air terbagi dalam dua tahap, yaitu

dimulai dengan setting dan dilanjutkan proses hardening. Tahap awal akan

terjadi proses pengikatan, yaitu pasta semen yang awalnya bersifat plastis

dan mudah mengalir, lama-kelamaan adonan pasta semen akan berubah

menjadi lebih kental atau kaku (stiff). Setelah itu, pasta semen akan

mengalami proses pengerasan, pasta semen mulai menunjukan kekuatan dan

nilainya akan meningkat terus sejalan dengan bertambahnya umur (Hidayat,

2009).

Waktu ikat adalah lamanya waktu yang diperlukan semen dari saat

mulai bereaksi dengan air menjadi pasta semen sampai dengan pasta semen

(40)

waktu ikat awal dan waktu ikat akhir. Waktu ikat awal (initial setting time)

adalah waktu dari pencampuran semen dengan air menjadi pasta semen

sampai terjadi kehilangan sifat keplastisan, sedangkan waktu ikat akhir

(final setting time) adalah waktu terjadi pasta semen sampai beton mengeras

atau masa mengeras. Pada semen portland initial setting time berkisar 1 – 2

jam tetapi tidak boleh kurang dari 1 jam, dan final setting time tidak boleh

lebih dari 8 jam. Waktu ikat awal sangat penting dalam kontrol pekerjaan

beton, untuk kasus-kasus tertentu initial setting time kadangkala diperlukan

lebih dari dua jam agar waktu untuk terjadinya ikatan awal lebih panjang.

Waktu yang panjang tersebut diperlukan untuk transportasi, penuangan,

pemadatan, dan penyelesaiannya (Mulyono, 2003).

Konsistensi normal adalah salah satu jenis sifat atau karakter fisik dari

semen portland. Konsistensi yang ada pada semen portland lebih banyak

pengaruhnya pada saat pencampuran awal, yaitu pada saat terjadi

pengikatan sampai pada saat beton mengeras (Mulyono, 2003).

Menurut Hidayat (2009), komposisi untuk beton sederhana sebaiknya

menggunakan komposisi 1 : 2 : 3 (semen : pasir : batu split). Agar lebih

akurat, penimbangan masing-masing material menggunakan perbandingan

berat. Sebaiknya, pencampuran semen dengan pasir dilakukan lebih dahulu

sebelum ditambahkan air. Semen dan pasir yang tidak tercampur merata

dapat mengakibatkan adanya bagian yang terlalu keras, tetapi ada bagian

lain yang lembek atau gampang rontok.

Dalam aplikasi, jika semen hanya dicampur dengan air, maka akan

menghasilkan pasta semen. Namun, jika pasta semen ditambah dengan pasir

akan diperoleh mortar. Mortar (adukan semen) merupakan material pengikat

yang terbuat dari campuran pasir dan semen ditambah air. Mortar dapat

dibuat sederhana atau dengan mesin molen ataupun manual. Mortar dapat

digunakan untuk aplikasi pasangan, plesteran, lantai, dll. Selanjutnya, jika

campuran tersebut ditambah lagi dengan koral atau batu pecah sebagai

agregrat kasar, maka akan menghasilkan material beton (Hidayat, 2009).

Faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pembuatan adukan

(41)

   

meningkat jika adukan bersifat homogen (seragam). Compactibility atau

pemadatan akan diperoleh ketika membuat adukan dengan komposisi yang

tepat, yaitu antara material pasir, semen, dan air (Hidayat, 2009).

Hidayat (2009) menyatakan bahwa agregat merupakan bahan yang

bersifat kaku dan memiliki stabilitas volume dan duralitas yang baik

daripada pasta semen. Untuk menghasilkan beton yang baik, agregat halus

maupun agregat kasar harus memiliki gradasi atau komposisi ukuran yang

proporsional. Ukuran pasir yang digunakan sebaiknya berdasarkan

persyaratan (SNI S-02-1994-03) dengan besar butiran maksimum 4,76 mm.

