• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI JOKO NOVIANTO H

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI JOKO NOVIANTO H"

Copied!
138
0
0

Teks penuh

(1)

1

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG DI

KABUPATEN WONOSOBO

(Kasus: Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah)

SKRIPSI

JOKO NOVIANTO H34080098

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012

(2)

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG DI

KABUPATEN WONOSOBO

(Kasus: Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah)

SKRIPSI

JOKO NOVIANTO H34080098

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012

(3)

RINGKASAN

JOKO NOVIANTO. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Kentang di Kabupaten Wonosobo (Kasus: Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah). Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan HARMINI)

Kentang merupakan salah sau komoditas unggulan subsektor hortikultura.

Hal ini dibuktikan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2011) yang menunjukkan bahwa kentang termasuk salah satu komoditi yang memiliki rata- rata produksi relatif besar bila dibandingkan dengan beberapa jenis sayuran lain.

Namun, produksi yang besar tidak menjamin mampu memenuhi permintaan kentang di Indonesia. Hal tersebut menyebabkan Indonesia tetap melakukan impor kentang untuk memenuhi perminataan pasar akan kentang. Namun tidak menutup kemungkinan bagi Kabupaten Wonosobo sebagai salah satu sentra produksi kentang di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dan dan menjadi pengekspor kentang.

Produksi kentang di Kabupaten Wonosobo sangat dipengaruhi oleh tingkat ketinggian, curah hujan, dan jenis tanah. Tingkat ketinggian dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya distorsi pasar atau kegagalan pasar. Semakin tinggi suatu daerah maka tingkat distorsi pasar atau kegagalan pasarnya akan semakin tinggi.

Dengan kata lain, semakin tinggi suatu daerah maka akan semakin jauh dari pasar dan pada akhirnya pasar cenderung menjadi tidak sempurna. Pasar yang tidak sempurna merupakan salah satu jenis kegagalan pasar atau distorsi pasar yang akan berpengaruh terhadap keunggulan kompetitif dan komparatif kentang.

Berdasarkan hal tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah (1) Menganalisis keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif komoditas kentang di Kabupaten Wonosobo, (2) Menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing komoditas kentang di Kabupaten Wonosobo, dan (3) Menganalisis keunggulan kompetitif dan komperatif kentang apabila terjadi perubahan nilai mata uang, harga output, harga pestisida, dan harga pupuk di Kabupaten Wonosobo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Policy Anaysis Matrix (PAM), dengan pertimbangan metode ini dapat menjawab tujuan penelitian yang ingin dicapai.

Daya saing kentang dapat dilihat dari keunggulan kompetitif dan komparatif yang dimiliki kedua lokasi penelitian. Berdasarkan hasil analisis PAM diketahui nilai Rasio Biaya Privat (PCR) di Desa Sigedang lebih rendah daripada nilai PCR di Desa Dieng. Artinya, komoditas kentang di Desa Sigedang memiliki keunggulan kompetitif yang lebih besar dari usahatani kentang di Desa Dieng pada musim penghujan. Sedangkan nilai Rasio Biaya Sumberdaya Domestik (DRC) di Desa Sigedang sebesar 0,76 lebih kecil daripada nilai DRC di Desa Dieng yakni sebesar 0,84. Hal ini mengindikasikan bahwa komoditas kentang di Desa Sigedang memiliki keunggulan komparatif yang lebih besar bila dibandingkan dengan Desa Dieng.

Dampak kebijakan terhadap pengusahaan kentang di Kabupaten Wonosobo dapat dilihat dari nilai Koefisien Proteksi Efektif (EPC), Transfer Bersih (NT), Koefisien Keuntungan (PC), dan Rasio Subsidi bagi Produsen

(4)

(SRP). Berdasarkan nilai koefisien proteksi efektif yang kurang dari satu menunjukkan bahwa tidak adanya proteksi atau perlindungan pemerintah terhadap petani menyebabkan petani tidak memiliki nilai tambah terhadap harga produknya. Berdasarkan nilai transfer bersih yang negatif menunjukkan adanya surplus produsen atau keuntungan petani yang hilang sehingga penerimaan yang diterima petani menjadi berkurang. Koefisien Keuntungan yang bernilai kurang dari satu mengindikasikan kebijakan pemerintah yang berlaku mengakibatkan keuntungan yang diterima petani kentang lebih kecil daripada tanpa adanya kebijakan. Demikian pula dengan nilai rasio subsidi produsen yang bernilai negatif mengartikan bahwa petani harus membayar lebih tinggi untuk berproduksi daripada nilai tambah keuntungan yang dapat diterimanya.

Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang kemungkinan terjadi dalam sistem ekonomi. Dalam penelitian ini terdapat empat perubahan variabel, yakni perubahan nilai mata uang, perubahan harga output, perubahan harga pestisida, dan perubahan harga pupuk. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdepresiasinya nilai mata uang rupiah terhadap dollar Amerika, harga output kentang naik, harga pestisida menurun, dan harga pupuk mengalami penurunan, memiliki dampak positif terhadap keunggulan kompetitif dan komparatif kedua sistem usahatani. Sebaliknya jika nilai mata uang terapresiasi, harga output kentang turun, harga pestisida dan harga pupuk naik, maka akan menyebabkan keunggulan komparatif dan kompetitif kedua sistem usahatani menurun.

(5)

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS

KENTANG DI KABUPATEN WONOSOBO

(Kasus : Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah)

JOKO NOVIANTO H34080098

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012

(6)

Judul Skripsi : Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Kentang di Kabupaten Wonosobo (Kasus: Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah)

Nama : Joko Novianto

NIM : H34080098

Disetujui, Dosen Pembimbing

Ir. Harmini, M.Si NIP. 19600921 198703 2 002

Diketahui

Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS NIP. 19580908 198403 1 002

Tanggal Lulus :

(7)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Kentang di Kabupaten Wonosobo (Kasus: Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah)” adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Juni 2012

Joko Novianto H34080098

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Karangsari pada tanggal 28 November 1990. Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Supomo dan Ibunda Sri Astuty.

Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 091262 Karangsari Pematangsiantar pada tahun 2002 dan pendidikan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2005 di SLTP Negeri 1 Pematangsiantar. Pendidikan lanjutan menengah atas di SMU Negeri 3 Pematangsiantar diselesaikan pada tahun 2008.

Penulis diterima di Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2008.

Selama mengikuti pendidikan, penulis tercatat sebagai pengurus Himpunan Porfesi Mahasiswa Peminat Agribisnis (HIPMA) IPB pada Career and Creativity Development Departemen (CCDD) periode tahun 2009-2010 dan sebagai Ketua Badan Pengawas Himpunan Profesi Mahasiswa Peminat Agribisnis (BP HIPMA) IPB periode tahun 2010-2011.

(9)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kapada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Kentang di Kabupaten Wonosobo (Kasus: Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah)”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keuntungan pengusahaan komoditas kentang, menganalisis daya saing komoditas kentang, dan menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing komoditas kentang di Kabupaten Wonosobo.

Penulis menyadari bahwa pada skripsi ini masih terdapat kekurangan dan keterbatasan. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Bogor, Juni 2012 Joko Novianto

(10)

UCAPAN TERIMAKASIH

Penyelesaian skripsi ini juga tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan , penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada:

1. Ir. Harmini, M.Si sebagai Dosen Pembimbing atas semua bimbingan, arahan, waktu, motivasi, dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.

2. Dr.Ir.Suharno, M.Adev sebagai Dosen Penguji Utama yang telah meluangkan waktu serta memberikan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini.

3. Yeka Hendra Fatika, SP sebagai Dosen Penguji Akademik yang telah memberikan masukan yang berguna untuk penyempurnaan skrupsi ini.

Seluruh dosen dan staf Departemen Agribisnis yang telah mendidik, memberikan pengalaman dan kasih sayang kepada penulis.

4. Ayahanda Supomo dan Ibunda Sri Astuty yang telah memberikan nasihat, semangat, dan doa yang diberikan. Semoga skripsi ini bisa menjadi persembahan terbaik.

5. Dwi Putra Ananda dan Awish Falah yang selalu memberikan semangat, dukungan, dan pemecah suasana ketika penulis sedang jenuh.

6. Bapak Subarkah dan Bapak Agus beserta keluarga yang telah bersedia memberikan bantuan berupa tempat tinggal dan kasih sayang kepada penulis selama melakukan penelitian di Kecamatan Kejajar.

