• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA

DAFTAR LAMPIRAN

3.3. Metode Pengambilan Data

3.3.2. Analisis laboratorium a Biomassa lamun

Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintesis atau jumlah keseluruhan benda hidup dalam suatu wilayah. Satuan biomassa dinyatakan dalam gram berat kering/m2 dan gram berat basah/m2. Menurut Fortes (1990) in Kopalit (2010), biomassa lamun merupakan fungsi dari ukuran tumbuhan dan kerapatan.

Contoh lamun yang telah diambil di lapangan dibersihkan dari pasir dan batuan kemudian ditiriskan menggunakan kertas. Setiap lamun dipisahkan bagian akar, batang, dan daun. Bagian yang telah dipisahkan kemudian dibungkus dengan kertas alumunium foil dan dimasukan ke dalam oven dengan suhu 105º C selama 6-9 jam. Setelah pemanasan selesai, dilakukan penimbangan berat kering lamun.

b. Identifikasi ikan

Identifikasi ikan merupakan awal dari proses pemberian nama ilmiah suatu jenis ikan. Identifikasi awal dilakukan dengan melihat kesamaan morfologi berdasarkan ilustrasi dalam Allen (1999). Ikan sampel yang telah diawetkan diidentifikasi di laboratorium dengan melihat karakteristik morfometrik (ukuran fisik tubuh) dan meristik (bagian tubuh yang dapat dihitung). Ikan sampel diukur panjang total ikan. Sementara untuk melihat karakteristik meristik yang merupakan ciri yang unik dan mudah dipakai, digunakan buku panduan FAO (1999).

c. Kebiasaan makanan

Menurut Effendi (2002), kebiasaan makanan adalah kualitas dan kuantitas makanan yang dimakan oleh ikan. Analisis kebiasaan makanan ditujukan untuk mengetahui kebiasaan makanan ikan, sehingga dapat diprediksi hubungan ekologi antar organisme dalam suatu perairan. Hubungan yang dilihat bisa berupa bentuk pemangsaan ataupun persaingan dalam rantai makanan.

Pengamatan kebiasaan dilakukan dengan mengambil contoh ikan pada lokasi pengamatan. Ikan sampel kemudian dibedah dan dilihat isi perut (usus) dengan bantuan mikroskop. Pengamatan kebiasaan makanan ikan dalam mikroskop merupakan hasil dari pengenceran isi perut ikan. Hasil yang didapat dari analisis ini berupa jenis dan presentase kelimpahan dalam perut.

A N D i i

  p i ij i i n N RD 1

  3.4. Analisis Data 3.4.1. Lamun

a. Kerapatan Jenis (Di) dihitung dengan rumus (Brower et al. 1998):

Keterangan: Di = Jumlah individu -i (tegakan) per satuan luas

Ni = Jumlah individu -i (tegakan) dalam transek kuadrat A = Luas total amatan

b. Kerapatan relatif (RDi) merupakan perbandingan jumlah spesies dengan jumlah total individu seluruh spesies, dirumuskan sebagai berikut :

Keterangan: RDi = Kerapatan relatif

Ni = Jumlah individu –i (tegakan) dalam transek kuadrat = Jumlah total individu seluruh spesies

c. Frekuensi jenis (Fi) merupakan peluang suatu jenis spesies ditemukan dalam titik contoh yang diamati, dirumuskan sebagai berikut :

Keterangan: Fi = Frekuensi Jenis ke-i

Pi = Jumlah petak contoh dimana spesies-i ditemukan

= Jumlah total petak contoh yang akan diamati

d. Frekuensi relatif (RFi) adalah perbandingan antara frekuensi spesies-i dan jumlah frekuensi untuk seluruh spesies, dirumuskan sebagai berikut :

Keterangan: Rfi = Frekuensi Relatif Fi = Frekuensi jenis ke-i

= Jumlah total petak contoh yang akan diamati

p i ij n 1

p i i F 1

A a C i i

  p i ij i i C C RC 1 i i i RD RC RF INP  

e. Penutupan (Ci) adalah luas area yang tertutupi oleh spesies-i, dirumuskan sebagai

berikut :

(kategori Saito and Atobe 1970 in English et al. 1994)

Keterangan: Ci = Luas area yang tertutupi spesies ke-i Ai = Luas total penutupan spesies ke-i A = Luas total pengambilan contoh

fi = Frekuensi (jumlah kotak dengan kelas dominansi yang sama)

Mi = Titik tengah % spesies ke-i

f. Penutupan relatif (RCi) adalah perbandingan antara penutupan individu spesies

ke-i dengan jumlah total penutupan seluruh jenis.

