Sehubungan diselenggarakannya Program Sekolah Gratis di Provinsi Sumatera Selatan sejak tahun 2009 berdasarkan Perda No.3 Tahun 2009, anak yang bersekolah baik negeri maupun swasta pada seluruh jenjang pendidikan di Provinsi Sumatera Selatan dibebaskan dari kewajiban membayar SPP, hal ini merupakan kebijakan yang cukup tepat apabila dilihat dari data pada tabel diatas dimana Biaya SPP merupakan salah satu pengeluaran yang cukup besar selain Biaya Transport, Baju Sekolah dan Perlengkapannya, serta Biaya Pendaftaran.
Berdasarkan data tersebut, rekomendasi yang dapat diberikan kepada pemerintah untuk dapat meringankan beban orang tua siswa dalam membiayai pendidikan anak adalah antara lain subsidi SPP dan Biaya Pendaftaran, Pengadaan Baju Seragam dan Perlengkapannya, serta pengadaan Bus Sekolah terutama di daerah-daerah yang akses menuju sekolah jaraknya jauh dari rumah siswa, daerah yang akses transportasinya sulit dan daerah yang biaya transportasinya mahal. Jumlah penerima program BSM di Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 120.803 siswa dengan rata-rata menerima bantuan sebesar Rp.291.297,-/ bulan.
Berdasarkan data anak usia 13-15 tahun, siswa miskin yang memperoleh BSM sebanyak 8.140 jiwa atau 1,79 persen dibandingkan total penduduk usia 13-15 tahun, sedangkan yang tergolong tidak miskin dan mendapat BSM sebanyak 20.158 jiwa atau 5,16 persen terhadap total penduduk usia 13-15 tahun. Sedangkan siswa yang tidak memperoleh BSM dari keluarga miskin sebanyak 70.487 jiwa atau 15,53 persen. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat ketidakakuratan data penerima BSM terutama bagi siswa yang tergolong miskin namun tidak menerima BSM yaitu sebanyak 70.487 jiwa.
Sedangkan jika dilihat dari data anak usia 16-18 tahun, penduduk miskin yang memperoleh BSM sebanyak 5.117 jiwa atau 1,28 persen dari total penduduk usia 16-18 tahun, sedangkan yang memperoleh BSM akan tetapi tergolong tidak miskin sebanyak 20.611 siswa atau 5,16 persen dari total penduduk usia 16-18 tahun. Siswa yang tidak memperoleh BSM dari keluarga miskin sebanyak 58.998 jiwa atau 14,76 persen dari total penduduk usia 16-18 tahun. Prioritas perbaikan implementasi program BSM agar dapat diutamakan bagi siswa yang tergolong miskin namun tidak menerima BSM yaitu sebanyak 58.998 jiwa.
Dari kriteria diatas, dapat disimpulkan bahwa sebanyak 20.158 jiwa penduduk usia 13-15 tahun dan 20.611 jiwa penduduk usia 16-18 tahun yang tidak tergolong miskin namun menerima BSM berarti memenuhi kriteria diatas sehingga layak untuk menerima Bantuan Siswa Miskin. Perbaikan implementasi program BSM yang selanjutnya akan dilanjutkan dan diperluas melalui Program Indonesia Pintar dapat difokuskan pada
siswa yang tergolong miskin namun tidak menerima BSM yaitu sebanyak 70.487 jiwa penduduk usia 13-15 tahun dan 58.998 jiwa penduduk usia 16-18 tahun. Hal ini agar menjadi bahan evaluasi dalam kriteria penentuan penerima Bantuan Pendidikan bagi siswa miskin selanjutnya.
