METODE PENELITIAN
3.5 Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
3.6.2 Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif adalah analisis yang menggunakan alat analisis bersifat kuantitatif, yaitu alat analisis yang menggunakan model-model seperti model matematika, model statistik, dan ekonometrik. Hasil analisis disajikan dalam bentuk angka-angka yang kemudian dijelaskan dan diinterprestasikan dalam suatu uraian (Hasan dan Misbahuddin, 2013:33).
Teknik pengukuran jawaban dalam penelitian ini menggunakan skala likert, dimana biasa digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Peneliti menggunakan skala genap yaitu 1 sampai 4, pemilihan skala genap ini dengan pertimbangan untuk menghindari
52 kebudayaan masyarakat Indonesia yang kurang baik ketika memilih jawaban, masyarakat Indonesia cenderung lebih senang memilih jawaban yang netral. Seperti yang dikemukakan oleh Singarimbun dan Sofian (1995:109) dalam bukunya yang berjudul “Metode Penelitian Survey” bahwa seorang peneliti perlu berhati-hati dalam pemakaian skala karena ada bagian-bagian dari skala tersebut yang tidak sesuai dengan tata nilai dan kebudayaan Indonesia.
Setiap pertanyaan dalam kuesioner memiliki empat pilihan jawaban. Setiap jawaban diberi skor 1 sampai dengan 4. Jawaban berupa selalu / sangat sesuai / sangat memahami / sangat bertanggungjawab / sangat penting / sangat bangga diberi skor (4), jawaban berupa sering / sesuai / memahami / bertanggungjawab / penting / bangga diberi skor (3), jawaban berupa kadang-kadang / kurang sesuai / kurang memahami / kurang bertanggungjawab / kurang penting / kurang bangga diberi skor (2), dan jabawan berupa tidak pernah / tidak sesuai / tidak memahami / tidak bertanggungjawab / tidak penting / tidak bangga diberi skor (1).
Untuk lebih memudahkan dalam mendeskripsikan variabel maka ditarik kesimpulan dari hasil rata-rata skor yang diperoleh. Penarikan kesimpulan pada setiap variabel ditentukan dengan rata-rata dari setiap indikator. Nilai rata-rata tersebut diperoleh dari penjumlahan hasil kali total responden pada masing-masing skor dengan skornya, kemudian dibagi dengan jumlah responden keseluruhan. Rumus yang digunakan untuk mencari rataan skor tersebut adalah sebagai berikut:
53 Dimana :
X = Rata-rata
n1 = Responden yang memilih skor tententu s1 = Bobot skor
N = Jumlah total responden
Interpretasi selanjutnya diperoleh dengan mencari nilai skor rata-rata. Nilai skor rata-rata dapat diperoleh dengan rumus:
Rskor
Penelitian ini menggunakan skala dari 1 sampai 4, sehingga nilai rata-rata yang diperoleh menjadi:
Rskor = = 1,0
Berdasarkan nilai skor rata-rata tersebut, maka posisi kesimpulan deskripsi variabel persepsi karyawan tentang gaji, upah, dan insentif (kompensasi finansial langsung) memiliki rentang skala seperti berikut ini :
1,0 – 1,9 = Tidak baik 2,0 – 2,9 = Sedang 3,0 – 4,0 = Baik
Sedangkan posisi kesimpulan deskripsi dari variabel komitmen kerja memiliki rentang skala seperti berikut ini :
1,0 – 1,9 = Rendah 2,0 – 2,9 = Sedang 3,0 – 4,0 = Tinggi
54 3.6.3 Pengujian Instrumen Penelitian
Hal yang juga penting dilakukan dalam rangka pengumpulan data adalah melakukan pengujian instrumen (alat ukur) yang akan digunakan. Kegiatan pengujian instrumen meliputi dua hal, yaitu pengujian validitas dan reliabilitas (Muhidin dan Maman, 2007:30). Pentingnya pengujian validitas dan reliabilitas ini, berkaitan dengan proses pengukuran yang cenderung kepada keliru. Untuk itulah uji validitas dan reliabilitas diperlukan sebagai upaya memaksimalkan kualitas alat ukur, agar kecenderungan keliru tersebut dapat diminimalkan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa validitas dan reliabilitas adalah tempat kedudukan untuk menilai kualitas semua alat dan prosedur pengukuran. Instrumen yang valid dan reliabel merupakan syarat untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel (Sugiyono, 2006:267).
