BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
5. Analisis Location Quotient
Ketimpangan Wilayah dan Pertumbuhan Ekonomi Antara Kabupaten Induk dan Pemekaran di Provinsi Aceh. Sulasmi, dan M. Ilhamsyah Siregar (2020)
Hasil indeks williamson, wilayah 1 dengan Kab. Induk Aceh Barat
menunjukkan penurunan angka ketimpangan. Wilayah tiga, lima, tujuh, dan delapan termasik ketimpangan sangat rendah Meneliti disparitas pendapatan di antara kabupaten induk dan kabupaten pemekaran di satu provinsi. Meneliti disparitas di antara provinsi induk dan pemekarannya.
37 6. Ketimpangan Pendapatan Antar Kabupaten/ Kota dan Pertumbuhan Ekonomi di Propinsi Jawa Timur Denny Iswanto (2015) 1) Disparitas pendapatan antar daerah di
Propinsi Jawa Timur tegolong tinggi (IW>0,5). 2) Hipotesis βUβ terbalik Kuznets menggambarkan tidak terdapat hubungan antar pertumbuhan dengan ketimpangan di Jawa Timur. 3) Diperlukan peningkatan kebijakan pembangunan pada sektor basis di masing-masing daerah. Menganalisis disparitas dan potensi ekonomi daerah di satu provinsi. Menganalisis disparitas dengan membandingk-an dua provinsi yaitu provinsi induk dan provinsi pemekaran. 7. The Relationship Between Economic Growth and Income Inequality Nasfi Fkili Wahiba, dan Malek El Weriemmi (2014) Pertumbuhan ekonomi dan pertukaran keterbukaan merupakan faktor-faktor yang memperburuk ketimpangan dan diperparah dengan percepatan proses liberalisasi perdagangan di Tunisia. Menganalisis ketimpangan dan dari sisi Pertumbuhan Ekonomi. Tidak menganalisis fsktor-faktor yang mempengaruhi ketimpangan khususnya dari sisi liberalisasi perdagangan.
38
8. Regional Convergence and the Role of the Neighbourho od Effect in Decentralise d Indonesia Yogi Vidyattama (2013) Hasil menunjukkan terdapat ketimpangan PDRB Perkapita yang ditunjukkan oleh indeks Williamson, dan meningkat sedikit pada saat perkiraan kecepatan
konvergensi β
terutama dipengaruhi oleh pertumbuhan Jakarta. Sebaliknya, perubahan angka IPM di Indonesia menunjukkan bahwa konvergensi wilayah sedang berlangsung, meski kecepatannya menurun. Lingkungan memberikan pengaruh signifikan dalam kedua kasus, tetapi memiliki pengaruh yang kecil pada kecepatan konvergensi. Meneliti disparitas pendapatan perkapita. Tidak meneliti disparitas dengan perkiraan kecepatan konvergensi dan perubahan angka IPM.
39 9. The Relationship Between Economic Growth and Income Inequality Nasfi Fkili Wahiba, dan Malek El Weriemmi (2014) Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pertukaran keterbukaan merupakan faktor-faktor yang memperburuk ketimpangan dan diperparah dengan percepatan proses liberalisasi perdagangan di Tunisia. Kemudian, ketimpangan berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi dan efek ini lebih muncul setelah percepatan proses pembukaan bursa. Melihat hubungan antara ketimpangan dan pertumbuhan ekonomi. Meneliti perbedaan disparitas, pola perkembang-an ekonomi, dan potensi ekonomi.
40 10. Analysis of the Impact of Economic Growth on Income Inequality and Poverty in South Africa: The Case of Mpumalanga Province Ferdinand Niyimbanira (2017) Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan ekonomi mengurangi kemiskinan dan bukan ketimpangan pendapatan. Kemudian, hasil berimplikasi pada pengambil kebijakan untuk merancang strategi dalam mengurangi
ketimpangan pendapatan di Afrika Selatan. Studi ini mengusulkan langkah sosial ekonomi untuk meningkatkan perekonomian,
pembangunan manusia dalam ekonomi berbasis pengetahuan. Meneliti ketimpangan pendapatan. Tidak meneliti pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap ketimpangan pendapatan.
