• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESOLUSI SPASIAL

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Parameter penimbang kawasan konservasi laut

4.3.3. Analisis zona konservasi laut (kawasan konservasi laut ) dengan Cell Based Modelling

Kawasan konservasi laut (KKL) memiliki dua fungsi utama, yaitu : (1) Melindungi seluruh ekosistem dengan cara mengkonservasi berbagai spesies dan habitat-habitat utama (critical habitat) seperti daerah pemijahan (spawning grounds) dan daerah asuhan/pembesaran (nursery grounds), dan (2) Stok ikan

8

2

(biota laut lainnya) dalam KKL dapat berfungsi seperti “tabungan“ (bank account) atau jaminan yang dapat menyangga fluktuasi dan penurunan populasi yang terjadi di luar KKL akibat kesalahan manajemen maupun fluktuasi alamiah. Analisis zona potensial dilakukan dengan melihat berbagai faktor yang terkait dengan pengembangan dan kelangsungan kegiatan konservasi laut. Analisis kawasan konservasi laut mempertimbangkan faktor biofisik perairan,

keanekaragaman hayati laut, faktor konservasi, dan faktor aktivitas manusia. Faktor biofisik terdiri dari substrat dasar, kedalaman. Keanekaragaman hayati laut meliputi jumlah jenis ikan karang, dan kelimpahan ikan karang. Faktor aktivitas manusia meliputi jarak pantauan dari pemukiman penduduk, dan jarak dari jalur pelayaran.

Analisis spasial pada data raster merupakan dasar dari Cell Based Modelling karena setiap sel memiliki nilai tertentu sehingga akan memudahkan dalam analisis spasial. Penentuan zona kawasan konservasi laut memerlukan suatu model yang dapat mengintegrasikan seluruh parameter yang mempengaruhi kriteria konservasi laut. Pemodelan zona kawasan konservasi laut dilakukan dengan menspasialkan setiap parameter.

Setiap parameter (raster) yang telah diturunkan, baik melalui transformasi citra maupun dengan interpolasi point-point atau line kemudian dikelasifikasi ulang menjadi kelas-kelas kesesuaian. Pengelompokkan masing-masing parameter merupakan salah satu bentuk operasi sel dari zonal function. zonal function merupakan salah satu bentuk operasi sel pada Cell Based Modelling, karena akan mengelompokkan sel ke dalam kategori tertentu berdasarkan kesamaan nilai yang dimiliki oleh sel tersebut. Begitu tiap sel dikelompokkan,

pengkodean sel dilakukan secara otomatis menurut selang nilai parameter yang ditentukan, kemudian seluruh informasi spasial siap di overlay. Metode overlay akan lebih mudah dan efisien bila dilakukan pada data raster dibandingkan pada data vektor. Overlay yang digunakan dalam penelitian ini adalah overlay dengan sistem pembobotan (weighted overlay). Weighted overlay merupakan salah satu terapan dari Cell Based Modelling yang melibatkan seluruh sel dalam suatu data raster secara bersamaan (global function). Setiap sel pada parameter yang akan dilakukan proses overlay telah dikelompokkan ke dalam kode/nilai berdasarkan Tabel 4.

Skor 1 untuk kriteria sangat sesuai, skor 2 untuk kriteria sesuai dan skor 3 untuk kriteria tidak sesuai. Jumlah sel untuk masing-masing kode dalam setiap parameter merupakan hasil pengkelasan parameter dapat dilihat dalam Tabel 8. Proses reclassify menggunakan operator ”Add” atau penambahan sehingga jumlah setiap sel yang memiliki kode yang sama setelah diberi skor akan

dijumlahkan dan akan membentuk suatu zona dengan kriteria tertentu. Proses overlay setiap layer dengan menggunakan menu “raster calculator”secara matematis dapat dilihat dibawah ini.

