• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KONDISI PSIKOLOGI TOKOH MITSURU ABE

3.1. Sinopsis Cerita

Komik A Portrait of M & N menceritakan tentang seorang anak perempuan yang bernama Mitsuru Abe. Memiliki latar belakang keluarga yang sangat disegani oleh khalayak ramai dan sangat menjunjung tinggi pendidikan. Memiliki ayah seorang Eksekutif Presiden Perusahaan dan ibu yang sangat rupawan bernama Reika Abe, seorang wanita ahli konsultasi bunga yang sangat ambisius. Mitsuru memiliki dua saudara yang sangat pintar dan Mitsuru adalah anak bungsu.

Berbeda dengan saudara-saudaranya (Abang dan Kakaknya), Mitsuru Abe adalah anak perempuan yang ceroboh dan tidak begitu pintar dalam pelajaran sekolah. Hal ini yang menjadi mimpi buruk bagi ibunya yang beranggapan bahwa Mitsuru akan mempermalukan nama baik keluarga Abe serta Mitsuru yang bodoh kelak akan mencoreng nama baik keluarga Abe.

Tidak ingin mimpi buruknya menjadi kenyataan, sang ibu yang ambisius menetapkan banyak aturan yang harus dipatuhi dan dijalani oleh Mitsuru. Hal ini terbukti ketika Mitsuru yang bodoh berhasil menjadi juara kelas dan dipilih menjadi wakil di upacara kelulusan SMP. Mitsuru yang sangat mencintai ibunya tidak dapat melawan ataupun memberontak aturan- aturan dari sang ibu walaupun Mitsuru tidak sanggup menjalani peraturan-peraturan tersebut.

Seiring meningkatnya kepopuleritas Mitsuru di sekolah, kejadian yang akan menghancurkan impian ibunya pun terjadi. Tanpa sengaja Mitsuru mendapat luka akibat tendangan dari junior yang sedang bermain. Tanpa sadar Mitsuru berubah menjadi seseorang yang lain, dia memohon agar junior bersedia untuk melakukan tendangan itu sekali lagi. Orang-orang yang melihat kejadian ini menganggap Mitsuru sebagai anak perempuan yang abnormal, sehingga Mitsuru gagal menjadi wakil di upacara kelulusan.

Mitsuru adalah seorang masokis , itulah yang sebenarnya terjadi dalam dirinya. Awalnya tidak ada satu orang pun yang mengetahui bahwa Mitsuru mengalami beban psikologis seperti ini, termasuk ibunya. Mitsuru selalu menyimpan masalah yang dialaminya sendiri. Sampai pada akhirnya Mitsuru menjadi murid SMA dan bertemu dengan Natsuhiko Amakusa, teman sekelasnya.

Pertemuannya dengan Natsuhiko Amakusa adalah sebuah takdir yang tidak disadari oleh keduanya. Natsuhiko Amakusa adalah seorang yang sangat misterius dan selalu

menyembunyikan wajah tampannya dibalik kacamata yang tebal.

Natsuhiko mengetahui rahasia yang dimiliki oleh Mitsuru. Sewaktu makan siang

bersama Natsuhiko, tanpa sengaja Mitsuru terjatuh dan meja kelas jatuh menimpanya. Wajah cantiknya mengalami luka-luka kecil dan hidungnya mengeluarkan darah. Mitsuru mulai berbicara dan bertingkah aneh di depan Natsuhiko. Setelah sadar, Mitsuru menceritakan semua yang terjadi dalam dirinya pada Natsuhiko dan memohon kepadanya agar Natsuhiko bersedia untuk merahasiakan tentang penyakit masokis yang dideritanya.

