• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. ANALISIS LINGKUNGAN PERUSAHAAN

6.2. Analisis Lingkungan Internal Perusahaan

Analisis internal bertujuan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki perusahaan dari aspek manajemen, pemasaran, keuangan, produksi/operasi dan penelitian dan pengembangan.

6.2.1. Manajemen

Manajemen merupakan suatu tingkatan sistem pengaturan organisasi yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian dalam sistem produksi, pemasaran, pengelolaan sumberdaya manusia dan keuangan.

Perusahaan ini belum memiliki perencanaan secara tertulis untuk jangka panjang, menengah maupun pendek. Hal ini mempengaruhi jalannya pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian yang dilakukan.

Saat ini sumberdaya manusia pada Restoran Cibaru berjumlah 14 orang dengan jenjang pendidikan SD sampai dengan SMA. Pada Tabel 12 dapat dilihat tingkat pendidikan karyawan pada Restoran Cibaru. Sebagian besar tenaga kerja di Restoran Cibaru memiliki tingkat pendidikan akhir Sekolah Dasar (SD).

Pada tahun 1993 pada saat Restoran Cibaru didirikan dengan hanya memiliki dua tenaga kerja yaitu adik dari pemilik dan juga satu orang kepercayaan pemilik yang berasal dari daerah sekitar. Tenaga kerja pada saat itu dirasakan cukup oleh pemilik mengingat restoran ini masih baru dan belum banyak dikenal sehingga dengan jumlah tenaga kerja yang sedikitpun restoran ini dapat dikendalikan dengan baik.

Tabel 12. Tingkat Pendidikan Karyawan Restoran Cibaru

Nomor Tingkat Pendidikan Jumlah (orang)

1 SD 10 orang

2 SLTP 3 orang

3 SMU 1 orang

Sumber: wawancara dengan pemilik Restoran Cibaru , 2008

Seiring dengan berjalannya waktu, cukup banyak orang yang mengetahui mengenai restoran ini dan ditambah pula dengan pemilik yang turut mempromosikan restoran ini pada lingkungan kerja dan koleganya. Pengunjung restoran ini semakin bertambah dibandingkan sebelumnya dan beberapa kali tempat ini dipesan untuk tempat berkumpulnya keluarga ataupun untuk mengadakan rapat.

Pada tahun 1994, pemilik menambah tenaga kerja sebanyak lima orang yang berasal dari daerah sekitar restoran. Pemilik memang mengutamakan

74

mempekerjakan orang yang berasal dari daerah sekitar agar dapat lebih mensejahterakan lingkungan sekitar restoran. Lima orang tenaga kerja ini ditempatkan dengan posisi sebagai satu orang sebagai pengawas bagian produksi dengan satu orang anggota, satu orang sebagai pengawas bagian pelayanan dengan dua anggota. Pada tahun ini adik pemilik bertugas sebagai pengawas atas bagian produksi, pelayanan dan juga pengadaan bahan baku. Sebelum dipekerjakan, para calon tenaga kerja ini terlebih dahulu diberikan pengarahan oleh pemilik mengenai tugasnya masing-masing sehingga mereka dapat memahami bagian-bagian tugasnya.

Restoran ini melayani pemesanan tempat untuk acara keluarga ataupun rapat. Rata-rata jumlah pengunjung dalam sekali pemesanan tempat yaitu berjumlah 100 orang. Walaupun sebagian besar pengunjung yang datang merupakan kenalan pemilik, namun pemilik selalu menempatkan mereka sebagai konsumennya sehingga pelayanan harus maksimal. Untuk mempermudah dalam melayani konsumen, pada tahun 1997 pemilik menambah tenaga kerja untuk ditempatkan pada bagian produksi dan pelayanan, satu orang untuk bagian produksi dan dua orang untuk bagian pelayanan.

Pada akhir tahun 1998 pemilik kembali merekrut tenaga kerja baru karena menyadari penyediaan bahan baku Restoran Cibaru tidak teroganisir. Terlebih karena pada tahun tersebut, adik pemilik sudah tidak ikut membantu dalam menjalankan perusahaan ini. Akhirnya pemilik merekrut tenaga kerja sebanyak lima orang dimana satu orang ditempatkan pada bagian produksi, satu orang sebagai pengawas bagian pengadaan dan pengawasan bahan baku dangan tiga orang anggota.

Meskipun setiap merekrut tenaga kerja baru pemilik terlebih dahulu mengadakan pengarahan atau pelatihan agar calon pekerja mengetahui tugasnya masing-masing, namun pada praktiknya tenaga kerja yang dimiliki belum memahami benar bagian-bagian tugasnya ataupun kurang cekatan dalam menjalankan tugasnya. Akibatnya tidak jarang terjadi tumpang tindih peran dimana adanya pekerja yang mengurusi semua mulai dari mempersiapkan bahan baku, mengolah dan menyajikan pesanan untuk konsumen. Ada pula karyawan yang seharusnya bekerja pada bagian produksi tetapi juga merangkap bagian pelayanan sehingga proses produksi menjadi lebih lama. Sedangkan karyawan bagian pelayanan tidak jarang ditemui sedang mengurusi taman atau merangkap sebagai kasir dan pencatat pemasukan dan pengeluaran keuangan.