[[Substrat Dasar Perairan] * 0.3 + [Kedalaman] *0.1 + [∑Jenis ikan

karang]*0.2+[∑ ikan karang]*0.2 + [Jarak dari Jalur Pelayaran] * 0.1 + [Jarak dari Kawasan Pemukiman] * 0.1]

Tabel 9. Jumlah sel hasil klasifikasi parameter dengan Cell Based Modelling

Parameter Jumlah Sel

Sangat sesuai (S1) Sesuai (S2) Tidak sesuai (S3)

Substrat dasar 20 599 16 011 180 119

Kedalaman (m) 127 735 186 817 593 360

Jenis Ikan Karang (sp) 206 936 66 199 671

Jumlah Ikan Karang (ind) 2 285 167 397 104 120

Jarak dari jalur pelayaran (m)

1 279 657 628 452 735 841

Jarak dari pemukiman (pantauan)

48 825 336 651 1 280 717

Jumlah sel hasil weighted overlay dikelompokkan ke dalam tiga

kelas/zona yaitu kelas S1 (sangat sesuai) = 2,3335 – 3,0000, kelas S2 (sesuai) = 1,6668 – 2,3334 dan kelas S3 (tidak sesuai) = 1,0000 – 1,6667 beserta luasan terangkum dalam Tabel 10.

Tabel 10. Jumlah sel hasil weighted overlay

Keterangan Jumlah Sel Luas (Ha)

Sangat sesuai (S1) 18 484 118,2976

Sesuai (S2) 123 284 789,0176

Tidak Sesuai (S3) 72 340 462,9760

Peta kawasan konservasi laut di perairan Karang Lebar dan Karang Congkak, Kepulauan Seribu – Jakarta dapat dilihat pada Gambar 33. Pada gambar terlihat dengan metode berbasis sel dapat dibentuk spot-spot zona potensial yang direpresentasikan dengan warna hijau. Masing-masing spot KKL berukuran 8 x8 m.

8

6

Zona sangat sesuai banyak terdapat di daerah goba, baik di Karang Lebar maupun Karang Congkak. Wilayah perairan ini sangat sesuai untuk dijadikan kawasan konservasi laut, dimana faktor- faktor yang dijadikan paramerter kesesuian sangat mendukung. Zona sangat sesuai ini mempunyai luas sebesar 118,2976Ha.

Zona sesuai terlihat dominan pada wilayah gosong Karang Lebar dan Karang Congkak.direpresentasikan dengan warna kuning. Zona ini mempunyai luasan sebesar 789,0176 Ha. Wilayah ini merupakan zona yang cukup potensial untuk dijadikan kawasan konservasi laut sebab parameter – parameter kawasan konservasi laut yang digunakan sebagai faktor pembatas cukup mendukung

Zona tidak sesuai direpresentasikan dengan warna merah, dimana kawasan ini tidak cocok untuk dijadikan kawasan konservasi laut. Wilayah perairan ini mempunyai parameter- parameter faktor pembatas yang tidak mendukung. Kegiatan konservasi tidak dapat berlangsung meskipun diberikan berbagai perlakuan tambahan seperti pembuatan fish shelter sebab faktor oseanografi dan biologi tidak mendukung. Zona ini mempunyai luas sebesar 462,9760 Ha.

Visualisasi kelas kesesuaian hasil overlay dengan metode Cell Based Modelling berupa grid yang setiap grid-nya mempresentasikan spot-spot

potensial kawasan konservasi laut. Resolusi spasial digunakan sebagai alat ukur akurasi SIG berbasis raster, semakin kecil nilai piksel maka semakin tinggi akurasi data tersebut begitu pula sebaliknya. Dalam penentuan kawasan konservasi laut kali ini, spot – spot zona potensial yang digunakan mempunyai resolusi yang tinggi yaitu 8 x 8 m, sehingga akan tampak jelas.

Dari hasil ground check lapangan daerah yang sangat sesuai pada Karang Congkak antara lain terdapat pada bagian selatan (ST17L) dan utara (ST27L) . Pada stasiun ST17L kondisi lingkungannya mendukung baik itu dari segi oseanografi (suhu 29 0C; salinitas 33 ‰; pH 8,9; dan DO 5,9 mg/l) maupun biologi (persen cover karang hidup di 3 m: 71,77%; 10 m: 50,93%; dan jumlah individu ikan karang 3m : 509 ind; 10 m:403 ind), dan pada stasiun ST27L kondisi biologi (persen penutupan karang hidup 3m : 56,73%; 10m : 48,17 %; dan jumlah individu ikan karang 3m : 164 ind; 10m : 179 ind) juga sangat mendukung. Untuk daerah Karang Lebar daerah yang sangat sesuai ada pada bagian utara (ST29L) sebab dilihat kondisi ekosistem terumbu karang juga mendukung yaitu persen penutupan karang keras di 3m : 80,23% dan 10 m: 50,83% ; jumlah individu ikan karang di 3m : 205 ind dan 10m : 269 ind.

Dokumen terkait