• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kriteria Aliran Sesat Menurut MUI

Dalam dokumen ALIRAN GAFATAR DAN FATWA SESAT MUI (Halaman 60-72)

BAB IV ANALISIS KRITERIA SESAT DAN DALIL-DALIL FATWA GAFATAR MENURUT MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI)MENURUT MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI)

ANALISIS KRITERIA SESAT DAN DALIL-DALIL FATWA GAFATAR MENURUT MAJLIS ULAMA INDONESIA (MUI)

A. Analisis Kriteria Aliran Sesat Menurut MUI

Paham dan aliran yang tidak sesuai dengan ajaran Rasululah terus berkembang dan mulai merasuk ke dalam sistem kekuasaan dan pemerintahan di Indonesia tanpa disadari sebagaian besar umat Islam. Maka dari itu pada tanggal 6 November 2007 Majlis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan 10 kriteria aliran atau paham yang menyimpang dari ajaran Islam sebagai pedoman yang harus diperhatikan oleh umat Islam. 10 kriteria yang dimaksud antara lain:

1. Mengingkari salah satu dari rukun Iman dan Islam

Iman adalah keyakinan dalam hati, perkataan dilisan, amalan dengan aggota badan, bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan mela kukan maksiat. Rukun iman itu sendiri terdiri pada 6 perkara yaitu:1

1) Iman kepada Allah

2) Iman kepada malaikat-malaikat-Nya 3) Iman kepada kitab-kitab-Nya

4) Iman kepada Rasul-Nya 5) Iman kepada hari akhir

6) Iman kepada takdir baik dan buruk dari Allah Swt

1

Salim Bin Sumair Al Hadhramiy, Matan Safinatun Najah, (Beirut: Maktabah Ar Razin, 2011), h. 2.

48

Rasulullah SAW Bersabda:

َلﺎَﻗ ﺎَﻤُﮭْﻨَﻋ ُ ﱠﷲ َﻲِﺿَر ،َﺮَﻤُﻋ ِﻦْﺑا ِﻦَﻋ

:

َﻢﱠﻠَﺳَو ِﮫْﯿَﻠَﻋ ُﷲ ﻰﱠﻠَﺻ ِ ﱠﷲ ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻗ

"

َﻲِﻨُﺑ

ٍﺲْﻤَﺧ ﻰَﻠَﻋ ُمَﻼْﺳِﻹا

:

ِﱠﷲ ُلﻮُﺳَر اًﺪﱠﻤَﺤُﻣ ﱠنَأَو ُ ﱠﷲ ﱠﻻِإ َﮫَﻟِإ َﻻ ْنَأ ِةَدﺎَﮭَﺷ

،ِةَﻼﱠﺼﻟا ِمﺎَﻗِإَو ،

َنﺎَﻀَﻣَر ِمْﻮَﺻَو ،ﱢﺞَﺤﻟاَو ،ِةﺎَﻛﱠﺰﻟا ِءﺎَﺘﯾِإَو

)

يرﺎﺨﺒﻠﻟ ﻆﻔﻠﻟا و ﮫﯿﻠﻋ ﻖﻔﺘﻣ

(

Artinya: “Rasulullah Saw bersabda: Islam didirikan atas lima perkara:

bersaksi bawa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa ramadhan”(HR Muttafaq ‘Alaih dan Lafadz milik al-Bukhari)

Sedangkan rukun Islam lima tindakan dasar dalam Islam, dianggap sebagai pondasi wajib bagi orang-orang beriman dan merupakan dasar dari kehidupan seorang muslim adapun rukun Islam yang 5 itu adalah:2

1) Syahadat 2) Shalat 3) Zakat 4) Puasa

5) Haji ke baitullah bagi yang mampu

Maka siapa saja yang mengingkari salah satu rukun Iman atau Islam sudah dipastikan dia telah sesat dan ajaran yang dia bawa tidak boleh diikuti.

2. Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah.

Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 48 ;

2

Syaikh Salim Bin Sumair Al Hadhramiy, Matan Safinatun Najah, h.1.

50

ِﻜۡﻟٱ َﻦِﻣ ِﮫۡﯾَﺪَﯾ َﻦۡﯿَﺑ ﺎَﻤﱢﻟ ﺎٗﻗﱢﺪَﺼُﻣ ﱢﻖَﺤۡﻟﭑِﺑ َﺐَٰﺘِﻜۡﻟٱ َﻚۡﯿَﻟِإ ٓﺎَﻨۡﻟَﺰﻧَأَو

ٓﺎَﻤِﺑ ﻢُﮭَﻨۡﯿَﺑ ﻢُﻜ ۡﺣﭑَﻓ ِۖﮫۡﯿَﻠَﻋ ﺎًﻨِﻤۡﯿَﮭُﻣَو ِﺐَٰﺘ

ٗﺟﺎَﮭۡﻨِﻣَو ٗﺔَﻋ ۡﺮِﺷ ۡﻢُﻜﻨِﻣ ﺎَﻨۡﻠَﻌَﺟ ّٖﻞُﻜِﻟ ۚﱢﻖَﺤۡﻟٱ َﻦِﻣ َكَءٓﺎَﺟ ﺎﱠﻤَﻋ ۡﻢُھَءٓاَﻮۡھَأ ۡﻊِﺒﱠﺘَﺗ َﻻَو ُۖ ﱠﻟﻠہٱ َلَﺰﻧَأ

ۡﻮَﻟَو ۚﺎ

َﻮُﻠۡﺒَﯿﱢﻟ ﻦِﻜَٰﻟَو ٗةَﺪِﺣ َٰو ٗﺔﱠﻣُأ ۡﻢُﻜَﻠَﻌَﺠَﻟ ُ ﱠﻟﻠہٱ َءٓﺎَﺷ

ِ ﱠﻟﻠہٱ ﻰَﻟِإ ِۚت َٰﺮۡﯿَﺨۡﻟٱ ْاﻮُﻘِﺒَﺘ ۡﺳﭑَﻓ ۖۡﻢُﻜٰٮَﺗاَء ٓﺎَﻣ ﻲِﻓ ۡﻢُﻛ

َنﻮُﻔِﻠَﺘ ۡﺨَﺗ ِﮫﯿِﻓ ۡﻢُﺘﻨُﻛ ﺎَﻤِﺑ ﻢُﻜُﺌﱢﺒَﻨُﯿَﻓ ﺎ ٗﻌﯿِﻤَﺟ ۡﻢُﻜُﻌِﺟ ۡﺮَﻣ

.

Artinya:. Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa

kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. ( QS. Al-Miadah : 48).

Kriteria sesat MUI ke 2 adalah “ meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’I”. kata syar’I ( berasal dari kata syara’a

yasyra’u syar’an makna aslinya mengarahkan, jalan yang terang menuju ke

sumber air) artinya menurut syariat. Sebagaimana direangkan dalam ayat suci Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 48 di atas segala sesuatu yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Dan beliau praktekkan dalam kehidupan sehari-hari yang kemudian berupa nash-nash atau teks-teks yang termaktub dalam Qur’an Suci dan Sunnah atau Hadis Nabi.

Menurut istilah, aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya. Jadi aqidah Islamiyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah Swt

dengan segala pelaksanaan kewajiban-kewajiban, bertauhid kepada dan taat kepada-Nya, Rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang prinsip-prinsip agama (Ushuluddin). 3

Objek kajian aqidah jika dilihat dari sudut pandang sebagi ilmu, sesuai dengan konsep ahlu al-Sunnah wa jama’ah meliputi topik-topik: Tauhid, iman, Islam, masalah-masalah yang menyangkut ghaib, kenabian, takdir, berita-berita yang telah berlalu maupun yang akan datang, dasar-dasar hukum yang qath’i (pasti), seluruh dasar-dasar agama dan keyakinan, termasuk pula sanggahan terhadap ahlul ahwa wal bida’ (pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah) semua aliran dan sekte yang menyesatkan serta sikap terhadap mereka.4

Jika ada sebuah pertanyaan mengenai apakah aqidah Islam sesuai dengan al-Qur’an? Sudah jelas aqidah Islam telah sesuai dengan apa yang tedapat dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. maka siapa saja yang telah melenceng dari aqidah shahihah yang telah dibangun diatas kitabullah dan sunnah Rasulullah maka mereka telah sesat dari jalan kebenaran.