7. Ibu Lestari Dwi beserta keluarga yang telah banyak direpotkan oleh penulis selama berada di Kabupaten Wonosobo.

8. Anggarini Dianing Safitri, SE dan Steffi Fikri, SE yang telah bersedia membantu penulis ketika penelitian.

9. Okky P Dewanata, SE yang telah bersedia membantu dan membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

10. Tommy, Dharma, Ryan Satria, Luky, Julia, Linda Rosalina, dan agriTRASH yang telah memberikan kekacauan dan semangat kekeluargaan.

11. Herawati,SE, Emil Fatmala, SE, Risty Puspitasari, SE, Vaudhan Fuadi, Andi Facino, Syajaroh Duri, Aklima Dhiska, Jauhar Samudra, Listia Nur Isma, dan

(11)

teman-teman HIPMA lainnya yang telah memberikan nasihat dan rasa kekeluargaan.

12. Restika Raditya, Farah Ratih, dan Tsamaniatul sebagai teman satu bimbingan atas masukan, bimbingan, dan dukungan berupa semangat dan diskusi bersama sehingga penullis dapat menyelesaikan skripsi ini.

13. Teman-teman seperjuangan dan teman-teman Agribisnis 42, 43, 44, 45, 46 dn 47 atas semangat dan persaudaraan yang terjalin selama melakukan studi di Departemen Agribisnis.

14. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, terimakasih atas bantuannya.

Bogor, Juni 2012 Joko Novianto

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 18

1.2 Perumusan Masalah ... 23

1.3 Tujuan Penelitian ... 26

1.4 Manfaat Penelitian ... 26

1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 26

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 28

2.1 Studi Empiris Dayasaing ... 28

2.2 Studi Empiris Kentang ... 34

III. KERANGKA PEMIKIRAN ... 40

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ... 40

3.1.1 Konsep Dayasaing ... 40

3.1.2 Keunggulan Komparatif ... 41

3.1.3 Keunggulan Kompetitif ... 43

3.1.4 Kebijakan Pemerintah ... 44

3.1.5 Teori PAM ... 51

3.1.6 Teori Sensitivitas ... 54

3.2 Kerangka Pemikiran Operasional ... 55

IV. METODE PENELITIAN ... 58

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 58

4.2 Metode Penentuan Sampel ... 58

4.3 Jenis dan Sumber Data ... 59

4.4 Analisis Data ... 59

4.5 Policy Analysis Matrix (PAM) ... 60

4.5.1 Analisis Keuntungan ... 62

4.5.2 Analisis Efisiensi ... 63

4.5.3 Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah ... 64

4.6 Identifikasi Input Output ... 68

4.6.1 Alokasi Komponen Input Tradable dan Non Tradable 68 4.6.2 Alokasi Biaya Produksi ... 68

4.7 Penentuan Harga Bayangan atau Harga Sosial ... 69

4.7.1 Harga Bayangan Output ... 70

4.7.2 Harga Bayangan Input ... 71

4.8 Analisis Sensitivitas ... 79

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 82

5.1 Kabupaten Wonosobo ... 82

(13)

5.2 Kecamatan Kejajar ... 83

5.2.1 Desa Sigedang ... 84

5.2.2 Desa Dieng ... 85

5.3 Karakteristik Petani Responden ... 85

5.4 Gambaran Umum Usahatani Kentang di Lokasi Penelitian... 88

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG ... 96

6.1 Analisis Dayasaing ... 96

6.2 Analisis Keunggulan Kompetitif ... 97

6.3 Analisis Keunggulan Komparatif ... 99

6.4 Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah ... 101

6.4.1 Dampak Kebijakan Output ... 101

6.4.2 Dampak Kebijakan Input ... 103

6.4.3 Dampak Kebijakan Input-Ouput ... 105

6.5 Analisis Sensitivitas ... 107

VII.KESIMPULAN DAN SARAN ... 113

7.1 Kesimpulan ... 113

7.2 Saran ... 113

DAFTAR PUSTAKA ... 98

LAMPIRAN ... 102

(14)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Pertanian

Indonesia Tahun 2005 -2009 ... 1

2. Produksi Sayuran di Indonesia Tahun 2005-2010 (Ton) ... 2

3. Perkembangan Neraca Perdagangan Kentang Indonesia, Tahun 2008-2010 ... 3

4. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Kentang Tahun 2009- 2010 ... 4

5. Luas dan Produksi Tanaman Sayuran Kabupaten Wonosobo (Ton/Ha) ... 5

6. Studi Empiris Yang Berkaitan dengan Penelitian ... 22

7. Klasifikasi Kebijakan Harga Komoditas ... 27

8. Sebaran Petani Sampel di Kecamatan Kejajar ... 42

9. Policy Analysis Matrix (PAM) ... 44

10. Alokasi Biaya Produksi Komoditas Kentang di Lokasi Penelitian ... 52

11.

Penggunaan Lahan Di Kabupaten Wonosobo ... 66

12. Sebaran Petani Responden Berdasarkan Usia ... 69

13. Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Tingkat Pendidikan Formal ... 70

14. Sebaran Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani ... 70

15. Sebaran Responden Berdasarkan Luas Lahan ... 71

16. Sebaran Penggunaan Pupuk Petani berdasarkan Jenis Pupuk di Lokasi Penelitian ... 73

17. Sebaran Tenaga Kerja Berdasarkan HOK di Lokasi Penelitian .. 75

18. PAM Untuk Sistem Usahatani Kentang di Kecamatan Kejajar ... 79

19. Keuntungan Privat (KP) dan Rasio Biaya Privat (PCR) Komoditas Kentang di Kecamatan Kejajar ... 80

20. Keuntungan Sosial (KS) dan Rasio Biaya Sumberdaya Domestik (DRC) Komoditas Kentang di Kecamatan Kejajar ... 82

(15)

21. Nilai Transfer Output (TO) dan Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) ... 85 22. Nilai Transfer Input (TI) dan Koefisien Proteksi Input Nominal

(NPCI) ... 86 23. Nilai Koefisien Proteksi Efektif (EPC), Transfer Bersih (TB),

Koefisien Keuntungan (PC), dan Rasio Subsidi bagi Produsen (SRP) ... 89 24. Perubahan Nilai Keuntungan dan Indikator Daya Saing

Berdasarkan Analisis Sensitivitas di Kecamatan Kejajar ... 91

(16)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Dampak Pajak Terhadap Produsen Komoditas Ekspor ... 29

2. Subsidi Positif Produsen Untuk Barang Impor ... 31

3. Subsidi Positif Konsumen Untuk Barang Impor ... 32

4. Pengaruh Kebijakan Input Tradable ... 33

5. Dampak Subsidi dan Pajak pada Input Non Tradable ... 34

6. Kerangka Pemikiran Operasional ... 40

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Luas Panen Sayur dan Buah Semusim (SBS) Tahun 2010 ... 103 2. Produksi dan Produktivitas Tanaman Sayuran Kabupaten

Wonosobo Tahun 2010 ... 104 3. Perhitungan Harga Bayangan ... 105 4. Perhitungan Harga Bayangan Kentang di Kecamatan Kejajar

(Output) ... 106 5. Perhitungan harga Bayangan Pupuk Anorganik di Kecamatan

Kejajar ... 107 6. Harga Privat dan Harga Sosial Input-Output Kentang di Desa

Sigedang (1500 – 1800 dpl) – Musim Hujan ... 110 7. Harga Privat dan Harga Sosial Input-Output Kentang di Desa

Dieng (lebih dari 2200 dpl) – Musim Hujan ... 111 8. Tabel Input Output Komoditi Kentang Kecamatan Kejajar

Kabupaten Wonosobo - Musim Hujan ... 112 9. Budget Privat dan Budget Sosial Komoditi Kentang Desa

Sigedang (1500 – 1800 dpl), Kabupaten Wonosobo - Musim

Hujan ... ... 113 10. Budget Privat dan Budget Sosial Komoditi Kentang ( lebih dari

2200 dpl) Desa Dieng, Kabupaten Wonosobo - Musim Hujan

... 114 11. Policy Analysis Matrix (PAM) Komoditi Kentang Desa

Sigedang (1500 – 1800 dpl), Kabupaten Wonosobo - Musim

Hujan ... 115 12. Policy Analysis Matrix (PAM) Komoditi Kentang Desa Dieng

(lebih dari 2200 dpl), Kabupaten Wonosobo - Musim Hujan

... 116 13. Policy Analysis Matrix (PAM) Komoditi Kentang Berdasarkan

Analisis Sensitivitas- Musim Hujan ... 117

(18)

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sektor pertanian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia. Pertanian juga dipandang sebagai suatu sektor yang memiliki kemampuan khusus dalam memadukan pertumbuhan dan pemerataan (growth with equity) atau pertumbuhan yang berkualitas. Hal ini ditunjukkan bahwa sekitar 45 persen tenaga kerja bergantung pada sektor pertanian primer maka tidak heran pertanian dapat menjadi basis pertumbuhan terutama di pedesaan (Daryanto, 2009). Kontribusi PDB (Produk Domestik Bruto) sektor pertanian juga menunjukkan bahwa pentingnya membangun pertanian yang berkelanjutan secara konsisten untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Pada tahap awal periode 2005-2009 pertumbuhan PDB masih di bawah target, tetapi pertubuhan PDB terus meningkat, bahkan di tahun 2008 berhasil melampaui target yang ditetapkan (Tabel 1).

