DAFTAR PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.8 Analisis Korelasi Silang
Korelasi menunjukkan adanya hubungan keeratan antara dua variabel atau lebih. Jika dua atau lebih variabel tersebut berhubungan hasilnya dapat ditentukan dengan koefisien korelasi, nilai koefisien korelasi berkisar -1 dan +1 yang menunjukkan berbagai derajat hubungan dari yang sangat lemah hingga yang sangat kuat atau tinggi.
Korelasi silang merupakan ukuran hubungan (measure of association) yang di standarkan anatar satu deret angka berkala dengan nilai masalah pada saat ini dan pada saat yang akan datang dari deret berkala lainnya. Karakteristik korelasi silang sama dengan korelasi biasa dengan nilai berkisar -1 dan +1 yang berfungsi sebagai autokorelasi di dalam pemodelan transfer untuk analisis deret berkala univariat, korelasi silang sangat berperan penting dalam pemodelan multivariat yang berhubungan dengan suatu deret data time series dengan adanya suatu hubungan antara satu deret yang di lambangkan dengan lag dengan yang lainnya dan sebaliknya (Makridakis et al, 1999)
Menurut Silalahi (1999) jika koefisien korelasi 0 atau mendekati 0 mengindikasikan tidak adanya hubungan sistematik antara dua variabel maksudnya adalah peningkatan atau penurunan dalam satu variable tidak berhubungan dengan peningkatan atau penurunan dalam variable lain ataupun sebaliknya.
Varians atau ragam adalah sebuah parameter statistik untuk sampel atau populasi. Varians bisa dinyatakan sebagai Sx, Vx, dan COVxx (Makridakis et al, 1999).
Ragam merupakan rata-rata deviasi kuadrat nilai tengah dan variansi atau simpangan baku hanya berguna dalam embandingkan dua atau lebih distribusi yang sama satuan pengukurannya.
Adapun selang kepercayaan yang digunakan dalam korelasi silang ini yaitu 95%. Dalam statistika, selang kepercayaan (Bahasa Inggris: confidence interval, CI) merupakan sebuah interval antara dua angka, dimana dipercaya nilai parameter sebuah populasi terletak di dalam interval tersebut.
Persamaan 2.15
III. METODOLOGI
3.1Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Bidang Pemodelan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN) Bandung dan Laboratorium Meteorologi dan Kualitas Udara Departemen Geofisika dan Meteorologi selama bulan Maret 2009-Juni 2009
3.2Alat dan Data yang digunakan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Laptop dengan softwere Microsoft Office, Matlab R2006a, SPSS 16.0
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Data EAR (Equatorial Atmosphere Radar) berupa data angin meridioanl periode April 2002-April 2006. Data EAR dapat diperoleh dari website
http://rslab.riko.shimane-u.ac.jp/CPEA.campaign/ karakteristik data yang digunakan berbentuk ASCII dengan format csv. Data EAR selengkapnya diperoleh dari LAPAN-Bandung.
2. Data curah hujan bulanan daerah Kototabang, Padangpanjang, dan Sicincin periode April 2002-April 2006
3.3Metode Penelitian
Analisis tugas akhir dilakukan dengan 2 tahap diantaranya:
3.3.1 Analisis Osilasi Monsun
Analisis osilasi Monsun ini dilakukan dengan mengolah data EAR dan Curah Hujan periode April 2002-April 2006. Pengolah data ini dilakukan untuk mengetahui periode osilasi Monsun di daerah kawasan barat Indonesia, pengolahan data dibantu dengan softwere Matlab versi R2006a. Kemudian hasil data tersebut dibandingkan dengan data curah hujan bulanan daerah Kototabang (0.230 LS; 100.320 BT; 865 mdpl) , Padangpanjang (0.50 LS; 100.410 BT; 700 mdpl) dan Sicincin (0.60 LS; 100.220 BT; 500 mdpl) (Suryantoro et al, 2009) pada periode April 2002-April 2006 yang diolah dengan menggunakan bantuan softwere matlab versi R2006a, dan Microsoft Excel.
Pengolahan data EAR untuk kawasan Kototabang merupakan data kecepatan angin meridional bulanan dengan resolusi waktu 10 menitan dan resolusi ketinggian 0.1 km atau 100m. data ini dirata-ratakan sehingga menjadi kecepatan angin meridional rata-rata bulanan.
