• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Analisis Kinerja Ruas Jalan Pada Jam Puncak Volume Lalu Lintas Dalam analisis kinerja ruas jalan saat ini dibutuhkan analisis volume lalu Dalam analisis kinerja ruas jalan saat ini dibutuhkan analisis volume lalu

5.2.1 Volume Lalu Lintas

Dalam manual kapasitas, nilai arus lalu lintas (Q) mencerminkan komposisi lalu lintas, dengan menyatakan arus dalam satuan kendaraan ringan (smp). Semua nilai arus lalu lintas (per arah dan total) diubah menjadi satuan kendaraan ringan (smp) dengan menggunakan ekivalen mobil penumpang (emp) yang diturunkan berdasarkan tipe kendaraan berikut:

A. Kendaraan Berat/ Heavy Vehicle (HV), kendaraan bermotor dengan jarak as lebih dari 3,50 m biasanya beroda lebih dari 4 (termasuk bis, truk 2 as, truk 3 as, dan truk kombinasi sesuai sistem klasifikasi Bina Marga).

B. Kendaraan Ringan/ Light Vehicle (LV), kendaraan bermotor 2 as beroda 4 dengan jarak as 2,0-3,0 m (termasuk mobil penumpang, opelet, mikrobis, pick up, dan truk kecil sesuai sistem klasifikasi Bina Marga).

C. Sepeda Motor/ Motor Cycle (MC), kendaraan bermotor beroda 2 atau 3 (termasuk sepeda motor dan kendaraan beroda 3 sesuai sistem klasifikasi Bina Marga.

D. Kendaraan Tak Bermotor/ Unmotorized (UM), kendaraan beroda yang menggunakan tenaga manusia atau hewan.

Nilai ekivalen mobil penumpang (ekr) ditampilkan pada Tabel 5.2.

Tabel 5.2 Emp untuk jalan perkotaan terbagi dan satu arah Tipe jalan:

Sumber: Departemen Pekerjaan Umum ( 1997 )

51

Tabel 5.2 menunjukkan nilai ekr untuk jalan perkotaan terbagi dan satu arah.

Dimana pada lokasi studi arus lalu lintas lebih kecil dari 1800 kend/jam. Dengan lebar jalur lebih besar dari 6 meter, berdasarkan tabel faktor pengali (emp) nilai HV adalah 1,3 dan nilai MC adalah 0,40. Sementara nilai LV adalah 1. Volume lalu lintas tertinggi yaitu pada hari senin dapat dilihat pada tabel 5.3.

Tabel 5.3 Volume lalu lintas saat ini pada jam puncak segmen jalan Kartama Jam

Puncak Waktu

Komposisi lalu lintas

(kend/jam) Total Kendaraan

HV LV MC Kendaraan smp

Pagi 07.00-08.00 44 147 784 975 517.8

Sumber : Hasil Analisis (2019)

Tabel 5.3 menunjukkan hasil perhitungan volume lalu lintas tertinggi terjadi pada hari senin pukul 07.00-08.00 yaitu 517,8 smp/jam.

5.2.2 Kapasitas

Kapasitas adalah arus lalu lintas maksimum yang dapat melintas dengan stabil pada suatu potongan melintang jalan pada kondisi tertentu.

Untuk menghitung kapasitas yang terjadi pada jam puncak volume lalu lintas dijalan Kartama, dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Menentukan kapasitas dasar

Jika kondisi sesungguhnya sama dengan kasus dasar (ideal) tertentu, maka semua faktor penyesuaian menjadi 1,0 sehingga besarnya kapasitas sama dengan kapasitas dasar. Nilai kapasitas dasar dapat dilihat pada tabel 3.4.

Menentukan kapasitas dasar (CO) dengan menggunakan tabel 3.4. dengan tipe jalan pada Kartama 2/2, maka nilai CO per lajur adalah 2900 smp/jam.

2. Faktor penyesuaian untuk kapasitas

a. Faktor penyesuaian pemisah arah (FCSP)

Untuk faktor penyesuaian kapasitas pemisah arah (FCSP) dapat dilihat pada tabel 3.5. Tabel ini hanya memberikan nilai untuk jalan satu lajur dua arah (2/2) tak terbagi dan empat lajur dua arah (4/2) tak terbagi.

Sedangkan untuk jalan terbagi dan satu arah faktor penyesuaian arah bernilai 1,0.

Tabel 3.5 menunjukkan faktor penyesuaian untuk pemisah arah. Jalan Kartama memiliki tipe jalan 2/2, pada jam puncak hari senin pukul 07.00-08.00 memiliki persentase volume 55% menuju arah timur dan 45%

menuju arah barat, sehingga dilihat dari tabel 5.5 untuk faktor pemisah arah (FCSP) adalah 0,97. Persentase volume lalu lintas dapat dilihat pada tabel 5.4.

Tabel 5.4 Persentase volume lalu lintas segmen Jalan Kartama

Waktu Barat-Timur Timur-Barat

HV LV MC HV LV MC

07.00-07.15 5 19 97 4 19 89

07.15-07.30 4 17 113 4 20 99

07.30-07.45 9 19 121 6 18 87

07.45-08.00 7 19 99 5 16 79

Persentase (%) 55 45

Sumber : Hasil Survei (2019)

Tabel 5.4 menunjukkan persentase volume lalu lintas pada segmen jalan Kartama di lokasi studi yaitu volume lalu lintas 55% menuju arah timur dan 45% menuju arah barat.

b. Faktor Penyesuaian Lebar Jalur Lalu Lintas (FCw)

Kapasitas juga dipengaruhi oleh lebar jalur lalu lintas yang dinyatakan dengan faktor penyesuaian lebar jalan (FCw) dapat dilihat pada Tabel 3.6.