Tabel 1. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Pertanian Indonesia Tahun 2005 -2009

Tahun Target (%) Capaian (%)

2005 3,20 2,50

2006 3,40 3,20

2007 3,60 3,40

2008 3,60 5,16

2009 3,80 3,57*

Rata-rata 3,52 3,30

Sumber : Kementrian Pertanian, 2009

*angka sementara

Beberapa subsektor yang tergabung dalam sektor pertanian antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan.

Salah satu subsektor yang dikembangkan yakni subsektor hortikultura.

Berdasarkan pertumbuhan pendapatan nasional, kontribusi hortikultura memperlihatkan kecenderungan meningkat, baik pada keseluruhan PDB hortikultura maupun pada PDB kelompok komoditas hortikultura. Pada tahun 2005, PDB hortikultura sebesar Rp. 61,79 trilyun naik menjadi Rp 89,057 trilyun

(19)

pada tahun 20091). Komoditi hortikultura yang terdiri dari tanaman buah-buahan dan sayuran, merupakan komoditi yang sangat prospektif untuk dikembangkan mengingat potensi sumberdaya manusia, ketersediaan teknologi, serta potensi serapan pasar dalam negeri dan pasar internasional yang terus meningkat. Namun tingkat konsumsi sayuran tahun 2009 besarnya 40,90 kg/ kapita/tahun. Angka tersebut masih lebih rendah bila dibandingkan dengan rekomendasi FAO sebesar 73 kg/kapita/tahun2).

Subsektor hortikultura merupakan subsektor potensial yang mempunyai nilai ekonomi dan permintaan pasar yang tinggi. Hal ini disebabkan Indonesia memiliki berbagai jenis tanaman baik hortikultura tropis ataupun hortikultura subtropis. Subsektor hortikultura memiliki 323 jenis komoditas, diantaranya 60 jenis buah-buahan, 80 jenis sayuran, 66 biofarmaka, dan 117 tanaman hias (Direktorat Jendral Hortikultura, 2008). Salah satu komoditas produk hortikultura yang menjadi unggulan adalah tanaman kentang (Solanum tuberosum L). Kentang merupakan salah satu pangan utama dunia setelah padi, gandum, dan jagung (Wattimena, 2000). Hal ini dibuktikan dengan data yang berasal dari Badan Pusat Statistik (2011) menunjukkan bahwa kentang termasuk salah satu komoditi yang memiliki rata-rata produksi yang relatif besar dibandingkan dengan beberapa jenis sayuran lain (Tabel 2).

Tabel 2. Produksi Sayuran di Indonesia Tahun 2005-2010 (Ton)

Tahun Bawang

Merah Kentang Kubis Cabai Wortel

2005 732,609 1,009,619 1,292,984 1,058,023 440,002

2006 794,931 1,011,911 1,267,745 1,185,057 391,371

2007 802,810 1,003,733 1,288,740 1,128,792 350,161

2008 853,615 1,071,543 1,323,702 1,153,060 367,111

2009 965,164 1,176,304 1,358,113 1,378,727 358,014

2010 1,048,934 1,060,805 1,384,044 1,328,864 403,827

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2011a

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa produksi kentang cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya kecuali pada tahun 2010 produksi kentang

1Pengendalian OPT Hortikultura Melaui Pemberdayaan Pelaku Perlindungan. www.sinartani.com (1 Februari 2012)

2Konsumsi Sayur Masyarakat Indonesia Di bawah Rekomendasi FAO http://aseibssindo.org (di akses tanggal1 Februari 2012)

(20)

mengalami penurunan. Penurunan produksi ini disebabkan karena faktor cuaca, biaya produksi yang semakin mahal, lahan pertanian yang semakin tidak subur dan tidak sehat, serta pengunaan pestisida yang kurang bijaksana menjadi penyebab turunnya produktivitas kentang3). Akan tetapi peningkatan produksi kentang tidak menjamin mampu memenuhi permintaan kentang di Indonesia.

Indonesia tetap melakukan impor kentang untuk memenuhi permintaan pasar akan kentang. Tabel 3 akan memaparkan perkembangan neraca perdagangan kentang Indonesia tahun 2008–2010.

Tabel 3. Perkembangan Neraca Perdagangan Kentang Indonesia, Tahun 2008- 2010

No Uraian 2008 Tahun2009 2010 Rata-rata

1 Ekspor

- Volume (ton)

- Nilai (000 US$) 7.958

2.340 6.320

2.160 6.771

2.426 7.016

2.309 2 Impor

- Volume (ton)

- Nilai (000 US$) 5.345

2.880 11.727

6.698 24.204

14.591 11.977

8.056 3 Neraca Perdagangan

- Volume (ton) - Nilai (000 US$)

2.613 -540

-5.407 -4.538

-17.433 -12.165

-6.742 -5.748 Sumber : Badan Pusat Statistik diolah Pusdatin, 2011bc

Rata-rata volume neraca perdagangan kentang dari tahun 2008-2010 mengalami penurunan sebesar 6.742 ton per tahun dengan rata-rata volume ekspor dan volume impor masing-masing sebesar 7.016 ton dan 11.977 ton per tahun.

Vomule impor kentang meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2010 impor kentang mencapai 24.204 ton tertinggi dibanding pada tahun-tahun sebelumnya.

Sementara pertumbuhan nilai rata-rata neraca perdagangan sebesar 5,748 juta US Dollar per tahun dengan pertumbuhan rata- rata nilai ekspor sebesar 2,309 juta US Dollar dan pertumbuhan rata-rata nilai impor 8,056 juta US Dollar per tahun.

Dalam periode 2008 – 2010 surplus neraca perdagangan hanya terjadi pada tahun 2008 sebesar 2.613 ton dengan nilai sebesar 540 ribu US Dollar. Sedangkan pada tahun 2009 dan 2010 neraca perdagangan kentang mengalami defisit sebesar 5407 ton dan 17.433 ton dengan nilai masing-masing 45,38 juta US Dollar dan 12,16 juta US Dollar.

3Anomali Iklim Turunkan Produktivitas Pertanian www.antaranews.com (diakses tanggal17 November 2011)

(21)

Indonesia memiliki daerah-daerah sentra produksi kentang. Sentra produksi kentang terbesar di Indonesia adalah Jawa Barat dengan kontribusi rata- rata sebesar 33,99 persen dari total produksi kentang Indonesia diikuti Provinsi Jawa Tengah sebesar 21,07 persen, Sulawesi Utara 11,73 persen, Sumatera Utara 11,18 persen dan Jawa Timur 9,20 persen (Pusdatin, 2009). Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi penghasil kentang terbesar kedua setelah Jawa Barat kemudian diikuti oleh Sulawesi Utara, Sumatera Utara, dan Jawa Timur. Hal ini juga dapat dilihat dari besarnya produksi kentang provinsi Jawa Tengah pada tahun 2009 dan tahun 2010 masing-masing sebesar 288,654 dan 265,123 setelah Provinsi Jawa Barat (Tabel 4).

Tabel 4. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Kentang Berdasarkan Provinsi di Indonesia Tahun 2009-2010

Provinsi

Tahun 2009 Tahun 2010

Luas panen (Ha)

Produksi

(Ton) Produktivitas (Ton/Ha)

Luas panen (Ha)

Produksi

(Ton) Produktivitas (Ton/Ha) Sumatera

Utara 8,013 129,587 16.17 7,972 126,203 15.83

J a m b i 5,296 94,368 17.82 4,860 84,794 17.45

Jawa Barat 15,344 320,542 20.89 13,553 275,101 20.3

Jawa

Tengah 18,655 288,654 15.47 17,499 265,123 15.15

Jawa Timur 9,529 125,886 13.21 8,561 115,423 13.48

Sulawesi

Utara 8,740 142,109 16.26 8,555 126,210 14.75

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2011d

Penyebaran dan pengembangan kentang di Indonesia tergantung pada daerah dan kondisi agroklimatnya, lahan dataran tinggi atau pegunungan, serta iklim sangat mendukung baik untuk pengembangan kentang (Sunaryono,2007).