Berdasarkan data kecepatan angin meridional rata-rata bulanan kemudian dibuat kontur plot dan profil vertikal angin meridional dengan menggunakan softwere Matlab versi R2006a, sehingga dapat diketahui puncak ketinggian terjadinya Monsun dan reversal (pembelokan arah angin). Nilai osilasi dominan kecepatan angin dapat diketahui dengan analisis Power Spektral Density (PSD) yang dianalisis dengan menggunakan analisis Fast Fourier Transform (FFT) dan Transformasi Wavelet.
Pengolahan data curah hujan daerah Kototabang, Padangpanjang, dan Sicincin juga dilakukan dengan analisis Power Spektral Density (PSD) dilakukan untuk mengetahui daerah mana yang memiliki osilasi dominan yang polanya sama dengan pola Monsun.
Selanjutnya adalah pengolahan data curah hujan dengan menggunakan Microsoft Excel periode April 2002-April 2006 dilakukan untuk melihat terhadap ketiga daerah tersebut yang memiliki pola yang sama dengan pola Monsun.
3.3.2 Analisis Statistika
Analisis statistika ini diolah dengan menggunakan teknik korelasi silang. Analisis dilakukan untuk membuktikan hubungan kecepatan angin meridional dan curah hujan. Softwere yang digunakan dalam pengolahan data ini adalah SPSS versi 16.0 for windows. Kecepatan angin yang dianalisis adalah kecepatan angin meridional pada ketinggian 14.1 km dengan curah hujan bulanan daerah Kototabang (0.230 LS; 100.320 BT; 865 mdpl), Padangpanjang (0.50 LS; 100.410 BT; 700 mdpl), dan Sicincin (0.60 LS; 100.220 BT; 500 mdpl) periode April 2002-April 2006. Korelasi silang dapat dihitung (Makridakis et al, 1998):
Merupakan variansi silang peubah X
Merupakan variansi silang peubah Y
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Osilasi Monsun
Monsun merupakan angin yang memiliki osilasi 6-12 bulanan yang bertiup sepanjang tahun dan berganti arah dua kali dalam setahun, monsun memiliki ciri adanya perbedaan yang tegas antara musim basah (wet season) dan musim kering (dry season) yang pada umumnya terjadi pada bulan Desember, Januari dan Februari (DJF) bertiup dari tekanan tinggi ke tekanan rendah di Australia yang disebut Monsun Barat dan Juni, Juli, dan Agustus (JJA) terdapat sel tekanan rendah di Asia dan sel tekanan tinggi di Australia yang menggerakkan Monsun Timur (Visa J, dalam Tjasjono 1999).
Berdasarkan data angin meridional yang dilakukan dengan menggunakan data EAR (Equatorial Atmosphere Radar ) periode April 2002-April 2006 dapat terlihat dengan jelas perbedaan yang signifikan antara musim basah dan musim kering. Selain itu juga menunjukkan di Kototabang terlihat adanya propagasi atau penjalaran arah dan kecepatan angin meridional, lihat Gambar 10. Propagasi atau pola pengulangan angin meridional tersebut menunjukkan adanya Monsun. Dari Gambar 10, osilasi Monsun terjadi pada ketinggian 8-18 km dengan puncak ketinggian maksimum terjadi pada ketinggian 14.1 km.
Warna merah pada Gambar 10 menunjukkan bahwa pada bulan tersebut bulan basah, sedangkan warna biru menunjukkan bahwa pada bulan tersebut bulan kering.
Gambar 9 Diagram Alir Penelitian
Gambar 10 Time Height Section Kontur Plot Angin Meridional di Kototabang dari Data EAR (Equatorial Atmosphere Radar) Periode April 2002-April 2006
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Osilasi Monsun
Monsun merupakan angin yang memiliki osilasi 6-12 bulanan yang bertiup sepanjang tahun dan berganti arah dua kali dalam setahun, monsun memiliki ciri adanya perbedaan yang tegas antara musim basah (wet season) dan musim kering (dry season) yang pada umumnya terjadi pada bulan Desember, Januari dan Februari (DJF) bertiup dari tekanan tinggi ke tekanan rendah di Australia yang disebut Monsun Barat dan Juni, Juli, dan Agustus (JJA) terdapat sel tekanan rendah di Asia dan sel tekanan tinggi di Australia yang menggerakkan Monsun Timur (Visa J, dalam Tjasjono 1999).