Keterangan: RCi = Penutupan relatif

Ci = Luas area yang tertutupi jenis ke-i

= Penutupan seluruh spesies

g. Indeks nilai penting lamun (INP) digunakan untuk menghitung dan menduga secara keseluruhan dari peranan satu spesies di dalam suatu komunitas. Indeks nilai penting (INP) berkisar antara 0-3. INP memberikan gambaran mengenai pengaruh atau peranan suatu jenis tumbuhan terhadap suatu daerah. Semakin tinggi nilai INP suatu spesies relatif terhadap spesies lainnya, maka semakin tinggi peranan spesies tersebut pada komunitasnya. Rumus yang digunakan dalam menghitung INP adalah (Brower et al. 1998):

Keterangan: INP = Indeks Nilai Penting RFi = Frekuensi relatif RDi = Kerapatan relatif RCi = Penutupan relatif

p i ij

C

1

h. Biomassa Lamun (gram/m2) dihitung berdasarkan berat basah dan berat kering. Sebelum dilakukan penimbangan, lamun yang telah didaratkan, disortir dahulu berdasarkan jenis, kemudian ditimbang. Sampel lamun kemudian dibawa ke laboratorium untuk mengukur berat kering. Biomassa dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut :

Keterangan: Bi = biomassa rumput laut spesies ke-i (gram/m2) Wi = jumlah total berat spesies ke-i (gram) A = total area studi (m2)

3.4.2. Ikan

a. Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener

Indeks keragaman digunakan untuk mengukur kelimpahan komunitas berdasarkan jumlah jenis spesies dan jumlah individu dari setiap spesies pada suatu lokasi. Semakin banyak jumlah jenis spesies, maka semakin beragam komunitasnya. Rumus indeks keanekaragaman Shannon (Krebs 1989) :

Keterangan: H’ = Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener N = Jumlah total individu seluruh jenis

ni = Jumlah individu jenis ke-i

b. Indeks keseragaman Shannon-Wiener

Indeks keseragaman digunakan untuk mengetahui seberapa besar kesamaan penyebaran jumlah individu setiap jenis dengan cara membandingkan indeks keanekaragaman dengan nilai maksimumnya. Semakin seragam penyebaran individu antarspesies maka keseimbangan ekosistem akan semakin meningkat. Indeks keseragaman ditentukan berdasarkan rumus berikut (Krebs 1989):

,

Keterangan: E = Indeks Keseragaman Shannon H’ = Indeks keanekaragaman

H’ max = Indeks keanekaragaman maksimum max ' ' H H EH'max ln

 

S

S = Jumlah spesies c. Indeks dominansi Simpson

Indeks ini digunakan untuk mengetahui jenis yang paling banyak ditemukan. Dominansi dapat diketahui dengan rumus dominansi Simpson:

Keterangan: D = Indeks dominansi Simpson ni = Jumlah individu jenis ke-i

N = Jumlah total individu seluruh jenis 3.4.3. Asosiasi ikan dengan lamun

a. Korelasi Pearson

Korelasi adalah istilah statistik yang menyatakan derajat hubungan linier searah antara dua variabel atau lebih. Salah satu teknik korelasi yang umum digunakan adalah korelasi product moment pearson. Variabel yang digunakan adalah variabel berskala interval. Analisa ini digunakan untuk menyatakan ada atau tidaknya hubungan antara variabel X dan Y serta mengetahui besarnya sumbangan variabel satu terhadap yang lainnya yang dinyatakan dalam persen.

