• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.1.4 Metode Analisis Data Peran PAI terhadap Pembangunan Pemuda Aspek Kepemimpinan

4.1.5.2 Analisis Korelasi dan Pengujian Hipotesis .1Analisis Korelasi

Koefisien determinasi digunakan untuk menguji goodness-fit dari model regresi yang dapat lihat dari nilai R Square. Untuk mengetahui hubungan peran Pendidikan Agama Islam sebagai dharma pendidikan terhadap pembangunan pemuda dalam aspek kewirausahaan.

Dari hasil analisis regresi diatas dapat dilihat bahwa variabel peran Pendidikan Agama Islam merupakan variabel yang mempengaruhi pembangunan kewirausahaan pemuda. Tabel dibawah ini juga menjelaskan hubungan variabel. Tabel.4.10 Hasil Pengujian koefisien determinasi (R2) analisis peran Pendidikan

Agama Islam terhadap pembangunan kewirausahaan pemuda. Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 .370a .137 .125 1.54833

a. Predictors: (Constant), PAI b. Dependent Variable: KWR

Sumber: Hasil olahan SPSS

Tabel diatas memperlihatkan nilai koefisen determinasi (R – Square) yang digunakan untuk mengetahui persentase pengaruh variabel independen terhadap

variabel dependen sebesar 0,137. Angka ini berarti 13,7% perolehan pembangunan kewirausahaan pemuda merupakan konstribusi dari Pendidikan Agama Islam, sisanya 86,3% dipengaruhi oleh variabel lain. Jadi terdapat hubungan yang sangat tidak erat antara peran Pendidikan Agama Islam terhadap pembangunan kewirausahaan pemuda, hal ini dilihat berdasarkan tabel interperetasi koefisien korelasi.

Maka dari keseluruhan penelitian ditemukan bahwa peran Pendidikan Agama Islam memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembangunan kewirausahaan pemuda, besar kecilnya peran Pendidikan Agama Islam mempengaruhi pembangunan kepemimpinan pemuda pada institusi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Tabel 4.11 Hubungan antar Variabel Peran PAI Terhadap Kewirausahaan Pemuda

Nilai Interpretasi

0.0 – 0.19 Sangat Tidak Erat

0.2 – 0.39 Tidak Erat 0.4 – 0.59 Cukup Erat 0.6 – 0.79 Erat 0.8 – 0.99 Sangat Erat Sumber: Arikunto, 1989 4.1.5.2.2Pengujian Hipotesis

Untuk mengetahui model diatas layak digunakan atau tidak, hal ini dapat diketahui melalui tingkat signifikansi variabel bebas terhadap variabel terikat baik secara individual maupun secara keseluruhan, maka digunakan statistik uji-F.

59

a. Hasil Uji Hipotesis (Uji-F)

Uji peran Pendidikan Agama Islam terhadap pembangunan kewirausahaan pemuda dalam masyarakat ekonomi ASEAN dapat ditentukan dengan langkah-langkah uji-F sebagai berikut :

Ho : p = 0 (Tidak ada peran antara Institusi Pendidikan Agama terhadap pembangunan kewirausahaan pemuda).

Ha : p ≠ 0 (Ada peran antara Institusi Pendidikan Agama terhadap pembangunan kewirausahaan pemuda).

Untuk mengetahui diterima atau ditolaknya hipotesis dapat diketahui daribesarnya signifikansi pada tabel uji – F. Hasil uji simultan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 4.12 Uji Simultan (Uji-F) Peran PAI Terhadap Pembangunan Kewirausahaan ANOVAa

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1

Regression 23.956 1 23.956 10.815 .002b

Residual 150.629 68 2.215

Total 174.586 69

a. Dependent Variable: KWR b. Predictors: (Constant), PAI

Sumber : Hasil Olahan SPSS

Tabel di atas mengungkapkan bahwa nilai F hitung adalah adalah 10,815 dengan tingkat signifikansi 0,000. Sedangkan F tabel pada tingkat kepercayaan 95% ( = 0,05) adalah 3.98. Oleh karena pada kedua perhitungan yaitu F hitung > F tabel dan tingkat signifikansinya (0,000) < 0.05, menunjukkan bahwa pengaruh variabel independen (Pendidikan Agama Islam) berpengaruh sangat signifikan terhadap variabel dependen (pembangunan kewirausahaan pemuda). Maka dapat dikatakan bahwa secara serempak terdapat peran antara institusi Pendidikan Agama

