• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.4 Analisis Kinerja Pemanenan Hutan Ramah Lingkungan

Pada perspektif finansial, tolok ukur yang digunakan pada tahapan perencanaan pemanenan hutan dan PWH adalah biaya perencanaan dan rencana jumlah pohon yang dipanen. Pada pelaksanaan kegiatan pemanenan hutan RKT 2007, realisasi biaya perencanaan sebesar Rp. 10.994.613.000 sedangkan pada RKT 2008, rencana penganggaran biaya perencanaan sebesar Rp. 18.530.915.000 dan realisasinya sebesar Rp. 10.994.613.000. Penerapan teknik RIL yang dilakukan perusahaan pada tahun 2008 menunjukkan peningkatan penggunaan biaya perencanaan pemanenan. Nilai ini lebih besar dari pelaksanaan penggunaan biaya perencanaan pada realisasi RKT tahun 2007, yaitu dengan ketercapaiannya melebihi Baseline sebesar 68,55 %. Namun, pada kegiatan pemanenan 2008, nilai capaian penggunaan biaya perencanaan kurang dari ketercapaian target sebesar 40,67 %. Realisasi biaya perencanaan pada penerapan teknik RIL oleh perusahaan tidak berbeda dengan realisasi teknik pemanenan konvensional. Hal ini dikarenakan dalam pelaksanaan RKT, perusahaan mencoba memaksimalkan pelaksanaan kegiatan Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP), kegiatan silvikultur, pemetaan dan kegiatan pasca penebangan, sehingga dari seluruh kegiatan yang dimaksimalkan ini dihasilkan efisiensi biaya yang cukup tinggi. Penerapan sistem pemanenan konvensional pada RKT 2007 yang dirubah menjadi penerapan teknik RIL pada pelaksanaan RKT 2008 oleh perusahaan terbukti mampu mengurangi pengeluaran biaya perencanaan pemanenan dari yang direncanakan.

Untuk tolok ukur rencana jumlah pohon yang dipanen, pada pelaksanaan RKT 2007 perusahaan memanen sebanyak 15.737 pohon. Pada RKT 2008, rencana perusahaan untuk memanen hutan yang diperoleh dari hasil ITSP sebesar 26.871 pohon. Pada rencana RKT 2008 terdapat target perusahaan yang melebihi Baseline terhadap jumlah pohon yang dipanen sebesar 70,75 %. Namun, dalam pelaksanaan pemanenan hutan pada RKT 2008 terjadi penurunan jumlah hanya 12.268 pohon yang dipanen atau kurang dari target sebesar 54,34 %. Penerapan teknik RIL mengurangi ketercapaian perusahaan jumlah pohon yang dipanen

sebesar 22,04 % terhadap Baseline. Penurunan jumlah pohon yang dipanen memberikan dampak positif terhadap penurunan jumlah limbah hasil tebangan

Tahapan kedua dari kegiatan pemanenan hutan adalah penebangan. Realisasi tebangan RKT 2007 adalah sebesar 79.997,32 m3. Pada rencana RKT 2008 target volume kayu yang dipanen sebesar 125.000 m3 atau melebihi ketercapaian Baseline sebesar 56,26 %. Pada pelaksanaan penebangan RKT 2008, capaian volume kayu yang dipanen sebesar 85.175,4 m3 atau kurang dari target perusahaan sebesar 31,86 %. Penggunaan teknik RIL memperoleh capaian melebihi Baseline peningkatan volume kayu yang dipanen sebesar 6,47 %. Peningkatan volume kayu yang dipanen mengindikasikan penerapan teknik RIL berhasil mengurangi limbah penebangan dengan memaksimalkan tingkat volume hasil tebangan. Efisiensi nilai volume kayu yang kurang dari ketercapaian Baseline juga dapat dibuktikan dari tingkat rendemen kayu yang dimanfaatkan perusahaan yang meningkat dari 0,77 pada RKT 2007 menjadi 0,86 pada RKT 2008 atau meningkat sebesar 10,71 %.