Variabel X menyatakan kondisi habitat sementara variabel Y menyatakan kondisi ikan. Kondisi meliputi biomassa dan kerapatan lamun diduga mempengaruhi biomassa, kelimpahan individu, dan kelimpahan spesies ikan dalam lamun. Kepadatan lamun merupakan faktor penentu kuantitas ikan yang ada di dalamnya. Biomassa lamun dianalogikan sebagai fungsi dari kepadatan dan penutupan lamun yang akan mempengaruhi jumlah serta biomassa ikan yang berasosiasi.

Hubungan antara variabel X dan Y dinilai dari koefisien korelasi (r). Nilai korelasi terletak antara -1 hingga 1. Semakin mendekati angka -1 maka hubungan antara kondisi lamun dan kondisi ikan berkorelasi sangat erat negatif. Sedangkan semakin mendekati angka 1, kondisi lamun berkorelasi sangat erat positif. Sifat distribusi data dilihat dari nilai P-Value. Nilai P-Value > 0,05 berarti bahwa data yang didapatkan berdistribusi normal.

b. Indeks Konstansi dan Indeks Fidelitas

Data hasil sampling dalam setiap stasiun pengamatan dikonversi menjadi data binari. Hasil data binari digunakan untuk menganalisa tingkat kekonstanan spesies

2 1

        s i i N n D

ikan pada habitat tertentu. Berdasarkan indeks konstansi dengan rumus (Boech 1977 in Aktani 1990):

Keterangan : Cij = Indeks konstansi

aij = Jumlah kehadiran spesies ikan ke-i pada habitat ke-j

ni = Jumlah elemen pada kelompok spesies ikan ke-i

nj = Jumlah elemen pada anggota kelompok ke-j

kisaran indeks konstansi adalah 0-1, dengan ketentuan:

Cij = 0 , berarti tidak ada satupun spesies ikan ke-i terdapat pada habitat ke-j

Cij = 1 , berarti spesies ikan ke-i terdapat pada habitat ke-j

Dari indeks konstansi dapat dilihat tingkat kekhasan/kebenaran spesies ke- i pada habitat ke- j berdasarkan indeks fidelitas (Murphy and Edwards 1982 in Aktani 1990) berdasarkan persamaan:

Keterangan : Fij = Indeks fidelitas kelompok spesies ikan ke-i pada habitat ke-j

Cij = Indeks konstansi kelompok spesies ikan ke-i pada habitat ke-j

Kisaran indeks fidelitas adalah sebagai berikut:

Fij ˻ 2 menunjukan preferensi yang kuat antara kelompok ikan ke-i pada habitat ke-j

Fij ˺ 1 menunjukan tingkat ketidaksukaan kelompok ikan ke-i pada habitat ke- j

Fij = 0 menunjukan ketidaksukaan / cenderung menghindari kelompok ikan ke- i

pada habitat ke- j. c. Analisis Biplot

Biplot merupakan suatu alat analisis statistika yang menyediakan posisi relatif objek pengamatan dengan peubah secara simultan dalam dua dimensi. Informasi yang bisa diperoleh dari biplot adalah : hubungan antara peubah bebas, kesamaan relatif dari titik-titik data individu pengamatan, dan posisi relatif antara individu pengamatan dengan peubah. Interpretasi dari biplot adalah :

1. Panjang vektor peubah sebanding dengan keragaman peubah tersebut. Semakin panjang vektor suatu peubah maka keragaman peubah tersebut semakin tinggi. 2. Nilai cosinus sudut antara dua vektor peubah menggambarkan korelasi dua

positif tinggi korelasinya. Jika sudut yang dibuat tegak lurus maka korelasi keduanya rendah. Sedangkan jika sudut tumpul maka korelasi bersifat negatif. 3. Posisi objek yang searah dengan suatu vektor peubah diinterpretasikan sebagai

besarnya nilai peubah untuk objek yang searah. Semakin dekat letak objek dengan arah yang ditunjuk oleh suatu peubah maka semakin tinggi peubah tersebut untuk objek itu. Sedangkan jika arahnya berlawanan maka nilainya rendah.