Islam terhadap pembangunan kewirausahaan pemuda pada Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Hasil dari regresi tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan diterima dimana peran institusi Pendidikan Agama Islam memiliki hubungan yang positif dan pengaruh yang signifikan terhadap pembangunan kewirausahaan pemuda pada Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

2.1.1Metode Analisis Data Peran PAI terhadap Pembangunan Pemuda Aspek

Kepeloporan

2.1.1.1 Analisis Regresi Sederhana

Berdasarkan pada tujuan penelitian ini sebagai mana telah dikemukakan sebelumnya maka yang kedua akan dianalisis adalah untuk mengetahui seberapa besar peran Pendidikan Agama Islam terhadap pembangunan kepeloporan pemuda dalam masyarakat ekonomi ASEAN, maka digunakan analisis statistik yaitu model analisis regresi linear sederhana. Untuk memudahkan perhitungan model analisis tersebut digunakan program SPSS 21.0 for Windows dengan pendekatan/prosedur full Model Regression.

Setelah dilakukan pengujian dengan menggunakan program komputer SPSS 21.0 for Windows, maka hasil dari data di atas yang diperoleh dimasukkan kedalam model persamaan sebagai berikut:

Tabel 4.13 Koefisien regresi Peran PAI Terhadap Kepeloporan Pemuda Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized

Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 7.767 1.373 5.658 .000 PAI .112 .017 .635 6.771 .000 Dependent Variable: KPL

61

Sehingga diperoleh model persamaan regeresi berdasarkan hasil perhitungan sebagai berikut: Y = 7,767 + 0,112X, Dimana a = 7,767, artinya secara rata-rata jika tidak ada pertambahan pada Pendidikan Agama Islam, maka pembangunan kepeloporan pemuda = 7,767.

B = 0,112 artinya jika Pendidikan Agama Islam mengalami peningkatan sebesar 10 %, maka Pembangunan Kepemimpinan Pemuda akan mengalami peningkatan sebesar 1,12%.

2.1.1.2 Analisis Korelasi dan Pengujian Hipotesis 1. Analisis Korelasi

Koefisien determinasi digunakan untuk menguji goodness-fit dari model regresi yang dapat lihat dari nilai R Square. Untuk mengetahui hubungan peran Pendidikan Agama Islam sebagai dharma pendidikan terhadap pembangunan kepeloporan pemuda.

Dari hasil analisis regresi diatas dapat dilihat bahwa variabel peran Pendidikan Agama Islam merupakan variabel yang mempengaruhi pembangunan kepeloporan pemuda. Tabel dibawah ini juga menjelaskan hubungan variabel. Tabel.4.14 Koefisien Determinasi (R2) analisis peran Pendidikan Agama Islam

terhadap pembangunan kepeloporan pemuda. Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the Estimate

1 .635a .403 .394 1.59584

a. Predictors: (Constant), PAI b. Dependent Variable: KPL

Sumber: Hasil olahan SPSS

Tabel diatas memperlihatkan nilai koefisen determinasi (R – Square) yang digunakan untuk mengetahui persentase pengaruh variabel independen terhadap

variabel dependen sebesar 0,403. Angka ini berarti 40,3% perolehan pembangunan kepeloporan pemuda merupakan konstribusi dari Pendidikan Agama Islam, sisanya 59,7% dipengaruhi oleh variabel lain. Jadi terdapat hubungan yang cukup erat antara peran Pendidikan Agama Islam terhadap pembangunan kepeloporan pemuda, hal ini dilihat berdasarkan tabel interperetasi koefisien korelasi.