Disisi lain, Natsuhiko Amakusa juga memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh teman- temannya tetapi diketahui oleh keluarganya. Natsuhiko terlahir sebagai anak laki-laki yang

lemah dan tidak diperbolehkan oleh sang ibu untuk bermain diluar yang kotor dan penuh kuman. Ayahnya seorang Direktur Perusahaan dan Ibunya seorang mantan artis Takarazuka (Grup cabaret terkenal di Jepang). Karena kedua orang tuanya sangat sibuk, Natsuhiko terbiasa bermain sendiri di kamar. Sampai pada akhirnya dia menemukan pantulan wajahnya dicermin. Pada saat itulah pertama kalinya dia melihat sosok yang disebut dengan tampan, dan dia mulai menyukai dirinya sendiri. Pada saat itu juga dia mulai masuk dalam penyakit psikologis yang disebut narsis.

Natsuhiko terpaksa harus menceritakan tentang penyakit yang dideritanya pada Mitsuru karena Mitsuru melihat Natsuhiko sedang bicara dengan cermin di UKS dan tanpa henti memuji-muji dirinya sendiri. Karena keduanya merasa memiliki rahasia besar dalam dirinya, akhirnya mereka menjadi teman dekat yang saling membantu untuk menutupi penyakit yang mereka alami didepan orang ramai.

Kedekatan yang mereka jalani menimbulkan bibit-bibit cinta dalam diri masing-masing. Mitsuru jatuh cinta pada pria yang bahkan tidak dapat mencintai siapapun selain dirinya sendiri, sedangkan Natsuhiko terlambat menyadari perasaannya sendiri. Lambat laun, Mitsuru berhasil mengubah perasaan Natsuhiko yang terlalu mencintai dirinya sendiri untuk mulai mencintai Mitsuru. Hubungan Mitsuru dan Natsuhiko diketahui oleh Ibu Mitsuru dan menimbulkan kekhawatiran yang amat besar. Ibu Mitsuru memutuskan untuk menjodohkan Tuan Madenokoji dengan Mitsuru, seorang pria tua yang memiliki latar belakang yang setara dengan keluarga Abe.

Perjodohan Mitsuru dengan Madenokoji berlangsung di Osaka Teiou Hotel. Besarnya rasa cinta yang dimiliki Mitsuru terhadap Natsuhiko membuat ia berani menolak permintaan Ibu yang sangat disegani dan dihormatinya. Ibu yang mendengarkan alas an dari Mitsuru

sangat marah dan menampar dan memarahi Mitsuru. Mitsuru yang tidak dapat mengontrol emosinya akhirnya berubah menjadi masokis didepan tamu undangan. Melihat tingkah Mitsuru yang belum pernah dilihat sebelumnya membuat sang Ibu terkejut. Tanpa

memberikan penjelasan apa-apa kepada Ibunya, Mitsuru pergi meninggalkan hotel bersama Natsuhiko. Mitsuru memutuskan untuk lari dari rumah dan tinggal di rumah Natsuhiko bersama Ibu Natsuhiko yang sangat menyukai anak perempuan.

Beberapa minggu kemudian, Ibu Natsuhiko mengirimkan undangan pernikahan Mitsuru dan Natsuhiko ke semua orang termasuk Ibu Mitsuru. Undangan ini dibuat tanpa persetujuan dari kedua belah pihak dan hanya keinginan Ibu Natsuhiko semata. Mitsuru memutuskan untuk menemui Ibunya dan menjelaskan tentang undangan pernikahan.

Acara pernikahan mereka berlangsung digereja tanpa dihadiri pihak keluarga Abe, bahkan Ibu Natsuhiko telah menyiapkan seorang pendamping ketika Mitsuru memasuki ruang upacara pernikahan. Acara pernikahan yang seharusnya bahagia ini membuat Mitsuru bersedih, yang seharusnya mendampingi dirinya menuju ruang upacara adalah sang Ayah yang sangat dicintainya, bukan orang lain. Mitsuru yang terbiasa menyimpan kesedihannya sendiri kembali berbohong bahwa dirinya baik-baik saja sampai pada akhirnya seseorang memanggil namanya dari balik pintu ruang ganti mempelai wanita, terlihat sosok yang tidak asing lagi, Abangnya Mitsuru datang untuk mengantikan sang Ayah untuk menjadi pendamping Mitsuru ke ruang upacara di karenakan sang Ayah sedang dinas keluar kota. Seketika rasa sedih Mitsuru hilang, setidaknya ada perwakilan dari pihak keluarga Abe yang datang dalam upacara pernikahannya.