Kabupaten Wonosobo menjadi salah satu penyumbang produksi kentang terbesar di Jawa Tengah. Produksi kentang Kabupaten Wonosobo selama sepuluh tahun terakhir rata-rata mencapai 49,481 ton/tahun, dengan luas lahan yang dimanfaatkan untuk tanaman kentang adalah 2950 hektar4). Berdasarkan Tabel 5, produksi kentang Kabupaten Wonosobo sangat berfluktuatif. Pada tahun 2006 produksi kentang cenderung menurun hingga pada tahun 2010 mengalami

4Kabupaten Wonosobo www.kabupatenwonosobo.com (17 November 2011)

(22)

kenaikan produksi mencapai 48,1661 ton. Selain itu produksi kentang di Kabupaten Wonosobo dalam beberapa tahun belakangan ini kalah bersaing dengan jumlah produksi kubis, dimana jumlah produksi kentang tidak pernah melebihi jumlah produksi kubis. Luas dan jumlah produksi tanaman sayuran di Kabupaten Wonosobo dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Luas dan Produksi Tanaman Sayuran Kabupaten Wonosobo Tahun 2006 – 2010 (Ton/Ha)

Tahu n

Bawang

Merah Kentang Kubis Cabai Wortel

Luas pane

n

Produk si

Luas pane

n

Produk si

Luas pane

n

Produk si

Luas pane

n

Produk si

Luas pane

n

Produ ksi

2006 1 3,5 3000 47,970 3613 70,374 2153 9,674 167 2,537

2007 - - 2639 39,676 3934 72,370 2132 10,187 268 4,141

2008 - - 2826 44,768 3221 59,686 2485 11,498 394 5,116

2009 - - 3013 44,467 3638 64,009 803 5,692 321 4,731

2010 35 7,0 3187 48,166 3445 59,961 898 6,580 354 5,238

Sumber :Dinas Pertanian Kabupaten Wonosobo,2011

Kentang dapat dijadikan sebagai komoditas hortikultura unggulan seharusnya mendapat perhatian dari pemerintah pusat atau Kabupaten Wonosobo untuk mendorong meningkatkan dayasaing kentang. Namun yang terjadi pada komoditas kentang di Indonesia adalah berfluktuatifnya volume ekspor dan meningkatnya impor (Tabel 3). Dengan kata lain menunjukkan bahwa jumlah impor kentang lebih besar daripada ekspor kentang. Hal ini akan menimbulkan kekhawatiran bagi petani kentang karena akan terjadi persaingan dengan produk- produk kentang impor. Selain itu juga memungkinkan produk kentang impor dapat menguasai pasar kentang di Indonesia, sehingga akan mengancam produksi kentang dan petani kentang, karena yang akan menerima dampak karena adanya impor kentang ini adalah petani kentang.

Rendahnya ekspor kentang Indonesia daripada impor kentang tidak menutup kemungkinan Indonesia dapat menjadi pengekspor kentang. Kabupaten Wonosobo sebagai salah satu sentra produksi kentang di Jawa Tengah bahkan Indonesia diharapkan mampu untuk memenuhi dan mensubstitusi produk kentang impor tersebut. Berdasarkan hal tersebut langkah awal yang dilakukan adalah

(23)

menganalisis dayasaing kentang terlebih dahulu untuk meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimiliki.

1.2 Perumusan Masalah

Sektor hortikultura merupakan salah satu penggerak utama (prime mover) perekonomian daerah dan nasional. Produksi kentang di Indonesia cenderung mengalami peningkatan selama tahun 2005 – 2010 (Tabel 2). Adanya perdagangan bebas membuka peluang untuk menembus pasar internasional.

Namun, untuk dapat bersaing dalam pasar Internasional, petani atau produsen dituntut untuk menghasilkan tanaman kentang yang memiliki kualitas dan kuantitas yang baik agar mampu bersaing dengan produk sejenis yang ada di pasar internasional. Dalam kurun rentang waktu yang sama impor kentang juga meningkat tajam. Impor kentang masih dilakukan untuk memenuhi permintaan beberapa konsumen yang membutuhkan kentang dengan karakterstik tertentu karena produsen dalam negeri belum bisa memenuhi karakteristik yang diminta (Sailah, 1999).

Kentang merupakan salah satu komoditi hortikultura unggulan Kabupaten Wonosobo yang memiliki angka produksi yang cukup tinggi selain bawang merah, kubis, cabai, dan wortel. Kentang biasanya diperdagangkan dalam bentuk segar ke beberapa wilayah di Indonesia. Produksi kentang di Kabupaten Wonosobo pada tahun 2010 mencapai 48,17 ton dengan produktivitas sebesar 15,11 ton per hektar (Lampiran 1). Namun pada tahun 2009 produksi kentang sempat mengalami penurunan sebesar 44,47 ton meskipun pada saat itu terjadi peningkatan luas panen (Tabel 5).

Berfluktuatifnya produksi dan produktivitas kentang disebabkan beberapa kendala diantaranya rendahnya kualitas dan kuantitas bibit kentang, yang merupakan issue utama dalam usaha peningkatan produksi kentang, teknik budidaya yang masih konvensional, faktor topografi yakni daerah dengan ketinggian tempat dan temperatur yang sesuai untuk penanaman kentang, dan Indonesia merupakan daerah tropis yang sangat mendukung perkembangbiakan hama dan penyakit tanaman kentang (Kuntjoro, 2000). Selain itu perbedaan dalam penggunaan input usahatani juga akan berpengaruh terhadap produktivitas dan produksi kentang. Penggunaan input pada musim hujan juga akan berbeda dengan

(24)

penggunaan input pada musim panas. Dalam penelitian ini juga melihat pengaruh penggunaan input pada musim hujan terhadap produksi dan produktivitas kentang yang akan berpengaruh terhadap dayasaing kentang.

Pemerintah memiliki peran penting dalam mengembangkan pengusahaan kentang melalui kebijakan-kebijakan yang nantinya akan menentukan apakah kebijakan tersebut bermanfaat atau memberikan dampak negatif terhadap dayasaing kentang. Terdapat tiga kebijakan yang mempengaruhi dayasaing sektor pertanian yaitu, kebijakan harga, kebijakan makroekonomi, dan kebijakan investasi publik (Pearson, 2005).

Kebijakan harga yang diterapkan pemerintah melalui intervensi pemerintah berdasarkan peraturan menteri keuangan No.241/PMK.011/2010 tentang kenaikan pajak impor sebesar lima persen atas bahan baku produksi pertanian seperti pupuk, bibit, dan obat-obatan menyebabkan biaya produksi yang harus dikeluarkan petani menjadi lebih tinggi. Kebijakan ini mengisyaratkan bahwa akan adanya subsidi yang diberikan pemerintah kepada petani untuk mengurangi beban biaya produksi petani, seperti subsidi pupuk. Namun kebijakan subsidi pupuk ini kenyataannya tidak menguntungkan petani. Hal ini didukung oleh Falatehan (2012) yang menyebutkan bahwa kebijakan subsidi pupuk hasilnya belum optimal, dikarenakan di lapangan harga pupuk terjadi di atas harga eceran tertinggi.