Maka dari keseluruhan penelitian ditemukan bahwa peran Pendidikan Agama Islam memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembangunan kepeloporan pemuda, besar kecilnya peran Pendidikan Agama Islam mempengaruhi pembangunan kepeloporan pemuda pada institusi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Tabel 4.15 Hubungan antar Variabel Peran PAI Terhadap Kepeloporan Pemuda

Nilai Interpretasi

0.0 – 0.19 Sangat Tidak Erat

0.2 – 0.39 Tidak Erat 0.4 – 0.59 Cukup Erat 0.6 – 0.79 Erat 0.8 – 0.99 Sangat Erat Sumber: Arikunto, 1989 2. Pengujian Hipotesis

Untuk mengetahui model diatas layak digunakan atau tidak, hal ini dapat diketahui melalui tingkat signifikansi variabel bebas terhadap variabel terikat baik secara individual maupun secara keseluruhan, maka digunakan statistik uji-F.

a. Hasil Uji Hipotesis (Uji-F)

Uji peran Pendidikan Agama Islam terhadap pembangunan kepeloporan pemuda dalam masyarakat ekonomi ASEAN dapat ditentukan dengan

langkah-63

Ho : p = 0 (Tidak ada peran antara Institusi Pendidikan Agama terhadap pembangunan kepeloporan pemuda).

Ha : p ≠ 0 (Ada peran antara Institusi Pendidikan Agama terhadap pembangunan kepeloporan pemuda).

Untuk mengetahui diterima atau ditolaknya hipotesis dapat diketahui dari besarnya signifikansi pada tabel uji – F. Hasil uji simultan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 4.16 Uji Simultan (Uji-F) Peran PAI Terhadap Pembangunan Kepeloporan ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression 116.766 1 116.766 45.850 .000b

Residual 173.177 68 2.547

Total 289.943 69

a. Dependent Variable: KPL b. Predictors: (Constant), PAI

Sumber : Hasil Olahan SPSS

Tabel di atas mengungkapkan bahwa nilai F hitung adalah adalah 45,850 dengan tingkat signifikansi 0,000. Sedangkan F tabel pada tingkat kepercayaan 95% ( = 0,05) adalah 3.98. Oleh karena pada kedua perhitungan yaitu F hitung > F tabel dan tingkat signifikansinya (0,000) < 0.05, menunjukkan bahwa pengaruh variabel independen (Pendidikan Agama Islam) berpengaruh sangat signifikan terhadap variabel dependen (pembangunan kepeloporan pemuda). Maka dapat dikatakan bahwa secara serempak terdapat peran antara institusi Pendidikan Agama Islam terhadap pembangunan kepeloporan pemuda pada Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Hasil dari regresi tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan diterima dimana peran institusi Pendidikan Agama Islam memiliki hubungan yang

positif dan pengaruh yang signifikan terhadap pembangunan kepeloporan pemuda pada Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

2.2 PEMBAHASAN

1. Apakah Peran Institusi Pendidikan Agama Islam terhadap pembangunan pemuda?

Institusi pendidikan merupakan hal yang paling utama dalam suatu kehidupan berbangsa dan bernegara. Masalah-masalah yang sedang terjadi pada dunia pendidikan berdampak besar terhadap kelangsungan bangsa dan negara. Jika bangsa rusak, masih ada harapan untuk membangunnya kembali dalam waktu singkat. Namun jika institusi pendidikannya yang rusak dalam suatu negara, untuk membangunnya kembali butuh waktu separuh perjalanan kehidupan umat manusia yang hidup dalam suatu wilayah tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini dilaksanakan pada mahasiswa semester VIII di institusi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN SU.

Pada dasarnya hakikat pendidikan adalah proses menyiapkan generasi umat manusia untuk menghadapi dunia nyata. Institusi pendidikan merupakan sarana yang efektif untuk melakukannya. Dalam dunia pendidikan, segala hal yang bersifat kebaikan di ajarkan dan segala yang bersifat keburukan disampaikan, agar calon generasi manusia tidak mengalami hal yang serupa dengan generasi pendahulunya.

Terutamanya institusi Pendidikan Agama Islam. Tidak hanya dilakukan oleh institusi pendidikan bidang sains dan teknologi, ilmu sosial, dan institusi pendidikan bidang ekonomi dan bisnis. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, bahwa institusi Pendidikan Agama Islam turut serta atau berpartisipasi melaksanakan pendidikan sesuai yang menjadi keinginan pemerintah

