IV. METODE PENELITIAN
4.5 Policy Analysis Matrix (PAM)
4.5.1 Analisis Keuntungan
Kuntungan didefinisikan sebagai penerimaan dikurangi biaya yang dikeluarkan. Analisis keuntungan terdiri dari keuntungan privat dan keuntungan sosial. Keuntungan privat (KP) menunjukkan selisih antara penerimaan dengan harga atau biaya aktual yang terjadi di pasar. Nilai KP yang lebih besar dari nol berarti kebijakan pemerintah atau komoditi yang diusahakan secara finansial menguntungkan. Sebaliknya jika KP kurang dari nol maka kegiatan usaha tidak menguntungkan pada kondisi intervensi pemerintah terhadap input dan output.
Berdasarkan Tabel 9 diperoleh rumus perhitungan keuntungan privat, yakni:
Kuntungan Privat (KP) ; D = A – (B + C) Keterangan:
D = Keuntungan Privat A = Penerimaan Privat
B = Biaya Input Tradable Privat
C = Biaya Input Non Tradable (domestik) Privat
Keuntungan sosial (KS) menunjukkan selisih antara penerimaan dengan biaya yang dinilai dengan harga sosial. Jika nilai KS lebih besar dari nol, kondisi pasar yang terjadi yakni persaingan sempurna, kegiatan pengusahaan komoditi dapat dilanjutkan karena menguntungkan atau dengan kata lain memiliki keunggulan komparatif. Jika nilai KS kurang dari atau sama dengan nol maka
kegiatan usaha tidak menguntungkan secara ekonomi. Adapun rumus untuk menghitung keuntungan sosial berdasarkan Tabel 9 yakni:
Keuntungan Sosial (KS) ; H = E – (F + G) Keterangan:
H = Keuntungan Sosial E = Penerimaan Sosial
F = Biaya Input Tradable Sosial
G = Biaya Input Non Tradable (domestik) Sosial 4.5.2 Analisis Efisiensi
Tingkat efisiensi pengusahaan suatu komoditi dapat dilihat dari dua indikator yaitu indikator keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif.
Keunggulan komparatif dapat dilihat dari nilai Rasio Biaya Private (Private Cost Ratio atau PCR) yakni rasio anatara biaya input domestik privat dengan nilai tambah privat. Jika nilai PCR lebih kecil dari satu, berarti untuk meningkatkan nilai tambah output sebesar satu satuan diperlukan tambahan biaya faktor domestik lebih kecil dari satu satuan. Dengan kata lain pengusahaan komoditi tersebut efisien secara finansial atau memiliki keunggulan kompetitif pada saat kebijakan pemerintah. Sebaliknya jika nilai PCR lebih besar atau sama dengan satu maka untuk meningkatkan nilai tambah output sebesar satu satuan diperlukan tambahan biaya daktor domestik lebih besar dari satu satuan.
Private Cost Ratio (PCR) = C / (A – B) Keterangan:
PCR = Rasio Keuntungan Privat
C = Biaya Input Non Tradable (domestik) Privat A = Penerimaan Privat
B = Biaya Input Tradable Privat
Keunggulan komparatif dilihat dari nilai Rasio Biaya Sumberdaya Domestik (Domestic Resource Cost atau DRC). Jika nilai DRC lebih kecil dari satu maka pengusahaan komoditi efisen secara ekonomi atau memiliki keunggulan komparatif pada kondisi tanpa adanya kebijakan atau nilai tambah yang dihasilkan melebihi biaya sumberdaya domestik yang digunakan. Sedangkan jika nilai DRC lebih dari satu maka penggunaan sumberdaya tidak efisien atau dengan kata lain nilai sosial faktor domestik yang digunakan untuk memproduksi
komoditas tersebut melebihi nilai yang digunakan utnuk memproduksi komoditas tersebut melebihi nilai tambah sosialnya.