3.2. Analisis Tokoh Utama Mitsuru Abe Dalam Komik A Portraid Of M & N Berdasarkan Teori Kognisi Depresi Aaron Beck

Mitsuru lahir sebagai anak bungsu dalam keluarga Abe yang sangat dihormati dan disegani oleh orang lain, hal ini membuat Mitsuru mendapat banyak didikan dan aturan-aturan yang harus dipatuhi olehnya. Banyak aturan-aturan yang diberikan oleh sang Ibu sebenarnya sangat bertolak belakang dengan kepribadian dan hati nuraninya. Hanya saja Mitsuru yang sangat menghormati Ibunya tak kuasa untuk menolak semua perintah dari sang Ibu. Berkat didikan sang Ibu yang sangat keras membuat Mitsuru menjadi seorang anak perempuan yang luar biasa, disenangi oleh semua orang, dan selalu menjadi peringkat satu disekolahnya. Ia menikmati kehidupannya sampai pada akhirnya sekelompok adik kelas yang sedang bermain-main tanpa sengaja menendang wajah cantiknya. Mitsuru yang dikenal sebagai tuan putri yang anggun berubah menjadi seorang masokis yaitu penyakit psikologi dimana penderita sangat menyukai rasa sakit yang dialami oleh tubuhnya. Kekacauan pada hari itu berlangsung didepan semua murid

sekolahan, kelompok adik kelas dengan rasa bersalah meminta maaf kepada Mitsuru, sedangkan Mitsuru memohon kepada mereka untuk melakukan tendangan diwajahnya lagi. Sudah bisa dipastikan, setelah kekacauan ini berlangsung kehidupan Mitsuru akan jauh berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Dan berikut akan dibahas kehidupan Mitsuru ketika menjalani hidup kehidupan sehari-harinya dilihat dari teori Kognisi Depresi Aaron Beck dan akan ditelaah hal-hal apa saja yang mendasari sehingga akhirnya Mitsuru mengalami depresi dan penyakit masokis yang diceritakan pada komik “A Portraid of M & N”.

3.2.1. Analisis tokoh Mitsuru Abe Berdasarkan Teori Kognisi Depresi Aaron Beck

Cuplikan jilid 1 halaman 20-22

Natsuhiko : “Kamu nggak apa-apa?” Mitsuru : “PLAK! Jangan sentuh aku!” Natsuhiko : “Eh?”

Mitsuru : “… Jangan pedulikan aku…”

Analisis :

Dari cuplikan di atas dapat dilihat gejala depresi yang tampak pada diri Mitsuru, dapat dilihat prilaku yang tampak pada Mitsuru sesuai dengan gejala depresi pada bab II yaitu:

menjauhkan diri dari masalah bahkan menjadi peka secara berlebihan sering dialami oleh mereka yang mengalami depresi. Hal ini terlihat dalam cuplikan “jangan sentuh aku!” dan “… jangan pedulikan aku…” digambarkan dalam komik Mitsurukemudian lari dengan cepat

meninggalkan kelas.Cuplikan ini menunjukkan bahwaMitsuru bermaksud menjauh dari masalah yang akan timbul jika dia akan berubah menjadi masokis karena luka kecil yang ada dilututnya, maka Mitsuru yang tidak ingin hal itu terjadi memutuskan untuk lari dari

meninggalkan Natsuhiko yang ingin menolongnya.