Tingginya produksi kentang di Kabupaten Wonosobo seharusnya mampu menyejahterahkan masyarakat khususnya petani kentang. Akan tetapi peningkatan produksi ini tidak diiringi dengan meningkatnya pendapatan para petani. Petani masih harus dihadapkan dengan kebijakan pemerintah yang seringkali merugikan petani, seperti kebijakan pemerintah tentang penurunan tarif bea masuk impor kentang. Pada Juni tahun 2011, kentang impor yang beredar di Indonesia mencapai 50 ribu ton yang berasal dari Cina dan India dengan harga di bawah standar5). Dengan banyaknya jumlah kentang yang beredar di pasaran dengan harga yang jauh lebih murah mengakibatkan kentang lokal tidak mampu bersaing dengan kentang impor. Kebijakan makroekonomi seperti ini sangat erat kaitannya dengan kebijakan harga. Contoh lain seperti kebijakan nilai tukar, secara tidak

5Impor Kentang, Menteri Pertanian Akui Tak Koordinasi Dengan Mendag www.tempo.co (17 November 2011)

(25)

langsung akan berpengaruh terhadap biaya produksi terutama untuk faktor produksi yang masih diimpor dan secara langsung akan berpengaruh terhadap harga kentang yang akan diekspor. Masalah permodalan dan karakteristik komoditas pertanian yang mudah rusak (perishable) juga membutuhkan penanganan yang baik agar tidak menurunkan kualitas dari produk pertanian itu sendiri. Permasalahan yang sudah dikemukakan semestinya ditanggulangi oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat dengan membuat rumusan dan implementasi kebijakan yang mampu menciptakan kondisi yang sesuai bagi keberlangsungan kegiatan produksi kentang di Kabupaten Wonosobo.

Sementara itu di luar konteks kebijakan yang dibuat pemerintah, Molua (2005) menyebutkan bahwa terdapat beberapa karakteristik dalam sosial ekonomi pertanian yang mempengaruhi maksimalisasi pendapatan usahatani antara lain, yakni tenaga kerja terampil, sumber kredit pertanian, jumlah tanaman per luas lahan, agro-ekologi (jenis tanah dataran tinggi atau dataran rendah), dan curah hujan. Sebagian besar keadaan georafis Kabupaten Wonosobo adalah dataran tinggi. Tingkat ketinggian dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya distorsi pasar atau kegagalan pasar. Semakin tinggi suatu daerah maka tingkat distorsi pasar atau kegagalan pasarnya akan semakin tinggi. Dengan kata lain, semakin tinggi suatu daerah maka akan semakin jauh dari pasar dan pada akhirnya pasar cenderung menjadi tidak sempurna. Pasar yang tidak sempurna merupakan salah satu jenis kegagalan pasar atau distorsi pasar yang akan berpengaruh terhadap keunggulan kompetitif dan komparatif kentang.

Untuk membuktikan hal diatas, pada penelitian ini akan dilihat daerah mana yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif yang lebih besar satu sama lain. Dengan asumsi untuk usahatani kentang pada ketinggian diantara 1500 – 1800 meter dpl (di atas permukaan laut) merupakan daerah dengan ketinggian rendah dan dekat dengan pasar dan usahatani kentang pada ketinggian lebih dari 2200 meter dpl (di atas permukaan laut) merupakan daerah tinggi dan semakin jauh dari pasar. Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh tingkat ketinggian usahatani kentang terhadap keunggulan komparatif dan kompetitif di Kabupaten Wonosobo?

(26)

2. Bagaimana dampak kebijakan pemerintah terhadap dayasaing komoditas kentang di Kabupaten Wonosobo?

3. Bagaimana keunggulan kompetitif dan komperatif kentang apabila terjadi perubahan nilai mata uang, harga output, harga pestisida, dan harga pupuk di Kabupaten Wonosobo?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dilakukan penelitian ini adalah :

1. Menganalisis keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif komoditas kentang di Kabupaten Wonosobo.

2. Menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap dayasaing komoditas kentang di Kabupaten Wonosobo.

3. Menganalisis keunggulan kompetitif dan komperatif kentang apabila terjadi perubahan nilai mata uang, harga output, harga pestisida, dan harga pupuk di Kabupaten Wonosobo.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini merupakan analisis dayasaing komoditas kentang dengan mempertimbangkan kebijakan pemerintah baik dalam produksi maupun pemasaran. Analisis dayasaing ini dihasilkan dari kegiatan usahatani kentang yang dilakukan di salah satu Kecamatan sentra produksi kentang di Kabupaten Wonosobo. Diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi petani kentang maupun bagi para peneliti yang selanjutnya dijadikan bahan perbandingan.

Sementara hasil dampak kebijakan dapat dijadikan acuan dan bahan pertimbangan bagi pemerintah pusat ataupun daerah dalam merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan yang lebih efektif dan efisien bagi pengembangan komoditas kentang khususnya maupun pertanian pada umumnya.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Berdasarkan pada permasalahan dan tujuan penelitian serta adanya keterbatasan sumberdaya menimbulkan beberapa keterbatasan dalam penelitian ini, yaitu : (1) Komoditas yang dianalisis adalah kentang yang merupakan salah satu komoditas unggulan Kabupaten Wonosobo di wilayah Kecamatan Kejajar,

(27)

(2) Analisis dilakukan pada tingkat usahatani, (3) Penelitian ini terbatas pada data yang tersedia dari berbagai aspek ekonomi pada usahatani kentang yang ada di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.

(28)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Studi Empiris Dayasaing

Pada dasarnya cakupan dayasaing tidak hanya pada suatu Negara, melainkan dapat diterapkan pada suatu komoditas, sektor atau bidang, dan wilayah. Pengembangan komoditas di daerah sesuai dengan kondisi sumberdaya alam untuk meningkatkan dayasaing memberikan banyak manfaat, selain dapat meningkatkan efisiensi, menjaga kelestarian sumberdaya alam, juga dapat meningkatkan aktivitas pertanian dan perdagangan sehingga mampu meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan masyarakat. Banyak penelitian yang berkaitan dengan penetapan komoditas di daerah tertentu untuk meningkatkan dayasaing karena banyak manfaat yang dihasilkan, terutama untuk meningkatkan perekonomian daerah berbasiskan sumberdaya lokal. Seperti daerah Sukabumi yang memiliki potensi alam dalam sektor perikanan baik perikanan tangkap maupun budidaya (Fadillah, 2011), atau daerah Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara yang memiliki potensi tanaman pangan jagung (Mantau, Bahtiar, Aryanto, 2009).

Adapun metode yang dapat digunakan untuk menghitung maupun menilai dayasaing suatu komoditas pertanian antara lain Revealed Competitive Adventage (RCA), Berlian porter, dan Policy Analysis Matrix (PAM). Revealed Competitive Adventage (RCA) dapat digunakan untuk mengukur keunggulan kompetitif suatu komoditas dalam kondisi perekonomian aktual. Berbeda dengan metode Revealed Competitive Adventage (RCA), metode Berlian Porter digunakan untuk mengukur dan menganalisis keunggulan kompetitif suatu komoditas. Sedangkan Policy Analysis Matrix (PAM) merupakan metode yang menggunakan tiga analisis ukuran yakni keuntungan privat, keuntungan sosial atau ekonomi, dan analisis dayasaing berupa keunggulan komparatif dan kompetitif serta analisis dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas.

Pendekatan untuk meningkatkan dayasaing suatu komoditas adalah tingkat keuntungan yang dihasilkan dan efisiensi dalam pengusahaan komoditas tersebut.

Keuntungannya dapat dilihat dari dua hal, yakni keuntungan privat dan keuntungan sosial. Sedangkan efisiensi perusahaan dilihat dari dua indikator yakni

(29)

keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Dengan analisis perbedaan harga harga finansial dan ekonomi dapat diketahui nilai dayasaing suatu komoditas dan bagaimana dampak kebijakan yang dilakukan pemerintah terhadap penerimaan petani.

Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya dayasaing pada umumnya terdiri dari teknologi, produktivitas, harga, biaya input, struktur industri, kualitas permintaan domestik dan ekspor. Faktor-faktor tersebut dapat dibedakan menjadi (1) faktor yang dikendalikan oleh unit usaha, seperti strategi produk, teknologi, pelatihan, riset dan pengembangan, (2) faktor yang dikendalikan oleh pemerintah, seperti lingkungan bisnis (pajak, suku bunga, exchange rate), kebijakan perdagangan, kebijakan riset dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan, dan regulasi pemerintah, (3) faktor semi terkendali, seperti kebijakan harga input, dan kualitas permintaan domestik, dan (4) faktor yang tidak dapat dikendalikan seperti lingkungan alam (Feryanto, 2010).

Penelitian tentang dayasaing bukanlah yang pertama kali, Dewanata (2011) melakukan penelitian tentang Analisis Dayasaing dan Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Jeruk Siam di Kabupaten Garut Jawa Barat.

Tujuan dari penelitian ini antara lain menganalisis pengaruh teknologi terhadap keunggulan komparatif dan kompetitif jeruk siam di Kabupaten Garut, Menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap dayasaing pengusahaan jeruk siam di Kabupaten Garut, Menganalisis keunggulan kompratif dan keunggulan kompetitif jeruk siam apabila terjadi perubahan nilai tukar rupiah, harga jual jeruk siam domestik, dan kenaikan harga pupuk di Kabupaten Garut.