Domestic Resource Cost Ratio (DRC) = G / (E – F) Keterangan:
DRC = Rasio Keuntungan Sosial
G = Biaya Input Non Tradable (domestik) Sosial E = Penerimaan Sosial
F = Biaya Input Tradable Sosial 4.5.3 Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah
Dampak kebijakan dalam penerapan PAM meliputi dampak kebijakan pemerintah terhadap output, input dan dampak kebijakan terhadap input-output.
1) Dampak Kebijakan Output
Kebijakan pemerintah terhadap output dijelaskan oleh Nilai Transfer Output (TO) dan Koefisien Proteksi Output Nominal (Nominal Protection Coefficient on Output atau NPCO). Transfer output adalah selisih pendapatan privat dengan pendapatan sosial. Nilai transfer output yang positif menyebabkan timbulnya implisit subsidi atau transfer sumberdaya yang menambah keuntungan.
Dengan kata lain masyarakat membeli produk dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang seharusnya diterima. Jika nilai transfer output bernilai negatif menyebabkan implisit pajak atau transfer sumberdaya yang mengurangi keuntungan. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kebijakan subsidi negatif pada output yang menyebabkan harga privat lebih rendah daripada harga sosialnya.
Untuk output ekspor, angka negatif menunjukkan bahwa kebijakan menyebabkan harga yang output yang diterima oleh produsen di dalam negeri lebih kecil dari harga di pasar dunia. Berdasarkan matrik PAM pada Tabel 9, nilai TO dapat dirumuskan sebagai berikut :
Transfer Output (TO) = A – E Keterangan:
TO = Transfer Faktor A = Penerimaan Privat E = Penerimaan Sosial
Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) merupakan rasio yang dibuat untuk mengukur output transfer (TO) serta menunjukkan seberapa besar harga domestik (harga privat) berbeda dengan harga sosial. Berdasarkan analisis PAM pada Tabel 9, bila NPCO lebih besar dari satu atau positif, berarti harga domestik lebih tinggi daripada harga impor atau ekspor dan pengusahaan komoditi tersebut menerima proteksi. NPCO yang bernilai negatif menunjukkan adanya kebijakan pemerintah, harga privat lebih kecil dari harga dunia, sehingga dapat dikatakan produsen output memberikan transfer kepada pemerintah. Dengan kata lain, harga domestik atau privat tidak di proteksi oleh pemerintah.
Nominal Protection Coefficient on Tradable Output (NPCO) = A / E Keterangan:
NPCO = Rasio Proteksi Output Nominal A = Penerimaan Privat
E = Penerimaan Sosial 2) Dampak Kebijakan Input
Dampak kebijakan pemerintah terhadap input tradable dijelaskan dengan Transfer Input (TI) dan Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI), sedangkan dampak kebijakan input domestik dijelaskan oleh Transfer Faktor (TF) (Tabel 9).
Nilai Transfer Input menujukkan biaya input tradable berbeda dengan biaya sosialnya. Nilai TI positif menunjukkan kebijakan pemerintah pada input tradable menyebabkan keuntungan yang diterima secara privat lebih besar dibandingkan tanpa adanya kebijakan. Nilai TI negatif menunjukkan kebijakan pemerintah menyebabkan keuntungan yang diterima secara finansial lebih kecil dibandingkan tanpa adanya kebijakan.
Transfer Input (TI) = B – F Keterangan:
TI = Transfer Input
B = Input Tradable Privat F = Input Tradable Sosial
NPCI merupakan rasio untuk mengukur transfer input tradable. Rasio ini juga menunjukkan besarnya harga domestik atau privat dari input tradable dengan harga sosialnya. Bila nilai NPCI lebih dari satu menunjukkan biaya input domestik lebih mahal dari biaya input pada tingkat dunia. Dengan kata lain,
kegiatan usaha seolah-olah dibebani pajak yang sangat merugikan produsen. Bila NPCI lebih kecil dari satu, harga domestik lebih rendah atau sama dengan harga dunia, atau adanya hambatan ekspor input, sehingga produksi menggunakan input lokal.
