• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kinerja Ruas Jalan Pada Jam Puncak Bangkitan Perjalanan .1 Volume Lalu Lintas .1 Volume Lalu Lintas

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3 Analisis Kinerja Ruas Jalan Pada Jam Puncak Bangkitan Perjalanan .1 Volume Lalu Lintas .1 Volume Lalu Lintas

Dari hasil survei di lokasi studi bangkitan perjalanan tertinggi terjadi pada hari senin dan hanya terjadi dari pukul 06.00-14.00 sesuai dengan waktu beroperasinya sekolah. Hasil perhitungan volume lalu lintas pada jam puncak bangkitan perjalanan dapat dilihat pada tabel 5.5.

Tabel 5.5 Volume lalu lintas pada jam puncak bangkitan perjalanan

Waktu

Komposisi lalu lintas

(kend/jam) Total kendaraan

HV LV MC Kendaraan smp

06.30-07.30 50 159 681 890 496.4

Sumber : Hasil Analisis (2019)

Tabel 5.5 menunjukkan hasil perhitungan volume lalu lintas pada jam puncak bangkitan perjalanan hari senin pukul 06.30-07.30 yaitu 496,4 smp/jam.

5.3.2 Kapasitas

Untuk menghitung kapasitas yang terjadi pada jam puncak volume lalu lintas jalan Kartama, dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Menentukan kapasitas dasar

Jika kondisi sesungguhnya sama dengan kasus dasar (ideal) tertentu, maka semua faktor penyesuaian menjadi 1,0 sehingga besarnya kapasitas sama dengan kapasitas dasar. Nilai kapasitas dasar dapat dilihat pada tabel 3.4.

Tabel 3.4 menunjukkan kapasitas dasar untuk jalan perkotaan. Menentukan kapasitas dasar (CO) menggunakan tabel 3.4 dengan tipe jalan pada Kartama 2/2, maka nilai CO per lajur adalah 2900 smp/jam.

2. Faktor penyesuaian untuk kapasitas

a. Faktor penyesuaian pemisah arah (FCSP)

Untuk faktor penyesuaian kapasitas pemisah arah (FCSP) dapat dilihat pada tabel 3.5. Tabel 3.5 menunjukkan faktor penyesuaian untuk pemisah arah. Jalan Kartama memiliki tipe jalan 2/2, pada jam puncak bangkitan perjalanan hari senin pukul 06.30-07.30 memiliki persentase volume 50%

menuju arah timur dan 50% menuju arah barat, sehingga dilihat dari tabel 3.5 untuk faktor pemisah arah (FCSP) adalah 1,00. Persentase volume lalu lintas dapat dilihat pada table 5.6.

Tabel 5.6 Persentase volume pada jam puncak bangkitan perjalanan

Waktu Barat-Timur Timur-Barat

HV LV MC HV LV MC

06.30-06.45 10 22 65 8 27 67

06.45-07.00 7 17 72 8 18 79

07.00-07.15 5 19 97 4 19 89

07.15-07.30 4 17 113 4 20 99

Persentase (%) 50 50

Sumber : Hasil Survei (2019)

Tabel 5.6 menunjukkan persentase volume lalu lintas pada segmen jalan Kartama di lokasi studi yaitu volume lalu lintas 55% menuju arah timur dan 45% menuju arah barat.

57

b. Faktor Penyesuaian Lebar Jalur Lalu Lintas (FCW)

Kapasitas juga dipengaruhi oleh lebar jalur lalu lintas yang dinyatakan dengan faktor penyesuaian lebar jalan (FCW) dapat dilihat pada Tabel 3.6.

Tabel 3.6 menunjukkan lebar jalur (FCW). Menggunakan tabel 3.6 dengan lebar efektif jalan 6,15 meter, maka dengan menggunakan rumus interpolasi, FCw = 0,89.

c. Faktor Penyesuaian Hambatan Samping (FCSF)

Hambatan samping adalah dampak terhadap kinerja lalu lintas dari aktivitas samping segmen jalan, seperti pejalan kaki atau orang yang menyeberang jalan, kendaraan berhenti/parkir di sisi jalan, kendaraan masuk/keluar sisi jalan dan kendaraan bergerak lambat disisi jalan. Kelas hambatan samping pada jalan perkotaan dapat dilihat pada tabel 3.7. Tabel 3.7 menunjukkan kelas hambatan samping pada jalan perkotaan.