Jika pasir terlalu kasar, mortar akan sulit menempel, sebaliknya jika terlalu

halus kebutuhan air dan konsumsi semen akan meningkat.

Agregat dapat dibedakan menjadi dua, yaitu agregat halus dan agregat

kasar. Agregat kasar hanya digunakan dalam pembuatan beton, sedangkan

agregat halus digunakan baik pada pembuatan mortar maupun beton.

Agregat halus, berdasarkan ASTM, adalah semua jenis agregat yang

memiliki ukuran kurang dari 4,75 mm, sedangkan agregat kasar adalah

agregat yang memiliki ukuran lebih dari 4,75 mm. Agregat halus biasa

disebut dengan istilah pasir, sedangkan agregat kasar biasa disebut dengan

kerikil (Mulyono, 2003).

Kualitas agregat halus ditentukan dari bentuk, porositas, tekstur, dan

kebersihan agregat tersebut. Bentuk agregat halus yang bulat memiliki

rongga udara yang lebih sedikit dibandingkan agregat halus dengan bentuk

lainnya. Semakin sedikit rongga udara yang ada akan membuat beton yang

dihasilkan semakin kuat. Tekstur permukaan agregat yang halus

membutuhkan air yang lebih sedikit dalam pengerjaan campuran sehingga

kekuatan beton yang dihasilkan akan lebih baik. Kebersihan agregat halus

juga akan menentukan kekuatan beton karena agregat yang bersih akan

menghindarkan beton dari tercampurnya zat–zat yang dapat merusak beton

baik pada saat beton muda maupun ketika sudah mengeras (Mulyono,

2003).

Air sebagai bahan pencampur semen berperan sebagai bahan perekat,

(42)

yang sangat penting. Peranan air sebagai bahan perekat terjadi melalui

reaksi hidrasi, yaitu semen dan air akan membentuk pasta semen dan

mengikat fragmen-fragmen agregat. Air yang digunakan dalam campuran

beton harus memenuhi persyaratan fisika dan kimiawi. Secara umum, air

yang dapat diminum cocok digunakan sebagai air pencampur, sebab telah

memenuhi persyaratan teknis sebagai air pencampur. Dalam penggunaan,

air tidak boleh berlebihan. Air yang berlebihan selain akan menimbulkan

masalah bleeding, yaitu air akan berada di atas adukan setelah beberapa saat

dan dapat juga meningkatkan penguapan air yang akhirnya dapat

menimbulkan retak-retak (Hidayat, 2009).

Pada dasarnya jumlah air yang dibutuhkan untuk proses hidrasi sekitar

25% dari berat semen. Jika air yang digunakan kurang dari 25% maka akan

terjadi kelecakan dan kemudahan dalam pengerjaan (workability) tidak

dapat tercapai. Workability didefinisikan sebagai beton yang mudah

dikerjakan atau dituangkan ke dalam cetakan, mudah diaduk dan dapat

dengan mudah dibentuk. Banyaknya air yang digunakan dalam campuran

semen sering disebut dengan istilah faktor air semen (FAS). FAS dihitung

dengan cara membagi berat air yang digunakan dengan berat semen:

FAS = berat air / berat semen

Semakin banyak air yang digunakan di dalam campuran, maka akan

berakibat pada menurunnya kekuatan beton yang dihasilkan. FAS yang

rendah akan mengakibatkan air yang berada di antara bagian-bagian semen

sedikit dan jarak antar butiran semen menjadi lebih pendek. Nilai faktor air

(43)

   

Gambar 9. Hubungan antara kekuatan tekan beton umur 7 hari dengan

faktor air semen menggunakan semen yang cepat mengeras

(Mulyono, 2003)

Gambar 10. Hubungan antara faktor air semen dengan kekuatan tekan

beton selama masa perkembangannya (Mulyono, 2003)