3. Meyakini turunnya wahyu setelah al-Qur’an.

َﻲِﺣﻮُﯿَﻓ ٗﻻﻮُﺳَر َﻞِﺳ ۡﺮُﯾ ۡوَأ ٍبﺎَﺠِﺣ ِٕيٓاَرَو ﻦِﻣ ۡوَأ ﺎًﯿ ۡﺣَو ﱠﻻِإ ُ ﱠﻟﻠہٱ ُﮫَﻤﱢﻠَﻜُﯾ نَأ ٍﺮَﺸَﺒِﻟ َنﺎَﻛ ﺎَﻣَو

ٞﻢﯿِﻜَﺣ ﱞﻲِﻠَﻋ ۥُﮫﱠﻧِإ ُۚءٓﺎَﺸَﯾ ﺎَﻣ ۦِﮫِﻧ ۡذِﺈِﺑ

.

Artinya: Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah

berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (Qs. Ash-shura 51).

3 Nashir Ibn Abdul Karim al-‘Aql, Buhuuts fii’Aqiidah Ahli Sunnah wal Jama’ah, Daarul ‘Ashiimah cet II tahun 1419 H, h. 11-12.

4

Dr Nashir Ibn Abdul Karim al-‘Aql, Buhuuts fii’Aqiidah Ahli Sunnah wal Jama’ah, Daarul ‘Ashiimah cet II tahun 1419 H, h. 12-14.

52

Termasuk dalam hal ini adalah meyakini ada Nabi dan Rasul baru setalah rasulullah. Itu saja sudah menunjukan sebuah kelompok tersebut sesat, apalagi meyakinkan ada wahyu yang diturunkan setelah rasulullah wafat. Sering dengar kana da nabi-nabi palsu yang bermunculan, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia.5 Sebagaimana firman Allah di dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 3 :

ۚﺎٗﻨﯾِد َﻢَٰﻠ ۡﺳِ ۡﻹٱ ُﻢُﻜَﻟ ُﺖﯿِﺿَرَو ﻲِﺘَﻤ ۡﻌِﻧ ۡﻢُﻜۡﯿَﻠَﻋ ُﺖ ۡﻤَﻤۡﺗَأَو ۡﻢُﻜَﻨﯾِد ۡﻢُﻜَﻟ ُﺖۡﻠَﻤ ۡﻛَأ َم ۡﻮَﯿۡﻟٱ

Artinya: pada hari ini telah aku sempurnakan untukmu agamamu, dan

telah aku cukupkan kepadamu nikmat-KU, dan telah aku ridhai Islam sebagai agama bagimu…” ( QS. Al-Maidah: 3)

Seperti Gafatar yang meyakini Ahmad Moshadeq sebagai Nabi bagi mereka.

4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi al-Qur’an. Sebagaimana firman Allah SWT surat Al-Hijr ayat 9 :

َنﻮُﻈِﻔ َٰﺤَﻟ ۥُﮫَﻟ ﺎﱠﻧِإَو َﺮ ۡﻛﱢﺬﻟٱ ﺎَﻨۡﻟﱠﺰَﻧ ُﻦ ۡﺤَﻧ ﺎﱠﻧِإ

.