41
C. Kerangka Pemikiran
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Ke
Dilihat dari aspek Mewujudkan Pembangunan dan Pemanfaatan Potensi
Daerah di Papua dan Papua Barat sesuai Kebijakan Pemekaran Wilayah dalam UU No. 45 Tahun
1999/INPRES No. 1 Tahun 2003
Permasalahan pembangunan ekonomi di wilayah induk dan pemekarannya dan Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional BPS yang menyatakan daerah pemekaran lebih
sejahtera dibandingkan daerah induk.
Disparitas Pendapatan Setelah Pemekaran (Indeks Williamson) dan
Uji perbedaan tingkat disparitas antara wilayah induk dan pemekarannya (uji beda independent samples t-test) Pengkalsifikasian kesenjangan dilihat berdasarkan Pola Perkembangan Ekonomi Antar Kab/Kota Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Setelah
Pemekaran
Analisis potensi sektor ekonomi untuk meningkatkan perekonomian dan menekan disparitas pendapatan
(Analisis Location Quotient)
Strategi dan kebijakan dalam mengurangi tingkat disparitas
42
D. Hipotesis Penelitian
Sehubungan dengan permasalahan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat disparitas pendapatan, pola perkembangan ekonomi setelah pemekaran, dan sektor unggulan dalam meningkatkan perekonomian maka perumusan hipotesis dalam penelitian ini adalah:
1) Diduga terdapat disparitas pendapatan perkapita pada provinsi induk dan provinsi pemekarannya (Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat) setelah pemekaran tahun 2013-2019.
2) Diduga terdapat perbedaan tingkat disparitas pendapatan perkapita antara provinsi induk dan provinsi pemekarannya (Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat) setelah pemekaran tahun 2013-2019.
3) Diduga terdapat perbedaan pola perkembangan ekonomi antara provinsi induk dan provinsi pemekarannya (Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat) setelah pemekaran tahun 2013-2019.
4) Diduga terdapat potensi sektor unggulan di provinsi induk dan provinsi pemekarannya (Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat) dalam rangka menurunkan tingkat disparitas pendapatan perkapita setelah pemekaran tahun 2013-2019.
43
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Data dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data sekunder yang merupakan data tahunan yang diperoleh utas periode 2013-2019 yang bersumber dari Publikasi Badan Pusat Statistik Provinsi Papua dan Papua Barat. Data yang digunakan ialah data PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 sehingga perkembangan yang ditunjukkan tiap tahunnya merupakan perkembangan produksi riil dan menggunakan nilai yang absolut untuk menghindari adanya fluktuasi kenaikan harga atau inflasi. Penelitian ini menggunakan lintas periode tersebut karena Provinsi Papua Barat masih melakukan pemekaran kabupaten/kota terakhir pada tahun 2012. Sehingga untuk meminimalisir kesalahan pengolahan data akibat jumlah data tahunan pada tingkat kabupaten/kota yang berbeda maka periode yang diambil adalah tahun 2013 hingga tahun 2019 setelah jumlah kabupaten/kota di masing-masing provinsi tidak lagi tetap atau bertambah dan berkurang. Adapun definisi operasional variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) PDRB Perkapita Kabupaten/Kota dan provinsi di Papua dan Papua Barat tahun 2013-2019.
2) Data jumlah penduduk Kabupaten/Kota dan provinsi di Papua dan Papua Barat tahun 2013-2019.
3) Laju Pertumbuhan PDRB Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat tahun 2013-2019.
44
4) PDRB antar kabupaten/kota di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat tahun 2013-2019.
Analisa data secara statistik menggunakan analisis data secara deskriptif berdasarkan hasil data yang diperoleh pada tiap variabel. Hasil dari interpretasi deskriptif kemudian disesuaikan dengan landasan teori-teori ekonomi yang menyertainya.
B. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah dengan mencari bahan materi serta teori pendukung, dan mengumpulkan data sekunder yang berasal dari instansi terkait yaitu Publikasi BPS (Badan Pusat Statistik) Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat dan masing-masing kabupaten/kotanya. Adapun teknik pengumpulan data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini ialah:
1. Studi Pustaka
Pengumpulan data dengan studi pustaka ialah dengan mengumpulkan data yang bersumber dari buku, artikel dan berita, jurnal ilmiah, serta thesis yang berkaitan dengan penelitian ini.
2. Studi Dokumentasi
Pengumpulan data dengan teknik studi dokumentasi ialah dengan mengutip sumber terkait yang berasal dari berita resmi statistik dan literatur lainnya yang berkaitan dan mendukung penelitian ini.
45
C. Metode Analisis Data
1. Analisis Indeks Williamson Untuk Mengukur Disparitas Pendapatan Perkapita
Metode analisis Indeks wiliamson merupakan koefisien persebaran (coefficient
of variation) dari rata-rata nilai sebaran yang dihitung berdasarkan estimasi dari
nilai PDRB dan penduduk daerah yang berada pada lingkup wilayah yang dikaji dan dianalisis (Rambe, 2010). Dalam studi kasus penelitian ini adalah wilayah kabupaten/kota di antara Provinsi Papua sebagai provinsi induk dan Provinsi Papua Barat sebagai provinsi pemekarannya. Data yang digunakan ialah data PDRB perkapita antar kabupaten/kota dan PDRB Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat serta Jumlah Penduduk yang kemudian diolah menggunakan Microsoft Excel.
Peneliti melakukan pengumpulan data yang dibutuhkan berdasarkan
kabupaten/kota yang diambil melalui internet dari Badan Pusat Statistik. Selain itu peneliti juga melakukan studi kepustakaan dengan mencari sumber informasi dari literatur guna mendapatkan informasi yang bersifat teoritis.
Pendapatan perkapita antar wilayah di provinsi induk dan provinsi pemekarannya (Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat) dalam periode 2013 hingga 2019 diindikasikan adanya disparitas atau ketimpangan. Berdasarkan latar belakang di atas telah diketahui bahwa PDRB Perkapita di antara wilayahnya tidak sama besarnya maka dengan demikian perlu diukur bagaimana tingkat ketimpangangan itu dapat terjadi. Adapun rumus indeks wiliamson menurut adalah sebagai berikut (Susanti, 1994):
Vw = β (ππβπ)Β²
ππ π π
46
Keterangan :
Vw : Koefisien variasi Williamson
Yi : PDRB Perkapita masing-masing kabupaten/kota
Y : PDRB rata-rata perkapita di Provinsi
F : Jumlah Penduduk pada masing-masing kabupaten/kota
N : Jumlah Penduduk Provinsi
Dengan kriteria ketimpangan Indeks Williamson sebaagai berikut: a) Jika 0,1 < Vw < 0,35 maka tingkat ketimpangan termasuk ringan. b) Jika 0,35 < Vw < 0,50 maka tingkat ketimpangan termasuk sedang. c) Jika Vw > 0,50 maka tingkat ketimpangan termasuk berat.
