Tahap 3 : Tahap Pengambilan Keputusan ( Decision Stage )
III. METODOLOGI KAJIAN
3. TAHAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN MATRIKS PERENCANAAN STRATEGIS KUANTITATIF
5.1 Analisis Keunggulan Komparatif Wilayah (LQ)
Suatu wilayah dikatakan memiliki keunggulan komparatif jika wilayah tersebut memiliki komoditas dengan luas areal dan produksi yang tinggi jika dibandingkan dengan wilayah lain yang dinilai pada satu titik tahun. Berdasarkan hasil analisis LQ yang dihitung terhadap Propinsi Jawa Timur sebagai wilayah induk, Kabupaten Pacitan memiliki keunggulan komparatif pada komoditas kelapa baik pada produksi maupun luas arealnya. Hal ini dapat dilihat pada hasil perhitungan LQ berdasarkan luas areal pertanaman maupun produksi yang memberikan hasil angka-angka indeks lebih besar dari satu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kelapa merupakan sektor basis dalam perekonomian wilayah Kabupaten Pacitan.
Jawa Timur sebagai wilayah induk Kabupaten Pacitan, termasuk 10 besar daerah penghasil kelapa di Indonesia. Sentra pertanaman kelapa pada Perkebunan Rakyat di Jawa Timur seluas 284,865 Ha terbagi atas Kabupaten Sumenep 44,408 Ha, Banyuwangi 25,356 Ha, Pacitan 24,113 Ha, Blitar 18,211 Ha, Trenggalek 14,690 Ha, Tulungagung 14,663 Ha, Malang 13,780 Ha, Jember 12,260 Ha, Tuban 10,383 Ha, dan sisanya menyebar di 26 Kabupaten/kota lainnya (Disbun Jatim, 2007)
Hasil analisis LQ yang dilakukan dalam bentuk time-series/ trend dari tahun 2003 – 2006, yang dihitung terhadap Propinsi Jawa Timur sebagai wilayah induk, dapat terlihat bahwa terjadi kenaikan LQ untuk komoditas kelapa di Kabupaten Pacitan. Hasil analisis LQ komoditas kelapa di Kabupaten Pacitan berdasarkan produksi, yang dihitung terhadap Propinsi Jawa Timur sebagai wilayah induk, disajikan pada Tabel 15.
Tabel 15. Hasil Analisis LQ Berdasarkan Produksi yang Dihitung Terhadap Propinsi
Jawa Timur Sebagai Wilayah Induk dari Tahun 2003 - 2006
Tahun Xij (total produksi kelapa di Kab Pacitan Xi (total produksi seluruh komoditas perkebunan di Kab Pacitan X.j (total produksi kelapa di Jawa Timur) X..(total produksi seluruh komoditas perkebunan di Jatim)
LQij Kelapa untuk Kabupaten Pacitan Berdasarkan Produksi
(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
2003 27,948 42,186 261,647 1,333,800 3.38
2005 28,120 42,594 265,452 1.530.407 3.81
2006 29,558 44,016 253,927 1,521,613 4.02
Sedangkan hasil analisis LQ komoditas kelapa di Kabupaten Pacitan
berdasarkan luas area pertanaman, yang dihitung terhadap Propinsi Jawa Timur sebagai wilayah induk, dari tahun 2003 – 2006 disajikan pada Tabel 16.