Nominal Protection Coefficient on Tradable Input (NPCI) = B / F Keterangan:
NPCI = Rasio Proteksi Input Nominal B = Input Tradable Privat
F = Input Tradable Sosial
Nilai Transfer Faktor menunjukkan pengaruh kebijakan pemerintah terhadap produsen dan konsumen yang berbeda dengan kebijakan pada input tradable.
Nilai TF menunjukkan besarnya subsidi terhadap input non tradable. Bila nilai transfer faktor negatif berarti terdapat subsidi positif pada input non tradable.
Transfer Faktor (TF) = C – G Keterangan:
TF = Transfer Faktor
C = Biaya Input Non Tradable (domestik) Privat G = Biaya Input Non Tradable (domestik) Sosial 3) Dampak Kebijakan Input – Output
Pengaruh kebijakan Input-Output dapat dijelaskan melalui analisis Koefisien Proteksi Efektif (Effective Protection Coeffisien atau EPC), Transfer Bersih (NT), Koefisien Keuntungan (PC), dan Rasio Subsidi bagi Produsen (SRP). Koefisien Proteksi Efektif (EPC) merupakan rasio antara nilai tambah pada harga privat dengan nilai tambah harga sosial atau analisis gabungan proteksi output dengan proteksi input. Nilai EPC menggambarkan arah kebijakan pemerintah bersifat melindungi atau menghambat produksi domestik secara efektif. Nilai EPC lebih besar dari satu menunjukkan kebijakan untuk melindungi produsen domestik berjalan dengan efektif. Jika EPC lebih kecil dari satu maka kebijakan untuk melindungi produsen domestik tidak berjalan dengan baik.
Effective Protection Coeffisien (EPC) = (A – B) / (E – F)
Keterangan:
EPC = Koefisien Proteksi Efektif A = Penerimaan Privat
B = Biaya Input Tradable Privat E = Penerimaan Sosial
F = Biaya Input Tradable Sosial
Transfer bersih (Net Transfer atau NT) menunjukkan selisih antara keuntungan privat dan keuntungan sosial. Nilai NT juga menggambarkan selisih antara transfer output dengan transfer input. Jika nilai NT lebih besar dari nol, maka nilai tersebut menunjukkan tambahan surplus produsen yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang dilakukan pada input dan output. Sebaliknya NT lebih kecil dari nol maka yang terjadi adalah sebalikya. Berdasarkan Tabel 9 diperoleh rumus net transfer yakni:
Net Transfer (NT) = D – H Keterangan:
NT = Transfer Bersih D = Keuntungan Privat H = Keuntungan Sosial
Koefisien keuntungan (Profitability Coefficient atau PC) adalah rasio antara keuntungan privat dan keuntungan sosial. Nilai PC kurang dari satu menunjukkan kebijakan pemerintah membuat keuntungan yang diterima produsen lebih kecil bila dibandingkan tanpa ada kebijakan. Sebaliknya jika nilai PC lebih dari satu maka kebijakan pemerintah membuat keuntungan yang diterima oleh produsen lebih besar dibandingkan tanpa ada kebijakan.
Profitability Coefficient (PC) = D / H Keterangan:
PC = Koefisien Keuntungan D = Keuntungan Privat H = Keuntungan Sosial
Rasio subsidi bagi produsen (Subsidi Ratio to Producers atau SRP) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur semua dampak transfer. SRP dirumuskan sebagai berikut :
Subsidy Ratio to Produce (SRP) = L / E
Keterangan:
SRP = Rasio Subsidi Produsen L = Keuntungan Efek Divergensi E = Penerimaan Sosial
Subsidi Ratio to Producers (SRP) menunjukkan sejauhmana pendapatan dari usaha meningkat atau menurun karena pengaruh transfer. Nilai SRP negatif menunjukkan kebijakan pemerintah yang berlaku membuat produsen mengeluarkan biaya produksi lebih besar dari biaya imbangan untuk berproduksi dan sebaliknya jika Nilai SRP positif, menunjukkan kebijakan pemerintah yang berlaku membuat produsen mengeluarkan biaya produksi lebih kecil dari biaya imbangan untuk berproduksi.