Penelitian ini menggunakan alat analisis PAM (Policy Analysis Matrix) untuk mengukur keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif serta dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas jeruk siam.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komoditas jeruk siam memiliki keunggulan kompetitif dengan menggunakan teknologi tradisional dibandingkan menggunakan teknologi modern. Hal ini ditunjukkan oleh nilai PRC dengan teknologi tradisional (0,80) lebih kecil dibandingkan nilai PRC dengan teknologi modern (0,84). Akan tetapi penggunakan teknologi tradisional tidak mempunyai keunggulan komparatif jika dibandingkan dengan teknologi modern, karena nilai

(30)

DRC teknologi modern (0,71) lebih kecil dibandingkan dengan DRC teknologi tradisional (0,76). Kebijakan pemerintah juga belum mendukung dalam hal pengembangan dan peningkatan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif pengusahaan jeruk siam di Kabupaten Garut. Pemerintah tidak memberikan proteksi terhadap sistem produksi sehingga harga jual jeruk berada di bawah harga efisien. Selain itu kebijakan terhadap faktor input-output menyebabkan petani kehilangan keuntungan.

Pupitasari (2011) meneliti tentang Analisis Dayasaing dan Dampak Kebijakan Permerintah terhadap Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok.

Dengan tujuan antara lain, manganalisis dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok, menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap dayasaing komoditas belimbing dewa di kota depok, dan menganalisis dampak perubahan harga buah belimbing, upah tenaga kerja, harga pupuk, dan jumlah output belimbing yang dihasilkan terhadap dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Penelitian ini juga menggunakan PAM (Policy Analysis Matrix) sebagai alat analisis untuk mengukur dayasaing belimbing dewa melalui indikator kompetitif dan komparatif serta dampak kebijkan pemerintah pada suatu sistem komoditas.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengusahaan komoditas belimbing dewa di kota depok memiliki keunggulan kompetif dan komparatif. Hal ini ditunjukkan dengan nilai keunggulan privat dan sosial yang bernilai positif.

Selain itu komoditas belimbing dewa juga memiliki peluang ekspor yang cukup besar serta mampu bersaing di pasar internasional dan pasar domestik yang dipenuihi oleh produk impor sejenis. Kebijakan output yang dilakukan pemerintah mampu meningkatkan keunggulan kompetitif yang dimiliki komoditas belimbing dewa, sedangkan kebijakan input berpengaruh negatif terhadap keunggulan komparatif belimbing dewa. Kebijakan pemerintah terhadap input output dinilai mampu mendukung pengembangan dan peningkatan dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok yang ditunjukkan oleh nilai transfer bersih yang bernilai positif.

Penelitian Dewanata (2011) dan Pupitasari (2011) menggunakan metode analisis PAM, berbeda dengan Fadillah (2011) yang menggunakan metode Teori

(31)

Berlian Porter untuk menganalisis Dayasaing Komoditas Unggulan Perikanan Tangkap di Kabupaten Sukabumi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi komoditas-komoditas unggulan perikanan tangkap di Kabupaten Sukabumi, menganalisis kondisi sistem agribisnis komoditas unggulan perikanan tangkap Kabupaten Sukabumi, dan Menganalisis kondisi dayasaing komoditas unggulan perikanan tangkap Kabupaten Sukabumi. Selain menggunakan Metode Berlian Porter yang digunakan untuk analisis deskriftif kualitatif, peneliti juga menggunakan Analisis Location Quotient (LQ) untuk menganalisis data secara kuantitatif.

Hasil perhitungan nilai LQ menunjukkan bahwa ikan Kuwe, Tembang, Lisong, Cakalang, Albaroka, Madidihang, Tuna Mata Besar, Layu Kakap Putih, dan Belanak memiliki keunggulan secara komparatif di Kabupaten Sukabumi.

Sedangkan berdasarkan Teori Berlian Porter disimpulkan bahwa komoditas unggulan perikanan tangkap di Kabupaten Sukabumi belum memiliki dayasaing yang optimal karena masih terdapat kendala dalam tiap komponen dayasaing.

Kendala tersebut dapat di atasi dengan adanya peran pemerintah dan faktor kesempatan yang mendukung kemajuan sektor perikanan. Berdasarkan analisis keterkaitan antar komponen utama disimpulkan bahwa sebagian keterkaitan antar komponen utama saling mendukung dan sebagian tidak mendukung. Sedangkan pemerintah memiliki peran yang mendukung semua komponen utama dan peran kesempatan juga mendukung semua komponen utama kecuali tidak terkait dengan struktur pasar, persaingan, dan strategi perusahaan.

Dalam penelitian yang dilakukan Oguntade (2009) dengan judul penelitian Assessment Of Protection and Comparatif Advantage In Rice Processing in Nigeria, memiliki tujuan untuk menentukan seberapa besar nilai tambah teknologi pengolahan padi menjadi beras giling dan pengaruhnya terhadap keunggulan komparatif dan kompetitif pengolahan beras di Nigeria dengan menggunakan alat analisis Policy Analysis Matrix (PAM).

Hasil analisis menunjukkan bahwa kebijakan yang dilakukan pemerintah sangat baik. Hal ini ditunjukkan dengan nilai EPC lebih besar dari satu, dengan kata lain, bahwa kebijakan untuk melindungi produsen sangat baik. Namun dari segi keunggulan bersaingnya, bahwa teknologi pengolahan padi di Nigeria ini

(32)

hanya memiliki keunggulan kompetitif, karena memiliki keuntungan privat yang lebih besar dari nol, yakni 9,445 dan didukung dengan nilai PCR yang kurang dari satu, yakni 0,78. Namun pengolahan padi ini tidak memiliki keunggulan komparatif, karena nilai keuntungan sosial yang dimiliki bernilai negatif, -26,256 dengan DRC mencapai 4,88, dengan kata lain untuk memberikan nilai tambah sebesar satu satuan dibutuhkan sumberdaya ada faktor input tambahan sebesar 4,88. tidak memiliki keunggulan komparatif.

Bermula dari masalah yang terjadi yakni pasar-pasar sekunder kekurangan infrastruktur dan tidak sistematisnya pemasaran, sehingga pemasaran domba dan kambing dihadapkan dengan distorsi pasar berupa infrastruktur dan transportasi.

Babiker et.al (2010) menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM) sebagai alat analisis untuk memeriksa dayasaing domba yang dijual hidup berasal dari Sudan di Pasar Internasional. Hasil analisis PAM berdasarkan nilai NPCO domba lebih dari satu, yakni 1,023 yang menunjukkan bahwa harga pasar lebih besar daripada harga perbatasannya atau harga ekspornya. Hal ini didukung dengan Keuntungan Private (KP) domba yang bernilai lebih dari nol dan nilai Coefficient In International Competitiveness (CIC) ekspor domba hidup yang kurang dari nilai tukar (1 US $ = 256 SD), yakni sebesar 46196,74 US Dollar, dan 249, 83. Hal ini mengisyaratkan bahwa ekspor domba dan hidup menguntungkan dan kompetitif secara internasional.

Policy Analysis Matrix (PAM) juga dapat menganalisis dari segi yang berkaitan dengan sumberdaya domestik. Penelitian yang dilakukan oleh World Bank (2005) dan Yao (1997) menganalisis permasalahan dari segi Faktor Sumberdaya Domestik (DRC) untuk mengetahui keunggulan komparatif. World Bank (2005), menuangkan hasil penelitiannya dalam catatan kebijakan (policy paper) agar dapat membantu pemerintah dalam meningkatkan fungsi pasar pertanian untuk meningkatkan kontribusi sektor pertanian bagi pertumbuhan ekonomi sekaligus mengentaskan kemiskinan di Moldova. Peningkatan kinerja perdagangan internasional dan investasi langsung dijadikan dasar untuk memperkuat keunggulan komparatif pertanian agar terciptanya pertumbuhan ekonomi yang signifikan, pendapatan meningkat, dan kemiskinan berkurang.

Dengan tersedianya sumberdaya domestik dan tingkat ekonomi pada saat itu,

(33)

berberapa komoditas pertanian dijadikan unggulan agar dapat bersaing, seperti Gandum, Jagung, Bunga matahari, Tomat, Apel, dan Anggur.