Tabel 16. Hasil Analisis LQ Berdasarkan Luas Area yang Dihitung Terhadap Propinsi
Jawa Timur Sebagai Wilayah Induk dari Tahun 2003 - 2006
Tahun Xij (total luas area kelapa di Kab Pacitan Xi (total luas area seluruh komoditas perkebunan di Kab Pacitan X.j (total luas area kelapa di Jawa Timur) X..(total luas area seluruh komoditas perkebunan di Jatim)
LQij Kelapa untuk Kabupaten Pacitan Berdasarkan Luas Area
(ha) (ha) (ha) (ha)
2003 23,340 39,563 286.715 849.719 1.75
2004 23,558 40,065 285.585 851.077 1.75
2005 23,714 40,715 289.085 879.895 1.77
2006 24,027 41,695 288.023 858.403 1.72
Hasil analisis LQ yang menggambarkan keunggulan komparatif beberapa komoditas tanaman perkebunan di seluruh kecamatan di Kabupaten Pacitan disajikan pada Tabel 17. Dalam analisis LQ beberapa komoditas perkebunan di kecamatan-kecamatan Kabupaten Pacitan tersebut, digunakan indikator produksi berdasarkan jumlahnya menurut wilayah kecamatan. Keunggulan komparatif suatu komoditas daerah adalah bahwa komoditas itu lebih unggul secara relatif dengan komoditas lain di daerahnya. Pengertian unggul dalam hal ini adalah dalam bentuk perbandingan. Komoditas yang memiliki keunggulan, lebih menguntungkan untuk dikembangkan dibanding dengan komoditas lain yang sama-sama diproduksi oleh daerah tersebut.
Pada Tabel 17 menunjukkan bahwa komoditas kelapa memiliki keunggulan komparatif dan sekaligus menjadi sektor basis di Kecamatan Pacitan, Kecamatan Arjosari, Kecamatan Kebonagung, Kecamatan Punung, Kecamatan Donorojo, Kecamatan Pringkuku dan Kecamatan Tulakan. Total ada 7 (tujuh) kecamatan yang sektor basisnya adalah kelapa.
Komoditas cengkeh memiliki keunggulan komparatif dan menjadi sektor basis di Kecamatan Arjosari, Kecamatan Tegalombo, Kecamatan Bandar,
Kecamatan Nawangan, Kecamatan Sudimoro, dan Kecamatan Ngadirojo. Komoditas melinjo memiliki keunggulan komparatif dan menjadi sektor basis di Kecamatan Arjosari, Kecamatan Tegalombo, Kecamatan Kebonagung, Kecamatan Punung, Kecamatan Donorojo, Kecamatan Pringkuku, dan Kecamatan Tulakan.
Komoditas kopi memiliki keunggulan komparatif dan menjadi sektor basis di Kecamatan Arjosari, Kecamatan Tegalombo, Kecamatan Bandar, dan Kecamatan Nawangan. Komoditas tanaman obat, dalam istilah lokal disebut empon-empon, yang terdiri dari jahe, kunyit, laos, temulawak, dan kencur, memiliki keunggulan komparatif dan menjadi sektor basis di Kecamatan Tegalombo, Kecamatan Bandar, Kecamatan Nawangan dan Kecamatan Ngadirojo. Sedangkan komoditas panili memiliki keunggulan komparatif dan menjadi sektor basis di Kecamatan Bandar, Kecamatan Nawangan dan Kecamatan Sudimoro.
Tabel 17. Hasil Analisis LQ Beberapa Komoditas Perkebunan Berdasarkan Produksi di
Seluruh Kecamatan Kabupaten Pacitan Tahun 2006
No Kecamatan Kelapa Cengkeh Melinjo Kopi Tanaman obat (Empon- empon) Panili 1 Pacitan 1.38 0.01 0.86 0.17 0.12 0 2 Arjosari 1.01 1.11 1.88 1.30 0.59 0 3 Tegalombo 0.46 1.32 1.05 1.26 3.16 0.35 4 Bandar 0.21 1.27 0.54 3.80 3.95 6.12 5 Nawangan 0.26 2.79 0.50 4.11 2.89 5.03 6 Sudimoro 0.76 3.34 0.84 0.77 0.68 1.43 7 Kebonagung 1.31 0.22 1.50 0.83 0.05 0 8 Punung 1.34 0.02 1.56 0.16 0 0 9 Donorojo 1.43 0.01 5.28 0.06 0 0 10 Pringkuku 1.38 0.01 1.29 0.09 0 0 11 Ngadirojo 0.95 1.45 0.77 0.72 1.06 0.75 12 Tulakan 1.09 0.66 1.04 0.57 0.85 0.76
Tabel 17 juga menunjukkan bahwa komoditas kelapa, cengkeh, melinjo dan kopi tersebar merata di seluruh kecamatan. Dengan fakta ini dapat dinyatakan bahwa komoditas kelapa, cengkeh, melinjo dan kopi memiliki karakteristik yang mampu menarik sejumlah pendapatan dari luar daerah kepada
masyarakat melalui kegiatan ekspor dan jasa, sehingga mampu memberikan peningkatan perputaran dan nilai siklus konsumsi yang akhirnya akan memperbaiki perekonomian daerah. Sedangkan komoditas tanaman obat (jahe, temulawak, laos, kunyit, kencur) dan panili hanya tersebar di beberapa kecamatan.
