• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Lingkungan Politik, Ekonomi, Sosial, Teknologi

VI. ANALISIS LINGKUNGAN PERUSAHAAN

6.1 Analisis Lingkungan Eksternal .1 Analisis Lingkungan Jauh

Analisis lingkungan eksternal diperlukan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat memberikan peluang dan ancaman bagi perusahaan didalam memasarkan produknya. Faktor eksternal perusahaan mempunyai ruang lingkup yang lebih luas dibandingkan dengan faktor internal. Pengamatan terhadap faktor eksternal dilakukan dengan mengidentifikasi kondisi lingkungan jauh, lingkungan industri dan lingkungan operasional. Berikut ini akan dilakukan identifikasi terhadap lingkungan eksternal yang dapat menjadi peluang dan ancaman bagi KTR.

a. Faktor Politik, Pemerintah, dan Hukum

Sektor agribisnis merupakan salah satu sektor yang membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah, karena sektor ini menyerap tenaga kerja (padat karya) dan padat modal, dukungan dari pemerintah baik melalui tingkat Kota/Kabupaten sampai Departemen Pertanian dalam hal ini Dinas Pertanian Kota/Kabupaten. Perhatian pemerintah terhadap perkembangan agribisnis sangat mendorong pertumbuhan agribisnis khususnya bunga potong. Bentuk perhatian serta bantuan yang diberikan oleh pemerintah tersebut berupa program bantuan ataupun penyuluhan, sebagai contoh pada tahun 2002-2004 terdapat program fasilitas modal dari pemerintah untuk petani yang dinamakan BPLM (Bantuan Pinjaman Langsung Masyarakat) dan pada tahun 2005 program tersebut digantikan dengan Program Peminjaman Bergulir (Revolving).

Pada masa ini perdagangan antar negara semakin luas dan semakin terbuka dengan adanya kesepakatan kerjasama antar negara secara regional. Pasar global memberikan peluang sekaligus ancaman bagi setiap negara didalam pasar perdagangan mereka. Lingkungan perdagangan akan semakin kompetitif dan menuntut setiap negara untuk memiliki suatu keunggulan dibandingkan negara lain. Perdagangan bebas ini akan menghilangkan segala halangan seperti masalah tarif dan nontarif.

Untuk Indonesia globalisasi perdagangan dunia merupakan peluang bagi peningkatkan ekspor, namun merupakan ancaman masuknya produk dari negara lain. Pemerintah sangat diperlukan dalam menjaga kurs rupiah pada tingkat yang tepat serta meninjau kembali tarif ekspor yang menguntungkan bagi produk Indonesia. Pemerintah Indonesia juga harus segera memperbaiki sisitem birokrasi seperti sulitnya birokrasi untuk mengimpor bibit bunga ke Indonesia dan hambatan untuk mengekspor bunga potong ke luar negeri. Indonesia juga harus berusaha untuk meningkatkan keunggulan produk baik secara kualitas maupun kuantitas agar lebih kompetitif di pasar internasional.

Bagi KTR, adanya globalisasi perdagangan membuat standar produksi harus selalu mengikuti standar pasar dunia, karena jika tidak produksi bunga , potong KTR tidak dapat dipasarkan. Pasar Rawa Belong sendiri menetapkan standar sehingga untuk setiap bunga yang akan dipasarkan harus mengikuti standar tersebut. Adapun standar yang ditetapkan tersebut diukur melalui panjang tangkai, lebar bunga, tingkat kesegaran bunga, tingkat ketuaan bunga, tingkat kerusakan, kilap tampuk, serta kadar kotoran. Standar tersebut kemudian dibagi kedalam tiga kelompok mutu yaitu mutu A, mutu B dan mutu C seperti diuraikan

dalam Tabel 11 dan standar yang ditetapkan mengikuti Standar Nasional Indonesia (SNI).