Kemudahan pengerjaan (workability) berkaitan erat dengan konsumsi

air dan variasi ukuran pasir (gradasi pasir). Begitu pentingnya air dalam

adukan mortar, sehingga untuk mendapatkan workability yang baik,

penggunaan air perlu dijaga sampai diperoleh campuran yang tidak terlalu

kental dan tidak terlalu encer. Selain itu, perlu dihindari penambahan air

pada saat adukan mortar mulai mengering atau setengah kering. Workability

atau kemudahan dalam pengerjaan akan meningkat seiring dengan

meningkatnya kebutuhan air. Semen portland komposit yang mengandung

(44)

sedangkan untuk semen yang mengandung pozzolan alam dan silica fume

cenderung membutuhkan air lebih banyak (Hidayat, 2009).

Menurut Hidayat (2009), keunggulan yang dimiliki beton

dibandingkan dengan material lainnya adalah mempunyai kuat tekan dan

stabilitas volume yang baik dan biaya perawatan relatif lebih murah. Selain

itu, material beton lebih tahan terhadap pengaruh lingkungan, tidak mudah

terbakar, dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. Namun, dibalik

keunggulannya, beton mempunyai beberapa kelemahan, yaitu respon

terhadap beban tarik sangat rendah. Nilai kuat tariknya hanya berkisar

sepersepuluh kuat tekan. Menurut Mulyono (2003), keunggulan beton

lainnya adalah dapat dibentuk dengan mudah sesuai dengan kebutuhan

konstruksi dan mampu menahan beban pikul yang berat. Kekurangan dari

beton adalah sulit mengubah bentuk ketika beton sudah mengeras,

pelaksanaan pekerjaan membutuhkan ketelitian yang tinggi, bobot yang

besar, dan memiliki daya pantul suara yang besar.

Kekuatan beton terbentuk akibat terikatnya partikel-partikel agregat

kasar dan halus oleh pasta semen yang berjalan secara gradual dan

berkelanjutan. Kekuatan beton akan semakin bertambah seiring dengan

bertambahnya umur. Reaksi hidrasi antara semen dan air yang menghasilkan

senyawa calcium silikat hidrat (CSH) sebagai pembentuk kekuatan beton

tidak langsung selesai seketika, tetapi berjalan secara berkelanjutan. Laju

reaksi hidrasi sangat ditentukan oleh derajat kehalusan atau distribusi

ukuran partikel semen.

Kekuatan tekan beton merupakan karakteristik beton yang paling

umum digunakan, terutama dalam perencanaan struktur. Pada umumnya

beton direncanakan hanya untuk menahan gaya tekan. Laju pembebanan

disesuaikan dengan syarat yang ada pada ASTM-C39, yaitu antara 1,43 –

3,47 kg/cm2/detik. Besarnya tegangan tekan adalah besar beban tekan dibagi

dengan luas permukaan tekan. Beban tekan adalah beban tekan maksimum

yang dapat diberikan pada benda uji. Karakteristik penting lain dari beton

(45)

   

Kekuatan beton sangat ditentukan oleh umurnya. Berdasarkan standar,

karakteristik kuat tekan beton ditentukan ketika beton telah berumur 28 hari.

Kekuatan tekan beton akan bertambah dengan naiknya umur beton. Selain

itu juga, kekuatan beton sangat dipengaruhi oleh perbandingan jumlah air

terhadap semen, faktor air semen (FAS) atau (w/c-rasio) ketika membuat

rancangan spesi beton (Hidayat, 2009).