4.6 Identifikasi Input Output
4.6.1 Alokasi Komponen Input Tradable dan Non Tradable
Dalam Policy Analysis Matrix (PAM), input yang digunakan dalam proses produksi dapat dibedakan menjadi tradable dan non tradable. Kedua komponen di atas merupakan bagian dari pendekatan yang digunakan untuk mengalokasikan biaya kedalam komponen domestik dan asing, yaitu pendekatan total dan pendekatan langsung. Pendekatan langsung mengasumsikan bahwa seluruh biaya input tradable, baik yang diimpor maupun produksi domestik dinilai sebagai komponen biaya asing dan dapat dipergunakan jika tambahan permintaan input tradable dapat dipenuhi dari perdagangan internasional. Dengan kata lain, input non tradable yang bersumber dari pasar domestik ditetapkan sebagai komponen domestik dan input asing yang dipergunakan dalam proses produksi barang non tradable dihitung sebagai komponen biaya asing. Pendekatan total mengasumsikan bahwa setiap biaya input tradable dibagi kedalam biaya domestik dan asing, penambahan input tradable dapat dipenuhi dari produksi domestik jika input tersebut memiliki kemungkinan diproduksi di dalam negeri.
4.6.2 Alokasi Biaya Produksi
Biaya produksi merupakan biaya yang dikeluarkan secara tunai maupun sudah diperhitungkan untuk menghasilkan produk akhir yang siap di pasarkan ataupun dikonsumsi. Penentuan alokasi biaya produksi kedalam komponen asing
dan domestik didasarkan atas jenis input, penilaian biaya input asing dan domestik dalam biaya total input.
Data alokasi biaya produksi komoditas kentang di lokasi penelitian pada Tabel 10 menunjukkan bahwa input produksi bibit kentang, pupuk organik, tenaga kerja, penyusutan peralatan, bunga modal, sewa lahan, dan PBB tidak mengandung komponen asing dalam usahatani kentang. Sedangkan input produksi yang mengandung komponen asing (tradable) yang digunakan dalam penelitian ini adalah pupuk anorganik dan pestisida. Adanya komponen biaya asing (tradable) pada input pupuk anorganik dan pestisida karena bahan baku yang digunakan untuk memproduksi input tersebut masih diperoleh dengan mengimpor dari negara lain.
Tabel 10. Alokasi Biaya Produksi Komoditas Kentang di Lokasi Penelitian
No Biaya Domestik (%) Asing (%)
4.7 Penentuan Harga Bayangan atau Harga Sosial
Dalam analisis ekonomi, harga yang digunakan adalah harga sosial atau harga bayangan, karena harga pasar tidak mencerminkan biaya imbangan sosialnya dan tidak mencerminkan korbanan yang dikeluarkan jika sumberdaya tersebut dipakai untuk kegiatan lain. Harga bayangan dilakukan dengan cara menyesuaikan terhadap penyimpangan harga yang terjadi akibat kebijakan pemerintah (subsidi, pajak, tarif, kebijakan harga) maupun distorsi pasar.
Menurut Gitinger (1986), harga bayangan adalah sebagian harga yang terjadi dalam perekonomian pada kondisi pasar persaingan sempurna dan dalam keadaan kesimbangan sosial yang sama dengan harga pasar aktual. Namun dalam kenyataannya sulit ditemukan kondisi pasar dalam kondisi keseimbangan. Jika diasumsikan bahwa perdagangan di pasar internasional adalah bersaing sempurna, maka harga bayangan untuk input dan output yang bersifat tradable dapat menggunakan harga batas atau harga bayangan (shadow price). Untuk komoditi yang diekpor atau potensial ekspor akan digunakan harga FOB (Free on Board) dan untuk barang yang diimpor akan menggunakan CIF (Cost, Insurance, and Freight). Sedangkan penggunaan Harga bayangan untuk input non tradable menggunakan biaya imbangan (opportunity cost).