3.6.3.1 Uji Validitas
Suatu instrumen pengukuran dikatakan valid jika instrumen dapat mengukur sesuatu dengan tepat apa yang hendak diukur (Muhidin dan Maman, 2007:30). Ada dua jenis validitas untuk instrument penelitian, yaitu validitas logis (logical validity) dan validitas empirik (empirical validity) (Suharsimi Arikunto, 1993:219). Validitas logis adalah validitas yang dinyatakan berdasarkan hasil penalaran. Instrumen dinyatakan memiliki validitas apabila instrumen tersebut telah dirancang dengan baik dan mengikuti teori dan ketentuan yang ada. Artinya apabila instrumen yang sudah disusun berdasarkan teori penyusunan instrumen / instrumen disusun mengikuti
55 ketentuan yang ada, maka secara logis sudah valid. Dengan demikian validitas logis ini langsung diperoleh ketika instrumen sudah selesai disusun, jadi tidak perlu diuji.
Validitas empirik adalah validitas yang dinyatakan berdasarkan hasil pengalaman. Sebuah instrumen penelitian dikatakan memiliki validitas apabila sudah teruji dari pengalaman. Dengan demikian syarat instrumen dinyatakan memiliki validitas apabila sudah dibuktikan melalui pengalaman, yaitu sebuah uji coba. Untuk mengetahui validitasnya, peneliti harus menyebarkan instrumen penelitian kepada responden yang bukan responden sesungguhnya. Setelah data didapat dan ditabulasikan, maka pengujian validitas konstruksi dilakukan dengan analisis faktor, yaitu dengan mengkorelasikan antara skor item instrument dengan rumus Pearson
Product Moment yaitu (Riduwan, 2013:98):
r
hitung∑ ∑ ∑ √ ∑ ∑ ∑ ∑
dimana :
rhitung = Koefisien korelasi ΣXi = Jumlah skor item
ΣY = Jumlah skor total (seluruh item) n = Jumlah responden
Jika hasil rhitunglebih besar dari rtabel (rhitung > rtabel) maka pertanyaan dikatakan valid. Sebaliknya, jika rhitung lebih kecil dari rtabel (rhitung < rtabel) maka pertanyaan dikatakan tidak valid.
Pada penelitian ini peneliti mengambil 30 responden untuk melakukan uji validitas. Responden tersebut diberikan kuesioner yang telah dibuat oleh peneliti
56 kemudian dari hasil pengisian kuesioner dilakukan pengujian validitas. Dari hasil pengujian yang telah dilakukan oleh peneliti (dapat dilihat pada lampiran 4) dihasilkan dari 42 butir pertanyaan terdapat 11 butir pertanyaan tidak valid dan 31 butir pertanyaa valid. Dari hasil pengujian validitas tersebut peneliti kemudian memilah kembali pertanyaan-pertanyaan yang tidak valid dengan cara memperbaiki pertanyaan yang masih dapat diperbaiki dengan memperhatikan kondisi lapangan sehingga pertanyaan tersebut menjadi relevan dan dapat dimengerti serta menghilangkan beberapa pertanyaan yang dianggap tidak relevan.
3.6.3.2 Uji Reliabilitas
Pengujian alat pengumpulan data yang kedua adalah pengujian reliabilitas instrumen. Suatu instrumen pengukuran dikatakan reliabel jika pengukurannya konsisten dan cermat akurat. Jadi uji reliabilitas instrumen dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui konsistensi dari instrumen sebagai alat ukur, sehingga hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Hasil pengukuran dapat dipercaya hanya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama (homogen) diperoleh hasil yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subjek memang belum berubah.
Formula yang dipergunakan untuk menguji reliabilitas instrumen dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan rumus alpha, yaitu (Arikunto, 2007:180):
r11 =
[
] [
∑]
57 Keterangan:
r11 = reliabilitas instrumen
k = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal ∑ = jumlah varians butir
= varians total
Varians dapat dihitung dengan menggunakan rumus : ∑ ∑
Kriteria penilaiannya yaitu jika nilai r hitung lebih besar (>) dari r tabel, maka instrumen dinyatakan reliabel.
Dalam penelitian ini, dilakukan uji reliabilitas dengan mengambil 30 responden untuk mengisi kuesioner yang telah dibuat oleh peneliti. Dari hasil pengujian reliabilitas didapatkan nilai alfa Cronbach variabel persepsi tentang gaji (X1) sebesar 0,734, variabel persepsi tentang upah (X2) sebesar 0,712, variabel persepsi tentang insentif (X3) sebesar 0,816, dan variabel komitmen kerja (Y) sebesar 0,728. Dari hasil tersebut seluruh variabel memiliki nilai alfa lebih besar dari R Tabel 0,361. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan oleh peneliti dikatakan reliabel. Untuk hasil yang lebih jelas, dapat dilihat pada lampiran 4.