Berdasarkan data angin meridional yang dilakukan dengan menggunakan data EAR (Equatorial Atmosphere Radar ) periode April 2002-April 2006 dapat terlihat dengan jelas perbedaan yang signifikan antara musim basah dan musim kering. Selain itu juga menunjukkan di Kototabang terlihat adanya propagasi atau penjalaran arah dan kecepatan angin meridional, lihat Gambar 10. Propagasi atau pola pengulangan angin meridional tersebut menunjukkan adanya Monsun. Dari Gambar 10, osilasi Monsun terjadi pada ketinggian 8-18 km dengan puncak ketinggian maksimum terjadi pada ketinggian 14.1 km.
Warna merah pada Gambar 10 menunjukkan bahwa pada bulan tersebut bulan basah, sedangkan warna biru menunjukkan bahwa pada bulan tersebut bulan kering.
Gambar 9 Diagram Alir Penelitian
Gambar 10 Time Height Section Kontur Plot Angin Meridional di Kototabang dari Data EAR (Equatorial Atmosphere Radar) Periode April 2002-April 2006
Gambar 11 Time Height Section Profil Vertikal Angin Meridional di Kototabang dari Data EAR (Equatorial Atmosphere Radar)Periode April 2002-April 2006
Fenomena baru yang diungkap bahwa ternyata monsun dengan menggunakan data radar kuat di lapisan troposfer yaitu pada ketinggian 14.1 km. Sedangkan pada ketinggian 2-7 km atau pada lapisan permukaan tidak terdapat tanda-tanda adanya osilasi Monsun (lihat Gambar 10 dan Gambar 11).
Sehingga dengan menggunakan data profil angin meridional dapat mendeteksi adanya gejala Monsun. Hal ini terkait dengan pergerakan semu matahari terhadap bumi.
Angin meridional (utara-selatan) membawa massa uap air dari utara ke selatan. Berdasarkan Gambar 11, angin reversal atau pembelokan angin di Kototabang terjadi pada ketinggian 8 km dan 10.1 km. Angin yang dominan bergerak adalah angin dari arah selatan. Angin meridional tanda (+) menunjukkan bahwa angin berasal dari arah utara ke selatan, dan tanda (-) menunjukkan bahwa angin berasal dari selatan ke utara.
Berdasarkan hasil analisis terlihat bahwa Monsun terjadi pada bulan basah dengan puncak tertingginya terjadi yaitu pada bulan Januari (lihat Gambar 12)
Analisis Monsun dengan angin meridional (utara-selatan) diperoleh osilasi sekitar 12 bulanan dengan puncak maksimum terjadi pada ketinggian 14.1 km (lihat Gambar 12). Osilasi ini dapat diketahui dengan menggunakan analisis Fast Fourier Transform (FFT) yaitu dengan analisis Power Spectral Density (PSD) dan analisis Wavelet.
Analisis spektral merupakan suatu metode untuk melakukan transformasi dari domain waktu ke domain frekuensi, sehingga kita
dapat melihat pola periodiknya untuk kemudian dapat ditentukan jenis pola cuaca atau iklim yang terlibat didalamnya (Juaeni, 2009).
Analisis spektral angin meridional dapat dilihat pada Gambar 12. Setelah dilakukan analisis yang lebih mendalam, diperoleh puncak energi spektral yang menunjukkan adanya keberadaan pola osilasi dominan secara periodik yaitu Osilasi Tahunan (Annual Oscillation, AO) yang puncak energinya berada pada posisi sekitar 12 bulanan (Hermawan, 2009).
Energi spektral di daerah Kototabang memperlihatkan bahwa terdapat peak (puncak) yang sangat tajam pada periode 12 bulanan yang menunjukkan adanya keberadaan Monsun di daerah tersebut, sedangkan untuk periode lain tidak memperlihatkan adanya suatu puncak. Selain itu dapat dibuktikan bahwa pada ketinggian 2-7 km tidak terdapat adanya tanda-tanda Monsun.