Artinya: Sesungguhnya Kami yang menurunkan peringatan (Al-Qur’an)

dan Kami pula yang menjadi penjaganya” (QS Al-Hijr : 9).

ada yang beranggapan bahwa al-Qur’an adalah produk budaya “mumtadz tsaqafi” hanya teks sejarah, teks kebahasaan, dan teks manusia “nasshun tarikhiyyun lughawiyyun basyariyyun”. Karena ini adalah produk budaya, maka harus berubah-ubah disesuaikan dengan perubahan zaman. Mudah saja untuk mengenal kesalahan argumentasi terburu-buru seperti yang telah disebutkan diatas.

5 www.hujjahnu.com Muhammad Makruf Khozin,di akses pada 25 januari 2103.

Kesalahan pertama adalah kekeliruan dalam memahami al-Qur’an. Mereka (orientalis) seharusnya tahu bahwa pada prinsipnya al-Qur’an itu bukanlah tulisan tapi bacaan. Baik itu proses penyampaiannya, pengajarannya, dan periwayatannya, semua dilakukan melalui lisan dan hafalan, bukan melalui tulisan. Tulisan hanyalah sebagai penunjang. Sebagai contoh kita pasti sangat mudah membaca surah al-Fatihah, walaupun tidak terdapat harakat bahkan titik sekalipun. Ini berarti bahwa inti al-Qur’an adalah hafalan/lafaz bukan pada tulisan. Sehingga kemudian al-Qur’an tidak bisa dianggap sebagai dokumen tertulis atau teks. Melainkan sebagai hafalan yang dibaca dan bukan tulisan.

Kekeliruan yang kedua adalah kesalahpahaman pada sejarah kodifikasi al-Qur’an. Sejarah telah mencatat bahwa kodifikasi al-Qur’an sudah dimulai dan dilakukan sejak zaman Rasulullah Saw, sampai kepada khalifah Utsman. Tidak sedikit orang mengingkari fakta sejarah itu. Al-Qur’an bukan lahir dari manuskrip, tetapi sebaliknya manuskriplah yang lahir dari al-Qur’an.

Sedangkan kesalahan yang ketiga adalah pengingkaran terhadap otentitas al-Qur’an yang muncul dari kesalahpahaman dalam memahami rasm dan qiraat. Tulisan atau khat memang mengalami perkembangan dalam sejarahnya, meskipun demikian rasm Utsmani tidak memiliki masalah sama sekali, karena saat kaum muslimin generasi awal belajar al-Qur’an, mereka menggunakan metode hafalan atau dengan cara menghafal secara langsung, bukan membaca tulisan, seperti yang terjadi pada zaman sekarang. Disamping itu kesalahan juga muncul ketika orang menganggap rasm menjadi penyebab munculnya berbagai macam qiraat, padahal qiraat sudah ada terlebih dahulu sebelum adanya rasm.6

5. Melakukan penafsiran al-Qur’an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Imran ayat 7 :

6Sadzali, Otentitas Wahyu, artikel ini diakses pada 13 September 2014 dari http//sadzalikecil.blogspot.co.id

54

ۡﯿَﻠَﻋ َلَﺰﻧَأ ٓيِﺬﱠﻟٱ َﻮُھ

َﻦﯾِﺬﱠﻟٱ ﺎﱠﻣَﺄَﻓ ۖٞﺖَٰﮭِﺒَٰﺸَﺘُﻣ ُﺮَﺧُأَو ِﺐَٰﺘِﻜۡﻟٱ ﱡمُأ ﱠﻦُھ ٌﺖ َٰﻤَﻜ ۡﺤﱡﻣ ٞﺖَٰﯾاَء ُﮫۡﻨِﻣ َﺐَٰﺘِﻜۡﻟٱ َﻚ

ُﻢَﻠ ۡﻌَﯾ ﺎَﻣَو ۖۦِﮫِﻠﯾِوۡﺄَﺗ َءٓﺎَﻐِﺘۡﺑٱَو ِﺔَﻨۡﺘِﻔۡﻟٱ َءٓﺎَﻐِﺘۡﺑٱ ُﮫۡﻨِﻣ َﮫَﺒ َٰﺸَﺗ ﺎَﻣ َنﻮُﻌِﺒﱠﺘَﯿَﻓ ٞﻎۡﯾَز ۡﻢِﮭِﺑﻮُﻠُﻗ ﻲِﻓ