65

untuk melaksanakan pembangunan pemuda. Dalam Undang-Undang Nomor 40. Tahun 2009 tentang kepemudaan, yang dimaksud pembangunan pemuda ialah mencakup tiga aspek, yakni; Kepemimpinan Pemuda, Kewirausahaan Pemuda dan Kepeloporan Pemuda.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa peran Pendidikan Agama Islam berpengaruh positif terhadap pembangunan pemuda dalam masyarakat ekonomi ASEAN. Untuk variabel bebas dari penelitian ini adalah peran Pendidikan Agama Islam yang terdiri dari indikator indeks prestasi kumulatif dengan skor 4.3, kemampuan berbahasa asing dengan skor 3.9, kepribadian yang bermoral dengan skor 4.2, penulisan karya ilmiah dengan skor 3.7, kegiatan ko dan ekstra kurikuler dengan skor 3.7 serta kegiatan penunjang pendidikan lainnya 4.1. Pengaruhnya dapat dilihat dari hasil perhitungan masing-masing variabel yaitu dari rataan skor semua aspek sebesar 3,9. Dasar interpretasi rataan skor semua aspek tersebut menunjukkan pada daerah yang positif.

Dari hasil diatas, maka indikator- indikator variabel peran Pendidikan Agama Islam danvariabel pembangunan pemuda tidak dapat berdiri sendiri dan saling berhubungan satu sama lain. Bila satu komponen indikator dalam variabel tersebut tidak seimbang maka akan mempengaruhi indikator lain, maka dapat dinyatakan bahwa apabila X (peran Pendidikan Agama Islam) mengalami perubahan maka Y (pembangunan pemuda) juga akan mengalami perubahan.

Setiap variabel diatas telah mampu memenuhi kebutuhan masing-masing sebagai suatu sistem yang terstruktur. Suatu sistem yang selalu mengarah pada kondisi yang seimbang apabila tiap-tiap bagian dari sistem tersebut telah mampu

memenuhi kebutuhan dengan baik. Masing-masing indikator dalam setiap variabel merupakan suatu sistem yang terstruktur dan akan berpengaruh satu sama lain apabila terdapat satu bagian yang tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik.

Besarnya pengaruh peran Pendidikan Agama Islam terhadap pembangunan pemuda dalam masyarakat ekonomi ASEAN menunjukkan bahwa peran Pendidikan Agama Islam memiliki peranan penting dalam pembangunan pemuda di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN SU. Sedangkan untuk variabel pembangunan pemuda dapat dilihat melalui indikator kepemimpinan, kewirausahaan, dan kepeloporan.

2. Seberapa besar pengaruh Pendidikan Agama Islam terhadap pembangunan Pemuda dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN?

Hakim (2013), populasi muslim Asia Tenggara yang berjumlah lebih dari 240 juta jiwa (atau sekitar 41% dari jumlah semua populasi masyarakat di Asia Tenggara) menjadi hal yang sangat penting untuk dijadikan pertimbangan utama, bahwasanya masyarakat muslim Asia Tenggara harus berusaha untuk menjadi subjek dalam keberadaan Komunitas ASEAN kedepan. Oleh karena itu, strategi peningkatan kerjasama, khususnya dibidang pendidikan Islam harus dikembangkan bersama. Pertukaran pelajar, mahasiswa dan berbagai program capacity building lainnya sangat diharapkan muncul dalam pendidikan Islam di kawasan. Pendidikan Islam harus mampu merespon tantangan yang berkembang di tingkat regional. a. Peran PAI terhadap pembangunan pemuda dalam aspek kepemimpinan

67

Hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan analisis regresi sederhana menunjukkan bahwa hubungan variabel X (Pendidikan Agama Islam) terhadap variabel Y pertama (pembangunan pemuda aspek kepemimpinan) adalah positif. Dan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen menunjukkan bahwa pengaruhnya sebesar 27,3%, artinya variabel pembangunan kepemimpinan pemuda dapat dijelaskan oleh Pendidikan Agama Islam, sedangkan sisanya 72,7% dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti oleh penelitian ini. Sedangkan dalam pengujian hipotesisnya peran Pendidikan Agama Islam terhadap pembangunan kepemimpinan pemuda, setelah melakukan uji – F menunjukkan pengaruh yang sangat signifikan sebesar 25,563 dengan tingkat signifikansi 0,000. Sedangkan F tabel pada tingkat kepercayaan 95% ( = 0,05) adalah 3.98. Oleh karena pada kedua perhitungan yaitu F hitung > F tabel dan tingkat signifikansinya (0,000) < 0.05 pada uji-F.

