FAKTOR EKSTERNAL
7.2 Program Pengembangan Ekonomi Lokal Berbasis Komoditas Kelapa
Dalam rangka memperoleh rumusan program dan kegiatan yang tepat pada pengembangan ekonomi lokal berbasis komoditas kelapa maka dilakukan wawancara dengan sejumlah individu dengan status sosial yang relatif sama,
dengan memfokuskan pada topik yang dibahas. Metode Focus Group
Discussion (FGD) yang merupakan wawancara dan diskusi kelompok, kurang memungkinkan untuk dilakukan mengingat kesibukan dan ketidaksamaan jadwal pada masing-masing pejabat daerah. Dari hasil wawancara individual dengan sejumlah personal kunci, yang diperkuat dengan pengkajian literatur diperoleh rumusan yang paling utama untuk menentukan program pengembangan ekonomi lokal berbasis komoditas kelapa di Kabupaten Pacitan sebagai berikut : A. Pada prioritas strategi pembentukan klaster kelapa dirumuskan program
sebagai berikut:
1) Inisiasi pembentukan klaster,
2) Studi diagnostik dan perencanaan aksi, 3) Penerapan percontohan klaster kelapa,
a) Inventarisasi sumberdaya yang akan digunakan untuk pengembangan klaster
b) Penyusunan model klaster komoditas kelapa c) Pemetaan wilayah percontohan
d) Pembangunan fasilitas (sarana dan prasarana)
4) Monitoring dan evaluasi atas implementasi klaster kelapa 5) Kemandirian dalam pengelolaan manajemen (self-management).
B. Pada prioritas strategi penguatan kapasitas kelembagaan penunjang, dirumuskan program sebagai berikut:
1) Pengembangan kelembagaan sebagai unit produksi yang mencapai skala ekonomi berwawasan agribisnis
a) Perencanaan dan penentuan pola usaha tani yang menguntungkan b) Penyusunan rencana usaha
c) Pengorganisasian kegiatan untuk kepentingan bersama seperti penerapan teknologi tepat guna yang telah disepakati, pengadaan sarana produksi, pemasaran dll.
d) Perbaikan dan peningkatan proses produksi
2) Pengembangan kelembagaan sebagai wahana kerja sama, untuk saling memperkuat, meningkatkan produktivitas dan pendapatan
a) Penetapan kesepakatan atau ketentuan yang wajib diikuti atau dilaksanakan oleh seluruh anggota kelompok, beserta sangsi bagi anggota yang melanggarnya.
b) Pembagian tugas baik pengurus maupun anggota kelompok
c) Tertib administrasi kelompok, meliputi catatan anggota kelompok, inventarisasi kekayaan kelompok, hasil-hasil pertemuan, keuangan, surat menyurat, buku tamu dan lain-lain.
3) Pengembangan kelembagaan sebagai kelompok usaha, untuk melakukan peningkatan usaha secara komersial
a) Analisis potensi pasar dan peluang b) Analisis potensi wilayah
c) Kerja sama kemitraan dengan perusahaan swasta maupun BUMN C. Pada prioritas strategi pemberdayaan kelompok produsen primer maupun
sekunder dan pengembangan SDM, dirumuskan program sebagai berikut: a) Inventarisasi kebutuhan pelatihan baik dalam aspek wawasan,
ketrampilan maupun kepemimpinan bagi para produsen primer maupun sekunder. Hal ini dilakukan agar pelaksanaan pelatihan sesuai dengan harapan dan manfaat.
b) Penyusunan model dan jenis pelatihan yang sesuai.
c) Pendampingan bisnis kepada pengusaha mikro dan kecil yang terintegrasi, komprehensif dan berkelanjutan
d) Peningkatan kualitas dan kuantitas petugas penyuluh lapangan
e) Penggerakan sarjana-sarjana dan lembaga swadaya masyarakat, dengan pembekalan ilmu kewirausahaan dan persiapan untuk melakukan pendampingan dan penguatan pengembangan usaha, serta transfer pengetahuan
D. Pada prioritas strategi membangun forum kemitraan pengembangan ekonomi lokal di tingkat kabupaten dirumuskan program sebagai berikut:
1) Pembentukan jaringan kerjasama antar pelaku usaha melalui penyelenggaraan dan pembentukan forum-forum temu usaha dan lintas pelaku secara reguler.