ﱠﻻِإ ٓۥُﮫَﻠﯾِوۡﺄَﺗ

ُۗ ﱠﻟﻠہٱ

َ ۡﻷٱ ْاﻮُﻟْوُأ ٓ ﱠﻻِإ ُﺮﱠﻛﱠﺬَﯾ ﺎَﻣَو ۗﺎَﻨﱢﺑَر ِﺪﻨِﻋ ۡﻦﱢﻣ ّٞﻞُﻛ ۦِﮫِﺑ ﺎﱠﻨَﻣاَء َنﻮُﻟﻮُﻘَﯾ ِﻢۡﻠِﻌۡﻟٱ ﻲِﻓ َنﻮُﺨِﺳ ٰﱠﺮﻟٱَو

ِﺐَٰﺒۡﻟ

.

Artinya: Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di

antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur´an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta´wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta´wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal (QS Al-Imran : 7)

Al-Qur’an merupakan bukti kebenaran Nabi Muhammad Saw sekaligus petunjuk untuk umat manusia kapan dan dimana pun, memiliki berbagai macam keistimewaan. Keistimewaan tersebut antara lain, susunan bahasanya yang unik memesonakan, dan pada saat yang sama mengandung makna-makna yang dapat dipahami oeh siapapun yang memahami bahasanya, walaupun tentunya tingkat pemahaman mereka akan berbeda-beda akibat berbagai faktor.

Redaksi ayat-ayat al-Qur’an sebagaimana redaksi yang diucapkan atau ditulis, tidak dapat diijangkau maksudnya secara pasti, kecuali oleh pemilik redaksi tersebut. Hal ini lah yang kemudian menimbulkan keanekaragaman penafsiran. Dalam hal al-Qur’an, para sahabat Nabi sekalipun, yang secara umum menyaksikan turunnya wahyu, mengetahui konteksnya, serta memahami secara alamiah struktur bahasa dan arti kosakatanya tidak jarang

berbeda pendapat, atau bahkan keliru dalam pemahaman mereka tentang maksud firman-firman Allah.7

Ibn ‘Abbas, yang dinilai sebagai salah seorang sahabat Nabi yang paling mengetahui maksud firman-firman Allah menyatakan bahwa tafsir terdiri dari empat bagian;

1) Yang dapat dimengerti secara umum oleh orang-orang Arab berdasarkan pengetahuan bahasa mereka

2) Yang tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak mengetahuinya 3) Yang tidak diketahui oleh ulama dan;

4) Yang tidak diketahui kecuali oleh Allah8

Terdapat beberapa kaidah yang terkait dengan al-Qur’an di antaranya adalah:9

1. al-Qur’an merupakan dasar dan sumber utama hukum Islam, sehiingga seluruh sumber hukum atau metode istinbat hukum harus mengacu kepada kaidah umum yang dikandung al-Qur’an.

2. Untuk memahami kandungan al-Qur’an, mjtahid harus mengetahui secara baik sebab-sebab diturunkannya al-Qur’an (asbab an-nuzul), karena ayat-ayat al-Qur’an itu diturunkan secara bertahap sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat ketika itu.

3. Dalam memahami kandungan hukum dalam al-Qur’an, mujtahid juga dituntut untuk memhami secara baik adat kebiasaan orang Arab, baik yang berkaitan dengan perkataan maupun perbuatan, karena tidak memahami hal ini akan membawa kepada kerancuan dalam memhami al-Qur’an.

Bagi mereka yangg tidak memenuhi persyaratan diatas, tidak dibenarkan untuk menafsirkan al-Qur’an. Untuk itu ada dua hal penting yang harus di garisbawahi yaitu:10

7Muhammad Husain al-Zahabity, Al-Tafsir wa al-Mufassirun, Dar al-Kutub al-Haditsah, mesir 1961, jilid 1 h. 59.