Capaian nilai kayu pada RKT 2007 sebesar Rp. 120.443.207.000. Pada rencana pelaksanaan RKT 2008, perusahaan menargetkan nilai kayu yang dikeluarkan sebesar Rp. 205.343.503.000. Nilai ini melebihi dari ketercapaian Baseline sebesar 70,49 %. Namun, pada realisasi RKT 2008, terjadi pengurangan capaian nilai kayu yang dikeluarkan, yaitu sebesar Rp. 134.599.200.000 atau berkurang sebesar 34,45 %. Penerapan teknik RIL menghasilkan ketercapaian melebihi Baseline terhadap nilai kayu yang dikeluarkan oleh perusahaan sebesar 11,75 %. Kenaikan ini disebabkan oleh harga kayu yang dipanen dengan teknik RIL meningkat. Kayu yang dipanen dengan teknik ini memiliki sertifikat kayu yang menjamin kelegalan kayu tersebut, sehingga para konsumen lebih memilih membeli kayu yang bersertifikat.

Sedangkan tolok ukur tingkat kayu yang dimanfaatkan, capaian pada RKT 2007 sebesar 35.556,47 m3. Pada RKT 2008, perusahaan menargetkan 125.000 m3 kayu dapat dimanfaatkan namun realisasi tingkat pemanfaatan kayu RKT 2008, hanya sebesar 85.175,4 m3. Tolok ukur tingkat pemanfaatan kayu pada RKT 2008 memperoleh kecercapaian kurang dari Baseline sebesar 251,55 %. Dalam penerapan teknik RIL, perusahaan memperoleh capaian yang melebihi Baseline

terhadap pemanfaatan kayu sebesar 139,55 %. Nilai perbandingan ini disajikan pada Tabel 11.

Upah pekerja merupakan salah satu aspek finansial yang mendukung pelaksanaan operasional pemanenan hutan. Pengukuran tolok ukur dalam setiap tahapan pemanenan hutan menunjukkan capaian 100 % pada RKT 2007 dan realisasi RKT 2008. Hal ini dikarenakan pemberian upah kerja sesuai dengan peraturan finansial perusahaan. pemberian upah tenaga sesuai dengan insentif yang diberlakukan disesuaikan dengan jumlah dan kualitas produksi. Nilai capaian ini disajikan pada Tabel 12.

5.4.2 Perspektif Proses Bisnis Internal

Dari hasil pengamatan di lapangan diperoleh bahwa 83,33 % SOP kegiatan penebangan dilakukan sesuai dengan point SOP yang diberlakukan oleh perusahaan. Pada tahapan penyaradan, pelaksanaan SOP hanya sebesar 77,27 % sementara pada tahapan pengupasan kulit sebesar 85,71 % sedangkan untuk tahapan pengukuran kayu dan pengujian kualitas hanya 68,18 % aturan SOP diberlakukan di lapangan. Pada tahapan muat bongkar dan pengangkutan, pelaksanaan SOP mencapai 92,59 %.

Nilai capaian perusahaan dalam tolok ukur evaluasi SOP divisi produksi yang diamati mencapai lebih dari 50 % kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan aturan yang berlaku, hal ini mengindikasikan lebih dari setengah dari seluruh aturan standar perusahaan dilakukan pada kegiatan tersebut. Namun untuk mengoptimalkan pelaksanaan teknik pemanenan hutan ramah lingkungan, perlu dilakukan mekanisme pengawasan terkait penerapan RIL. Terlebih lagi aturan SOP perusahaan sudah bercermin pada aturan sistem pengelolaan hutan ramah lingkungan, sehingga penerapan SOP tersebut memberikan arahan dalam pelaksanaan pemanenan hutan ramah lingkungan. Capaian evaluasi SOP produksi perusahaan disajikan pada Gambar 4.