4. Kedekatan letak/posisi dua buah objek diinterpretasikan sebagai kemiripan sifat dua objek. Semakin dekat letak dua buah objek maka sifat yang ditunjukan oleh nilai-nilai peubahnya semakin mirip.

d. Analisis Ragam Klasifikasi Dua Arah (Two Way Anova)

Analisis ragam klasifikasi dua arah merupakan sebuah pengujian statistika dengan dua faktor yang diperhitungkan secara simultan, dimana jumlah perlakuan pada setiap faktor adalah dua atau lebih. Rancangan ini sering dikenal sebagai rancangan acak kelompok, rancangan acak lengkap faktorial, dan bujur sangkar latin. Komponen yang dianalisis dalam Anova adalah kelimpahan ikan pada tiap waktu pengambilan data (siang dan malam) serta kelimpahan pada tiap stasiun pengamatan yang berbeda kondisi penutupannya. Analisis ini digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh perbedaan waktu penangkapan dan kondisi penutupan lamun terhadap jumlah spesies ikan yang ada di dalamnya.

4.1. Keadaan Umum Perairan Karang Lebar

Kepulauan Seribu merupakan gugusan pulau-pulau kecil seluas 107.489 ha yang terbentang dari Teluk Jakarta hingga Pulau Sebira di arah utara sejauh 150 km. Wilayah Kepulauan Seribu berbatasan langsung dengan Laut Jawa dan Selat Sunda. Kepulauan Seribu resmi dijadikan sebagai Taman Nasional Laut sejak tahun 1995 dengan empat zonasi (zona inti, zona penyangga, zona pemanfaatan, dan zona pemukiman). Secara administratif, Kepulauan Seribu terbagi dalam dua kecamatan, yakni Kecamatan Kepulauan Seribu Utara dan Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Pusat pemerintahan dan aktivitas manusia yang tertinggi terdapat di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kelurahan Pulau Panggang. Wilayah Kelurahan Pulau Panggang terdiri dari 13 pulau kecil, termasuk Pulau Semak Daun.

Perairan Pulau Semak Daun adalah perairan dangkal dengan satu pulau utama dan beberapa goba di sekitarnya. Perairan Pulau Semak Daun termasuk dalam zona pemanfaatan pariwisata. Berdekatan dengan wilayah ini terdapat perairan Karang Lebar yang tidak memiliki pulau utama, sehingga lebih banyak dikenal sebagai bagian dari Perairan Semak Daun. Vegatasi lamun dan terumbu karang tersebar luas di perairan dangkal ini. Perairan Karang Lebar banyak dijadikan sebagai basis penangkapan ikan dan penambangan pasir oleh masyarakat sekitar.

Perairan Kepulauan Seribu, khususnya Kelurahan Pulau Panggang termasuk ke dalam zona pemukiman dan pemanfaatan yang rentan terhadap pencemaran, baik yang berasal dari kegiatan di darat maupun kegiatan di laut. Pencemaran akan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap kondisi lingkungan tempat biota tinggal. Karakteristik fisika dan kimia suatu lingkungan akan berdampak pada struktur komunitas biota yang tinggal di dalamnya, termasuk lamun dan ikan.

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap parameter lingkungan seperti suhu, pH, dan kecerahan pada wilayah Perairan Karang Lebar, secara umum kondisi perairan ini masih tergolong baik (Tabel 4).

Tabel 4. Hasil pengukuran parameter fisika dan kimia perairan.

Kondisi Lamun

Siang malam

suhu pH kecerahan kedalaman

(cm) suhu pH kedalaman (cm) Sehat 29 8 100% 40-100 27-29 8 80-165 Kurang Sehat 28-35 8-9 100% 25-125 27-29 8-9 35-120 Miskin 28-29 8-9 100% 20-80 27-29 8-9 60-100

Kedalaman air berkisar antara 20-165 cm dan kecerahan yang konstan pada tiap pengamatan, yakni 100% menunjukkan penetrasi cahaya matahari masuk hingga ke dasar perairan. Berdasarkan data, terlihat bahwa perairan Karang Lebar merupakan perairan dangkal yang jernih. Kondisi ini mempengaruhi pertumbuhan lamun dan kapasitas lamun untuk berproduksi sebagai produsen utama di air. Penetrasi matahari yang baik akan memudahkan lamun untuk dapat berfotosintesis dan tumbuh. Nilai kecerahan perairan dipengaruhi oleh kecepatan arus. Arus yang stagnan dan sangat tenang pada jangka waktu yang lama akan menurunkan tingkat kecerahan perairan.