8Al-Zarkasyi, Al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, Al-Halabiy, mesir, 1975 jilid 11 h. 164

9 Ma’ruf Amin, Fatwa dalam Sistem Hukum Islam, h.71-73.

56

1. Menafsirkan berbeda dengan berdakwah atau berceramah berkaitan dengan tafsir ayat al-Qur’an. Seseorang yang tidak memenuhi syarat-syarat diatas, tidak berarti dilarang untuk menyampaikan uraian tafsir selama uraian yang dikemukakan berdasarkan pemahaman para ahli tafsir yang telah memenuhi syarat.

2. Faktor-faktor yang mengakibatkan kekeliruan dalam penafsiran adalah:

a. Subjektivitas sorang mufassir

b. Kekeliruan dalam menerapkan metode atau kaidah c. Kedangkalan dalam ilmu-ilmu alat

d. Kedangkalan pengetahuan tentang materi uraian (pembicaraan) ayat

e. Tidak memperhatikan konteks, baik asbabun al-nuzul, hubungan antar ayat, maupun kondisi sosial masyarakat

f. Tidak memperhatikan siapa pembicara dan terhadap siapa peembicaran ditujukan.

Melihat begitu mendalam dan sistematisnya dalam memahami al-Qur’an dengan adanya berbagai persyaratan penafsiran terhadap al-al-Qur’an sebagaimana yang telah disebutkan, maka tidaklah mengherankan bila al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam dan menempati posisi sentral bukan saja dalam perkembangan dan pengembangan ilmu-ilmu keIslaman tetapi juga merupakan pemandu gerakan-gerakan umat Islam sepanjang empat belas abad sejarah pergerakan umat ini.11

10 M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an (fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan), Mizan, Bandung, 1994 h. 78-79.

11Dr. M. Quraish Shiab, Membumikan al-Qur’an (fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan), Mizan, Bandung, 1994 h. 79.

6. Mengingkari kedudukan hadits nabi sebagai sumber ajaran Islam.

Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Qura’an surat Al-Hasyr:

ِبﺎَﻘِﻌْﻟا ُﺪﯾِﺪَﺷ َ ﱠﷲ ﱠنِإ ۖ َ ﱠﷲ اﻮُﻘﱠﺗاَو ۚ اﻮُﮭَﺘْﻧﺎَﻓ ُﮫْﻨَﻋ ْﻢُﻛﺎَﮭَﻧ ﺎَﻣَو ُهوُﺬُﺨَﻓ ُلﻮُﺳﱠﺮﻟا ُﻢُﻛﺎَﺗآ ﺎَﻣَو

.

artinya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa

yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.’’ ( Q.S.

Al-Hasyr:7)

Ayat ini menegaskan bahwa Hadis Rasulullah adalah sebuah sumber hukum dalam Islam, selain itu hadis juga sebagai penjelas dari Al-Qur’an. Baik hadis tersebut diriwayatkan secara massal (mutawatir), atau perorangan (ahad), dengan catatan hadis tersebut berstatus sahih. Sementara hadis dhaif diperbolehkan dalam hal-hal keutamaan beramal shaleh.12 7. Menghina, melecehkan, dan atau meerendahkan para nabi dan rasul.

Nabi dan rasul merupakan manusia-manusia yang dipilih Allah. mereka dibedakan dengan makhluk lain terutama manusia yang lain. hal ini yang ditunjukkan oleh firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 57 sebagai berikut:13

ﯿِﮭُﻣ ﺎًﺑاَﺬَﻋ ْﻢُﮭَﻟ ﱠﺪَﻋَأَو ِةَﺮِﺧَ ْﻵاَو ﺎَﯿْﻧﱡﺪﻟا ﻲِﻓ ُ ﱠﷲ ُﻢُﮭَﻨَﻌَﻟ ُﮫَﻟﻮُﺳَرَو َ ﱠﷲ َنوُذْﺆُﯾ َﻦﯾِﺬﱠﻟا ﱠنِإ