Tabel 11 Pengukuran kinerja pada perspektif finansial

No. Tahapan Pemanenan Indikator

Satuan Baseline Sasaran Capaian Selisih (%) Selisih (%) Selisih (%) a b c (b-a)/a (c-b)/b (c-a)/a 1 Tahapan Perencanaan

Pemanenan Hutan dan PWH

Biaya perencanaan juta 10.994 18.530 10.994 68.55 -40.67 0

Rencana Jumlah Pohon yang di

Panen pohon 15737 26871 12268 70.75 -54.34 -22.04

2 Penebangan

Volume Kayu yang di Panen m3 79997.32 125000 85175.4 56.26 -31.86 6.47

Nilai Kayu yang di Keluarkan juta 120.443 205.343 134.599 70.49 -34.45 11.75

Tingkat Pemanfaatan kayu m3 35556,47 125000 85175.4 251.55 -31.86 139.55

Tabel 12 Capaian tolok ukur upah pekerja

No. Tahapan Pemanenan Indikator Satuan

Baseline Sasaran Capaian Selisih

(%) Selisih (%) Selisih (%) a b c (b-a)/a (c-b)/b (c-a)/a 1 Penebangan

Upah Pekerja (log singker) persen 100 100 100 0 0 0

Upah Pekerja (log floater) persen 100 100 100 0 0 0

2 Pengukuran Kayu

Upah Pekerja (log singker) persen 100 100 100 0 0 0

Upah Pekerja (log floater) persen 100 100 100 0 0 0

3 Penyaradan

Upah Pekerja (log singker) persen 100 100 100 0 0 0

Upah Pekerja (log floater) persen 100 100 100 0 0 0

4 Muat Bongkar

Upah Pekerja (log singker) persen 100 100 100 0 0 0

Upah Pekerja (log floater) persen 100 100 100 0 0 0

5 Pengangkutan

Upah Pekerja (log sinker) persen 100 100 100 0 0 0

Upah Pekerja (log floater) persen 100 100 100 0 0 0

Gambar 4 Hasil evaluasi SOP produksi.

Gambar 5 Grafik tolok ukur tata waktu pelaksanaan kegiatan pemanenan. Gambar 5 menyajikan sebaran tata waktu pelaksanaan kegiatan pemanenan hutan. Dari Gambar 5 di atas diperoleh bahwa pada tahapan perencanaan pemanenan hutan dan PWH, tata waktu pelaksanaan kegiatan pemanenan hutan dengan teknik pemanenan hutan konvensional mencapai 40 bulan. Realisasi pelaksanaan tahun 2008 mencapai target penyelesaian selama 10 bulan.

Pelaksanaan kegiatan pemanenan hutan dengan teknik RIL ketercapaiannya kurang dari Baseline sebesar 75 %.

Pada tahapan PWH, nilai capaian pada RKT 2007 adalah 9 bulan, meningkat sebesar sementara pada RKT 2008 perusahaan menargetkan pelaksanaan PWH selama 10 bulan, namun realisasi pelaksanaan kegiatan PWH adalah 8 bulan. Realisasi ini kurang dari target perusahaan sebesar 20 %. Pelaksanaan teknik RIL mengurangi ketercapaian waktu pelaksanaan sebesar 11,11 % terhadap Baseline.

Capaian RKT 2007 dan RKT 2008, adalah selama 10 bulan kegiatan penebangan dan penyaradan atau selisih capaian sebesar 0 %, sedangkan pada kegiatan pengangkutan kayu, realisasi RKT 2007 sebesar 24 bulan, sedangkan target RKT 2008 selama 20 bulan. Realisasi kegiatan PWH tahun 2008 selama 17 bulan atau lebih dari target perusahaan sebesar 70 %. Pelaksanaan kegiatan PWH pada teknik RIL berkurang menjadi 17 bulan atau berkurang dari ketercapaian Baseline sebesar 29,17 %. Berkurangnya capaian tata waktu pelaksanaan kegiatan pemanenan hutan RIL memberikan hasil yang positif terhadap ketepatan waktu penyelesaian kegiatan pemanenan hutan dan mengefisiensikan biaya operasional pemanenan. Pada saat perusahaan menerapkan teknik konvensional, penyelesaian waktu kegiatan pemanenan rata-rata melebihi rencana waktu penyelesaian kegiatan dalam RKT. Lama waktu pelaksanaan kegiatan ini juga berhubungan erat dengan jumlah biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh perusahaan, jumlah tenaga kerja, kegiatan operasional alat pemanenan dan kualitas terhadap hasil pemanenan tersebut.