Cuplikan jilid 1 halaman 23-25

Mitsuru : Gara-gara kejadian kemarin, sekarang aku jadi nggak punya muka untuk bertemu Natsuhiko. Bagaimana ini… Karena kejadian kemarin, Semua orang akan berpikir kalau aku ini aneh… Saat ini, apapun yang kukatakan tidak ada

gunanya… Tenanglah, karena masih belum ada yang tahu mengenai apa yang sesungguhnya terjadi… Apa boleh buat, kejadian itu sudah terlanjur terjadi…

Analisis :

Mitsuru merasa banyak teman-teman sekolahnya yang mulai membicarakan dirinya dari belakang. Prilaku Mitsuru jadi tidak menentu, ia tampak menyendiri dan tidak ingin

berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Dari cuplikan diatas, bila ditelaah

menggunakan kognisi depresi Aaron Beck, terdapat pemikiran Mitsuru yang cenderung melihat kekalahan terhadap dirinya. Hal ini terbukti dari cuplikan “Saat ini, apapun yang kukatakan tidak ada gunanya…”. Menurut penulis, Mitsuru cenderung berpikir bahwa ia tidak akan mungkin membela dirinya dihadapan teman-temannnya karena pasti hanya akan menambah masalah baru disekolah, yang akan berakibat buruk jika sampai diketahui oleh Ibunya. Akhirnya Mitsuru tidak melakukan pembelaan sama sekali, melainkan hanya diam dan terus menjauh dari Natsuhiko.

Cuplikan jilid 1 halaman 28-32

Natsuhiko : “A… Abe… Maafkan aku! Apa wajahmu… Kamu nggak apa-apa?! Kamu berdarah”

Mitsuru : “Deg”

Natsuhiko : “Ayo cepat ke UKS”

Mitsuru : “Anda benar-benar hebat… Keren sekali…” Natsuhiko : “Abe… Kamu baik-baik saja?”

Mitsuru : “Tolong sekali lagi… hantam aku dengan lutut yang menawan itu… Tendang aku dengan kaki ini… Tampar aku… Injak-injak aku… Hantam aku dengan meja, kumohon.”

Natsuhiko : “Abe? Sadarlah…”

Mitsuru : “Kumohon, lakukan apa saja padaku!!!”

Analisis :

Pada cuplikan di atas, Mitsuru yang mendapat luka di wajahnya merasakan rasa sakit itu sebagai sesuatu yang menyenangkan, sehingga dia meminta kepada Natsuhiko untuk menyiksa dirinya lagi. Dalam cuplikan “Tolong sekali lagi… hantam aku dengan lutut yang menawan itu… Tendang aku dengan kaki ini… Tampar aku… Injak-injak aku… Hantam aku dengan meja, kumohon” dapat dianalisis bahwa Mitsuru menjadi anak perempuan yang tidak normal karena dia menyukai rasa sakit yang diterima oleh tubuhnya. Hal ini dapat terjadi karena Mitsuru dari dulu terbiasa menyimpan beban dan masalah dalam hati dan Mitsuru juga dihantui rasa cemas yang berlebihan terhadap dirinya sendiri, Mitsuru takut dia tidak bisa menjadi seperti yang diharapkan oleh Ibu dan keluarganya. Hal ini tergolong dalam Neurotic Depression

(depresi neurotik) yaitu respon terhadap stress dan kecemasan yang telah di timbun dimasa lalu. Selain itu jika Mitsuru tidak bisa menjadi seperti harapan sang Ibu, maka Ibu tidak segan-segan untuk memukul Mitsuru, hal inilah yang membuat Mitsuru menganggap bahwa rasa sakit itu adalah bentuk kasih sayang dari Ibu untuk dirinya.

Cuplikan jilid 1 halaman 37-38

Ibu : “Mitsuru… Keluarga Abe adalah keluarga terpandang dan semua anggota keluarga Abe itu selalu bisa lebih dari orang biasa.. Jadi, kalau ternyata kamu

sama dengan orang kebanyakan itu sama saja dengan kamu mempermalukan nama keluarga Abe”

Ibu : “Padahal kakak mu bisa mengerjakannya dengan mudah, kenapa kamu tidak bisa?”