Tabel 11. Standar Bunga Potong

Ukuran A B C

Semua ukuran bunga

1) warna seragam

2) tingkat ketuaan optimal 3) bunga dalam kondisi segar 4) bunga tidak cacat

5) tampuk mengkilat dan segar 6) bebas dari kotoran atau serangga hidup/mati

7) tangkai lurus dan keras

Deviasi maksimum 5 % dari mutu A Deviasi > 5 % dari mutu A Sumber : SNI (2009)

Tabel 12. Data Volume dan Nilai Impor Bunga Potong di Indonesia Tahun 2003 - 2008

Tahun Volume (Kg) Nilai (US $)

2003 123.999 376.295 2004 806.647 1.185.705 2005 1.009.391 1.848.998 2006 1.076.953 1.563.464 2007 9.492.285 5.130.110 2008* 7.901.365 4.115.371

Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2009) Keterangan : * bukan merupakan Angka Tetap (ATAP)

Bunga Impor yang masuk ke pasar Indonesia ikut serta memberikan efek kompetisi yang tinggi bagi para produsen bunga potong, karena dengan masuknya

bunga impor tersebut konsumen memiliki pilihan yang semakin beragam. Berdasarkan Tabel 12 volume impor bunga potong di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya terutama pada tahun 2007 peningkatan terjadi secara signifikan dibandingkan dengan volume impor pada tahun 2006 yaitu sebesar 8,81 persen. Peningkatan volume impor yang signifikan tersebut merupakan ancaman yang harus diantisipasi oleh KTR. Pada saat ini upaya yang dilakukan KTR untuk mengantisipasi hal tersebut adalah dengan melakukan penelitian dan pengembangan bibit dengan menggunakan bunga impor yang akan menjadi trend sehingga varietas yang dihasilkan KTR tidak kalah dengan bunga impor.

b. Faktor Ekonomi

Lingkungan ekonomi adalah faktor-faktor yang mempengaruhi daya beli dan pola konsumsi masyarakat. Faktor ekonomi yang dapat menjadi ancaman terhadap KTR adalah fluktuasi harga bunga potong dan daya beli masyarakat yang menurun. Fluktuasi harga yang cenderung menurun dapat menyebabkan pendapatan perusahaan turun sehingga perputaran modal menjadi lambat. Menurunnya daya beli masyarakat menyebabkan laju inflasi cenderung meningkat, berdasarkan Tabel 13 mengenai data inflasi yang terjadi di Indonesia dari tahun 2005 – 2008, pada tahun 2005 dan 2008 Indonesia mengalami inflasi sedang (inflasi antara 10 % - 30 %) dan pada tahun 2006 dan 2007 inflasi yang terjadi dikelompokkan dalam inflasi ringan (inflasi dibawah 10 %), tetapi jika dilihat dari pergerakan laju inflasi terjadi peningkatan yang signifikan yaitu inflasi tahun 2007 dibandingkan tahun 2008.

Tabel 13 . Data Inflasi di Indonesia Tahun 2005 - 2008 Tahun Inflasi (%) 2005 17,11 2006 6,60 2007 6,59 2008 11,06 Sumber : BPS (2009)

Naiknya harga-harga barang terutama harga-harga bahan pokok seperti beras, minyak goreng, terigu dan gula serta naiknya harga jasa seperti tarif dasar listrik, tarif angkutan dan lainnya merupakan penyebab menurunnya daya beli masyarakat akibatnya sebagian besar pendapatan masyarakat akan dibelanjakan untuk konsumsi bahan pangan pokok sehingga untuk kebutuhan sekunder menjadi berkurang.

c. Faktor Sosial, Budaya, dan Demografi

Lingkungan sosial budaya terdiri dari lembaga-lembaga dan kekuatan yang mempengaruhi nilai dasar, persepsi, preferensi, dan perilaku masyarakat. Di Indonesia produk florikultura yang berupa bunga potong sudah menjadi bagian hidup masyarakat sejak jaman dahulu walaupun masih terbatas pada upacara keagamaan dan acara adat di golongan masyarakat tertentu serta sebagai penambah keasrian lingkungan.

Seiring dengan perkembangan jaman penggunaan bunga potong di berbagai kesempatan semakin beragam. Perubahan gaya hidup masyarakat zaman sekarang dalam mengkonsumsi bunga mengalami peralihan dari mengkonsumsi bunga-bunga plastik ke bunga segar untuk peristiwa tertentu. Persepsi masyarakat terhadap bunga potong semakin positif sehingga penggunaan bunga potong tidak

hanya terbatas untuk hiasan semata, tetapi juga dapat diberikan untuk ucapan selamat, dekorasi, bela sungkawa, simpati, kegiatan keagamaan, upacara perkawinan, hadiah, simbol dan ungkapan perasaan. Perubahan persepsi masyarakat yang semakin posistif merupakan peluang bagi KTR.