Menyadari keadaan sumberdaya manusia yang dimilikinya, pemilik tetap tidak berniat untuk memberhentikan karyawannya karena alasan sosial sehingga pemilik lebih memikirkan agar karyawannya mengikuti pelatihan dibandingkan mengganti tenaga kerja yang dimilikinya. Kebaikan pemilik selain dalam pekerjaan juga perhatiannya pada keluarga karyawan membuat karyawan memiliki loyalitas yang tinggi terhadap pemilik restoran. Hal ini juga disimpulkan berdasarkan wawancara dengan para karyawan yang menyatakan tidak ingin berpindah tempat kerja walaupun ada yang menawarkan gaji yang lebih besar 6.2.2. Pemasaran

Untuk dapat bersaing dalam bisnis yang semakin kompetitif, merupakan hal yang sangat penting bagi perusahaan untuk memiliki penguasaan sistem pemasaran yang handal. Untuk kegiatan promosi, restoran ini hanya mengandalkan papan billboard yang terdapat di depan restoran. Papan billboard

76

ini dirasakan kurang efektif, karena bentuknya yang kurang menarik dan jarang terlihat oleh konsumen. Restoran ini menjalankan sistem promosi dari mulut ke mulut yang dirasakan cukup efektif. Sistem promosi ini dilakukan karena net working pemilik yang cukup luas di Jakarta, sehingga sebagian konsumen yang datang merupakan kenalan ataupun kolega dari pemilik. Pemilik yang bekerja di salah satu BUMN di Jakarta memang cukup luas pergaulannya terlebih beliau beserta keluarga memiliki hobi travelling di dalam maupun luar negeri sehingga kenalan beliau tidak terbatas hanya di dalam negeri saja.

Dalam hal penyajian produk, Restoran Cibaru belum memperhatikan mengenai kemasan makanan. Untuk pembelian yang dibawa pulang (take away), restoran ini hanya menggunakan kardus polos dan plastik putih polos, hal ini merupakan suatu kelemahan. Akan lebih baik apabila dibuat kotak dan kemasan yang menarik dan juga mencantumkan alamat dan nomor telepon agar mudah dikenali dan memudahkan para konsumen yang menginginkan pembelian ulang.

Namun restoran ini melayani jasa antar (delivery service) dengan menggunakan motor. Pelayanan ini merupakan kekuatan dari restoran ini karena belum semua restoran di Pandeglang melayani jasa antar (delivery service). Hanya saja informasi ini belum merata sehingga jasa antar ini kurang dikenal oleh masyarakat, hal ini dikarenakan kurangnya pemberian informasi kepada masyarakat.

Strategi produk yang ditawarkan oleh restoran ini adalah menekankan ketradisionalan dari makanannya itu sendiri baik dalam cara mengolah maupun dalam penyajian. Pengolahan dilakukan dengan menggunakan tata cara dan alat-alat tradisonal yang diketahui pemilik secara turun menurun. Penggunaan

peralatan ini dipercaya oleh pemilik memberikan cita rasa tersendiri pada bumbu yang dibuatnya sehingga makanan menjadi lebih berasa enak. Terlebih dengan resep yang diperoleh secara turun menurun membuat produk restoran ini memiliki citarasa tersendiri.

Mengenai strategi harga yang diterapkan oleh restoran ini adalah berdasarkan besarnya biaya bahan baku, biaya bahan penunjang dan keuntungan sebesar 30%. Pada restoran ini belum ada tawaran diskon atau potongan harga bagi pengunjung pada jam atau hari tertentu.

Mengenai tempat, restoran ini memiliki kebersihan dan kerapihan tempat yang sudah baik. Terlihat dari pondokan-pondokan lesehan yang selalu bersih juga kursi-kursi dan meja-meja yang ada di aula selalu tertata rapih, bersih.

Restoran ini memiliki tempat parkir yang cukup luas yang kira-kira dapat menampung 15 mobil keluarga sehingga memberikan kemudahan parkir pada pengunjung.

Restoran Cibaru berada dalam jalur alternatif menuju obyek wisata Pantai Carita dan Tanjung Lesung. Selain itu, restoran ini berdekatan dengan kawasan wisata Gunung Karang. Obyek wisata ini memiliki 3 obyek kunjungan, yaitu Sumur Tujuh, Cikoromoi dan Cisolong. Sehingga daerah ini banyak dilalui oleh wisatawan baik dari dalam maupun luar Pandeglang. Lokasi Restoran Cibaru ini dapat menjadi kekuatan bagi Restoran Cibaru dalam menarik konsumen.