Mitsuru : “Iya bu.. Maafkan aku Ibunda”

Ibu : “Mengertilah, aku memukulmu seperti ini karena kamu manis, padahal kamu anakku tapi kenapa kamu bisa sangat memalukan seperti ini”

Mitsuru : “Ma… Maafkan aku Ibu…”

Ibu : “Mitsuru, kamu itu mirip dengan Ibu saat masih muda… Jadi, pastilah sebenarnya kamu juga bisa melakukan apa yang bisa Ibu lakukan” Mitsuru : “Iya, Ibu…”

Agar jangan pernah mengkhianati cinta Ibu, aku harus berusaha sepuluh kali lipat agar lebih dari orang biasa. Agar jangan pernah mempermalukan keluarga Abe, aku harus bertingkah laku baik. Aku harus berusaha lebih keras lagi.

Analisis :

Pada kasus ini terlihat Mitsuru berusaha keras memenuhi harapan Ibunya agar tidak mempermalukan nama keluarga Abe. Dengan teori kognisi dapat dianalisa bahwa ada suatu harapan besar yang mengikat diri Mitsuru, yaitu “Keberadaannya tidak akan pernah dianggap di Keluarga Abe jika ia tidak pintar dan lebih dari orang lain” seperti yang terlihat dalam cuplikan “Agar jangan pernah mengkhianati cinta Ibu, aku harus berusaha sepuluh kali lipat agar lebih dari orang biasa. Agar jangan pernah mempermalukan keluarga Abe, aku harus bertingkah laku baik. Aku harus berusaha lebih keras lagi”. Mitsuru terus berusaha sekuat tenaga untuk menjadi pintar dan mendapatkan nilai-nilai bagus disekolah agar

keberadaannya di keluarga Abe dianggap. Dengan usahanya, ia berhasil mendapatkan rekomendasi menjadi wakil pada upacara kelulusan. Jika harapan besar ini tidak dapat diwujudkan, akan berdampak besar pada dirinya. Mitsuru yang pada saat ini tidak dapat memaafkan yang namanya kegagalan akan menganggap dirinya tidak berguna.

Cuplikan jilid 1 halaman 41-44

Anak laki-laki : “Abe, kamu nggak apa-apa?” Anak laki-laki : “Abe?”

Mitsuru : “Aku… Pukul aku lebih keras lagi… Injak aku lagi…”

Guru : “Kami membatalkan keputusan menjadikanmu wakil penerima ijazah dalam upacara kelulusan nanti… Selama ini belum pernah ada kejadian yang sangat menghebohkan seperti ini, saya terpaksa memberitahukan pada orang tuamu”. Mitsuru : “Pak… Pak Guru…”

Ibu : “Mitsuru… Kamu sudah melakukan hal yang sangat memalukan seperti itu… Kamu didepan banyak orang mengejar-ngejar laki-laki… Benar-benar anak nggak bermoral…”

Mitsuru : “Bu… Bukan begitu Ibunda… Saya juga tidak mengerti mengapa ini semua terjadi…”

Ibu : “Jangan membantah! Dasar anak nggak tahu malu… Anak seperti kamu ini sudah tidak ada gunanya lagi kusentuh… Kamu sudah gagal sebagai anggota keluarga Abe…”

Analisis :

Dari cuplikan di atas menurut penulis, Mitsuru kembali kehilangan sesuatu yang abstrak yaitu kehilangan harapan. Dalam cuplikan diatas dijelaskan bahwa Mitsuru telah kehilangan rekomendasi yang membanggakan yaitu menjadi wakil di upacara kelulusan, seperti yang ditulis pada cuplikan “Kami membatalkan keputusan menjadikanmu wakil penerima ijazah dalam upacara kelulusan nanti… Selama ini belum pernah ada kejadian yang sangat

menghebohkan seperti ini, saya terpaksa memberitahukan pada orang tuamu”. Selain itu Mitsuru juga kehilangan kasih sayang dan kepercayaan dari Ibu yang sangat dicintainya, seperti yang telihat dalam cuplikan “Jangan membantah! Dasar anak nggak tahu malu… Anak seperti kamu ini sudah tidak ada gunanya lagi kusentuh… Kamu sudah gagal sebagai anggota keluarga Abe…”. Hilangnya kepercayaan dari Ibu yang sangat dicintai membuat Mitsuru sangat terpuruk dan putus asa.