Nilai Domestic Resource Cost (DRC) dalam Policy Analysis Matrix (PAM) dijadikan dasar untuk menghitung dampak kebijakan yang berkaitan dengan sumberdaya domeestik. Tingginya distorsi pasar akibat biaya transportasi, pemerintah Moldova memutuskan untuk menanggung semua biaya transportasi dan pemasaran hingga sampai dijual di luar negeri. Hasil dari Analisis PAM yang dilakukan bahwa nilai DRC untuk Gandum, Jagung, Bunga matahari, Tomat, Apel, dan Anggur pada tahun 2004 bernilai kurang dari satu, yakni 0,34, 0,37, 0,39, 0,23, 0,21, dan 0,19. Dengan rendahnya biaya input yang harus dikeluarkan, keuntungan sosial yang diterima bernilai positif dan memiliki keunggulan komparatif.

Sedangkan, Yao (1997) menggunakan matriks PAM untuk menganalisis keunggulan komparatif produksi beras dibandingkan dengan tanaman kedelai dan kacang hijau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab penurunan produksi padi secara ekonomis dan menganalisis dampak kebijakan pemerintah yang menyarankan untuk mengganti tanaman beras yang tidak menguntungkan secara ekonomis dengan tanaman kedalai dan kacang hijau. Analisis PAM digunakan untuk melihat keunggulan komparatif yang dimiliki masing-masing komoditas. Penelitian dilakukan di dua lokasi yang merupakan sentra produksi padi, serta kedelai dan kacang hijau, yakni Nakonsawan dan Phitasanulok.

Hasil dari penelitian ini menyebutkan bahwa padi tidak menghasilkan keuntungan ekonomis karena terjadi penurunan produksi. Penurunan produksi itu disebabkan beberapa faktor, antara lain perubahan harga yang terjadi, kelangkaan air yang meningkat, kesuburan tanah, dan efek produksi terhadap lingkungan.

Sedangkan hasil analisis PAM menunjukkan bahwa padi masih memiliki keunggulan komparatif, ini dibuktikan dengan nilai Keuntungan Sosial yang lebih besar dari nol, yakni 2050,0 bath. Hal ini juga dibuktikan dengan nilai DRC padi yang lebih kecil daripada satu daripada kedelai dan kacang hijau. DRC padi di daerah Nakonsawan sebesar 0,856, lebih kecil dari DRC kedelai dan kacang hijau yang masing-masing sebesar 1,204 dan 1,1811. Hal yang sama juga terjadi di daerah Phitasanulok, DRC padi kurang dari satu, yakni 0,915, dan DRC untuk

(34)

kedelai dan kacang hijau masing-masing sebesar 1,454 dan 1,162. Hal ini menunjukkan bahwa padi masih memiliki keunggulan komparatif.

Berdasarkan perbandingan terhadap penelitian terdahulu yang menganalisis dayasaing diperoleh kesimpulan bahwa pengukuran dayasaing dapat menggunakan PAM, selain itu dapat mengidentifikasi dampak kebijakan pemerintah terhadap sistem usahatani. Kebijakan masih sangat dibutuhkan para petani maupun konsumen domestik dan juga mengingat bahwa komoditas pertanian memiliki karakteristik yang unik dan memiliki peran yang sangat penting bagi perekonomian nasional. Dayasaing sangat erat kaitannya dengan kualitas dan produktivitas yang tidak lepas dari peranan pemerintah. Untuk menunjukkan hal tersebut, maka penelitian tentang dayasaing dan dampak kebijakan pemerintah khususnya pada komoditi kentang penting untuk dilakukan.

Hasil studi empiris dayasaing yang berkaitan dengan penelitian dapat dilihat pada Tabel 6.

2.2 Studi Empiris Kentang

Sunaryono (2007) menyebutkan bahwa tanaman kentang dalam taksonomi tumbuhan termasuk dalam Divisi Spermatopyta, Subdivisi Angiospermae, Kelas Dicotyledanae, Ordo Tubiflorae, Famili Solanaceae, Genus Solanum, dan Spesies Solanum tuberesum L. Tanaman kentang termasuk jenis tanaman sayuran.

Tanaman sayuran adalah tanaman sumber vitamin, garam mineral dan lain-lain yang di konsumsi dari bagian tanaman yang berupa buah, biji, bungan, daun, batang, dan umbi. Pada umunya berumur kurang dari setahun, baik ditanam di daerah dataran tinggi atau rendah maupun di ditanam di lahan sawah atau kering.

Kentang termasuk jenis tanaman sayuran semusim, berumur pendek, dan berbentuk perdu atau semak. Kentang termasuk tanaman semusim karena hanya satu kali berproduksi, setalah itu mati. Tanaman kentang tergolong tanaman yang tidak dapat tumbuh di sembarang tempat. Keadaan lingkungan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan kentang disamping teknis penanaman yang benar. Kentang dapat tumbuh di daerah pegunungan dengan ketinggian sekitar 500 – 300 meter di atas permukaan laut. Namun idealnya kentang ditanam antara 1000 – 1500 di atas permukaan laut dengan suhu udara sekitar 18 – 21 derajat Celcius dan kelembaban udara sekitar 80 – 90 persen. Suhu

(35)

dan kelembaban yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan menghambat pertumbuhan kentang. Curah hujan yang sesuai untuk tanaman kentang adalah 1500 milimeter per tahun dengan panjang penyinaran sekitar sepuluh jam per hari Sunaryono (2007).

Budidaya kentang secara umum dimulai dari tahap persiapan bibit, persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, dan panen. Jumlah bibit yang diperlukan tergantung jarak tanam. Pengaturan waktu tanam, pengaturan jarak tanam, dan cara menaman meruapakan hal-hal yang berpengaruh selama kegiatan penanaman kentang. Kegiatan pemeliharaan meliputi pemupukan, pengairan, penyiangan, pembumbunan, pengaturan pola tanam, dan pemangkasan bunga.

Pemeliharaan tanaman diperlukan untuk menjaga agar pertumbuhan tanaman kentang tetap sehat dan normal. Kentang dipanen pada usia 90 – 120 hari dengan cara menggali menggunakan cangkul dan sebaiknya dilakukan pada pagi dan sore hari saat cuaca cerah (Samadi, 2007 dalam Utami, 2011)

Sailah (1999) dalam penelitiannya tentang kajian pasar kentang mendapatkan bahwa petani kentang di Pulau Jawa pada umumnya menjual hasil produksi kentangnya kepada pedagang pengumpul. Namun pedagang pengumpul yang datang ke petani, bukan petani yang membawa hasil produksi ke pedagang.

Petani biasanya berhubungan dengan pedagang tertentu dan didasarkan atas dasar kepercayaan. Tidak semua petani menjual hasil produksi kepada pedagang pengumpul, beberapa petani memiliki kontrak dengan industri pengoleh seperti Indofood. Ada juga petani yang menjual kepada petani besar dengan sistem titip jual yang umumnya sudah memiliki jaringan pemasaran yang baik. Ada juga petani yang langsung menjual ke pasar tradisional namun jumlahnyaa relatif sedikit. Sunaryono (2007) juga menyebutkan bahwa perkembangan kentang di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni (1) Peluang pasar dan permintaan konsumen, (2) Lahan dan kondisi agroklimat, (3) Tingat keuntungan, dan (4) Ketersedian bibit dan modal.

Andrawati (2011) dalam penelitiannya tentang Efisinesi Teknis Usahatani Kentang dan Faktor yang Mempengaruhi di Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara menyebutkan bahwa usahatani yang dilakukan dilakukan secara turun-temurun dan dengan tingkat intensitas yang tinggi akan berpotensi

(36)

menurunkan tingkat produktivitas yang dihasilkan. Berdasarkan hal tersebut tujuan penelitian ini untuk mengetahui efisiensi teknis usahatani kentang dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi teknis usahatani kentang di Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara. Analisis yag digunakan yaitu fungsi produksi Stochastic Frontier. Dari hasil Stochastic Frontier diperoleh bahwa varibel yang bernilai positif dan berpengaruh signifikan terhadap produksi kentang yakni benih dan pupuk organik. Sedangkan berdasarkan model inefisiensi teknis pengalaman usahatani, pendidikan formal, dan luas lahan merupakan faktor yang memberikan pengaruh negatif dan faktor umur merupakan satu-satunya faktor yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap inefisiensi teknis usahatani kentang.