Tabel 3.6 menunjukkan lebar jalur (FCw). Menggunakan tabel 3.6 dengan lebar efektif jalan 6,15 meter, maka dengan menggunakan rumus interpolasi, FCw = 0,89.

c. Faktor Penyesuaian Hambatan Samping (FCSF)

Hambatan samping adalah dampak terhadap kinerja lalu lintas dari aktivitas samping segmen jalan, seperti pejalan kaki atau orang yang menyeberang jalan, kendaraan berhenti/parkir di sisi jalan, kendaraan masuk/keluar sisi jalan dan kendaraan bergerak lambat disisi jalan.

53

Kelas hambatan samping pada jalan perkotaan dapat dilihat pada tabel 3.7. Tabel 3.7 menunjukkan kelas hambatan samping pada jalan perkotaan. Menentukan besar hambatan samping (FCSF) dengan data yang diperoleh dari hasil analisis frekuensi berbobot hambatan samping pada jam puncak volume lalu lintas yaitu pukul 07.00-08.00 adalah 213,5 sehingga dengan menggunakan tabel 3.8 kelas hambatan samping pada jam puncak adalah rendah. Faktor penyesuaian (FCSF) untuk pengaruh hambatan samping dan lebar bahu pada kapasitas jalan perkotaan dengan bahu dapat dilihat pada tabel 3.8. Tabel 3.8 menunjukkan faktor penyesuaian (FCSF) untuk pengaruh hambatan samping dan lebar bahu pada kapasitas jalan perkotaan dengan bahu. Menentukan besar faktor penyesuaian (FCSF) untuk pengaruh hambatan samping (FCSF) dengan data yang diperoleh dari hasil analisis frekuensi berbobot hambatan samping pada jam puncak volume lalu lintas yaitu pukul 07.00-08.00 adalah 213,5. Sehingga dengan lebar bahu jalan 0,95 meter, menggunakan tabel 3.8 dengan rumus interpolasi diperoleh FCSF sebesar 0,94.

Nilai faktor berbobot tipe hambatan samping dapat dilihat pada tabel 3.10.

Tabel 3.10 menunjukkan angka bobot tipe hambatan samping, diantaranya untuk pejalan kaki yang berjalan dan menyeberang, kendaraan lambat, kendaraan masuk dan keluar ke/dari lahan samping, kendaraan parkir dan kendaraan berhenti.

d. Faktor Penyesuaian Ukuran Kota (FCCS)

Faktor penyesuaian untuk pengaruh ukuran kota (FCCS) dapat dilihat pada tabel 3.11. Tabel 3.11 menunjukkan faktor penyesuaian untuk pengaruh ukuran kota. Menentukan ukuran kota (FCCS) dengan menggunakan tabel 3.11 dengan jumlah penduduk di kota Pekanbaru 1.117.359 juta jiwa (BPS, 2018), maka diperoleh nilai FCCS sebesar 1,00.

3. Kapasitas

Kapasitas adalah arus lalu lintas maksimum yang dapat melintas dengan stabil pada suatu potongan melintang jalan pada kondisi tertentu. Menghitung nilai kapasitas (C) dengan menggunakan pers. 3.1, maka:

Maka:

C = CO x FCW x FCSP x FCSF x FCCS

C = 2900 x 0,89 x 0,97 x 0,94 x 1 C = 2.353,36 smp/jam

Dari hasil perhitungan diperoleh nilai kapasitas sebesar 2.353,36 smp/jam.

5.2.3 Derajat Kejenuhan

Setelah kapasitas sesungguhnya diperoleh, selanjutnya dapat dihitung besarnya derajat kejenuhan dengan menggunakan pers. 3.2. Dengan Q pada jam puncak volume lalu lintas pukul 07.00-08.00 yaitu sebesar 517,8 smp/jam, maka:

Derajat kejenuhan pada jam puncak volume lalu lintas:

DS = 𝑄

𝐶 Keterangan:

DS = Derajat kejenuhan

Q = Arus lalu-lintas (smp/jam) C = Kapasitas (smp/jam) Maka:

DS = 𝑄

𝐶 DS = 517,8

2353.35

DS = 0,22

Dari hasil perhitungan diperoleh nilai derajat kejenuhan pada jam puncak volume lalu lintas adalah 0,22. Dimana hal itu berarti volume lalu lintas masih dalam zona arus stabil yaitu 22% dari kapasitas jalan.

55

Hal ini dikarenakan perilaku pengendara yang sebagian besar mengikuti rambu-rambu lalu lintas yang ada pada jalan didepan lokasi sekolah. Karena angka dari volume lalu lintas lebih rendah dari kapasitas jalan yaitu 22%. Hubungan antara tingkat pelayanan, karakteristik arus lalu lintas dan rasio volume terhadap kapasitas dapat dilihat pada tabel 3.17. Tabel 3.17 menunjukkan hubungan antara tingkat pelayanan, karakteristik arus lalu lintas dan rasio volume terhadap kapasitas.

Berdasarkan tabel 3.17 dengan nilai derajat kejenuhan pada jam puncak volume lalu lintas adalah 0,22 maka tingkat pelayanan jalan adalah B.

5.3 Analisis Kinerja Ruas Jalan Pada Jam Puncak Bangkitan Perjalanan

Dokumen terkait