Cuplikan jilid 1 halaman 91-94

Hijiri : “Orang yang di sana!!! Awas!!!” Mitsuru : “Eh?”

“BUAK!!”

Hijiri : “Ma.. Maaf… Aku yang menendang bola ini…”

Hijiri : “Aku antar ke UKS… Aku benar-benar minta maaf… Ini semua salahku...” Hijiri : “Ah, aku akan mengambil sesuatu untuk mengompres wajahmu… tunggulah

disini…”

Mitsuru : “Tendangan bola yang penuh kekuatan… Kumohon, jadikanlah aku budak cintamu…”

Analisis :

Dari cuplikan di atas menurut penulis, saat Mitsuru menjadi seorang masokis dirinya kembali kehilangan harga diri, selain itu Mitsuru juga kehilangan kesadaraannya. Seperti yang ditulis pada cuplikan Mitsuru kembali menjadi masokis akibat tendangan bola dari Hijiri. Karena tidak sadar, Mitsuru tidak dapat mengontrol dirinya, dia memohon kepada Hijiri yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya agar bersedia melakukan tendangan itu sekali lagi. Hilangnya harga diri Mitsuru saat menjadi masokis juga terlihat dalam cuplikan “kumohon, jadikanlah aku budak cintamu…”. Sebagai seorang anak perempuan dengan latar belakang keluarga terpandang dan berpendidikan sangat tidak mungkin bagi dirinya untuk melanturkan kata-kata rendahan seperti itu. Tak lain, semuanya terjadi karena Mitsuru telah berubah menjadi masokis sehingga dia tidak dapat mengontrol dirinya sendiri.

Cuplikan jilid 1 halaman 131-133

Natsuhiko : “Kamu pacaran dengan kak Hijiri?”

Hijiri : “Ini karena Abe sudah lelah dengan kamu… Singkatnya kamu itu tidak bisa melindungi Abe dari orang-orang jahil di kelasmu… Jadi, perasaan cinta Abe sudah hilang”

Mitsuru : Bukan… Aku tidak pernah berpikir seperti itu… Aku… Hijiri : “Nanti kita pulang bareng ya, aku akan mengantarmu pulang” Mitsuru : “…Iya…”

Inilah hasil dari perbuatan ku… Walaupun aku minta maaf, aku hanya akan semakin membebankannya… Aku hanya akan membuatnya semakin membenciku…

Analisis :

Saat Mitsuru mulai dekat dengan Hijiri, banyak teman-teman disekolahnya yang mulai menggunjing Mitsuru. Ditambah lagi, Mitsuru menerima ajakan pulang bersama dengan Hijiri dan tidak memperdulikan Natsuhiko. Melalui cuplikan diatas “Ini karena Abe sudah lelah dengan kamu… Singkatnya kamu itu tidak bisa melindungi Abe dari orang-orang jahil di kelasmu… Jadi, perasaan cinta Abe sudah hilang” yang dikatakan oleh Hijiri membuat Mitsuru mengalami tekanan, yaitu disatu sisi Mitsuru tidak mempunyai keberanian untuk menolak ajakan seniornya dan disatu sisi lagi Mitsuru juga tidak ingin membebani Natsuhiko jika dia terus menjadi teman Natsuhiko. Terlihat dalam cuplikan diatas bahwa Mitsuru hanya diam dan tidak dapat berkata yang sebenarnya ingin dia katakan. Berdasarkan teori kognisi depresif, dapat di analisa adanya suatu tekanan dalam diri Mitsuru yang memicu munculnya pemikiran negatif yang membuatnya tidak ingin berteman dengan Natsuhiko. Pemikiran negatif itu terlihat pada cuplikan “Aku tidak ingin jadi beban baginya…Inilah hasil dari perbuatan ku… Walaupun aku minta maaf, aku hanya akan semakin membebankannya… Aku hanya akan membuatnya semakin membenciku…”. Pemikiran ini tergolong pada distorsi, yaitu menarik kesimpulan tanpa ada bukti. Dalam cuplikan tersebut, Mitsuru hanya menarik kesimpulan bahwa jika ia terus berada didekat Natsuhiko, maka dia hanya akan menjadi beban untuk Natsuhiko.