2) Pengembangan pola-pola kemitraan lokal dengan basis pemberdayaan masyarakat
E. Pada prioritas strategi dukungan teknis pada perbaikan proses dan aplikasi teknologi, dirumuskan program sebagai berikut:
1) Dukungan teknologi dan pendampingan lapangan untuk memperbaiki proses atau meningkatkan kegiatan produksi yang telah ada
2) Pengenalan teknologi tepat guna dan proses adaptasinya
3) Pengenalan kegiatan atau proses produksi yang mengarah pada diversifikasi produk.
F. Pada prioritas strategi penguatan kegiatan promosi penjualan, dirumuskan program sebagai berikut:
1) Pengembangan trading house, yang merupakan kegiatan usaha
bersemangat kemitraan yang berfungsi membantu memasarkan produk olahan kelapa para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah. Trading house juga berfungsi melakukan survey pasar dan mempelajari fenomena pasar dalam rangka menghimpun permintaan pasar, menghimpun pemesanan produk beserta spesifikasi teknis dan mutunya.
2) Mengorganisir pameran dagang lokal atau mengikuti event pameran dagang di tingkat wilayah dan nasional
3) Penyebaran leaflet dan pemasangan iklan produk
G. Pada prioritas strategi branding/ penguatan merek dagang produk kelapa Pacitan, dirumuskan program sebagai berikut:
1) Pendirian klinik layanan kemasan dan merek. Klinik ini berfungsi membantu pelaku usaha mikro, kecil dan koperasi untuk memperbaiki dan mengembangkan sistem pengemasan produk yang dihasilkan serta mengembangkan merek produk. Dengan adanya klinik ini diharapkan produk kelapa Pacitan memperoleh citra positif dari segi mutu dan kesan elitis di mata konsumen.
2) Standarisasi produk, yang meliputi proses produksi maupun kualitas dan ukuran. Hal ini penting untuk menjaga standar mutu yang dikehendaki oleh pasar.
3) Pemasyarakatan Sistem Gugus Kendali Mutu, yaitu suatu sistem dalam manajemen usaha yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas dan mutu produk, dalam rangka meningkatkan daya saing produk yang dihasilkan.
H. Pada prioritas strategi pengembangan pasar domestik dan ekspor, dirumuskan program sebagai berikut:
1) Pengenalan terhadap permintaan pasar dan preferensi konsumen pada pasar domestik maupun pasar ekspor
2) Pengembangan produk turunan kelapa yang berorientasi pasar domestik dan yang berorientasi ekspor
3) Pengembangan kerja sama pengelolaan dan perdagangan produk antar daerah, sub regional dan internasional
4) Pengembangan jaringan pasar lokal, regional dan internasional
5) Pengoptimalan fungsi perwakilan Indonesia di luar negeri untuk promosi dagang internasional
6) Mempelajari, menguasai dan mensosialisasikan aturan-aturan
perdagangan, regulasi ekspor, serta pasar internasional dalam AFTA dan WTO.
I. Pada prioritas strategi pengembangan teknologi informasi pemasaran, dirumuskan program sebagai berikut:
1) Pengembangan sistem informasi melalui sistem database
2) Pemanfaatan media internet (email, chatting, electronic bulletin board dan video conference) untuk pengembangan jaringan pemasaran, komunikasi dan transaksi bisnis
3) Pembangunan situs website yang selalu ter-update.
J. Pada prioritas strategi penciptaan iklim usaha yang kondusif, dirumuskan program sebagai berikut:
1) Peninjauan kembali peraturan-peraturan daerah mengenai pungutan 2) Pengidentifikasian berbagai peraturan mengenai jaminan kepastian
berusaha dan mengembangkan berbagai prosedur yang memberikan kemudahan dalam perijinan
k. Pada prioritas strategi mobilisasi sumber dana untuk pembiayaan dan akses kredit dirumuskan program sebagai berikut:
1) Pembentukan lembaga-lembaga keuangan mikro di wilayah kecamatan/ pedesaan dan lembaga permodalan daerah, dengan penyediaan dana talangan atau penggalangan dana ventura, dalam bentuk skim kredit murah berbunga rendah.
2) Pengembangan kelompok-kelompok pengusaha kecil dan atau koperasi yang dapat mempermudah akses kepada modal usaha investasi
3) Peningkatan kepercayaan perbankan terhadap usaha agribisnis mikro, kecil dan menengah, dengan penyiapan standar proposal layak usaha dan manajemen keuangan usaha
l. Pada prioritas strategi investasi bagi pembangunan infrastruktur (sarana dan prasarana), dirumuskan program sebagai berikut:
1) Inventarisasi kebutuhan
2) Penambahan sarana dan prasarana yang dibutuhkan
3) Pengembangan sistem pemeliharaan (maintenance) atas sarana dan prasarana yang tersedia.