Analisis yang sama dengan menggunakan teknik wavelet menunjukkan periodesitas dari data angin meridional (utara-selatan) pada ketinggian 14.1 km adalah terjadi sekitar 12 bulanan lihat Gambar 13. Berdasarkan analisis wavelet power spektrum menunjukkan puncak angin terjadi sekitar bulan Januari 2004. Begitu juga dengan rata-rata time series yang menunjukkan puncak yang sama yaitu pada bulan Januari 2004. Selain itu, berdasarkan global wavelet spektrum menunjukkan periode puncak Monsun tertinggi yaitu sekitar 12 bulanan lihat Gambar 13.
Gambar 12 Power Spectral Density Kecepatan Angin Meridional di Kototabang Periode April 2002-April 2006
Gambar 13 Wavelet kecepatan Angin Meridional pada Ketinggian 14.1 km Periode April 2002-April 2006
Secara umum curah hujan di wilayah Indonesia dipengaruhi oleh beberapa fenomena diantaranya adalah fenomena Monsun (Visa, 2009). Kototabang (0.20 LS; 100.320 BT; 865 mdpl) ,Padangpanjang (0.50 LS; 100.410 BT; 700 mdpl) dan Sicincin (0.60 LS; 100.220 BT; 500 mdpl) (Suryantoro et al, 2009), merupakan kota-kota yang terletak di daerah ekuator, dapat dilihat pada Gambar 14.
Distribusi curah hujan bulanan periode April 2002-April 2006 yang ditunjukkan pada Gambar 15 dapat dilihat adanya perbedaan yang signifikan antara curah hujan Kototabang, Padangpanjang, dan Sicincin. Curah hujan maksimum dimiliki oleh daerah
Sicincin sebesar 819 mm, Padangpanjang 627 mm, dan Kototabang 409.6 mm.
Gambar 14 Lokasi daerah Kototabang, Padangpanjang, dan Sicincin Menurut Kadarsah (2007) daerah ekuator, umumnya memiliki pola curah hujan equatorial atau Semi Annual Oscillation (SAO). Ciri khas pola curah hujan equatorial adalah memiliki dua puncak musim hujan. Berdasarkan data curah hujan periode April 2002-April 2006 yang ditunjukkan pada Gambar 15. Padangpanjang dan Kototabang memiliki pola curah hujan equatorial. Puncak musim hujan di Padangpanjang terjadi pada bulan April 2003 dan Januari 2004 sedangkan daerah Kototabang puncak hujannya terjadi pada
Gambar 15 Distribusi Curah Hujan Bulanan Daerah Kototabang, Padangpanjang dan Sicincin Periode April 2002- April 2006
bulan Desember 2002 dan Desember 2004 (lihat Gambar 15). Berbeda dengan daerah Sicincin yang memiliki pola curah hujan Monsoonal. Puncak musim hujan daerah Sicincin terjadi pada bulan Oktober 2005.
Hasil ini berbeda dengan teori sebelumnya yang menyatakan bahwa di daerah Sumatera Barat tipe curah hujannya adalah equatorial atau Semi Annual Oscillation (SAO) (Kadarsah, 2007). Tapi, dengan menggunakan data curah hujan daerah Kototabang, Padangpanjang, dan Sicincin
dengan periode 3 tahun tidak semua daerah Sumatera Barat memiliki tipe curah hujan equatorial, karena berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh ternyata daerah Sicincin bertipe curah hujan Annual Oscillation (AO). (lihat Gambar 16). Hal ini disebabkan karena perbedaan periode data yang digunakan. Selain itu faktor lokal yang dominan juga mempengaruhi hasil analisis data.
Gambar 16 PSD (Power Spectral
Density) Curah Hujan Daerah Kototabang,
Padangpanjang, dan Sicincin Periode April 2002-April 2006
Berdasarkan analisis dengan menggunakan teknik wavelet Kototabang memiliki dua puncak curah hujan dapat dilihat pada Gambar 17. Kadarsah (2007) mengemukakan dalam tipe hujan equatorial bentuk distribusi bulanan curah hujan menunjukkan maksima ganda (double maxima). Dalam tipe hujan ekuatorial bentuk distribusi bulanan curah hujan menyerupai huruf “M”.