6.2.3. Keuangan

Dalam menjalankan usahanya restoran ini menggunakan modal sendiri dari pemilik. Keadaan modal yang dimiliki pemilik terbilang kuat dan tidak terlibat hutang, sehingga pemilik mengakui bahwa hal ini merupakan kekuatan

78

bagi usahanya. Namun kondisi keuangan pada Restoran Cibaru sendiri dikatakan sedang mengalami penurunan dalam penerimaan penjualan (berdasarkan wawancara dengan pemilik Cibaru). Pihak manajemen menetapkan gaji karyawan yang sesuai dengan UMR (Upah Minimum Regional) Banten yang sebesar Rp 661.613 (ketetapan UMR Banten tahun 2006) dengan mengunakan uang pribadi.

Tidak adanya pemisahaan antara keuangan perusahaan dan pribadi dapat menjadi kelemahan dari restoran ini karena pemilik tidak dapat memantau keuangan perusahaan yang sebenarnya.

Pencatatan keuangan pada Restoran ini masih sangat sederhana, tidak menggunakan sistem akuntansi. Pencatatan keuangan berisikan pendapatan penjualan dan pengeluaran belanja yang dituliskan hanya pada sebuah buku.

Dampaknya adalah pencatatan keuangan tidak lengkap dan pencatatan yang hanya dituliskan pada sebuah buku mengakibatkan mudah hilang atau robeknya data keuangan restoran ini. Selain itu, tidak adanya pemisahaan keuangan yang jelas, antara keuangan pribadi dan perusahaan, mengakibatkan sulit untuk melihat persentase pertumbuhan ataupun perkembangan yang telah dialami perusahaan.

Permasalahan pencatatan keuangan membuat penulis tidak dapat mengamati perkembangan maupun penurunan yang dialami Restoran Cibaru dari awal didirikannya hingga saat ini. Kurangnya perhatian pada pembukuan restoran ini dikarenakan pemilik semula membuka usaha restoran ini hanya sebagai usaha sampingan untuk menyalurkan hobi. Sehingga beliau tidak memperhatikan dengan baik mengenai pendapatan maupun pengeluaran restoran dan pemilik juga lebih sering menggunakan uang pribadinya untuk pembiayaan restoran

dibandingkan dengan menggunakan kembali pendapatan dari restoran untuk pembiayaan tersebut.

6.2.4. Produksi dan Operasi

Pengolahan bahan baku menjadi makanan dilakukan secara mendadak, setelah ada pesanan dari konsumen. Sehingga makanan yang disajikan masih hangat dan enak untuk disantap. Sistem produksi yang dijalankan restoran ini dengan cara tradisional. Alat yang digunakan meliputi hau (alat masak tradisional yang berfungsi sama seperto kompor gas, digunakan untuk menu tertentu), ulekan (alat untuk menyatukan dan melembutkan bumbu-bumbu) dan alat masak pada umumnya seperti penggorengan, kompor gas, alat panggang, dan berbagai alat makan. Pengolahan menggunakan alat tradisional dipercaya pemilik memberikan kekhasan tersendiri dan menambah cita rasa dari makanan yang disajikan, sehingga pemilik meyakini pengolahan secara tradisional merupakan kekuatan dari restoran ini. Selain itu, pengolahan bumbu dilakukan dengan menggunakan resep keluarga yang diturunkan secara turun-menurun juga merupakan kekuatan dari restoran ini.

6.2.5. Penelitian dan Pengembangan

Restoran ini belum memiliki bagian untuk mengadakan penelitian dan pengembangan. Restoran ini juga tidak melakukan riset pasar dalam mengembangkan produk maupun jasanya sehingga penyediaan produk dan jasa belum didasarkan oleh keinginan dan kebutuhan konsumen. Hal ini perlu diperhatikan oleh perusahaan karena merupakan kelemahan bagi perusahaan.

Adapun pengembangan dalam produk maupun jasa didasarkan atas keputusan pemilik saja. Dalam pengembangannya, restoran ini membuat sebuah

80

taman bunga. Taman ini dibuat dengan tujuan agar pengunjung dapat melihat-lihat bunga selagi menunggu hingga pesanannya disajikan. Pemilik juga membangun taman bermain yang diperuntukkan untuk pengunjung yang membawa anak-anak kecil sehingga dapat bermain sambil menunggu pesanannya tiba.

6.2.6. Identifikasi Kekuatan dan Kelemahan Perusahaan Tabel 13. Faktor-Faktor Kekuatan dan Kelemahan Perusahaan

Faktor Internal Kekuatan Kelemahan

Manajemen Karyawan memiliki

loyalitas tinggi

1. Belum memiliki perencanaan jangka pendek, mengengah dan panjang

2. Tumpang tindih peran Pemasaran 1. Networking pemilik cukup

luas

2. Menawarkan jasa antar (delivery service)

3. Lokasi restoran berada dalam kawasan obyek wisata

Kemasan kurang menarik

Keuangan Modal kuat dan milik

pribadi

1. Tidak ada pemisahan keuangan pribadi dan perusahaan

2. Pencatatan dan pengarsipan data-data keuangan belum tertata rapi

Produksi dan Operasi Produksi menggunakan peralatan tradisional dan resep keluarga

Penelitian dan pengembangan

Tidak adanya riset pasar