2. Uji Beda Indpendent Sample T-Test Untuk Mengukur Perbedaan Tingkat Disparitas Pendapatan Perkapita
Dalam menguji pernyataan dari Susenas BPS, dimana daerah pemekaran lebih sejahtera dibandingkan daerah induk maka uji beda independent sample t-test ini dilakukan untuk melihat seberapa signifikan perbedaan rata-rata tingkat disparitas pendapatan perkapita setelah kebijakan pemekaran daerah di antara provinsi induk dan pemekarannya. Pengujian hipotesis dalam metode ini ialah dengan analisis statistik inferensial dengan teknik t-test. Dalam penelitian ini menggunakan dua kelompok sampel berbeda yang bersumber dari data yang berbeda dengan tujuan untuk melihat seberapa besar perbedaan rata-rata tingkat disparitas pendapatan perkapita di antara Provinsi Induk (Provinsi Papua) dan Provinsi Hasil Pemekaran (Provinsi Papua Barat). Kedua sampel tersebut dibandingkan untuk melihat
ada-47
tidaknya perbedaan setelah sampel-sampel tersebut yaitu provinsi induk dan pemekarannya memiliki status daerah yang berbeda. Uji beda yang dilakukan ialah dengan menggunakan analisis t-test sampel bebas (Independent Samples t-test), adapun rumus uji beda independent sample t-test ialah sebagai berikut:
t = πβ π
π / βπ Keterangan:
t = Nilai hitung t
X = Rata-rata sampel (mean) Β΅ = Rata-rata populasi S = Standar deviasi sampel
n = Jumlah observasi di dalam sampel
Adapun kriteria ketentuan dalam pengujian hipotesis yang dilihat berdasarkan probabilitas ialah sebagai berikut:
1. Apabila probabilitas > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan antara tingkat disparitas pendapatan perkapita di antara Provinsi Induk (Provinsi Papua) dan Provinsi Hasil Pemekaran (Provinsi Papua Barat).
2. Apabila probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan antara tingkat disparitas pendapatan perkapita di antara Provinsi Induk (Provinsi Papua) dan Provinsi Hasil Pemekaran (Provinsi Papua Barat).
48
3. Analisis Tipologi Klassen untuk Mengukur Kesenjangan Berdasarkan Pola Perkembangan Ekonomi.
Adanya indikasi perbedaan tingkat disparitas pendapatan perkapita antara Papua dan Papua Barat tidak terlepas dari adanya perbedaan pola perkembangan ekonomi antar daerah di masing-masing provinsinya. Oleh karena itu, untuk melihat gambaran adanya perbedaan tingkat kesenjangan antarwilayah berdasarkan posisi perekonomian di Papua dan Papua Barat setelah pemekaran maka metode yang tepat digunakan adalah metode tipologi klassen. Metode ini menggunakan data sekunder PDRB Perkapita dan Laju Pertumbuhan ekonomi Papua dan Papua Barat. Kabupaten/kota yang masing-masing mempunyai karakteristik pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita yang berbeda-beda diklasifikasikan dengan tipologi Klassen pendekatan wilayah (Syafrizal,1997). Adapun definisi tabel klasifikasi tipologi klassen adalah di bawah ini (KER, Bank Indonesia 2006):
Tabel 3.1
Klasifikasi Kabupaten/Kota menurut Tipoogi Klassen
Sumber: Kajian Ekonomi Regional, Bank Indonesia 2006 Keterangan:
ri = laju pertumbuhan ekonomi PDRB wilayah i
yi = PDRB Perkapita wilayah i
r = laju pertumbuhan ekonomi PDRB wilayah referensi
y = PDRB perkapita wilayah referensi
yi > y yi < y
ri > r Daerah cepat maju dan cepat tumbuh
Daerah berkembang cepat
ri < r Daerah maju tapi tertekan
Daerah relatif tertinggal
49
Adapun kriteria dalam klasifikasi tipologi klassen dalam pendekatan wilayah adalah:
1) Daerah cepat-maju dan cepat-tumbuh, yaitu daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita yang lebih tingi dari rata-rata Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.
2) Daerah maju tapi tertekan, yaitu daerah yang memiliki pendapatan perkapita lebih tinggi, tetapi tingkat pertumbuhan ekonominya lebih rendah daripada rata-rata Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.
3) Daerah berkembang cepat, yaitu daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi, tetapi tingkat pendapatan perkapita lebih rendah dibandingkan rata-rata Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.
4) Daerah relatif tertinggal, yaitu daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita yang lebih rendah dibanding rata-rata Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.