Dengan periode dan teknik wavelet yang dianalisis curah hujan daerah Padangpanjang periode April 2002-April 2006 diperoleh hasil yang sama bahwa pada daerah Padangpanjang memiliki dua puncak curah hujan dapat dilihat pada Gambar 16 yaitu pada bulan April 2003 dan Januari 2004 (lihat Gambar 15).
Gambar 17 Wavelet Curah Hujan Daerah Kototabang Periode April 2002- April 2006
Gambar 18 Wavelet Curah Hujan Daerah Padangpanjang Periode April 2002- April 2006
Berbeda dengan daerah Sicincin yang memiliki pola curah hujan Monsun. Pola curah hujan Monsun atau Annual Oscillation (AO) dicirikan adanya perbedaan yang tegas antara musim basah (Desember-Januari-Februari) dan musim kering (Juni-Juli-Agustus) yaitu enam bulan musim hujan dan enam bulan musim kemarau. Puncak musim hujan daerah Sicincin terjadi pada bulan Oktober 2005(lihat Gambar 15) sehingga diduga bulan kering terjadi pada bulan April. Pada saat bulan kering bukan berarti tidak ada hujan melainkan curah hujan yang terjadi rendah dibandingkan pada saat bulan basah
Hasil analisis Power Spectral Density (PSD) curah hujan Sicincin dipertegas dengan adanya analisis wavelet, dengan teknik ini periode deret waktu khususnya dalam mengamati evolusi waktu yang tersebunyi sehingga dapat dilihat puncaknya, khususnya dalam mengamati periode, amplitudo, dan fase dari satu parameter (Juaeni, 2009) (lihat pada Gambar 19) yang mengahasilkan satu puncak curah hujan.
Gambar 19 Wavelet Curah Hujan Daerah Sicincin Periode April 2002 – April 2006
Analisis yang sama dilakukan yaitu untuk menemukan pola Monsun terhadap daerah Kototabang, Padangpanjang, dan Sicincin pada periode April 2002-April 2006. Pada daerah Kototabang (lihat Gambar 20) tidak ditemukan adanya pola yang sama dengan pola Monsun.
Gambar 20 Pola Curah Hujan di Kototabang dan Angin Meridional Periode April 2002-April 2006
Menurut Juaeni (2009) banyak faktor yang menyebabkan perbedaan pola adapun faktor yang kemungkinan dapat mempengaruhi diantaranya pengaruh pegunungan Bukit Barisan, topografi dan geografik yang terkait dengan posisi stasiun, sehingga hal ini dapat menyebabkan curah hujan yang tinggi pada saat musim peralihan. Selain itu, dari hasil yang diperoleh bahwa Monsun tersebut kuat pada lapisan 14.1 km hal ini tentunya sangat berbeda sekali dengan curah hujan yang hanya berada pada lapisan permukaan. Banyak faktor yang mempengaruhi pola Monsun yang dengan osilasi 12 bulanan pada ketinggian 14.1 km tersebut. Sehingga tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh adanya pola curah hujan.
Sama halnya dengan daerah padangpanjang tidak ditemukan adanya osilasi
yang sama dengan adanya osilasi Monsun 12 bulanan (dapat dilihat pada Gambar 21).
Walaupun sebelumnya telah dibuktikan dengan analisis spektral, namun dengan menggunakan analisis yang berbeda hasil yang diperoleh tidak jauh berbeda.
Beda halnya dengan daerah Sicincin (lihat Gambar 22), pada daerah ini sangat nampak dengan jelas pola curah hujan pada daerah ini sama dengan pola terjadinya Monsun di ketinggian 14.1 km. Yaitu terlihat dengan jelas adanya osilasi 12 bulanan. Adapun faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah topografi daerah Sicincin yang lebih flat dibandingkan daerah Kototabang dan Padangpanjang sehingga diperoleh pola antara curah hujan dan Monsun sama yaitu berkisar 12 bulanan.
Gambar 21 Pola Curah Hujan Padangpanjang dan Angin Meridional Periode April 2002- April 2006
Gambar 22 Pola Curah Hujan Sicincin dan Angin Meridional Periode April 2002-April 2006
4.2 Analisis Statistika
Analisis statitik dilakukan untuk membuktikan hubungan antara kecepatan angin meridional dan curah hujan dengan menggunakan teknik korelasi silang (cross correlation) dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 16.0.