Imamudin (2003) dan Haris (2007) menggunakan metode IFE, EFE, matriks IE, dan analisis SWOT untuk menganalisis secara kualitatif. Imamudin (2003) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Strategi Perusahan dan Pemasaran Bibit kentang PT Dafa Teknoagro Mandiri melihat permasalahan yang dihadapi yakni tidak tercapainya target penjualan perusahaan sehingga tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi, memformulasi, dan memilih strategi pemasaran untuk meningkatkan volume penjualan bibit kentang perusahaan.

Berdasarkan analisis menggunakan metode tersebut ditetapkan prioritas operasional strategi pemasaran pada produk premium dengan meningkatkan mutu kentang, harga yang tinggi, meningkatkan promosi langsung petani kentang dan para penangkar bibit, dan distribusi dengan ketepatan waktu produksi dan service yang baik merupakan strategi positioning untuk produk bibit kentang perusahaan.

Haris (2007) yang meneliti Pengembangan Usaha Benih Kentang Bersertifikat di Harry Farm, Pangalengan, Bandung, Jawa Barat bertujuan untuk menganalisis pendapatan usahatani benih kentang bersertifikat yang diperoleh Harry farm, menganalisis lingkungan internal dan lingkungan eksternal Harry Farm, dan merumuskan strategi pengembangan usaha benih kentang bersertifikat pada Harry Farm. Harry Farm merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi kentang dan bibit kentang bersertifikat, untuk menemukan gambaran bisnisnya ke depan Harry Farm harus memilki strategi sehingga dapat menembangkan usahanya dengan baik. Perbedaan antara dua penelitian ini yakni

(37)

penggunaan metode Rasio Penerimaan dan Biaya (R/C) untuk menganalisis aspek usahatani.

Berdasarkan Analisis Rasio Penerimaan dan Biaya (R/C) kegiatan usahatani yang dilakukan sudah efisien dan perlu ditingkatkan, sedangkan analisis SWOT menjabarkan strategi S-O antara lain mempertahankan dan meningkatkan mutu produk dan mempertahankan dan menarik pelanggan potensial, memperluas wilayah pemasaran, memberikan layanan purna jual, mempertahankan dan meningkatkan product image dan delivery on time. Strategi W-O antara lain, pembenahan manajemen SDM, mengadakan pelatihan tenaga kerja untuk meningkatkan profesionalisme, dan meningkatkan promosi secara efektif dan efisien serta kinerja divisi keamanan. Strategi S-T yaitu, meningkatkan keunggulan produk dan citra produk untuk menghadapi ancaman pesaing dan produk subsitusi, dan meningkatkan efisiensi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Untuk strategi W-T, mengoptimalkan kegiatan produksi, meningkatkan kerjasama dengan distributor dan pemasok untuk menjaga kontinuitas produksi.

Hakim (2002) meneliti tentang Analisis Pendapatan dan Risiko dalam Diversifikasi Usaha Agribisnis Kentang di perusahaan keluarga PD Hikmah Kecamatan Pangalengan Kabupaten Jawa Barat. Perkembangan dan pola permintaan komoditas kentang yang tidak stabil serta ketersediaan sumberdaya lahan yang terbatas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat keuntungan dan risiko usaha agribisnis kentang PD Hikmah. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk menganlisis tingkat pendapatan dan risiko dalam usaha agribisnis kentang sayur dan kentang olahan, menghitung tingkat korelasi pendapatan antara usaha agribisnis kentang sayur dan kentang olahan, serta menentukan alternatif komposisi diversifikasi antara komoditas kentang sayur dan kentang olahan yang dapat menghasilkan tingkat pendapatan dan risiko yang optimal. Metode yang digunakan antara lain R/C, analisis risiko dan analisis portofolio.

Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa perbedaan perlakuan budidaya dan pemasaran mengakibatkan meningkatnya biaya yang harus dikeluarkan.

Kentang olahan lebih efisien dibandingkan kentang sayur, karena R/C kentang

(38)

olahan (1,44) lebih besar dibandingkan kentang sayur (1,38). Selain itu kentang olahan juga memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan usaha kentang sayur.

Namun pengusahaan kentang sayur dan olahan masih memiliki peluang kerugian, dikarenakan kedua jenis budidaya tersebut memiliki nilai batas bawah yang negatif. Dan diversifikasi yang diterapkan dengan kombinasi budidaya kentang sayur dengan olahan belum dikatakan efektif untuk menghasilkan tingkat pedapatan usaha yang aman. Hasil studi empiris kentang yang berkaitan dengan penelitian dapat dilihat pada Tabel 6.

(39)

Tabel 6. Studi Empiris Yang Berkaitan dengan Penelitian Studi Empiris Mengenai Kentang

No. Penulis Judul Alat Analisis

1.

Al Haris (2007)

Pengembangan Usaha Benih Kentang Bersertifikat di Harry Farm, Pangalengan, Bandung, Jawa Barat

(1) R/C

(2) IFE, EFE, IE (3) SWOT

2.

Andrawati (2011)

Efisinesi Teknis Usahatani Kentang dan Faktor yang Mempengaruhi di Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara

(1) Stochastic Frontier

3.

Hakim (2002)

Analisis Pendapatan dan Risiko dalam Diversifikasi Usaha Agribisnis Kentang, Kasus pada PD Hikmah, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

(1) R/C

(2) Analisis Risiko (3) Analisis Portofolio

4

Imamuuddin (2003)

Analisis Strategi Perusahaan dan Pemasaran Bibit Kentang PT Dafa Teknoagro Mandiri

(1) IFE, EFE, IE (2) SWOT

5 Sunaryono

(2007) Petunjuk Praktis Budidaya Kentang 6 Sailah

(1999) Kajian Pasar Kentang

Studi Empiris Mengenai Dayasaing

1.

Dewanata (2011)

Analisis Dayasaing dan Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Jeruk Siam di Kabupaten Garut Jawa Barat

(1) PAM (2) Analisis

Sensitivitas

2.

Pupitasari (2011)

Analisis Dayasaing dan Dampak Kebijakan Permerintah Terhadap Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok

(1) PAM (2) Analisis

Sensitivitas

3.

Fadillah (2011)

Analisis Dayasaing Komoditas Unggulan Perikanan Tangkap di Kabupaten Sukabumi

(1) Location Quotient (2) Metode Berlian

Porter 4.

Oguntade (2007)

Assessment Of Protection and Comparatif Advantage In Rice Processing in Nigeria

(1) PAM

5. Babiker, et.al (2010)

Sudanese Live Sheep and Mutton Export Competitiveness

(1) PAM

6 World Bank (2005)

Moldova Agricultural Policy Notes:

Agricultural Market

(1) PAM

7 Yao (1997) Rice Production in Thailand Seen Through a Policy Analysis Matrix.

(1) PAM

Gambar

Tabel 5. Luas dan Produksi Tanaman Sayuran Kabupaten Wonosobo Tahun 2006 – 2010 (Ton/Ha)
Tabel 6. Studi Empiris Yang Berkaitan dengan Penelitian Studi Empiris Mengenai Kentang
Gambar 2. Subsidi Positif Produsen Untuk Barang Impor.
Gambar 4. Pengaruh Kebijakan Input Tradable    Sumber : Monke dan Pearson, 1989
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota Tahun 2014.

Dari hasil pengujian sinyal frekuensi dan parameter frekuensi dapat dianalisis bahwa sinyal keluaran rangkaian berbentuk pulsa dengan frekuensi yang sama dengan

Penelitian ini (1) menghasilkan bahan ajar interaktif dalam bentuk digital yang dikemas menggunakan Compact Disk (CD) dan dilengkapi buku petunjuk yang dapat digunakan oleh

Perkembangan kognitif anak Sekolah Dasar menurut (Yayuk. 2018) terdapat teori perkembangan kognitif piaget adalah teori yang didalamnya menjelaskan cara anak

Berdasarkan fenomena di atas perlu dilakukan telaah lebih lanjut mengenai pengaruh beberapa variabel makroekonomi yaitu suku bunga, inflasi dan jumlah uang beredar, ekspor

Dari pengamatan laju dekomposisi kompos TKKS dari pengamatan rasio C/N diketahui perlakuan yang dapat meningkatkan laju dekomposisi kompos tandan kosong kelapa

24 Tahun 1997 tersebut, maka sertifikat merupakan alat pembuktian yang kuat dan bahwa tujuan pendaftaran tanah yang diselenggarakan adalah dalam rangka menjamin

Peningkatan Kualitas Komisioner Komisi Informasi Provsu, Mediator dan Panitera di Luar Provinsi.. Pembuatan CD Audio/Video tentang Penyelesaian Sengketa Komisi