4.7.1 Harga Bayangan Output
Harga bayangan output adalah harga output yang terjadi di pasar dunia apabila diberlakukan pasar bebas dan harga yang digunakan adalah harga batas (border price). Harga bayangan output untuk komoditas ekspor atau berpotensi ekspor digunakan harga perbatasan FOB. Sedangkan harga bayangan output untuk komoditas impor digunakan harga perbatasan CIF. Penelitian ini dalam menghitung harga bayangan kentang menggunakan harga CIF karena volume ekspor kentang lebih rendah dibandingkan volume impornya. Harga CIF ini akan dikonversi dengan SER dan dikurangi biaya tataniaga berupa transportasi dan handling dari pelabuhan ke lokasi penelitian.
Penentuan harga CIF dapat dihitung dari harga FOB kentang ditambah dengan biaya Freight and Insurance. Harga kentang FOB yang digunakan berdasarkan harga yang diperoleh Gaomi Youning Primary Product Co., Ltd., yakni 700 US Dollar per Ton9). Harga FOB tersebut kemudian dijumlahkan dengan biaya Freight and Insurance dari China ke Indonesia yang ditentukan dari besarnya pajak yang harus dikeluarkan berdasarkan keputusan Direktorat Jendral Pajak sebesar 10 persen dari harga FOB untuk komoditas yang berasal dari Asia
9Gaomi Youming Primary Product Co., Ltd. 2011 Fresh Chinese Potato
www.alibaba.com/product-gs/417797731/Chinese_fresh_potato_kentang.html (di akses tanggal 8 April 2012)
yang bukan negara anggota Asean10), sehingga nilai CIF yang diperoleh sebesar 770 US Dollar per Ton. Harga CIF dalam mata uang domestik sebesar Rp 6697,03 per kilogram. Harga tersebut sudah dikonversi dengan besarnya harga bayangan nilai tukar (SER) sebesar Rp 8697,44 per US Dollar tahun 2011. Hasil tersebut dikurangi dengan biaya distribusi ke tingkat petani sebesar Rp 800,00 per kilogram kentang, sehingga didapat harga paritas di tingkat petani untuk kentang sebesar Rp 5777,03 per kilogram. Biaya distribusi merupakan jumlah keuntungan yang diperoleh suplier dan biaya distribusi dari provinsi ke desa (Lampiran 3,4).
Diasumsikan harga bayangan yang digunakan untuk kedua lokasi penelitian adalah sama. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pedagang pengumpul di wilayah penelitian tingkat harga yang ditawarkan adalah sama.
4.7.2 Harga Bayangan Input
Perhitungan harga bayangan input yang tradable sama dengan perhitungan harga bayangan output, yaitu dengan menggunakan harga perbatasan (border price), yaitu komoditi ekpor menggunakan harga FOB dan komoditi impor menggunakan CIF. Sedangkan untuk perhitungan harga bayangan input yang non tradable digunakan harga domestik setelah mengeluarkan beberapa faktor domestik.
a) Harga Bayangan Bibit Kentang.
Penentuan harga bayangan bibit kentang didasarkan pada harga yang ada di pasar tempat penelitian. Bibit yang digunakan merupakan bibit pengembangbiakan sendiri yang dilakukan oleh petani berdasarkan dari hasil panen sebelumnya. Bibit digunakan hingga produktivitas kentang menurun ketika panen. Sumber bibit sendiri berasal dari penangkaran kentang daerah Kledung, yakni Kebun Benih Hortilutura (KBH) Kledung. Dilain pihak juga tidak ada campur tangan pemerintah atau kebijaan pemerintah yang mengatur produksi bibit kentang tersebut secara langsung. Sehingga harga bayangan bibit kentang diasumsikan sama dengan harga privat bibit kentang di lokasi penelitian. Untuk Desa Sigedang harga bayangan bibit kentang sebesar Rp 9.648,15 per kilogram.