Sehubungan dengan fenomena Monsun tidak hanya terfokus kepada aktivitas pergerakan profil angin vertikal saja, maka analisis lebih lanjut ditujukan kepada data time-series curah hujan permukaan bulanan yang ada di sekitar kawasan Kototabang dan sekitarnya, yakni Kototabang (0.20 LS; 100.320 BT; 865 mdpl), Padangpanjang (0.50 LS; 100.410 BT; 700 mdpl) dan Sicincin (0.60 LS; 100.220 BT; 500 mdpl) (Suryantoro et al, 2009). Untuk analisis yang lebih tajam, maka dilakukanlah analisis korelasi silang ( cross-correlation ). Korelasi silang merupakan ukuran hubungan yang telah distandarkan antara satu deret berkala dengan nilai-nilai masalah, pada saat ini dan yang akan datang dari deret berkala lainnya. Data-data yang digunakan pada analisis ini adalah data angin pada ketinggian 14.1 km dan data curah hujan bulanan pada 3 titik dari kawasan barat Indonesia yaitu daerah Kototabang, Padangpanjang, dan Sicincin dengan periode April 2002-April 2006. Jumlah data (n) yang digunakan yaitu sebanyak 49 titik. Nilai selang kepercayaan dari kedua variabel tersebut adalah 2/n0.5 (Walpole, 1989 ) yaitu -0.286 sampai 0.286, dapat dilihat pada Gambar 23.
Adapun hasil korelasi silang antara kecepatan angin meridional dan curah hujan adalah sebagai berikut:
a. Angin Meridional dan Curah Hujan Di Kototabang
Gambar 23 Grafik Korelasi Silang Angin Meridional dengan CH di Kototabang Periode April 2002-April 2006
Tabel 2 Nilai Korelasi Silang Angin Meridional dengan CH di Kototabang Periode April 2002-April 2006 Lag Cross Correlation Std. Error -10 .262 .162 -9 .236 .160 -8 .168 .158
Tabel 2 Lanjutan Lag Cross Correlation Std. Error -7 .047 .156 -6 -.189 .154 -5 -.357 .152 -4 -.363 .151 -3 -.230 .149 -2 -.038 .147 -1 .090 .146 0 .219 .144 1 .068 .146 2 .153 .147 3 .222 .149 4 .14.18 .151 5 -.043 .152 6 -.198 .154 7 -.170 .156 8 -.186 .158 9 -.196 .160 10 -.206 .162 Berdasarkan Gambar 23 menunjukkan bahwa ada nilai korelasi silang antara Kecepatan angin meridional pada ketinggian 14.1 km dengan curah hujan di Kototabang, yaitu pada lag number (selang waktu) -4 sampai -5 (lihat nilai korelasi pada tabel 2). Dengan nilai korelasi silang sebesar -0.363 ada pada lag number -4. Artinya bahwa korelasi negatif antara kecepatan angin dan curah hujan. Hal ini menunjukkan angin yang mendominasi adalah angin selatan namun curah hujan yang turun di atas Kototabang terjadi karena adanya intervensi atau pengaruh dari daerah lain. Selain itu juga disebabkan perbedaan data angin pada lapisan permukaan dan data curah hujan permukaan.
b. Angin Meridional dan Curah Hujan Di Padangpanjang
Gambar 24 Grafik Korelasi Silang Angin Meridional dengan CH di Padangpanjang Periode April 2002-April 2006
Tabel 3 Nilai Korelasi Silang Angin Meridional dengan CH di Padangpanjang Periode April 2002-April 2006 Lag Cross Correlation Std. Error -10 -.033 .160 -9 .046 .158 -8 -.236 .156 -7 -.150 .154 -6 -.154 .152 -5 -.133 .151 -4 -.109 .149 -3 -.113 .147 -2 -.012 .146 -1 .091 .144 0 .101 .143 1 .158 .144 2 .045 .146
Tabel 3 Lanjutan Lag Cross Correlation Std. Error 3 -.052 .147 4 -.284 .149 5 -.345 .151 6 -.321 .152 7 -.313 .154 8 -.006 .156 9 -.016 .158 10 .261 .160
Hubungan kecepatan angin meridional dengan curah hujan di Padangpanjang mengindikasikan signifikan atau adanya korelasi silang dengan selang waktu atau lag number 5 sampai 7 (lihat nilai korelasi pada Tabel 3) dengan nilai korelasinya yaitu -0.345 (lihat Tabel 3 ). Sama halnya dengan daerah Kototabang, di Padangpanjang juga terjadi hal yang sama yaitu korelasinya bernilai negatif hal ini mengindikasikan bahwa pada daerah Padangpanjang angin yang mendominasi adalah angin selatan.