Menurut Waycott et al. (2007), suhu yang diperlukan oleh lamun untuk berfotosintesis berkisar antara 28-35º C. Sedangkan untuk tumbuh, lamun memerlukan suhu optimal antara 28-30º C. Merujuk pada keterangan tersebut, hasil pengamatan menunjukkan bahwa suhu perairan cukup ideal untuk proses fotosintesis, namun kurang mendukung untuk proses pertumbuhan lamun. Hal ini dikarenakan suhu tertinggi yang didapatkan pada salah satu stasiun pengamatan mencapai angka 35º C, melebihi baku mutu (Lampiran 3) yang telah ditetapkan.

Derajat asam (pH) pada tiga stasiun pengamatan berfluktuasi seiringan dengan suhu perairan. Pada saat arus sangat tenang dengan penyinaran matahari yang tinggi, suhu air mencapai 35ºC dan nilai pH naik menjadi 9 di sore hari. Kondisi pH yang terlalu tinggi (basa) tidak mendukung bagi pertumbuhan lamun, sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup nomor 51 tahun 2004 tentang baku mutu air laut untuk biota laut.

Secara umum kondisi perairan yang ditunjukan oleh Tabel 4 masih tergolong baik untuk kehidupan biota laut, sesuai KepMenLH No. 51 tahun 2004. Beberapa hasil pengamatan yang berada di bawah baku mutu yang telah ditetapkan

dikarenakan adanya pengaruh lingkungan seperti tingginya intensitas penyinaran matahari serta arus perairan yang sangat rendah.

4.2. Karakteristik Padang Lamun

4.2.1. Komposisi lamun berdasarkan kepadatan jenis

Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa perairan Karang Lebar ditumbuhi oleh 3 jenis lamun yang tersebar pada 3 lokasi pengamatan yang berbeda kondisi (Gambar 5). Pada padang lamun kategori kurang sehat dan miskin ditemukan 3 spesies lamun : Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, dan Halophila ovalis. Sedangkan pada padang lamun dengan kondisi kaya hanya ditemukan 2 spesies yakni Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata. Spesies lamun yang ditemukan dalam pengamatan sesuai dengan delapan jenis spesies lamun yang ditemukan di Kepulauan Seribu menurut Tomascik et al. (1997).

Jenis Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata selalu ditemukan di tiga stasiun pengamatan karena kondisi perairan yang jernih serta terbuka yang mendukung kehidupan dan pertumbuhan lamun jenis ini. Akar dari kedua jenis ini bersifat kokoh sehingga mampu menyesuaikan diri dengan arus perairan yang kencang dan substrat pasir kasar. Kedua biota yang dominan ini sangat rentan terhadap adanya gangguan berupa kekeruhan perairan. Gambar 5 menggambarkan komposisi lamun di tiga stasiun amatan.

Gambar 5. Kepadatan lamun (individu/m2)

Cymodocea rotundata merupakan spesies pioner yang mendominasi lamun di wilayah intertidal. Sedangkan Thalassia hemprichii sering ditemukan mendominasi

0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000

Sehat Kurang Sehat Miskin

ke p a d a ta n (ind /m 2 )

komunitas lamun campuran. Spesies ini mampu hidup di berbagai substrat, mulai dari pasir halus hingga substrat kasar (Tomascik et al. 1997). Menurut Den Hartog (1967) in Kiswara dan Hutomo (1985), spesies yang ditemukan pada wilayah pengamatan termasuk ke dalam kategori lamun Herba dengan percabangan monopodial. Thalassia dan Cymodecea termasuk ke dalam kategori lamun Magnozosteroid yang dapat dijumpai pada berbagai habitat, tetapi terbatas pada daerah sublitoral.