Dengan demikian bahwa Pendidikan Agama Islam telah melakukan peningkatan kualitas pendidikan terhadap pembangunan pemuda aspek kepemimpinan. Namun barang kali perlu lebih ditingkatkan apa yang menjadi harapan pemerintah dan masyarakat agar lulusan Pendidikan Agama Islam mampu beradaptasi dengan komunitas ASEAN ini. Dengan persamaan regresi: kepemimpinan pemuda (Y1)= 6,491 + 0,081x, artinya jika Pendidikan Agama Islam mengalami peningkatan sebesar 10 %, maka Pembangunan Kepemimpinan Pemuda akan mengalami peningkatan sebesar 0,81%.

Kepemimpinan merupakan rantai dari keberlangsungan suatu kehidupan berbangsa-bernegara dan beragama. Tanpa kepemimpinan kehidupan tidak akan berjalan dengan aman, karena pada hakikatnya setiap manusia memiliki

kepentingan yang berbeda. Oleh karenanya, institusi Pendidikan Agama Islam terus mendorong jiwa kepemimpinan mahasiswanya agar semakin baik kapasitasnya. Sebab sifat dasar yang dimiliki oleh seorang pendidik ialah sifat kepemimpinan. Kepemimpinan erat kaitannya dengan pertanggung jawaban. Semakin baik tanggung jawab seseorang, semakin baik kepemimpinannya. Dan semakin baik kepemimpinannya, semakin baik pula kependidikannya.

Berdasarkan hasil penelitian diatas, jiwa kepemimpinan mahasiswa Pendidikan Agama Islam tergolong rendah. Dari sampel penelitiannya yang mewakili populasi bahwa peran Institusi Pendidikan Agama Islam untuk menciptakan jiwa kepemimpinan mahasiswanya sekitar 27,3%. Lebih banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi perkembangan jiwa kepemimpinan mahasiswa PAI. Pengembangan jiwa kepemimpinan mahasiswa Pendidikan Agama Islam tidak hanya berguna untuk dunia sekolah, tapi juga berlaku dalam bingkai sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Polanya kuliah, masyarakat, negara-bangsa, barulah agama. Kampus adalah miniaturnya negara. Oleh sebab itu, Institusi Pendidikan Agama Islam harusnya terus menghidupkan budaya demokrasi dalam institusi tersebut, sehingga melahirkan mahasiwa PAI yang berjiwa pemimpin.

Dalam materi kurikulum Pendidikan Agama Islam, secara eksplisit bahwa bicara tentang berkaitan tentang kepemimpinan sangatlah banyak. Seperti pada semester III ada materi Administrasi Pendidikan, semester IV ada materi Manajemen Organisasi Pendidikan dan Strategi Pembelajaran dan Evaluasi Pembelajaran, semester V ada materi Perencanaan Pembelajaran. Saat melakukan

69

evaluasi dan perubahan sistem pembelajaran dari teori kepada praktek. Artinya khusus untuk materi aplikatif yang berkaitan dengan kependidikan dan kepemimpinan sekitar 60% teori, 40% pada saat mahasiswa melakukan Praktek Pengalaman Lapangan. Kemudian Bapak Drs. H.Abdul Halim Nst, M.Ag ketua jurusan Pendidikan Agama Islam, dalam menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN juga telah membangun komunikasi dan koordinasi dengan organisasi Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam untuk terus memacunya, agar mahasiswa memiliki jiwa kepemimpinan lebih baik dari mahasiswa lainnya. b. Peran PAI terhadap pembangunan pemuda dalam aspek kewirausahaan