Cuplikan jilid 2 halaman 31-37

Natsuhiko : “ABE!? Kamu nggak apa-apa?”

Hijiri : “Penuh pecahan kaca begini, sampai berdarah…” Natsuhiko : “Jangan bergerak ya, aku ambil kotak P3K dulu…” Hijiri : “Hei, kamu kenapa? Nggak enak badan lagi?”

Natsuhiko : Kenapa di saat begini… nggak boleh… Hanya di saat begini aku nggak boleh… Hijiri : “Aku panggil yang lainnya kesini ya”

Mitsuru : “Jadikan saya kantung sansak anda yang tercinta”

Ibu Natsuhiko: “Natsuhiko, bagaimana keadaan… mu?”

Natsuhiko : “Walaupun di dalam cermin yang sudah pecah, kamu tetap tampan…” Mitsuru : “Pukul lagi… tending lagi… Hajar lagi…”

Hijiri : “Abe?! Sadar dong!!! Hei Amakusa!!!” Mitsuru : “Perlakukan aku sesukamu…”

Natsuhiko : “Aku cinta diriku sendiri…”

Ibu Natsuhiko: “Apa… Semua ini… maksudnya…”

Mitsuru : “Maafkan aku… semuanya salahku… Aku bahkan membuat bibi sampai pingsan...”

Natsuhiko : “Tidak kok, ini semua bukan salah Abe”

Analisis :

Dari cuplikan diatas jika dikaitkan dengan kognisi depresi Aaron Beck bahwa seseorang yang mempunyai pandangan negatif terhadap dirinya merupakan penyebab utama atau bahkan faktor utama memperburuk keadaan jiwa seseorang. Seperti dalam cuplikan diatas, Mitsuru menyalahkan dirinya atas kejadian yang menyebabkan Ibu Natsuhiko pingsan. Dalam cuplikan

“Maafkan aku… semuanya salahku… Aku bahkan membuat bibi sampai pingsan...”

termasuk kedalam kognisi depresi “distorsi” yaitu menarik kesimpulan tanpa bukti, Mitsuru mengambil kesimpulan bahwa Ibu Natsuhiko pingsan karena dirinya. Dan cuplikan “Aku ini aneh… Aku pembuat kekacauan… Semua ini salah ku…” termasuk dalam kognisi depresi “pikiran” yaitu meletakkan pandangan negatif kepada diri sendiri, Mitsuru menganggap dirinya aneh dan pembuat kekacauan.

Cuplikan jilid 3 halaman 167-168

Guru : “Dengan kemampuan akademik Mitsuru yang sekarang ini, saya rasa dia pasti bisa diterima dengan mudah di universitas wanita K… Tapi, di kertas angket “cita-cita di masa depan” yang dikumpulkannya, dia hanya menulis ingin jadi pembuat kue”.

Ibu : “Yah… Anak ini memang sangat suka bergurau… Lagi pula dia ini sudah punya masa depan yang telah kami pilihkan untuknya”.

Ibu : “Kami akan mempersiapkannya supaya dia tidak malu saat bertemu dengan pria yang pantas untuknya… Setelah lulus SMA, Mitsuru akan menjalani latihan khusus persiapan menjadi pengantin di rumah sambil kuliah di universitas

terkenal, dengan begitu dia tidak akan mencoreng nama keluarga… Kami sudah memiliki calon dan dengan sesegera mungkin akan menikahi mereka…”

Dokumen terkait