10Contoh Perhitungan Bea Masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor dan Impor Sementara.
http://www.duniacyber.com/freebies/planning/contoh-perhitungan-bea-masuk-dan-pajak-dalam-rangka-impor-dan-impor-sementara/. (di akses tanggal 8 April 2012)
Sedangkan harga bayangan untuk bibit kentang di Desa Dieng adalah sebesar Rp 5.933,33 per kilogram. Perbedaan harga ini dikarenakan sebagian besar petani di Desa Sigedang menggunakan bibit kentang kualitas yang lebih baik dengan harga yang relatif lebih mahal daripada harga bibit kentang yang berasal dari panen sebelumnya, sehingga harga rata-rata untuk bibit yang digunakan menjadi lebih mahal daripada harga rata-rata bibit kentang di Desa Dieng.
b) Harga Bayangan Pupuk Anorganik
Berdasarkan peraturan menteri pertanian No. 06/Permentan/SR.130 /2/2011, pupuk anorganik adalah pupuk hasil proses rekayasa secara kimia, fisika dan atau biologi, dan merupakan hasil industri atau pabrik pembuat pupuk. Pupuk yang digunakan dalam usahatani kentang terdiri dari beberapa jenis pupuk, diantaranya pupuk Urea, TSP/SP-36, KCL, Za dan NPK. Berdasarkan pertimbangan dalam Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 06/Permentan/SR.130/2011, bahwa untuk meningkatkan kemampuan petani dalam penerapan pemupukan berimbang diperlukan adanya subsidi pupuk. Jenis pupuk yang mendapat subsidi dari pemerintah yakni, pupuk Urea, SP-36, Za, dan NPK. Penentuan harga bayangan pupuk anorganik didasarkan pada pendekatan harga internasional. Hal ini dikarenakan besarnya subsidi masing-masing pupuk tersebut tidak diketahui. Asumsi lain yang digunakan dalam perhitungan harga bayangan pupuk anorganik yakni, harga paritas impor di tingkat pedagang akan ditambah dengan biaya ditribusi hingga ke tingkat petani. Namun pada pupuk Urea harga paritas yang digunakan adalah harga paritas ekspor di tingkat pedagang dikurangi dengan biaya distribusi ketingkat petani karena Indonesia telah mampu mengekspor pupuk Urea ke negara lain. Penentuan harga bayangan pupuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5.
i. Pupuk Urea
Harga bayangan pupuk urea dalam penelitian ini menggunakan harga paritas ekspor karena Indonesia telah mampu mengekspor Urea ke negara lain.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kuangan RI No 356/KMK.06/2003 tentang Tata Cara Perhitungan dan Pembayaran Subsidi Pupuk, besaran subsidi untuk pupuk urea dihitung berdasarkan selisih harga gas sesuai kontrak dengan harga gas yang
dibebankan kepada produsen pupuk kemudian dikalikan volume pemanfaatan gas.
Penentuan harga bayangan pupuk urea didasarkan pada harga FOB urea rata-rata di Black Sea tahun 2011 sebesar 420,96 US Dollar per Ton11), karena jumlah dan tempat terbesar bahan baku Urea berasal dari negara-negara anggota Black Sea.
Nilai tersebut kemudian ditambahkan dengan biaya Freight and Insurance sebesar 63,14 US Dollar per Ton yang berasal dari besarnya pajak yang ditentukan dirjen pajak sebesar 15 persen dari FOB urea rata-rata12). Rata-rata harga bayangan pupuk urea adalah sebesar Rp 3945,09 per kilogram. Nilai tersebut diperoleh setelah di konversi dengan SER dan dikurangi biaya tataniaga.