Berdasarkan Tabel 14 mengenai nilai gedung perkantoran dan hotel dari tahun 2002 - 2007 di Indonesia terdapat peningkatan nilai setiap tahunnya. Hal ini perkantoran dan hotel, dan faktor tersebut dapat dijadikan peluang bagi KTR untuk memperluas pangsa pasarnya karena pada umumnya gedung perkantoran dan hotel mempergunakan bunga potong sebagai dekorasi serta untuk menambah estetika dan keasrian lingkungan.

Tabel 14. Nilai Gedung Perkantoran dan Hotel di Indonesia Tahun 2002 - 2007

Tahun Nilai Gedung Perkantoran dan Hotel (Miliar Rupiah)

2002 9.653.059 2003 10.547.568 2004 18.581.659 2005 20.701.163 2006 22.069.558 2007 23.528.407 Sumber : BPS (2009) d. Faktor Teknologi

Perkembangan ke arah teknologi yang lebih maju memungkinkan perusahaan untuk melaksanakan kegiatan usahanya secara lebih efektif dan efisien. Namun perkembangan teknologi juga dapat memberikan ancaman yang sangat berarti bagi perusahaan, yaitu apabila perkembangan teknologi tidak

dimanfaatkan oleh perusahaan. Hal tersebut menyebabkan eksistensi suatu perusahaan akan tertinggal dan berada di bawah perusahaan lain yang menggunakan teknologi untuk memperoleh hasil yang lebih baik, bermutu, efektif, serta lebih efisien.

Perkembangan teknologi dalam budidaya bunga potong pada saat ini adalah greenhouse berteknologi robotik yaitu greenhouse yang dirancang dengan menggunakan sistem robotik yang dapat mempercepat proses penanaman.

Greenhouse berteknologi robotik ini banyak digunakan di perkebunan bunga

potong di negara Belanda, dan greenhouse ini dilengkapi dengan : 1. Mesin penanam bibit otomatis.

2. Sprinkler yang dapat mengeluarkan kabut air lembut secara bersamaan,

alat ini digunakan untuk proses penyiraman sekaligus pemupukan.

3. Tirai semacam sunscreen yang bergerak di langit-langit greenhouse, bertujuan supaya tanaman bebas dari sengatan matahari dan apabila dibuka dapat mengeluarkan udara panas dari dalam grennhouse.

4. Pipa-pipa besi yang terdapat di bawah meja tanam, pipa tersebut dapat mengeluarkan panas tambahan pada saat suhu menurun tajam.

5. Lampu-lampu ultraviolet untuk merekayasa cahaya tambahan.

6. Tinggi greenhouse 7 – 7,5 meter dimana dengan ketinggian tersebut suhu di dalam greenhouse relatif stabil dan seragam sehingga pertumbuhan dan kualitas tanaman lebih baik.

7. Komputer yang digunakan untuk mengontrol seluruh aktivitas dalam

Keuntungan menggunakan greenhouse berteknologi robotik ini adalah membuat proses kerja menjadi mudah, untuk mengoperasikan teknologi robotik menggunakan listrik yang relatif kecil, lahan menjadi optimal dimanfaatkan untuk produksi, menghemat biaya, dan menghemat tenaga kerja sebagai contoh sebuah

nursery bunga potong yang berada di Belanda dengan luas lahan 3 hektar

biasanya membutuhkan 40 orang pekerja tetapi dengan menggunakan teknologi ini menjadi 12 orang.

Untuk proses budidayanya KTR hanya menggunakan greenhouse semi permanen sehingga adanya greenhouse yang berbasis teknologi robotik merupakan faktor yang dapat menjadi ancaman bagi KTR. Berdasarkan penjelasan sebelumnya bahwa penggunaan greenhouse berteknologi robotik dapat memberikan efesiensi baik dalam penggunaan lahan, sumber daya manusia maupun energi, dengan perbandingan luas lahan yang sama dikelola oleh KTR yaitu seluas 3 hektar nursery yang menggunakan teknologi tersebut dapat melakukan banyak penghematan.

6.1.2 Analisis Lingkungan Industri

Industri dapat didefinisikan sebagai kumpulan atau kelompok perusahaan yang menghasilkan barang atau jasa yang sejenis yang dapat saling menguntungkan. Pemahaman karakteristik industri sangat penting dalam upaya merumuskan strategi bersaing. Kekuatan dalam bersaing pada lingkungan industri bergantung pada lima faktor, yaitu ancaman terhadap masuknya pendatang baru, kekuatan tawar menawar pemasok, kekuatan tawar menawar pembeli, ancaman produk substitusi, dan kekuatan persaingan di antara para anggota industri.

Dokumen terkait