ﺎًﻨ

Artinya: sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya

Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. (Qs. Al-Ahzab (33): 57)

Berdasarkan ayat tersebut Allah menciptakan manusia kemudian memilih diantara mereka untuk dijadikan nabi atau rasul sebagai panutan bagi masing-masing umatnya. dengan terpilihnya beberapa manusia

12 www.hujjahnu.com Muhammad Makruf Khozin, di akses pada 25 januari 2103.

13 umar sulaiman al-Asqor, Rasul dan Risalah, (riyadh: international Islamic Publishing House, 2008), h. 275.

58

tersebut maka itu mengisyaratkan bahwa mereka merupakan manusia yang berbeda dan diberikan keutamaan lebih dari yang lain. hal ini dibuktikan dengan ayat al-Qur’an sebagai berikut:

ٌﻢﯿِﻠَﻋ ٌﻢﯿِﻜَﺣ َﻚﱠﺑَر ﱠنِإ ُءﺎَﺸَﻧ ْﻦَﻣ ٍتﺎَﺟَرَد ُﻊَﻓْﺮَﻧ ِﮫِﻣْﻮَﻗ ﻰَﻠَﻋ َﻢﯿِھاَﺮْﺑِإ ﺎَھﺎَﻨْﯿَﺗَآ ﺎَﻨُﺘﱠﺠُﺣ َﻚْﻠِﺗَو

)

83

(

ْﻦِﻣ ﺎَﻨْﯾَﺪَھ ﺎًﺣﻮُﻧَو ﺎَﻨْﯾَﺪَھ ًّﻼُﻛ َبﻮُﻘْﻌَﯾَو َقﺎَﺤْﺳِإ ُﮫَﻟ ﺎَﻨْﺒَھَوَو

َدوُواَد ِﮫِﺘﱠﯾﱢرُذ ْﻦِﻣَو ُﻞْﺒَﻗ

َﻦﯿِﻨِﺴْﺤُﻤْﻟا يِﺰْﺠَﻧ َﻚِﻟَﺬَﻛَو َنوُرﺎَھَو ﻰَﺳﻮُﻣَو َﻒُﺳﻮُﯾَو َبﻮﱡﯾَأَو َنﺎَﻤْﯿَﻠُﺳَو

)

84

(

ﺎﱠﯾِﺮَﻛَزَو

َﻦﯿِﺤِﻟﺎﱠﺼﻟا َﻦِﻣ ﱞﻞُﻛ َسﺎَﯿْﻟِإَو ﻰَﺴﯿِﻋَو ﻰَﯿْﺤَﯾَو

)

85

(

ﺎًطﻮُﻟَو َﺲُﻧﻮُﯾَو َﻊَﺴَﯿْﻟاَو َﻞﯿِﻋﺎَﻤْﺳِإَو

ًّﻼُﻛَو

َﻦﯿِﻤَﻟﺎَﻌْﻟا ﻰَﻠَﻋ ﺎَﻨْﻠﱠﻀَﻓ

.

Artinya: Dan Itulah hujjah kami yang kami berikan kepada Ibrahim untuk

menghadapi kaumnya. kami tinggikan siapa yang kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.84. Dan kami Telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. kepada keduanya masing-masing Telah kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) Telah kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.85. Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. semuanya termasuk orang-orang yang shaleh.86. Dan Ismail, Alyasa', Yunus dan Luth. masing-masing kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya),

(QS. Al-An’am: 83-86).