c. Angin Meridional dan Curah Hujan di Sicincin
Gambar 25 Grafik Korelasi Silang Angin Meridional dengan CH di Sicincin Periode April 2002-April 2006
Tabel 4 Nilai Korelasi Silang Angin Meridional dengan CH di Kototabang Periode April 2002-April 2006 Lag Cross Correlation Std. Error -10 .383 .160 -9 .453 .158 -8 .379 .156 -7 .138 .154 -6 -.067 .152 -5 -.281 .151 -4 -.383 .149 -3 -.474 .147 -2 -.265 .14.6 -1 -.199 .144 0 .109 .143 1 .204 .144 2 .332 .146 3 .505 .147 4 .368 .149 5 .231 .151 6 -.156 .152 7 -.277 .154 8 -.442 .156 9 -.433 .158 10 -.306 .160
Hubungan kecepatan angin meridional dan curah hujan di Sicincin memiliki korelasi. Berbeda dengan daerah Kototabang dan Padangpanjang, daerah Sicincin memiliki nilai korelasi yang positif (dapat dilihat pada Tabel 4). Pada daerah Sicincin nilai korelasinya bervariasi yaitu positif dan negatif. Untuk korelasi positif terdapat pada lag number -10 hingga -8 dan 2 hingga 4. Sedangkan untuk korelasi negatif terdapat pada lag number -4 dan -3 serta 8 dan 9 (lihat Gambar 25).
Hasil korelasi pada Sicincin berbeda dengan daerah Kototabang dan
Padangpanjang. Korelasi yang terjadi pada daerah Sicincin dengan kecepatan angin meridional adalah berkorelasi positif, dan nilai koefisien korelasi tertinggi yaitu 0.505 yang terdapat pada lag number 3, lihat pada Tabel 4. Hal ini mengindikasikan bahwa angin yang mendominasi adalah angin dari selatan. Selain itu hal ini menunjukkan bahwa pada saat angin meridional bergerak ke arah selatan (dengan asumsi membawa banyak kandungan uap air yang siap diturunkan sebagai hujan), maka curah hujan yang ada di kawasan Sicincin tinggi.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan karakteristik hasil data EAR (Equatorial Atmephere Radar) dengan periode April 2002- April 2006 diketahui adanya Monsun signal yang berosilasi sekitar 12 bulanan pada ketinggian 8-18 km dengan puncak Monsun terkuat yaitu pada ketinggian 14.1km. Pada daerah Kototabang angin reversal terjadi pada ketinggian 8km dan 10.1 km dan angin yang dominan adalah angin selatan.
2. Berdasarkan pola curah hujan di Kototabang, Padangpanjang dan Sicincin. Maka Kototabang dan Padangpanjang memiliki pola iklim ekuatorial sedangkan Sicincin memiliki pola curah hujan Monsoonal. Dari ketiga wilayah tersebut Sicincin memiliki pola yang sama dengan pola Monsun yaitu berosilasi sekitar 12 bulanan.
3. Hasil analisis korelasi silang antara curah hujan dengan angin meridional diperoleh korelasi terbesar yaitu pada daerah Sicincin dengan koefisien korelasi maksimum sebesar 0.505 terdapat pada lagtime number 3 yaitu adanya jeda waktu selama 3 bulan dari datangnya angin sampai turunnya hujan. Korelasi negatif menunjukkan bahwa bahwa adanya indikasi angin cenderung dari arah selatan sehingga menyebabkan musim kering dan positif dari arah utara sehingga menyebabkan musim basah.
5.2 Saran
1. Masih perlu adanya tindak lanjut untuk melihat fenomena Monsun. Mengingat bahwa Monsun merupakan fenomena penting yang dapat mempengaruhi curah hujan di Indonesia.
2. Masih perlu adanya validasi dan kelengkapan data curah hujan dengan