Menentukan besar hambatan samping (FCSF) dengan data yang diperoleh dari hasil analisis frekuensi berbobot hambatan samping pada jam puncak volume lalu lintas yaitu pukul 06.30-07.30 adalah 319,6 sehingga dengan menggunakan tabel 3.7 kelas hambatan samping pada jam puncak adalah sedang. Faktor penyesuaian (FCSF) untuk pengaruh hambatan samping dan lebar bahu pada kapasitas jalan perkotaan dengan bahu dapat dilihat pada tabel 3.8. Tabel 3.8 menunjukkan faktor penyesuaian (FCSF) untuk pengaruh hambatan samping dan lebar bahu pada kapasitas jalan perkotaan dengan bahu. Menentukan besar faktor penyesuaian (FCSF) untuk pengaruh hambatan samping (FCSF) dengan data yang diperoleh dari hasil analisis frekuensi berbobot hambatan samping pada jam puncak bangkitan perjalanan yaitu pukul 06.30-07.30 adalah 319,6. Sehingga dengan lebar bahu jalan 0,95 meter, menggunakan tabel 3.8 dengan rumus interpolasi diperoleh FCSF sebesar 0,92. Nilai faktor berbobot tipe hambatan samping dapat dilihat pada tabel 3.10.

Tabel 3.10 menunjukkan angka bobot tipe hambatan samping, diantaranya untuk pejalan kaki yang berjalan dan menyeberang, kendaraan lambat, kendaraan masuk dan keluar ke/dari lahan samping, kendaraan parkir dan kendaraan berhenti.

d. Faktor Penyesuaian Ukuran Kota (FCCS)

Faktor penyesuaian untuk pengaruh ukuran kota (FCCS) dapat dilihat pada Tabel 3.11. Menentukan ukuran kota (FCCS) dengan menggunakan tabel 3.11. Dengan jumlah penduduk di kota Pekanbaru mencapai 1.117.359 juta jiwa (BPS, 2018), maka diperoleh nilai FCCS sebesar 1,00.

3. Kapasitas

Menghitung nilai kapasitas (C) dengan menggunakan pers. 3.1, yaitu:

C = CO x FCW x FCSP x FCSF x FCCS

Keterangan:

C = Kapasitas sesungguhnya (smp/jam) C0 = Kapasitas dasar (smp/jam)

FCW = Faktor penyesuaian lebar jalan FCSP = Faktor penyesuaian pemisah arah

FCSF = Faktor penyesuaian hambatan samping dan bahu jalan/kerb FCCS = Faktor penyesuaian ukuran kota

Maka:

C = CO x FCW x FCSP x FCSF x FCCS C = 2900 x 0,89 x 1 x 0,92 x 1

C = 2.374,52 smp/jam

Dari hasil perhitungan diperoleh nilai kapasitas sebesar 2.374,52 smp/jam.

59

5.3.3 Derajat Kejenuhan

Setelah kapasitas sesungguhnya diperoleh, selanjutnya dapat dihitung besarnya derajat kejenuhan dengan menggunakan pers. 3.2. Dengan Q pada jam puncak bangkitan perjalanan yaitu pukul 06.30-07.30 yaitu sebesar 496,4 smp/jam, maka:

Derajat kejenuhan pada jam puncak volume lalu lintas:

DS = 𝑄

𝐶 Keterangan:

DS = Derajat kejenuhan

Q = Arus lalu-lintas (smp/jam) C = Kapasitas (smp/jam) Maka:

DS = 𝑄

𝐶 DS = 496.4

2374.52

DS = 0,21

Dari hasil perhitungan diperoleh nilai derajat kejenuhan pada jam puncak bangkitan perjalanan adalah 0,21. Dimana hal itu berarti volume lalu lintas masih dalam zona arus stabil yaitu 21% dari kapasitas jalan. Hal ini dikarenakan perilaku pengendara yang sebagian besar mengikuti rambu-rambu lalu lintas yang ada pada jalan didepan lokasi sekolah. Hubungan antara tingkat pelayanan, karakteristik arus lalu lintas dan rasio volume terhadap kapasitas dapat dilihat pada tabel 3.17.