Tingkat kecelakaan kerja pada setiap tahapan kegiatan pemanenan hutan pada RKT 2007 dan RKT 2008 adalah 0. Tidak adanya kecelakaan kerja pada pelaksanaan pemanenan hutan konvensional dan pemanenan hutan RIL menunjukkan bahwa kedua teknik pemanenan tersebut mengusahaan penerapan K3 yang tinggi. Nilai capaian untuk tolok ukur ini disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13 Capaian tolok ukur tingkat kecelakaan kerja No. Tahapan

Pemanenan Indikator Satuan

Baseline Sasaran Capaian Selisih (%) Selisih (%) Selisih (%) a b c (b-a)/a (c-b)/b (c-a)/a 1 Penebangan Kecelakaan Kerja orang 0 0 0 0 0 0 2 Penyaradan Kecelakaan Kerja orang 0 0 0 0 0 0 3 Muat bongkar Kecelakaan Kerja Orang 0 0 0 0 0 0 4 Pengangkutan Kecelakaan kerja Orang 0 0 0 0 0 0

Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa banyak tenaga kerja yang tidak penggunakan peralatan safety yang diatur oleh kebijakan pemerintah. Hasil wawancara menunjukkan bahwa penurunan penerapan K3 dikarenakan penggunaan alat safety membuat pekerjaan dilapangan terasa berat dan kaku, sehingga produktivitas tenaga kerja mengalami penurunan. Perusahaan juga turut andil dalam penurunan kualitas K3, karena perusahaan kurang memfasilitasi alat- alat safety.

5.4.3 Perspektif Pelanggan

Tolok ukur permintaan kayu dibagi menjadi permintaan kayu bulat dan kayu olahan. Capaian permintaan kayu dalam RKT 2007 sebesar 24.551,31 m3. Pada RKT 2008 perusahaan tidak menargetkan permintaan kayu namun dalam realisasi RKT 2008 capaian tingkat permintaan kayu bulat sebesar 113.234,23 m3. Permintaan kayu olahan pada RKT 2007 mencapai 7.447,77 m3 dan RKT 2008 mencapai 6.698,005 m3. Realisasi permintaan kayu bulat pada RKT 2008 melebihi ketercapaian Baseline sebesar 361,21 % dari pelaksanaan RKT 2007. Peningkatan permintaan ini nampaknya sejalan dengan manfaat positif penerapan RIL, yaitu penerapan teknik RIL memiliki peran yang cukup signifikan terkait dengan sentimen masyarakat internasional terhadap produk hasil hutan kayu tropis. konsumen akan memberikan harga yang lebih tinggi (premium price) dibanding produk-produk sejenis yang tidak menerapkan teknik RIL. (Nugraha et al 2007). Pencapaian tolok ukur perspektif pelanggan disajikan pada Tabel 14.

Tabel 14 Capaian tolok ukur perspektif pelanggan

No. Tahapan

Pemanenan Indikator Satuan

Baseline Capaian Selisih (%)

a b (b-a)/a 1 Pengangkutan Permintaan Kayu Bulat m 3 24551.31 113234.23 361.2146154 Permintaan kayu Olahan m 3 7447.7711 6698.005 -10.06698635

5.4.4 Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran

Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran memfokuskan pada peningkatan kualitas SDM dan peningkatan kepuasan tenaga kerja yang digunakan sebagai sasaran perspektif. Keberhasilan peningkatan kualitas SDM dapat ditunjukkan dengan tolok ukur tingkat pelatihan kerja dan produktivitas kerja. Pelatihan kerja terhadap tenaga kerja dapat dipacu oleh adanya kebutuhan pelatihan kerja untuk para tenaga kerja dan tuntutan kerja. Sedangkan tingkat kepuasan kerja dapat dilihat dari sebesar tingkat pengunduran diri tenaga kerja dan persepsi kepuasan kerja yang dipilih sebagai tolok ukur pada sasaran tingkat kepuasan kerja.