Halophila termasuk ke dalam kategori lamun Halophilid yang dapat ditemukan hampir di semua habitat dari pasir kasar hingga lumpur yang lunak, mulai dari daerah pasang surut hingga kedalaman 90 meter. Spesies Halophila ovalis merupakan spesies berukuran kecil yang terdapat pada dua stasiun amatan dengan jumlah kerapatan yang paling kecil (25-33%). Spesies ini merupakan spesies pioner yang cukup mendominasi di wilayah intertidal dengan bioturbasi yang tinggi.

Bioturbasi merupakan pemindahan atau pengadukan sedimen dan partikel terlarut oleh flora maupun fauna. Bioturbasi dimediasi oleh fauna Annelida, Bivalva, Gastropoda, Holothurian, dan fauna lainnya melalui aktivitas meliang, ingestion dan defecation butiran sedimen, serta tempat tinggal yang ditinggalkan mengakibatkan adanya pertukaran dan aliran kimia antara kolom (Rosa and Bemvenuti 2005)

Halophila ovalis terkadang ditemukan bersama dengan Cymodocea rotundata, dalam suatu komunitas lamun campuran yang terdiri dari asosiasi 2-3 spesies lamun (Tomascik et al. 1997). Biota ini tidak ditemukan pada padang lamun dengan kondisi sehat diduga karena morfologi daun yang kecil dan batang yang rapuh. Pada padang lamun sehat, kerapatan Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata yang tinggi mampu mengurangi intensitas cahaya matahari hingga ke dasar perairan, sehingga Halophila ovalis kurang cocok untuk hidup dan bertahan dalam persaingan ruang di padang lamun ini. Ketiga spesies ini memiliki kesamaan lingkungan hidup yakni pada daerah pasang surut dengan substrat pasir halus dan kedalaman perairan relatif dangkal yang memungkinkan penetrasi cahaya optimum untuk dapat berfotosintesis.

Berdasarkan hasil diperoleh nilai jenis yang berbeda pada tiga stasiun amatan. Kepadatan tertinggi dan terendah pada lamun sehat mencapai angka 911 individu/m2 dan 393 individu/m2 dari spesies Cymodocea rotundata dan Thalassia hemprichii.

Sedangkan pada stasiun pengamatan dengan kondisi kurang sehat, diperoleh nilai kerapatan jenis tertinggi dan terendah senilai 528 individu/m2 dan 109 individu/m2 dari spesies Cymodocea rotundata dan Halophila ovalis. Pada stasiun amatan dengan kondisi miskin nilai kerapatan berkisar antara 209-115 individu/m2.

Asosiasi lamun campuran yang yang terdiri dari 2 hingga 3 jenis spesies dijumpai pada ketiga stasiun pengamatan. Menurut Hutomo et al. (1988), asosiasi ini biasa ditemukan dalam jumlah yang melimpah pada daerah berpasir yang terlindung (tidak berlumpur), stabil, dan sedimen yang hampir landai. Dengan kondisi ini, aktivitas meliang dari udang-udangan dan makroinvertebrata lain cenderung berkurang dengan meningkatnya keragaman dan kerapatan lamun. 4.2.2. Komposisi lamun berdasarkan penutupan jenis

Penutupan lamun menggambarkan luasan area yang ditutupi oleh lamun jenis tertentu. Nilai penutupan dipengaruhi oleh kerapatan dan morfologi lamun sendiri. Kerapatan yang tinggi tidak selalu menunjukan nilai penutupan yang tinggi. Nilai kerapatan yang tinggi dengan morfologi daun yang lebar akan menghasilkan nilai penutupan yang tinggi (Gambar 6).

Gambar 6. Penutupan jenis lamun (%)

Persentasi penutupan lamun tertinggi didapat dari spesies Cymodocea rotundata, kecuali pada stasiun lamun kurang sehat yang didominasi oleh Thalassia hemprichii. Nilai penutupan Thalassia hemprichii pada stasiun ini merupakan nilai yang paling tinggi dikarenakan morfologi daun Thalassia hemprichii yang lebar dan

0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00 45.00

Sehat Kurang Sehat Miskin

P

enutupa

n

(

%)

berukuran relatif lebih besar daripada Cymodocea rotundata meskipun Thalassia hemprichii memiliki kerapatan yang lebih rendah.