Tabel 3.17 menunjukkan hubungan antara tingkat pelayanan, karakteristik arus lalu lintas dan rasio volume terhadap kapasitas. Berdasarkan tabel 3.17 dengan nilai derajat kejenuhan pada jam puncak bangkitan perjalanan adalah 0,21 maka tingkat pelayanan jalan adalah B.

5.3.4 Kecepatan

Pada analisis kecepatan ada dua faktor yang harus dihitung terlebih dahulu yaitu :

A. Besarnya derajat kejenuhan pada saat jam puncak bangkitan perjalanan dan nilai derajat kejenuhan tersebut sudah dihitung sebelumnya.

B. Besarnya kecepatan arus bebas (FV) pada segmen jalan yang ditinjau..

Untuk menghitung kecepatan arus bebas (FV) dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Menentukan kecepatan arus bebas dasar kendaraan ringan (FVO)

Berdasarkan Dep.PU (1997), kecepatan arus bebas adalah kecepatan kendaraan yang tidak dihalangi kendaraan lain. Kecepatan arus bebas dasar ditentukan berdasarkan jenis jalan dan jenis kendaraan. Untuk nilai kecepatan arus bebas dasar dapat dilihat pada Tabel 3.12.

Tabel 3.12 menunjukkan kecepatan arus bebas dasar (FV0) untuk jalan perkotaan. Berdasarkan tabel 5.45 dengan menggunakan kecepatan arus bebas dasar kendaraan ringan (2/2 UD) maka diperoleh FV0 = 44.

2. Menentukan faktor penyesuaian lebar jalur lalu lintas efektif (FFVw)

Penyesuaian akibat lebar jalur lalu lintas ditentukan berdasarkan jenis jalan dan lebar jalur lalu lintas efektif (Wc). Pada jalan selain 2/2 tak terbagi pertambahan atau pengurangan kecepatan bersifat linier sejalan dengan selisihnya dengan lebar standar (3,5 meter). Hal ini berbeda terjadi pada jalan 2/2 UD terutama untuk lebar (2 arah) kurang dari 6 meter. Nilai untuk penyesuaian kecepatan arus bebas untuk lajur lalu lintas dapat dilihat pada tabel 3.13. Tabel 3.13 menunjukkan Faktor penyesuaian (FFVW) untuk pengaruh lebar jalur lintas pada kecepatan arus bebas kendaraan ringan jalan perkotaan. Berdasarkan tabel 3.13 dengan lebar jalur 6,15 meter, menggunakan interpolasi maka diperoleh FVW = -2,55.

3. Menentukan faktor penyesuaian kondisi hambatan samping (FFVSF)

Faktor penyesuaian hambatan samping ditentukan berdasarkan jenis jalan, kelas hambatan samping, lebar bahu (jarak kereb ke penghalang) efektif.

61

Faktor penyesuaian untuk pengaruh hambatan samping dan lebar bahu (FFVSF) pada harus bebas kendaraan ringan untuk jalan perkotaan dengan bahu dapat dilihat pada tabel 3.14. Tabel 3.14 menunjukkan faktor penyesuaian untuk pengaruh hambatan samping dan lebar bahu (FFVSF) pada kecepatan arus bebas kendaraan ringan untuk jalan perkotaan dengan bahu.

Berdasarkan tabel 3.14 dengan lebar bahu adalah 6,15 dan kelas hambatan samping sangat rendah saat sekolah tidak beroperasi, dengan interpolasi maka diperoleh FFVSF = 1,01.

4. Menentukan faktor penyesuaian ukuran kota (FFVCS)

Faktor penyesuaian ukuran kota (FFVCS) ditentukan berdasarkan jumlah penduduk di kota tempat ruas jalan yang bersangkutan berada. Faktor penyesuaian untuk pengaruh ukuran kota dapat dilihat pada tabel 3.16.