PT. Austral Byna mengadakan pelatihan sesuai dengan kebutuhan peningkatan tenaga kerja dalam setiap bidang. Pelatihan kerja diberikan kepada para tenaga kerja yang ditunjuk perusahaan untuk meningkatkan kinerja mereka. Pelatihan yang diselenggarakan oleh perusahaan antara lain pelatihan mengenai PAHPL (Pengelolaan Hutan Alam Peduli Lestari), pelatihan mengenai RIL, dan pelatihan tentang PKBRI (Pelatihan Kayu Bulat Republik Indonesia). Tidak jarang para tenaga kerja sudah mendapatkan pelatihan sebelum bekerja di perusahaan. Nilai capaian tolok ukur tingkat pelatihan kerja dapat disajikan pada Gambar 6.

Gambar 6 Grafik tingkat pelatihan kerja.

Pada tahapan perencanaan pemanenan hutan dan PWH, realisasi pelaksanaan pelatihan kerja pada RKT 2007 sebanyak 0 orang. Sedangkan pada RKT 2008, PT. Austral Byna tidak menargetkan untuk mengadakan pelatihan kerja, namun realisasinya mencapai 18 orang pekerja yang diikutsertakan dalam pelatihan kerja. Pemberian fasilitas ini melebihi target rencana perusahaan yang tidak memberikan pelatihan kerja pada rencana RKT 2008.

Dalam tahapan penebangan, realisasi pelatihan kerja pada RKT 2007 sebesar 0 orang tenaga kerja, realisasinya tingkat pelatihan kerja perusahaan mencapai 1 orang tenaga kerja pada RKT 2008. Sedangkan pada tahapan pengukuran kayu, realisasi pelaksanaan pelatihan kerja RKT 2007 sebanyak 3 orang. Pada rencana RKT 2008 perusahaan hanya menargetkan 2 orang tenaga kerja pada tahapan ini namun realisasinya adalah 3 orang tenaga kerja. Sesuai dengan penerapan RIL yang dilakukan perusahaan, pelatihan yang diberikan pada pelaksanaan RKT ini mengacu pada sosialisasi dan pelatihan ilmu teknik pemanenan RIL.

Tingkat pengunduran diri pada tahapan perencanaan pemanenan hutan dan PWH juga mengalami peningkatan dalam RKT 2007 mencapai 0 orang dan pada RKT 2008 mencapai 3 orang. Untuk tahapan penyaradan, muat bongkar dan pengangkutan, PT. Austral Byna tidak mengikutsertakan tenaga kerjanya pada pelatihan kerja dalam pelaksanaan kegiatan RKT 2007 dan tidak menargetkan program pelatihan kerja pada rencana RKT 2008. Pada pelaksanaan RKT 2008,

tahapan penyaradan perusahaan memberikan fasilitas pelatihan kerja kepada 2 tenaga kerja.

Pada tahun 2008 terjadi peningkatan pemberian fasilitas pelatihan kerja terhadap para tenaga kerja daripada tahun sebelumnya. Pemberian fasilitas pelatihan ini juga menjadi bagian dari penggunaan prinsip-prinsip pemanenan kayu di hutan tropis secara berkelanjutan, yang salah satunya tentang pengembangan tenaga kerja yang cakap dan terlatih serta bermotivasi tinggi. (Nugraha et al 2007). Penerapan prinsip ini salah satunya dapat berakibat memberikan nilai positif terhadap motivasi para pekerja sehingga dapat mengurangi tingkat pengunduran diri para pekerja.

Tingkat pengunduran diri tenaga kerja pada tahapan penebangan mencapai 2 orang pada RKT 2007 dan pada tahun RKT 2008 mencapai 1 orang. Tingkat pengunduran diri tenaga kerja pada tahapan pengukuran kayu adalah nihil, baik pada RKT 2007 maupun RKT 2008. Hal yang sama terjadi pada tahapan muat bongkar. Pencapaian pengunduran diri tenaga kerja pada tahapan pengangkutan mengalami penurunan sebesar 2 orang (RKT 2007) menjadi 0 orang (RKT 2008). Tingkat pengunduran diri tenaga kerja disajikan pada Gambar 7.

Gambar 7 Tingkat pengunduran diri tenaga kerja.

Produktivitas kerja merupakan tolok ukur penentu keberhasilan sasaran strategis yang mengukur besarnya nilai hasil pekerjaan yang diukur dalam satuan m3/hari. Nilai produktivitas kerja ini akan menjadi gambaran jumlah insentif yang

dapat diterima oleh tenaga kerja. Capaian perusahaan pada tolok ukur ini disajikan pada Tabel 15.