4. Analisis Location Quotient untuk Menganalisis Potensi Sektor Ekonomi Unggulan.
Teknik analisis Location Quotient (LQ) merupakan analisis yang ditujukan untuk mengetahui dan menentukan sektor mana yang berpotensi spesialisasi dalam suatu daerah terhadap aktivitas ekonomi utama atau untuk menentukan sektor unggulan yaitu sektor yang dapat memenuhi kebutuhan daerah itu sendiri maupun daerah lain yang ada disekitarnya (Badan Pusat Statistik, 2016). Pada dasarnya dalam rangka mewujudkan pembangunan dapat dimaksimalkan dengan menekan tingkat disparitas yang tinggi menuju pemerataan. Hal yang dapat dilakukan untuk
50
menekan angka ketimpangan pembangunan ialah dengan memaksimalkan sektor potensi ekonomi unggulan yang kompetitif antar wilayahnya di masing-masing provinsi (Iswanto, 2015). Dalam mengetahui sektor unggulan selama 7 tahun terakhir, data yang digunakan adalah PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 menurut Lapangan Usaha yang diolah menggunakan analisis Location Quotient.
Analisis Location Quotient menganalisis sektor unggulan yang tersedia di tiap-tiap kabupaten/kota di masing-masing provinsi induk dan pemekaran untuk mengetahui potensi sektor ekonomi yang unggul dan dapat dikembangkan sehingga dapat menekan angka disparitas pendapatan antar wilayah di Provinsi Papua dan Papua Barat. Analisis LQ merupakan alat analisis yang digunakan denga melihat suatu perbandingan tentang besarnya peranan suatu sektor disuatu daerah terhadap besarnya peranan sektor tersebut secara nasional. Adapun rumus dalam perhitungan LQ adalah sebagai berikut (Jumiyanti, 2018):
LQ = ππ ππ‘β ππ ππ‘β Keterangan:
LQ = Location Quotient
Vi = nilai PDRB sektor i pada tingkat antar Kabupaten/Kota
Vt = Total PDRB pada tingkat Kabupaten/Kota
Yi = nilai PDRB sektor I pada tingkat Provinsi
Yt = Total PDRB pada tingkat Provinsi
Adapun kriteria dalam hasil perghitungan LQ adalah, apabila:
1) LQ > 1 berarti komoditas tersebut menjadi basis atau menjadi sumber pertumbuhan, dimana komoditas menjadi seuah keunggulan komparatif yang
51
hasilnya tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan di wilayah besangkutan namun juga dapat diekspor ke luar wilayah lainnya.
2) LQ = 1 berarti komoditas tersebut dikatakan non-basis atau tidak memiliki keunggulan komparatif yang hasil produksinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan wilayah sendiri dan tidak mampu untuk ekspor ke wilayah lainnya. 3) LQ < 1 berarti komoditas ini juga dikatakan non-basis atau tidak memiliki keunggulan komparatif dan hasil produksinya tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga perlu pasokan atau impor dari wilayah lainnya.
D. Definisi Operasional Variabel
1. Pendapatan Domestik Regional Bruto Perkapita
PDRB Perkapita dalam penelitian ini diperoleh dari membagi angka PDRB dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun. Dalam penelitian ini menggunakan PDRB perkapita antar Kabupaten/Kota di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat atas dasar harga konstan 2010 periode 2013-2019. 2. Jumlah Penduduk (Jiwa)
Jumlah penduduk yang digunakan di dalam peneitian ini adalah keseluruhan penduduk yang tinggal di antar Kabupaten/Kota dan Provinsi di Papua dan Papua Barat dalam kurun waktu tahun 2013-2019.
3. Laju Pertumbuhan PDRB
Laju pertumbuhan PDRB yang digunakan dalam penelitian ini ialah nilai persentase laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat dari tahun 2013-2019.