menurut Undang-Undang No 40 tahun 2009 tentang kepemudaan

Komunitas ASEAN menjadi salah satu barometer bagi lulusan Pendidikan Agama Islam. Untuk menunjang kualitas Pendidikan Agama Islam perlu rasanya pemikiran khusus dan pengembangan kewirausahaan oleh institusi Pendidikan Agama Islam bagi mahasiswa. Seperti yang dinyatakan oleh Baswedan, bahwa materikewirausahaan kedepan akan diterapkan pada semua fakultas di UniversitasParamadina, karena selama ini materi tersebut hanya muncul pada fakultasekonomi saja. Komitmen tentang perumusan materi kewirausahaan inisekaligus menjadi jembatan dalam rangka merespon perkembangan integrasiekonomi ASEAN di kawasan. Sehingga mahasiswa diharapkan memiliki jiwakemandirian dan daya kreatifitas yang tinggi di bidang wirausaha. Tidakmenutup kemungkinan jika materi kewirausahaan ini diterapkan dengan baikdan benar oleh mahasiswa, akan bisa menciptakan lapangan kerja barusehingga bisa meningkatkan daya saing perekonomian kecil dan menengah, (Hakim, 2013).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan analisis regresi sederhana menunjukkan bahwa hubungan variabel X (Pendidikan Agama Islam) terhadap variabel Y kedua (pembangunan kewirausahaan pemuda) adalah positif. Dan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen menunjukkan bahwa pengaruhnya sebesar 13,7%, artinya variabel pembangunan kewirausahaan pemuda dapat dijelaskan oleh Pendidikan Agama Islam, sedangkan sisanya 86,3% dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti oleh penelitian ini. Sedangkan dalam pengujian hipotesisnya peran Pendidikan Agama Islam terhadap pembangunan kewirausahaan pemuda, setelah melakukan uji t dan uji F menunjukkan pengaruh yang sangat signifikan sebesar 10,815 dengan tingkat signifikansi 0,000. Sedangkan F tabel pada tingkat kepercayaan 95% ( = 0,05) adalah 3.98. Oleh karena pada kedua perhitungan yaitu F hitung > F tabel dan tingkat signifikansinya (0,000) < 0.05 pada uji-F.

Dengan demikian bahwa Pendidikan Agama Islam telah melakukan peningkatan kualitas pendidikan terhadap pembangunan kewirausahaan pemuda. Namun barang kali perlu lebih ditingkatkan apa yang menjadi harapan pemerintah dan masyarakat agar lulusan Pendidikan Agama Islam mampu beradaptasi dengan komunitas ASEAN ini. Dengan persamaan regresi: kepeloporan pemuda (Y2) = 8,645 + 0,051x, artinya jika Pendidikan Agama Islam mengalami peningkatan sebesar 10 %, maka Pembangunan Kewirausahaan Pemuda akan mengalami peningkatan sebesar 0,51%.

Dalam hal ini Pendidikan Agama Islam juga relevan dengan pembangunan pemuda aspek kewirausahaan. Jika terus ditingkatkan akan memberikan dampak

71

guru akan berperan maksimal dalam melakukan pendidikan di sekolah-sekolah. Kemudian mahasiswa Pendidikan Agama Islam setelah menyelesaikan studinya tidak perlu merasa khawatir untuk mencari pekerjaan, karena telah dibekali berbagai disiplin ilmu. Tidak ada kecanggungan bagi institusi Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan materi kewirausahaan.

Sebab Hakim (2013) menambahkan,di UIN Sunan Ampel Surabaya, konsepkewirausahaan sudah dikenalkan kepada mahasiswa sebagai mata kuliahpilihan (bisa diambil dan bisa juga tidak). Tidak berhenti disitu, pihak kampus juga mencoba memfasilitasi implementasi konsep dan materi kewirausahaantersebut dengan melakukan berbagai pendampingan bagi mahasiswa. Dasar pemikiran dari penerapan materi dan aksi kewirausahaan kepada mahasiswa ini sangat memungkinkan. Pasalnya, dengan adanya revolusi teknologi (ICT), aksi wirausaha tidak lagi konvensional seperti dulu, yangmengharuskan antara penjual dan pembeli berinteraksi secara fisik dan haruspada suatu tempat tertentu. Sekarang, dengan adanya teknologi internet,masyarakat bisa bertransaksi secara online, kapan saja dan dimana saja dengan biaya murah, karena calon wirausahawan tidak wajib membeli toko yangharganya sangat mahal. Dengan materi kewirausahaan mahasiswa dilatih dan dituntut untuk mengembangkan daya kreatifitasnya, disamping kreatifitas dan keahlian pada bidang ilmu yang dipelajarinya secara formal di kelas. Dengan persamaan regresi: kewirausahaan pemuda = 8,645 + 0,051x, artinya jika ditingkatkan Pendidikan Agama Islam sebesar 10% akan meningkatkan kewirausahaan pemuda sebesar 0,51%.