Kedua jenis lamun ini, terutama Thalassia hemprichii dijadikan sebagai tempat persembunyian oleh ikan berukuran kecil untuk menghindar dari predator. Selain itu, lebar daun yang cukup besar memungkinkan banyaknya epifit menempel pada lamun. Sedangkan spesies Halophila ovalis cenderung memiliki penutupan jenis yang lebih kecil dikarenakan morfologi yang lebih kecil dibandingkan jenis lainnya. Daun Halophila ovalis berbentuk bulat elips berukuran kecil dengan batang yang rapuh dan tipis.

4.2.3. Komposisi lamun berdasarkan frekuensi jenis

Frekuensi jenis lamun menunjukan peluang suatu jenis lamun ditemukan dalam wilayah pengamatan. Frekuensi jenis berfluktuasi pada tiap stasiun amatan (Gambar 7). Berdasarkan hasil, frekuensi tertinggi pada tiap stasiun didominasi oleh spesies Thalassia hemprichii kecuali pada stasiun lamun sehat. Hasil yang didapatkan sesuai dengan karakteristik dari Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata sebagai spesies yang mendominasi komunitas padang lamun campuran, serta Halophila ovalis sebagai anggota bagian yang terkadang muncul diantara spesies Cymodocea rotundata.

Gambar 7. Frekuensi jenis lamun

Frekuensi yang tinggi dari Thalassia hemprichii di stasiun lamun miskin tidak diikuti dengan penutupan yang tinggi pada stasiun tersebut. Hal ini dikarenakan

0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50 0.60 0.70 0.80 0.90 1.00

Sehat Kurang Sehat Miskin

F

re

k

uens

i

Thalassia hemprichii ditemukan dalam ukuran yang masih kecil, sehingga penutupan dari spesies ini kurang optimal meskipun berada dalam jumlah kehadiran yang tinggi dibanding jenis lamun lainnya.

4.2.4. Indeks nilai penting lamun

Indeks nilai penting lamun adalah suatu gambaran bersarnya pengaruh atau dominansi suatu jenis lamun dalam komunitasnya. Nilai INP dipengaruhi langsung oleh kerapatan, penutupan, dan frekuensi lamun (Gambar 8).

Gambar 8. Indeks nilai penting lamun

Nilai INP tertinggi pada tiga stasiun amatan berkisar antara 1,76-1,34 dari spesies Cymodocea rotundata. Biota iniberpengaruh besar bagi jenis lamun lainnya di tiga stasiun amatan, dicirikan dengan frekuensi jenis yang cukup tinggi pada wilayah intertidal stasiun pengamatan. Individu ini memiliki toleransi yang tinggi terhadap perubahan kondisi lingkungan yang cukup signifikan, seperti halnya fauna intertidal yang mampu bertahan terhadap kondisi pasang surut air. Karena kemampuan inilah morfologi Cymodocea rotundata terkadang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain yang karakteristik lingkungannya berbeda. Kelemahan dari biota ini adalah ketidakcocokan untuk hidup di daerah dengan ketinggian air saat surut yang sangat rendah mendekati kering (www.Encyclopedia of Life.com). Thalassia hemprichii seringkali ditemukan bersama dengan Cymodocea rotundata di wilayah yang dekat dengan terumbu karang, seperti dipaparkan oleh Dwintasari (2009) dalam penelitiannya di Pulau Pramuka dan Kiswara et al. (1994) di wilayah Bali dan Lombok.

0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60 1.80 2.00

Sehat Kurang sehat Miskin

INP

4.2.5. Biomassa lamun

Biomassa lamun merupakan fungsi dari ukuran tumbuhan dan kerapatan lamun. Pengamatan biomassa lamun terdiri dari dua jenis, berat basah dan berat kering. Setiap bagian pengamatan dipisahkan menjadi 3 bagian yakni akar, batang, dan daun. Hasil pengamatan tersaji dalam Tabel 5.

Tabel 5. Biomassa lamun

Lokasi Berat Basah (g/m2) Berat Kering (g/m2)

Dokumen terkait