52
4. Pendapatan Domestik Regional Bruto
PDRB atau Pendapatan Domestik Regional Bruto merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit-unit usaha dalam suatu wilayah, atau merupakan jumlah seluruh nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi di suatu wilayah. Dalam penelitian ini, PDRB yang digunakan ialah PDRB Kabupaten/Kota di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat atas dasar harga konstan 2010 menurut lapangan usaha periode 2013-2019.
53
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Keadaan Geografis
Pulau Papua merupakan pulau paling timur di Indonesia dengan kekayaan alamnya mulai dari pegunungan, kawasan laut terbaik hingga sumber daya alam yang berlimpah. Pulau Papua memiliki luas wilayah sekitar 786.000 km persegi, dan secara astronomis Pulau Papua pada koordinat 5Β°20β²S 141Β°36β²E. Kondisi iklim yang dimiliki Pulau Papua terbilang ekstrem dimana kelembaban Pulau Papua terhitung tinggi sekitar 80% hingga 89%. Begitupun dengan curah hujan di Pulau Papua dengan kisaran 1800 mm hingga 3000mm.
Gambar 4.1
Peta Administrasi Pulau Papua
54
Adapun Pulau Papua memiliki batasan langsung dengan banyak wilayah mulai dari berbatasan dengan laut dan juga berbatasan langsung dengan daratan yang dirinci sebagai berikut:
1. Batas Laut
Utara: Laut Filipina
Barat: Laut Arafuru dan Laut Banda Timur: Samudra Pasifik
Selatan: Laut Arafuru
2. Batas Daratan
Utara: Samudra Pasifik Barat: Laut Arafuru Timur: Papua Nugini
Selatan: Laut Arafuru dan Australia
Pulau Papua merupakan pulau yang sangat luas dan memiliki kondisi geografis yang sangat bervariasi sehingga mempengaruhi kondisi persebaran penduduk sehingga tidak merata. Adanya kondisi sebaran penduduk yang tidak merata menjadikannya sebagai salah satu alasan dengan dilakukannya pembentukan daerah otonom baru atau pemekaran provinsi menjadi dua. Dua wilayah yang terbentuk di wilayah Papua yaitu terdiri dari bagian timur merupakan Provinsi Papua yang menjadi provinsi induk sedangkan bagian baratnya adalah Provinsi Papua Barat sebagai provinsi hasil pemekaran.
Provinsi Papua sebagai wilayah induk memiliki luas wilayah sebesar 315.091,62 km2 dan secara geografis terletak antara garis koordinat 01Β°00β LU -
55
9Β°10β LS dan 134Β°00β BT - 141Β°05β BT. Beradasarkan administrasi, Povinsi Papua terdiri dari 28 kabupaten dan 1 kota, yang terbagi menjadi 470 distrik dan 4.378 kampung dengan Kota Jayapura sebagai Ibukota Provinsi. Kabupaten Merauke merupakan kabupaten terluas di Papua dengan menempati 14,62 persen wilayah Provinsi Papua atau seluas 46.074,43 km2 dan memiliki jarak terjauh dari ibukota Provinsi Papua dengan jarak sejauh 662 km. Sedangkan kabupaten terkecil di Provinsi Papua ialah Kabupaten Supiori yang hanya seluas 690,16 km2 atau sekitar 0,22 persen wilayah Provinsi Papua dan merupakan kabupaten terjauh kedua setelah Kabupaten Merauke dengan jarak 605 km dari ibukota Provinsi Papua. Adapun secara administratif Provinsi Papua berbatasan dengan:
Sebelah utara : Samudra Pasifik
Sebelah selatan : Laut Arafuru
Sebelah barat : Papua Barat
Sebelah timur : Papua New Guinea
Sedangkan Provinsi Papua Barat sebagai wilayah hasil pemekaran secara geografis terletak di antara 0ΒΊ-4,3Β° Lintang Selatan dan 129,2ΒΊ-135,2Β° Bujur Timur
dan memiliki luas sebesar 102.955,15 km2. Wilayah administrasi Provinsi Papua
Barat sendiri memiliki posisi yang strategis, di bagian barat Papua Barat khususnya di Kabupaten Raja Ampat merupakan pusat segitiga karang dunia (coral triangle) yang merupakan wilayah dengan keanekaragaman hayati laut terkaya di dunia. Provinsi Papua Barat juga berbatasan langsung dengan negara di wilayah Pasifik yang menjadi penanda kedaulatan Indonesia baik dalam aspek pertahanan maupun
56
pemanfaatan sumberdaya kelautan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Adapun rincian batas wilayah administrasi Provinsi Papua Barat adalah:
Sebelah utara : Samudera Pasifik;
Sebelah selatan : Laut Banda dan Provinsi Maluku;
Sebelah timur : Provinsi Papua; dan
Sebelah barat : Laut Seramdan Provinsi Maluku.