Untuk meningkatkan masalah kewirausahaan mahasiswa Pendidikan Agama Islam memang tergolong rendah. Berdasarkan kurikulum materi pembelajaran

jurusan Pendidikan Agama Islam dimulai semester I – semester VIII hanya sekali mendapatkan mata kuliah kewirausahaan pada semester VI. Selebihnya yang menunjang pengetahuan, minat dan bakat kewirausahaan mahasiswa ialah yang diadakan oleh institusi sendiri serta organisasi intra kampus dan ekstra kampus. Namun untuk menjawab tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN, perlu kiranya insitusi Pendidikan Agama Islam melakukan inovasi kembali terhadap materi pembelajaran mahasiswa Pendidikan Agama Islam. Supaya minat masyarakat umum bertambah kuat dan berlomba-lomba untuk menempatkan anaknya pada jurusan Pendidikan Agama Islam, karena disamping menghasilkan pemuda (guru) yang kreatif dan inovatif, anaknya juga telah mandiri dalam hal finansial. Jadi untuk biaya kehidupannya sehari-hari tidak perlu lagi berharap pada anak-anak didiknya yang sedang bersekolah.

Kegiatan yang akan dilakukan oleh Institusi Pendidikan Agama Islam khususnya untuk materi kewirausahaan sebenarnya tidak perlu menekankan pada teori, materi ini harusnya lebih ditekankan pada praktek. Karena lebih berdampak terhadap psikologis mahasiswanya dibanding hanya mendapatkan teori saja. Karena sifatnya dunia kewirausahaan merasuk kedalam pengetahuan mahasiswa melalui pengalaman di lapangan.

c. Peran PAI terhadap pembangunan pemuda dalam aspek kepeloporan menurut Undang-Undang No 40 tahun 2009 tentang kepemudaan

Selanjutnya variabel Y yang ketiga adalah pembangunan pemuda aspek kepeloporan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan analisis regresi sederhana menunjukkan bahwa hubungan variabel X (Pendidikan

73

Agama Islam) terhadap variabel Y ketiga (pembangunan kepeloporan pemuda) adalah positif. Dan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen menunjukkan bahwa pengaruhnya sebesar 40,3%, artinya variabel pembangunan kepeloporan pemuda dapat dijelaskan oleh Pendidikan Agama Islam, sedangkan sisanya 59,7% dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti oleh penelitian ini. Sedangkan dalam pengujian hipotesisnya peran Pendidikan Agama Islam terhadap pembangunan kepeloporan pemuda, setelah melakukan uji t dan uji F menunjukkan pengaruh yang sangat signifikan sebesar 45,850 dengan tingkat signifikansi 0,000. Sedangkan F tabel pada tingkat kepercayaan 95% ( = 0,05) adalah 3.98. Oleh karena pada kedua perhitungan yaitu F hitung > F tabel dan tingkat signifikansinya (0,000) < 0.05 pada uji-F.

Dengan demikian bahwa Pendidikan Agama Islam telah melakukan peningkatan kualitas pendidikan terhadap pembangunan kepeloporan pemuda. Namun barang kali perlu lebih ditingkatkan apa yang menjadi harapan pemerintah dan masyarakat agar lulusan Pendidikan Agama Islam mampu beradaptasi dengan komunitas ASEAN ini. Dengan persamaan regresi: kepeloporan pemuda (Y3) = 7,767 + 0,112x, artinya jika Pendidikan Agama Islam mengalami peningkatan sebesar 10 %, maka Pembangunan Kepeloporan Pemuda akan mengalami peningkatan sebesar 1,12%.

Pemuda pelopor menjadi harapan dan cita-cita bangsa. Kepeloporan pemuda mendorong daya kreatifitas ditengah-tengah situasi masyarakat yang menengah kebawah atau miskin. Pemuda pelopor tentunya berusaha memberikan warna bagi masyarakat tersebut. Warna yang dimaksud adalah perubahan yang berkaitan dari setiap aspek bermasyarakat terutamanya perubahan sumber daya manusia.

Perubahan sumber daya manusia dasar yang utama untuk melakukan perbaikan yang signifikan. Dan perubahan tersebut dilakukan dengan pendidikan. Mahasiswa

Dokumen terkait