Pengetahuan akan keunggulan komparatif suatu daerah dapat digunakan para penentu kebijakan untuk mendorong perubahan struktur perekonomian daerah ke arah komoditas yang mengandung keunggulan komparatif. Apabila komoditas yang memiliki keunggulan komparatif bagi suatu daerah telah diketahui lebih dahulu, pembangunan berbasis komoditas dapat disegerakan tanpa menunggu tekanan mekanisme pasar yang sering berjalan lambat. Keunggulan komparatif dapat dijadikan pertanda awal bahwa komoditas itu punya prospek untuk juga memiliki keunggulan kompetitif.
Tabel 18. Nilai LQ Komoditas Kelapa Pada Setiap Kecamatan di Kabupaten Pacitan dari Tahun 2003 – 2006. No Kecamatan Tahun 2003 Tahun 2004 Tahun 2005 Tahun 2006 1 Pacitan 1.46 1.46 1.46 1.47 2 Arjosari 0.97 0.99 1.00 1.02 3 Tegalombo 0.79 0.79 0.79 0.79 4 Bandar 0.32 0.32 0.31 0.30 5 Nawangan 0.27 0.27 0.27 0.18 6 Sudimoro 1.09 1.09 1.07 1.08 7 Kebonagung 1.09 1.10 1.09 1.05 8 Punung 1.36 1.36 1.38 1.39 9 Donorojo 1.29 1.30 1.32 1.36 10 Pringkuku 1.35 1.36 1.38 1.40 11 Ngadirojo 0.92 0.91 0.91 0.89 12 Tulakan 0.97 0.96 0.96 0.96
Meskipun saat ini kelapa merupakan komoditas yang memiliki keunggulan komparatif, namun ada kemungkinan hal itu tidak berlangsung terus menerus. Keunggulan komparatif bersifat sangat dinamis, artinya keunggulan komparatif tersebut dapat berubah atau diubah, dan tentu saja dapat pula dikembangkan. Faktor-faktor yang bisa membuat suatu daerah memiliki keunggulan komparatif dapat berupa kondisi alam, yaitu sesuatu yang sudah
given, dan dapat juga karena usaha-usaha manusia. Oleh karena itu semua komponen atau faktor yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi keunggulan komparatif komoditas kelapa harus selalu dijaga dan ditingkatkan. Nilai LQ komoditas kelapa pada setiap kecamatan di Kabupaten Pacitan dari tahun 2003 – 2006 yang disajikan pada Tabel 18.
Tabel 18 menunjukkan bahwa tanaman kelapa merupakan sektor basis dan memiliki keunggulan komparatif yang cenderung bertahan pada Kecamatan Punung, Kecamatan Donorojo, Kecamatan Pringkuku, dan Kecamatan Pacitan. Pada Kecamatan Arjosari sejak tahun 2005, kelapa mulai menjadi sektor basis dan memiliki keunggulan komparatif dibanding komoditas perkebunan lainnya. Sedangkan pada Kecamatan Kebonagung dan Kecamatan Sudimoro, nilai LQ mengalami penurunan, yang berarti sifat keunggulan komparatif kelapa di kedua kecamatan tersebut mengalami penurunan.