Secara administrasi, Provinsi Papua Barat memiliki 12 Kabupaten dan 1 Kota yang terdiri dari 218 distrik, 1.742 kampung dan 95 kelurahan (kondisi hingga akhir tahun 2015) dan terus meningkat seiring dengan adanya perkembangan wilayah guna meningkatkan akselerasi pelayanan kepada masyarakat.
2. Keadaan Demografis
Dalam proses pembangunan, persebaran dan jumlah penduduk merupakan hal penting yang tidak dapat dipisahkan. Adanya besaran serta komposisi dari jumlah penduduk pada dasarnya akan mempengaruhi kegiatan masyarakat baik di bidang sosial maupun ekonomi. Proses pembangunan tidak dapat terlepas dari bagaimana korelasi dan interaksi antar penduduk yang pada akhirnya memiliki posisi yang strategis dalam penentuan kebijakan. Komposisi kependudukan akan dikatakain baik dan strategis apabila persebarannya merata, dan didominasi olek penduduk yang berusia produktif serta diiringi dengan kualitas tiap penduduknya yang baik.
57
Tabel 4.1
Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Tahun 2013-2019 (ribu)
Sumber: BPS Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Dalam Angka Tahun 2013-2019
Apabila melihat tabel 4.1 terlihat bahwa dari tahun ke tahun Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat mengalami peningkatan jumlah penduduk dimana pada tahun 2013 jumlah penduduk Provinsi Papua sebesar 3,032,488 terus meningkat hingga di tahun 2019 mencapai 3,379,302 jiwa. Sedangkan Provinsi Papua Barat memiliki jumlah penduduk yang lebih sedikit dibandingkan wilayah induknya karena dipengaruhi oleh luas wilayahnya tidak seluas Provinsi Papua sebagai wilayah induk, dimana pada tahun 2013 sebanyak 828,293 terus meningkat hingga mencapai 959,617 jiwa.
Tabel 4.2
Rata-Rata Laju Pertumbuhan Penduduk dan Kepadatan Penduduk Per km2 di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Tahun 2013-2019
Provinsi Rata-Rata Laju Pertumbuhan Penduduk (%) Rata-Rata Kepadatan Penduduk Per km2 (Jiwa) Papua 1.84 10 Papua Barat 2.33 8
Sumber: BPS Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Dalam Angka Tahun 2013-2020 (data diolah)
2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Papua 319 036,05 3,032,488 3,091,047 3,149,375 3,207,444 3,265,202 3,322,526 3,379,302 Papua
Barat 102,955.15 828,293 849,809 871,510 893,362 915,361 937,458 959,617
58
Tabel 4.2 menunjukkan rata-rata laju pertumbuhan penduduk diantara kedua provinsi baik provinsi induk dan provinsi hasil pemekaran, dimana Papua Barat sebagai provinsi hasil pemekaran mengalami tingkat laju pertumbuhan penduduk yang lebih tinggi dari wilayah induknya selama tujuh tahun terakhir. Rata-rata laju pertumbuhan penduduk di Papua Barat mencapai hingga 2.33% lebih tinggi dari wilayah induknya dikarenakan Angka Kelahiran di Papua Barat mencapai 3.2% per