Tabel 15 Capaian tingkat produktivitas kerja

No. Tahapan Pemanenan Indikator Satuan Baseline* Capaian Selisih (%)

a b (b-a)/a

1 Penebangan Produktivitas

kerja Log/hari 38 22 -42.10

2 Penyaradan Produktivitas

kerja Log/hari 22 23 4.55

3 Pengukuran Kayu Produktivitas

kerja Log/hari 92 144 56.52

4 Muat Bongkar Produktivitas

kerja Log/hari 379 155 -59.10

5 Pengangkutan Produktivitas

kerja Log/hari 10 17 70

*Permana (2002)

Pada tahapan penebangan produktivitas pada RKT 2007 sebesar 38 log/hari dan 22 log/hari pada RKT 2008. Produktivitas penebangan memperoleh ketercapaian kurang dari Baseline sebesar 42,10 %. Pada tahapan penyaradan capaian produktivitas kerja mengalami ketercapaian melebihi Baseline sebesar 4,55 %. Pada tahapan pengukuran kayu diperoleh nilai capaian sebesar 92 log/hari pada RKT 2007 dan 144 log/hari pada pelaksanaan RKT 2008 atau melebihi ketercapaian Baseline sebesar 56,52 %.

Pada tahapan muat bongkar, nilai capaian perusahaan menurun sebesar 59,10 % perbandingan pelaksanaan kegiatan RKT 2007 dan RKT 2008 sedangkan tahapan pengangkutan mengalami ketercapaian melebihi Baseline terhadap produktivitas sebesar 70 %.

Dari nilai persepsi kepuasan kerja, perusahaan dapat menilai aspek mana yang perlu diperbaiki dan aspek mana yang perlu dipertahankan agar para tenaga kerja tersebut dapat besemangat dalam melakukan pekerjaan yang juga berkaitan dengan pencapaian kinerja perusahaan.

Pada dimensi isi pekerjaan, faktor pendukung pengukuran kepuasan kerja antara lain pengendalian kerja, kekuatan dalam bekerja dan banyaknya cara

menentukan tugas. Hasil perhitungan dari pernyataan yang menyangkut kepuasan terhadap dimensi isi pekerjaan disajikan pada Tabel 16.

Tabel 16 Skor kepuasan responden pekerja terhadap dimensi isi pekerjaan

No Indikator

Skor Nilai

Rataan

Skor Keterangan

1 2 3 4 5

1 Pengendalian Kerja 0 2 1 40 4 3.98 Puas

2 Kekuatan dalam bekerja 0 8 7 26 6 3.64 Puas

3 Banyak cara Menentukan Tugas 0 4 3 28 12 4.02 Puas

Rata-rata Skor 3.88 Puas

Tabel 16 menunjukkan kepuasan pekerja terhadap dimensi isi pekerjaan yang diketahui bahwa rata-rata pekerja merasa puas dengan dimensi isi pekerjaan yang mereka kerjakan pada setiap tahapan kegiatan pemanenan. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata skor kepuasan pekerja terhadap dimensi isi pekerjaan yaitu 3,88. Pekerja dapat mengendalikan sendiri pekerjaan mereka sehingga pengawasan perusahaan terhadap pelaksanaan kerja tidak terlalu sering dilakukan. Hal ini didapatkan dari jumlah pengawasan kegiatan pemanenan hutan yang melakukan kegiatan controlling sebanyak 2 kali dalam seminggu. Kegiatan pemanenan yang membutuhkan kerja tenaga yang lebih besar dari pada pekerjaan lainnya mangharuskan para pekerja memiliki fisik yang kuat dan tangguh di lapangan.

Dimensi ketersediaan fasilitas mengukur kepuasan pekerja pada fasilitas yang diberikan perusahaan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan pemanenan hutan. Dari hasil pengukuran diperoleh rata-rata skor kepuasan pekerja sebesar 3,15 yang berarti pekerja cukup puas terhadap ketersediaan fasilitas yang diberikan perusahaan. Para pekerja berharap perusahaan mampu untuk lebih memfasilitasi alat-alat K3 yang dapat digunakan untuk kegiatan pemanenan hutan, terlebih lagi kegiatan pemanenan hutan memiliki resiko kecelakaan kerja yang lebih besar. Peningkatan fasilitas ini diharapkan dapat memudahkan pekerja

melakukan kegiatan dengan resiko kecelakaan yang dapat dihindarkan. Haril skor kepuasan pekerja disajikan pada Tabel 17.