Tabel 3.16 menunjukkan faktor penyesuaian (FFVCS) untuk pengaruh ukuran kota pada kecepatan arus bebas kendaraan ringan jalan perkotaan.

Menentukan ukuran kota (FCCS) dengan menggunakan tabel 3.16. Jumlah penduduk di Kota Pekanbaru 1.117.359 juta jiwa (BPS, 2018), maka diperoleh nilai FCCS sebesar 1,00.

5. Menghitung nilai kecepatan arus bebas dengan menggunakan pers. 3.3.

FV = (FV0 + FVW) x FFVSF x FFVCS

Keterangan:

FV = Kecepatan arus bebas kendaraan ringan pada kondisi lapangan (km/jam)

FV0 = Kecepatan arus bebas dasar kendaraan ringan pada jalan dan alinyemen yang diamati (km/jam)

FFVW = Penyesuaian kecepatan akibat lebar jalur lalu lintas (km/jam) FFVSF = Faktor penyesuaian hambatan samping dan lebar bahu/jarak

kereb ke penghalang

FFVCS = Faktor penyesuaian ukuran kota

Maka:

FV = (FV0 + FVW) x FFVSF x FFVCS

FV = (44 + (-2.55)) x 1.01 x 1 FV = 41,86 km/jam.

Hasil perhitungan kecepatan arus bebas ditampilkan pada tabel 5.7.

Tabel 5.7 Perhitungan kecepatan arus bebas jam puncak bangkitan perjalanan

Waktu

Sumber : Hasil Analisis (2019)

Tabel 5.7 menunjukkan perhitungan kecepatan arus bebas yaitu 41,86 km/jam.

Setelah derajat kejenuhan dan kecepatan arus bebas diperoleh, kemudian dicari besarnya kecepatan kendaraan ringan dengan menggunakan gambar 5.6 dibawah ini.

Gambar 5.6 Grafik kecepatan rata-rata kendaraan ringan (Hasil Analisis, 2019)

63

Gambar 5.6 menunjukkan grafik kecepatan rata-rata kendaraan ringan di lokasi studi, dengan kecepatan rata-rata kendaraan ringan:

Kecepatan arus bebas (FV) : 41,86 km/jam Derajat kejenuhan (Q/C) : 0,21

Dari hasil gambar 5.6 dengan menggunakan MKJI 1997, maka didapat kecepatan rata-rata kendaraan ringan adalah 38 km/jam.

64 6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka dapat diabil kesimpulan sebagai berikut:

1. Volume lalu lintas pada jam puncak segmen jalan terjadi pada pukul 07.00-08.00 dengan total kendaraan 975 kendaraan/jam yaitu 517,8 smp/jam.

sedangkan bangkitan perjalanan terjadi pada pukul 06.00-14.00, dimana kondisi tertinggi terjadi pada hari hari senin pada pukul 06.30-07.30 yaitu sebesar 42,5 smp/jam sedangkan kondisi terendah terjadi pada pukul 07.30-08.30 yaitu sebesar 2,1 smp/jam.

2. Beroperasinya SMPN 25 Pekanbaru, derajat kejenuhan yang diperoleh pada jam puncak volume lalu lintas sebesar 0,22 dengan tingkat pelayanan B dan derajat kejenuhan pada jam puncak bangkitan perjalanan sebesar 0,21 dengan tingkat pelayanan B.

6.2 Saran

Adapun saran yang dapat dijadikan pertimbangan untuk mengatasi masalah yang terdapat pada ruas jalan tersebut, yaitu:

1. Mengingat banyaknya aktifitas dari bangunan atau toko yang berada di Jalan Kartama maka perlu dilakukan penelitian yang lebih lengkap mengenai kinerja ruas Jalan Kartama akibat bangkitan perjalanan gabungan dari bangunan dan toko tersebut.

2. Kecepatan zona aman sekolah, menurut Peraturan Dirjen Perhubungan Darat tahun No. SK 1304/AJ403/DJPD/2014 adalah 30 km/jam, untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan, maka dari itu perlu adanya tindakan diantaranya memasang rambu kecepatan zona aman sekolah dan memperketat pengawasan dilingkungan sekolah.

65

Dokumen terkait