Beton termasuk jenis material yang berpori dan mengandung

retak-retak kecil. Ini terjadi karena secara alami, agregat sebagai material pengisi

beton selalu mengandung pori-pori bawaan. Pasta semen sebagai perekat

agregat adalah hasil reaksi hidrasi yang berjalan secara gradual. Oleh karena

itu, dalam pasta semen akan selalu menyimpan air yang berada dalam

pori-pori kapiler. Reaksi hidrasi berlangsung secra terus-menerus, sehingga

lama-kelamaan jumlah air akan menipis. Hal ini mengakibatkan kandungan

pori-pori kapiler akan berkurang sejalan dengan bertambahnya umur beton

(Hidayat, 2009). Selama proses penuangan spesi beton ke dalam bekisting

atau cetakan, udara akan ikut masuk ke dalam ruangan bekisting atau

cetakan. Oleh sebab itu, untuk memperkecil kandungan rongga udara yang

terjebak dalam beton selama proses penuangan, harus disertai proses

pemadatan dengan menggunakan vibrator. Jumlah rongga-rongga udara

dalam beton yang disarankan berada pada kisaran 1 – 1,5% volume beton

(Hidayat, 2009).

Banyaknya rongga udara di dalam beton akan mengakibatkan

penurunan kekuatan tekan, hal ini dapat dilihat pada Gambar 11. Alat yang

digunakan untuk proses pemadatan dapat berupa tongkat kayu, yang proses

pemadatannya dilakukan secara manual atau dengan menggunakan alat

pemadat mesin berupa vibrator. Penggunaan vibrator biasa dilakukan jika

kapasitas beton yang diproses besar. Proses pemadatan dilakukan sebelum

(46)

Gambar 11. Pengaruh rongga udara terhadap kekuatan tekan beton

(Mulyono, 2003)

Semen portland akan bereaksi dengan air segera setelah tercampur.

Setelah 24 jam, dengan suhu kamar 30 – 40oC, semen mengalami proses

hidrasi. Hal ini ditunjukkan dengan terbentuknya lapisan penutup dengan

bertambahnya kepadatan dan ketebalan yang melapisi partikelnya. Proses

pembentukan beton dapat dilihat pada Gambar 12.

(a) (b)

(47)

   

Keterangan:

Material yang belum terhidrasi

Pori-pori yang terisi air

Ikatan C-S-H

Kalsium Hidroksida

(a). Terjadinya pencampuran pertama

(b). Kondisi beton setelah berumur 7 hari

(c). Kondisi beton setelah bermur 28 hari

(d). Kondisi beton setelah berumur 12 bulan

Gambar 12. Proses terjadinya pengikatan pada beton (Mulyono, 2003)

Setelah beton mencapai final setting, maka langkah terakhir dalam

pengerjaan beton adalah perawatan beton (curing). Perawatan dilakukan

agar proses hidrasi tidak mengalami gangguan yang dapat mengakibatkan

kehilangan air yang terlalu cepat sehingga beton mengalami keretakan.

Proses perawatan ini biasanya dilakukan antara tiga sampai tujuh hari

ataupun lebih. Perawatan ini tidak hanya dimaksudkan untuk mendapatkan

kekuatan tekan beton yang tinggi tapi juga dimaksudkan untuk memperbaiki

mutu dari keawetan beton, kekedapan terhadap air, ketahanan terhadap aus,

serta stabilitas dari dimensi strukur.

2.10 Beton Karet

Beton karet adalah campuran antara beton yang memiliki sifat dasar

keras dengan karet yang memiliki sifat lentur. Kombinasi dari kedua sifat

tersebut dapat memperbaiki sifat jalanan yang terbuat dari beton sehingga

lebih nyaman ketika dilalui (Roestaman et al., 2007).

Penelitian beton karet ini juga telah dilakukan di luar negeri, seperti

Sukontasukkul dan Chaikaew (2005) menggunakan karet bekas (crumb

rubber) berasal dari ban bekas yang digunakan sebagai bahan untuk

menggantikan sebagian dari agregat kasar dan agregat halus dengan

Gambar

Tabel 8. Syarat mutu lateks pekat
Gambar 8. Rantai polipeptida atau protein (Cowd, 1991)
Gambar 10. Hubungan antara faktor air semen dengan kekuatan tekan
Gambar 11. Pengaruh rongga udara terhadap kekuatan tekan beton
+7

Referensi

Dokumen terkait