Tabel 17 Skor kepuasan pekerja terhadap dimensi ketersediaan fasilitas

No Indikator

Skor Nilai

Rataan

Skor Keterangan

1 2 3 4 5

1 Peralatan kerja yang memadai 0 17 0 19 11 3.51 Puas

2 Fasilitas Keselamatan kerja yang

memadai 4 27 3 9 4 2.62 Tidak puas

3 Dukungan layanan yang cukup 6 11 4 20 6 3.19 Cukup puas

4 Ketidaksulitan memperoleh

peralatan kerja 1 16 3 23 4 3.28 Cukup puas

Rata-rata Skor 3.15 Cukup puas

Dimensi kepuasan yang digunakan untuk mengukur persepsi kepuasan pekerja selanjutnya adalah dimensi dukungan kerja. Faktor yang mempengaruhi pengukuran ini adalah rekan kerja yang berkeinginan mendengarkan masalah pekerjaan dan rekan kerja yang membantu menyelesaikan pekerjaan berat. Skor hasil pengukuran dimensi ini disajikan dalam Tabel 18.

Tabel 18 Skor kepuasan pekerja terhadap dimensi dukungan kerja

No Indikator

Skor Nilai

Rataan

Skor Keterangan

1 2 3 4 5

1 Rekan kerja berkeinginan

mendengarkan masalah 0 0 6 35 6 4 Puas

2 Rekan kerja membantu

menyelesaikan pekerjaan berat 0 2 2 30 13 4.15 Puas

Rata-rata Skor 4.07 Puas

Dari Tabel 18 diketahui bahwa rata-rata pekerja merasa puas dengan dukungan kerja yang diberikan oleh rekan kerja mereka. Dukungan kerja ini tidak hanya dari bantuan saat kesulitan dilapangan tetapi bantuan solusi pemecahan masalah yang berhubungan dengan pekerjaan. Dari dukungan kerja inilah tercipta

kesolidan kerja yang pada akhirnya mendukung meningkatnya kinerja para pekerja tersebut.

Hasil pengukuran dimensi dukungan atasan mendapat rata-rata skor sebesar 3,95. Para pekerja merasa puas dengan dukungan yang diberikan atasan mereka dalam hal ini mandor lapangan, kepala bagian, kepala bidang dan manajer camp. Dukungan yang diberikan antara lain kesediaan atasan mendengarkan masalah yang berhubungan dengan pekerjaan, dukungan atasan yang dapat diandalkan ketika menghadapi tugas berat dan dukungan atasan yang mudah ditemui saat para pekerja membutuhkan solusi pemecahan masalah yang berhubungan dengan pekerjaan (Tabel 19).

Tabel 19 Skor kepuasan pekerja terhadap dimensi dukungan atasan

No Indikator

Skor Nilai

Rataan

Skor Keterangan

1 2 3 4 5

1 Atasan bersedia Mendengarkan

Masalah 1 0 7 32 7 3.94 Puas

2 Atasan dapat diandalkan dalam

tugas berat 2 3 2 33 7 3.85 Puas

3 Atasan Mudah ditemui 1 0 3 34 9 4.06 Puas

Rata-rata Skor 3.95 Puas

Faktor yang mendukung pengukuran dimensi ketidakjelasan peran antara lain adalah pekerja mengetahui pelaksanaan tugas sesuai aturan perusahaan, para pekerja mengetahui apa yang diharapkan perusahaan sehubungan dengan pekerjaan dan pekerja mengetahui tanggung jawab terhadap pekerjaan. Hasil perhitungan skor kepuasan pekerja terhadap dimensi ketidakjelasan peran disajikan pada Tabel 20.