Faktor-faktor yang memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap peluang partisipasi sekolah anak usia 13-15 tahun antara lain yaitu Lama Sekolah Ibu dan Pengeluaran per Kapita penduduk. Sedangkan variabel Umur Anak dan Jumlah Anggota Rumah Tangga memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap peluang Partisipasi Sekolah Anak Usia 13-15 Tahun di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2015. Selain itu Anak yang memiliki Jaminan Kesehatan berpeluang lebih besar berpartisipasi di sekolah dibandingkan yang tidak memiliki Jaminan Kesehatan, sedangkan Anak dari rumah tangga yang menerima Bantuan Beras Miskin berpeluang lebih kecil berpartisipasi disekolah dibandingkan yang tidak menerima Bantuan Beras Miskin.
Pada anak usia 16-18 tahun dampak perubahan variabel independen terhadap peningkatan/penurunan peluang partisipasi sekolah lebih besar dibandingkan usia 13-15 tahun, hal ini disebabkan karena pada usia 16-18 tahun lebih rentan untuk putus sekolah. Faktor-faktor yang memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap peluang Partisipasi Sekolah antara lain yaitu Lama Sekolah Ibu dan Pengeluaran per Kapita penduduk. Sedangkan Umur Anak dan Jumlah Anggota Rumah Tangga memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap peluang Partisipasi Sekolah Anak Usia 16-18 Tahun di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2015. Selain itu anak yang memiliki Jaminan Kesehatan, berjenis kelamin Perempuan dan tinggal di Perkotaan berpeluang lebih besar berpartisipasi di Sekolah dibandingkan yang tidak memiliki Jaminan Kesehatan, berjenis kelamin Laki-laki dan tinggal di Perdesaan.
Terdapat perbedaan yang signifikan dampak perubahan berbagai variabel terhadap peningkatan/ penurunan peluang partisipasi sekolah anak dari rumah tangga miskin dibanding anak secara keseluruhan dan dari rumah tangga tidak miskin. Hasil ini sesuai dengan pandangan keadilan Rawlsian bahwa alokasi yang paling adil adalah memaksimalkan utilitas dari Individu yang paling tidak beruntung dalam masyarakat.
Rata-rata biaya sekolah yang dikeluarkan rumah tangga per tahun sebesar Rp.3.121.619,- . Daerah dengan biaya sekolah yang tinggi terletak di daerah perkotaan, paling mahal yaitu di Kota Palembang yang sebesar Rp.5,40 juta/tahun, Prabumulih sebesar Rp.4,54 juta/tahun dan Rp.3,91 juta tahun di Lubuklinggau.
Rata-rata persentase Total biaya sekolah berdasarkan jenis biaya periode Juli- September 2015 di Sumatera Selatan, untuk Jenjang SD Negeri paling besar biaya untuk Baju Sekolah (30,32 persen), Jenjang SD Swasta paling besar yaitu Biaya Pendaftaran
(25,52 persen). Sedangkan pada Jenjang SMP Negeri paling besar yaitu Biaya Transport (35,06 persen), jenjang SMP Swasta paling besar yaitu Biaya Pendaftaran (33,69 persen). Pada jenjang SMA Negeri biaya paling besar sama dengan SMP Negeri yaitu untuk Biaya Transport yang (30,99 persen), pada jenjang SMA Swasta biaya paling besar yaitu untuk SPP (35,32 persen).
Masih terdapat sebanyak 70.487 jiwa penduduk usia 13-15 tahun dan 58.998 jiwa penduduk usia 16-18 tahun yang tergolong miskin namun tidak menerima Bantuan Siswa Miskin (BSM). Hasil ini dapat menjadi bahan evaluasi dalam perbaikan Program Bantuan Siswa Miskin yang selanjutnya akan dilanjutkan dan diperluas sasarannya melalui Program Indonesia Pintar (PIP).
Kabupaten Banyuasin, Kabupaten OKU Selatan, dan Kabupaten Empat Lawang agar diprioritaskan dalam pembangunan pendidikannya, karena kinerja capaian Angka Partisipasi Sekolah Tahun 2015 dan pertumbuhan Angka Partisipasi Sekolah Tahun 2011-2015 tergolong rendah apabila dibandingkan secara relatif terhadap rata-rata kinerja peningkatan partisipasi sekolah di Sumatera Selatan.