ii. Pupuk TSP/SP-36
Pada penelitian ini data mengenai besaran subsidi pupuk non urea yang diberikan pemerintah sangat sulit diperoleh, sehingga penentuan harga bayangan pupuk TSP/SP-36 berdasarkan pada harga rata-rata TSP di Tunisia. Seperti Black Sea, Tunisia merupakan salah satu negara penghasil bahan baku pupuk TSP di dunia, sehingga penentuan harga bayangan pupuk TSP berdasarkan FOB rata-rata pada tahun 2011 sebesar 538,26 US Dollar per Ton13). Nilai tersebut kemudian ditambahkan nilai pengapalan dan asuransi sebesar 80,74 US Dollar per Ton, selanjutnya dikalikan nilai tukar bayangan tahun 2011 sebesar Rp 8697,44 per US Dollar, diperoleh Harga CIF sebesar Rp 5383,71 per kilogram. Hingga tingkat pedagang besar harga paritas impor diperoleh sebesar Rp 5472,71 per kilogram, namun setelah ditambah dengan biaya distribusi hingga ke tingkat desa diperoleh harga bayangan sebesar Rp 5618,09 per kilogram.
iii. Pupuk KCL
Penentuan harga bayangan pupuk KCL berdasarkan harga FOB rata-rata Potassium Chloride pada tahun 2011 yakni 435,28 US Dollar per Ton. Penentuan FOB rata-rata di Vancouver ini dikarenakan informasi mengenai subsidi harga tersebut sulit diperoleh. Vancouver merupakan daerah penentuan standard grade Potassium chloride yang merupakan bahan baku pupuk KCL. Harga CIF pupuk
11Worldbank.org
12Contoh Perhitungan Bea Masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor dan Impor Sementara.
http://www.duniacyber.com/freebies/planning/contoh-perhitungan-bea-masuk-dan-pajak-dalam-rangka-impor-dan-impor-sementara/. (di akses tanggal 8 April 2012)
13Worldbank.org
KCL yakni sebesar Rp 4353,69 per kilogram. Nilai tersebut didapatkan dengan menambahkan nilai FOB rata-rata dan kegiatan pengapalan dan asuransi 15 persen dari nilai rata-rata FOB, kemudian dikonversi dengan nilai SER pada tahun 2011 sebesar Rp 8697,44 per US Dollar. Setelah ditambah dengan biaya ditribusi dari provinsi ke desa, harga bayangan pupuk KCL di tingkat petani diperoleh sebesar Rp 4577, 12 per kilogram.
iv. Pupuk Za
Harga bayangan pupuk Za hingga di tingkat petani adalah sebesar Rp 1916,97 per kilogram. Penentuannya didasarkan pada harga FOB rata-rata Ammonium Sulphate di Jiaocheng Sanxi Chemical Co., Ltd., China pada tahun 2011 sebesar 180 US Dollar per Ton. Nilai tersebut ditambah dengan biaya pengapalan dan asuransi (Freight and Insurance) 10 persen dari FOB rata-rata, sehingga didapatkan harga CIF Indonesia sebesar 198 US Dollar per Ton.
Selanjutnya nilai tersebut dikalikan nilai tukar bayangan pada tahun 2011 sebesar Rp 8697,44 per US Dollar. Nilai tersebut kemudian ditambahkan dengan biaya disstribusi dari tingkat provinsi ke tingkat desa, sehingga di dapatkan harga bayangan pupuk Za. Penggunaan FOB dari negara China karena China merupakan salah satu negara pengekspor pupuk Za terbesar untuk Indonesia.
v. Pupuk NPK
Pabrik-pabrik pupuk di Indonesia sebenarnya mampu memproduksi pupuk NPK, namun sulitnya memperoleh data jumlah pupuk NPK yang beredar di pasar dan harga rata-rata pupuk NPK yang beredar di pasar. Penentuan harga bayangan pupuk NPK berdasarkan harga FOB rata-rata di Planer Chemical Fertilizer Industries Co., Ltd., sebesar 350 US Dollar per Ton. Selanjutnya nilai tersebut
Pabrik-pabrik pupuk di Indonesia sebenarnya mampu memproduksi pupuk NPK, namun sulitnya memperoleh data jumlah pupuk NPK yang beredar di pasar dan harga rata-rata pupuk NPK yang beredar di pasar. Penentuan harga bayangan pupuk NPK berdasarkan harga FOB rata-rata di Planer Chemical Fertilizer Industries Co., Ltd., sebesar 350 US Dollar per Ton. Selanjutnya nilai tersebut