Tabel 20 Skor kepuasan pekerja terhadap dimensi ketidakjelasan peran No Indikator Skor Nilai Rataan Skor Keterangan 1 2 3 4 5

1 Mengetahui pelaksanaan tugas sesuai

aturan 0 2 2 33 10 4.08 Puas

2 Mengetahui haparan perusahaan sesuai

dengan pekerjaan 1 2 4 34 6 3.89 Puas

3 Mengetahui tanggung jawab terhadap

pekerjaan 0 0 2 32 13 4.23 Puas

Rata-rata Skor 4.07 Puas

Dari Tabel 20 diketahui bahwa pekerja merasa puas atau mengerti dengan peran yang mereka pegang. Hal ini ditunjukkan dari rata-rata skor kepuasan terhadap dimensi ketidakjelasan peran yaitu 4,07. Dalam tahapan kegiatan pemanenan hutan, peran para pekerja dalam pelaksanaan kegiatan tersebut cukup besar. Hal ini dikarenakan kegiatan pemanenan hutan memiliki target yang mesti dicapai perusahaan dan pelaksanaan kegiatan pemanenan ini memiliki aturan yang berhubungan dengan aspek ekonomi, ekologi dan sosial.

Pengukuran persepsi kepuasan pekerja selanjutnya diukur dari dimensi beban kerja. Dari hasil perhitungan ini, diperoleh hasil bahwa para pekerja cukup puas dengan dimensi beban kerja ini. Hal ini dilihat dari rata-rata skor yang diperoleh sebesar 3,25. Beban kerja yang dikerjakan para pekerja ini termasuk cukup berat. Hal ini dikarenakan tingkat resiko bahaya yang tinggi dan persepsi ini didukung juga dengan anggapan pekerja bahwa pekerjaan mereka sangat membahayakan hidup. Namun, para pekerja menilai mereka memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan pekerjaan mereka sehingga tuntutan atasan untuk bekerja cepat sesuai rencana perusahaan dapat mereka selesaikan. Hasil pengukuran ini dapat disajikan pada Tabel 21.

Tabel 21 Skor kepuasan pekerja terhadap dimensi beban kerja No Indikator Skor Nilai Rataan Skor Keterangan 1 2 3 4 5

1 Beban pekerjaan terlalu berat 1 15 7 19 5 3.26 Cukup berat

2 Tidak cukup waktu

menyelesaikan pekerjaan 0 24 6 14 3 2.91 Tidak puas

3 Harus bekerja cepat sesuai

rencana atasan 0 10 6 24 7 3.60 Cukup berat

4 Pekerjaan dapat membahayakan

hidup 7 12 4 11 13 3.23

Cukup berbahaya

Rata-rata Skor 3.25 Cukup berat

Pengukuran kepuasan kerja selanjutnya diukur dari dimensi kepuasan kerja. Dimensi ini menerangkan faktor kepuasan terhadap pekerjaan, faktor menikmati pekerjaan, semangat dalam bekerja dan kepuasan terhadap penghasilan yang didapat sebagai faktor-faktor pendukung kepuasan pekerja. Nilai rataan skor kepuasan yang diperoleh pada dimensi ini sebesar 4,05. Sehingga dapat disimpulkan pekerja merasa puas dengan pekerjaan yang mereka lakukan dan hasil yang mereka dapatkan. Menurut mereka, asil yang mereka dapat sesuai dengan resiko kerja yang mereka hadapi dilapangan. Hasil skor kepuasan ini disajikan pada Tabel 22.

Tabel 22 Skor kepuasan pekerja terhadap dimensi kepuasan kerja

No Indikator

Skor Nilai

Rataan

Skor Keterangan

1 2 3 4 5

1 Puas dengan pekerjaan 1 2 2 32 10 4.02 Puas

2 Menikmati pekerjaan 0 1 1 36 9 4.13 Puas

3 Bersemangat melakukan

pekerjaan 0 0 2 31 14 4.26 Puas

4 Puas dengan penghasilan yang

didapat 1 6 4 27 9 3.79 Puas

Dimensi terakhir yang diukur dalam persepsi kepuasan pekerja adalah dimensi komitmen. Dimensi ini menjelaskan seberapa besar komitmen para pekerja terhadap pekerjaan mereka dan terhadap perusahaan pada umumnya.

Dokumen terkait