Dengan demikian tidak layak bagi manusia biasa untuk menghina, melecehkan atau merendahkan manusia-manusia pilihan Allah SWT. mereka yang melakukan demikian telah ditetapkan sebagai ciri kesesatan oleh ulama pada umumnya dan MUI khususnya.

bagi mereka yang mengingkari nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir, maka mereka termasuk orang yang sesat. kesesatan juga ditujukan bagi mereka yang mengaku sebagai utusan Allah setelah nabi Muhammad:

َلﺎَﻗ ،ٍﻚِﻟﺎَﻣ ُﻦْﺑ ُﺲَﻧَأ ﺎَﻨَﺛﱠﺪَﺣ

:

َﻢﱠﻠَﺳَو ِﮫْﯿَﻠَﻋ ُ ﱠﷲ ﻰﱠﻠَﺻ ِ ﱠﷲ ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻗ

:

ْﺪَﻗ َةﱠﻮُﺒﱡﻨﻟاَو َﺔَﻟﺎَﺳﱢﺮﻟا ﱠنِإ

ﱠﻲِﺒَﻧ َﻻَو يِﺪْﻌَﺑ َلﻮُﺳَر َﻼَﻓ ْﺖَﻌَﻄَﻘْﻧا

)

يﺬﻣﺮﺘﻟا و ﺪﻤﺣا هاور

(

Artinya: “Rasulullah Saw bersabda: sesungguhnya kerasulan dan

kenabian telah terhenti. Oleh karena itu tidak ada lagi rasul dan nabi sesudahku”(HR. Ahmad dan Tirmidzi)

9. Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syari’ah, seperti haji ke baitullah, shalat wajib 5 waktu tidak wajib dll. Sebagaimana firman Allah SWT surat Al- Maidah:3

ﺎًﻨﯾِد َم َﻼْﺳِ ْﻹا ُﻢُﻜَﻟ ُﺖﯿِﺿَرَو ﻲِﺘَﻤْﻌِﻧ ْﻢُﻜْﯿَﻠَﻋ ُﺖْﻤَﻤْﺗَأَو ْﻢُﻜَﻨﯾِد ْﻢُﻜَﻟ ُﺖْﻠَﻤْﻛَأ َمْﻮَﯿْﻟا

Artinya: Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan

telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-Ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Q.S. Al-Maidah:3)

10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan dari kelompoknya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

ﺎﻤھﺪﺣا ﺎﮭﺑ ءﺎﺑ ﺪﻘﻓ هﺎﺧأ ﻞﺟﺮﻟا ﺮﻔﻛ اذإ

Artinya: “apabila seorang mengkafirkan saudaranya, maka ucapannya itu

60

Dan sabda Nabi Muhammad SAW:

ﺮﻔﻜﻟا ﻰﻟإ ﻮﮭﻓ ﷲﻻإ ﮫﻟإﻻ ﻞھا ﺮﻔﻛ ﻦﻤﻓ ﺐﻧﺬﺑ ﻢھﺮﻔﻜﺗ ﻻ ﷲﻻإ ﮫﻟإﻻ ﻞھا ﻦﻋاﻮﻔﻛ

بﺮﻗأ

Artinya: “Menghindarlah dari umat Islam yang mengucapkan kalimat

tauhid Tiada Tuhan selain Allah’, jangan kau hukumi kafir lantaran mereka melakukan sebuah dosa. Barangsiapa yang mengkafirkan mereka, maka dia lebih dekat dengan kekufuran”. (HR. Tabrani dalam kitab

al-Mu’jam al-Kabir No.12912 dari Ibnu Umar).

Begitu jelasnya kriteria yang dikeluarkan oleh majlis ulama Indonesia, namun masih saja ada orang yang berusaha memanfaatkan kebodohan masyarakat dengan mengaburkannya dan menggantinya dengan kriteria yang justru malah sesat. Misalnya ada yang mengatakan kepada masyarakat bahwa kriteria faham dan aliran sesat adalah faham atau aliran yang menyimpang dari ordo-ordo keagamaan yang ada dimasyarakat.

B. Analisis mengenai dalil-dalil yang digunakan MUI dalam penetapan Fatwa

Dalam dokumen ALIRAN GAFATAR DAN FATWA SESAT MUI (Halaman 60-72)

Dokumen terkait